E-Jurnal ISBI Bandung (Institut Seni Budaya Indonesia)
Not a member yet
1925 research outputs found
Sort by
RELASI ARTISTIK: INTEGRASI NILAI DAN ESTETIKA DALAM KARYA TARI KONTEMPORER “BERSILAT”
Pencak Silat merupakan seni bela diri tradisional Indonesia yang tidak hanya menekankan pada aspek fisik, tetapi juga sarat akan nilai-nilai budaya dan moral. Sejak diakui sebagai warisan budaya takbenda oleh UNESCO pada tahun 2019, Pencak Silat semakin dipandang sebagai bagian penting dari pendidikan karakter bangsa. Praktik pem-belajarannya, terutama di wilayah perkotaan dan institusi pendidikan seni, masih cenderung menekankan hafalan gerak dan bentuk jurus tanpa menggali makna filosofis dan nilai-nilai batiniah yang terkandung di dalamnya. Artikel ini membahas proses kreatif dalam penciptaan karya tari kontemporer berjudul “Bersilat” sebagai media edukasi yang mengintegrasikan unsur kepekaan raga, rasa, pikir, dan imajinasi. Karya ini dikembangkan bersama anak-anak dan remaja dari beberapa paguron di Kampung Ciganitri sebagai upaya menggali esensi Pencak Silat sebagai pendidikan jasmani, mental, dan spiritual. Dengan pendekatan artistik, penciptaan ini diharapkan mampu menumbuhkan pemahaman mendalam tentang nilai-nilai kehidupan yang terkandung dalam Pencak Silat, serta memperkuat fungsi edukatif seni bela diri sebagai pembentuk karakter generasi muda
Ronggeng: Genealogi Perempuan Penari Dari Masa Kolonial Hingga Era Mutakhir
In the current discourse of performing arts, ronggéng has been specified or narrowed down to mean only female dancers. The opposite of ronggéng is known as "pamogoran" or men from the audience who join in the dancing and also give money to the ronggéng.
Based on a phenomenological perspective with a discussion of interactive time boundaries, combining synchronic and diachronic time boundaries, it can be concluded that historically, the female body in Ronggéng\u27s identity has been distorted since colonialism. Ronggéng, which is synonymous with a sacred body in the life of an agrarian society, has been drawn into the industrial dimension by the interests of colonialism. Since then, a new image has been created that is synonymous with a negative stigma towards the bodies of women dancers, especially Ronggéng, which is associated with sexuality.
In recent times, female dancers have emerged who "fight" against this stigma by making themselves not only a manageable dancer, but metamorphosing into a dancer as well as a leader, creating new dance ideas.In the current discourse of performing arts, ronggéng has been specified or narrowed down to mean only female dancers. The opposite of ronggéng is known as "pamogoran" or men from the audience who join in the dancing and also give money to the ronggéng.
Based on a phenomenological perspective with a discussion of interactive time boundaries, combining synchronic and diachronic time boundaries, it can be concluded that historically, the female body in Ronggéng\u27s identity has been distorted since colonialism. Ronggéng, which is synonymous with a sacred body in the life of an agrarian society, has been drawn into the industrial dimension by the interests of colonialism. Since then, a new image has been created that is synonymous with a negative stigma towards the bodies of women dancers, especially Ronggéng, which is associated with sexuality.
