E-Jurnal ISBI Bandung (Institut Seni Budaya Indonesia)
Not a member yet
1925 research outputs found
Sort by
PENGEMBANGAN PARIWISATA DAN BUDAYA DI DESA SUKATANI KECAMATAN NGAMPRAH KAB. BANDUNG BARAT MELALUI ATRAKSI WISATA REOG WANITA
Desa Sukatani, yang terletak di Kecamatan Ngamprah, KabupatenBandung Barat, memiliki kekayaan budaya lokal yang meliputiberbagai seni tradisional, adat istiadat, serta kerajinan tangan khasSunda. Budaya ini merupakan bagian dari identitas masyarakatDesa Sukatani dan menjadi warisan yang perlu dilestarikan. Namun,dalam menghadapi arus modernisasi dan globalisasi, keberlanjutankebudayaan lokal sering kali menghadapi ancaman seperti minimnyaminat generasi muda, serta semakin berkurangnya apresiasi terhadapnilai-nilai tradisional. Dalam konteks ini, pariwisata berbasis budayalokal muncul sebagai solusi untuk memadukan pelestarian budayadengan peluang peningkatan perekonomian masyarakat.Pariwisata berbasis budaya lokal tidak hanya berperan dalammelestarikan warisan budaya, tetapi juga dapat memberikan dampakpositif terhadap ekonomi desa melalui sektor pariwisata. DesaSukatani, dengan berbagai potensi yang dimilikinya, memiliki peluangbesar untuk menjadi destinasi wisata yang menarik, terutama bagiwisatawan yang mencari pengalaman autentik mengenai kebudayaanSunda. Pengembangan sektor pariwisata ini dapat melibatkan berbagaielemen budaya seperti pertunjukan seni (wayang golek, jaipongan,karawitan dan reog wanita), kegiatan adat, hingga pengenalankerajinan tangan dan kuliner tradisional.Kebudayaan lokal merupakansalah satu aset yang sangat penting dalam menjaga identitas dankarakter suatu daerah. Salah satu bentuk kebudayaan yang unikadalah kesenian Reog Wanita yang tumbuh dan berkembang di DesaSukatani, Kota Bandung, Jawa Barat. Reog, yang biasanya dikenalsebagai kesenian yang dominan dilakukan oleh pria, di Desa Sukatanimemiliki varian yang menarik karena dimainkan oleh wanita. Hal inibukan hanya menambah dimensi estetika dari Reog itu sendiri, tetapijuga memperkaya identitas budaya lokal
ESTETIKA WARNA TEKNIK LUKIS SUNGGING PADA TOKOH PANDAWA LIMA DALAM WAYANG GOLEK
Wayang sebagai salah satu warisan budaya dunia, diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia tercatat dalam daftar Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan, ditetapkan pada tanggal 7 November 2003. Wayang adalah salah satu bentuk seni pertunjukan tradisional yang sangat kaya akan nilai budaya yang telah berkembang sejak berabad-abad lamanya di Indonesia. Kata "wayang" berasal dari bahasa Jawa yang berarti bayangan, yang merujuk pada bayangan yang muncul ketika cahaya diterpa oleh tubuh atau benda. Secara umum, wayang merujuk pada seni pertunjukan yang menggunakan boneka atau tokoh-tokoh berbentuk tiga dimensi sebagai media untuk bercerita (Sunaryo, 2020)
MAKNA FILOSOFIS DAN FUNGSI SOSIAL KESENIAN TRADISIONAL KOROMONG DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT BADUY LUAR DI KANEKES LEBAK BANTEN
Indonesia merupakan negara yang terdiri dari berbagaiwilayah. Oleh karena itu, negara ini memiliki beragam suku,budaya, serta tradisi yang berbeda-beda di tiap daerah. Setiapwilayah memiliki keunikan tersendiri dalam aspek budaya dantradisinya. Salah satunya adalah kehidupan masyarakat Baduy,yang memiliki budaya, aturan, dan tradisi yang berbeda daridaerah lain. Suku Baduy dikenal karena kuatnya mereka dalammemegang adat istiadat dan tradisi yang berlaku di wilayahnya.Mereka juga tidak menggunakan peralatan modern dalamkehidupan sehari-hari, sehingga gaya hidup mereka masihsangat tradisional, termasuk dalam bidang keseniannya (NickyNurcahyani, 2023).Masyarakat adat didefinisikan sebagai kelompok etnis ataupenduduk asli di suatu wilayah yang berbeda dengan kelompokyang telah menetap dan menduduki, wilayah. Masyarakat adatdigambarkan sebagai penduduk asli ketika merekamempertahankan tradisi atau aspek lain dari budaya awal yangmereka miliki. Masyarakat adat telah mampu menerapkan danmengadaptasi pengetahuan dan lembaga adat mereka untukmengatur dan mengelola lingkungan, seringkali bekerja samadengan aktor lain. Nilai-nilai lingkungan mengacu padapersepsi hubungan seseorang dengan alam yang tercermindalam mengenali saling ketergantungan antara alam dan dirikita sendiri (Ardiyansah & Robby, 2023)
BENTUK TRANSFORMASI SOSIOKULTURAL TEATER TUTUR KENDURI SKO: DARI SAKRAL KE PROFAN DALAM SEBUAH KONDISI ANTARA TRADISI DAN TANTANGAN DI ERA DIGITAL
