E-Jurnal ISBI Bandung (Institut Seni Budaya Indonesia)
Not a member yet
1925 research outputs found
Sort by
PUSEUR LARAS:KONSTRUKSI TRITANGTU PUCUK DAN PUREUT REBAB SUNDA
Puseur Laras\u27 work takes the concept from the perspective of Sundanese mythology, namely the triple pattern on paradoxical aesthetics. The idea of Puseur Laras\u27s multi-interpretation work can be interpreted from various aspects or points of view. Puseur Laras\u27 work is inspired by the three main functions of rebab, namely merean, marengan, and muntutan. Rebab as Tritangtu in the pattern of rationality of Sundanese society is determination, speech, and lampah. In addition, the shoot motif adopts three forms of symbols, including trident, kujang, corn. In addition, the pureut that still adopts the trident shape and the curves of both sides adopts from the shape of the kacapi indung waditra. The creation of the form of Rebab and pureut Rebab Sunda is still related to the domain values that exist in Sundanese society.
Keywords: Construction, Philosophy, Trident, Kujang, Corn Plants, Puseur Lara
“THE SELF IMPROVERS” FASHION TREND 2023-2024 DALAM DESAIN DIGITAL READY TO WEAR
Industri fashion mengalami transformasi yang cepat dan signifikan, dipengaruhi oleh perubahan sosial, teknologi, dan lingkungan. Memasuki tahun 2023-2024, industri ini menghadapi tantangan untuk menyesuaikan diri dengan kebutuhan dan harapan konsumen yang dinamis dari waktu ke waktu. Perubahan preferensi ini menciptakan kebutuhan untuk memahami dan memprediksi trend yang akan datang, sehingga perancang dapat mengembangkan koleksi yang tidak hanya estetis menarik, tetapi juga praktis, berkelanjutan, dan sesuai dengan nilai-nilai konsumen modern
Milestone Dan Makna Ornamen Puri Agung Karangasem Dalam Persfektif Hermeneutika
The architecture of Puri Agung Karangasem shows important achievements in architectural progress and the trajectory of the meaning of ornaments shows the acculturation of Balinese, Chinese, and European cultures. Researchers have not found research on the milestones and meaning of ornaments in the Puri. The purpose of this research is to explain the important historical achievements and the meaning of architectural ornaments of Puri Agung Karangasem. A qualitative descriptive method is implemented to explain the milestones and meaning of architectural ornaments of Puri Agung Karangasem. Hermeneutic theory is used as an approach to uncover the historicity and interpretation of the meaning of the architectural ornaments of the Puri. Data collection techniques include observation, interviews and documentation, while as a source of data are ornaments on palace architecture, cultural experts, community leaders, and as key informants of Penglingsir Puri and Abdi Dalem Puri. The results of the study show that the architecture of Puri Agung Karangasem has a very important meaning and achievement in the history of Bali, especially in the context of the kingdom. The forms of ornaments found in Puri Agung Karangasem can be distinguished into three, namely ornaments in traditional Balise, Chinese and European styles, resulting in a combination of typical ornamental forms of Puri Agung Karangasem. From a hermeneutic perspective, these ornaments are signs that refer to certain aspects of social, religious, and political life in Bali, especially the kingdom of Karangasem. In addition, the ruler of Puri Agung Karangasem in ancient times had a fairly good cultural relationship with people from China and Europe, as reflected in the visualization of ornaments integrated into the architecture of the Puri.Arsitektur Puri Agung Karangasem menunjukkan adanya capaian penting kemajuan arsitektur dan lintasan makna ornamen memperlihatkan terjadinya akulturasi budaya Bali, Tiongkok, dan Eropa. Peneliti belum menemukan penelitian mengenai milestone dan makna ornamen pada Puri tersebut. Tujuan penelitian ini untuk menjelaskan capaian penting kesejarahan dan makna ornamen arsitektur Puri Agung Karangasem. Metode deskriptif kualitatif