In recent times, female dancers have emerged who "fight" against this stigma by making themselves not only a manageable dancer, but metamorphosing into a dancer as well as a leader, creating new dance ideas
Salamon Market Alternatif Pasar Malam Di Lingkungan Urban
The following written presentation is a track record of Community Service (PKM) activities that took place at Taman Griya Mitra Desa Cinunuk Cileunyi Bandung. The activities carried out were to optimize the function and role of a park at the gate of the housing complex, which has existed for a long time but has not been well maintained and only one year ago received assistance from the government in its arrangement and development. Since being renovated and repaired with the addition of huts, swings, slides and scales as well as the arrangement of ornamental trees, this park has been widely visited and is a representative children\u27s playground. Through the implementation of the night market in the park environment, it will be able to increase the utility value of the park which is not only for playing but also as a place for art and improving the economy of the surrounding community. Through cooperation between the Community, Entrepreneurs (UMKM) Universities (through PKM activities) Related Agencies, the Cultural Conservation Center can realize the assistance of the Salamon Market night market as a means of creativity and growing the community\u27s economy. With the scientific approach of management and procedures in managing an exhibition as the basis for organizing a market, a representative market event will be realized. The result of organizing Salamon Market is the realization of collaboration from various elements in making the market event a success in a public park and urban environment. The public\u27s response can be seen from the number of participants in filling the art performance event, participating in stalls, watching the Bioling film screening, participating in healthy gymnastics, practicing batik, coloring motifs for children, and a batik fashion show for residents.Paparan tulisan berikut merupakan jejak rekam dari kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang berlangsung di Taman Griya Mitra Desa Cinunuk Cileunyi Bandung. Kegiatan yang dilakukan adalah mengoptimalkan fungsi dan peran sebuah taman yang ada digerbang perumahan, yang keberadaannya sudah lama namun demikian selama itu juga belum terurus dengan baik dan baru satu tahun yang lalu mendapatkan bantuan dari pemerintah dalam penataan dan pembangunannya. Semenjak direnofasi dan diperbaiki dengan penambahan saung, mainan ayunan, prosotan dan timbangan serta penataan pohon hias, taman ini banyak dikunjungi dan merupakan tempat bermain anak yang representatif. Melalui penyelenggaraan Pasar malam di lingkungan taman tersebut akan dapat menambah nilai kegunaan taman yang tidak hanya untuk bermain saja namun demikian juga sebagai tempat berkesenian dan meningkatkan ekonomi masyarakat sekitarnya. Melalui kerjasama antara Masyarakat, Pengusaha (UMKM) Perguruan Tinggi (melalui kegiatan PKM) Instansi terkait Balai pelesatari Budaya dapat mewujudkan pendampingan pasar malam Salamon Market sebagai wahana berkreasi serta menumbuh kembangkan ekonomi masyarakat. Dengan pendekatan keilmuan managemen serta tatacara dalam mengelola sebuah pameran sebagai dasar dalam menyelenggarakan sebuah pasar, akan terwujud perhelatan pasar yang representatif. Hasil dari penyelenggaraan Salamon Market adalah terwujudnya kolaborasi dari berbagai unsur dalam mensukseskan perhelatan pasar di sebuah taman publik dan lingkungan urban. Sambutan masyarakat terlihat dari banyaknya peserta dalam mengisi acara pementasan seni, keikut sertaan dalam melapak, menonton pemutaran film Bioling, keikut sertaan senam sehat, praktik membatik, mewarnai motif bagi anak, serta fashion show batik warga
PERAJIN GERABAH DUKUH KRAJAN DESA GEBANGSARI, KEC. KLIRONG, KEBUMEN, JAWA TENGAH
Abstrak: Permasalahan penelitian ini ialah bagaimana bentuk interaksi sosial dan strategi adaptasi perajin gerabah dalam mempertahankan teknik tradisional di tengah berbagai kendala yang ada di RT 03 RW 02 Dukuh Krajan, Desa Gebangsari, Kec. Klirong, Kebumen. Tujuan penelitian adalah menjelaskan bentuk interaksi sosial dan strategi adaptasi perajin gerabah dalam upaya mempertahankan kelestarian pembuatan kerajinan gerabah tradisional menurut struktural fungsional AGIL. Manfaat teoretisnya adalah mengembangkan penelitian antropologi ekonomi tentang tingkah laku kolektif manusia dalam analisis AGIL. Manfaat praktisya berupa pemecahan masalah yang ada sebagai bahan pertimbangan strategis dalam suatu kebijakan. Metode penelitian adalah kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui studi pustaka, wawancara, dan dokumentasi. Populasi penelitian adalah perajin gerabah di RT 03 RW 02 Dukuh Krajan Desa Gebangsari. Variabel penelitian meliputi interaksi sosial dan strategi adaptasi. Hasil penelitian menemukan bahwa interaksi sosial yang terjalin di antara para perajin membangun hubungan yang positif dengan cara saling bekerja sama dan bergotong royong dalam memenuhi kebutuhan produksi gerabah. Perajin gerabah beradaptasi dalam menghadapi segala tantangan, kendala, dan peluang dalam rangka mempertahankan teknik tradisional cara pembuatan gerabah.
