E-Jurnal ISBI Bandung (Institut Seni Budaya Indonesia)
Not a member yet
1925 research outputs found
Sort by
TARI JAIPONGAN KAWUNG ANTEN: REPRESENTASI NILAI BUDAYA DALAM CERITA RAKYAT
Kawung Anten Dance is one of the Jaipongan dances created by Gugum Gumbira, inspired by aWest Javanese folklore figure, Nyimas Kawung Anten. The background of this research lies in theimportance of understanding traditional dance not merely as a performing art, but also as a mediumfor transmitting cultural values and local knowledge. However, along with the development of moderntimes and globalization, people’s understanding of the symbolic meanings and local wisdomembedded in this dance has diminished. This study aims to describe the symbolic meanings ofKawung Anten Dance movements and to reveal their relation to the cultural values contained infolklore. The research employed a qualitative method with an ethnographic approach, supported byStuart Hall’s theory of representation, which includes reflective, intentional, and constructionistperspectives. Data were collected through observations, performances, interviews with artists andcultural figures, as well as relevant literature studies. The findings show that the movements inKawung Anten Dance represent values of struggle, resilience, beauty, and Sundanese identity. Thissymbolism aligns with the moral messages embedded in folklore, making Kawung Anten Dance amedium of cultural education. Thus, this dance plays a vital role in strengthening local knowledgeand preserving Sundanese cultural heritage.Keywords: Jaipongan Dance, Kawung Anten, Cultural Representation, Folklore
TUBUH UBAN: REPRESENTASI DARI PROSES PENCIPTAAN PERTUNJUKAN MELALUI IDENTITAS TUBUH AKTOR YANG MENUA
Penelitian ini bermaksud untuk memahami temuan terkait isu Aging Body atau tubuh yang menua padaseorang aktor. Tubuh yang menua tersebut memiliki konsep estetika bernilai historis, karena berisipengetahuan yang tidak terpisahkan dari proses pertunjukan, baik saat memerankan tokoh maupunsaat menyutradarai pertunjukan. Metode yang digunakan yaitu Deskriptif-analisis dengan membacaobjek penelitian melalui semiotika. Penelitian ini menggunakan kerangka berpikir teori alienasi danidentitas yang dipetakan untuk menganalisis objek. Temuan dari masalah penelitian yangmenempatkan Eka Gandara serta Yoyo C. Durachman sebagai objek kemudian menyatakan masalahpenting dari penempatan seorang aktor yang merepresentasikan zamannya, karena berkaitan denganfisik maka seorang aktor perlahan teralienasi dalam memainkan sebuah peran. Identitas tersebut dibacasebagai modal keaktoran dan bukan sebagai pusat pengetahuan serta sejarah proses pembentukanseorang aktor. Temuan tersebut kemudian merepresentasikan kedua tokoh tidak hanya mengalamitransformasi identitas internal, tetapi juga memengaruhi orang lain melalui pengalaman estetik danhistoris yang membentuk identitas aktor.Kata Kunci: Teater, Identitas, Alienasi, Semiotik
Bubat War in Gajah Mada Novel Series by Langit Kresna Hariadi
A historical novel can act as a reinforcement of mainstream interpretation or it can reject discourse. The novel Gajah Mada Sanga Turangga Paksowani related to the Bubat War in 1357 which killed all entourages from the Galuh Pasundan by the Majapahit is an affirmation of mainstream discourse. Even so, this novel also has a counter discourse aspect in it. The counter\u27s aspect in history was in the form of telling about the battle of the Galuh group over Majapahit in Bubat square led by Diah Pitaloka herself. In addition, the daughter of king Pasundan was also described as having a special man before leaving for Majapahit to be married to King Hayam Wuruk. In this novel by Langit Kresna Hariadi, Gajah Mada is blamed for the Bubat War. This historical novel by Langit Kresna Hariadi, is still considered a literary work that confirms the dominant version of the story.
