E-Jurnal ISBI Bandung (Institut Seni Budaya Indonesia)
Not a member yet
1925 research outputs found
Sort by
ADAPTASI ADEGAN MIDSUMMER NIGHT’S DREAM PADA TEKS PERTUNJUKAN LONGSER
Midsummer Night’s Dream (MSND) dikenal sebagai naskah teater karya Shakespeare yang paling kuatbentuk komedinya. Sementara Longser merupakan teater tradisional Jawa Barat genre komedi ataubodoran (lawakan) dengan improvisasi adegan dan dialog. Teks komedi MSND diadaptasi menjadi tekspertunjukan Longser dengan mempertimbangkan kekuatan cerita dalam naskah teater modern yangdapat ditransformasikan ke dalam nilai-nilai tradisional Jawa Barat.Tulisan ini bertujuan merancangImprovisasi dialog komedi dari teks dramatik MSND pada pertunjukan Longser yang tidak berjarakdengan situasi dan keadaan penontonnya. Improvisasi merupakan salah satu struktur pertunjukanLongser melalui dialog yang dilontarkan pemain sebagai respon spontan dari situasi pengadegan.Improvisasi dalam pertunjukan Longser terutama mengarah pada dialog dan pengadegan yang komikalatau komedi. Kerja adaptasi menggunakan metode persimpangan budaya yang dikemukakan PatricePavis dan dikombinasi dengan teori adaptasi dari Linda Hutcheon untuk mengetahui kemungkinankemungkinan dari perubahan struktur naskah MSND ke dalam teks pertunjukan Longser. Adaptasinaskah Komedi MSND merupakan upaya penguatan struktur improvisasi dalam Longser yangmempunyai kerangka pengadegan untuk dikembangkan. Proses adaptasi merupakan kerjaperancangan sebagai keterlibatan interaksi budaya untuk pengembangan pengadegan dan desainkarakter pada pertunjukan Longser. Adaptasi yang dilakukan berupa pengolahan dialog dan setingperistiwa naskah MSND ke dalam bentuk teks pertunjukan teater tradisional komedi situasi Longser.Kata kunci: Adaptasi, Midsummer Night’s Dream, improvisasi, Longser, persimpangan buday
Puppeteer Learning Model in the Perspective of the Cultural Inheritance System
This article reveals the issue of the cultural inheritance system that applies to the Sundanese puppetry tradition in the form of the puppeteer learning model that applies in the Munggul Pawenang Putra Parakan Saat wayang studio, Bandung city. Cultural inheritance in this context is seen as a form of system for spreading the art of puppetry through non-formal education in art studios. In it there are stages of learning dalang which has become a traditional learning model in a dalang paguron. In principle, puppeteer students uphold the value and dignity of their puppetry which is realized through forms of puppeteering creativity as a form of aesthetic expression of their respective works. This research uses qualitative methods of analytical description. Operational research was not carried out fully directly in the field, but rather prioritized literature studies but also carried out interview methods with main and supporting sources. The output of this research is international journal articles, IPR and International Seminar.
Keywords: Cultural heritage; model; stages of learning puppetee
Comparison of Physical Form of Sundanese Rebab and Javanese Rebab
Rebab as a string instrument has an important position in the gamelan which functions as a musical instrument pamurba song that still consistently maintains its existence in conventional music. Sundanese Rebab and Javanese Rebab are physically similar in terms of form, material, manufacturing process, and function in karawitan performances. This paper aims to find out the differences between Sundanese and Javanese rebab in terms of physical form (anatomy) or organology between the two. The form that has undergone some modifications does not eliminate the distinctive sound of Sundanese and Javanese rebabs. The creativity created by the rebab craftsman determines the extent of his imagination. The similar shape does not mean that it produces similar sound.
Keywords: Sundanese Rebab, Javanese Rebab, Physical Form, Stringed Instrumen
Logic Interrelation of Embedding the Word "Kyai" in the Gamelan Ensamble (A Cultural Deconstruction Process)
Some Heirloom Gamelan which are considered sacred by some cultural areas, have a place of honor with the title "Kyai". This phenomenon must be able to be read in the context of local culture which is currently still being used by the supporting communities. For example, in the palace areas which are quite large and still exist today, namely the Yogyakarta Palace and the Surakarta Palace. Outside the palace area, a similar designation occurs in wider society with the term "Ki". The reading in question can be approached as a theoretical proposition through Derrida\u27s theory of Deconstruction with its binary option which allows for two-way conclusions, namely factual justification or rejection of those deemed too far-fetched. To reveal all the premises that might occur in people\u27s lives, finally a research was carried out using qualitative methods with an emic approach which took data sources through literature studies and Personal Narratives.Keywords: Gamelan art; cultural wisdo
Illocutionary Speech Act of Indonesian Minister of Education about Education Policy on Kemendikbud RI Youtube Video
Adjustments to education policies must be conveyed clearly to the public. It is important for the Indonesian Minister of Education Indonesian Nadiem Makarim to choose the right speech act so that the speech conveyed is not only captured in the form of sentences but also has an effect in the form of community action after the educational policy. Therefore, the aim of this research is to identify and describe the types of speech acts used by Nadiem Makarim in conveying educational policies on Kemendikbud RI youtube account. This research is a qualitative descriptive. The data in the research are Nadiem Makarim\u27s statements in conveying policy adjustments during the Covid-19 pandemic. The data source in the research was taken video from the Kemendikbud RI youtube account. The research results show that there are 3 types of speech acts used by Nadiem Makarim, including representative, directive speech act and declarative.
