Jurnal Online Universitas Muhammadiyah Surabaya
Not a member yet
8612 research outputs found
Sort by
Integration Point Effect on Various Meshing Method of Thin-Aluminium Rectangular Plate
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyimpulkan respons statik pelat aluminium persegi 1000 mm2 dengan berbagai jenis elemen dalam dua kondisi batas tertentu. Dalam makalah ini, Analisis Elemen Hingga dilakukan menggunakan ABAQUS dan hasilnya kemudian dibandingkan dengan hasil simulasi sebelumnya oleh ANSYS untuk mendapatkan konsep penandaan acuan yang lebih dalam. Hasil numerik menunjukkan bahwa nilai lendutan yang diperoleh dari simulasi ABAQUS sangat berbeda dengan hasil yang diperoleh oleh simulasi ANSYS. Namun, ketebalan optimum yang diperoleh oleh keduanya menunjukkan ketebalan optimum yang sama pada nilai diatas 50 mm
Pendampingan Pengembangan Kuliner Berbahan Porang Guna Meningkatkan Ketahanan Pangan di Kabupaten Ponorogo Jawa Timur
Porang sebagai komoditi ekspor yang bernilai jual tinggi saat ini sedang mengalami penurunan harga akibat terhentinya ekspor. Petani porang mengalami kerugian besar mengingat modal besar yang telah dikeluarkannya. Kegiatan pendampingan masyarakat di Ponorogo ini bertujuan melatih keterampilan dalam mengolah porang menjadi kuliner berbahan porang yang bernilai ekonomi tinggi. Metode pelaksanaan program melalui diskusi partisipatif, FGD dan pelatihan lewat demo masak makanan berbahan dasar porang yang dilakukan 24-27 Juni 2022 di Desa Karangpatihan, Ponorogo. Program pendampingan diikuti oleh ibu-ibu PKK, Dharma Wanita, mahasiswa, kepala desa, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Dinas Pertanian dan petani porang. Hasil yang didapat adalah munculnya minat dan niat untuk mencoba mengembangkan kuliner porang meski dalam lingkup kelompok kecil, setelah berkembang akan diperluas guna dijadikan industri rumahan. Kendala yang muncul yaitu adanya stigma bahwa porang itu gatal, meski mereka juga paham cara menghilangkannya. Mereka berharap jika pangan berbahan porang ini benar-benar dapat diterima masyarakat dan sesuai dengan selera warga, mereka akan memproduksinya secara massal. Diharapkan komoditas pangan lokal ini akan menghasilkan tambahan pendapatan serta mampu mendukung ketahanan pangan masyarakat dan negara
Sosialisasi dengan Media Edukasi sebagai Strategi Skrining dan Peningkatan Kualitas Hidup Pasien Diabetes Melitus dengan Paliatif
Diabetes melitus merupakan dianggap sebagai pasien paliatif karena sifat penyakitnya yang kronis dan progresif sehinga menjadi masalah kesehatan global yang memerlukan pendekatan komprehensif, termasuk edukasi dan skrining rutin, untuk mencegah komplikasi dan meningkatkan kualitas hidup, terutama pada pasien paliatif. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan oleh tim Bagian Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya pada 4 Desember 2024 di Desa Teluk Kecapi, Pemulutan, Ogan Ilir. Dengan melibatkan 41 peserta, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang DM melalui sosialisasi dan edukasi menggunakan media poster. Metode yang digunakan meliputi registrasi, pemeriksaan gula darah sewaktu, pengisian kuesioner pre-test, penyampaian materi edukasi, dan evaluasi melalui pengisian kuesioner post-test. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan pada skor median pengetahuan peserta, dari 7,97 (sebelum kegiatan) menjadi 11,5 (setelah kegiatan). Hal ini menegaskan bahwa pendidikan kesehatan yang terstruktur dapat meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan Diabetes Melitus dan skrining terhadap komplikasi. Kegiatan ini juga menggarisbawahi urgensi implementasi program skrining dan edukasi berbasis komunitas untuk mendukung pengendalian Diabetes melitus secara optimal dan berkelanjuta
Osteopontin and Its Clinical Correlation to Type 1 Cardiorenal Syndrome: A Literature Review
Cardiorenal syndrome (CRS) is a spectrum of disorders involving both the heart and the kidneys, either acutely or chronically, in one organ that can lead to dysfunction in the other. Type 1 CRS, the most common CRS, is when acute heart dysfunction impacts acute kidney dysfunction, commonly known as acute kidney injury. Comorbidities involving these two significant organs contribute to a high patient mortality rate that requires a new potential diagnostic method. Biomarkers are one of the diagnostic modalities widely used in various diseases. Osteopontin (OPN) is a phosphorylated glycoprotein found primarily in bones and teeth that regulates mineralization. Osteopontin is known to be involved in describing various pathological changes in the body, including cardiovascular diseases. This review aims to evaluate the clinical correlation of OPN level changes with the occurrence of Type 1 CRS. The results indicate that OPN also plays a role in detecting the progression of cardiovascular disease towards renal injury. The imbalance in the function of OPN as a pro-inflammatory and anti-inflammatory agent increases the progression of kidney