E-Jurnal ISBI Bandung (Institut Seni Budaya Indonesia)
Not a member yet
1925 research outputs found
Sort by
TATA RIAS WAJAH PENARI BALI PERIODE TAHUN 1920-1940-AN (Perspektif Maestro Tari Bali Ni Ketut Arini)
Tata rias merupakan elemen penting dalam seni pertunjukan, termasuk dalam tari Bali, karena tidak hanya mempercantik penampilan tetapi juga memperkuat karakter dan ekspresi penari. Penelitian ini mengungkap tata rias penari Bali pada periode 1920–1940-an berdasarkan keterangan dari maestro tari Bali Ni Ketut Arini (82 tahun), berdasarkan pada ingatannya sewaktu masih kecil saat memperhatikan para penari berhias, dan mengacu pada foto seniman I Wayan Rindi yang merupakan paman sekaligus guru tari dari Ibu Arini. Metode yang digunakan meliputi wawancara, observasi, studi dokumen, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tata rias pada masa tersebut menggunakan bahan-bahan alami seperti jelaga, buah pinang, tangkai sirih, daun dlungdung (dadap berduri), minyak kelapa, perlengkapan nginang, kapas, bedak dari bahan alami, dan pamor (kapur sirih). Peralatan sederhana yang digunakan dalam proses menata rias seperti lampu sentir, lidi, pisau, dan cermin. Proses merias didahului dengan persembahyangan untuk memohon restu-Nya agar proses merias berjalan dengan lancar. Kajian ini memperkaya pemahaman terhadap praktik tata rias tradisional dan kearifan lokal dalam seni pertunjukan Bali.
 
ANALISIS LIMINALITAS PADA RITUAL BUBUKA SENI REAK DI KAMPUNG RANCABANGO RANCAEKEK BANDUNG
Abstrak: Penelitian ini mempunyai fokus kajian terkait permasalahan bagaimana sebuah ritual bubuka dapat mendatangkan perasaan aman dan merasa dilindungi bagi rombongan grup seni Reak grup Cuta Muda menggunakan teori Liminalitas Victor Turner. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, dengan tekhnik pengumpulan data berupa observasi ke lapangan, wawancara terstruktur, studi pustaka dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat ruang liminalitas pada saat ritual bubuka yang dapat menghilangkan ke khawatiran rombongan grup seni Reak Cuta Muda yang dialami langsung oleh pemimpin ritual. Hal tersebut ditandai dengan adanya persembahan melalui sesajen sebagai bentuk negosiasi kepada makhluk adikodrati. Melalui ritual bubuka, rombongan grup merasa aman dan merasa dilindungi saat kesenian Reak berlangsung.
Kata kunci: Kesenian Reak, ritual bubuka, liminalitas.
Abstract: This research focuses on studies that communicated the problem of how a powder ritual can bring the excitement of safety and insurance to the Reak group, and the Cuta Muda group, utilizing Liminality Victor Turner. This research utilizes qualitative research methods, with data assortment techniques in the aspect of observations, structured conferences, literature studies, and documentation. The outcomes revealed that there was an expanse of liminality during the ritual which could eradicate the concerns of the Reak Cuta Muda art group that were encountered promptly by the ritual leader. This is captioned by the existence of contributions through contributions as an aspect of negotiation with supernatural beings. Through the ritual, the group felt safe and conserved during Reak\u27s performing arts.
Keywords: Reak art, bubuka ritual, liminality.
