Jurnal Online Universitas Muhammadiyah Surabaya
Not a member yet
8612 research outputs found
Sort by
Peningkatan Kecakapan Bahasa Inggris Pariwisata (English For Tourism) bagi Siswa SMKN 1 Tegal
Komunikasi sangat penting untuk menunjang pelayanan prima pada saat bekerja, terutama dalam penguasaan bahasa asing seperti bahasa internasional yang umum digunakan, contohnya bahasa Inggris. Selain skill dan pengetahuan, guna menunjang kemampuan komunikasi, siswa juga perlu diajarkan dasar-dasar bahasa Inggris pariwisata (English for Tourism). Tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan keterampilan speaking dan komunikasi Bahasa Inggris, menumbuhkan motivasi siswa SMKN 1 Tegal untuk belajar English for tourism, serta memberikan pengetahuan serta wawasan tentang pelayanan kepariwisataan. Kegiatan pengabdian masyarakat dilakukan di SMKN 1 Tegal dengan diikuti oleh siswa Program Studi Perhotelan sebanyak 79 orang. Kegiatan ini berupa pelatihan kecakapan bahasa Inggris pariwisata dengan menggunakan metode ceramah dan role play. Terdapat tiga tahap dalam pelaksanaan kegiatan ini yaitu persiapan, pelaksanaan dan evaluasi. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa kegiatan berlangsung dengan lancar dan peserta mengikuti kegiatan dengan semangat dan antusias. Berdasarkan hasil perhitungan pre-test dan post-test, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dapat meningkatkan keterampilan siswa SMKN 1 Tegal
Terapi Musik Suara Alam Sebagai Intervensi Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi
Background: Preoperative anxiety is a common issue that can affect patients' physiological and psychological conditions prior to surgery. Non-pharmacological interventions such as music therapy can serve as an alternative to reduce anxiety.
Objective: This study aimed to analyze the effectiveness of nature sound music therapy in reducing preoperative anxiety among patients in the premedication room.
Methods: A quasi-experimental design with a randomized pretest-posttest approach was used. A total of 48 respondents were selected through purposive sampling and divided into two groups: intervention and control. The Amsterdam Preoperative Anxiety and Information Scale (APAIS) questionnaire was used as the instrument. Data were analyzed using the Mann-Whitney test with a significance level of < 0.05.
Results: The results showed that nature sound music therapy was effective in reducing the level of preoperative anxiety in the premedication room (ρ = 0.000 < α = 0.05).
Conclusion: Nature sound music therapy provides a relaxing effect and significantly reduces preoperative anxiety. This therapy is recommended as a non-pharmacological intervention in premedication rooms to help manage patient anxiety.Latar Belakang: Kecemasan preoperasi merupakan masalah umum yang dapat memengaruhi kondisi fisiologis dan psikologis pasien sebelum tindakan pembedahan. Intervensi nonfarmakologis seperti terapi musik dapat menjadi alternatif untuk mengurangi kecemasan.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas terapi musik suara alam dalam menurunkan kecemasan pasien preoperasi di ruang premedikasi.
Metode: Penelitian menggunakan desain kuasi-eksperimen dengan pendekatan randomized pretest-posttest. Sampel sebanyak 48 responden dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok perlakuan dan kelompok kontrol, yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner APAIS (Amsterdam Preoperative Anxiety and Information Scale). Analisis data dilakukan menggunakan uji Mann-Whitney dengan tingkat signifikansi < 0,05.
Hasil: Hasil analisis menunjukkan bahwa terapi musik suara alam efektif dalam menurunkan tingkat kecemasan pasien preoperasi di ruang premedikasi (ρ = 0,000 < α = 0,05).
