E-Jurnal ISBI Bandung (Institut Seni Budaya Indonesia)
Not a member yet
    1925 research outputs found

    RELASI SINKRONIK TERBENTUKNYA EKOSISTEM KEBUDAYAAN DI KAWASAN MUAROJAMBI MELALUI PEMANFAATAN POTENSI HUTAN DAN SUNGAI

    Full text link
    Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Muarojambi merupakan salah satu kawasan yang telah ditetapkan sebagai super prioritas destinasi wisata nasional dari pemerintah Indonesia. Penetapan yang sudah diberlakukan mengakibatkan dua sektor kementerian, yakni; Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi serta Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif selama dua tahun berturut-turut (2023 – 2024) terus mendorong tumbuhnya ekosistem kebudayaan dengan fokus pada pemberdayaan masyarakat untuk kesejahteraan dirinya. Kawasan yang di dalamnya ada candi peninggalan agama budha tersebut, sekira abad 7 – 12 Masehi menjadi pusat penyebaran agama budha yang cukup besar se-Asia Tenggara. Bahkan konon katanya, di kawasan tersebut hadir pula pusat pendidikan dan pelatihan bagi yang akan menjadi para pemuka agama budha (Widiatmoko, 2023: 9). Tentu saja dengan kondisi seperti itu, boleh jadi kawasan Muarojambi setiap tahunnya berdasarkan kalender hari besar agama budha akan ramai dari para pengunjung yang hadir dan datang dari berbagai peloksok wilayah Indonesia serta Asia Tenggara. Secara posisi, kawasan Muarojambi yang berdekatan dengan salah satu muara (sungai Batanghari) merupakan salah satu pusat transportasi melalui jalur sungai yang saat itu menjadi primadona. Oleh karena itu, tak dapat disangkal di kawasan yang kini menjelma menjadi salah satu kawasan unggulan untuk sektor kepariwisataan Indonesia memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut. Mungkin bukan hanya pemanfaatan keberadaan sungai yang cukup besar dan panjang, namun di kawasan tersebut-pun memiliki sejumlah potensi budaya yang erat bersinggungan dengan alam lingkungannya (hutan)

    ASET PENGEMBANGAN DESA WISATA BERBASIS SENI DAN BUDAYA DI DESA CIBUNAR, KECAMATAN RANCAKALONG, KABUPATEN SUMEDANG

    Full text link
    Salah satu wilayah yang memiliki potensi besar untukdikembangkan sebagai desa wisata berbasis seni budaya adalahDesa Cibunar, Kecamatan Rancakalong, Kabupaten Sumedang.Desa ini dikenal sebagai kawasan yang masih memegang teguhtradisi lisan, mitos, serta praktik kesenian tradisional sepertipertunjukan wayang golek, alunan musik gamelan, hinggaberbagai upacara adat. Tradisi tersebut tidak hanya menjadikebanggaan masyarakat setempat, tetapi juga berfungsi sebagaimedia komunikasi intergenerasi yang memperkuat ikatan sosialdan identitas kolektif (Rizal dkk., 2017)

    APLIKASI MODEL EMPOWER-ICE DALAM PEMBERDAYAAN IBU RUMAH TANGGA DI KOMUNITAS KREATIF LAKSMININGRAT KABUPATEN GARUT MELALUI PELATIHAN POLA DAN MENJAHIT

    Full text link
    Pemberdayaan perempuan kini dianggap sebagai aspekkrusial dalam pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.Menurut Kabeer (2021), hakikat pemberdayaan tidak cukuphanya dengan meningkatkan partisipasi perempuan, melainkanmemerlukan rencana yang sistematis untuk mencapaikesetaraan gender dalam ranah keluarga dan masyarakat.Pemberdayaan memungkinkan perempuan untukmengoptimalkan potensi yang dimiliki, memperoleh otonomi,serta meningkatkan kemampuan pengambilan keputusan yangberdampak pada kehidupan mereka (UN Women, 2020). Dalamperspektif ekonomi, wanita yang memiliki akses kepada sumberdaya dan pelatihan yang sesuai tidak hanya dapatmeningkatkan pendapatan rumah tangga, tetapi juga berperansebagai penggerak dalam upaya pengentasan kemiskinan danpeningkatan kesejahteraan komunitas secara keseluruhan(Mariyanti & Fitranita, 2021).Dalam konteks Indonesia, dimana partisipasi tenaga kerjaperempuan terus bertumbuh, tantangan utama adalahmenjembatani kesenjangan modal, keterampilan teknis, danakses pasar bagi perempuan di tingkat akar rumput. Khususnyaibu rumah tangga, meskipun memiliki potensi besar dan waktuluang, mereka sering terkendala oleh rendahnya akses terhadappelatihan menjahit dan pembuatan pola pakaian berkualitasyang mampu bersaing di pasar

