Jurnal Universitas Winaya Mukti
Not a member yet
555 research outputs found
Sort by
Identifikasi Mutu Fisik Dan Fisiologis 16 Genotip Benih Calon Tetua Jagung Manis Hibrida Unpad setelah 2 dan 4 Bulan Penyimpanan
Hybrid seed is not always have good longetivity. Therefore, breeder should select longetivity character from parental lines to get hybrid with longetivity characeter. Longetivity character can be revealed by physical and physiological identification of seed. The aim of this research was to identify physical and physiological of 16 parental lines genotypes of sweetcorn after storage. The experimental design in this research used Randomized Complete Design. The treatment in this reserach used 16 Unpad sweet corn parental lines with two replications. The data were analyzed using the F test, Scott Knott 5%, and Duncan 5%. The results showed that there were significant differences in seed electrical conductivity, germination capacity, vigor index, normal seedling dry weight and 100 seeds weight , and seed growth simultaneously at 2 month storage, and normal seedling dry weight and 100 seeds weight at 4 month storage. The best genotypes after storage was 578 which was from P parent, according to the delta value of seed quality changed
FORMULASI TEPUNG KOMPOSITTERHADAPMIE BASAH MENGGUNAKAN RESPONSE SURFACE METHODOLOGY
Sweet potato and jackfruit seeds are local resources that can grow well in tropical climate of Indonesia that has a high level of productivity. Thus, food diversification program through the use of local resources is expected to address people's reliance on products of flour-based noodles. This study is divided into three main stages, namely formula optimization, analysis, and organoleptic. Optimization stage formula begins by determining the maximum and minimum points substitution of each flour. For jackfruit seed flour, sweet potato flour and wheat flour made wet noodle-making with the level of substitution of 10% to 80%. Analysis of the product consists of a physical analysis ie water absorption in the range of 8.5% to 9.5%. Chemical analysis of water content with the result of 0.83% to 0.97%, Abu 0.0087 to 0.0094 levels, protein content of 8.5% to 9.5%, fat content of 0.0075 to 0.0084, starch 27.74 until 27.78, crude fiber 0.02 to 0.07, and a yield of 1 to 1.7. The solution formula with the most optimal response,ie wet noodle formula with 33.33% jackfruit seed flour, sweet potato flour 33.33%, 33.33% wheat flou
PERUBAHAN BENTUK DAN UKURAN BENIH DUA KULTIVAR KEDELAI (Glycine max (L.) Merr.) DI JATINANGOR DAN CIKAJANG
The variation of the seed size in each species and individuals might be from of difference species adaptation for a difference environment. This difference may also arise from the constraints of limited formation of seed size. The use of adaptive ciltivars on the growth environment is very influential on the succes in the farm field. This research was aimed to find the adaptation of phase and size seed of two cultivars of soybeans in Jatinangor and Cikajang. This research was held in Jatinangor (Sumedang regency) and Cikajang (Garut regency) from April to July 2016. The design that used in this research was Randomized Block Design (RBD) and Duncan at 5% rate. Improved cultivars that tested in this research were placed at Grobogan and Anjasmoro which were repeated 5 times. The results of experiment showed that adaptation of size seed showed of 100 grains and large seeds. The low temperature condition can increase of variability of seed size. Heterogeneity of environment can not sustain the size of soybean seed. Genetic and environment factors influence significantly for weight of 100 grains and seed size Grobogan in Jatinangor. The weight of 100 grains Grobogan in Jatinangor and Cikajang haved a greater than Anjasmoro. Environmental factors influence yield of soybean, weight of 100 grains of cultivars in Cikajang haved a greater than Jatinangor caused by the seed size
PENGARUH PENGGUNAAN NAUNGAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL DUA VARIETAS TANAMAN KACANG MERAH ( Phaseolus vulgaris L. )
