Jurnal Universitas Islam Malang
Not a member yet
3345 research outputs found
Sort by
Reflexology therapy in speech delay at Kartini Lawang Kindergarten
Speech delay represents a significant developmental concern in early childhood, as language competence is closely associated with children’s cognitive, social, and emotional growth. If not addressed through appropriate early intervention, speech delay may persist and negatively affect children’s academic readiness and self-confidence. Although conventional speech therapy is widely applied, developmentally appropriate, non-invasive, and emotionally supportive complementary interventions remain limited in early childhood education contexts. This study is therefore important in exploring reflexology therapy as a holistic and child-friendly approach to supporting speech development. The purpose of this study was to explore how reflexology therapy supports the speech development process of children aged 4–5 years experiencing speech delay at Kartini Lawang Kindergarten. A qualitative case study design was employed involving three preschool children identified with expressive and mixed receptive–expressive speech delay. Data were collected through participatory observation, semi-structured interviews with teachers and parents, and documentation. Data analysis followed the interactive model of Miles and Huberman, including data reduction, data display, and conclusion drawing, with source triangulation to ensure trustworthiness. The findings revealed that reflexology therapy contributed to improved emotional regulation, behavioral readiness, and verbal responsiveness. Children demonstrated clearer articulation, increased vocabulary use, better comprehension of simple instructions, and greater confidence in verbal interaction, although individual progress varied. The discussion indicates that reflexology supports speech development indirectly by enhancing neurological readiness and emotional stability. In conclusion, reflexology therapy functions as an effective complementary intervention that supports early childhood speech development and offers a practical contribution to holistic and inclusive educational practices
Strategic leadership strategies of village heads in driving sustainable tourism village development
The transformation of a village into a tourist village is a complex and multidimensional process that requires effective leadership, community empowerment, and synergy among local stakeholders. This study aims to analyze the role of the village head in directing policies, managing community participation, and optimizing local resources in the transformation of Lerep Village, Semarang Regency, into a community-based tourism destination. Using a qualitative approach with a case study design, data were collected through in-depth interviews with the village head, community leaders, and tourism practitioners; participatory observations of village activities; and analysis of policy documents and empowerment programs. Data analysis was conducted using the Miles and Huberman (1984) model, involving data reduction, presentation, and conclusion drawing with source, technique, and time triangulation to enhance the validity of the findings. The results of the study show that the leadership of the village head is both participatory and transformational. Participatory leadership is reflected in village deliberation forums and inclusive decision-making mechanisms, while transformational leadership is seen in the development of unique tourism products, community-based training, and cross-sector collaborations that strengthen community independence. The combination of these two leadership styles increases citizen participation, strengthens local institutions, encourages innovation, and produces positive socio-economic impacts, such as increased income for micro-enterprises and strengthened social cohesion. In conclusion, the role of the village head is not only as an administrative figure but also as a catalyst for change capable of integrating the values of mutual cooperation with modern leadership strategies. This study contributes to the development of a tourism village leadership model that can be applied in various other contexts to promote inclusive, participatory, and sustainable village development
