Jurnal Universitas Islam Malang
Not a member yet
3345 research outputs found
Sort by
FORTIFIKASI SOSIS AYAM DENGAN PENAMBAHAN TEPUNG DAUN KATUK SEBAGAI BAHAN PANGAN FUNGSIONAL DITINJAU DARI KUALITAS FISIKOKIMIA DAN MUTU ORGANOLEPTIK
Sosis adalah makanan olahan dari daging yang dicincang, dihaluskan dengan bahan lain dan rempah-rempah, kemudian dimasukkan ke dalam selongsong. Sosis termasuk produk fast food karena memiliki kalori dan lemak yang tinggi dan rendah serat. Daun katuk dapat digunakan sebagai bahan tambahan dalam pengolahan daging karena daun katuk memiliki kadar serat yang tinggi dan baik untuk ibu menyusui. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui persentase penambahan tepung daun katuk yang terbaik pada fortifikasi sosis ayam yang ditinjau dari kualitas fisikokimia dan mutu organoleptik. Sosis ayam dibuat dari daging ayam pedaging dengan penambahan tepung daun katuk sesuai perlakuan yaitu 0% (P0), 1% (P1), 3% (P2), dan 5% (P3). Penelitian ini menggunakan metode percobaan laboratorium dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Variabel yang diamati meliputi kadar serat, pH, DIA, dan mutu organoleptik. Data dianalisis dengan menggunakan analisis ragam (ANOVA) single-factor dan dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan (UJBD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan tepung daun katuk memberikan pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) terhadap kadar serat dan organoleptik, namun tidak memberikan pengaruh yang nyata (P>0,05) terhadap pH dan DIA. Nilai rata-rata kadar serat yaitu 0,11-0,60%, pH 6,24-6,25, DIA 45,49-49,76%, warna dengan skor 1,67-4,44, aroma dengan skor 1,82-4,48, rasa dengan skor 1,79-4,27, dan tekstur dengan skor 2,44-3,46. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa hasil perlakuan terbaik ditunjukkan pada perlakuan penambahan tepung daun katuk pada sosis ayam sebanyak 5% (P3) berdasarkan kualitas fisikokimia, namun P1 lebih banyak disukai oleh panelis karena tidak berbau langu dan tekstur masih kenyal
Innovative strategies for teaching English in special school: Teachers’ experiences and voices
Teaching English to students with special needs is certainly not an easy way. So, teachers need to use teaching methods that best suit their students’ conditions. Therefore, this research aims to explore how teachers design English teaching methods and their implementation. Apart from that, this research also describes the challenges faced by English teachers in special schools (SLB). This research was conducted at SLB-AC Dharma Wanita Sidoarjo Regency. The participants in this research were English teachers at junior high schools. This qualitative research uses interview and observation data collection techniques. The results of this research show that teachers use various methods adapted to students’ ability levels, including severe, mild, and special classes, according to their needs. The methods applied reflect awareness of the importance of individualization to support special needs students in learning English. Challenges faced by teachers, such as grouping students based on ability, handling students’ moods, and preparing appropriate learning materials, were also issues found in this research. The results of this research imply that teachers must understand that each student has special needs
Edukasi bahan tambahan pangan dan penerapannya dalam minuman fungsional pada santri putri
Bahan tambahan pangan (BTP) adalah suatu bahan dalam makanan atau minuman yang sengaja ditambahkan untuk mempengaruhi dan menambah cita rasa, tekstur, warna, dan tampilan suatu produk makanan. Banyak pihak menyalahgunakan bahan kimia berbahaya sebagai Bahan Tambahan Pangan (BTP) untuk meraup keuntungan besar tetapi menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan. Berdasarkan kondisi tersebut maka perlu dilakukan penyuluhan mengenai BTP yang diizinkan serta penerapannya kepada santri khususnya kategori pewarna. Metode pengumpulan data diawali dengan kegiatan pemberian materi dan demonstrasi dilanjutkan dengan praktik pembuatan minuman fungsional dengan pewarna bunga telang. Evaluasi kegiatan dilaksanakan berdasarkan nilai pre-test dan post-test dari jawaban kuesioner untuk mengetahui tingkat pemahaman santri tentang BTP. Hasil pre-test dan post-test dianalisa menggunakan uji t berpasangan dengan signifikasi (p<0.05). Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan santri terhadap BTP sebesar 17 % berdasarkan nilai post-test dan nilai pre-test. Nilai kategori baik dan cukup pada post-test mengalami peningkatan dibandingkan nilai pre-test. Hasil kegiatan ini menunjukkan antusiasme peserta dalam mengikuti edukasi dan praktik pembuatan minuman fungsional. Kegiatan edukasi meningkatkan tingkat pengetahuan santri tentang BTP dan penerapanya pada pembuatan produk minuman fungsional
Penguatan literasi digital guru pesantren melalui edukasi media pembelajaran interaktif dengan google site dan PhET: Meningkatkan keterampilan mengajar dalam konteks pendidikan pesantren
Literasi digital di kalangan guru pesantren masih menghadapi tantangan, terutama dalam pemanfaatan media pembelajaran interaktif. Penelitian ini bertujuan untuk memperkuat literasi digital guru pesantren melalui pelatihan penggunaan media pembelajaran interaktif berbasis Google Sites dan PhET. Hasil pelatihan menunjukkan bahwa 80% peserta mengalami peningkatan kepercayaan diri dalam mengoperasikan kedua alat tersebut. Google Sites dan PhET dinilai efektif dalam mendukung pembelajaran, khususnya pada mata pelajaran sains yang membutuhkan pendekatan visual dan eksperimen. Namun, ditemukan beberapa kendala teknis, seperti kesulitan dalam pembuatan situs pembelajaran yang efektif, yang menunjukkan perlunya dukungan tambahan pada tahap implementasi dan pasca-pelatihan. Meskipun keterampilan teknis guru meningkat, evaluasi lebih lanjut diperlukan untuk mengukur dampak jangka panjang terhadap kualitas pembelajaran di pesantren, terutama dengan melibatkan siswa sebagai responden dalam analisis. Secara keseluruhan, penggunaan Google Sites dan PhET menunjukkan potensi besar dalam meningkatkan interaktivitas serta pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran. Untuk menjaga keberlanjutan manfaat pelatihan, direkomendasikan pelatihan lanjutan, forum diskusi, dan pengembangan berkelanjutan media berbasis teknologi dalam mendukung pengajaran yang lebih efektif di lingkungan pesantren
Leveraging BiLSTM for Deep Learning-Based Mental Health Chatbots
The high prevalence of mental health issues and limited access to professional information and support have driven the search for innovative solutions. One promising approach is the development of chatbot systems that provide quick and accessible mental health information. This study evaluates the performance of the Bidirectional Long Short-Term Memory (BiLSTM) algorithm in identifying and classifying user inputs within a mental health chatbot system. BiLSTM is chosen for its ability to process sequential data in both directions, allowing it to capture context more effectively than unidirectional models and better understand user intent. Deep learning methods like BiLSTM have also demonstrated higher accuracy compared to traditional machine learning models. This study focuses solely on BiLSTM to evaluate its performance in this context. The mental health dataset used in this study was sourced from previous research published on the GitHub platform and contains 100 classes of mental health-related questions and statements. This dataset was used to train the BiLSTM model to recognize user intent and generate relevant responses. The model achieved 98% accuracy on the training data. For evaluation on the test set, a confusion matrix was used, yielding an accuracy of 82%. The chatbot is implemented as a web-based application using a Python framework and is designed to provide users with insights and knowledge through text-based interactions. These results highlight the potential of the BiLSTM-based chatbot system to deliver effective and efficient mental health information service
Dual-Track Model for Resolving Disputes Over Late Payment of Soccer Players' Salaries (Study of Labor Law and FIFA Regulations)
