E-Jurnal ISBI Bandung (Institut Seni Budaya Indonesia)
Not a member yet
1925 research outputs found
Sort by
ESTETIKA TEKNIK LUKIS SUNGGING PADA TOKOH BIMA WAYANG GOLEK SUNDA KLASIK DAN MODERN
Wayang golek Sunda merupakan warisan budaya yang memiliki kekayaan estetika, salah satunyamelalui teknik sungging pada dekorasi kepala. Perkembangan dari gaya klasik menuju modernmenampilkan perbedaan yang signifikan dalam penerapan sungging, baik dari sisi visual maupunnilai estetikanya. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan penerapan teknik sungging padawayang golek klasik dan modern menggunakan teori estetika Monroe Beardsley, yang menekankantiga aspek utama yaitu kesatuan, kompleksitas, dan intensitas. Metode penelitian menggunakanpendekatan kualitatif dengan studi komparatif melalui observasi langsung pada koleksi wayang golekklasik di Museum Wayang Jakarta dan wayang golek modern di sentra produksi Jelekong, dilengkapidokumentasi dan wawancara dengan pengrajin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada aspekkesatuan, wayang golek klasik lebih konsisten dalam pemilihan warna dengan dominasi emas yangserasi dengan bentuk mahkota, sedangkan wayang golek modern memperlihatkan kesatuan yanglebih longgar akibat eksplorasi warna yang beragam. Pada aspek kompleksitas, wayang golek klasikmenampilkan kesederhanaan visual dengan gradasi terbatas, sementara wayang golek modernmenonjolkan kerumitan detail melalui kombinasi warna yang padat dan bervariasi. Pada aspekintensitas, wayang golek klasik menghadirkan kesungguhan ekspresi simbolik tradisi, sedangkanwayang golek modern menunjukkan intensitas pada daya tarik dekoratif untuk memperkuat performapertunjukan. Temuan ini mengindikasikan adanya pergeseran fungsi teknik sungging dari pewarisannilai simbolik ke arah inovasi estetika visual. Penelitian ini diharapkan berkontribusi dalam upayapelestarian sekaligus pengembangan seni rupa tradisi di era modern.Kata kunci : teknik sungging, wayang golek, klasik, modern, estetika, Monroe Beardsle
JAYALAH NEGERIKU: TRANSFORMASI NARASI PERTUNJUKAN DALAM TARI DAN LAGU
JAYALAH NEGERIKU: Transformasi Narasi Pertunjukan dalam Tari dan Lagu adalah sebuahtransformasi naratif yang merayakan kecintaan pada tanah air dengan memadukan keragamanbudaya dan seni. Karya ini mempresentasikan nilai-nilai positif seperti keramahan, kepedulian, danpenghormatan terhadap perbedaan untuk menginspirasi rasa kebersamaan dan nasionalisme.Penelitian ini mengeksplorasi hubungan antara kreativitas artistik dan filosofi, dengan berfokus padaperan keindahan untuk mengekspresikan rasa cinta dan kebanggaan terhadap tanah air dalammengantisipasi kesatuan antara kebaikan, kebenaran, dan keindahan. Karya seni "JayalahNegeriku" bertujuan untuk memperkuat seni tradisional, membangkitkan rasa memiliki budaya, danmempromosikan keindahan Indonesia melalui pertunjukan tari dan musik. Bentuk koreografikinestetik tari etnik disajikan dalam format video dokumentasi. Metodologi penelitian menggunakanpendekatan kualitatif dengan tahapan eksplorasi budaya lokal, improvisasi kreatif, dan komposisiartistik. Proses penciptaan dipresentasikan melalui ekspresi gerak kinestetik etnis dan rangkaiankata-kata positif yang mengelu-elukan keindahan budaya dan alam Indonesia. Hasil penelitianmenunjukkan terciptanya satu komposisi lagu dan koreografi tari yang mengintegrasikan beberapamotif gerak tradisional Nusantara dengan lirik berbahasa Indonesia yang menggugah semangatnasionalisme. Karya ini berhasil menciptakan media edukasi budaya yang efektif untuk memperkuatidentitas nasional dan melestarikan warisan budaya Indonesia bagi generasi muda melaluipendekatan seni kontemporer yang mudah dipahami. Karya ini diharapkan dapat menggugah rasanasionalisme di Indonesia.Kata kunci: Transformatif Naratif, Tari Tradisional, Nasionalisme Indonesia, Tari dan lagu
TRI TANGTU BUANA: LANDASAN FILOSOFIS PERTANIAN MASYARAKAT SUNDA DI SEKITAR TAHURA DJUANDA