disease in patients. Further findings suggest that, more specifically, urinary OPN describes renal injury events in type 1 CRS patients.Sindrom kardiorenal (SKR) merupakan spektrum gangguan yang melibatkan baik jantung maupun ginjal, baik secara akut maupun kronis, pada salah satu organ yang dapat menyebabkan disfungsi pada organ yang lain. Sindrom kardiorenal tipe 1 merupakan tipe yang paling umum dimana adanya disfungsi jantung akut berdampak pada disfungsi ginjal akut, yang umumnya dikenal sebagai gagal ginjal akut. Komorbiditas yang melibatkan kedua organ penting ini berkontribusi pada tingginya tingkat mortalitas pasien, sehingga memerlukan metode diagnosis potensial baru. Biomarker merupakan salah satu modalitas diagnostik yang banyak digunakan dalam berbagai penyakit. Osteopontin (OPN) adalah glikoprotein yang difosforilasi yang ditemukan terutama di tulang dan gigi yang berperan dalam regulasi mineralisasi. Osteopontin diketahui terlibat dalam berbagai perubahan patologis dalam tubuh, termasuk penyakit kardiovaskular. Tinjauan ini bertujuan untuk mengevaluasi korelasi klinis perubahan tingkat OPN dengan kejadian SKR tipe 1. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa OPN juga berperan dalam mendeteksi progresi penyakit kardiovaskular menuju gagal ginjal. Ketidakseimbangan dalam fungsi OPN sebagai agen proinflamasi dan antiinflamasi meningkatkan progresi penyakit ginjal pada pasien. Temuan lebih lanjut menunjukkan bahwa OPN urine mampu menggambarkan kejadian gagal ginjal akut pada pasien Tipe 1 SKR dengan lebih spesifik
Pilihan Antibiotik Pada Pasien Abses Hepar Piogenik
Pyogenic liver abscess is a dangerous, life-threatening disease with a high mortality rate that requires accurate diagnosis and treatment. The most common symptoms are upper abdominal pain, hepatomegaly, high fever, nausea, and vomiting. Pyogenic liver abscess occurs due to infection from anaerobic bacteria or aerobic bacteria. in the United States the reported annual incidence is 3.6 cases per 100,000 people. But in Taiwan it is 17.6 per 100,000 people. Pyogenic liver abscess sufferers are dominated by men but currently it affects older people more, with the most cases aged 50 to 60 years. The purpose of this study was to know the choice of antibiotics in patients with pyogenic liver abscess. Empiric antibiotics should be initiated immediately upon suspicion of a pyogenic liver abscess tailored to kill all possible bacteria: Gram-negative cocci, gram-positive cocci, and anaerobes. Antibiotic regimens include amoxicillin-clavulanic acid, third-generation cephalosporins combined with aminoglycosides, or piperacillin/tazobactam. In cases of penicillin allergy or antibiotic resistance, fluoroquinolones or carbapenems may be used.Abses hati piogenik merupakan penyakit berbahaya yang mengancam jiwa dengan angka kematian yang tinggi sehingga memerlukan diagnosis dan pengobatan yang akurat. Gejala yang paling umum adalah nyeri perut bagian atas, hepatomegali, demam tinggi, mual, dan muntah. Abses hati piogenik terjadi akibat infeksi bakteri anaerob atau bakteri aerob. di Amerika Serikat, kejadian tahunan yang dilaporkan adalah 3,6 kasus per 100.000 orang. Namun di Taiwan angkanya 17,6 per 100.000 orang. Penderita abses hati piogenik didominasi oleh laki-laki namun saat ini lebih banyak menyerang orang lanjut usia, dengan kasus terbanyak berusia 50 hingga 60 tahun. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pilihan antibiotik pada pasien abses hati piogenik. Antibiotik empiris harus diberikan segera jika dicurigai adanya abses hati piogenik yang dirancang untuk membunuh semua kemungkinan bakteri: kokus Gram-negatif, kokus gram positif, dan bakteri anaerob. Regimen antibiotik termasuk asam amoksisilin-klavulanat, sefalosporin generasi ketiga yang dikombinasikan dengan aminoglikosida, atau piperacillin/tazobactam. Dalam kasus alergi penisilin atau resistensi antibiotik, fluoroquinolones atau karbapenem dapat digunakan
ALIRAN PEMIKIRAN KEISLAMAN JABARIYAH DAN QADARIYAH (Latar Belakang, Tokoh-Tokoh & Pokok Ajarannya)
This discussion regarding Qadariyah and Jabariyah is very important considering that Qadariyah and Jabariyah are considered as an understanding of one problem, not as a school with various specific discussion themes and discussion methods. The purpose of this discussion is to find out the meaning, background and main points of Jabariyah and Qadariyah teachings. This research is a literature review research. The results of this research are that Jabariyah is a group that believes in the inability of humans to carry out any activity, and that all actions they have taken are nothing but decrees from Allah SWT, while Qadariyah is a group that rejects qadar (God's decree), namely a group that does not believe in There is God's decree for all affairs/cases. Jabariyah emerged since the time of the Companions and the Umayyad era. Meanwhile, the emergence of the qadariyah was motivated as a signal against the political policies of the Umayyads.