    Dinamika Pertunjukan Lukah Gilo Di Kabupaten Tebo

    No full text
    Lukah Gilo dance from Tebo Regency, Jambi,  originated as a ritual to honour ancestral spirits before planting and harvest seasons. Over time, as socio-cultural dynamics shifted, the dance transformed from a sacred ritual into a secular form of artistic expression performed at public and communal events. This study describes the transformation of Lukah Gilo’s function and meaning in response to social change. The research adopts a qualitative approach using contemporary ethnography by Hammersley & Atkinson, combined with historical methods through the stages of heuristics, verification, interpretation, and historiography. The findings reveal three developmental phases: a ritual-based pre-independence era, an innovation phase in the early 2000s with two stylistic variations (Semabu Village and the Tebo Regency arts team), and an ongoing preservation phase. These changes are shaped by government support, artistic reinterpretation, community participation, and environmental factors. The study underscores how traditional performances can adapt to modern contexts while maintaining cultural identity.Lukah Gilo dance performance in this research is a form of past culture that contains magical elements, and has experienced development until now, from being a ritual to ancestors in the human life cycle to becoming a secular art in Tebo Regency. The aim of this research is to describe and analyze the dynamics of dance performances as an impact of societal development. The method used is qualitative through Spradley\u27s ethnographic approach and historical by analyzing literature data and the results of field observations. The historical method goes through heuristic stages, internal and external criticism, interpretation and historiographic. The research results that there are two versions of the Lukah Gilo dance performance in Tebo Regency, whose development is very dependent on support from the government, artists and supporting communities as well as geographical location and natural conditions. Keyword: Dance Performance, Lukah Gilo, Social Dynamic

    Symbolic and Aesthetic Representation of the Royal Carriage as a Manifestation of Palace Craft Art: Implications for the Study of Cultural Identity in the Archipelago

    Full text link
    Craft art represents a cultural expression reflecting community creativity, identity, and skills. In Indonesia, craft art has a long historical tradition influenced by Hindu-Buddhist, Islamic, and European colonial cultures. One prominent manifestation of palace craft art is the royal carriage (kereta kencana), which serves as ceremonial transportation and a symbol of royal authority, social status, and cultural identity. This study investigates the royal carriage\u27s aesthetic, symbolic, and technical representations as a significant artifact of palace craft art. The research adopts a qualitative approach through literature study, relying on written sources such as books, scientific articles, and historical documents. Findings indicate that the royal carriage reflects exceptional aesthetic quality and technical mastery through high-quality materials such as teak wood, precious metals, luxurious textiles, and intricate carvings, integrating elements of Hindu-Buddhist, Islamic, and Western cultures. Symbols such as Garuda, Arabic calligraphy, floral and faunal motifs, and Baroque ornaments represent the royal institutions’ philosophical, spiritual, and political values. Nevertheless, this research has limitations regarding the empirical exploration of symbolic meaning shifts in modern contexts. Further studies are recommended to employ ethnographic approaches, material analyses, and conservation strategies utilizing digital technology and artisan regeneration to maintain the relevance of palace craft heritage as a critical part of Indonesia’s cultural identity

    Reinterpretasi Gatot Kaca dalam Pertunjukan Teater berbasis Betawi Urban

    No full text
    Urbanization and digitalization of culture in big cities including Jakarta, shift the way the younger generation interprets traditional symbols. Gatot Kaca, famous as a puppet character, also experienced reinterpretation through performing arts as a strategy for preserving cultural identity. This study aims to understand the reinterpretation in the Lenong Betawi performance of the play Satria Millennial, where Gatot Kaca is adapted into an urban expression space. Using a phenomenological approach, data was collected through interviews and documentation of the creative process of the Satria Millennial performance. Furthermore, the data obtained were analyzed thematically following Moustakas\u27 framework. The results show three main reinterpretations: (1) a pandemic-themed story, (2) the character of Gatot Kaca transforming into a comic-educational figure, and (3) the performance integrating lenong, musical, and urban humor. These three reinterpretations strengthen the function of art as a vehicle for cultural preservation, education, and mediation of local cultural identity in modern society. Paper ini membahas kompleksitas masyarakat Jakarta yang mendorong adanya pertunjukan yang memanfaatkan tokoh pewayangan Jawa, khususnya Gatot Kaca, dalam pertunjukan lenong Betawi. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menganalisis bagaimana karakter Gatot Kaca diinterpretasikan kembali dalam pertunjukan teater yang berbasis budaya Betawi. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif fenomenologi untuk melakukan analisis terhadap reinterpretasi karakter legendaris Indonesia, yakni Gatot Kaca. Metode penelitian fenomenologi ini mengandalkan wawancara mendalam dan analisis dokumen sebagai sumber utama data untuk memahami pengalaman dan makna yang terkait dengan karakter Gatot Kaca. Penelitian ini mengikuti kerangka metode yang diperkenalkan oleh Moustakas (1994) dalam mengelola dan menganalisis data yang diperoleh selama proses penelitian. Tahapan metode dalam penelitian mencakup persiapan, pengumpulan, pengorganisasian, dan analisis data. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa reinterpretasi karakter Gatot Kaca terjadi dalam konteks hiburan dan pendidikan yang berlaku bagi masyarakat masa kini. Hal ini dibuktikan melalui penyesuaian asesoris yang mempertimbangkan simbol-simbol fungsional seperti siger, jangjang, dan gelang bahu