Dalam bentang sejarah kebudayaan manusia tradisi lisan(oral tradition) bukan sekadar medium penyampai cerita,melainkan tulang punggung peradaban yang menjadi repositoripengetahuan, nilai-nilai, dan identitas kolektif suatu masyarakat(Ong, 1988). Di Nusantara, kekayaan tradisi lisan tersebuttermanifestasi dalam berbagai bentuk, salah satunya adalahteater tutur. Sebagai bentuk pertunjukan yang mengandalkankekuatan narasi dan vokal dari sang penutur (dalang atautukang tutur), teater tutur berfungsi sebagai "institusi budaya"yang hidup, merekam, sekaligus mereproduksi memori sosialdan kosmologi masyarakat pendukungnya (Hatley, 2008).Salah satu praktek teater tutur yang masih bertahan diKumun Debai ada dalam Kenduri Sko, yang berasal darimasyarakat kota Sungai Penuh provinsi Jambi namun telahmenjadi bagian dari dinamika budaya masyarakat SungaiPenuh. Pada tradisi lisan terdapat nilai-nilai kearifan lokal,pengetahuan tradisional, dan filosofi hidup masyarakat KumunDebai (Precillia, 2024a). Kenduri Sko berperan penting dalammembentuk identitas budaya masyarakat Kumun Debai,menyatukan masyarakat melalui tradisi dan nilai-nilai yangbersama (Precillia, 2024b). Kumun Debai kental akankebudayaan, Adat istiadat, dan sistem kemasyarakatan yangmasih terjaga (Precillia & Julisa, 2022). Kesenian tradisimerupakan bentuk representasi sosiologi kehidupan maupunkarakter masyarakat di Kumun Debai (Precillia, 2023)
A Pengembangan Empowering dan Calming Music sebagai Modal Instrumental pada Music Therapy: Pendekatan Kreatif dalam Menciptakan Instrumen untuk Peningkatan Kesejahteraan Emosional
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya kebutuhan musik terapi dan pentingnya kevalidan komposisi musik dalam mengatasi permasalahan stres serta merosotnya motivasi individu. Pengembangan dua produk instrumental bertujuan sebagai alat bantu akurat untuk intervensi peningkatan mood; lagu A untuk motivasi dan lagu B untuk relaksasi. Modifikasi R&D Borg and Gall meliputi studi pendahuluan hingga validasi ahli dan revisi menjadi metode penelitian dan pengembangan yang digunakan. Validasi dilakukan terhadap lima praktisi musik, sementara uji reliabilitas menggunakan Cohen Kappa’s. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produk empowering memperoleh nilai total 93% (sangat valid) dan tingkat reliabilitas 0,783 (excellent agreement). Sementara, calming memperoleh nilai total 94%(sangat valid) dan tingkat reliabilitas 1,000 (excellent agreement). Kedua produk terbukti valid dan reliabel sesuai standar pengujian. Penelitian ini memberikan kontribusi bagi praktisi musik dalam menciptakan musik yang dirancang untuk mendukung relaksasi atau motivasi individu. Penelitian ini memperkaya wawasan metodologis dengan memberikan alternatif langkah pengembangan Borg and Gall pada konteks seni musik.Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya kebutuhan musik terapi dan pentingnya kevalidan komposisi musik dalam mengatasi permasalahan stres serta merosotnya motivasi individu. Pengembangan dua produk instrumental bertujuan sebagai alat bantu akurat untuk intervensi peningkatan mood; lagu A untuk motivasi dan lagu B untuk relaksasi. Modifikasi R&D Borg and Gall meliputi studi pendahuluan hingga validasi ahli dan revisi menjadi metode penelitian dan pengembangan yang digunakan. Validasi dilakukan terhadap lima praktisi musik, sementara uji reliabilitas menggunakan Cohen Kappa’s. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produk empowering memperoleh nilai total 93% (sangat valid) dan tingkat reliabilitas 0,783 (excellent agreement). Sementara, calming memperoleh nilai total 94%(sangat valid) dan tingkat reliabilitas 1,000 (excellent agreement). Kedua produk terbukti valid dan reliabel sesuai standar pengujian. Penelitian ini memberikan kontribusi bagi praktisi musik dalam menciptakan musik yang dirancang untuk mendukung relaksasi atau motivasi individu. Penelitian ini memperkaya wawasan metodologis dengan memberikan alternatif langkah pengembangan Borg and Gall pada konteks seni musik
Estetika Kota dan Keterikatan Masyarakat: Analisis Pengaruh Public Art di Malioboro, Yogyakarta
This study explores the role of public art in shaping community attachment to their environment and its influence on urban aesthetics, focusing on a case study of public art in Malioboro, Yogyakarta. The research employs a mixed methods approach (quantitative-qualitative) with a deductive method to analyze public perceptions of public art and its impact on public spaces. The findings indicate that public art has a positive and significant impact on place attachment, where public perception of these artworks contributes to their emotional connection with the environment. Additionally, the duration and frequency of visits influence how the public perceives public art. Further analysis reveals that public art provides significant aesthetic, social-functional, cultural, and economic benefits, including enhancing visual appeal, tourism attraction, local identity reflection, public education, and job opportunities for art practitioners. This study contributes to the understanding of the role of public art in shaping urban character and social interactions while serving as a foundation for developing policies and practices for public art in other urban areas.