Pembahasan mengenaik Qadariyah dan jabariyah ini sangatlah penting mengingat Qadariyah dan jabariyah ini dianggap sebagai suatu paham mengenai satu masalah bukan sebagai aliran dengan berbagai tema bahasan dan metode pembahasan terntentu. Tujuan dari pembahasan ini adalah untuk mengetahui makna, latar belakang dan pokok-pokok ajaran jabariyah dan qadariyah. Penelitian ini adalah penelitian kajian pustaka. Hasil dari penelitian ini bahwa Jabariyah adalah sebuah kelompok yang memiliki keyakinan tentang tiada kuasanya manusia dalam melakukan aktifitas apapun, dan segala tindakan yangtelah dilakukannya tiada lain merupakan ketetapan dari Allah Swt, sedangkan Qadariyah adalah kelompok yang menolak qadar (ketetapan tuhan) yakni kelompok yang tidak percaya adanya ketetapan tuhan terhadap segala urusan/perkara. Jabariyah muncul sejak zaman sahabat dan masa Bani Umayyah. Sedangkan munculnya qadariyah dilatar belakangi sebagai isyarat menentang kebijaksanaan politik Bani Umayyah.
This discussion regarding Qadariyah and Jabariyah is very important considering that Qadariyah and Jabariyah are considered as an understanding of one problem, not as a school with various specific discussion themes and discussion methods. The purpose of this discussion is to find out the meaning, background and main points of Jabariyah and Qadariyah teachings. This research is a literature review research. The results of this research are that Jabariyah is a group that believes in the inability of humans to carry out any activity, and that all actions they have taken are nothing but decrees from Allah SWT, while Qadariyah is a group that rejects qadar (God's decree), namely a group that does not believe in There is God's decree for all affairs/cases. Jabariyah emerged since the time of the Companions and the Umayyad era. Meanwhile, the emergence of the qadariyah was motivated as a signal against the political policies of the Umayyad
MedisInfo : Keamanan Inovasi Kesehatan Digital sebagai Perwujudan Artificial Intelligence (AI) dalam Penyebaran Informasi Kesehatan
Objective: AI in healthcare faces major challenges in patient data privacy and security, risking ethical issues. Additionally, insufficient technical support and training for healthcare staff may impede effective implementation across facilities. This study aims to (1) analyze the role of Artificial Intelligence (AI) in digital health innovation, (2) identify key challenges related to privacy and data security in AI applications within the healthcare sector, and (3) propose policies that support data privacy and security in AI implementation in the 5.0 era.
Methods: A qualitative descriptive approach was used through a literature review from leading sources on AI applications in digital health, with analysis of key themes such as transparency, consent, data security, data minimization, user access, and routine audits. Literature evaluation compares data security practices and regulations in different countries.
Results: The findings show that AI applications in digital health face major challenges, particularly in protecting data privacy. Key insights include (1) the need for transparency in data usage, (2) limitations in the current informed consent practices, (3) the need for stronger data security measures, and (4) the lack of regular audits to assess compliance with privacy policies. These factors highlight the need for stricter policies to ensure user data protection.
