Jurnal Universitas Islam Malang
Not a member yet
3345 research outputs found
Sort by
Pemberdayaan masyarakat berbasis energi surya untuk mendukung desa cerdas energi dan meningkatkan kesejahteraan
Sebagian besar wilayah pedesaan di Indonesia masih menghadapi keterbatasan akses listrik yang menghambat aktivitas ekonomi, sosial, dan keamanan masyarakat pada malam hari. Kondisi ini menuntut solusi energi alternatif yang berkelanjutan, mudah diimplementasikan, dan ramah lingkungan. Program ini bertujuan mengimplementasikan teknologi panel surya sebagai sumber penerangan jalan sekaligus meningkatkan kapasitas masyarakat desa dalam pengelolaan energi terbarukan secara mandiri. Metode yang digunakan adalah Participatory Rural Appraisal (PRA) melalui tahapan identifikasi kebutuhan energi, pelatihan teknis mengenai prinsip kerja dan perawatan panel surya, pendampingan instalasi sistem, serta evaluasi hasil menggunakan instrumen pretest–posttest terhadap 35 peserta. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan signifikan pada pengetahuan faktual (rata-rata skor meningkat dari 1,92 menjadi 3,25) serta sikap dan persepsi terhadap energi bersih (dari 2,45 menjadi 3,82). Peningkatan ini mencerminkan efektivitas pendekatan partisipatif dalam meningkatkan literasi energi dan kesiapan masyarakat mengelola teknologi surya secara berkelanjutan. Secara sosial, program berdampak pada meningkatnya keamanan lingkungan dan produktivitas ekonomi malam hari, sementara secara kebijakan, kontribusinya selaras dengan SDG 7 (Energi Bersih dan Terjangkau). Dengan demikian, model pemberdayaan ini berpotensi direplikasi di wilayah pedesaan lain sebagai strategi transisi menuju masyarakat energi mandiri dan berkelanjutan
Sustainable technology empowerment in functional beverage production
This community service program was aimed at improving the local functional beverage businesses and was focused on the application of a vacuum evaporator as a relevant technology to improve the sustainability and competitiveness of local functional beverage industries. This was a continuation of the program where a sugarcane juice extractor was developed to produce syrup as the base material. Specifically, the goals of the current initiative were 1) improvement of the efficiency of production and quality of the end products, 2) the development of syrup based functional beverages that could be enriched with local nutritious materials, and 3) the empowerment of local entrepreneurs, farmer groups, and women’s groups on value-added processing. The project was implemented through participatory training, demonstration of the technology, and hands-on workshops to 40 community members which included, lecturers, students, community leaders and MSME actors. After the vacuum evaporator was installed, there was a 60% reduction in the heating time, a 75% increase in production capacity and syrup viscosity and stability were improved without loss of flavor. As part of preparing tangible outputs, training materials, SOPs, and documentation of prototypes were also prepared. The program achieved enhanced product marketplace and raised MSME income and awareness on sustainable processing. In community-based entrepreneurship, the application of vacuum evaporation community technology demonstrated positive outcomes and innovation of functional beverages
Skrining kesehatan dan edukasi gaya hidup sehat untuk pengendalian risiko hipertensi
Hipertensi tetap menjadi masalah kesehatan global dengan prevalensi yang terus meningkat, termasuk di Indonesia dan Aceh. Faktor gaya hidup—merokok, konsumsi kopi, dan rendahnya aktivitas fisik—berkontribusi besar terhadap risiko hipertensi. Kegiatan pengabdian ini bertujuan menilai status kesehatan (IMT, rasio lingkar pinggang-panggul, dan tekanan darah) serta gaya hidup (merokok, aktivitas fisik, konsumsi kopi) masyarakat di Desa Kota Batu, Simeulue Timur, dengan pendekatan Community-Based Participatory Research (CBPR) melibatkan 135 laki-laki usia ≥22 tahun. Program dilakukan melalui tahap persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi, mencakup pemeriksaan kesehatan dan edukasi interaktif tentang risiko gaya hidup tidak sehat. Hasil menunjukkan sebagian besar memiliki IMT normal (57,78%), namun terdapat overweight (16,3%) dan obesitas I (14,8%); RLPP berisiko ditemukan pada 36,30%. Tekanan darah didominasi pra-hipertensi (44,44%), diikuti hipertensi derajat I (12,59%) dan II (7,41%). Rata-rata peserta merokok 12,56 batang/hari selama 10,93 tahun, memiliki aktivitas fisik tinggi (85,19%), serta konsumsi kopi tinggi (85,93%). Edukasi meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pencegahan hipertensi. Kegiatan ini menjadi langkah awal deteksi dini, meningkatkan kesadaran kesehatan dan perilaku positif, serta memperkuat kolaborasi masyarakat, tenaga kesehatan, dan pemerintah desa untuk meningkatkan kesehatan masyarakat pesisir