diimplementasikan untuk menjelaskan milestone dan makna ornamen arsitektur Puri Agung Karangasem. Teori hermeneutika digunakan sebagai pendekatan untuk mengungkap kesejarahan dan tafsir makna pada ornamen arsitektur Puri. Teknik pengumpulan data dengan observasi, wawancara dan dokumentasi, sedangkan sebagai sumber data adalah ornamen pada arsitektur istana, para ahli budaya, tokoh masyarakat, dan sebagai informan kunci Penglingsir Puri dan Abdi Dalem Puri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa arsitektur Puri Agung Karangasem memiliki makna dan capaian yang sangat penting dalam sejarah Bali, terutama dalam konteks kerajaan. Bentuk ornamen yang terdapat di Puri Agung Karangasem dapat dibedakan menjadi tiga yaitu ornamen dengan gaya tradisional Bali, Tiongkok dan Eropa, menghasilkan perpaduan bentuk ornamen khas Puri Agung Karangasem. Dalam perspektif hermeneutika, ornamen tersebut merupakan tanda-tanda yang merujuk pada aspek-aspek tertentu dari kehidupan sosial, agama, dan politik di Bali, khususnya kerajaan Karangasem. Di samping itu penguasa Puri Agung Karangasem pada zaman dahulu memiliki hubungan budaya yang cukup baik dengan orang-orang dari Tiongkok dan Eropa, tercermin dari visualisasi ornamen yang terintegrasi pada arsitektur Puri tersebut
PENTINGNYA PERAN TARI DALAM PERTUNJUKAN SENI BANGRENG PADA LAGU HAYAM NGUPUK
Hayam Ngupuk merupakan salah satu lagu Bangreng yang unik, pertama lagu tersebut memiliki nilai moral atau menyampaikan nasihat, kedua terdapat gerakan yang konsisten yang dilakukan oleh para penonton ketika menarikan lagu ini. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui seberapa penting peran tari dalam kesenian Bangreng khususnya pada lagu Hayam Ngupuk. Metode yang digunakan adalah studi pustaka, melakukan penelitian lapangan dan melakukan analisis menggunakan metode kualitatif dengan cara mengumpulkan data dari masyarakat dan terlibat dalam pertunjukan Bangreng. Landasan teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah beberapa teori budaya dan konteks sejarah; pelestarian dan perubahan, warisan dan identitas menjadi dasar penelitian ini. Maka pada penulisan ini ada beberapa pembahasan yang dilakukan yaitu peran tari dalam Kesenian Bangreng yang menjadi hal utama dalam pertunjukan meskipun tidak memiliki gerakan khusus, lagu-lagu yang muncul berdasarkan permintaan dari para penari, pola tabuhnya juga mengikuti gerakan penari
Transformasi Motif Batik Bilik Garut dalam Pengembangan Tenun Tradisional
This study aims to analyze the transformation of the Bilik Garut batik motif in the context of traditional weaving development. Bilik Garut batik is known as one of the distinctive motifs from the Garut region, carrying significant historical and cultural value. Using a descriptive qualitative approach, this research explores the process of adapting and innovating the motif into traditional weaving products. Data were obtained through field observations, interviews with artisans, and literature reviews related to batik and traditional weaving. The findings show that the transformation of the Bilik Garut batik motif into weaving introduces a new aesthetic dimension that not only preserves local identity but also enhances the economic value of weaving products. This motif adaptation also plays an important role in preserving regional cultural heritage while creating more innovative products that appeal to both local and international markets. The study suggests the need for collaboration between designers, artisans, and local governments in promoting culturally-based products, while also strengthening the creative economy rooted in traditional heritage.