Cases of late payment of salaries by football clubs to professional football players often raise confusion regarding the legal forum that should be chosen, namely whether the dispute should be resolved through labor law or FIFA regulations. This study aims to formulate a dual-track model for resolving wage payment disputes through the perspective of national labor law and FIFA regulations. The method used is a normative legal approach combining the statute approach and case approach. This study’s innovation offers a dual-track dispute resolution model for football players’ wages, combining national mechanisms (labor law and Resolution of Industrial Relations) and international mechanisms (FIFA regulations and DRC). The research findings indicate that dispute resolution through Resolution of Industrial Relations tends to be slow, while FIFA's DRC is faster but less accessible for local players. This study proposes a harmonious dual-track model by integrating national and international.Kasus keterlambatan pembayaran gaji oleh klub sepak bola kepada pemain sepak bola profesional sering memunculkan kebingungan mengenai forum hukum yang harus dipilih, yaitu apakah penyelesaian harus ditempuh dengan hukum ketenagakerjaan atau regulasi FIFA. Penelitian ini bertujuan merumuskan model dual-track penyelesaian sengketa keterlambatan gaji melalui perspektif hukum ketenagakerjaan nasional dan regulasi FIFA. Metode yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan kasus. Pembaharuan penelitian ini menawarkan model penyelesaian sengketa gaji pemain sepak bola melalui pendekatan jalur ganda (dual-track) yang menggabungkan mekanisme nasional (hukum ketenagakerjaan dan PHI) dan internasional (regulasi FIFA dan DRC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyelesaian sengketa melalui PHI cenderung lambat, sedangkan DRC FIFA lebih cepat namun kurang terjangkau bagi pemain lokal. Penelitian ini menawarkan model dual-track yang harmonis dengan mengintegrasikan mekanisme nasional dan internasional
Buku saku “kader hebat, ibu nifas sehat”: Media pemberdayaan kader posyandu untuk meningkatkan pengetahuan kesehatan ibu nifas
Angka kematian ibu pada masa nifas masih menjadi tantangan serius di Indonesia, termasuk di wilayah Kelurahan Semanggi, Kota Surakarta. Rendahnya tingkat kunjungan ibu nifas ke fasilitas kesehatan serta minimnya media edukasi yang digunakan kader posyandu menjadi salah satu penyebab terjadinya komplikasi nifas. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan kader posyandu melalui sosialisasi dan penggunaan media edukasi berupa buku saku “Kader Hebat, Ibu Nifas Sehat”. Kegiatan dilakukan dengan metode Participatory Action Research (PAR), melibatkan 30 kader kesehatan, dosen, mahasiswa, serta bidan wilayah. Sosialisasi dan refreshing materi disampaikan melalui ceramah interaktif dan demonstrasi teknik menyusui. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan signifikan pengetahuan kader dari 53,33% menjadi 90% setelah intervensi, dengan p-value 0,000. Mayoritas kader menyatakan buku saku mudah digunakan (97%) dan mudah dibawa (100%). Peningkatan pengetahuan ini berkontribusi langsung terhadap kualitas edukasi yang diberikan kepada ibu nifas, khususnya dalam deteksi dini dan pencegahan komplikasi pasca persalinan. Dengan informasi yang lebih sistematis dan berbasis bukti, kader dapat menyampaikan edukasi secara efektif, baik di posyandu maupun dalam kunjungan rumah. Program ini berpotensi meningkatkan derajat kesehatan ibu nifas dan kualitas layanan kesehatan masyarakat. Untuk keberlanjutan, diperlukan perluasan jangkauan media serta pelibatan kader secara lebih luas agar manfaat program dapat dirasakan secara menyeluruh di tingkat komunitas
Exploring EFL speaking anxiety among junior high school students: Levels, contributing factors, and coping strategies
