E-Jurnal ISBI Bandung (Institut Seni Budaya Indonesia)
Not a member yet
1925 research outputs found
Sort by
Desain Motif Kontemporer Inspirasi Candi Jiwa Kabupaten Karawang dalam Produk Aksesori Fashion
Indonesian cultural heritage is an inexhaustible source of inspiration for the creative industries, including fashion. However, many potential historical sites haven’t been fully explored. One such example is the Batujaya Temple complex in Karawang, specifically Candi Jiwa. Candi Jiwa, believed to be a relic from the pre-Tarumanegara kingdom era, has unique architectural characteristics: a minimalist brick structure with a lotus flower-shaped layout, which sets it apart from other temples in Java that are typically made of andesite stone with intricate reliefs. This research on contemporary motif design aims to (1) Identify the visual and philosophical elements of Candi Jiwa’s architecture; (2) Stylize the architectural forms of Candi Jiwa into a motif design; and (3) Apply the resulting contemporary motifs to fashion accessory products. The design methods used include a literature study, visual observation, sketch exploration, form stylization, digitalization, and product mock-up creation. The result of this design process is a series of primary and derivative motifs inspired by the layout, structure, and texture of Candi Jiwa. These motifs were then digitally applied as mock-ups on accessory products such as scarves, vests, hijabs, and tote bags. This design project demonstrates that the simplicity and uniqueness of Candi Jiwa’s form have great potential to be translated into modern, ethnic motif designs with a strong narrative value.Indonesian cultural heritage is an inexhaustible source of inspiration for the creative industries, including fashion. However, many potential historical sites haven’t been fully explored. One such example is the Batujaya Temple complex in Karawang, specifically Candi Jiwa. Candi Jiwa, believed to be a relic from the pre-Tarumanegara kingdom era, has unique architectural characteristics: a minimalist brick structure with a lotus flower-shaped layout, which sets it apart from other temples in Java that are typically made of andesite stone with intricate reliefs. This research on contemporary motif design aims to (1) Identify the visual and philosophical elements of Candi Jiwa’s architecture; (2) Stylize the architectural forms of Candi Jiwa into a motif design; and (3) Apply the resulting contemporary motifs to fashion accessory products. The design methods used include a literature study, visual observation, sketch exploration, form stylization, digitalization, and product mock-up creation. The result of this design process is a series of primary and derivative motifs inspired by the layout, structure, and texture of Candi Jiwa. These motifs were then digitally applied as mock-ups on accessory products such as scarves, vests, hijabs, and tote bags. This design project demonstrates that the simplicity and uniqueness of Candi Jiwa’s form have great potential to be translated into modern, ethnic motif designs with a strong narrative value
EKSISTENSI KEBAYA MODERN DALAM IDENTITAS BUDAYA PEREMPUAN JAWA GEN Z DI ERA KONTEMPORER
Abstrak: Penelitian ini mengkaji tentang eksistensi kebaya modern dalam identitas budaya perempuan Jawa yang mengalami transformasi di era generasi Z dan era kontemporer saat ini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui survei berupa kuisioner. Objek kajian dalam penelitian ini yaitu eksistensi kebaya modern dalam identitas budaya perempuan Jawa. Subjek penelitiannya yaitu perempuan Jawa generasi Z. Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa pada era kontemporer saat ini, perkembangan budaya semakin pesat, sehingga melahirkan berbagai model kebaya baru yang lebih modern. Kebaya ini yang kemudian dijadikan sebagai inovasi yang sangat populer di kalangan generasi Z saat ini, khususnya pada perempuan Jawa. Mereka menjadikan kebaya modern sebagai alat untuk mengekspresikan dirinya dengan bebas sebagai identitas perempuan di Jawa tanpa harus menghilangkan makna dan filosofi budaya yang sudah melekat di dalamnya. Kata kunci: Eksistensi, Kebaya, Gen Z, Kontemporer Abstract: This research aims to the existence of modern kebaya in the cultural identity of Javanese women who have undergone transformation in the era of generation