The research aims to obtain varieties of red beans was tolerant oflow light intensity under this shade.The research implemented in the experimental garden UNWIM BojongSeungit campus, from late June to early September 2016, with a height of 850 meters above sea level and precipitation type C (Dampish ).The experimental design used was split plot design consisting of 16 treatments and 4 Deuteronomy .Treatment consists of two levels : size of the shade (P), p0 = 0%Shade, p1 = 50% Shade, p2 = 65% Shade, p3 = 75%Shade, and varieties (v), v1 = Garut and v2 = Tasik.The results of this experiment showed the effect of growth and different results in higher plants in shade 65% and 0% in the varieties of Garut and Tasik age 35 days after planting, number of leaves per plant and the number of branches per plant at 28 days after planting in the shade of 75%, the number of pods contents per plant and the number of pods per plant in the shade of 0% whereas 50% shade highest yield of dry grain weight per plant, weight of 100 grains of seed varieties Garut and percentage (%) number of pods per plant were highest in varieties Tasik Varieties of Garut and Tasik are sensitive to shade 75%, moderate to 65% shade and still tolerant to shade 50%
Fasilitas Taman Tematik yang Memenuhi Kebutuhan Pengunjung (Studi Kasus: Taman Tematik di SWK Cibeunying Kota Bandung)
Ruang publik berupa taman memiliki peranan yang sangat penting bagi lingkungan perkotaan. Meskipun taman di Kota Bandung mengalami peningkatan kunjungan, tapi tidak semua kalangan masyarakat bisa menikmati taman dengan aman dan nyaman. Sebagian besar taman di Kota Bandung kurang dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas yang mendukung berbagai aktivitas penggunanya. Berbagai permasalahan sering ditemui di taman, sehingga masyarakat cenderung enggan untuk melakukan berbagai aktivitas di taman. Penelitian ini mempertanyakan mengenai fasilitas apa yang sesungguhnya dibutuhkan oleh pengunjung taman-taman di Kota Bandung khususnya taman tematik di SWK Cibeunying yaitu Taman Lansia, Taman Teras Cikapundung dan Taman Balai Kota. Variabel yang digunakan adalah karakteristik sosial ekonomi sebagai variabel bebas. Karakteristik sosial ekonomi yang digunakan adalah jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan dan pendapatan. Lalu variabel terikat berupa fasilitas taman yang terdiiri dari 20 macam fasilitas. Analisis yang digunakan ada penelitian ini adalah analisis tabulasi silang, pembobotan dengan skala likert dan analisis Crosstabulation Chi- Square. Dari hasil analisis ditemukan fasilitas yang paling banyak dibutuhkan oleh pengunjung diantaranya adalah toilet. Selanjutnya dilakukan analisis hubungan karakteristik sosial ekonomi pengunjung terhadap pemilihan fasilitas. Karakteristik pekerjaan merupakan variabel yang paling mempengaruhi pemilihan fasilitas di seluruh taman taman. Output dari studi ini berupa arahan pengembangan ketiga taman dari segi fasilitas yang paling dibutuhkan oleh pengunjung tama
Evaluasi Kondisi Permukaan Jalan Dengan Metode Road Condition Index (RCI)
Ketersediaan jalan sebagai prasarana transportasi dapat menumbuhkan konektivitas antar lokasi dan daerah yang membentuk suatu jaringan transportasi. Konektivitas antara daerah yang satu dengan daerah lain dapat terbentuk dengan adanya berbagai jaringan transportasi antara daerah dapat memungkinkan bagi pemindahan barang dan jasa atau orang dari satu tempat ke tempat lainnya. Kondisi jalan yang baik dan berdaya guna merupakan tujuan dari setiap perencanaan dan pembangunan prasarana transportasi. Pertumbuhan penduduk yang tinggi menambahkan kondisi jalan yang menurun seiring dengan penurunan kemampuan jalan menurut umur rencana. Kemampuan jalan dalam pemenuhan pelayanan pengguna jalan yang memburuk dapat menyebabkan konektivitas jaringan jalan dalam kota terganggu. Hal ini dapat membuat dampak yang tidak diinginkan baik ketidaknyamanan maupun terjadinya kecelakaan. Sementara itu kebutuhan masyarakat akan value pelayanan dan kenyamanan menjadikan acuan berbagai pihak dalam perwujudan jalan yang berkelanjutan. Metode yang digunakan dalam menentukan jenis dan tingkat kerusakan pada penelitian ini menggunakan metode Road Condition Index (RCI). RCI adalah salah satu system penilaian yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan kondisi perkerasan jalan berdasarkan jenis dan tingkat kerusakan dalam usaha pemeliharaan jalan. Pemeriksaan dilakukan dengan metode sederhana, yaitu mencatat kondisi perkerasan yang ada setiap 50 meter yang dicatat dan mengisikannya dalam formulir. Berdasarkan hasil survey dan analisa yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut terdapat perbedaan panjang ruas jalan purwakarta yang didapat dari dinas adalah 1867m sedangkan hasil survey adalah 1405 m, hal ini dimungkinkan adanya perbedaan titik sta awal dan sta akhir. Secara pengamatan visual, ruas jalan purwakarta mempunyai nilai rata rata yang baik dengan nilai SDI adalah
PEMILIHAN RENTANG WAKTU YANG OPTIMUM PENGAMATAN PASANG SURUT SUNGAI