Kata kunci: perajin gerabah, interaksi sosial, adaptasi
Abstract: The subject addressed in this study is how pottery craftsmen in RT 03 RW 02 Dukuh Krajan, Gebangsari Village, Klirong District, Kebumen, use social interaction and adaptation strategies to sustain traditional techniques in the face of numerous challenges. The purpose of this research is to explain about the different types of social interaction and adaption tactics used by pottery artists in order to keep traditional pottery manufacture alive and well according to AGIL\u27s functional structure. The theoretical value of AGIL analysis is the development of economic anthropological research on human collective behavior. The practical benefits come in the form of existing problems being solved as strategic policy concerns. The research method is qualitative approach to data collecting, which includes literature reviews, interviews, and documentation. The research population is pottery craftsmen in RT 03 and RW 02, Dukuh Krajan, Gebangsari Village. Research variables include social interaction and adaptation strategies. The results of the study found that the social interactions that existed between the craftsmen built positive relationships by working together and working together to meet the needs of pottery production. Pottery craftsmen adapt in the face of all challenges, obstacles, and opportunities in order to maintain the traditional techniques of pottery making.
Keywords: Pottery craftsmen, social interaction, adaptatio
PERAN SKEMA WARNA KOMPLEMENTER UNTUK PENGUATAN MOOD DAN LOOK DALAM FILM AMÉLIE
The film Amelie is a romantic comedy film from France. The film Amelie tells the story of a shy waitress who tries to change her identity to become a valuable person in the surrounding community. The film Amelie presents beautiful visuals with contrasting colors that are harmonious or complementary in the artistic elements. The complementary color scheme of the film Amelie is characteristic and conveys the mood and look of comedy and romantic genre films. The research method used was a qualitative descriptive method with a literature study to analyze the role of complementary color schemes in the artistic elements of strengthening the mood and look of the film Amelie. The research data is in the form of the film Amelie with analysis techniques in the form of data reduction, data presentation and drawing conclusions. Complementary color schemes reinforce seven types of mood and look, namely earthy, playful, provocative, robust, tribal, power-clashing, and active. The role of complementary color schemes in artistic elements can strengthen the mood and look of a film so that the atmosphere and feel of the story in a film become stronger and more memorable
NILAI MORAL DALAM DASA KRETA NASKAH SANGHYANG SIKSA KANDANG KARESIAN SEBAGAI PEDOMAN HIDUP MASYARAKAT SUNDA
Abstrak: Penelitian ini membahas mengenai nilai moral yang terdapat dalam Dasa Kreta pada naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesian yang termasuk dalam jajaran naskah Sunda Kuna, ditulis di atas lontar menggunakan tinta dengan aksara Buda atau Gunung, metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif serta riset kepustakaan dengan mengumpulkan bahan bacaan, naskah serta dokumen yang relevan untuk mendapatkan hasil penelitian mengani nilai moral di dalam Dasa Kreta pada naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesian. Hasil dari penelitian yang dilakukan ini, yaitu nilai-nilai moral yang terdapat dalam Dasa Kreta pada naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesian diantaranya adalah gotong royong sesama manusia, mengandalkan satu sama lain dan tidak hidup secara individualis, menjaga serta memelihara keseimbangan alam, dan menjaga panca indera yang dimiliki oleh manusia.