Keywords: Indonesian novel; Bubat War; Gajah Mada; Majapahit; new-historicis
Multicultural Visual Communication in Yogyakarta Palace Building, Case Study of Padma Ornament
Cultural diversity in Indonesia has occurred since the founding of the Majapahit Kingdom. Ornaments are a form of Indonesian cultural diversity which is a cultural heritage. The existence of ornaments on parts of the Yogyakarta Palace building proves the period of cultural acculturation. Padma ornaments contain philosophical content resulting from acculturation to local culture and the influence of Hindu-Buddhist culture. Padma ornaments can be found in traditional Javanese buildings as decorative elements. This research explains one of the cultural products that was formed due to cultural influences that entered Indonesia. Descriptive qualitative methods are used to describe padma ornaments in historical and philosophical stories. The results of the analysis of the padma ornament concluded that the basic shape was taken from the red lotus flower which has meaning based on its physical appearance. The benefit of research is to increase knowledge regarding the value contained in padma ornaments as works of art created from the acculturation process of local Javanese culture and Hindu-Buddhist culture.
Keywords: Multicultural; Ornament; Padm
PENGEMBANGAN KEBUDAYAAN MELALUI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI DESA CIPEUNDEUY KECAMATAN PADALARANG KABUPATEN BANDUNG BARAT
Cipeundeuy adalah salah satu desa yang terdapat di KecamatanPadalarang, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat. Desa inimemiliki lokasi yang cukup strategis secara geografis, sehingga memilikiakses yang relatif mudah ke berbagai pusat aktivitas kecamatan.Berbatasan langsung dengan dua kecamatan, yaitu KecamatanNgamprah (Desa Cimareme) di bagian timur dan Kecamatan Saguling(Desa Bojonghaleuang) di bagian barat, serta dua desa lain di kecamatanyang sama yaitu Desa Kertajaya di utara dan Desa Cimerang di selatan
PEMAJUAN KEBUDAYAAN DI DESA CITATAH KECAMATAN CIPATAT KABUPATEN BANDUNG BARAT
Potensi seni dan budaya Desa Citatah cukup beragam. Dimulai dariRW 09 yang terkenal dengan calung dan kesenian Lais, lalu di RW 12,RW 16 dan (RW 08 terdapat sanggar yang menaungi olah raga pencaksilat. RW 09 dan 13 terdapat dua sanggar jaipongan, di RW 04 terdapatanak-anak yang berpotensi di bidang seni tari tradisional dan modern,kesenian degung di RW 13, seni terbangan dan qasidah di RW 07, seniRahengan di RW 19, dan masih banyak lagi yang lainnya. Berikut iniadalah hasil inventarisasi terhadap objek pemajuan kebudayaan diDesa Citatah.Kesenian Calung di Desa Citatah ini sudah mulai jarangdipertontonkan, bahkan nyaris hilang. Selain disebabkan olehketerbatasan instrumennya, yakni sudah rusak dan tidak dapat lagidipergunakan, disebabkan pula oleh keberadaan seniman pemainnyayang sudah mulai jarang dijumpai. Berdasarkan keterangan BapakAgus (Kadus 04), “kesenian tersebut sudah mulai menghilang,dikarenakan senimanya pun sudah beralih mata pencaharian, adapula yang sudah meninggal, selain itu alat musiknya pun sudah tidakada. Bila suatu waktu memerlukan alat musik tersebut, maka biasanyaharus menyewa ke daerah lain.” Bedasarkan keterangan tersebut,maka dapat dikatakan bahwa masalah lain yang menjadi alasan tidakberkembangnya kesenian ini adalah faktor rengenerasi. Tidak adanyaupaya regenerasi membuat keberlangsungan kesenian ini tergantungpada beberapa orang saja, dan ketika salah satu atau beberapa diantaranya fakum, maka kesenian terebut pun akan meredup
