E-Jurnal ISBI Bandung (Institut Seni Budaya Indonesia)
Not a member yet
    1925 research outputs found

    RESIPROSITAS DALAM JEJARING SOSIAL PAGUYUBAN TARI SUNDA DI KOTA BANDUNG

    Full text link
    Abstrak: Artikel ini membahas tentang jejaring kesenian tari yang bertujuan memenuhi kebutuhan baik dari bidang ekonomi dan sosial. Kedua hal tersebut ditunjukan dari bagaimana pertukaran yang terjadi pada kelompok tersebut. Kesenian sebagai salah satu sub sektor dari industri kreatif merupakan sub sektor ekonomi nasional sehingga membutuhkan organisasi secara administratif untuk memenuhi kebutuhan ekonomi para pelakunya tanpa menghilangkan esensi dan nilai dari kesenian tersebut. Artikel ini memiliki tujuan untuk menganalisa bagaimana resiprositas bekerja di dalam sebuah jejaring kelompok untuk pertahanan eksistensi kelompok tersebut. Metode yang digunakan di dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan etnografi. Pendekatan etnografi ini dibutuhkan untuk mendeskripsikan kelompok kebudayaan dengan cara mencatat, mengamati, dan menuliskannya dalam bentuk deskripsi yang radikal dan menyeluruh, atau holistik. Artikel ini mengerucutkan grup-grup kesenian yang tergabung di dalam satu komunitas besar yaitu Paguyuban Seni Tari Sunda Galih Pakuan yang sebelumnya sudah dikategorisasi melalui jejaring kesenian. Kata kunci: Resiprositas, jejaring sosial, paguyuban tari Sunda   Abstract: This article discusses the dance arts network that aims to meet the needs of both the economic and social fields. Both of these things are shown from how the exchanges that occur in the group. Arts as a sub-sector of the creative industry is a sub-sector of the national economy so it requires administrative organization to meet the economic needs of its practitioners without eliminating the essence and value of the arts. This article aims to analyze how reciprocity works within a group network to maintain the group\u27s existence. The method used in this study is a qualitative method with an ethnographic approach. This ethnographic approach is needed to describe cultural groups by recording, observing, and writing them in the form of radical and comprehensive descriptions, or holistic. This article narrows down the art groups that are part of one large community, namely the Galih Pakuan Sundanese Dance Art Association, which was previously categorized through the art network. Keywords: Reciprocity, social networking, Paguyuban tari Sund

    Analisis Visual Citra Kota dan Proses Kreasi Motif Batik Marunda Jakarta

    Full text link
    Penelitian ini mengangkat Batik Marunda sebagai representasi produsen batik yang mengusung identitas Jakarta masa kini melalui motif bertema urban. Sebelumnya, kajian mengenai batik cenderung berfokus pada budaya Betawi, sementara objek kota Jakarta, dengan segala kompleksitas visual dan narasinya, jarang menjadi perhatian. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana elemen visual direpresentasikan dan diintegrasikan ke dalam motif batik, menggunakan teori Kevin Lynch sebagai kerangka analisis. Dengan pendekatan kualitatif, penelitian ini mengurai proses kreasi motif yang melibatkan lima elemen path, edge, district, node, dan landmark, untuk memastikan setiap elemen visual ditempatkan secara strategis dan bermakna. Hasil penelitian ini diharapkan memberikan pemahaman baru bagi perancang batik mengenai pentingnya mengangkat citra kota secara holistik dalam proses kreatif, sehingga mampu menghadirkan karya yang tidak hanya estetis, tetapi juga relevan dengan identitas budaya dan visual dengan tema kota

    DESAIN MOTIF DIGITAL INSPIRASI MITOS DEWI SRI

    No full text
    Mitos Dewi Sri di Indonesia memiliki banyak versi di setiap daerahnya. Daerah yang mempercayai adanya mitos Dewi adalah daerah yang penduduknya bercocok tanam. salah satu daerah yang mempercai akan mitos Dewi ada pada masyarakat sunda, dan dikenal dengan sebutan Nyi Pohaci. Suyami (1998: 12) menjelaskan, salah satu tradisi yang mencerminkan adanya kepercayaan dan penghormatan terhadap tokoh Dewi Sri, dapat dilihat dalam sikap dan perlakuan masyarakat petani terhadap padi. Masyarakat petani di daerah pedesaan, dalam memperlakukan padi, tidak akan bersikap sembarangan, namun sangat berhati-hati, dengan penuh kasih dan hormat, sebagaimana layaknya memperlakukan manusia yang dikasihi dan dihormati. Dalam pandangan ini manusia akan selamat jika mampu menyelaraskan dengan alam. Cara menyelaraskan ini melalui bentuk upacara ritual, dan salah satunya adalah pemujaan kepada Dewi Sri yang setiap daerah memiliki bentuk upacara masing-masing. Dapat dijelaskan bahwa, mitos Dewi Sri akan tetap hidup dalam masyarakat yang masih menganut budaya mitis