    ANIMO TERHADAP SENI PERTUNJUKAN NUSANTARA DI BELANDA: STUDI KASUS PADA PENCAK SILAT

    Full text link
    Penelitian berjudul Animo terhadap Seni Pertunjukan Nusantara di Belanda: Studi Kasus pada Pencak Silat merupakan penelitian yang mendeskripsikan bagaimana Pencak Silat dapat menjadi animo besar di Belanda. Kajian ini mendeskripsikan betapa besarnya kelompok-kelompok Pencak Silat di Belanda yang tergabung dalam satu federasi bernama Netherland Pencak Silat Federation (NPSF). Berdasarkan kacamata teoretis difusionisme, keberadaan Pencak Silat dan organisasi Pencak Silat di Belanda tidak hanya menunjukkan diplomasi budaya yang berkembang dengan baik dan berkelanjutan, melainkan juga menunjukan penyebarluasan seni dan nilai-nilai ketimuran yang menjadi daya tarik utama masyarakat Eropa, khususnya Belanda. Animo tersebut hidup dan terus berkembang lintas generasi, yang menandakan bahwa Pencak Silat sudah masuk pada ranah inkulturasi di Belanda. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis melalui sudut-pandang teori difusionems, yang mana dengan pendekatan tersebut diharapkan tergambarkan kehidupan Pencak Silat di Belanda secara jelas yang hubungannya dengan sumber seni dari Indonesia

    “Struktur Pertunjukan Tradisi Rateb Mensa di Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang Kabupaten Nagan Raya”.: The Performance Structure of the Rateb Mensa Tradition in Beutong Ateuh Banggalang District, Nagan Raya Regency

    No full text
    This study formulates the problem of “The performance structure of the Rateb Mensa tradition in Beutong Ateuh Banggalang District, Nagan Raya Regency.” The research employed a qualitative method with a field research approach. The objective of this study is to describe the “Performance structure of the Rateb Mensa tradition in Beutong Ateuh Banggalang District, Nagan Raya Regency.” Research data were collected through observation, interviews, documentation, and triangulation/combined techniques. The theoretical framework used is the performance structure theory proposed by Djelantik, supported by Endraswara’s perspective. The results indicate that the performance structure of the Rateb Mensa tradition consists of three stages: pre-performance, main performance, and post-performance, presented in the form of group dhikr led by a Syeh (religious leader). The tradition is performed to enliven the Eid al-Fitr celebration and is carried out for three to four consecutive nights by male participants aged between 15 and 60 years. The number of performers ranges from 40 to 70 people, forming circular and shaf (row) formations. The Rateb Mensa chants include Al-Fatihah, Eid takbir, dhikr, shalawat, and laweut (poetic verses). This study demonstrates that preserving Rateb Mensa requires support in the form of documentation, regeneration, and revitalization through a community-based approach, ensuring it remains meaningful as a living intangible cultural heritage of Aceh rather than merely a spectacle.  Penelitian ini merumuskan masalah tentang “Struktur pertunjukan tradisi Rateb Mensa di Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang Kabupaten Nagan Raya”. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif Lexi J & Moleong, 2015: 6, dengan jenis penelitian lapangan (field resech). Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan “Struktur pertunjukan tradisi Rateb Mensa di kecamatan Beutong Ateuh Banggalang Kabupaten Nagan Raya”. Data penelitian ini diperoleh dengan teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, dokumentasi dan triangulasi/gabungan (Sugiyono, 2014: 225). Teori yang digunakan adalah teori struktur pertunjukan yang dikemukakan oleh Djelantik dalam Dhony (2014: 17),penelitijuga memakai pendapat dari Endraswara dalam T. Ilyas (2019: 12) sebagai pendukung teori dari Djelantik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa struktur pertunjukan tradisi Rateb Mensa terdiri dari pra pertunjukan, inti pertunjukan, dan pasca pertunjukan, disajikan dalam bentuk zikir grop yang dipimpin oleh syeh. Tujuan pelaksanaan untuk memeriahkan hari raya Idul Fitri, dilakukan selama 3 sampai 4 malam berturut-turut oleh kaum laki-laki berusia 15 sampai 60 tahun. Jumlah pemain sebanyak 40 sampai 70 orang. Formasi gerakan berupa lingkaran dan bentuk shaf. Syair Rateb Mensa terdiri dari Al-Fatihah, takbir lebaran, zikir, shalawat dan laweut (syair)