STRATEGI PENGEMBANGAN SENI BUDAYA MELALUI INVENTARISASI OBJEK PEMAJUAN KEBUDAYAAN DI DESA GUNUNG MASIGIT
Penelitian dan inventarisasi Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK)di Desa Gunungmasigit Kecamatan Cipatat Kabupaten Bandung BaratBarat Barat, dimaksudkan untuk memetakan kekayaan OPK yangdimiliki Desa Gunungmasigit. Desa Gunungmasigit Kecamatan CipatatKabupaten Bandung Barat Barat merupakan daerah yang kaya akanbudaya yang masih tetap ada sampaisaat ini. Hal ini terkait denganregulasi khusustentang kebudayaan, yakni Undang Undang Nomor5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Keberadaan undangundangtersebut menjadikan pembangunan kebudayaan di Indonesiamemiliki arah yang jelas. Secara substansial, Undang-Undang Nomor5 Tahun 2017 memberikan perhatian pada sepuluh OPK, yakni tradisilisan, manuskrip, adat istiadat, ritus, pengetahuan tradisional, teknologitradisional, seni, bahasa, permainan rakyat, dan olah raga tradisional.Di luar kesepuluh OPK terdapat satu OPK lain yang juga menjadi fokuspembangunan, yakni cagar budaya. Revitalisasi cagar budaya tidakhanya dilakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, tetapijuga dilakukan oleh kementerian lainnya. Selain itu, revitalisasi jugadapat dilakukan oleh masyarakat dan hukum adat, swasta, komunitas,serta lembaga swasta (Beni et al., 2021)
PENCIPTAAN READY TO WEAR DULUXE HIJAB CHIC STYLE INSPIRASI MOTIF BATIK CIREBON SINGABARONG BERGAYA FLATDESIGN
Ready to wear atau disebut juga dengan siap pakai merupakan produk fashion yang diproduksi dalam jumlah yang banyak, dengan ukuran standar dan berkualitas tinggi. Beragam independen desainer hingga luxury super brand merancang koleksi ready to wear sesuai dengan konsep yang mereka punya. Walaupun diproduksi dalam jumlah yang banyak, para desainer tetap mempertahankan keeksklusivitasan koleksinya. Sedangkan dari segi harga, ready to wear lebih terjangkau dibandingkan dengan haute couture. Produk busana ready to wear dapat dengan mudah ditemukan oleh konsumen pada pasar umum dengan produksi secara masal serta ukuran yang telah terstandar. Keunggulan busan ready to wear bagi para konsumen antara lain memiliki gaya yang modis serta konsep fungsional baik juga terdapat harga jual cukup terjangkau bagi konsumen (Waddle, 2004: 35-38. Terdapat jenis busana yang pembuatanya menggunakan material dan embellissment berkualitas tinggi juga membutuhkan tingkat ketrampilan sangat baik dari para pengrajinnya yaitu ready to wear duluxe. Busan ini juga diproduksi secara masal tetapi dengan jumlah yang masih terbatas dan tekesan cukup eksklusif setingkat diatas dari produk ready to wear. Ready to wear duluxe tersedia dipasar dengan ukuran layaknya produk busana masal juga yaitu S, M, L, XL. Perusahaan yang memproduksi busana ready to wear duluxe umumnya juga membuat pakaian houte couture. Jenis busana ini juga dilengkapi dengan rekayasa bahan serta komponen-komponen terbilang cukup eksklusif yang jarang ditemui pada pasar (Atkinson, 2012: 40-52). ). Pergantian tren busana dimasyarakat semakin lebih cepat dengan bantuan teknologi canggih terkini sehingga memerlukan berbagai inovasi dan kreatifitas para perancang agar bia memenuhi kebutuhan mode pakaian bagi konsumen (Marlianti & Hadi, 2023: 58)
FESTIVAL SENI, IDENTITAS BUDAYA, DAN CITY BRANDING: UPAYA PENINGKATAN EKONOMI DAN PARIWISATA BERBASIS BUDAYA LOKAL DI KOTA BANDUNG