The geopolitics of economic sanctions relief: U.S. strategic recalibration in a post-regime collapse scenario in Syria
Existing research on US-Syria relations has mostly focused on strategic control and the effectiveness of sanctions under the Assad regime, leaving a theoretical gap regarding diplomatic adjustments during sudden power transitions. This study attempts to examine the strategic factors behind the US decision to lift the Caesar Act sanctions, especially after the collapse of the regime at the end of 2024. Using scenario-based qualitative analysis of diplomatic communications and this study interprets policy shifts through the lens of Structural Realism. This study shows that the rapid relocation of relations was not only driven by the lifting of international sanctions on Syria, but also by the structural imperative to fill the regional power vacuum left by the retreat of Russia and Iran. A deeper examination identifies a unique path, as economic relaxation serves to integrate the transitional government into the framework of Western security architecture, thereby counterbalancing rival hegemonies. This article concludes that in a post-conflict anarchic system, major powers use the issue of sanctions relief as a flexible state tool rather than to maintain rigid legal mechanisms, and that the sustainability of reconciliation depends on the transitional authority's ability to maintain internal legitimacy in the face of new security dilemmas
Metode ecobrik sebagai solusi inovatif terhadap dampak lingkungan
Ecobrick merupakan metode daur ulang sampah plastik dengan cara memadatkannya ke dalam botol plastik bekas hingga menjadi bahan bangunan atau kerajinan, seperti pot bunga dan pagar tanaman. Tahapan pelaksanaan ecobrick dilakukan dalam beberapa tahapan antara lain sosialisasi dan penyuluhan; pelatihan pembuatan ecobrick; pendampingan teknis; pembuatan produk dari ecobrick, dan evaluasi. Selain dosen dan Mahasiswa, kegiatan ini dilakukan oleh warga dan anak-anak sekolah, kegiatan yang dilakukan antara lain pembersihan serta pemilahan plastik, pemotongan menjadi ukuran kecil, dan pemadatan ke dalam botol menggunakan tongkat kayu. Desa Taman Agung, Kecamatan Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan selama ini menghasilkan sampah sekitar 75 kg, dengan jumlah yang dihasilkan tersebut sampah plastik yang diolah menjadi 210 ecobrick. Produk tersebut kemudian dimanfaatkan untuk membuat pot bunga serta pagar tanaman di lingkungan desa. Evaluasi kegiatan ini dilakukan melalui observasi dan kuesioner sederhana kepada yang terlibat, hasil yang didapat yaitu menunjukkan peningkatan kesadaran masyarakat hingga 68% terhadap pentingnya pengelolaan sampah berkelanjutan. Selain efektif menekan volume sampah plastik, ecobrick juga berkontribusi mencegah pelepasan CO₂ dari degradasi plastik sehingga mendukung mitigasi perubahan iklim, sekaligus menjadi sarana edukasi praktis bagi generasi muda
Penggunaan mesin pencacah sampah untuk pengelolaan sampah organik menuju sanitasi sehat dan aman
Permasalahan pengelolaan sampah di Desa Suko meliputi frekuensi pengangkutan yang kurang memadai dan kebiasaan membakar sampah, menyebabkan pencemaran udara. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengelolaan sampah organik dengan mengoptimalkan mesin pencacah sampah untuk menghasilkan pupuk kompos dan pupuk cair bernilai ekonomi. Metode yang digunakan adalah pendekatan partisipatif berupa sosialisasi, pelatihan teknis pengoperasian mesin, serta pendampingan pemilahan dan pengumpulan sampah organik. Data kuantitatif dikumpulkan melalui pengukuran volume sampah sebelum dan sesudah kegiatan serta berat pupuk yang dihasilkan. Hasil menunjukkan penurunan volume sampah organik sebanyak 35% dari total 2 ton selama tiga bulan, dan produksi pupuk kompos sebanyak 10 kg yang digunakan oleh masyarakat. Partisipasi warga meningkat hingga 70%, dengan perubahan perilaku pengelolaan sampah rumah tangga yang signifikan. Secara sosial-ekonomi, program membuka peluang usaha pupuk organik dan memperkuat kerja sama masyarakat setempat. Keberlanjutan dijamin melalui pemanfaatan dan pemasaran pupuk, serta rencana replikasi program di desa sekitar sebagai model pengelolaan sampah terintegrasi untuk peningkatan kualitas lingkungan dan kesejahteraan masyarakat