Rahaidi Bamboo Music Therapy For Concentration In Adults with Autism
This research aims to highlight the effects of using the Rahaidi bamboo musical instrument in increasing the concentration of adults with autism at the Special Individuals Cultural Foundation (YBUIS) Bandung. The research was conducted using qualitative methods with an action research approach based on the Lin S. Norton model. The techniques used include observation, interviews, literature study, as well as five research steps: identifying problems, solutions, implementation, evaluation, and modification. Data analysis was carried out using an organological approach (Sue Carole DeVale) and concentration theory (Santrock), with data validation through the ITDEM model which involves triangulation and data reduction. The research results show that the use of Rahaidi bamboo musical instruments can increase four types of attention, namely Selective Attention, Sustained Attention, Executive Attention, and Divided Attention. The process is divided into three stages: beginner, intermediate, and advanced, including assessment, design, therapy implementation, recording, and evaluation. This research proves that there is a significant increase in all aspects of attention in adult individuals with autism after therapy using Rahaidi bamboo music. These results confirm that a tailored approach using musical instruments can be an effective therapeutic tool in supporting the development of concentration in adults with autism
Mencabar Kebenaran Teks: Menelisik Kelindan “Hanjuang Di Kutamaya” Dalam Naskah Dramatari Dan Kawih Sunda
Every artwork is viewed as a network of interconnected meaning, forming a dynamic structure akin to a spider\u27s web. This view is reflected in Dance Drama and Sundanese Kawih, both of which adapt the Jaya Perkosa episode from the Babad Sumedang script. To analyze this relationship, the intertextuality approach is employed to trace the interlocking texts and meanings. On the other hand, the critical discourse approach is used to dissect how both voice criticism and discourse are shaped by the historical relations. As a result, the two works reproduce the content of the Babad Sumedang to reflect current social, political, and cultural conditions. Intertextuality contributes to connecting old texts with contemporary contexts, thereby facilitating a meeting between tradition and modernity. This process demonstrates that cultural texts are continually in dynamic negotiation with an ever-evolving reality.Setiap karya seni, dipandang sebagai jaringan makna yang saling terhubung, berkelindan, dan membentuk suatu struktur yang dinamis, mirip dengan jaring laba-laba. Hal ini tercermin dalam karya seni berjudul Hanjuang di Kutamaya, yang muncul dalam dua bentuk berbeda, yaitu sebagai dramatari dan kawih Sunda. Dalam memandang kedua karya seni tersebut, pendekatan intertekstualitas menjadi relevan sebab kedua karya ini sama-sama mengadopsi atau berorientasi pada naskah Babad Sumedang. Melalui metode wacana kritis, penelitian ini berupaya untuk membedah bagaimana kedua karya seni tersebut menyuarakan kritik terhadap struktur sosial, politik, dan budaya, sekaligus menunjukkan bagaimana wacana tersebut dibentuk oleh hubungan-hubungan historis dan sosial yang terkandung dalam Babad Sumedang. Hasil penelitian mengonfirmasi bahwa kedua karya seni tersebut memodifikasi dan menafsirkan kembali pesan-pesan yang terkandung dalam naskah rujukan untuk mencerminkan kondisi sosial, politik, dan budaya pada masa kini. Lebih lanjut, intertekstualitas antara dramatari Hanjuang di Kutamaya dan kawih Sunda Mang Koko berfungsi sebagai medium untuk mendiskusikan isu-isu kontemporer melalui lensa sejarah, sekaligus menawarkan sebuah refleksi kritis terhadap hubungan antara tradisi dan modernitas, antara teks dan konteks sosial yang terus berkembang sampai dengan hari ini
The Development of Soga Tingi (Ceriops tagal) Natural Dye Paste Material for Block Printing on Textiles