Keywords: Illocution; Speech Act; pragmatic
Indonesian Theater Public in Five Cities on Java Island
The awareness to understand the public of theatrical performance arts has long disappeared from the existence of artists in Indonesia. This side is quite problematic even though it is not a core part of the artist\u27s attention. On the other hand, managers of performing arts buildings, including government agencies related to the development of preservation zones and the development of cultural arts have also never had a movement to map the public performing arts theater as part of the arts ecosystem. At least since the early 2005s, the public theater performance has not been well defined until today in Indonesia. Theatre troupes thrive, theater production rates are high, but the public is shrinking and unidentified. Research methods conducted to map and classify theater performance audiences with a phenomenological approach. This method prioritizes indepth interview work and participant observation targeting the public of theatrical performance arts when watching theater performances in major cities in Indonesia. The results of this study show three public classifications of theatrical performing arts including critical-appreciative, snobis-interactive, and collective-participative. The three groups are always present in the theater performance space. They are part and parcel of a theatrical performance event.
Keywords: Theatre; Public Arts; Performance Communication; Art Ecosyste
Inovasi dalam Seni: Eksplorasi Alat Elektronik NonKonvensional di Karya \u27Dipoyok Dilebok’
Bunyi-bunyi alam sekitar, jika didengar dengan seksama, memiliki paduan yang sangat musikal. Tidak mengherankan jika banyak komponis, baik secara sadar maupun tidak, terinspirasi oleh alam dalam menciptakan karya musik. Setiap komponis tidak dapat mengabaikan pengaruh fenomena bunyi yang terjadi di sekitarnya. Fenomena bunyi ini memiliki sudut pandang yang luas; tidak hanya mencakup suara yang terdengar, tetapi juga yang “tidak berbunyi” yang dapat dirasakan dan ditafsirkan sebagai fenomena musikal. Ferrucio Busoni mengemukakan bahwa semua karya seni, pada inti dan bentuk pernyataan akhirnya, akan menuju satu tujuan: mencitrakan kembali alam dan menafsir ulang apa yang dirasakan manusia (Suka Hardjana, 2003:50). Persoalan yang muncul adalah bagaimana fenomena bunyibunyi alam dapat direkayasa oleh komponis dan diterima oleh pendengar sebagai musik. Seperti yang diungkapkan oleh Slamet Abdul Sjukur, “sesuatu yang terdengar dapat dianggap sebagai musik ketika kita memperhatikan dan memperlakukannya sebagai musik.” Dengan demikian, betapa pun hebatnya suatu karya musik, ia akan tetap menjadi fenomena bunyi belaka jika tidak diperhatikan atau diperlakukan sebagai musik. Ungkapan ini dapat ditafsirkan sebagai kritik terhadap sikap masyarakat yang sering kali pasif dalam memahami atau mengapresiasi karya musik. Cara pandang yang terbatas dalam mengenaliatau memahami karya musik sering menyebabkan kesalahpahaman, terutama dalam komunikasi antara komponis, karya musik, dan penonton. Aspek-aspek di atas penting untuk dipertimbangkan dalam proses penciptaan karya ini. Saya tidak bermaksud menciptakan karya musik yang disesuaikan dengan selera masyarakat umum. Sebaliknya, gejala-gejala yang terjadi di masyarakat, yang membentuk selera umum, menjadi inspirasi menarik dalam berkarya. Pemikiran dan gagasan saya akan dituangkan melalui karya musik sebagai reaksi terhadap fenomena yang saya rasakan di lingkungan sekitar. Judul karya ini adalah “Di Poyok Di Lebok” (dalam bahasa Indonesia, "Di Poyok Di Lebok" berarti Dipoyok = diolok-olok, Dilebok = dimakan, dalam bahasa Sunda yang sangat kasar). Judul ini mencerminkan perasaan saya yang akhir-akhir ini dikepung oleh arus informasi dari berbagai arah, serta kemunafikan orang-orang dalam mengemukakan pemikiran dengan standar ganda, tanpa mengetahui sumber berita yang sebenarnya. Penjelasan lebih lanjut mengenai karya ini akan diuraikan dalam pertunjukan karya saya yang sudah dipublikasi dalam dokumentasi pertunjukan Pekan Komponis Indonesia dengan tema Eksperimentasi Musik Elektronik Dewan Kesenian Jakarta yang diadakan pada tahun 2016 di kanal youtube https://www.youtube.com/watch?v=RkMnYV3JK-A.