Conclusion: Supporting AI applications in digital health requires thorough privacy and data security policies that address user access, security, transparency, permission, data minimisation, and frequent audits. Robust regulation will safeguard users' rights and privacy while fostering long-term, reliable digital health innovation
 
Pengaruh Balance Exercise Terhadap Tingkat Keseimbangan Dalam Penurunan Risiko Jatuh Pada Lansia
Elderly undergo a reduction in physical functions, especially in the musculoskeletal system, such as a decrease in muscle power, which affects their capacity to sustain body equilibrium and raises the likelihood of falling. Balance training can assist in enhancing balance by boosting muscle contractions and fiber strength, which consequently improves muscle power and helps maintain an upright posture, thus lowering the chances of falls. The goal of this research is to assess the effect of balance training on the balance level in reducing fall risk among the elderly. This study used a pre-experimental research design with a one-group pretest-posttest design, involving 49 respondents selected through purposive sampling. Data collection instruments included a balance level measurement sheet using the Time Up and Go Test (TUGT) and the Standard Operating Procedure (SOP) for Balance Exercise. Data analysis was conducted using the Wilcoxon Signed Rank Test. The results showed a difference in the average balance level before (pretest) performing the balance exercise, which was 21.80 seconds, compared to the average balance level after (posttest) performing the balance exercise, which was 16.27 seconds. The analysis showed a calculated z-value of -6.059, which is greater than the table z-value of 1.960, with a p-value of 0.00 (p-value < 0.05). Therefore, the null hypothesis (H0) is rejected, and the alternative hypothesis (Ha) is accepted, concluding that balance exercises affect the level of balance in the elderly, thus reducing fall risk. It is recommended for the elderly to practice balance exercises regularly twice a weekLansia mengalami penurunan fungsi tubuh pada sistem muskuloskeletal seperti penurunan kekuatan otot yang berdampak dalam mempertahankan keseimbangan tubuh dan beresiko mengalami jatuh sehingga peningkatan keseimbangan dapat dilakukan dengan Balance Exercise. Balance Exercise mampu meningkatkan kontraksi otot dan serat otot, sehingga terjadi peningkatkan kekuatan otot yang berdampak dalam mempertahankan postur tubuh tetap stabil dan terhindar dari kejadian jatuh. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh balance exercise terhadap tingkat keseimbangan dalam penurunan risiko jatuh pada lansia. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian pre-eksperimental desain one grup pretest and posttest dengan jumlah sampel 49 responden menggunakan purposive sampling. Instrumen pengumpulan data menggunakan lembar pengukuran tingkat keseimbangan dengan Time Up and Go Test (TUGT) dan SOP Balance Exercise. Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan rata-rata tingkat keseimbangan sebelum (pretest) melakukan balance exercise yaitu 21,80 detik sedangkan rata-rata tingkat keseimbangan sesudah (posttest) melakukan balance exercise yaitu 16,27 detik. Hasil analisis menunjukkan nilai z hitung sebesar -6,059 > z tabel 1,960 dengan p value = 0,00 < 0,05 maka H0 ditolak dan Ha diterima, dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh balance exercise terhadap tingkat keseimbangan lansia dalam penurunan risiko jatuh. Dianjurkan bagi lansia menerapkan latihan keseimbangan secara rutin sebanyak 2 kali seminggu
Risiko Peran Media Terhadap Kejadian Sectio Caesarea Non Medis Di Rumah Sakit Bersalin Budi Mulia Makassar
Introduction : In recent years, goverments anda clinicians have expressed concern about the increasing rate of caesarean births and the negative concequences for maternal and infant health. Given the alarming rise ini caesrean section rates, in order the develop and implement safe and successful to reduce unnecessary caesarean deliveries, it is important to examine the factors contributing to this trend
Objective : The study aimed to assess the risk of the role of the media in the incidence of nonmedical caesarean section.
Method : This study uses a case control design with a sample of 100 people selected before determining the case and control randomly. The analysis used was chi square and odds ratio by looking at the significance of a = 0.05 and QR values. Data collection techniques by observation, interviews, and documentation. The type of data taken is primary data obtained by researchers from the results of direct data collection by distributing questionnaires to respondents.
Results : The results of the study showed the influence of the media on the incidence of the nomedic caesarean section with a value of p = 0,000.
Conclusion: Based on the results of the study it was concluded that the media had an influence on the incidence of nomedic caesarean section
The Antecendents Of Innovative Work Behavior: Concepts And Dimensions
The study aims of this article is to propose a definition, identify dimensions and concepts of innovative behavior in lecturers. Innovative work behavior means all lecturer behavior regarding ideas in general, promotion and implementation of new ideas, processes, products or procedures in the lecturer's work. The concept and definition of "Innovative Work Behavior" is more specifically carried out by teacher and lecturers in a specific and clear context. Discover several dimensions of the concept of innovative behavior from various views. Antecendents of innovative work behavior can be categorized, namely from individual, job characteristics, social characteristics and organizational factors. The method used is a systematic meta-analysis review of several articles from Researchgate, Ed.gov, Sinta, etc. There are several challenges in research to produce innovative work behavior towards lecturers, especially in providing definitions and dimensions