Block printing is a technique of carving motifs on a printing plate coated with dye and pressed repeatedly along the fabric to create patterns. One potential natural dye that can be applied is the Soga tingi (Ceriops tagal). In today’s textiles and fashion industries, the use of natural materials is increasing in line with the growing awareness of a sustainability lifestyle. This study aims to develop Soga tingi dye into the optimal paste formula for block printing techniques with fixation, plate material, and suitable fabrics. This research employs a mixed-methods approach, combining qualitative and quantitative data from literature reviews, field observations, interviews, and laboratory experiments. The results reveal the successful formulation of a Soga tingi natural dye paste with an optimal composition. The most effective thickening agent was found to be sodium alginate, a food-grade thickener used in a ratio of 10 g to 100 ml of liquid natural dye, resulting in a viscosity of 21,135 mPas. Thus, the block-printed cotton fabric made with the Soga tingi natural dye paste can be used for fashion products
SENI ADAT TUTUNGGULAN KAMPUNG ADAT CIKONDANG PANGALENGAN, KABUPATEN BANDUNG, JAWA BARAT
Abstrak: Tutunggulan merupakan salah satu tradisi Kampung adat Cikondang yang sudah dilaksanakan secara turun-temurun. Budaya tersebut merupakan aset penting dalam menjaga tradisi yang dilaksanakan setiap tahun oleh masyarakat Kampung adat Cikondang. Budaya ini sering dikaitkan dengan simbol-simbol dan rasa syukur atas rezeki yang diturunkan oleh Allah SWT. Adapun penelitian ini bertujuan untuk menggali makna simbolik, mendeskripsikan dan mengamati budaya tutunggulan yang setiap tahun dilaksanakan tersebut. Artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang diperoleh dari data lapangan, wawancara mendalam bersama masyarakat dan studi literatur mengenai warisan budaya di Kampung adat Cikondang. Penelitian ini menghasilkan temuan-temuan, diantaranya (1) sejarah mengenai budaya tutunggulan, (2) arti dan makna simbolik dari budaya tutunggulan. Kata kunci: Tutungggulan, warisan, Leluhur Abstract: Tutunggulan is one of the traditions of Cikondang traditional village that has been carried out for generations. The culture is an important asset in maintaining the traditions carried out every year by the Cikondang indigenous village community. This culture is often associated with symbols and gratitude for the sustenance sent down by Allah SWT. This research aims to explore the symbolic meaning, describe and observe the tutunggulan culture that has been carried out every year. This article uses a descriptive qualitative approach obtained from field data, in-depth interviews with the community and literature studies on cultural heritage in Cikondang traditional village. This research produces findings, including (1) the history of tutunggulan culture, (2) the meaning and symbolic significance of tutunggulan culture. Keywords: Tutunggulan, Heritage, Ancesto
REVITALISASI SENTRA KERAJINAN KERAMIK PLERED MELALUI PENCIPTAAN KARYA SENI BERBASIS TRADISI LOKAL
Sentra kerajinan keramik Plered di Kabupaten Purwakarta terus mengalami penurunan sejak 2005 yangdipicu oleh kenaikan harga BBM dan diperparah dengan adanya Pandemi Covid 19 sejak 2020 hingga2022 sehingga saat ini terjadi krisis regenerasi. Tujuan dari penelitian ini adalah menciptakan karyaseni keramik berbasis tradisi lokal untuk memvitalkan kembali sentra kerajinan keramik Plered denganmeningkatan kreativitas pengrajin melaui kolaborasi dengan seniman. Bentuk penelitian ini adalahpractice-led research atau penelitian berbasis projek yang memadukan kegiatan analisis literatur danberkarya di studio. Penelitian ini menggunakan metode design thinking yang terbagi ke dalam tiga tahapkegiatan: (1) analisis teoretik; (2) proses kreasi/penciptaan karya; (3) pameran karya. Metode analisisyang digunakan bersifat kualitatif dengan pendekatan budaya untuk mengidentifikasi tradisi lokal danpendekatan seni rupa untuk mengidentifikasi karakteristik bentuk, proses kreasi, dan material-teknikdalam proses berkarya. Hasil penelitian ini berupa karya seni keramik berbasis tradisi lokal yang akandiuji coba dan diimplementasikan pada ruang publik melalui pameran
REPETISI DAN METRUM SEBAGAI DASAR PENCIPTAAN KARYA TARI GANJIL
