E-Jurnal ISBI Bandung (Institut Seni Budaya Indonesia)
Not a member yet
1925 research outputs found
Sort by
Strategi Manajerial dalam Meningkatkan Kompetensi Guru Paud Melalui Media Seni Tari di TK Aryandini 3 Kota Bandung
Peningkatan kompetensi guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan aspek penting dalam membangun pendidikan dasar yang bermutu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi manajerial yang digunakan dalam pemberdayaan guru PAUD melalui pelatihan berbasis seni tari di TK Aryandini 3 Kota Bandung. Metode yang digunakan adalah pendekatan partisipatif yang terdiri atas analisis kebutuhan, pelatihan, praktik reflektif, dan evaluasi. Hasil menunjukkan bahwa pelatihan seni tari mampu meningkatkan kompetensi pedagogis dan kreatif guru, serta memperkuat motivasi dan rasa percaya diri mereka. Strategi manajerial berbasis kolaborasi dan pendekatan siklus peningkatan berkelanjutan (PDCA) terbukti efektif dalam menciptakan lingkungan belajar yang inovatif dan bermakna.
Kata kunci: strategi manajerial, kompetensi guru, PAUD, seni tari, pendidikan anak usia din
MERAYAKAN KREATIVITAS ANAK MELALUI PERTUNJUKAN LONGSER KAULINAN BARUDAK DI DESA KERTAMULYA
Desa Kertamulya memiliki karakteristik yang khas, tetapi saat initradisi dan kearifan lokalnya mengalami tantangan dalam pelestariannya.Meskipun terdapat beberapa elemen budaya tradisional, seperti ritualadat dan kebiasaan lokal, sayangnya banyak dari tradisi tersebuttidak sepenuhnya terwariskan atau terpelihara dengan baik. Aktivitasmodern dan perubahan sosial sering kali mengakibatkan pengabaianterhadap praktik praktik adat yang dulunya menjadi bagian integraldari kehidupan desa.Masyarakat Desa Kertamulya kini lebih terfokus pada kegiatanekonomi yang diakibatkan modernisasi, yang menyebabkan beberapaaspek budaya lokal kurang mendapatkan perhatian. Namun, terdapatusaha-usaha kecil dari kelompok komunitas dan individu untukmelestarikan elemen-elemen budaya yang masih ada, seperti upacaraadat yang jarang diadakan dan kerajinan tangan lokal. Meskipun tidaksemua tradisi dapat dipertahankan secara utuh, terdapat kesadaranakan pentingnya upaya untuk mengingat dan merayakan bagianbagiandari warisan budaya desa
PELATIHAN DESAIN TEKSTIL PADA BIMBINGAN TEKNIS WUB PENGEMBANGAN SERAT ALAM NANAS DI KABUPATEN SUBANG
Serat alami dari limbah daun nanas dapat diolah untuk menjadi produk yang memiliki nilai jual. Hal tersebut dapat memberikan dampak yang baik bagi pemberdayaan dan perekonomian masyarakat (Putri, 2024: 1017). Beberapa masyarakat Indonesia telah bisa memanfaatkan serat alami dari daun nanas untuk menjadi barang guna misalnya Suku Mee dari Provinsi Papua Barat di wilayah Me Pago. Masyarakat Suku Mee mengolah serat alam dari daun nanas menjadi tas tradisional yang disebut noken (Wahyudi, Yogi, & Aristoe, 2022: 3). Indonesia memiliki banyak kekayaan tumbahan yang dapat menghasilkan serat alami. Industri pengolahan serat alam memiliki posisi yang strategi untuk dikembangkan sehingga dapat memberikan dampak yang baik bagi sosio-ekonomi masyarakat. Upaya pemberdayaan melalui ekonomi kerakyatan sangat mendukung program pemerintah dalam penigkatan kesejahteraan masyarakat. Hal tersebut didukung fakta bahwa sebagian besar Perkebunan nanas merupakan lahan miliki rakyat. Industri serat alam Indonesia memiliki potensi sebagai bahan baku yang sangat melimpah sehingga melalui strategi pengembangan yang tepat dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat (Subagyo, 2012: 23-28)
MENGURAI PERAN MITOS DALAM FORMASI IDENTITAS METAL DI UJUNG BERUNG, BANDUNG, INDONESIA
Pada perkembangannya, periode yang dikenal sebagai era Reformasi ini membuka kebebasan ekspresi dan kreativitas publik. Keterbukaan ini mendukung berkembangnya musik protes yang mengkritik kebijakan yang dianggap tidak sesuai dengan kepentingan publik melalui karya-karyanya (Suryadi, 2015). Aktualisasi lainnya hadir dalam bentuk penerapan budaya kerja do it yourself dan menentang bantuan dari pemerintah (Sen & Hill, 2000). Di wilayah perkotaan, musik metal menjadi sarana negosiasi stratifikasi sosial, gender, dan identitas, sekaligus memunculkan solidaritas di kalangan musisi dan penggemarnya (Alkatiri et al., 2023)Salah satu daerah di Bandung yang berkontribusi besar dalam membentuk dinamika perkembangan musik metal di Indonesia adalah Ujung Berung (Daryana et al., 2020). Daerah dataran tinggi yang terletak di Bandung Timur ini, secara ekonomi merupakan daerah transisi dari daerah pertanian menjadi pusat perkotaan yang yoda ekonominya bertumpu pada industri kreatif dan perdagangan. Secara sosial dan budaya, kawasan ini juga memiliki perhatian cukup tinggi terhadap perkembangan seni dan budaya tradisional maupun populer (Maulidiyah et al., 2024). Maka dari itu, tidak heran jika Ujung Berung ditetapkan sebagai lokasi pengembangan Agro Wisata Seni Budaya dengan beberapa potensi seni seperti Benjang, Reog, Kecapi Suling, pencak silat, dan kecapi pantun (Berung, 2022)