Pemberdayaan guru TPQ dalam pembelajaran kosakata Arab: Pemanfaatan media visual tematik dengan pendekatan permainan edukatif
Praktik pembelajaran di TPQ lingkungan PCM Kembaran dominan masih bersifat konvensional, seperti metode Iqra' atau Talaqqi yang terfokus pada kemampuan membaca Al-Qur'an, serta metode ceramah dan hafalan. Metode pengajaran bahasa Arab secara sistematis dan kontekstual, terutama pengenalan kosakata (mufrodat), belum menjadi bagian dari kurikulum rutin. Program pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi pedagogik guru dalam menerapkan strategi pembelajaran kosakata yang aktif melalui pelatihan penggunaan media Flashcard KataQu (Kosakata Al-Qur'an) berbasis gamifikasi. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan Participatory Learning and Action (PLA) yang melibatkan 17 guru dari 4 TPQ mitra melalui tahapan: (1) Focus Group Discussion (FGD), (2) Workshop dan simulasi mengajar, serta (3) Pendampingan implementasi. Instrumen pengukuran mencakup tes kognitif, observasi simulasi, dan kuesioner kepuasan yang dianalisis menggunakan uji-t berpasangan (Paired Sample t-test). Hasil program menunjukkan peningkatan signifikan kompetensi guru dengan nilai rata-rata pre-test 75,59 menjadi 87,12 pada post-test (t=66.26; p<0.05), serta skor N-Gain 0,49 (kategori sedang). Selain luaran fisik berupa 21 set flashcard terintegrasi ayat Al-Qur'an dan modul panduan, program ini menghasilkan luaran non-fisik berupa transformasi perilaku mengajar guru dari pasif menjadi fasilitator permainan interaktif. Keberlanjutan program dijamin melalui komitmen mitra untuk mengintegrasikan media ini ke dalam kurikulum rutin serta hibah aset media ajar. Secara sintesis, integrasi media visual kontekstual efektif merevitalisasi pembelajaran di TPQ menjadi lebih partisipatif tanpa meninggalkan nilai religiusitas kurikulum
CHILDFREE BY CHOICE: A SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW ON ISLAMIC PERSPECTIVES AND SOCIO-CULTURAL DYNAMICS IN INDONESIA
The childfree lifestyle has emerged as a controversial phenomenon in Indonesia, particularly among millennials, challenging traditional Islamic values that emphasize procreation and family continuity. This study systematically explores the childfree phenomenon within an Islamic framework, examining its theological permissibility and adoption patterns in Indonesia. Using the Systematic Literature Review (SLR) method with content analysis, this research systematically reviewed 25 journal articles published between 2018 and 2023, selected through PRISMA guidelines. The analysis reveals that while Islam permits temporary birth control methods such as ‘azl and contraceptives for legitimate needs within maqasid shari'ah (the objectives of Islamic law), the deliberate and permanent decision to be childfree contradicts the principle of hifz al-nasl (protection of progeny). However, some scholars allow childfree in specific contexts involving urgent needs (maslahah daruriyyah). In Indonesia, the adoption of childfree lifestyle is driven by financial concerns (economic instability and high child-rearing costs), personal desires (preservation of marital intimacy and physical appearance), Western liberal ideologies promoting individualism and population control, and psychological factors including various phobias related to pregnancy and parenting. This creates significant tension with traditional Islamic values emphasizing family continuity. This research contributes to the discourse by bridging Islamic teachings and contemporary socio-cultural dynamics, offering guidance for addressing the challenges posed by the childfree phenomenon in Muslim communities while highlighting the need for balanced approaches that consider both religious principles and modern social realities.
Keywords: Childfree, Islamic Perspektif, Practice in Indonesia.