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis transformasi motif batik Bilik Garut dalam konteks pengembangan tenun tradisional. Batik Bilik Garut dikenal sebagai salah satu motif khas dari daerah Garut, yang memiliki nilai sejarah dan budaya yang mendalam. Melalui pendekatan deskriptif kualitatif, penelitian ini mengeksplorasi proses adaptasi dan inovasi motif tersebut ke dalam produk tenun tradisional. Data diperoleh melalui observasi lapangan, wawancara dengan pengrajin, dan kajian literatur terkait batik dan tenun tradisional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi motif batik Bilik Garut ke dalam tenun memberikan dimensi estetika baru, yang tidak hanya mempertahankan identitas lokal tetapi juga meningkatkan nilai ekonomi produk tenun. Adaptasi motif ini juga berperan penting dalam upaya melestarikan warisan budaya daerah serta menciptakan produk yang lebih inovatif dan diminati oleh pasar lokal dan internasional. Penelitian ini menyarankan perlunya kolaborasi antara desainer, pengrajin, dan pemerintah daerah dalam mempromosikan produk-produk berbasis budaya lokal, sekaligus memperkuat ekonomi kreatif berbasis warisan tradisional
Pengelolaan Risiko pada Pertunjukan Pepe-Pepeka ri Makka
Pepe-Pepeka ri Makka merupakan kesenian tradisional yang berasal dari Makassar, Sulawesi Selatan. Dalam pertunjukannya, kesenian Pepe-Pepeka ri Makka menyajikan penari yang berinteraksi dengan api. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana risiko-risiko yang terlibat dalam pertunjukan Pepe-Pepeka ri Makka, dikelola oleh para penampil. Metode kualitatif dan pendekatan performance studies digunakan dalam penelitian ini, guna mengeksplorasi dua dimensi dalam pengelolaan risiko, yaitu dimensi teknis dan nonteknis. Dimensi teknis mencakup keterampilan dan kecakapan penari, sementara dimensi nonteknis melibatkan penggunaan doa, ritual, dan kepercayaan spiritual. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengelolaan risiko tidak hanya bergantung pada keterampilan teknis penampil, namun juga dipengaruhi oleh keyakinan spiritual. Oleh karenanya, kombinasi antar kedua dimensi ini sangat berpengaruh terhadap keselamatan para penampil.Pepe-Pepeka ri Makka merupakan kesenian seni tradisional yang berasal dari Makassar, Sulawesi Selatan. Dalam pertunjukannya, menyajikan penari yang berinteraksi dengan api. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana risiko-risiko yang terlibat dalam pertunjukan Pepe-Pepeka ri Makka, dikelola oleh para penampil. Metode kualitatif dan pendekatan performance studies digunakan dalam penelitian ini, guna mengeksplorasi dua dimensi dalam pengelolaan risiko, yaitu dimensi teknis dan nonteknis. Dimensi teknis mencakup keterampilan dan kecakapan penari, sementara dimensi nonteknis melibatkan penggunaan doa, ritual, dan kepercayaan spiritual. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengelolaan risiko tidak hanya bergantung pada keterampilan teknis penampil, namun juga dipengaruhi oleh keyakinan spiritual. Oleh karenanya, kombinasi antar kedua dimensi ini sangat berpengaruh terhadap keselamatan para penampil.
Kata kunci: Pepe-Pepeka ri Makka, pengelolaan risiko, dimensi teknis dan nonteknis
GOALS SEBUAH KARYA PENCIPTAAN TARI TERINSPIRASI DARI PERMAINAN OLAHRAGA FUTSAL
Karya tari dengan judul GOALS merupakan sebuah karya tari kontemporer yang terinspirasi dari permainan futsal. GOALS berasal dari bahasa Inggris yang memiliki arti tujuan akhir yang ingin dicapai. Gagasan utama dalam karya ini adalah perjuangan seorang pemain futsal yang mengalami intimidasi dari lawan yang licik dan bermain kasar. Karya ini menggambarkan proses panjang yang harus dilalui oleh pemain untuk mencapai tujuan akhir, yaitu goals, sebuah istilah yang juga bermakna pencapaian akhir. Penciptaan karya ini menggunakan metode eksplorasi, improvisasi, dan seleksi. Sumber gerak diambil dari aktivitas keseharian seperti berjalan, berlari, berguling, serta gerak futsal yang didistorsi dan distilisasi untuk menghasilkan bentuk gerak baru yang ekspresif. Karya ini digarap dengan pendekatan dramatik dalam gaya tari kontemporer, mengangkat tema perjuangan sebagai fokus utama. Hasil akhir dari proses ini adalah terwujudnya sebuah karya tari yang utuh, yang tidak hanya menampilkan estetika gerak tetapi juga menyampaikan pesan tentang semangat perjuangan, ketekunan dan keberanian dalam menghadapi tantangan untuk mencapai tujuan.