AKULTURASI BUDAYA LOKAL KESENIAN GAMBANG KROMONG JALI PUTRA PADA MASYARAKAT BETAWI
Jakarta Sebagai Ibu kota Negara Indonesia yang penduduknya beraneka ragam, mereka berasal dari berbagai daerah yang ada di Indonesia. Namun begitu banyaknya masyarakat yang datang ke Jakarta sebagai perantau, ada juga masyarakat pribumi yang disebut sebagai Masyarakat Betawi. Masyarakat Betawi yang ada di Jakarta memiliki peran yang sangat penting dalam proses pengembangan kebudayaannya, di mana kebudyaaan tersebut sebagai identitas bagi masyarakat Betawi.Kehidupan masyarakat Betawi, tidak lepas dari budaya lokal yang hidup dan berkembang sesuai kehiduapan masyarakatnya. Masyarakat lokal hidup saling berkomunikasi dan beradaptasi sesuai dengan lingkungannya. Budaya Lokal yang dikembangkan oleh masyarakat Betawi yang ada di Jakarta menjadi ciri khas bagi masyarakatnya. Percampuran dua budaya dalam masyarakat Betawi menjadi satu fenomena yang terjadi secara alami, karena masyarakatnya hidup berdampingan satu dengan yang lainnya. Salah satu etnis yang hidup berdampingan adalah masyarakat Tionghoa yang tersebar ke beberapa wilayah yang ada di Jakarta.Masyarakat Betawi yang bertempat tinggal di Jakarta, mengembangkan dan melestarikan kebudyaan lokal, sehingga masyarakat lainnya yang hidup dan tinggal pada masyarakat Betawi turut serta dalam proses pengembangnnya. Kebudyaan lokal yang dikembangkan dalam masyarakat Betawi adalah kesenian Gambang Kromong. Secara etimologi gambang kromong berasal dari dua alat music yaitu Gambang dan Kromong
REVITALISASI SENI DAN BUDAYA LOKAL SEBAGAI PILAR PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA PAMEKARAN, KECAMATAN RANCAKALONG, KABUPATEN SUMEDANG
Program pemberdayaan masyarakat untuk revitalisasibudaya di Desa Pamekaran, yang mulai berjalan pada tahun2025 dan dilakukan oleh pemerintah daerah bersama akademisiseni budaya dari ISBI Bandung, merupakan contoh nyata bahwabudaya harus menjadi motor pembangunan, bukan sekadarwarisan yang dipajang. Pendekatan ini berhasil mengubahwarga dari objek menjadi subjek aktif, sebuah filosofi yangmerujuk pada kata kunci untuk keberlanjutan (Widodo, 2022)
Śiva Naṭarāja: Konsep Estetika Hindu dalam Seni Pertunjukan Wayang
Penelitian ini mengeksplorasi dimensi pemaknaan simbol Śiva Naṭarāja dalam seni pertunjukan wayang kulit Bali melalui pendekatan hermeneutika simbolik Paul Ricœur, semiotika triadik Charles Sanders Peirce, serta konsep estetika Hindu Bali (satyam, śiwam, sundaram). Kajian ini menyoroti keterbatasan studi sebelumnya yang cenderung bersifat visualistik-formalistik dan seremonial, tanpa mengelaborasi praksis simbolik secara performatif. Dengan metode kualitatifpartisipatoris melalui observasi langsung, wawancara mendalam, dan studi naskah lontar sapuh leger, kala purana serta dharma pawayangan. Penelitian ini menemukan bahwa simbol Śiva Naṭarāja tidak hanya direpresentasikan sebagai ikon, melainkan direfigurasi sebagai teks hidup (living text) yang teraktualisasi dalam praksis seni-ritual dalang. Sublimasi audiens terhadap estetika sundaram terwujud dalam harmoni visual, naratif, dan ritualistik yang membangkitkan taksu (energi performatif spiritual) sebagai medan aktualisasi makna kosmis. Penelitian ini merekomendasikan pendekatan transdisipliner dalam kajian estetika pertunjukan Bali yang mengintegrasikan dimensi religius, performatif, dan kosmologis secara utuh
Kesehatan Mental, Atraksi Seni Pencak dan Pariwisata Berkelanjutan Dalam Wacana Pariwisata Masa Depan