Kata kunci: Sanghyang Siksa Kandang Karesian, Dasakreta, Nilai Moral, Naskah Sunda
Abstract: This research discusses the moral values contained in Dasa Kreta in the Sanghyang Siksa Kandang Karesian manuscript which is included in the ranks of Old Sundanese manuscripts, written on lontar using ink with Buda or Gunung script, the research method used in this research is a qualitative method and library research by collecting reading materials, manuscripts and relevant documents to obtain research results on moral values in Dasa Kreta in the Sanghyang Siksa Kandang Karesian manuscript. The results of this research, namely the moral values contained in Dasa Kreta in the Sanghyang Siksa Kandang Karesian manuscript include mutual cooperation among humans, relying on each other and not living individually, maintaining and maintaining the balance of nature, and maintaining the five senses possessed by humans.
Keywords: Sanghyang Siksa Kandang Karesian, Dasa Kreta, moral values, Sundanese manuscrip
TARI THENGUL DI BOJONEGORO: EKSISTENSINYA DI SEKOLAH-SEKOLAH
Abstrak: Bojonegoro memiliki berbagai macam kebudayaan yang menjadi kebanggaan untuk daerah penghasil migas yang tergolong besar. Pada masa sekarang kebudayaan dan kesenian mengalami penurunan peminat dan menyebabkan kepunahan seperti halnya pada Tari Thengul, Tari Thengul dihidupkan kembali dengan menyesuaikan perkembangan zaman. Terciptanya Tari Thengul berawal dari keberadaan Wayang Thengul yang hampir punah, sehingga Joko Santoso dan Ibnu Sutowo seniman di Bojonegoro memiliki insiatif untuk tetap menjaga kesenian Wayang tersebut dengan cara mengangkat kembali unsur-unsur yang ada pada Wayang Thengul menjadi sebuah tarian. Tari Thengul juga dijadikan sebagai sarana belajar untuk kegiatan ekstrakurikuler Tari di sekolah hal ini dilakukan sebagai bentuk pengenalan kearifan budaya lokal dan nilai-nilai budaya local. Selain untuk kegiatan ekstrakurikuler Tari Thengul juga menjadi bagian dari pementasan yang diselenggarakan pemerintah Kabupaten Bojonegoro dan dijadikan ikon Bojonegoro sebagai tarian penyambutan tamu di Kabupaten Bojonegoro. Meskipun Tari Thengul dihadapkan dengan perkembangan globalisasi, Tari Thengul tetap menjadi bagian dari budaya dan menjadi ikon Bojonegoro dan Jawa Timur pada umumnya. Hal ini menunjukan bahwa tarian ini masih eksis dan sangat dihargai dengan baik di tingkat daerah ataupun di tingkat nasional. Tarian ini memiliki nilai-nilai budaya dan kearifan local melalui unsur gerakan dan melalui kostum yang khas, tarian ini menggambarkan keunikan budaya setempat dan sikap menghormati warisan leluhur.
Kata kunci: Eksistensi, Tari Thengul, Seniman
Abstract: Bojonegoro has a variety of cultures that are a source of pride for the region, especially in the field of traditional arts and culture. However, in recent times, there has been a decline in interest in cultural and artistic activities, leading to the extinction of certain cultural practices like the Thengul Dance. To revive the Thengul Dance, adjustments have been made to adapt to the modern era. The creation of the Thengul Dance originated from the endangered Wayang Thengul tradition. Artists in Bojonegoro, such as Joko Santoso and Ibnu Sutowo, took the initiative to preserve the Wayang art form by transforming its elements into a dance performance. The Thengul Dance is not only used as a learning tool for extracurricular dance activities in schools but also serves as a means to introduce local cultural wisdom and values. Apart from being part of extracurricular activities, the Thengul Dance is featured in government-organized performances in Bojonegoro and is considered an iconic welcoming dance for visitors to the region. Despite the challenges posed by globalization, the Thengul Dance remains an integral part of the local culture and a symbol of Bojonegoro and East Java as a whole. This demonstrates the enduring significance and appreciation of this dance at both the regional and national levels. The dance embodies cultural values and local wisdom through its unique movements and distinctive costumes, portraying the local cultural heritage and a deep respect for ancestral traditions.
