E-Jurnal ISBI Bandung (Institut Seni Budaya Indonesia)
Not a member yet
1925 research outputs found
Sort by
IMPLIKASI KOMIK WAYANG SEBAGAI BENTUK NEGOSIASI BUDAYA TERHADAP PERKEMBANGAN KOMIK DI INDONESIA
Komik identik dengan budaya Barat, kehadirannya pernah ditolak oleh para pendidik di Indonesia pada masa Orde Lama. Namun ‘kelahiran’ Komik Wayang membuat komik bisa diterima oleh masyarakat hingga kini. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk negosiasi budaya dalam komik dan implikasi negosiasi budaya terhadap perkembangan komik di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Teori yang digunakan adalah teori komik dan teori hermeneutika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Komik Wayang adalah bentuk negosiasi budaya yang tampak dalam tiga bentuk yaitu visual, dialog verbal, dan narasi. Kehadiran Komik Wayang pun berimplikasi pada epigon genre komik di Indonesia mulai dari komik legenda hingga komik humor. Saat ini kehadiran komik diterima sebagai budaya populer di Indonesia.Komik identik dengan budaya Barat, kehadirannya pernah ditolak oleh para pendidik di Indonesia pada masa Orde Lama. Namun ‘kelahiran’ komik wayang membuat komik bisa diterima oleh masyarakat hingga kini. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk negosiasi budaya dalam komik dan implikasi negosiasi budaya terhadap perkembangan komik di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Teori yang digunakan adalah teori komik dan teori hermeneutika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komik wayang adalah bentuk negosiasi budaya yang tampak dalam tiga bentuk yaitu visual, dialog verbal, dan narasi. Kehadiran komik wayang pun berimplikasi pada epigon genre komik di Indonesia mulai dari komik legenda hingga komik humor. Saat ini kehadiran komik diterima sebagai budaya populer di Indonesia
STRATEGI PEMBELAJARAN TARI YA SAMAN UNTUK MENINGKATKAN KEPERCAYAAN DIRI SISWA KELAS XII MA NURUL JANNAH KECAMATAN LEMBAK
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi optimal dalam pembelajaran Tari Ya Saman untuk meningkatkan kepercayaan diri siswa kelas XII di MA Nurul Jannah Kecamatan Lembak. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil menunjukkan bahwa strategi pembelajaran yang diterapkan meliputi metode demonstrasi, drill, kerja kelompok, simulasi pertunjukan, dan refleksi diri. Guru berperan sebagai fasilitator yang menciptakan suasana kelas yang mendukung, memberikan motivasi, serta melakukan pendekatan emosional. Siswa menunjukkan peningkatan kepercayaan diri dalam aspek keberanian tampil, ekspresi diri, serta kerja sama kelompok. Lagu Ya Saman sebagai pengiring tari juga berperan penting menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dan penuh semangat. Dengan strategi yang tepat, pembelajaran Tari Ya Saman terbukti efektif dalam membentuk karakter dan kepercayaan diri siswa
The Expression of Economic Construction Theme in the Creation of Nationalization in Chinese Oil Painting
There are few studies on the application of economic construction themes to the creation of nationalization in Chinese oil painting. Thus, the researcher tries to take the oil paintings depicting the economic construction theme in The Art of the Party as samplesand use observation and documents to conduct research. This research aims to summarize the source of themes and creative characteristics of Chinese artists by observing the content of their works and analyzing historical documents. In addition, this research focuses on discussing the specific process of Chinese artists expressing economic construction themes, analyzes their creative characteristics, and finally tries to generalize the methods and regularities for Chinese artists to express the content of theme during the analysis process.