Pengembangan website dan e-library: Pemberdayaan sekolah melalui digitalisasi layanan
Transformasi digital pendidikan menjadi kebutuhan mendesak agar sekolah mampu menyediakan layanan yang efisien, transparan, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi. Namun, di MTs Al-Falah Kotabaru Karawang, sebagian besar layanan administrasi dan perpustakaan masih berjalan manual meskipun infrastruktur dasar seperti internet dan komputer sudah tersedia. Kondisi ini menyebabkan rendahnya efisiensi kerja dan terbatasnya akses siswa terhadap bahan bacaan digital. Program pengabdian ini bertujuan mengembangkan website sekolah dan e-library sebagai sarana digitalisasi administrasi sekaligus peningkatan literasi digital warga sekolah. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan partisipatif melalui lima tahapan: perencanaan, pengembangan, implementasi, evaluasi, dan keberlanjutan. Evaluasi dilakukan dengan observasi, kuesioner, dan refleksi partisipatif untuk mengukur efektivitas program. Hasil kegiatan menunjukkan terbentuknya website sekolah yang responsif, sistem e-library dengan 150 koleksi digital, serta peningkatan keterampilan digital 21 tenaga pendidik dan kependidikan. Efisiensi administrasi meningkat hingga 50% berdasarkan laporan staf tata usaha, sedangkan tingkat kepuasan pengguna terhadap sistem mencapai 100% dari target 85%. Selain itu, terbentuk tim pengelola internal yang mampu menjaga keberlanjutan program. Kegiatan ini berkontribusi nyata pada pencapaian Asta Cita pemerintah Indonesia dan SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, khususnya melalui penguatan kapasitas literasi digital dan modernisasi layanan pendidikan di sekolah mitra
Penguatan kompetensi manufaktur berbasis robotik di SMK untuk kesiapan kerja industri 4.0
Pendidikan vokasi SMK menghadapi kesenjangan kompetensi pada teknologi robotika manufaktur. Artikel ini bertujuan mengevaluasi intervensi pembelajaran berbasis collaborative robot (cobot) melalui pengenalan dan praktik terintegrasi. Program mengembangkan teaching aid cobot terintegrasi PLC dan HMI Berbasis IoT serta menerapkan pelatihan intensif dua hari (16 jam) kepada 34 peserta (guru dan siswa) di SMK mitra. Metode mencakup desain pengembangan perangkat, pelatihan berbasis proyek, pendampingan daring, serta evaluasi kuantitatif (pre-test dan post-test) dan umpan balik kuesioner; sebagian peserta mengikuti asesmen sertifikasi pihak ketiga. Hasil menunjukkan peningkatan kompetensi yang signifikan (rata-rata skor post-test melampaui pre-test), dengan sikap dan antusiasme peserta pada kategori tinggi, meski penguasaan teknis masih membutuhkan penguatan praktik. Kebaruan program terletak pada integrasi lowcost teaching aid cobot yang mereplikasi ekosistem otomasi industri (cobot, PLC, HMI) dan skema kemitraan antara SMK, perguruan tinggi, dan industri yang memungkinkan adopsi kurikulum praktik secara berkelanjutan. Disimpulkan bahwa pendekatan ini efektif meningkatkan kompetensi manufaktur berbasis robotik dan kesiapan kerja siswa, serta layak direplikasi dengan penyesuaian konteks dan alokasi waktu praktik tambahan pada aspek teknis
Konten animasi vr edukatif dalam membangun konstruksi sosial realitas moderasi beragama bagi anak usia dini