Penelitian ini mengeksplorasi peran public art dalam membentuk keterikatan masyarakat dengan lingkungan serta pengaruhnya terhadap estetika kota, dengan fokus pada studi kasus public art di Malioboro, Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods (kuantitatif-kualitatif) dengan metode deduktif untuk menganalisis persepsi masyarakat terhadap public art serta dampaknya terhadap ruang publik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa public art memiliki dampak positif dan signifikan terhadap place attachment, di mana persepsi publik terhadap karya seni ini berkontribusi pada keterikatan emosional mereka dengan lingkungan. Selain itu, durasi dan frekuensi kunjungan turut memengaruhi bagaimana publik menilai public art. Analisis lebih lanjut mengungkap bahwa public art memberikan manfaat estetika, sosial-fungsional, kultural, dan ekonomi yang signifikan, termasuk peningkatan keindahan visual, daya tarik wisata, refleksi identitas lokal, edukasi masyarakat, serta peluang kerja bagi praktisi seni. Penelitian ini berkontribusi dalam pemahaman tentang peran seni publik dalam membentuk karakter kota dan interaksi sosial, serta memberikan dasar bagi pengembangan kebijakan dan praktik seni publik di kawasan perkotaan lainnya.
Kata kunci: Public Art, Estetika Kota, Interaksi Sosial, Ekonomi Kreatif, Malioboro.
 
Praktek Latihan Kreativitas Menggambar Untuk Remaja Karang Taruna Komplek Bumi Pasundan – Arcamanik Kota Bandung dengan Metode Bahasa Rupa
This drawing activity aims to improve the drawing skills of Karang Taruna youth in the Bumi Pasundan - Arcamanik Complex, Bandung City, through training based on the Visual Language Method. Visual Language is a method that prioritizes visual understanding as an effective means of communication in fine arts, so that participants can develop creativity and drawing skills in a systematic and structured manner. This activity was designed by a lecturer in Creative Industries, Telkom University, who has competence in the fields of art and design. The method used in this activity consists of theory and practice sessions that cover the basics of drawing, exploration of shape and color, and the application of Visual Language principles in visual works. In addition, participants are also encouraged to understand visual elements such as lines, planes, textures, and composition to improve the quality of their work. A participatory approach is applied in this training, where participants are actively involved in discussions and drawing exercises based on personal experiences and their surroundings. With this activity, it is hoped that Karang Taruna youth in the Bumi Pasundan-Arcamanik Complex will be more motivated to continue developing their drawing skills and utilizing them in various fields, such as illustration, graphic design, or other creative arts. This creative activity is also expected to become a model for similar training in other communities, to encourage the development of local arts and culture.This drawing activity aims to improve the drawing skills of Karang Taruna youth in the Bumi PasundanArcamanik Complex, Bandung City, through training based on the Visual Language Method. Visual Language is a method that prioritizes visual understanding as an effective means of communication in fine arts, so that participants can develop creativity and drawing skills in a systematic and structured manner. This activity was designed by a lecturer in Creative Industries, Telkom University, who has competence in the fields of art and design. The method used in this activity consists of theory and practice sessions that cover the basics of drawing, exploration of shape and color, and the application of Visual Language principles in visual works. In addition, participants are also encouraged to understand visual elements such as lines, planes, textures, and composition to improve the quality of their work. A participatory approach is applied in this training, where participants are actively involved in discussions and drawing exercises based on personal experiences and their surroundings. With this activity, it is hoped that Karang Taruna youth in the Bumi Pasundan-Arcamanik Complex will be more motivated to continue developing their drawing skills and utilizing them in various fields, such as illustration, graphic design, or other creative arts. This creative activity is also expected to become a model for similar training in other communities, to encourage the development of local arts and culture
Kemuliaan Sunan Ambu Refleksi Masa Kini Sebagai Ide Penciptaan Karya Lukis