Z and the current contemporary era. The method is a qualitative descriptive method with data collection techniques through a survey in the form of a questionnaire. The object of this research is the existence of modern kebaya in the cultural identity of Javanese women, and the subjects are Javanese women of generation Z. The results show that in the current contemporary era, cultural development is increasingly rapid, thus giving birth to various new, more modern kebaya models. This kebaya then became a very popular innovation among Generation Z today, especially among Javanese women. They use modern kebaya as a tool to freely express themselves as a Javanese woman\u27s identity without having to eliminate the meaning and cultural philosophy that is inherent in it. Keywords: Existence, Kebaya, Gen Z, Contemporar
PERSEPSI PENONTON TERHADAP COSPLAYER PADA EVENT COSPLAY DI KOTA KENDARI
Abstrak: Di era globalisasi dan kemajuan teknologi, budaya populer Jepang seperti anime, manga, dan cosplay dengan cepat menyebar ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Hal ini memicu tumbuhnya komunitas penggemar di Kota Kendari yang aktif menggelar event cosplay sejak 2012. Cosplay menjadi media ekspresi diri, kreativitas, dan identitas sosial, namun memunculkan beragam persepsi di masyarakat, dari yang menganggapnya seni hingga yang melihatnya aneh. Setelah pandemi, aktivitas cosplay kembali marak dan menarik perhatian publik. Oleh karena itu, penting untuk mengkaji persepsi penonton terhadap cosplayer serta faktor yang memengaruhinya, mengingat hal ini dapat memengaruhi penerimaan subkultur tersebut di masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan persepsi penonton terhadap cosplayer pada event cosplay di Kota Kendari serta faktor-faktor yang memengaruhinya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif etnografi dengan teknik observasi partisipatif dan wawancara mendalam terhadap delapan informan yang terdiri dari anggota komunitas cosplay, penonton, dan panitia event. Data dianalisis dengan menggunakan teori Interaksionisme Simbolik oleh George Herbert Mead (1934) melalui tahap kategorisasi fenomena, pelabelan kategori, hingga penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan adanya pergeseran persepsi masyarakat dari yang awalnya menganggap cosplay aneh menjadi lebih positif seiring meningkatnya intensitas event cosplay dan interaksi langsung antara cosplayer dan penonton. Kini cosplay dipandang tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai seni, kreativitas, dan ekspresi identitas yang diterima dalam masyarakat Kota Kendari. Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa cosplay di Kota Kendari kini semakin diterima sebagai bagian dari seni, kreativitas, dan ekspresi identitas, seiring meningkatnya pemahaman dan interaksi masyarakat dengan para cosplayer. Oleh karena itu, disarankan agar event cosplay terus difasilitasi dan melibatkan berbagai elemen masyarakat guna memperkuat penerimaan sosial, sekaligus mengedukasi publik tentang nilai positif di balik budaya populer ini. Kata kunci: cosplay, persepsi penonton, budaya popular, anime, manga Abstract: In the era of globalization and technological advancement, Japanese popular culture such as anime, manga, and cosplay has quickly spread to various countries, including Indonesia. This has sparked the growth of a fan community in Kendari City, which has been actively holding cosplay events since 2012. Cosplay has become a medium for self-expression, creativity, and social identity, but it has also given rise to various perceptions in society, from those who consider it art to those who see it as strange. Following the pandemic, cosplay activities have resurfaced and gained public attention. Therefore, it is important to examine audience perceptions of cosplayers and the factors influencing them, as this can impact the acceptance of this subculture in society. This study aims to identify and describe audience perceptions of cosplayers at cosplay events in Kendari City, as well as the factors influencing these perceptions. This study employs a qualitative ethnographic method using participatory observation and in-depth interviews with eight informants consisting of cosplay community members, spectators, and event organizers. Data were analyzed using George Herbert Mead\u27s (1934) Symbolic Interactionism