Pertanian masyarakat Sunda di sekitar kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Djuanda tidak hanyasekadar kegiatan ekonomi, melainkan juga mencerminkan falsafah hidup yang telah diwariskan secaraturun-temurun, yaitu konsep Tri Tangtu Buana. Penelitian ini penting untuk memahami landasan filosofisTri Tangtu sebagai pedoman dalam pengelolaan pertanian yang berkelanjutan dan harmonis denganalam di kawasan konservasi tersebut. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan dan menganalisiskonsep Tri Tangtu dalam praktik pertanian masyarakat di sekitar Tahura Djuanda, serta menggali nilainilaikearifan lokal yang terkandung di dalamnya. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatifdengan teknik pengumpulan data melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan petanilokal, dan studi dokumentasi literatur terkait Tri Tangtu dan pertanian tradisional Sunda. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa Tri Tangtu—yang meliputi alam atas, alam tengah, dan alam bawah—menjadilandasan filosofis yang kuat dalam pengelolaan pertanian masyarakat. Konsep ini mendorongterciptanya keseimbangan ekologis, sosial, dan budaya dalam kegiatan bertani. Praktik pertanian yangdilakukan oleh masyarakat sekitar Tahura Djuanda mengedepankan prinsip saling keterkaitan antaramanusia, alam, dan nilai-nilai spiritual, sehingga pertanian tidak hanya produktif secara ekonomi tetapijuga lestari secara ekologis dan bermakna secara kultural. Temuan ini memberikan pemahaman yangmendalam tentang bagaimana kearifan lokal dapat menjadi pijakan strategis dalam mengembangkanmodel pertanian di kawasan konservasi.Kata kunci: Tri Tangtu; Pertanian; Masyarakat Sunda; Tahura Djuand
PENGELOLAAN TEKNOLOGI DIGITAL DI MUSEUM KOTA BANDUNG (STUDI KOMPARATIF ANTARA MUSEUM SRI BADUGA, MUSEUM GEDUNG SATE, DAN MUSEUM GEOLOGI)
Museum memiliki peran strategis dalam melestarikan warisan budaya terutama dalam upaya penguatanidentitas bangsa. Akan tetapi, beberapa museum di Kota Bandung masih menghadapi tantangan sepipengunjung. Pemanfaatan teknologi digital menjadi strategi alternatif untuk memperkuat daya tarikmuseum sekaligus mengoptimalkan fungsi edukasi dan pariwisata budaya. Penelitian ini dilakukanuntuk menganalisis pengelolaan teknologi digital melalui pendekatan deskriptif komparatif berbasiskerangka 4A dan paradigma New Museology pada tiga museum di Kota Bandung: Museum Sri Baduga,Museum Gedung Sate, dan Museum Geologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiganyamenerapkan strategi pengelolaan teknologi digital yang variatif. Museum Gedung Sate memanfaatkaninovasi interaktif berupa augmented reality (AR), touchable displays, dan ruang audio visual.Selanjutnya Museum Geologi hadir dengan ruang immersive, multi-touch table, hologram, ruangsimulasi bencana, dan adanya program Day and Night at The Museum yang menjaga kesinambunganminat pengunjung. Lalu Museum Sri Baduga yang memanfaatkan penggunaan videotron non-interaktifdan touchable displays pada beberapa koleksi unggulannya. Hal ini menunjukkan bahwa inovasipemanfaatan teknologi digital yang relevan menjadi salah satu upaya konkret yang dapat dilakukanpihak museum dalam menjaga minat masyarakat untuk mengunjungi museum. Pengelolaan teknologidigital yang efektif menjadi poin penting dalam meningkatkan citra museum sebagai destinasi wisatabudaya bagi masyarakat masa kini.Kata Kunci: Museum, Museologi Baru, Wisata Minat Khusus, Strategi Pengelolaan, Teknologi Digital,Pariwisata Buday
Reproductive Health Information-Seeking Behavior on Adolescents in social media
One intervention to reduce maternal and infant mortality is increasing adolescent knowledge about reproductive health. This study aims to determine adolescent behavior in seeking reproductive health information. An online survey was conducted on 188 adolescent internet users from all over Indonesia. The results showed that 95% of the respondents knew reproductive health information, and the school was the first place the information was obtained. Respondents who stated that they needed a particular room and specific hours at school to search for information and discuss reproductive health problems were 62 %. The study also revealed that teachers should be the most comfortable place to discuss reproductive health issues by 44%.