Bandung mempunyai posisi penting sebagai ibu kota Jawa Barat dan sebagai kota penyangga Jakarta sebagai ibu kota Indonesia. Didominasi oleh budaya urban, Bandung mempunyai ciri khas sebagai kota kreatif. Modernitas dan tradisi telah terjalin secara intensif di kota ini sehingga menjadikannya tempat yang menarik untuk menegosiasikan identitas budaya. Bandung mempunyai sejarah panjang sebagai pusat kreativitas dan seni. Kota ini memiliki ekspresi seni modern yang kaya dan sekaligus budaya tradisional yang masih terjaga. Sebagai kota seni dan budaya, Bandung telah lama dikenal dengan artis dan musisi ternama, mulai dari musik indie hingga outlet fashion independen yang berkembang sejak tahun 1970-an. Pada tahun 2008, Ridwan Kamil saat menjabat Walikota Bandung membentuk Bandung Creative City Forum untuk mendukung industri kreatif. Upayanya untuk mewujudkan Bandung sebagai “kota kreatif” dilakukan melalui beberapa festival kreatif. Selain itu, sejak tahun 2015, Bandung juga telah menjadi bagian dari UNESCO Creative Cities Network (Kim, 2017).Kegiatan seni budaya di Bandung tercatat sejak R.A.A. Wiranatakusumah V pada tahun 1920-an saat menjabat sebagai Walikota Bandung, disusul oleh Koko Koswara (Mang Koko), Daeng Sutigna, Udjo Ngalagena, dan generasi berikutnya adalah Keluarga Bimbo yang terdiri dari Sam, Jaka, Acil dan Iin Parlina, Hary Roesli, Dwiki Darmawan, Elfa\u27s, Purwacaraka, Indra Lesmana, Gilang Ramadan, dan lain sebagainya yang sebagian besar mengawali karir bermusiknya di Bandung. Tak hanya di bidang musik, beberapa seniman ternama pun lahir dan tinggal di kota ini, antara lain Rahman Sabur (Teater Payung Hitam), Iman Soleh (Celah-celah Langit), dari seni rupa ada Sunaryo bersama Selasar Sunaryonya, Tisna Sanjaya, dan Nyoman Nuarta juga membuka bengkel instalasi patungnya di kota tersebut. Sedangkan untuk tari, Raden Tjetje Soemantri, Enoch Atmadibrata, Tati Saleh, Gugum Gumbira, Irawati Durban Ardjo, Indrawati Lukman, serta generasi sekarang Mas Nanu Muda, Alfiyanto, Lena Guslina, Mira Tedjaningrum, Oos Koswara dan masih banyak lagi (Wawancara Deden Buleng, 2023)
RAGAM ANGKLUNG TOEL SEBAGAI MEDIA PENDIDIKAN MUSIK BAMBU
Pada tanggal 16 November 2010, angklung diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan (Intangible Cultural Heritage of Humanity). Pengakuan ini menegaskan bahwa angklung bukan hanya sekedar alat musik, tetapi juga warisan budaya yang penting karena mengandung nilai-nilai identitas, pendidikan, dan kolaborasi antarbudaya. Pengakuan dari UNESCO tersebut menjadi motivasi untuk melestarikan angklung di kalangan generasi muda. Angklung harus terus dilestarikan agar tetap terjaga kehadirannya dan eksis, karena angklung merupakan warisan budaya dan juga menjadi alat musik kebanggaan Indonesia. Angklung merupakan alat musik tradisional dari Indonesia yang terbuat dari bambu, yang dimainkan dengan cara digoyangkan. Alat musik ini dibunyikan dengan cara digoyangkan sehingga menghasilkan bunyi (Hudaepah, 2020). Bahan dasar bambu ini tentunya mudah didapatkan di Indonesia. Hasil bumi yang tumbuh subur dan tidak susah ditemukan di negara Indonesia yaitu bambu (Christiana & Gumilar, 2022). Setiap angklung menghasilkan satu nada tertentu, sehingga untuk memainkan melodi, diperlukan beberapa angklung dengan nada berbeda. Angklung terutama berasal dari Sunda, dan telah menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat Sunda sejak ratusan tahun yang lalu