Abstrak
Gaya hidup childfree telah muncul sebagai fenomena kontroversial di Indonesia, khususnya di kalangan milenial, menantang nilai-nilai Islam tradisional yang menekankan prokreasi dan kelangsungan keluarga. Penelitian ini secara sistematis mengeksplorasi fenomena childfree dalam kerangka Islam, mengkaji kebolehan teologisnya dan pola adopsinya di Indonesia. Menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan analisis konten, penelitian ini meninjau secara sistematis 25 artikel jurnal yang diterbitkan antara tahun 2018 hingga 2023, dipilih menggunakan pedoman PRISMA. Analisis menunjukkan bahwa Islam mengizinkan penggunaan metode pengendalian kelahiran sementara seperti ‘azl dan kontrasepsi untuk kebutuhan yang sah sesuai dengan prinsip maqasid shari'ah (tujuan hukum Islam), namun keputusan untuk tidak memiliki anak secara permanen bertentangan dengan prinsip hifz al-nasl (perlindungan keturunan). Meskipun demikian, beberapa ulama memperbolehkan childfree dalam konteks tertentu yang melibatkan kebutuhan mendesak (maslahah daruriyyah). Di Indonesia, adopsi gaya hidup childfree didorong oleh pertimbangan ekonomi (ketidakstabilan ekonomi dan tingginya biaya membesarkan anak), keinginan pribadi (mempertahankan keintiman pernikahan dan penampilan fisik), pengaruh ideologi liberal Barat yang mempromosikan individualisme dan kontrol populasi, serta faktor psikologis termasuk berbagai fobia terkait kehamilan dan pengasuhan anak. Hal ini menimbulkan ketegangan signifikan dengan nilai-nilai Islam tradisional yang menekankan kelangsungan keluarga. Penelitian ini memberikan kontribusi dengan menjembatani ajaran Islam dan dinamika sosial-budaya kontemporer, menawarkan panduan untuk menghadapi tantangan yang ditimbulkan oleh fenomena childfree dalam komunitas Muslim sambil menyoroti perlunya pendekatan seimbang yang mempertimbangkan prinsip agama dan realitas sosial modern.
Kata Kunci: Childfree, Hukum Islam, Praktek di Indonesia.Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji fenomena gaya hidup childfree dalam kerangka Islam serta penerapannya di Indonesia, khususnya di kalangan generasi milenial. Menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan analisis konten, penelitian ini meninjau secara sistematis 25 artikel jurnal yang diterbitkan antara tahun 2018 hingga 2023. Literatur dipilih menggunakan pedoman PRISMA, dengan fokus pada perspektif Islam, pengaruh budaya, dan faktor sosial-ekonomi terkait fenomena childfree. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Islam mengizinkan penggunaan metode pengendalian kelahiran sementara, seperti ‘azl dan kontrasepsi, untuk kebutuhan yang sah sesuai dengan prinsip maqasid shari'ah (tujuan hukum Islam). Namun, keputusan untuk tidak memiliki anak secara permanen bertentangan dengan prinsip hifz al-nasl (perlindungan keturunan). Di Indonesia, adopsi gaya hidup childfree didorong oleh pertimbangan ekonomi, keinginan pribadi, dan pengaruh ideologi liberal Barat, yang menimbulkan ketegangan dengan nilai-nilai Islam tradisional. Penelitian ini memberikan kontribusi dengan menjembatani ajaran Islam dan dinamika sosial-budaya kontemporer, serta menawarkan panduan untuk menghadapi tantangan yang ditimbulkan oleh fenomena childfree dalam komunitas Muslim
KHITBAH DALAM PERSPEKTIF KAIDAH FIKIH DAN APLIKASINYA
Khitbah is a pre-marital stage that has an important position in Islamic law, but in contemporary practice it often undergoes shifts in meaning and function, especially in the context of social media-based engagements, the giving of dowry before the contract, and the cancellation of proposals that trigger social conflict. This study aims to analyze contemporary khitbah practices through the perspective of fiqh principles and assess their relevance in responding to modern social issues. This study uses a qualitative-descriptive method with a literature review approach, through analysis of classical fiqh books, scientific journals. The results show that khitbah is legally permissible and not legally binding, but has significant moral and social consequences. The novelty of this research lies in the formulation of a normative framework based on fiqh principles specifically al-aṣl fī al-ashyā’ al-ibāhah, al-ḍarar yuzāl, al-yaqīn lā yazūl bi al-shakk, and al-‘ādah muḥakkamah as analytical instruments for assessing contemporary khitbah practices in context. These findings contribute to clarifying the ethical and legal boundaries of khitbah in the modern era and offer an adaptive fiqh approach to managing the premarital social dynamics of Muslim societies.
Keywords: Khitbah, Fiqh Rules, Pre-Marital Practices, Islamic Law.
