E-Jurnal ISBI Bandung (Institut Seni Budaya Indonesia)
Not a member yet
1925 research outputs found
Sort by
Minangkabau Women’s Resistance: A Critical Discourse Analysis of Sara Mills
This research describe the forms of resistance by female characters in novel "Bako" by Darman Moenir through the lens of critical discourse analysis. The study is grounded Sara Mills\u27 theory to analyze the injustices faced by women. The primary issue of this research is how women, either individually or as representatives of a group, articulate their rights, and how their struggle is portrayed through the selection of words, sentences, and narrative forms presented to audience. The analytical technique in this research is Sara Mills\u27 discourse analysis.The research delves into portrayal of women in the novel, highlighting the resistance movements undertaken by the character Ummi, who serves as the protagonist challenging the norms of the matrilineal culture prevalent in Minangkabau society. As both the object and reader, audience is led by the author to become aware of the errors that often marginalize women in terms of tradition, social norms, and culture.
Keyword: minangkabau womens; resistance; critical discourse analysi
Transformasi Budaya Nilai Budi Pekerti Melalui Pancawira dalam Pelatihan Seni Pedalangan Wayang Golek untuk Pendidikan Karakter Siswa
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas pelatihan seni pedalangan wayang golek sebagai media pendidikan karakter dan penanaman budi pekerti luhur bagi siswa tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Pelatihan ini menggunakan pendekatan kearifan lokal melalui filosofi Pancawira, yang mencakup lima kekuatan utama dalam pengembangan diri: Wiraga (kekuatan fisik dan kreativitas), Wirasa (kehalusan budi dan etika), Wirahma (kemampuan beradaptasi terhadap zaman), Wirupa (kekuatan berpikir dan bertindak), dan Wiwaha (kebijaksanaan dan spiritualitas). Penelitian dilakukan di tiga lokasi representatif di Jawa Barat: Sanggar Wayang Ajen Kota Bekasi, Desa Wisata Kertawangi Kabupaten Bandung Barat, dan Kabupaten Pandeglang Banten. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan dalang mampu membentuk karakter siswa yang lebih disiplin, kreatif, sopan, tangguh, dan religius. Nilai-nilai seperti tanggung jawab, kerja sama, dan rasa hormat tumbuh secara alami melalui proses kreatif dan reflektif dalam pelatihan. Program ini juga terbukti adaptif dengan dunia digital dan mampu menjembatani warisan budaya dengan pembentukan manusia unggul. Temuan ini memberikan kontribusi penting terhadap model pendidikan karakter berbasis seni dan budaya lokal yang kontekstual, aplikatif, dan berkelanjutan.
Kata kunci: Pendidikan karakter, wayang golek, pelatihan dalang, Pancawira, budi pekerti luhu
Nilai Filosofis Mamuli dalam Sejarah, Tradisi, dan Budaya Masyarakat Sumba Timur
Penelitian ini mengkaji artefak budaya bernama mamuli yang berasal dari Sumba Timur, sebagai bagian dari ekspresi identitas, spiritualitas, serta struktur sosial masyarakat setempat. Mamuli bukan hanyamerupakan perhiasan logam berharga, melainkan simbol perempuan, kesuburan, dan hubungan kosmis denganleluhur. Fenomena ini menunjukkan adanya keberlangsungan nilai-nilai tradisional yang kompleks dalam masyarakat Sumba Timur, di tengah tekanan modernisasi dan globalisasi. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dan metode historiografis, penelitian ini mengungkap makna filosofis mamuli, peransosialnya dalam sistem kekerabatan dan upacara adat, serta respons budaya terhadap transformasi zaman. Penelitian ini melibatkan wawancara dengan tokoh adat, pengrajin lokal, dan pengamatan partisipatif dalam ritus adat sebagai metode pengumpulan data utama. Hasilnya menunjukkan bahwa mamuli berfungsi sebagai jembatan antara sistem nilai tradisional dengan inovasi kontemporer yang terus berkembang, terutama dalamkonteks desain dan identitas budaya visual masyarakat Sumba Timur. Penelitian ini merekomendasikan pelestarian budaya mamuli melalui integrasi dalam kurikulum lokal, promosi dalam produk seni rupa kontemporer, serta kolaborasi lintas sektor untuk mendorong keberlanjutan warisan budaya. Dengan demikian, mamuli bukan hanya representasi masa lalu, tetapi juga simbol masa depan budaya yang resilien dan dinamis.