theory through the stages of phenomenon categorization, category labeling, and conclusion drawing. The results of the study indicate a shift in public perception from initially viewing cosplay as strange to a more positive outlook as the intensity of cosplay events increases and direct interaction between cosplayers and spectators grows. Today, cosplay is not only seen as entertainment but also as art, creativity, and a form of identity expression accepted within the community of Kendari City. Based on this, it can be concluded that cosplay in Kendari City is increasingly accepted as part of art, creativity, and identity expression, alongside growing public understanding and interaction with cosplayers. Therefore, it is recommended that cosplay events continue to be facilitated and involve various community elements to strengthen social acceptance while educating the public about the positive values behind this popular culture. Keywords: cosplay, audience perception, popular culture, anime, mang
EKSISTENSI BAHASA SUNDA DALAM KULTUR MASYARAKAT MULTIBAHASA
Penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa asing terus berkembang seiring perkembangan zaman.Perkembangan kedua bahasa ini berperangaruh terhadap eksistensi penggunaan bahasa daerah. BahasaSunda sebagai salah satu bahasa daerah dengan penutur terbanyak di Indonesia, tidak luput dari fenomenaini. Eksistensi bahasa Sunda terus melambat dan mengalami pergeseran dari masa ke masa. Salahsatunya berakibat pada semakin berkurangnya kosakata bahasa Sunda yang digunakan. Fenomena inibisa diamati dari penggunaan bahasa Sunda oleh pemakai aktif dalam kegiatan berbahasa. Saat ini,generasi yang aktif dalam perkembangan berbahasa adalah generasi milenial (1981–1996), generasiZ (1997–2012), dan generasi alpha (generasi yang lahir setelah generasi Z). Penggunaan bahasa Sundaoleh generasi mileal, dipengaruhi oleh perkembangan bahasa Indonesia yang jangkauannya sudahsangat meluas. Pada masa ini penggunaan bahasa Indonesia sudah merambah pada berbagai aspekkehidupan. Eksistensi bahasa Sunda semakin menyempit. Penggunaan bahasa daerah yang identik digunakandi daerah pun sudah mulai tergantikan dengan bahasa Indonesia. Banyak anak di generasi inikhususnya yang lahir di perkotaan, bahasa pertamanya (B-1) bukan lagi bahasa daerah, tetapi sudahbahasa Indonesia. Untuk generasi Z dan alpha, kedua generasi ini memegang peranan sangat pentingdalam perkembangan bahasa Indonesia dan bahasa asing. Pada masa ini, penggunaan bahasa daerahsudah bercampur dengan bahasa Indonesia dan bahasa asing. Fenomena berbahasa yang muncul digenerasi ini adalah terciptanya masyarakat yang multilingual
PENERAPAN AI SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN DESAIN INTERIOR DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN
Artificial Intelligence (AI) saat ini banyak digunakan dalam berbagai bidang, tidak terkecuali dalambidang pendidikan. Dalam konteks Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), kemampuan siswa untukaktif dalam menggunakan teknologi menjadi semakin relevan, karena lulusan SMK dituntut untuklangsung terjun ke dunia kerja yang dinamis dan kompetitif. Tulisan ini berfokus pada literaturmengenai penerapan AI dalam bidang pendidikan, serta media pembelajaran desain interiorberbasis digital yang adaptif pada sekolah kejuruan. Selain itu, tulisan ini juga membahas peranpelatihan desain berbasis AI di SMK sebagai bagian dari upaya menyiapkan siswa denganketerampilan praktik. Berdasarkan Pengalaman pelatihan yang telah dilakukan, penggunaan aplikasidigital cohoom berbasis AI sebagai media pembelajaran di SMK, dapat diterima dengan baik.Kata kunci: Artificial Intelligence, aplikasi desain, 3D modelling, Coohom, Pelatiha
JELAJAH KULINER KASUMEDANGAN BERBASIS TRADISI KELOKALAN DALAM BINGKAI SENI FOTOGRAFI DOKU