Kata Kunci : musik eksperimental, seni elektronik, instrumen non-konvensional, Wiimote, semiotika musik
Kesan Melankolis Pada Lagu Papatet Dalam Tembang Sunda Cianjuran Yang Dipengaruhi Oleh Sejarah Penciptaannya
Tembang Sunda Cianjuran merupakan salah satu warisan budaya musik tradisional Sunda yang memiliki karakter musikal melankolis yang mencerminkan kesedihan, kegelisahan, dan lain sebagainya. Salah satu lagu dalam tembang ini adalah "Papatet", yang dikenal sarat dengan nuansa melankolis. Penelitian inibertujuan untuk mengungkap bagaimana historiografi penciptaan lagu "Papatet" serta unsur-unsur musikalnya membentuk kesan melankolis yang kuat. Melalui pendekatan metode sejarah kritis yang meliputi tahapan heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi dengan menganalisis sumber-sumber lisan dan tertulis dari para tokoh tembang Sunda Cianjuran seperti M. Yusuf Wiradiredja dan Heri Herdini. Dalam konteks sejarahnya,tembang Sunda Cianjuran diperkirakan berkembang sejak awal abad ke-19, namun dokumentasi primer yangterbatas mendorong perlunya pendekatan tekstual dan kontekstual untuk menelusuri makna emosional dan estetika dari lagu tersebut. Kajian ini menekankan pentingnya rumpaka (lirik), struktur melodi, ritme, dandinamika penyajian sebagai elemen yang berkontribusi terhadap nuansa melankolis. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya pemahaman tentang ekspresi emosional dalam musik tradisional Indonesia serta memperkuat upaya pelestariannya di tengah arus globalisasi budaya.
Kata Kunci: Melankolis; Papatet; Tembang Sunda Cianjuran; Sejarah
UPACARA MIKUL LODONG DI DESA TAGOG APU SEBAGAI BENTENG BUDAYA,SARANA EDUKASI RELIGI DAN PARIWISATA
Penulisan ini bertujuan untuk memberikan gambaran yangkomprehensif tentang Upacara Mikul Lodong di Desa Tagog Apu, mulaidari sejarah, proses pelaksanaan, hingga makna dan fungsi sosialnya.Dengan pendekatan multidisipliner yang melibatkan kajian literatur,observasi lapangan, dan wawancara, penelitian ini diharapkan dapatmemberikan kontribusi signifikan dalam upaya pelestarian budaya lokaldan pemahaman tentang perannya dalam masyarakat kontemporer.Penelitian ini tidak hanya bertujuan untuk mendokumentasikanpraktik tradisional, tetapi juga untuk menganalisis bagaimana tradisiini beradaptasi dan berfungsi dalam konteks sosial dan budaya yangterus berkembang (Geertz, 1973; Koentjaraningrat, 1985)
UPACARA RITUAL NGALOKAT CAI MASYARAKAT DESA CIBURUY, KEC. PADALARANG, KAB. BANDUNG BARAT MENUJU PEMAJUAN KEBUDAYAAN BERBASIS SENI PERTUNJUKAN
Secara geografis, Desa Ciburuy berada di posisi strategis denganakses yang relatif mudah dari kota-kota besar di sekitarnya, termasukKota Bandung. Letak Desa ini di kaki perbukitan dan dekat dengansumber daya alam, seperti mata air dan sungai, menjadikannya lokasiyang ideal untuk mempertahankan dan merayakan berbagai tradisiyang berkaitan dengan alam.Wilayah ini tidak hanya dikenal karena keindahan alamnya, tetapijuga karena kekayaan budaya dan tradisi lokal yang mendalam yangdiwariskan dari generasi ke generasi, merupakan salah satu Desayang kaya akan warisan budaya. Desa ini dikenal dengan berbagaiupacara adat dan ritual yang masih dilestarikan hingga saat ini, salahsatunya adalah Upacara Ngalokat Cai. Upacara ini merupakan bagianintegral dari kehidupan masyarakat Ciburuy, yang berfungsi sebagaibentuk penghormatan terhadap sumber daya air yang dianggap sucidan memiliki makna spiritual yang mendalam. Ritual ini tidak hanyamencerminkan kepercayaan dan nilai nilai tradisional masyarakat,tetapi juga berperan penting dalam melestarikan warisan budaya yangmenjadi identitas Desa