This creation recontextualizes the noble values of women in Sundanese culture through the medium of painting, by combining the visual strength of traditional culture through a modern aesthetic approach, in this case the mythological figure of Sunan Ambu as the main source of ideas, which is seen as having values of nobility, compassion, wisdom, justice, blessing and help. The figure of Sunan Ambu is metaphorized into a female figure in expressionism style. The process of this work uses the practice led research method, which is the process of creating works through observation, exploration of forms and techniques, strengthening the main idea and implementing the concept so as to produce works as artistic expressions related to the issue of shifting values of women today.This creation recontextualizes the noble values of women in Sundanese culture through the medium of painting, by combining the visual strength of traditional culture through a modern aesthetic approach, in this case the mythological figure of Sunan Ambu as the main source of ideas, which is seen as having values of nobility, compassion, wisdom, justice, blessing and help. The figure of Sunan Ambu is metaphorized into a female figure in expressionism style. The process of this work uses the practiceled research method, which is the process of creating works through observation, exploration of forms and techniques, strengthening the main idea and implementing the concept so as to produce works as artistic expressions related to the issue of shifting values of women today
SIMBOL DAN MAKNA TRADISI RITUAL ZIARAH KE PETILASAN GEGER HANJUANG DI KAMPUNG CIHANJUANG DESA MANDALASARI KABUPATEN BANDUNG BARAT
Abstrak: Budaya spiritual yang masih dipraktikkan oleh sebagian masyarakat Indonesia salah satunya adalah tradisi ziarah. Tradisi ziarah petilasan Geger Hanjuang, pada praktiknya memerlukan sesajian dalam prosesinya. Hal inilah yang membuat ritual ziarah petilasan geger Hanjuang sarat akan simbol dan makna. Sehingga dalam mengetahui simbol dan makna yang ada penulis menggunakan teori Interpretivisme simbolik Clifford Geertz unutuk mengkaji hasil data. Penelitian ini juga menggunakan metode observasi partisipan dan wawancara dalam mengumpulkan data penelitian. Observasi dilakukan di wilayah petilasan Geger Hanjuang Kampung Cihanjuang Desa Mandalasari. Adapun proses pengumpulan data melalui wawancara ke beberapa informan penting seperti kuncen; sesepuh kampung; dan pelaku ziarah. hasil penelitian ini akan menjelasakan 1) Bentuk dan prosesi ziarah di petilasan Geger Hanjuang; 2) Simbol dan makna yang terkandung dalam rangkaian prosesi ziarah di petilasan Geger Hanjuang. Kata kunci: Ziarah, Petilasan, Sesajen. Abstract: One of the spiritual cultures that are still practiced by some Indonesians is the pilgrimage tradition. Geger Hanjuang\u27s pilgrimage tradition, in practice, requires offerings in the procession. This is what makes the pilgrimage ritual of the ‘Petilasan Geger Hanjuang’ full of symbols and meanings. So that in knowing the symbols and meanings that exist, the author uses the theory of symbolic interpretation of Clifford Geertz to examine the results of the data. This study also uses participant observation and interviews in collecting research data. Observations were made in the Petilasan Geger Hanjuang, Kampung Cihanjuang, Desa Mandalasar. The process of collecting data through interviews with several important informants such as kuncen; village elders; and pilgrims. the results of this study will explain 1) the form and procession of the pilgrimage at the Geger Hanjuang shrine; 2) The symbols and meanings contained in the series of pilgrimage processions at the Geger Hanjuang shrine. Keywords: Pilgrimage, Petilasan, Offering
BAHASA VISUAL MENUJU BRANDING CIKAMUNING
Artikel ini merupakan bagian kecil dari penelitian Framing Seni Budaya Cikamuningyangdilakukanberdasarkan penugasan lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) ISBI Bandungtahun 2024. Salah satu yang dianggap menarik dari riset lapanganTim Peneliti adalah masih adanya duaperistiwa budaya yang erat dengan memori budayamasyarakat pewarisnya dan presentasi seni pertunjukan(Tarawangsa Ma IndungdanWayang Golek). Adapun metode riset yang dilakukan adalah kualitatifdengan merujukpada Memory in Culture di mana masyarakat pemilik budaya melakukan “memorikolektif” yang diteliti dalam bentuk bahasa visual. Pembahasan bahasa visual yangberasal dari dokumentasiberupa foto-foto dialih-wahanakan atau ditansformasikan menjadi lukisan dan seni drawingoleh dua peneliti. Hasilnya diharapkan akan menjadi peluangmembangun “Branding Cikamuning” dimasa yang akan datang