Keywords: Reproductive Health, health communications, information-seeking behavior, adolescents
The impact of online loans on communication and consumptive behavior of Indonesian women
t. Illegal online loans in Indonesia have become a significant issue, with many victims experiencing harassment and threats from lenders. This study aims to explore the communication experiences of victims of online loans in Indonesia using a qualitative research method. The study will use interviews and focus groups to collect data from victims of online loans, with a focus on the types of communication they received from lenders, the frequency of communication, and the impact of the communication on their mental health. The study will also explore the effectiveness of existing policies and regulations related to online loans. The study is expected to provide insights into the communication experiences of victims of online loans in Indonesia and the impact on their mental health. The study will also contribute to developing policies and regulations that protect borrowers from harassment and threats from lenders.
Keywords: online loans; mental health; communication experience
Kesan Melankolis pada Lagu Papatet dalam Tembang Sunda Cianjuran yang Dipengaruhi oleh Sejarah Penciptaannya
Tembang Sunda Cianjuran merupakan salah satu warisan budaya musik tradisional Sunda yang memiliki karakter musikal melankolis yang mencerminkan kesedihan, kegelisahan, dan lain sebagainya. Salah satu lagu dalam tembang ini adalah "Papatet", yang dikenal sarat dengan nuansa melankolis. Penelitian inibertujuan untuk mengungkap bagaimana historiografi penciptaan lagu "Papatet" serta unsur-unsur musikalnya membentuk kesan melankolis yang kuat. Melalui pendekatan metode sejarah kritis yang meliputi tahapan heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi dengan menganalisis sumber-sumber lisan dan tertulis dari para tokoh tembang Sunda Cianjuran seperti M. Yusuf Wiradiredja dan Heri Herdini. Dalam konteks sejarahnya,tembang Sunda Cianjuran diperkirakan berkembang sejak awal abad ke-19, namun dokumentasi primer yangterbatas mendorong perlunya pendekatan tekstual dan kontekstual untuk menelusuri makna emosional dan estetika dari lagu tersebut. Kajian ini menekankan pentingnya rumpaka (lirik), struktur melodi, ritme, dandinamika penyajian sebagai elemen yang berkontribusi terhadap nuansa melankolis. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya pemahaman tentang ekspresi emosional dalam musik tradisional Indonesia serta memperkuat upaya pelestariannya di tengah arus globalisasi budaya.