Penelitian ini bertujuan mengekplorasi konsep kesehatan mental, atraksi seni pencak, dan pariwisata berkelanjutan yang berkembang dalam wacana pariwisata masa depan. Berkembangnya dampak kesehatan mental, praktik atraksi seni dalam pariwisata mempengaruhi konsep, dan scenario pariwisata masa depan. Pariwisata berkelanjutan berkontribusi pada sektor ekonomi kreatif, dan pembangunan ekonomi lokal pedesaan khususnya penciptaan lapangan kerja berbasis pelestarian lingkungan, budaya, dan masyarakat adat. Keterlibatan inklusif, dan pengembangan kapasitas masyarakat lokal merupakan agenda penting dalam pengembangan pariwisata di masa depan. Peningkatan kapasitas melalui partisipasi berbasis masyarakat sebagai strategi ekowisata keberlanjutan, dan pelestarian lingkungan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan menganalisis 523 artikel dari database scopus dengan tema pariwisata masa depan menggunakan perangkat lunak VOS viewer versi 1.6.17, model machine learning (ML) dengan teknik wordcount, dan analisis regresi dengan Python versi 3.9.0. Analisis regresi digunakan untuk mengetahui hubungan antara variabel yang ditemukan dari hasil analisis VOSviewer sebelumnya. Temuan penelitian ini adalah empat variabel masa depan pariwisata, yaitu inovasi, wisata berkelanjutan, wisatawan internasional, dan manajemen destinasi
Penciptaan Wayang Beber Kontemporer Sang Jendral dan Relevansinya Bagi Pendidikan Karakter
Generasi sekarang kurang mengenal nama pahlawan, kecuali sebagai nama universitas, jalan, bandara. Mereka lebih mengenal film animasi, drama Korea. Untuk itu, peneliti tertarik mengalihwahanakan perjuangan Jendral Sudirman yang religius dan patriotik ke format wayang beber kontemporer. Tujuannya adalah menciptakan wayang beber kontemporer bersumber dari perjuangan Sudirman, memperkenalkan pendidikan karakter dari perjuangan Sudirman, dan menciptakan video pembelajaran bagi siswa kelas VI SD. SD. Penelitian ini menggunakan teori alih wahana. Metode penciptaan menggunakan metode kreativitas dari Graham Wallas yang mencakup preparation, incubation, illumination, verification. Hasil penelitian ini berupa pertunjukan (video) paduan wayang beber dengan monolog, yakni durasi 30 menit, menggunakan Bahasa Indonesia, mengandung nilai nilai pendidikan karakter, tata cahaya dan panggung dibuat menarik, ilustrasi musik modern dan menggunakan sound effect, narator seorang aktor teater, lukisan wayang beber berwarna terdiri tiga gulungan, dan tiap gulungan berisi enam adegan. Penelitian ini berkontribusi dalam menghasilkan model mengalihwahanakan peristiwa sejarah ke wayang beber kontemporer
Artivcle Text Transformasi Visual “Lukisan Tubuh Liminal” Inspirasi Penari Tarawangsa sebagai Model Proses Kreatif Seni Lukis: -
Terwujudnya karya lukis dengan objek tubuh-tubuh liminal penari tarawangsa, hasil karya peneliti (Supriatna) terinspirasi dari sebuah peristiwa budaya seni tradisional. Lukisan yang dikreasi bertujuan menggambarkan kandungan dimensi ruang dan waktu dari ambiguitas para penari Tarawangsa. Tarian ini diekspresikan ke dalam kanvas, menggambarkan gerakan tubuh para penari berada dalam jiwa dualitas, yakni satu sisi gerakannya mengikuti irama pengiring secara estetik, namun dalam waktu yang sama gerakannya terisyarat tengah penyatukan diri dengan Nyi Pohaci, yakni sosok Dewi yang disucikannya. Ekspresi visual lukisan tarian sakral ini dilakukan melalui metode Practice-led research, yakni proses melukis melalui interpretasi atas pengamatan dan penghayatan terhadap objek, yang didasari pendekatan semiotika. Proses ini diharapkan dapat menjadi pemodelan metode penciptaan lukis berbasis riset seni budaya.The realization of the painting with the object of the liminal bodies of Tarawangsa dancers, the work of the researcher (Supriatna) was inspired by a traditional art cultural event. The painting aims to depict the time and space dimension of the ambiguity of Tarawangsa dancers. The dance is expressed on canvas, depicting the body movements of the dancers in a duality of spirit, where on the one hand the movements follow the rhythm of the accompaniment aesthetically, but at the same time the movements signify the unification with Nyi Pohaci, the Goddess whom they sanctify. The visual expression of this sacred dance is done through the Practice-led research method, which is the process of painting through interpretation from observation and appreciation of objects, based on a semiotic approach. This process is expected to model a method of painting creation based on cultural arts research.