Kesimpulan: Terapi musik suara alam terbukti memberikan efek relaksasi dan mampu menurunkan kecemasan pada pasien preoperasi. Terapi ini direkomendasikan sebagai salah satu intervensi nonfarmakologis yang dapat diterapkan di ruang premedikasi
Relationship between Anxiety Level and Vital Signs of Pneumonia Patients in Hospital
Pneumonia is one of the acute respiratory tract infections that is still a serious and complex global health problem, with a very significant impact on public health worldwide. The purpose of this study was to analyze the relationship between anxiety levels and vital signs in hospitalized pneumonia patients. This study used an observational analytical research design with a cross-sectional approach with 64 respondents were recruited using convenience sampling techniques. The independent variable of the study was anxiety level and the dependent variable was vital signs (blood pressure, pulse, respiration, and temperature). The research instrument used was the Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) Questionnaire to measure anxiety levels and the dependent variable was measured using the Vital Signs Observation Sheet, Digital Tensimeter and Digital Thermometer. Data Analysis Data were analyzed using the Spearman or Pearson correlation test (according to data normality) with a confidence level of 95% (α = 0.05). Vital signs of pneumonia patients showed that 28.13% of patients were not anxious and had normal blood pressure, 25.00% of patients had normal respiration rate, 21.88% showed normal pulse rate and 23.44% showed normal oxygen saturation. High anxiety levels showed that 25.00% of patients had abnormal blood pressure, 25.00% of patients had abnormal respiration rate, 28.13% showed abnormal pulse rate and 23.44% of patients had abnormal oxygen saturation. The results of the study showed that anxiety had a significant relationship with blood pressure, pulse rate, respiration rate, and oxygen saturation with a p value <0.05.Pneumonia merupakan salah satu infeksi saluran pernapasan akut yang masih menjadi masalah kesehatan global yang serius dan kompleks, dengan dampak yang sangat signifikan terhadap kesehatan masyarakat di seluruh dunia. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara tingkat kecemasan dengan tanda-tanda vital pada pasien pneumonia yang dirawat di rumah sakit. Penelitian ini menggunakan desain penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional dengan 64 responden yang direkrut menggunakan teknik convenience sampling. Variabel bebas penelitian adalah tingkat kecemasan dan variabel terikat adalah tanda-tanda vital (tekanan darah, denyut nadi, pernapasan, dan suhu). Instrumen penelitian yang digunakan adalah Kuesioner Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) untuk mengukur tingkat kecemasan dan variabel terikat diukur menggunakan Lembar Observasi Tanda-Tanda Vital, Tensimeter Digital, dan Termometer Digital. Analisis Data Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman atau Pearson (sesuai normalitas data) dengan tingkat kepercayaan 95% (α = 0,05). Tanda-tanda vital pasien pneumonia menunjukkan bahwa 28,13% pasien tidak cemas dan memiliki tekanan darah normal, 25% pasien memiliki laju pernapasan normal, 21,88% menunjukkan denyut nadi normal, dan 23,44% menunjukkan saturasi oksigen normal. Tingkat kecemasan yang tinggi menunjukkan bahwa 25% pasien memiliki tekanan darah abnormal, 25% pasien memiliki laju pernapasan abnormal, 28,13% menunjukkan denyut nadi abnormal, dan 23,44% pasien memiliki saturasi oksigen abnormal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecemasan memiliki hubungan yang signifikan dengan tekanan darah, denyut nadi, laju pernapasan, dan saturasi oksigen dengan nilai p <0,05
Sistem Kontrol Energi Output Solar Charging Station untuk Konsumen Electric Vehicle
Kebutuhan pengisian energi kendaraan listrik terus meningkat seiring berkembangnya kendaraan ramah lingkungan. Untuk menjamin efisiensi dan keandalan proses pengisian, dibutuhkan sistem kontrol energi yang akurat dan real-time. Penelitian ini merancang sistem kontrol energi berbasis mikrokontroler ESP32 yang terintegrasi dengan Solar Charging Controller (SCC) dan Human Machine Interface (HMI) sebagai antarmuka pengguna. Metode yang digunakan meliputi perancangan perangkat keras dan lunak, komunikasi RS-485 antara ESP32 dan inverter, serta proteksi overcharging otomatis menggunakan relay. Sistem mampu membaca dan menampilkan data tegangan, arus, daya, dan energi secara real-time. Pengujian dilakukan dengan input nominal Rp250, Rp500, Rp750, dan Rp1000, dikonversi ke energi listrik berdasarkan tarif Rp2000/kWh. Hasil menunjukkan bahwa sistem mampu mengontrol aliran daya secara akurat, dengan tingkat kesalahan pengukuran antara 2–4%. Fungsi cut-off otomatis bekerja efektif menghentikan pengisian saat energi mencapai batas nominal yang ditentukan. Sistem ini terbukti efisien, aman, dan transparan, serta mendukung pengisian energi kendaraan listrik secara berkelanjutan. Dengan kemampuan kontrol dan monitoring langsung, sistem ini layak diterapkan pada Solar Charging Station (SCS) untuk mendukung ekosistem kendaraan listrik di masa depan