    PROSES KREATIF MOTIF BATIK DALAM DESAIN DIGITAL SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN PEMAHAMAN MOTIF CIREBON BERBASIS PROYEK PADA MATA KULIAH STUDIO IV PRODI TATA RIAS BUSANA ISBI BANDUNG

    No full text
    Penelitian berjudul ‘Proses Kreatif Motif Batik Dalam Desain Digital Sebagai Upaya Peningkatan Pemahaman Motif Batik Cirebon berbasis proyek Pada Mata Kuliah Studio IV Prodi Tata Rias Busana ISBI Bandung’ ini merupakan upaya profesionalitas peneliti sebagai seorang tenaga pendidik (dosen) untuk meng’upgrade kualitas pembelajaran yang dilaksanakan secara sistematis dan terkendali, yang diselaraskan dengan fenomena trend antusiame untuk memiliki motif batik yang unik khususnya bagi kalangan muda milineal. Fenomena ini dapat dikatakan merupakan kekuatan budaya baru yang dapat menjadi ajang unjuk apresiasi kreativitas dan skill dari para desainer muda Indonesia saat ini, termasuk dari mahasiswa sebagai kalangan akademisi

    Interactive E-LKPD Based on CTL as Digital Learning Media for Advertisements, Slogans, and Posters Text Materials

    Full text link
    Interactive e-LKPD based on CTL is an alternative learning media for advertisements, slogans, and posters text materials that can visualize picture, audio, and video to make it easier for junior high school students to understand Bahasa Indonesia learning. This research aims to develop interactive e-LKPD based on CTL as a digital media for learning advertisements, slogans, and posters text mataerials. This research uses mixed methods. The research model used is 4-D. Data was collected using questionnaires and interviews. The research results show that (1) the creation of interactive e-LKPD based on CTL follows the 4-D research model up to the stage of product validation; (2) The validation results of e-LKPD in category very valid. Therefore, interactive e-LKPD based on CTL is suitable for use as a digital learning media for advertisements, slogans, and posters text materials. Keywords: e-worksheet; contextual teaching and learning; advertisement

    Anthroponyms: Characteristics of Naming Tolaki People in Taenango Oral Literature (Heroic Epics) in Southeast Sulawesi

    Full text link
    The study aims to identify the characteristics and patterns of self-naming among the Tolaki people as depicted in the Taenango oral literature, a famous epic. The findings reveal three key aspects: first, a distinct classification of names for men and women, consistently appearing in folklore and local history. Second, the use of prepositions or prefixes like La, Le, Ta, To, Wa, We, and others, which differentiate male and female names. Third, names often include titles such as Sangia (God) or Tumonda Hopalea(Pioneer Commander). These naming conventions, rooted in Taenango literature, continue to influence contemporary naming practices among the Tolaki people. Keywords: Pattern; Naming; literature; Taenango; and Tolak

    Toaleang Marusu: Konsep Kreativitas Perekaciptaan Tari Inspirasi dari Jejak Peradaban Manusia Leang-leang Maros di Sulawesi Selatan