While numerous studies have examined foreign language speaking anxiety at the university setting, research focusing on younger learners remains limited. This study addresses that gap by exploring the triggers and coping strategies to mitigate foreign language speaking anxiety among junior high school students. Exploring these two areas provides the avenue for wider opportunities of reaching higher proficiency levels at later stages, while allowing the identification of age- and gender-supportive coping strategies. Employing a mixed-method design, data were gleaned from questionnaires and semi-structured interviews involving six students—three male and three female—recruited after pondering their high rate of anxiety as measured by the Foreign Language Classroom Anxiety Scale (FLCAS). A content analysis revealed seven primary causes of anxiety: lack of vocabulary, performing in front of the class, fear of being laughed at, fear of making mistakes, fear of mispronouncing a word, fear of being the focus of attention, and fear of failure in English tests. Students adopted various coping strategies, including self-reassurance, calming techniques, and peer support. These findings highlight the need for teachers to recognize anxiety symptoms and implement fun and supportive strategies in the classroom. This study seeks to facilitate the students in overcoming and reducing the English-speaking anxiety they experienced during classroom practice. Due to the absence of in-depth investigation on the strategies to address anxiety, future researchers are advised to investigate the strategies that students engage in regulating their foreign language speaking anxiety and identify the coping mechanisms found most impactful in reducing anxiety levels
Penguatan kepercayaan diri dan partisipasi komunitas perempuan melalui pelatihan public speaking
Keterampilan public speaking merupakan aspek penting dalam membangun kepercayaan diri dan partisipasi aktif dalam kehidupan sosial. Namun, masih banyak komunitas perempuan di pedesaan yang menghadapi kendala dalam berbicara di depan umum akibat kurangnya pelatihan formal. Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan diri dan kemampuan berbicara di depan umum melalui pelatihan public speaking bagi anggota komunitas perempuan. Kegiatan dilaksanakan dengan metode partisipatif yang mencakup empat tahapan, yaitu: persiapan, pelaksanaan, evaluasi, dan refleksi partisipatif. Pelatihan dilangsungkan secara tatap muka dan melibatkan 23 peserta yang mengikuti serangkaian materi dan praktik intensif. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan signifikan pada pemahaman dan keterampilan peserta, sebagaimana ditunjukkan oleh perbandingan nilai pre-test dan post-test. Nilai rata-rata peserta meningkat dari 71,3 menjadi 88,3 setelah pelatihan. Temuan ini mengindikasikan bahwa pelatihan public speaking secara terstruktur mampu meningkatkan kepercayaan diri serta kesiapan peserta untuk terlibat aktif dalam kegiatan komunitas. Program ini menunjukkan kontribusi nyata dalam pemberdayaan komunikasi masyarakat dan dapat direplikasi di komunitas serupa dengan penyesuaian konteks lokal
Penguatan kapasitas kelompok PKK melalui penyusunan proposal kegiatan sosial
Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas anggota PKK dalam menyusun proposal kegiatan sosial yang sistematis dan sesuai standar perencanaan. Pendekatan yang digunakan adalah Participatory Action Research (PAR), dilaksanakan selama dua hari melalui sesi pelatihan, diskusi kelompok, praktik penyusunan proposal, dan evaluasi berbasis pre-test dan post-test. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman peserta secara signifikan, dengan rata-rata skor pre-test sebesar 58,2 meningkat menjadi 83,6 pada post-test (kenaikan 43,6%). Selain itu, 100% peserta berhasil menyusun draft proposal sederhana, dan 85% di antaranya memenuhi standar kelayakan untuk diajukan ke pemerintah kabupaten. Kegiatan ini tidak hanya berdampak pada peningkatan keterampilan teknis, tetapi juga memperkuat partisipasi aktif mitra dalam proses perencanaan pembangunan desa. Implikasi jangka panjang dari kegiatan ini mencakup potensi replikasi di wilayah lain serta penguatan kelembagaan PKK sebagai aktor lokal yang strategis. Tindak lanjut dirancang dalam bentuk pelatihan lanjutan dan pembentukan tim internal PKK untuk advokasi program kabupaten berbasis proposal