Correlation between Characteristics and Knowledge about Osteoporosis in Patients with Fragility Fractures at Saiful Anwar General Hospital
Osteoporosis is a global health issue. Fragility fractures, which occur due to minor trauma, are one of the serious consequences of osteoporosis. Aims: This study investigates the correlation between demographic characteristics and the level of knowledge about osteoporosis in patients with fragility fractures. This research used a descriptive design with a cross-sectional approach. The data was gathered through validated and reliable questionnaires. Respondents were patients with fragility fractures treated at Dr. Saiful Anwar General Hospital, Malang. Data analysis was performed using statistical tests to evaluate the correlation between age, gender, and knowledge about osteoporosis. The analysis revealed significant gender differences in osteoporosis knowledge (p-value = 0.037) but no substantial age-related disparities (p-value = 0.194). There were no significant differences in nutritional status based on gender (p-value = 0.881) or age (p-value = 0.521). Similarly, medication adherence showed no significant variance by gender (p-value = 0.883) or age (p-value = 0.589). Lastly, the understanding of osteoporosis did not significantly differ by gender (p-value = 0.467) or age (p-value = 0.782). In conclusion, the study reveals a significant gender disparity in osteoporosis knowledge, highlighting the need for tailored educational interventions and physician initiatives to ensure equitable awareness across diverse demographic groups
Analysis of the Relationship Between Hospital Ownership and Google Maps Star Ratings: A Case Study of Regional General Hospitals (RSUD), Private Hospitals, and Muhammadiyah Hospitals (RSM) in East Java
The Muhammadiyah Hospital network (RSM) is a religious non-profit oriented facilities in Indonesia which emphasizing ethical or faith-based considerations, in approach to providing services. RSM faces the challenge of excelling compared to its competitors, including Regional General Hospitals (RSUD) and other private competitor hospitals. This study aims to examine the relationship between hospital ownership status and Google star ratings among hospitals in East Java. A cross-sectional study was conducted involving 31 RSM, 19 RSUD, and 20 private competitor hospitals, which were compared in their respective cities. Kruskal-Wallis test was performed to compare the Google rating between each ownership, and simple logistic regression was performed to examine the association between hospital ownership and Google star rating. Of 31 regions, private hospitals (both competitor and RSM) had the highest rating in 22 regions when compared in their respective region. Private competitor hospital had the highest median (4.2 (3.9-4.7)), followed by RSM (4.1 (3.1-4.7)) and RSUD (4.0 (2.8-4.8)). Generally, a significant difference was found between RSUD and private competitor hospital (p<0.05), while between RSM and private competitor or RSUD were not significant. Logistic regression showed a significant association between hospital ownership and Google rating, with being a private competitor being likely to have a higher rating compared to RSUD (OR (95% CI): 8.10 (1.46-45.06)). In conclusion, our findings suggest hospital ownership had significant association with Google ratings, specifically between private competitor and public hospitals. While RSM didn’t have any significant association although they tend to have higher ratings to RSUD
Effect of Gyrinops Versteegii’s Aromatherapy on Work Endurance in First-Year Medical Students
The first year of college is a difficult time for new students. New students are required to have good endurance because it is one of the important factors that must be possessed by individuals to adapt well. Agarwood is known for its fragrant aroma, so it is widely used in aromatherapy. Special compounds contained in agarwood essential oil have a relaxing effect that can reduce fatigue levels. This study aims to examine the effect of Gyrinops versteegii essential oil aromatherapy on the work endurance in first-year students at the Faculty of Medicine, University of Muhammadiyah Surabaya. An experimental crossover design involving 32 first-year students. Data was collected through Inhalation of Gyrinops versteegii essential oil vapor from a diffuser, vital sign measurement, and Kraepelin test results. The data obtained will be processed using SPSS version 27 for Windows. Wilcoxon test results showed a significant difference in work endurance (p = 0.025). Kendall's Tau-b correlation test revealed a non-significant and weak correlation between work endurance (p = 0.071; r = 0.284). In conclusion, aromatherapy with Gyrinops versteegii essential oil has an impact on work endurance, with a significant decrease in work endurance in first-year medical students.Abstrak