    Full text link
    Koreografi Tari Toaleang Marusu diciptakan berdasarkan penemuan arkeologis di Leang-Leang, Maros, yang menunjukkan adanya peradaban manusia prasejarah Toalean. Perekaciptaan koreografi tari ini bertujuan untuk memberikan pembacaan baru pada tinggalan-tinggalan artefak yang ditemukan. Hal ini untuk menghasilkan transformasi dan reinterpretasi gagasan visual serta artistika dalam wujud Tari Toaleang Marusu. Riset dilakukan dengan metode kualitatif dan mengelaborasi pendekatan kreativitas General model of the creative process oleh Zeng yaitu analisis, penggagasan ide, evaluasi, dan implementasi. Pendekatan pengkomposisian tari dari Minton yang terdiri lima tahapan yaitu, inspirasi, responsif, inkubasi, evaluasi, dan visualisasi. Pengejawantahan praksis ini, dimulai dari pra-imajinasi, imajinasi abstrak, dan kemudian menghasilkan imajinasi konkret. Penjajakan budaya manusia prasejarah Toalean menjadi refleksi alih wahana yang tertuang pada sebuah repertoar Tari Toaleang Marusu sebagai imaji konkret. Hasil transformasi seni ini berdampak pula pada keberlanjutan proses kreatif, menghadirkan produk seni lainnya, dan yang utama adalah menjaga kelestarian dan eksistensi ekologi situs-situs prasejarah leang-leang Maros Sulawesi Selatan.Toaleang Marusu merupakan koreografi tari berbasis jejak-jejak peradaban manusia prasejarah Toalean yang ditemukan pada situs-situs arkeologi di leang-leang Maros. Perekaciptaan koreografi tari ini bertujuan untuk memberikan pembacaan baru pada tinggalan-tinggalan artefak yang ditemukan. Hal ini untuk menghasilkan transformasi dan reinterpretasi gagasan visual serta artistika dalam wujud tari Toaleang Marusu. Riset dilakukan dengan metode kualitatif dan mengelaborasi pendekatan kreativitas General model of the creative process oleh Zeng yaitu analisis, penggagasan ide, evaluasi, dan implementasi. Pendekatan pengkomposisian tari dari Minton yang terdiri lima tahapan yaitu, inspirasi, responsif, inkubasi, evaluasi, dan visualisasi. Toaleang Marusu dapat mengejawantahkan praksis-praksis secara terstruktur, dimulai dari pra-imajinasi, imajinasi abstrak, dan kemudian menghasilkan imajinasi konkret. Penjajakan budaya manusia prasejarah Toalean menjadi refleksi alih wahana yang tertuang pada sebuah repertoar tari Toaleang Marusu sebagai imaji konkret. Hasil transformasi seni ini berdampak pula sebagai utilitas dalam keberlanjutan proses kreatif, menghadirkan idiom seni lainnya, dan yang utama adalah menjaga kelestarian dan eksistensi ekologi situs-situs prasejarah leang-leang Maros Sulawesi Selatan. &nbsp

    Dèwi Sri Kedu Temanggungan: Analisis Sanggit Lakon dan Makna Simbolisme

    Full text link
    Penelitian ini mengkaji sanggit lakon dan simbolisme lakon Dèwi Sri pada pertunjukan wayang kulit gaya Kedu Temanggungan yang disajikan oleh Legowo Cipto Karsono. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap makna yang terkandung dalam pakeliran tersebut dengan menganalisis sanggit lakon dan simbolisme Dèwi Sri. Analisis ini dilakukan dengan paradigma tekstual-kontekstual dengan payung metode ethnoart. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa studi pustaka dan observasi pertunjukan wayang kulit. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa sanggit lakon Dèwi Sri menunjukkan tingkat integritas artistik yang tinggi, mematuhi prinsip-prinsip dramatik Jawa yaitu tutug (tuntas), kempel (koherensi), dan mulih (penyelesaian konklusif). Simbolisme Dèwi Sri tidak hanya merepresentasikan kesuburan padi, tetapi juga keseimbangan ekosistem dan keberlanjutan sosial. Lebih lanjut, figur Dèwi Sri memperkuat hubungan spiritual antara manusia dan alam, yang terefleksi dalam ritual pertanian seperti wiwitan dan mapag.Penelitian ini membahas sanggit lakon dan makna simbolis lakon Dèwi Sri pada pertunjukanwayang kulit gaya Kedu Temanggungan sajian Legowo Cipto Karsono. Tujuan penelitian iniadalah untuk mengkaji sanggit lakon sekaligus mengungkap makna simbolis lakon Dèwi Sridalam pakeliran purwa gaya Kedu Temanggungan sajian Legowo Cipto Karsono,berdasarkan paradigma ethnoart. Data penelitian dikumpulkan melalui studi pustaka,pengamatan lapangan, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sanggit lakonDèwi Sri memenuhi konsep tutug, kempel, dan mulih. Dewi Sri dalam lakon ini tidak hanyamelambangkan kesuburan padi, tetapi juga keseimbangan ekosistem dan keberlanjutankehidupan sosial masyarakat. Ritual pertanian, seperti wiwitan dan mapag, memperkuathubungan spiritual antara manusia dan alam, yang diperankan oleh figur Dewi Sri