Abstrak
Khitbah merupakan tahapan pra-nikah yang memiliki kedudukan penting dalam hukum Islam, namun dalam praktik kontemporer sering mengalami pergeseran makna dan fungsi, terutama dalam konteks pertunangan berbasis media sosial, pemberian mahar sebelum akad, serta pembatalan lamaran yang memicu konflik sosial. Penelitian ini bertujuan menganalisis praktik khitbah kontemporer melalui perspektif kaidah fikih serta menilai relevansinya dalam merespons persoalan sosial modern. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif dengan pendekatan studi kepustakaan, melalui analisis terhadap kitab fikih klasik, jurnal ilmiah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa khitbah secara hukum bersifat mubah dan tidak mengikat secara legal, namun memiliki konsekuensi moral dan sosial yang signifikan. Kebaruan penelitian ini terletak pada formulasi kerangka normatif berbasis kaidah fikih, khususnya al-aṣl fī al-ashyā’ al-ibāhah, al-ḍarar yuzāl, al-yaqīn lā yazūl bi al-shakk, dan al-‘ādah muḥakkamah sebagai instrumen analitis untuk menilai praktik khitbah kontemporer secara kontekstual. Temuan ini berkontribusi dalam memperjelas batas etika dan hukum khitbah di era modern serta menawarkan pendekatan fikih yang adaptif dalam mengelola dinamika sosial pra-nikah masyarakat Muslim.
Kata kunci: Khitbah, Kaidah Fikih, Praktik Pra-Nikah, Hukum IslamKhitbah merupakan tahapan penting dalam proses pra-nikah yang berfungsi sebagai pengantar menuju akad pernikahan. Dalam perkembangan masyarakat modern, praktik khitbah sering kali mengalami pergeseran makna dan bentuk, seperti munculnya pertunangan di media sosial, pemberian mahar sebelum akad, hingga pembatalan lamaran yang menimbulkan sengketa sosial. Fenomena ini menunjukkan adanya kebutuhan untuk meninjau ulang khitbah melalui perspektif kaidah fikih agar tetap berada dalam koridor syariat. Rumusan masalah penelitian ini mencakup: bagaimana konsep khitbah dipahami dalam fikih Islam dan bagaimana penerapan kaidah fikih seperti al-aṣl fī al-ashyā’ al-ibāhah, al-ḍarar yuzāl, al-yaqīn lā yazūl bi al-shakk, dan al-‘ādah muḥakkamah dalam praktik khitbah kontemporer. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan landasan hukum khitbah serta menilai relevansi kaidah fikih terhadap persoalan modern yang muncul dalam praktik lamaran. Metode yang digunakan ialah kualitatif-deskriptif dengan pendekatan studi kepustakaan, melalui analisis terhadap kitab-kitab fikih klasik, jurnal ilmiah, serta regulasi hukum keluarga di Indonesia, Malaysia, dan Mesir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa khitbah secara hukum bersifat mubah dan tidak mengikat secara legal, namun memiliki dimensi moral yang kuat. Penerapan kaidah fikih memberikan kerangka normatif untuk menjaga keseimbangan antara kebebasan sosial dan batasan syariat. Dengan demikian, pemahaman khitbah berbasis kaidah fikih tidak hanya menjaga nilai-nilai agama, tetapi juga relevan dalam mengatur dinamika sosial masyarakat Muslim modern.
Kata kunci: Khitbah, kaidah fikih, hukum Islam
Pembaruan Hukum Keluarga Islam di Indonesia melalui Rekontekstualisasi Lima Kaidah Fiqih Dasar: Perspektif Teori Istiṣlāḥ
Social transformation, changing gender relations, and the development of national law require continuous reform of Islamic family law in Indonesia to ensure its relevance and substantive justice. Islamic family law can no longer be understood merely through a textual approach but must be recontextualized by prioritizing maṣlaḥah as the primary objective of Islamic law. This study addresses the central question of how the recontextualization of the five fundamental fiqh maxims al-umūr bi maqāṣidihā, al-yaqīn lā yazūlu bi al-syakk, al-masyaqqah tajlibu al-taysīr, lā ḍarar wa lā ḍirār, and al-‘ādah muḥakkamah contributes to the reform of contemporary Islamic family law in Indonesia through the theoretical framework of istiṣlāḥ. The research aims to analyze the role of these fiqh maxims as methodological instruments in constructing an adaptive, just, and maqāṣid-oriented Islamic family law that aligns with Indonesia’s positive legal system. This study employs a normative juridical method with conceptual and statutory approaches, examining Law No. 1 of 1974 on Marriage, the Compilation of Islamic Law (KHI), religious court decisions, as well as classical and contemporary fiqh literature. The findings indicate that the recontextualization of the five fundamental fiqh maxims based on istiṣlāḥ theory strengthens substantive justice, legal certainty, protection of vulnerable parties, and legal flexibility in responding to modern socio-legal realities. The novelty of this research lies in positioning the five fiqh maxims as an integrated methodological framework for Islamic family law reform in Indonesia, rather than merely as normative principles, thereby offering both theoretical and practical contributions to the development of a more humanistic and contextual Islamic family law system.