ABSTRACT
“GOALS” A DANCE CREATION INSPIRED BY THE GAME OF FUTSAL, DECEMBER 2025. The dance work entitled GOALS is a contemporary dance work inspired by the game of futsal. GOALS comes from English which means the final goal to be achieved. The main idea in this work is the struggle of a futsal player who experiences intimidation from cunning and rough opponents. This work depicts the long process that must be passed by the player to achieve the final goal, namely goals, a term that also means a final achievement. The creation of this work uses the methods of exploration, improvisation, and selection. The source of movement is taken from daily activities such as walking, running, rolling as well as futsal movements that are distorted and stylized to produce new, expressive movement forms. This creation is worked on with a dramatic approach in the style of contemporary dance, raising the theme of struggle as the main focus. The final result of this process is the realization of a complete dance work, which not only performs the aesthetics of movement but also conveys a message about the spirit of struggle, perseverance and courage in facing challenges to achieve goals.
Keywords: Goals, Contemporary, Dramatic, Futsal
 
Mural Batik Nusantara Sebagai Eksposure Apresiasi Visual Batik di Dinding Dinsos Jabar
Batik motifs in the heritage of cultural arts are cultural assets that become characteristics, strong characters that are identical, of a region. Batik motifs that appear with various symbols of local wisdom of a particular region, show configurations that create a depth of meaning, ultimately providing cultural norms and values that are full of meaning. Along with the phenomenon of diversity, cultural assets of a region become a shared pride of the nation, so that territorial boundaries are no longer an obstacle when batik motifs have a cultural impact for a wider scope, when other regions, or government institutions want to attach this aspect of causality, so that it has a greater impact on uniting brotherhood, the power of nationalism, patriotism, which can be put forward, as an adage of diversity requirements, a representative manifestation in popular mural culture that is applied to the West Java Social Service institution, as part of the exposure of batik motifs as a treasure of civilization and national culture that is to be highlighted there, through the application of mural images of Indonesian batik motifs on the walls of the West Java Social Service.Batik motifs in the heritage of cultural arts are cultural assets that become characteristics, strong characters that are identical, of a region. Batik motifs that appear with various symbols of local wisdom of a particular region, show configurations that create a depth of meaning, ultimately providing cultural norms and values that are full of meaning. Along with the phenomenon of diversity, cultural assets of a region become a shared pride of the nation, so that territorial boundaries are nolonger an obstacle when batik motifs have a cultural impact for a wider scope, when other regions, or government institutions want to attach this aspect of causality, so that it has a greater impact on uniting brotherhood, the power of nationalism, patriotism, which can be put forward, as an adage of diversity requirements, a representative manifestation in popular mural culture that is applied to the West Java Social Service institution, as part of the exposure of batik motifs as a treasure of civilization and national culture that is to be highlighted there, through the application of mural images of Indonesian batik motifs on the walls of the West Java Social Service
Strategi Pembelajaran Kecerdasan Spasial Pengolahan Visualisasi Dalam Memahami Mata Kuliah Nirmana 2 Dimensi (Dwimatra)
The Visual Communication Design study program has a 2-dimensional (two-dimensional) Nirmana course as an initial means for students to recognize the basics of visual forms. These elements or elements are explored using basic principles of visual form and design to produce a work that has high aesthetic value. The Nirmana course is one of the initial steps for students to train their sensitivity and develop their creativity. The purpose of this study is to discuss optimal learning strategies so that the objectives are achieved in accordance with the vision and mission of the 2-dimensional (twodimensional) Nirmana course listed in the curriculum. The method in this study applies the classroom action method with the PTK (Classroom Action Research) model approach from Kurt Lewin, which focuses on exploring the role of spatial intelligence teaching strategies on the process of developing student creativity in 2-dimensional (two-dimensional) Nirmana learning. Students in the fields of art and design are closely related to creativity and sensitivity, of course they need preparation in understanding the governance of design elements. Spatial intelligence, namely the ability to visualize ideas related to space and place. Modification of the 2-dimensional (two-dimensional) Nirmana learning strategy with contextual (visual-spatial) and assessment evaluation can be an important point in organizing a conducive