Keywords: Economic construction theme; nationalization; Chinese oil painting; expression; proces
PENERAPAN TENUN GRINGSING PADA ELEMEN DEKORATIF DEVALI RESTAURANT HOTEL FOUR POINTS SEMINYAK BALI
As tourism develops in the Bali area, it is directly proportional to the increase in city hotels which provide various facilities. Four Points Hotel in Seminyak Bali is a city hotel with a four star classification that provides facilities for guests on holiday and business trips by paying attention to the main function of the hotel and enhancing aesthetics to be applied to every interior element. Aesthetics of Processing (motifs) of Gringsing Woven Fabric as a Decorative Element in De Vali Restaurant Interior Design Planning is research that discusses the transformation and implementation of gringsing woven fabric motifs in various decorative elements of De Vali Restaurant interior planning, through consideration of motifs, functions and symbolic meanings. The transformation of the shape of the motif is carried out through an aesthetic approach in accordance with the principles of design aesthetics, with an emphasis on three elements, namely composition, proportion and color in the material. That is the planning for the interior renewal of the Four Points Hotel Seminyak Bali Restaurant so that it can become an attraction through a contemporary concept.ABSTRAK
Seiring perkembangan pariwisata di daerah Bali berbanding lurus dengan peningkatan city hotel yang memberikan berbagai fasilitas. Four Points Hotel di Seminyak Bali merupakan city hotel dengan klasifikasi bintang empat yang menyediakan fasilitas untuk tamu berlibur maupun perjalanan bisnis dengan memperhatikan fungsi utama hotel dan mengangkat estetika untuk diterapkan pada setiap elemen interiornya. Estetika Pengolahan (motif) Kain Tenun Gringsing sebagai Elemen Dekoratif pada Perencanaan Desain Interior De Vali Restoran merupakan penelitian yang membahas tentang transformasi dan implementasi motif kain tenun gringsing pada berbagai elemen dekoratif perencanaan interior De Vali Restoran, melalui pertimbangan motif, fungsi, dan arti simbolik. Penerapan transformasi bentuk motif dilakukan melalui pendekatan estetis sesuai dengan kaidah estetika desain, dengan menitikberatkan pada tiga unsur yaitu komposisi, proporsi, dan warna pada material. Demikian perencanaan dari pembaharuan interior Restoran Hotel Four Points Seminyak Bali agar dapat menjadi daya tarik melalui konsep Kontemporer.
Kata kunci: restoran, Hotel , Tenun, Gringsing, Kontempore
Perancangan Media Publikasi Kampung Seni Jelekong Bandung Jawa Barat
Jelekong Art Village in Bandung Regency, West Java, is a cultural destination known as a center for painting and traditional art. However, the potential of art and potential of art and culture in this area has not been fully recognized by the wider community due to the limited effective promotional media. This research aims to design a publication media that can increase the visibility of Kampung Seni Jelekong Art Village, as well as supporting the promotion of local art and culture potential to the community. The method used is a visual communication design approach with qualitative data analysis through interviews and observations to local communities, artists, and tourists. The results showed the need for publication media that is interactive and informative publication media, such as catalogs, brochures, posters. The media is designed with an aesthetic concept that aesthetic concept that is in accordance with the artistic and cultural identity of Jelekong Village. implementation of this publication media, it is hoped that the Jelekong Art Village can be more widely known widely, attract more visitors, and support the sustainability of local art and culture. local arts and culture. This research also contributes to development of design-based promotional strategies for other cultural tourism destinations.Jelekong Art Village in Bandung Regency, West Java, is a cultural destination known as a center for painting and traditional art. However, the potential of art and potential of art and culture in this area has not been fully recognized by the wider community due to the limited effective promotional media. This research aims to design a publication media that can increase the visibility of Kampung Seni Jelekong Art Village, as well as supporting the promotion of local art and culture potential to the community. The method used is a visual communication design