Kata Kunci : filosofi, mamuli, sejarah, tradisi budaya, sumba timu
PEMANFAATAN POTENSI OBYEK PEMAJUAN KEBUDAYAAN DESA NYALINDUNG KECAMATAN CIPATAT SEBAGAI ALTERNATIF SUMBER PENDAPATAN BADAN USAHA MILIK DESA (BUMDes) DESA NYALINDUNG
Tulisan ini akan memfokuskan diri kepada upaya pemanfaatanpotensi obyek pemajuan kebudayaan sebagai alternatif sumberpendapatan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Nyalindung KecamatanCipatat. Maksud dan tujuan dari tulisan ini adalah memberikan bahanpertimbangan bagi pengurus BUMDes Nyalindung dalam mencarialternatif pendapatan BUMDes melalui eksplorasi dan eksploitasipemanfaatan potensi desa khususnya dengan pemanfaatan diantara10 Obyek Pemajuan Kebudayaan yang telah dimiliki (existing) olehmasyarakat Desa Nyalindung. Latar belakang dipilihnya judul ini adalahadanya kenyataan bahwa, di satu sisi bidang usaha yang dikelolaBUMDes masih terbatas dan konvesional sedangkan di sisi lain terdapatkekaayaan kebudayaan masyarakat yang belum tergarap maksimal.Bila tergarap akan ada multiplier effect tidak hanya kepada BUMDesnya saja termasuk pula masyarakat setempat, pemerintahan desa, dantentunya bagi Kabupaten Bandung Barat
INVENTARISASI KESENIAN TRADISIONAL DESA CAMPAKAMEKAR: UPAYA PELESTARIAN DAN PENGEMBANGAN OBJEK PEMAJUAN KEBUDAYAAN
Desa Campakamekar terletak di wilayah yang kaya akan tradisi,memiliki beragam kesenian yang mencerminkan kekayaan budayamasyarakatnya. Namun seiring dengan perkembangan zaman danmodernisasi, banyak kesenian tradisional yang terancam punah.Tingginya arus globalisasi membawa pengaruh besar terhadapmasyarakat Indonesia terutama di kalangan anak muda. Mulaidari gaya hidup yang berbeda hingga lunturnya rasa cinta seni danbudaya nusantara. Perlu adanya solusi untuk menjaga kelestarianseni dan budaya nusantara agar tidak musnah (Amalia & Agustin,2022). Pelestarian juga dapat diartikan suatu proses atau teknik yangdidasarkan pada kebutuhan individu itu sendiri. Melestarikan suatukebudayaan dengan cara; mendalami atau paling tidak mengetahuitentang budaya itu sendiri; mempertahankan nilai budaya, salahsatunya dengan mengembangkan seni budaya tersebut disertaidengan keadaaan yang relevan dengan kondisi saat ini bertujuan untukmenguatkan nilai-nilai budayanya (Khutniah & Iryanti, 2012)
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT SEBAGAI KUNCI PEMAJUAN KEBUDAYAAN: STUDI KASUS DESA JAYAMEKAR, KECAMATAN PADALARANG
Artikel ini akan mengeksplorasi bagaimana proses pemberdayaanmasyarakat di Desa Jayamekar telah berkontribusi pada pemajuankebudayaan. Pembahasan akan mencakup strategi yang diterapkan,tantangan yang dihadapi, serta dampak yang dihasilkan terhadapkehidupan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat setempat. Melaluistudi kasus ini, diharapkan dapat diperoleh wawasan berhargamengenai efektivitas pendekatan pemberdayaan masyarakat dalamupaya pemajuan kebudayaan di tingkat desa (Mardikanto, 2017)
SALAMON MARKET: KOLABORASI NYATA DALAM MENGGERAKKAN EKONOMI WARGA