Keywords: Recontextualization, Fiqh Maxims, Istiṣlāḥ, Islamic Family Law, Maqāṣid al-Sharī‘ah.
Abstrak
Perkembangan sosial, perubahan relasi gender, serta dinamika hukum nasional menuntut adanya pembaruan hukum keluarga Islam di Indonesia agar tetap relevan dan berkeadilan. Hukum keluarga Islam tidak lagi cukup dipahami secara tekstual, tetapi perlu direkontekstualisasikan dengan mempertimbangkan kemaslahatan sebagai tujuan utama syariat. Permasalahan utama penelitian ini adalah bagaimana rekontekstualisasi lima kaidah fiqih dasar al-umūr bi maqāṣidihā, al-yaqīn lā yazūlu bi al-syakk, al-masyaqqah tajlibu al-taysīr, lā ḍarar wa lā ḍirār, dan al-‘ādah muḥakkamah dapat berkontribusi terhadap pembaruan hukum keluarga Islam kontemporer di Indonesia melalui pendekatan teori istiṣlāḥ. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran lima kaidah fiqih tersebut sebagai instrumen metodologis dalam membangun hukum keluarga Islam yang adaptif, berkeadilan, dan selaras dengan maqāṣid al-syarī‘ah serta hukum positif Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan konseptual dan perundang-undangan, melalui analisis terhadap Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, Kompilasi Hukum Islam (KHI), putusan peradilan agama, serta literatur fiqih klasik dan kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rekontekstualisasi lima kaidah fiqih dasar berbasis teori istiṣlāḥ mampu memperkuat prinsip keadilan substantif, kepastian hukum, perlindungan terhadap pihak rentan, serta fleksibilitas hukum keluarga Islam dalam merespons realitas sosial modern. Kebaruan penelitian ini terletak pada penempatan lima kaidah fiqih dasar sebagai kerangka metodologis terpadu dalam pembaruan hukum keluarga Islam di Indonesia, bukan sekadar sebagai dasar normatif, sehingga memberikan kontribusi teoretis dan praktis bagi pengembangan hukum keluarga Islam yang lebih humanis dan kontekstual.
Kata kunci: Rekontekstualisasi, Kaidah Fiqih, Istiṣlāḥ, Hukum Keluarga Islam, Maqāṣid al-Syarī‘ah.Penelitian ini mengkaji pembaruan hukum keluarga Islam di Indonesia melalui rekontekstualisasi lima kaidah fiqih dasar dengan menggunakan teori Istiṣlāḥ sebagai pisau analisis. Pendekatan ini bertujuan menegaskan kembali relevansi nilai-nilai fiqih klasik terhadap dinamika sosial dan hukum modern yang berorientasi pada kemaslahatan. Dengan metode yuridis normatif, penelitian ini menganalisis norma-norma hukum Islam dan hukum nasional, khususnya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan serta Kompilasi Hukum Islam (KHI). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rekontekstualisasi lima kaidah fiqih al-yaqīn lā yazūlu bi al-syak, al-masyaqqah tajlibu al-taysīr, al-‘ādah muḥakkamah, lā ḍarar wa lā ḍirār, dan al-umūr bi maqāṣidiha dapat memperkuat prinsip keadilan, kesetaraan gender, dan kemaslahatan dalam hukum keluarga Islam. Namun, penerapannya memerlukan kehati-hatian agar tidak menimbulkan perbedaan penafsiran yang tajam di masyarakat. Penelitian ini merekomendasikan harmonisasi berkelanjutan antara fiqih klasik, maqāṣid al-syarī‘ah, dan hukum positif Indonesia untuk membentuk sistem hukum keluarga yang adaptif dan berkeadilan.