approach with qualitative data analysis through interviews and observations to local communities, artists, and tourists. The results showed the need for publication media that is interactive and informative publication media, such as catalogs, brochures, posters. The media is designed with an aesthetic concept that aesthetic concept that is in accordance with the artistic and cultural identity of Jelekong Village. implementation of this publication media, it is hoped that the Jelekong Art Village can be more widely known widely, attract more visitors, and support the sustainability of local art and culture. local arts and culture. This research also contributes to development of design-based promotional strategies for other cultural tourism destinations
Transformasi Arsitektur pada Bangunan Kafe di Kawasan Braga
Braga merupakan kawasan wisata yang di dalamnya terdapat banyak bangunan cagar budaya yang perlu dilestarikan dan dijaga. Seiring tahun yang terus berjalan, jalan Braga mengalami berbagai perubahan pada tampilan fisik baik jalan maupun pada bangunannya. Saat ini, pada bangunannya masih banyak yang bergaya Eropa, walaupun beberapa bangunan terlihat sudah tidak terawat. Bangunan yang masih ada digunakan dengan berbagai fungsi seperti pertokoan, perkantoran, hotel, bahkan restoran. Batasan pada tulisan ini adalah pada lima bangunan kafe yang ada di jalan Braga, yaitu; Toko Buku Djawa, yang kini sudah menjadi Kopi Toko Djawa; Toko Populair, yang kini difungsikan sebagai kafe Jurnal Risa; Maison Bogerijen, yang sudah berganti nama menjadi Braga Permai; Het Snoephuis, yang kini dikenal sebagai Toko Sumber Hidangan; dan Maison Vogelpoel, yang sudah berganti nama menjadi Canary Bakery and Cafe. Pembahasan dilakukan dengan membahas perubahan-perubahan yang terjadi dari kelima bangunan tersebut secara deskriptif.Braga merupakan kawasan wisata yang di dalamnya terdapat banyak bangunan cagar budaya yang perlu dilestarikan dan dijaga. Seiring tahun yang terus berjalan, jalan Braga mengalami berbagai perubahan pada tampilan fisik baik jalan maupun pada bangunannya. Saat ini, pada bangunannya masih banyak yang bergaya Eropa, walaupun beberapa bangunan terlihat sudah tidak terawat. Bangunan yang masih ada digunakan dengan berbagai fungsi seperti pertokoan, perkantoran, hotel, bahkan restoran. Batasan pada tulisan ini adalah pada lima bangunan kafe yang ada di jalan Braga, yaitu; Toko Buku Djawa, yang kini sudah menjadi Kopi Toko Djawa; Toko Populair, yang kini difungsikan sebagai kafe Jurnal Risa; Maison Bogerijen, yang sudah berganti nama menjadi Braga Permai; Het Snoephuis, yang kini dikenal sebagai Toko Sumber Hidangan; dan Maison Vogelpoel, yang sudah berganti nama menjadi Canary Bakery and Cafe. Pembahasan dilakukan dengan membahas perubahan-perubahan yang terjadi dari kelima bangunan tersebut secara deskriptif
The Paradoxical Aesthetics of Kawih Wanda Anyaran by Mang Koko
This research analyzes the aesthetics of Kawih Wanda Anyaran by Mang Koko via the lens of Paradox Aesthetics as articulated by Jakob Sumardjo. Paradox Aesthetics posits that the allure of Nusantara art emerges from the tension between two ostensibly contradictory aspects that finally converge into harmony. This research utilizes a qualitative method with an ethnomusicological approach to analyze the lyrical, musical, and social contextual elements of Kawih Wanda Anyaran. The results identify four principal types of paradox: tradition–modernity, simplicity–complexity, individuality–collectivity, and rationality–emotionality. These paradoxes form a unique artistic basis, as Mang Koko adeptly showcases musical innovation while being deeply rooted in Sundanese cultural traditions. Kawih Wanda Anyaran exemplifies the intricate interplay among the artist, the community, and the encompassing cultural milieu. These findings affirm that Mang Koko\u27s compositions function as expressions of musical creativity and as embodiments of paradoxical aesthetics, which hold substantial importance for arts education, cultural preservation, and the progression of Sundanese karawitan studies in contemporary and future contexts. This study provides a conceptual contribution to comprehending how paradox aesthetics can function as a framework for interpreting traditional musical compositions and presents avenues for additional research on aesthetic alterations within Nusantara Arts
METODE PEWARISAN SENI TRADISI LUKIS KACA GEGESIK CIREBON