    E-SPORTS DAN INTERAKSI SUBKULTUR GAMER DI INDONESIA

    Full text link
    Abstrak: Penelitian ini menyorot pada bagaimana e-sports sebagai suatu budaya massa yang mempengaruhi pola interaksi subkultur gamer di Indonesia, baik interaksi sesama gamer atau gamer dengan masyarakat luas. Penelitian ini juga menjelaskan jenis-jenis interaksi pada gamer dan berbagai macam klasifikasi gamer. Dalam hal ini, pengaruh perkembangan e-sports pada pola interaksi yang terbentuk dikaji melalui konsep medium is the message (teori dari Marshall McLuhan). Penelitian ini dilakukan dengan deskriptif kualitatif melalui pengumpulan data menggunakan metode teknik etnografi virtual Metode ini dipilih karena penelitian ini memiliki batasan data yaitu komunikasi dan interaksi yang hanya diambil dari media virtual, dalam hal ini; video platform Youtube Gaming; 4 video game yang bersifat kompetitif yaitu Valorant, Mobile Legends, PUBG Mobile, dan Free Fire. Hasil penelitian mengemukakan 1) Perkembangan e-sports sebagai ‘medium’ dan 2) Perubahan pola interaksi gamer Indonesia sebagai ‘the message’. Kata kunci: Interaksi, Permainan video, E-sports, Youtube.   Abstrak: This study focuses on how e-sports as a mass culture influences the interaction patterns of gamer subcultures in Indonesia, both among gamers or gamers with the wider community. This study also describes the types of interactions among gamers and various classifications of gamers. In this case, the influence of the development of e-sports on the interaction patterns formed is studied through the concept of the medium is the message (the theory of Marshall McLuhan). This research was conducted with a qualitative descriptive method through data collection using virtual ethnographic techniques. This method was chosen because this research has data limitations, namely communication and interaction which are only taken from virtual media, in this case; Youtube Gaming video platform; 4 competitive video games, specifically Valorant, Mobile Legends, PUBG Mobile, and Free Fire. The results of the research suggest 1) The development of e-sports as a \u27medium\u27 and 2) Changes in the interaction pattern of Indonesian gamers as \u27the message\u27. Keywords: Interaction, Video games, E-sports, Youtube

    WEBTOON KERAJAAN INSTRUMEN ENKULTURASI

    Full text link
    Abstrak: Permasalahan penelitian ini ialah bagaimana nilai-nilai etika hidup dalam webtoon tema kerajaan dapat memunculkan fungsi enkulturasi bagi pembacanya. Tujuan penelitian adalah menjelaskan webtoon tema kerajaan dapat menjadi media enkulturasi bagi pembacanya. Menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi partisipatif, wawancara, dokumentasi, serta studi pustaka. Menggunakan teori fungsionalisme Bronislaw Malinowski untuk menganalisis fungsi dari webtoon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa webtoon memiliki fungsi tambahan yakni sebagai media enkulturasi. Kata Kunci: Webtoon, fungsi, enkulturasi, nilai-nilai etika hidup   Abstract: The problem of this research is how the ethical values of life in the royal theme webtoon can bring out the enculturation function for the readers. The purpose of this research is to explain that royal theme webtoon can be a medium of enculturation for its readers. Using qualitative research methods with data collection techniques in the form of participatory observation, interviews, documentation, and literature study. Using the functionalism theory of Bronislaw Malinowski to analyze the function of the webtoon. The results showed that the webtoon has an additional function, namely as an enculturation medium. Keywords: webtoon, function, enculturation, ethical values of lif

    1,711

    full texts

    1,925

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    E-Jurnal ISBI Bandung (Institut Seni Budaya Indonesia)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