Taman Griya Mitra yang bertempat di wilayah Perumahan Griya Mitra Cinunuk Cileunyi Bandung merupakan sebuah taman dengan letak yang strategis. Posisi taman berada disamping sebelah kanan dan kiri pintu gerbang utama masuk pe rumahan dengan ukuran yang tidak begitu besar dan keduanya berbentuk segitiga dengan sudut yang tidak sama dan berbeda pula ukurannya. Pengguna jalan yang berlalulalang merupakan warga perumahan setempat dan juga warga perumakan sekitar yang mengakses jalan utama perumahan seabgai alternatif jalan menuju tempat tinggalnya.Keberadaan Taman Griya Mitra ini merupkan lahan yang disediakan oleh pengem bang yang kondisinya tidak terawat sehingga pada awalnya masih merupakan la han kosong dan tidak terawatt dengan baik. Baru pada akhir tahun 2023 mendapat bantuan penataan dari pemerintah. Mulai saat itulah taman ini mulai terlihat rapi dengan berbagai tumbuhan Bunga, dan berbagai mainan outdoor tersedia seperti ayunan, prosotan dan mainan timbangan dan pada tengah sudut taman tersebut juga dilengkapi dengan saung kecil dengan ukuran 4x4m yang nyaman. Semenjak itu keberadaan taman ini mulai terasa kebermanfaatanya bagi warga lokal maupun komunitas yang ingin bersantai dan barmain di taman tersebut
METODE DISALIENASI SEBAGAI PENDEKATAN PENCIPTAAN KARYA TEATER UNTUK PENGEMBANGAN KONSEP POST-GAZE THEATRE
Beberapa grup teater modern di Indonesia, seperti Teater Garasi (Yogyakarta), Teater Kala (Makassar), dan Teater Payung Hitam (Bandung), adalah contoh grup teater modern Indonesia yang secara lebih eksplisit menggali problem-problem eksesif urban. Dalam presentasi Teater Garasi, seperti pada pertunjukan ‘Waktu Batu: Rumah Yang Terbakar’, tema urban yang digarap berkaitan dengan ekses diskomunikasi dan segregasi manusia kota (https://youtu.be/Bgx ZBi_5uU0). Teater Kala, melihat persoalan manusia urban dari aspek kegoncangan skisoprenik dan disartikulasi individual, seperti yang ditampilkan dalam teater film ‘Waktu Tanpa Buku’ (https://youtu.be/Ezo9QLy0lnU). Sementara Teater Payung Hitam (Bandung) dalam pertunjukan ‘Post Haste’ menggambarkan teror kekuatan eksternal dan fragmen destruksi identitas, sebagai problem kekerasan laten manusia-manusia urban (https://youtu.be/yGxZ7dOGTzA).Tema-tema eksesif urban yang digarap oleh Teater Garasi, Teater Kala dan Teater Payung Hitam, meski masing-masing grup tersebut menawarkan diferensiasi kerja estetika yang berbeda, namun masih ditempatkan dalam paradigma ‘Teater Tatapan’. Artinya, peristiwa yang direpresentasi secara performatif oleh para aktor, difungsikan sebagai pusat makna. Strategi penyusunan peristiwa ditampilkan untuk membetot arah persepsi penonton. Dan posisi penonton masih dilihat sebagai realitas sekunder pertunjukan. Pendekatan seperti ini belum mendukung praktik estetika urban yang bersifat disalienasi
MAKNA SIMBOLIK PATUNG MONUMEN RUANG PUBLIK DI KABUPATEN CIANJUR