Kata kunci: Rekontekstualisasi, Kaidah Fiqih, Istiṣlāḥ, Hukum Keluarga Islam, Maqāṣid al-Syarī‘ah
Perspectives of public sector entrepreneurship and change agents in village tourism management
As the only developed tourism village in Papua, Yoboi Village exemplifies successful tourism village management. Given its outstanding performance, this study aims to examine the role of change agents and the contribution of public sector entrepreneurship towards the management of village tourism. Researchers used Caldwell’s framework to identify change agents roles consisting of champions, adapters, consultants, and synergists, meanwhile the PSE concepts asserting the public officials roles to produce public value. Using a qualitative approach through case study method, researchers collect data through interviews, focus group discussion, observations, and documentation. The research’s findings describe the active engagement of the village’s youth reflects the concept of change agents aligns with the role as champion. Additionally, the active participation of a key local figure also serving as a public official in Jayapura regency illustrates the public actor participation which also fit with the public sector entrepreneurship principle. This study emphasizes the dynamic role of a key actor, whose leadership emerged not solely from individual competencies but was also significantly influenced by contextual and environmental factors. The combination of attributes from both the change agent and public sector entrepreneurship paradigms have contributed to Yoboi village tourism success
PENGARUH KETEBALAN MULSA ORGANIK KI RINYUH (Chromolaena odorata) TERHADAP KANDUNGAN PROTEIN KASAR, SERAT KASAR, DAN LEMAK KASAR RUMPUT BRACHIARIA HYBRID CV. MULATO PADA PANEN KETIGA
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh ketebalan mulsa organik Kirinyuh (Chromolaena odorata) terhadap kandungan protein kasar (PK), serat kasar (SK) dan kandungan lemak kasar (LK) rumput Mulato (Brachiaria hybrid cv. mulato) panen ke-3. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan yaitu: M0= tanpa mulsa (perlakuan Kontrol), M1= ketebalan mulsa 1 cm (520) gram/0,5625m2) M3= ketebalan mulsa 3 cm (1560 gram/0,5625m2), M5= ketebalan mulsa 5 cm (2600 gram/0,5625m2) dengan ulangan sebanyak 4 kali menggunakan Analisis Ragam (Analysis of Variance). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan Protein Kasar (%) M0: 9,13, M1: 10,69, M3: 9,80, M5: 9,71, Serat Kasar (%) M0: 28,80, M1: 27,81, M3: 28,67, M5: 30,97 dan Lemak Kasar (%) M0: 4,25, M1: 4,53, M3: 4,75, M5: 5,17. Hasilanalisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap kandungan Protein Kasar (PK), tetapi tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap Serat Kasar (SK) dan Lemak kasar (LK) rumput Mulato (Brachiaria hybrid cv. mulato) panen ke-3. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa mulsa organik Kirinyuh (Chromolaena odorata) dengan ketebalan 1 cm mampu memberikan pengaruh yang tertinggi terhadap kandungan protein kasar (PK) dan tidak berpengaruh pada serat kasar (SK) terendah rumput Brachiaria hybrid cv.Mulato pada panen ketiga
Penerapan pembelajaran story telling berbantuan google expeditions untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris siswa sekolah dasar
Kemampuan berbahasa Inggris merupakan keterampilan esensial bagi siswa dalam menyikapi arus globalisasi serta kemajuan teknologi. Penggunaan Google Expeditions dalam menyediakan pengalaman belajar berbasis Virtual Reality (VR) dan Augmented Reality (AR) yang memungkinkan siswa menjelajahi berbagai tempat dan situasi nyata secara imersif. Tujuan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini ialah untuk mendampingin guru dan siswa dalam penerapan pembelajaran dengan story telling berbantuan Google Expeditions untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris, sekaligus memperkenalkan inovasi pembelajaran berbasis teknologi. Program ini dilaksanakan dengan pendekatan bertahap yang mencakup: (1) sosialisasi kepada pihak sekolah mengenai konsep pembelajaran berbasis teknologi, (2) pelatihan guru melalui lokakarya interaktif dengan praktik langsung, (3) penerapan Google Expeditions dalam pembelajaran story telling di kelas, serta (4) pendampingan dan evaluasi guru dalam menghadapi kendala teknis maupun pedagogis. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan partisipasi siswa dalam keterampilan berbicara bahasa Inggris hingga 85%, peningkatan kreativitas guru dalam merancang media pembelajaran digital, serta terciptanya lingkungan belajar yang lebih interaktif dan imersif. Program ini membuktikan bahwa integrasi teknologi VR dalam pembelajaran dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih mendalam, inspiratif, dan menyenangkan bagi siswa, sekaligus meningkatkan kesiapan guru dalam memanfaatkan media pembelajaran inovatif