    TARI SEBAGAI TREN DIGITAL DI TIKTOK: ANALISIS GERAK, PARTISIPASI PENGGUNA, DAN LITERASI TEKNOLOGI KREATOR

    Full text link
    Perkembangan platform digital seperti TikTok telah mengubah cara masyarakat memproduksi, membagikan, dan memaknai tarian sebagai bentuk ekspresi budaya modern. Fenomena ini menunjukkan pergeseran bahwa tarian tidak hanya tampil sebagai seni pertunjukan, tetapi juga sebagai tren digital yang dibentuk oleh kreativitas kreator dan partisipasi pengguna. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana tarian berkembang sebagai tren di TikTok melalui kajian terhadap pola gerak, bentuk keterlibatan pengguna, serta literasi teknologi yang dimiliki kreator konten tari. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan memanfaatkan data daring, termasuk analisis konten video, komentar pengguna, serta simulated interview yang disusun berdasarkan pola umum strategi kreator tari di TikTok. Data dianalisis secara tematik untuk mengidentifikasi karakteristik gerak, dinamika interaksi digital, dan kompetensi teknologi yang muncul dalam proses produksi konten tari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tren tarian di TikTok terbentuk melalui gerak yang sederhana, repetitif, dan mudah direplikasi, sehingga mendorong partisipasi pengguna secara luas. Kreator juga memanfaatkan fitur digital seperti sinkronisasi musik, efek visual, dan teknik penyuntingan dasar untuk meningkatkan daya tarik konten. Temuan ini menegaskan bahwa literasi teknologi menjadi aspek penting dalam keberhasilan kreator dalam membangun identitas digital dan mempertahankan keterlibatan audiens. Penelitian menyimpulkan bahwa TikTok tidak hanya menjadi ruang penyebaran tarian populer, tetapi juga ekosistem pembelajaran digital yang mendorong kolaborasi, kreativitas, dan adaptasi teknologi dalam praktik seni tari. Implikasi penelitian ini mengarah pada pentingnya integrasi literasi digital dalam pendidikan seni agar peserta didik mampu merespons perkembangan budaya digital secara kritis dan produktif.   ABSTRACT DANCE AS A DIGITAL TREND ON TIKTOK: AN ANALYSIS OF MOVEMENT, USER PARTICIPATION, AND CREATOR TECHNOLOGY LITERACY, DECEMBER 2025. The development of digital platforms such as TikTok has changed the way people produce, share, and interpret dance as a form of modern cultural expression. This phenomenon shows a shift in which dance is not only presented as a performing art, but also as a digital trend shaped by the creativity of creators and user participation. This study aims to analyze how dance has developed as a trend on TikTok by examining movement patterns, forms of user engagement, and the technological literacy of dance content creators. The study uses a qualitative approach utilizing online data, including video content analysis, user comments, and simulated interviews based on common patterns in the strategies of dance creators on TikTok. The data is analyzed thematically to   identify movement characteristics, digital interaction dynamics, and technological competencies that emerge in the dance content production process. The results show that dance trends on TikTok are formed through simple, repetitive, and easily replicable movements, thereby encouraging widespread user participation. Creators also utilize digital features such as music synchronization, visual effects, and basic editing techniques to enhance the appeal of their content. These findings confirm that technological literacy is an important aspect of creators\u27 success in building a digital identity and maintaining audience engagement. The study concludes that TikTok is not only a space for spreading popular dances, but also a digital learning ecosystem that encourages collaboration, creativity, and technological adaptation in dance practice. The implications of this study point to the importance of integrating digital literacy into arts education so that students are able to respond to developments in digital culture critically and productively.   Keywords: Technology Literacy, Dance, TikTok, Digital Trends. &nbsp

    “Sareupna” Reinterpretasi Tradisi Pamali Sebagai Penciptaan Karya Seni Lukis

    Full text link
    Pamali is an oral tradition that acts as a social control that incorporates ethics and values through prohibitions or taboos, especially in children’s daily life, social life, time and place restrictions. The creation of this final project departs from the phenomenon of the fading value of the pamali tradition, especially the prohibition of activities before Maghrib in today’s younger generation. The visuals of this painting use a parody approach by combining elements of horror and facetiouness, as well as combining traditional symbols. Through humorous and witty visual exploration, pamali is no longer presented as something scary, but rather as a reflective cultural dialog and open to reinterpretation of its meaning. The creation method used is the practice-led research method, which is research conducted during the practice of the work, which is divided into three stages: (1) Pre-image stage; (2) Abstract image stage; (3) Abstract image stage. The result of this creation is a total of 3 canvases using acrylic paint, each illustrating the pamali expressions of Maghrib time.Pamali is an oral tradition that acts as a social control that incorporates ethics and values through prohibitions or taboos, especially in children’s daily life, social life, time and place restrictions. The creation of this final project departs from the phenomenon of the fading value of the pamali tradition, especially the prohibition of activities before Maghrib in today’s younger generation. The visuals of this painting use a parody approach by combining elements of horror and facetiouness, as well as combining traditional symbols. Through humorous and witty visual exploration, pamali is no longer presented as something scary, but rather as a reflective cultural dialog and open to reinterpretation of its meaning. The creation method used is the practice-led research method, which is research conducted during the practice of the work, which is divided into three stages: (1) Pre-image stage; (2) Abstract image stage; (3) Abstract image stage. The result of this creation is a total of 3 canvases using acrylic paint, each illustrating the pamali expressions of Maghrib time

    1,711

    full texts

    1,925

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    E-Jurnal ISBI Bandung (Institut Seni Budaya Indonesia)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