Patung dan monumen di ruang publik memiliki peran penting dalam merepresentasikan nilai-nilai sosial, sejarah, dan budaya dari sebuah kota (Rachmadi, Hendriyana, & Falah, 2023). Sebagai karya seni rupa yang dapat dinikmati secara langsung oleh masyarakat, patung monumen tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetis dalam tata kota, tetapi juga sebagai media simbolis yang mengkomunikasikan pesan-pesan tertentu kepada publik (Falah, 2021). Monumen sering kali dibangun untuk mengenang peristiwa-peristiwa penting atau tokoh-tokoh yang berjasa, serta mencerminkan identitas dan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakat di sekitarnya (Setiadi, Avianto, & Falah, 2023). Oleh karena itu, memahami makna simbolik dari patung-patung monumen menjadi penting dalam upaya mengungkap pesan-pesan kultural dan sejarah yang terkandung didalamnya.Kabupaten Cianjur, sebagai salah satu wilayah yang kaya akan warisan sejarah dan budaya di Jawa Barat, memiliki sejumlah patung monumen yang tersebar di berbagai lokasi publik. Salah satu yang paling menonjol adalah Patung Monumen Kuda Kosong. Patung ini menarik perhatian karena keunikannya yang tidak menampilkan penunggang, berbeda dengan representasi kuda dalam seni patung tradisi yang umumnya disertai dengan sosok penunggang. Patung Kuda Kosong ini terletak di Jl. Raya Bandung No.47, Ciranjang, Kec. Sukaluyu (persimpangan Jalan Raya Bandung dan Jalan Baru Sukaluyu Cianjur) menjadi landmark penting bagi masyarakat Cianjur. Meskipun telah menjadi bagian integral dari identitas visual kota, pemaknaan simbolik dari patung ini masih jarang dibahas secara mendalam. Hal ini memunculkan pertanyaan tentang apa yang ingin disampaikan oleh patung tersebut dan bagaimana masyarakat Cianjur memaknai keberadaannya
TRADISI LISAN: PERAN FOLKLOR DALAM MELESTARIKAN IDENTITAS BUDAYA KEC. KUMUN DEBAI KOTA SUNGAI PENUH
Warisan kebudayaan yang bersifat moral dan spiritual mengandung informasi berharga tentang konsep dan pola pemikiran, pola tingkah laku, adat-istiadat, sistem peribadatan dan kepercayaan, pendidikan dan tradisi budaya, serta hal-hal lainnya dari kehidupan nenek moyang bangsa Indonesia (Jame Danandjaja, 1984). Warisan budaya merupakan produk atau hasil budaya fisik dari perbedaan tradisi ataupun prestasi-prestasi spiritual yang membangun nilai dari masa lalu sehingga membentuk elemen pokok dalam jati diri suatu kelompok atau bangsa. Artinya, warisan budaya merupakan hasil budaya fisik (tangible) dan nilai budaya (intangible) dari masa lalu (Davison & Conville, 1991). Nilai budaya dari masa lalu (intangible heritage) yang berasal dari budaya Indonesia, terdiri dari: tradisi, cerita rakyat dan legenda, bahasa ibu, sejarah lisan, kreativitas (tari, lagu, drama pertunjukan), kemampuan beradaptasi dan keunikan masyarakat setempat (Galla, 2001). Budaya tak benda berarti budaya yang tidak dapat diraba. Aspek-aspek intangible atau tak benda selalu melekat pada benda budaya yang besifat tangible yaitu yang dapat disentuh, berupa benda kongkret yang merupakan hasil buatan manusia dan dibuat untuk memenuhi kebutuhan tertentu (Wardi, 2019). Setiap orang memiliki hak dan kewajiban untuk memahami, mengapresiasi, dan melestarikan nilai-nilai universal dan budaya lokal indonesia (Ardiwidjaja, 2018). Kegiatan kehidupan yang dilakukan oleh bangsa Indonesia memiliki nilai histori yang berbeda di setiap daerah (Putri Lusianti & Rani, 2012)