Keywords: Melankolis; Papatet ; Tembang Sunda Cianjuran ; Sejarah
INVENTARISASI OBJEK PEMAJUAN KEBUDAYAAN DESA KERTAJAYA KEC. PADALARANG MELALUI PEMBERDAAYAAN MASYARAKAT BERBASIS BUDAYA
Desa Kertajaya yaitu salah satu desa yang terletak di KabupatenBandung Barat, lebih tepatnya di Kecamatan Padalarang. Desa inimerupakan desa sub-urban karena infrastuktur pembangunan yangada sudah hampir merata di setiap sektornya, salah satunya sepertiadanya stasiun Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) dan stasiun keretaPadalarang yang menjadi pusat dari stasiun yang ada di KabupatenBandung Barat. Selain itu, keberadaan pembangunan Kota BaruParahyangan yang sebagian besar menguasai wilayah Desa Kertajaya.Dengan adanya pembangunan tersebut, daerah pemukiman pendudukasli mulai tergeser. Dampak lainnya, keberadaan kebudayaan dankesenian yang berada di desa tersebut lambat laun hamper menghilangtergerus oleh modernisasi
PENCAK SILAT SEBAGAI ATRAKSI BUDAYA UNTUK STRATEGI PEMAJUAN PARIWISATA (DESA CIPATAT, KECAMATAN CIPATAT, KABUPATEN BANDUNG BARAT)
Desa Cipatat, yang terletak di Kecamatan Cipatat KabupatenBandung Barat memiliki luas area 6,97 km², dengan jumlah penduduk12.817. Desa Cipatat memiliki potensi besar untuk mengembangkanpariwisata berbasis budaya lokal. Dalam beberapa tahun terakhir, trenpariwisata berbasis budaya semakin diminati oleh wisatawan, baikdomestik maupun mancanegara. Wisatawan mencari pengalamanotentik yang dapat menghubungkan mereka dengan kebudayaan dantradisi lokal.Terdapat beberapa kekayaan budaya yang dimiliki oleh daerah inidi antaranya Calung, Calung merupakan alat musik tradisional yangterbuat dari bambu yang dimainkan dengan cara dipukul. Berdasarkanperkembangannya, calung mulanya adalah seni kalangenan (seniberdasarkan hobi), tetapi kini calung menjadi seni pertunjukan yangcukup tersohor
PENGEMBANGAN WISATA ALAM DAN PERTUNJUKAN KAULINAN BARUDAK DI SITUS GUNUNG HAWU PABEASAN
Situs Gunung Hawu Pabeasan di Kabupaten Bandung Barat, JawaBarat, adalah salah satu daerah dengan potensi besar yang belumsepenuhnya dikembangkan. Gunung Hawu dikenal karena keindahanalamnya yang luar biasa, termasuk formasi batu kapur yang unik danfenomena alam yang menakjubkan. Namun, potensi wisata di kawasanini masih belum dimanfaatkan secara optimal.Dalam konteks pengembangan pariwisata, terutama yangberkelanjutan, penting untuk menemukan cara-cara inovatif untukmemanfaatkan potensi alam dan budaya lokal. Salah satu pendekatanyang diusulkan dalam kajian ini adalah pengembangan wisata alamyang dikombinasikan dengan pertunjukan panggung keliling tentangKaulinan Barudak dengan tema Imah Kuring, Lembur Kuring. Kaulinanbarudak adalah istilah dalam bahasa Sunda yang berarti “permainananak-anak.” Kata “kaulinan” berasal dari kata dasar “ulin,” yangberarti bermain atau melakukan aktivitas yang menghibur, sementara“barudak” berarti anak-anak. Jadi, kaulinan barudak merujuk padaberbagai jenis permainan tradisional yang biasa dimainkan oleh anakanakdi masyarakat Sunda. Permainan ini biasanya dilakukan di luarruangan dan sering kali melibatkan unsur fisik, sosial, dan kreatif,seperti berlari, melompat, atau bernyanyi bersama. Kaulinan barudakjuga sarat dengan nilai-nilai budaya dan sosial yang mengajarkan anakanaktentang kerja sama, sportivitas, dan kearifan lokal. Sementara“Imah Kuring” dan “Lembur Kuring” adalah dua ungkapan dalambahasa Sunda yang mengandung makna mendalam tentang identitas,kebersamaan, dan keterikatan dengan tempat tinggal serta kampunghalaman