Tulisan ini merupakan deskripsi dari hasil penelusuran momen-momen kreatif darisejumlah jenis makanan tradisional yang khas dan unik di tatar budaya Sumedang(Kasumedangan) dalam bentuk riset dan dokumentasi fotografi. Penelitian dankekaryaan ini mengangkat lima kuliner khas Kasumedangan yaitu Tahu Sumedang,Hui Cilembu, Oncom Pasir Reungit, Sampeu Wedang dan Keremes Rancakalong.Deskripsi ini menggunakan metode deskriptif analisis dengan mengangkat isubudaya yang hadir dalam bentuk sajian karya fotografi. Penyajian karya fotografidoaumenter tersebut, tidak hanya sekedar menyuguhkan tampilan garmbar hasilkarya fotografi, melainkan menyajikan pula deskripsi kekaryaan yang memuataspek nilai, sejarah, fungsi dan maknanya. Melalui sajian bentuk-bnetuk kulinertersebut pada dasarnya merepresentasikan kekayaan ragam kearifan lokalberkaitan dengan aktivitas sosial dan ekonomi, sekaligus sebagai upayamelestarikan tradisi budaya masyarakat Sunda. Setiap kuliner menunjukkanadaptasi ekologis, kreativitas dalam pengolahan pangan, dan makna sosial yangberakar pada filosofi Sunda. Pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa kulinerKasumedangan tidak hanya terkait cita rasa kekhasanya saja, melainkan sebagaibentuk harmoni nilai budaya dengan nilai estetik sehingga berdampak terhadap nilaiekonomis berbasis tradisi setempat. Dengan dan tampilan estetiknya, tetapi jugaberfungsi sebagai identitas budaya suatu mayarakat.Kata Kunci: Kuliner Kasumedangan, fotografi documenter, Representasi Estetikkearifan lokal
UPACARA ADAT NGALAKSA DALAM PERSPEKTIF SEMIOTIKA SEJARAH KEBUDAYAAN
Upacara adat merupakan manifestasikultural yang merepresentasikan hubunganmanusia dengan alam, sejarah, dankomunitasnya melalui sistem simbolik yangkompleks. Sebagai bagian dari sistemkebudayaan, upacara adat tidak hanyaberfungsi sebagai bentuk ekspresi spiritualdan sosial, tetapi juga sebagai saranakomunikasi simbolik yang memediasi nilai,ingatan kolektif, dan ideologi yang hidupdalam suatu masyarakat (Geertz, 1973;Lotman, 1990). Dalam konteks masyarakatagraris Sunda, salah satu praktik budayayang bertahan dan tetap dijalankan hinggakini adalah upacara adat Ngalaksa, yangdiselenggarakan di KecamatanRancakalong, Kabupaten Sumedang, JawaBarat. Secara etimologis, “Ngalaksa”berasal dari kata “laksa”—sejenis buburberas—yang diproduksi dan dibagikanselama acara berlangsung, sebagai simbolkesuburan dan keberlimpahan panen saatitu, serta wujud penghormatan kepada DewiSri (Nyi Pohaci Sanghyang Sri) dan leluhur(Yulaeliah, 2006; Kesuma, 2016). Secaraharfiah, ngalaksa berarti “membuat laksa”—bubur dari tepung beras—yang dipercayaimenggambarkan harapan akan hasil panenyang melimpah
PROBLEMATIKA ASET KULTURAL SENI PERTUNJUKAN WARISAN KARATON SUMEDANG LARANG: PROSPEK DAN ALTERNATIF PENGEMBANGANNYA
Kabupaten Sumedang merupakan salah satu wilayah di Jawa Barat yang telah mendeklarasikanwilayahnya sebagai Puseur Budaya Sunda, karena dinilai memiliki 1aset kultural Sunda yang cukupberagam, termasuk di antaranya memiliki khasanah seni pertunjukan tradisional, seperti tari, musikbambu, gamelan, dan wayang. Bagi masyarakat Sumedang, 1aset budaya tersebut telah menjadibagian integral dari kehidupan 1sosial dan budaya masyarakatnya. Namun, kondisi 1aset kulturaltradisional yang dapat dijadikan ikon khas Sumedang ini menghadapi tantangan besar. Selainkurangnya minat generasi muda untuk mempelajari seni tradisional, juga disinyalir telah telah“tertutup” keorisinalitasan identitas seni pertunjukannya, karena disinyalir sudah mengalamiakulturasi kuat dengan budaya Mataram. Pengaruh budaya Mataram seolah telah menutupiorisinalitas seni pertunjukan identitas budaya lokalnya. Tanpa upaya pelestarian, seni pertunjukankhas Sumedang Larang berisiko hilang, terlupakan, mengikis identitas budaya asli, dan mengurangikeberagaman khasanah seninya yang sarat akan nilai luhur budaya Sunda. Penelitian ini bertujuanuntuk mengidentifikasi potensi kekhasan 1aset kultural seni pertunjukan Keraton Sumedang Larangdengan mengeksplorasi peran Museum Geusan Ulun yang pengelolanya merupakan pewariskerajaan Sumedang Larang. Penelitian ini juga mencoba merumuskan strategi untuk melestarikanserta mengembangkan seni pertunjukan kekhasannya agar tetap relevan di era modern. Penelitianini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-interpretatif, yang meliputi studiliteratur, observasi partisipatif, dan wawancara mendalam dengan para narasumber yangberkompeten. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa meskipun terdapat berbagai tantangan, terdapatpeluang besar untuk melestarikan dan mengembangkan potensi seni pertunjukannya melaluiberbagai 1upaya, di antaranya merekonstruksi karya seni berdasarkan terminologi penamaan1gerak-gerak tari, gending-gending yang masih disajikan, serta dengan memberdayakan komunitaslokal yang dapat membantu melestarikan dan mempopulerkannya di kalangan generasi muda.