Keywords: Existence, Thengul Dance, Artis
Kacapi Jeletot sebagai Manifestasi Kreativitas Seniman Karawang
Sundanese Kacapi is a functional instrument and can be independent, because it can accompany songs, control rhythmically, as well as create a melody in the song. Sundanese Kacapi is divided into three models namely; kacapi kawih, kacapi tembang, and kacapi celempung. However, apart from these three models, there is one model that is quite eccentric because the kacapi instrument used functions as a substitute for Sundanese drums with the Jaipongan genre. The kacapi presentation model is the creativity of an artist from Karawang, Ali Gombel, who is a kacapi celempungan artist. Until now, Ali Gombel\u27s creativity has been able to survive and become a separate color from other kacapi presentation models. But basically kacapi jeletot is a typical art of Karawang Regency, West Java, and has become one of the identities of Karawang Regency in the performing arts sector. This research refers to the existence of kacapi jeletot which is one of the identities in the performing arts sector in Karawang Regency. This research uses the Miles and Huberman qualitative method using Rahayu Supanggah\u27s garap theory and James P Burke\u27s identity theory. The result of this research is that it can record the history of the art of kacapi jeletot from the start of its function, position, and the period of its spread in Karawang Regency as a form of cultural wealth in the performing arts sector. In addition, this research also transfers the creativity or kacapi work produced by Ali Gombel which was passed down to Toin Paser, because it can color the repertoire of kacapi accompaniment models by producing different kacapi accompaniment patterns as usual. This research can be a reference for artists in presenting kacapi instruments, and is expected to be one of the academic foundations for art research, especially Sundanese art.Kacapi Sunda merupakan instrument yang fungsional dan dapat bersifat independent, karena dapat mengiringi lagu, mengontrol ritmis, sekaligus membuat suatu melodi pada lagu. Kacapi Sunda terbagi menjadi tiga model yaitu; kacapi kawih, kacapi tembang, dan kacapi celempung. Namun selain dari tiga model tersebut ada salah satu model yang cukup nyentrik karena instrument kacapi yang digunakan berfungsi sebagai pengganti kendang Sunda dengan genre Jaipongan. Model penyajin kacapi tersebut merupakan suatu kreativitas dari sosok seniman yang berasal dari Karawang yaitu; Ali Gombel yang merupakan seniman kacapi celempungan. Sampai saat ini kreativitas dari Ali Gombel tersebut mampu bertahan dan menjadi suatu warna tersendiri dari model penyajian kacapi lain. Namun pada dasarnya kacapi jeletot merupakan kesenian khas Kabupaten Karawang Jawa Barat, dan menjadi salah satu identitas Kabupaten Karawang dalam sektor seni pertunjukan. Penelitian ini merujuk pada eksistensi kacapi jeletot yang merupakan salah satu identitas dalam sektor seni pertunjukan di Kabupaten Karawang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif Miles dan Huberman dengan menggunakan teori garap Rahayu Supanggah dan teori identitas James P Burke. Hasil dari penelitian ini yaitu dapat mencatat sejarah seni kacapi jeletot dari mulai fungsi, kedudukan, dan masa penyebarannya di Kabupaten Karawang sebagai bentuk kekayaan budaya dalam sektor seni pertunjukan. Selain itu, penelitian ini juga mentrsancribe kreativitas atau garap kacapi yang dihasilkan Ali Gombel yang diturunkan pada Toin Paser, karena dapat mewarnai khasanah model iringan kacapi dengan menghasilkan pola-pola iringan kacapi yang berbeda seperti biasanya. Penelitian ini dapat menjadi salah satu referensi para seniman dalam menyajikan instrument kacapi, dan diharapkan menjadi salah satu landasan akademis bagi penelitian seni khususnya seni Sunda.