Latar Belakang: Tahun pertama kuliah adalah waktu yang sulit bagi mahasiswa baru. Mahasiswa baru dituntut untuk memiliki daya tahan yang baik karena merupakan salah satu faktor penting yang harus dimiliki oleh individu agar dapat beradaptasi dengan baik. Gaharu dikenal dengan aromanya yang harum sehingga banyak digunakan sebagai aromaterapi. Senyawa khusus yang terkandung dalam minyak esensial gaharu memiliki efek relaksasi yang dapat mengurangi tingkat kelelahan. Tujuan: Untuk mengkaji pengaruh aromaterapi minyak atsiri Gyrinops versteegii terhadap daya tahan kerja pada mahasiswa tahun pertama Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surabaya. Metode: Desain crossover kuasi-eksperimental yang melibatkan 32 siswa tahun pertama. Data dikumpulkan melalui Inhalasi uap minyak esensial Gyrinops versteegii dari diffuser, pengukuran tanda vital, dan hasil tes Kraepelin. Data yang diperoleh akan diproses menggunakan SPSS versi 27 untuk Windows. Hasil: Hasil tes Wilcoxon menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam daya tahan kerja (p = 0,025). Uji korelasi Tau-b Kendall mengungkapkan korelasi yang tidak signifikan dan lemah antara daya tahan kerja (p = 0,071; r = 0,284). Kesimpulan: Aromaterapi dengan minyak esensial Gyrinops versteegii berdampak pada daya tahan kerja, dengan penurunan daya tahan kerja yang signifikan pada mahasiswa kedokteran tahun pertama. Kata Kunci : Daya Tahan Kerja, Minyak Atsiri Gyrinops Versteegi, Aromaterapi
Korespondensi : [email protected]
PERBANDINGAN PROFIL ANTIMIKROBA PADA PASIEN RAWAT INAP PNEUMONIA DI RSUD MARDI WALUYO KOTA BLITAR
Pneumonia was a communicable respiratory infection associated with substantial morbidity and mortality across diverse age groups globally. Transmission occurred via direct exposure to respiratory secretions or aerosolized droplets expelled by infected individuals through coughing or sneezing. Previous investigations on antibiotic susceptibility patterns of pneumonia-causing bacterial pathogens were conducted at RSUD Dr. Soetomo Surabaya (2020) and RSUD Dr. Saiful Anwar Malang (2022). This study aimed to analyze and compare the antimicrobial susceptibility profiles of bacterial isolates from hospitalized pneumonia patients at RSUD Mardi Waluyo, Blitar City. A quantitative methodology was employed, using an observational analytic design with a cross-sectional approach to assess antibiotic resistance patterns. Statistical analysis yielded a p-value of 0.002 (p < 0.05), indicating a significant difference in antimicrobial effectiveness between Gram-positive and Gram-negative bacterial infections. The majority of patients were males over 60 years old. Staphylococcus aureus was identified as the predominant Gram-positive pathogen, while Klebsiella pneumoniae was the most prevalent Gram-negative species. Azithromycin, Erythromycin, and Levofloxacin showed the highest susceptibility among Gram-positive bacteria, whereas Amikacin, Ceftazidime, and Gentamicin were most effective against Gram-negative isolates.Latar Belakang : Pneumonia merupakan penyakit infeksi yang menyebabkan tingginya angka kesakitan dan kematian di berbagai kelompok usia di seluruh dunia. Penyebarannya terjadi melalui kontak langsung dengan sekret atau droplet dari pasien yang batuk atau bersin. Studi sebelumnya mengenai pola dan sensitivitas antibiotik terhadap bakteri penyebab pneumonia telah dilakukan di RSUD Dr. Soetomo Surabaya (2020) dan RSUD Dr. Saiful Anwar Malang (2022). Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan profil antimikroba terhadap bakteri penyebab pneumonia pada pasien rawat inap di RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar. Metode : Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan desain analitik observasional dan menggunakan pendekatan cross-sectional untuk mengevaluasi pola sensitivitas antibiotik.Hasil: Uji komparasi menunjukkan p- value 0,002 (p>0,05), yang mengindikasikan adanya perbedaan signifikan dalam efektivitas antimikroba antara bakteri gram positif dan gram negatif. Kesimpulan: Mayoritas pasien adalah laki-laki berusia di atas 60 tahun. Staphylococcus aureus ditemukan sebagai bakteri gram positif utama, sedangkan Klebsiella pneumoniae mendominasi bakteri gram negatif. Antibiotik dengan sensitivitas tertinggi untuk bakteri gram positif adalah Azithromycin, Erythromycin, dan Levofloxacin, sedangkan untuk bakteri gram negatif adalah Amikacin, Ceftazidime, dan Gentamicin.