Kata Kunci: Sumedang Larang, Aset kultural, Warisan Budaya, Seni Pertunjukan, Sund
ARSITEKTUR MULTIKAMPUS SEBAGAI REPRESENTASI KONSEP PENGEMBANGAN KAMPUS ISBI DI RANCAKALONG, KAB. SUMEDANG
Pengembangan kampus seni budaya di Indonesia perlu mempertimbangkan aspek lokalitas dankearifan budaya dalam perancangan arsitekturnya. ISBI Bandung sebagai institusi pendidikan tinggiseni budaya memiliki visi untuk memperluas wilayah akademiknya ke Rancakalong, Sumedang,sebagai kawasan pengembangan multikampus. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsepperancangan kampus berbasis budaya Sunda melalui pendekatan arsitektur multikampus, yangmerepresentasikan visi dan nilai-nilai seni budaya lokal. Metode yang digunakan adalah deskriptifkualitatif dengan analisis 5W+1H terhadap konteks tapak, nilai budaya, dan kebutuhan fungsikampus. Hasil kajian menunjukkan bahwa konsep arsitektur multikampus di Rancakalong dapatdiwujudkan melalui strategi spasial yang mengintegrasikan nilai budaya Sunda, hubungan manusia–alam, serta pola kegiatan pendidikan dan masyarakat. Arsitektur kampus diharapkan menjadi mediarepresentasi identitas ISBI sebagai lembaga pelestari budaya sekaligus katalis pengembanganwilayah berbasis seni dan pendidikan.Kata kunci: arsitektur multikampus, budaya sunda, ISBI, Rancakalong, desain kontekstua
REVITALISASI SENI SUNDA DI SDN CIBADAK 03 KABUPATEN BANDUNG
Seni merupakan buah dari gagasan kreatif yang dituangkan dalam bentuk suara, bunyi, gerak,ukiran, lukisan, sastra, lakon dan ekspresi lainnya yang mengandung nilai keindahan, pemantik rasakagum, atau senang orang yang melihat, mendengar, menyuarakan, meraba atau mempraktikkan.Kreatifitas para seniman Sunda di masa lampau menghasilkan banyak kesenian yang tumbuh danberkembang, dan menjadi identitas masyarakat Sunda hingga saat ini. Kesenian tersebut diantaranya adalah kesenian kiliningan, jaipongan, degung, wayang golek, sisingaan, ragam senisuara, dan lain sebagainya. Pengenalan dan pelestariannya dapat melalui lembaga pendidikan mulaidari tingkat SD hingga Perguruan Tinggi. SDN Cibadak 03 termasuk sekolah yang pernah berupayamelestarikan seni Sunda, dengan memperkenalkan kesenian degung, pupuh, dongeng dan senilainnya, namun sejak tahun 2022 pelestarian kesenian tersebut mengalami kevakuman. Melaluikegiatan pengabdian ini, pelaksana PKM dari ISBI Bandung yang berkerjasama dengan pihaksekolah, berupaya merevitalisasi seni Sunda melalui metode pelatihan, guna meningkatkankompetensi seni para guru dan siswa, dan membentuk tim seni sekolah yang mandiri danberkelanjutan. Melalui pelatihan yang telah dilakukan, kini SDN Cibadak 03 kembali menggeliatdalam bidang seni, kompetensi seni guru dan siswa dalam memaiankan gamelan degung danmenyanyikan pupuh meningkat, memiliki tim kesenian yang bisa diandalkan, bersemangat kembalidalam berkompetisi meraih prestasi di bidang seni.Kata kunci: revitalisasi, seni Sunda, SDN Cibadak 03