classroom atmosphere, improving the quality of learning enthusiasm and improving students’ understanding and creativity to work. The analysis process is carried out through the collection of measurable data.The Visual Communication Design study program has a 2-dimensional (two-dimensional) Nirmana course as an initial means for students to recognize the basics of visual forms. These elements or elements are explored using basic principles of visual form and design to produce a work that has high aesthetic value. The Nirmana course is one of the initial steps for students to train their sensitivity and develop their creativity. The purpose of this study is to discuss optimal learning strategies so that the objectives are achieved in accordance with the vision and mission of the 2-dimensional (twodimensional) Nirmana course listed in the curriculum. The method in this study applies the classroom action method with the PTK (Classroom Action Research) model approach from Kurt Lewin, which focuses on exploring the role of spatial intelligence teaching strategies on the process of developing student creativity in 2-dimensional (two-dimensional) Nirmana learning. Students in the fields of art and design are closely related to creativity and sensitivity, of course they need preparation in understanding the governance of design elements. Spatial intelligence, namely the ability to visualize ideas related to space and place. Modification of the 2-dimensional (two-dimensional) Nirmana learning strategy with contextual (visual-spatial) and assessment evaluation can be an important point in organizing a conducive classroom atmosphere, improving the quality of learning enthusiasm and improving students’ understanding and creativity to work. The analysis process is carried out through the collection of measurable data
REVITALISASI RITUAL MITEMBEYAN SEBAGAI PELESTARIAN LEWAT YOUTUBE PADA KELOMPOK TANI SINDANG HURIP DI DUSUN SINDANG, DESA/KEC. RANCAKALONG, SUMEDANG, JAWA BARAT
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan konsep dan metode revitalisasi ritual mitembeyan meuseul sebagai upaya pelestarian nilai-nilai kearifan budaya lokal masyarakat petani Sunda di tengah perubahan sosial budaya akibat modernisasi pertanian, serta mendiseminasikan hasil revitalisasi melalui media digital. Modernisasi pertanian melalui penggunaan mesin penggiling gabah (huller) telah menyebabkan memudarnya praktik ritual mitembeyan yang sebelumnya menjadi bagian integral dari sistem kepercayaan, kosmologi, dan kehidupan komunal petani. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi yang dilakukan di Dusun Sindang, Desa/Kecamatan Rancakalong, Kabupaten Sumedang. Data dikumpulkan melalui observasi partisipan, wawancara mendalam, Focus Group Discussion (FGD), dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa revitalisasi ritual dilakukan melalui rekonstruksi bentuk otentik berbasis memori kolektif, reaktualisasi tahapan ritual, serta penggalian kembali makna simbolik dan nilai kearifan lokal yang mencakup nilai spiritual-religius, keselarasan dengan alam, dan solidaritas sosial komunal. Dokumentasi ritual melalui platform YouTube berfungsi sebagai arsip visual sekaligus strategi adaptif pelestarian budaya di era digital. Penelitian ini menyimpulkan bahwa revitalisasi ritual mitembeyan meuseul merupakan bentuk modernisasi selektif yang memungkinkan masyarakat petani mempertahankan identitas budaya dan nilai-nilai fundamental tanpa menolak kemajuan teknologi.
Kata kunci: revitalisasi budaya, ritual mitembeyan, kearifan lokal, pertanian tradisional, media digital. Abstract: This study aims to formulate concepts and methods for revitalizing the mitembeyan meuseul ritual as an effort to preserve local cultural wisdom among Sundanese farming communities amid socio-cultural changes caused by agricultural modernization, as well as to disseminate the revitalization outcomes through digital media. The introduction of rice milling machines (hullers) has gradually diminished the practice of mitembeyan, which was previously an integral part of farmers’ belief systems, cosmology, and communal life. This research employs a qualitative method with an ethnographic approach conducted in Sindang Hamlet, Rancakalong Village/Subdistrict, Sumedang Regency. Data were collected through participant observation, in-depth interviews, Focus Group Discussions (FGD), and literature review. The findings indicate that ritual revitalization was carried out through reconstructing its authentic form based on collective memory, reactualizing ritual stages, and reinterpreting symbolic meanings and local wisdom values, including spiritual-religious beliefs, harmony with nature, and communal social solidarity. Digital documentation via YouTube functions as a visual archive and an adaptive strategy for cultural preservation in the digital era. The study concludes that revitalizing the mitembeyan meuseul ritual represents a form of selective modernization that enables farming communities to maintain cultural identity and fundamental values without rejecting technological advancement.
Keywords: cultural revitalization, mitembeyan ritual, local wisdom, traditional agriculture, digital media.