Pasang surut (pasut) adalah pergerakan naik turunnya permukaan air secara berkala yang diakibatkan oleh kombinasi gaya gravitasi dan gaya tarik menarik dari benda-benda astronomi oleh bumi, bulan dan matahari. Dalam analisis harmonik pasut, penentuan komponen pasut dapat dilakukan dengan metode kuadrat terkecil (Least Square).Analisis harmonik pasut dilakukan untuk menghitung data amplitudo ( ) dan perbedaan fase ( ). Data yang digunakan adalah pengamatan pasut Sungai Martapura selama 60 hari pada dua lokasi pengamatan, dengan membagi data menjadi 15, 30, 45 dan 60 hari. Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan hasil optimum dengan referensi nilai variansi terkecil/minimum dari masing-masing kelompok data tersebut. Kelompok data yang memiliki nilai standar deviasi terkecil dianggap sebagai data dengan rentang waktu pengamatan yang optimal. Peneitian ini dilakukan pada 2 (dua) yaitu, lokasi pertama yang berjarak kurang lebih 400 (empat ratus) meter dari arah barat muara Sungai Martapura mempunyai nilai standar deviasi terkecil yaitu 0.085 m dengan rentang waktu pengamatan optimal selama 15 hari. Dan lokasi kedua yang berjarak kurang lebih 6 (enam) kilometer ke arah timur dari lokasi pengamatan pertama mempunyai nilai standar deviasi terkecil yaitu 0.153 m dengan rentang waktu pengamatan optimal selama 60 har
HUBUNGAN IMPLEMENTASI PROGRAM PERUSAHAAN INTI RAKYAT PERKEBUNAN ( PIR-BUN) KELAPA SAWITDENGAN PRODUKTIVITAS DAN PENDAPATAN PETANI PLASMA(Suatu Kasus Pada Petani Peserta Program Perusahaan Inti Rakyat Perkebunan(PIR-BUN) Kelapa Sawit di Kecamatan Natal, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara)
Perkebunan Inti Rakyat (PIR) adalah perkebunan besar yang dibangun untuk memungkinkan rakyat memiliki kebun-kebun, di mana mereka dibimbing untuk berusaha di dalam suatu sistem koperasi, sehingga para petaninya dapat memperoleh keuntungan berkelanjutan secara bersama-sama. Tujuan penelitan ini adalah untuk mengetahui hubungan antara pembangunan PIR Kelapa Sawit, produktivitas dan pendapatan petani. Teknik metoda penelitan yang digunakan adalah survei dengan petani peserta PIR sebagai unit analisis. Data diperoleh dari para petani yang sebelumnya diacak – ada 60 petani yang diwawancarai. Data dan hipotesis dianalisis dengan menggunakan Chi Square. Hasil penelitan menunjukkan bahwa pembangunan PIR Kelapa Sawit berhubungan dengan produktivitas kelapa sawit, yaitu semakin luas kebun kelapa sawit yang dibangun semakin tinggi produktivitasnya. Produktivitas kelapa sawit juga berkorelasi dengan pendapatan petani. Artinya, semakin tinggi produktivitas kelapa sawit, semakin tinggi pendapatan petani peserta program PIR
PENGARUH BERBAGAI TAKARAN PUPUK KANDANG DOMBA TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN PEGAGAN (Centela asiatica L)
The purpose of this study was to determine the effect of various doses of sheep manure on crop growth gotu kola (Centela asiatica L). This experiment was conducted in October 2014 - February 2015 at the Experimental Faculty of Agriculture, University Winaya Mukti Andisol to soil type. The experimental design used is a randomized block design simple pattern, consisting of six sheep manure treatment dose was repeated four times. The treatment dose of sheep manure consists of: A = without fertilizer; B = 5 t ha-1; C = 10 ton ha-1; D = 15 ton ha-1; E = 20 ton ha-1; F = 25 t ha-1. Results show 1) Provision of sheep manure pegagan effect on plant growth. 2) The dose of sheep manure 20-25 ton ha-1 affects the kindest to the number of leaves, number of tillers, and the number of tendrils primer at 8 MST and 12 weeks after planting, and root dry weight and dry weight pupus plant gotu kola at 12 MST
Respon Pertumbuhan dan Hasil Umbi Benih Kentang akibat Perompesan Tunas Aplikal dan Takaran Pupuk Super Fosfat (SO-36)
Penelitian dilakukan di Rumah Kaca Balai Pengembangan Benih Kentang, Pangalengan, Bandung dari Mei samapi Agustus 2010. Penelitian ini mempelajari pengaruh Perompesan Tunas Aplikal dan Takaran Pupuk Super Fosfates terhadap Pertumbuhan dan Hasil Umbi Benih Kentang varietas Granola. Rancangan penelitian yang digunakan Rancangan Acak Kelompok dengan dua faktor dan diulang 3 kali. Faktor pertama perompesan tunas apikal (C) terdiri dari (c1=tanpa peromperasan tunas apikal, c2=perompesan tunas apikal). Faktor kedua yaitu Takaran pupuk fosfat (P) terdiri dari : p1=150 kg ha-1; p2= 300 kg ha-1; p3= 450 kg ha-1; p4=600 kg ha-1 dan p5=750 kg ha-1. Hasil penelitian menunjukkan adanya interaksi antara perompesan tunas apikal dengan takaran pupuk fospat terhadap berat umbi per tanaman. Tapi tidak menunjukkan adanya interaksi terhadap tinggi tanaman, jumlah umbi per tanaman, nisbah pupuk akar dan luas daun, takaran optimum untuk tunas apiukal yang tidak dipotong terhadap bobot umbi sebesar 502,57 kg ha-1 SP-36 dengan hasil 12,29 kg per plot, dan takaran fospat optimum dengan tunas apikal yang dipotong yaitu 722,52 kg SP-36 dengan hasil 16,68 kg per plot dengan luas area per plot 3 m2