Fenomena meningkatnya paparan paham keagamaan ekstrem pada anak usia dini menuntut inovasi pendidikan yang mampu menanamkan nilai moderasi beragama sejak awal. Kegiatan pengabdian masyarakat ini merespons kebutuhan tersebut melalui pemanfaatan media Virtual Reality (VR) kartun sebagai sarana pembelajaran interaktif yang kontekstual, menyenangkan, dan relevan dengan karakter digital anak-anak. Program dilaksanakan di TK An Nur Jember, wilayah yang berisiko terhadap infiltrasi ideologi eksklusif, dengan tujuan meningkatkan pemahaman dan kemampuan guru serta anak usia dini dalam membangun sikap moderat dan toleran. Metode yang digunakan adalah pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD), yang berfokus pada optimalisasi potensi lokal melalui kolaborasi antara guru, lembaga pendidikan, dan mitra eksternal Yayasan Dana Sosial Al Falah (YDSF) Jember. Peserta kegiatan meliputi anak usia 4–6 tahun beserta guru sebagai fasilitator pembelajaran. Hasil menunjukkan bahwa penerapan metode ABCD berbasis VR kartun meningkatkan pemahaman anak terhadap nilai-nilai keagamaan moderat, memperkuat sikap toleransi, serta menumbuhkan kesadaran keberagaman melalui pengalaman belajar visual yang menyenangkan. Kolaborasi dengan YDSF memperlihatkan efektivitas sinergi aset teknologi, sosial, dan budaya dalam mendukung pendidikan karakter berbasis nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin. Program ini membuktikan efektivitas ABCD dalam mengintegrasikan potensi lokal dan teknologi digital untuk memperkuat moderasi beragama bagi anak usia dini
Hipnoterapi Islami sebagai intervensi regulasi emosi dan kesejahteraan psikologis remaja
Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan untuk merespons tingginya tekanan emosional yang dialami siswa di SMKS Muhammadiyah Kota Cirebon, khususnya terkait tuntutan akademik, dinamika sosial, dan kondisi keluarga. Program bertujuan meningkatkan kemampuan regulasi emosi dan kesejahteraan psikologis melalui pelatihan hipnoterapi Islami. Sebanyak 28 siswa mengikuti kegiatan dengan desain pra–pasca yang meliputi asesmen awal, sesi pelatihan inti, dan pendampingan. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan catatan lapangan, kemudian dianalisis dengan pendekatan deskriptif kualitatif melalui kategorisasi tematik. Hasil menunjukkan adanya peningkatan pada tiga aspek utama: kesadaran emosi, kemampuan relaksasi, dan kendali perilaku. Secara kuantitatif, 21 siswa (75%) melaporkan penurunan ketegangan emosional, sedangkan observasi guru BK mengonfirmasi peningkatan fokus belajar pada 18 siswa (64%). Analisis kualitatif mengungkap empat tema perubahan: ketenangan fisik, kejernihan kognitif, munculnya kontrol diri, dan peningkatan motivasi belajar. Program ini memberikan kontribusi praktis bagi sekolah dalam menyediakan intervensi berbasis nilai-nilai Islam untuk mendukung kesehatan mental remaj
ANALYSIS OF THE IMPLEMENTATION OF THE INDONESIA MUSLIM TRAVEL INDEX (IMTI) STANDARD IN THE DEVELOPMENT OF HALAL TOURISM DESTINATIONS AT GENTONG MAS TOURISM SITE, WAJAK DISTRICT, MALANG REGENCY
This research aims to analyze the implementation of the Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) standards in developing a halal tourism destination at Gentong Mas Tourism Site, Wajak District, Malang Regency. A qualitative approach was employed using interviews and direct observations involving managers, employees, and visitors. The study focused on four main IMTI parameters: access, communication, environment, and services. The findings indicate that the implementation of halal tourism standards at Gentong Mas has covered several essential aspects, such as providing prayer facilities, halal-certified restaurants, and Islamic-based services. However, challenges remain in terms of accessibility, particularly in transportation to the site, which still requires improvement. The communication aspect also needs enhancement, especially in digital information availability and stakeholders’ understanding of halal tourism principles. In terms of environment, there has been an increase in domestic visitor arrivals and a strong commitment to developing halal tourism, although supporting facilities like Wi-Fi still need optimization. Regarding services, halal facilities are available but not yet fully compliant with IMTI standards, particularly concerning cleanliness and Islamic accommodation standards. Overall, this study concludes that Gentong Mas Tourism has significant potential to become a leading halal tourism destination in Malang Regency if it can optimize the IMTI standards through enhanced facilities, services, and Sharia-based management practices