Kata Kunci : Pneumonia , Antimikroba, Sensitifitas
Korespondensi : [email protected]
Analisis Pelaporan Program Manfaat Pensiun Dalam Upaya Penerapan Standar Akuntansi dan Peraturan Sektoral di Dana Pensiun Jasa Marga
Penelitian ini mengevaluasi pelaporan program manfaat pensiun di Dana Pensiun Jasa Marga (DPJM) dengan fokus pada penerapan PSAK 226 dan kepatuhan terhadap peraturan sektoral OJK. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode studi kasus, data dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara, serta analisis dokumentasi laporan keuangan DPJM. Hasil menunjukkan bahwa DPJM secara konsisten menyusun dan menyampaikan laporan bulanan, triwulanan, dan tahunan sesuai jadwal pada POJK, serta mengintegrasikan unsur-unsur utama PSAK 226: pengukuran liabilitas pensiun berdasarkan nilai kini liabilitas dan pengungkapan asumsi aktuaria, ke dalam laporan aset neto, perubahan aset neto, laporan perubahan hasil usaha, arus kas, neraca, dan catatan atas laporan keuangan. Kendati demikian, adaptasi terhadap revisi regulasi masih menjadi tantangan. Penelitian menegaskan bahwa harmonisasi antara standar akuntansi dan regulasi sektoral merupakan kunci untuk meningkatkan transparansi, akurasi, dan akuntabilitas pelaporan dana pensiun. Temuan ini diharapkan dapat menjadi landasan praktis bagi DPJM dalam memperkuat tata kelola pelaporan dan memberikan kontribusi teoritis bagi penelitian akuntansi dana pensiun di Indonesia
Pengaruh Profitabilitas, Leverage, dan Kebijakan Manajerial Terhadap Carbon Emission Disclosure pada Perusahaan Transportasi di Indonesia Periode 2019–2023
Isu perubahan iklim telah menjadi perhatian global dan menuntut perusahaan untuk lebih transparan dalam mengungkapkan informasi lingkungan, termasuk emisi karbon. Namun, di Indonesia, pengungkapan emisi karbon masih bersifat sukarela dan belum merata. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh profitabilitas, leverage, dan kepemilikan manajerial terhadap pengungkapan emisi karbon (Carbon Emission Disclosure) pada perusahaan transportasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2019–2023.Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik purposive sampling dan diperoleh 12 perusahaan sebagai sampel selama lima tahun, sehingga total observasi sebanyak 60 data. Data diperoleh dari laporan tahunan dan laporan keberlanjutan perusahaan, kemudian dianalisis menggunakan regresi linier berganda dengan bantuan software SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa profitabilitas berpengaruh negatif signifikan terhadap pengungkapan emisi karbon, leverage berpengaruh positif signifikan, sedangkan kepemilikan manajerial tidak berpengaruh signifikan. Secara simultan, ketiga variabel tersebut berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan emisi karbon. Penelitian ini memperkuat teori legitimasi, di mana perusahaan dengan leverage tinggi lebih terdorong meningkatkan transparansi lingkungan untuk memperoleh legitimasi sosial. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi perusahaan, regulator, dan akademisi dalam mendorong peningkatan pengungkapan emisi karbon di Indonesia