Karya tari “Ganjil” merupakan eksperimen koreografi berbasis tradisi Pencak Silat yangdikembangkan melalui pendekatan tari kontemporer. Pencak Silat, sebagai warisan budayatakbenda yang telah diakui UNESCO, tidak hanya berfungsi sebagai bela diri, tetapi juga sebagaiekspresi artistik dan medium pewarisan nilai budaya. Karya ini mengolah jurus-jurus Pencak SilatSunda dan Minangkabau dengan menerapkan konsep repetisi serta metrum ganjil (3/4, 7/4, 9/4)untuk menciptakan struktur gerak yang dinamis, ekspresif, sekaligus eksperimental. Repetisidiposisikan bukan sekadar pengulangan mekanis, melainkan strategi estetik untuk memperkuatintensitas dramatik, ritme internal, dan pengalaman emosional penonton. Sementara itu,penggunaan birama ganjil menghadirkan ketegangan musikal, kejutan ritmis, serta memperkayakomposisi koreografi. Proses kreatif ini dilandasi metode Literasi Tubuh Wajiwa dan Relasi Artistikyang mengedepankan eksplorasi tubuh, penelitian berbasis praktik, serta keterlibatan komunitaspesilat lokal. Dengan demikian, karya ini menawarkan kebaruan dalam pengembangan tarikontemporer berbasis tradisi, sekaligus menghadirkan refleksi kritis atas nilai-nilai budaya yangdiwariskan.Kata kunci: Pencak Silat, tari kontemporer, repetisi, metrum ganji
EKSPLORASI METODE EXPERIENTIAL LEARNING DALAM MENUMBUHKAN LITERASI BUDAYA PADA ANAK
Pengenalan budaya lokal kepada anak merupakan langkah penting dalam membentuk identitas dankarakter kebangsaan sejak dini. Namun, di tengah derasnya arus globalisasi dan dominasi kontendigital asing, minat anak-anak terhadap budaya Indonesia cenderung menurun. Upayamenumbuhkan literasi budaya memerlukan pendekatan pembelajaran yang tidak hanya bersifatkognitif, tetapi juga melibatkan pengalaman langsung. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasipenerapan metode experiential learning dalam kegiatan literasi budaya pada anak-anak dikomunitas Rumah Baca Eureka Bandung. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatifdengan desain studi kasus, melibatkan observasi partisipatif, wawancara dengan fasilitator, sertadokumentasi kegiatan. Data dianalisis secara tematik untuk menggali pola pengalaman belajar anak.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan experiential learning malalui aktivitas berbasis limaindera, pengenalan makanan tradisional, alat musik tradisional dan tenun tradisional, dan praktiklangsung seni budaya berhasil meningkatkan minat serta pemahaman anak terhadap nilai budaya.Anak-anak tidak hanya mengenal simbol budaya, tetapi juga mampu mengaitkannya denganpengalaman pribadi, sehingga terbentuk keterikatan emosional. Selain itu, pendekatan inimendorong rasa ingin tahu serta mendorong sifat reflektif dalam proses belajar. Dari hasil penelitianmenunjukkan bahwa metode experiential learning efektif dalam menumbuhkan literasi budaya anak,karena mengintegrasikan aspek pengetahuan, keterampilan, dan afeksi secara menyeluruh.Temuan ini memberikan implikasi praktis bagi pengembangan model pembelajaran alternatif dikomunitas pendidikan nonformal, serta memperlihatkan potensi rumah baca sebagai ruang strategisuntuk melestarikan dan menstransmisikan budaya kepada generasi muda.Kata kunci : Literasi budaya, Experiential Learning, Pendidikan Anak, Pendidikan Parsipator
TRANSFORMASI MOTIF TENUN GARUT DALAM TREN NEO NOSTALGIC INDONESIA TREND FORECASTING 2025–2026
Tenun Garut merupakan salah satu warisan budaya Jawa Barat yang memiliki kekhasan pada motiffloral dan geometris. Namun, keberadaannya kini menghadapi tantangan karena rawan punahapabila tidak dilestarikan, serta minim pengembangan karena masih sedikit penelitian danpembahasan yang dilakukan. Di tengah arus globalisasi dan perkembangan tren mode yang cepat,tenun Garut perlu bertransformasi agar tetap relevan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasitransformasi motif tenun Garut dengan mengacu pada Neo Nostalgic dalam Indonesia TrendForecasting 2025–2026. Metode penelitian dilakukan melalui studi literatur mengenai karakteristiktenun Garut, analisis tren mode 2025–2026, serta eksperimen desain motif dan warna. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa motif tradisional Garut, seperti puspa dan pola geometris, dapatdiinterpretasikan ulang menjadi motif retro modern yang selaras dengan semangat Neo Nostalgic.Selain itu, warna-warna khas Garut seperti merah terang dan emas dapat dipadukan dengan palettren global seperti merah bata, indigo, dan terakota. Transformasi ini tidak hanya memperkuatidentitas lokal, tetapi juga membuka peluang daya saing tenun Garut di pasar global. Dengandemikian, adaptasi terhadap tren mode internasional menjadi strategi penting dalam menjagakelestarian budaya sekaligus mendorong inovasi desain tekstil tradisional.Kata kunci : tenun Garut, transformasi motif, Neo Nostalgic, trend forecasting, inovasi desai