Lukis kaca Gegesik di Cirebon merupakan salah satu seni tradisi yang memiliki nilai historis, estetis,dan spiritual, namun keberlanjutannya menghadapi tantangan akibat perubahan sosial, budaya, danminat generasi muda. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji metode pewarisan seni tradisi lukiskaca yang dikembangkan oleh pelukis dan sanggar seni di Gegesik sebagai upaya menjagakeberlangsungan seni tradisi lukis kaca. Metode kualitatif dengan pendekatan etnografi digunakanmelalui observasi, wawancara, dan dokumentasi untuk menggali pola pembelajaran, interaksi sosialmasyarakat, serta praktik pewarisan yang berlangsung di lingkungan masyarakat. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa metode pewarisan dilakukan melalui model cantrik atau magang, pembelajaranlangsung di lingkungan masyarakat, serta melalui adaptasi pendidikan formal dan nonformal. Prosespewarisan berfokus pada keterampilan teknis melukis kaca melalui transfer nilai filosofis, simbolis,dan spiritual yang melekat dalam karya. Kesimpulannya, metode pewarisan seni tradisi lukis kacaGegesik menekankan kesinambungan antara teknik, nilai tradisi masyarakat lokal, dan konteksspiritual, sehingga dapat menjadi model pengembangan pendidikan seni berbasis tradisi di eramodern.Kata kunci: metode pewarisan, lukis kaca, gegesik, pendidikan seni, seni tradis
INDUNG BRAGA BERJAGA: PRAKTIK KOREOGRAFI PARTISIPATORIS DALAM RUANG PUBLIK URBAN
Penelitian ini mengkaji Indung Braga Berjaga, sebuah koreografi partisipatoris yang dipresentasikanpada Terap Festival 2024 di Bandung sebagai respons artistik terhadap banjir bandang SungaiCikapundung. Bencana ini tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik, tetapi juga meninggalkantrauma psikologis yang mendalam bagi warga, khususnya perempuan di Kampung Braga. Denganpendekatan kualitatif berbasis praktik, data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancaramendalam dengan fasilitator dan warga, serta analisis dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkanbahwa proses kreatif tidak menempatkan warga sebagai aktor pasif, melainkan subjek aktif yangterlibat dalam merekonstruksi ingatan banjir melalui praktik tubuh dan lokakarya kolaboratif. Denganmenghubungkan prosedur penanganan bencana yang sudah dikenal warga dengan eksplorasiartistik, karya ini memfasilitasi penyembuhan berbasis tubuh, memperkuat resiliensi sosial, danmenegosiasikan kembali makna ruang publik sebagai situs memori dan pemulihan. Penelitian inimenegaskan bahwa koreografi partisipatoris melampaui fungsi estetika dan dapat berperan sebagaistrategi sosial-ekologis dalam pemulihan pascabencana. Hal ini menunjukkan potensi senipertunjukan kontemporer untuk memberdayakan komunitas, mentransformasikan trauma menjadinarasi bersama, serta menegaskan kembali peran seni publik dalam membangun kota yang inklusifdan tangguh.Kata Kunci: koreografi partisipatoris, trauma ekologis, ruang publik, seni pertunjukan kontemporer,pemulihan pasca-bencana, Indung Braga Berjag
EDUKASI, IDENTITAS, DAN ESTETIK: PATUNG FIGURATIF DALAM DINAMIKA RUANG PUBLIK KOTA BANDUNG
Penelitian ini mengkaji peran patung figuratif di ruang publik Kota Bandung sebagai media edukasi,representasi identitas, dan ekspresi estetik yang membentuk dinamika masyarakat perkotaan. KotaBandung memiliki sejumlah patung figuratif yang ditempatkan di titik strategis, namun pemahamanmasyarakat terhadap fungsi simbolis dan nilai edukatifnya masih terbatas. Melalui studi kasus tigapatung, yaitu Patung Jenderal Ahmad Yani, Patung Pastor H. C. Verbraak, dan Patung Bola (ikonPersib Bandung), penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan melaluiobservasi, wawancara, serta analisis pendekatan semiotika visual. Hasil penelitian menunjukkanbahwa setiap patung memiliki dimensi makna yang berlapis: semangat patriotisme, nilaikemanusiaan lintas budaya, serta identitas kolektif yang berhubungan erat dengan memori sosialmasyarakat kota Bandung. Namun, keberadaannya belum sepenuhnya berfungsi sebagai saranapendidikan publik karena minimnya media informasi pendukung (sign system), seperti papan narasidan penjelasan kontekstualnya. Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa penguatan fungsiedukatif patung figuratif melalui kolaborasi antara pemerintah, seniman, dan masyarakat sangatdiperlukan untuk menciptakan ruang publik yang memiliki nilai estetis, makna historis dan identitassosial masyarakat kota Bandung.Kata kunci : patung figuratif, ruang publik, pendidikan seni, kota Bandung, masyarakat urb