Kata Kunci : Kacapi Jeletot, Kebudayaan, Garap, Ali Gombel, Karawan
PERUBAHAN EKSISTENSI RUMAH TRADISIONAL DI KAMPUNG KEPUTIHAN, KABUPATEN CIREBON
Rumah tradisional hadir dari daya, cipta, karsa manusia dalam menyikapi lingkungan tempat mereka berada. Kelebihan dari rumah tradisional ini umumnya dibangun sebagai tempat berteduh dengan menyesuaikan diri berdasarkan pada kebutuhan, iklim, letak geogradis, ketersediaan bahan yang ada di lingkungannya, ramah lingkungan, menyesuaikan dengan kondisi lahan (Khamdevi, 2023, p. 492). Di beberapa kampung adat masih menjaga kondisi rumah-rumahnya dengan aturan dan adat istiadat yang berlaku. Umumnya bentuk rumah tersebut terjaga karena pola pembangunan yang dilakukan secara turun temurun dengan aturan, kebiasaan, tata cara serta teknik dan ketentuan yang bersifat adat istiadat. Namun ada juga yang bergeser eksistensi keberadaan rumah tradisional dari bentuk-bentuk baku dengan dilatar belakangi banyak hal. Beberapa kampung menyisakan satu bentuk yang dijaga keasliannya dan menjadi rumah utama dari kampung bahkan dijadikan cagar budaya oleh pemerintah, sebut saja seperti rumah di Cikondang, Kampung Pulo dan mungkin di beberapa daerah lainnya. Namun ada juga kampung adat yang beranjak memudar seiring dengan hilangnya kebiasaan adat istidat di daerah tersebut
Desain Karakter Webtoon Legenda Candi Pari Sebagai Upaya Pengenalan Candi Kepada Remaja Usia 18-25 Tahun
Candi merupakan monumen bersejarah warisan nenek moyang yang mampu menjadi saksi bisu masa lampau. Candi menjadi objek wisata budaya dan bahkan beberapa diantaranya menjadi warisan budaya dunia, salah satunya adalah Candi Pari. Keberadaan candi dalam masyarakat luas terutama remaja semakin menurun dari waktu ke waktu. Perancangan desain karakter webtoon legenda Candi Pari ini bertujuan untuk membantu menumbuhkan rasa cinta budaya remaja terhadap cagar budaya candi dan asal usul yang ada dibaliknya. Karena perkembangan zaman dan internet yang sangat pesat pada revolusi industri 4.0, pengenalan candi akan lebih mudah dipahami oleh remaja apabila berbentuk visual yang menarik. Metode penelitian yang dipakai dalam perancangan ini adalah metode penelitian kualitatif dan kuantitatif. Metode pengumpulan data yang dilakukan adalah wawancara, kuesioner, observasi dan studi literatur. Hasil akhir yang akan didapatkan melalui perancangan ini adalah berupa webtoon yang akan diunggah di platform LINE Webtoon dengan tujuan agar dapat diakses oleh target audiens secara bebas dan mudah.Candi merupakan monumen bersejarah warisan nenek moyang yang mampu menjadi saksi bisu masa lampau, menjadi objek wisata budaya dan bahkan beberapa diantaranya menjadi warisan budaya dunia, salah satunya adalah Candi Pari. Keberadaan candi dalam masyarakat luas terutama remaja semakin menurun dari waktu ke waktu. Perancangan desain karakter webtoon legenda Candi Pari ini bertujuan untuk membantu menumbuhkan rasa cinta budaya remaja terhadap cagar budaya candi dan asal usul yang ada dibaliknya. Karena perkembangan zaman dan internet yang sangat pesat pada revolusi industri 4.0, pengenalan candi akan lebih mudah dipahami oleh remaja apabila berbentuk visual yang menarik. Metode penelitian yang dipakai dalam perancangan ini adalah metode penelitian kualitatif dan kuantitatif. Metode pengumpulan data yang dilakukan adalah wawancara, kuesioner, observasi dan studi literatur. Hasil akhir yang akan didapatkan melalui perancangan ini adalah berupa webtoon yang akan diupload di platform LINE Webtoon dengan tujuan agar dapat di akses target audiens secara bebas dan mudah