Faletehan Health Journal
Not a member yet
    273 research outputs found

    Studi Kasus: Asuhan Keperawatan Pada Klien Isolasi Sosial Pasca Pasung

    Get PDF
    Social isolation is characterized by decline or loss inability to interact with others. This paper aimed to analyze the nursing care of social isolation on Mr. P with schizophrenia paranoid. The nursing care process is based on the standard of generalist nursing care which provided for six days from May 7th throughout 12th 2018 on Mr. P aged 32 years male. Main nursing problem was social isolation. Nursing intervention was emphasized on client’s ability to establish mutual relationship and improve client’s communication skills gradually. Nursing interventions affected client positively as manifested gy decreased signs and symptoms of social isolation on the cognitive, affective, physiological and social aspects, but there had not been a decline in behavioral aspects. Client’s barriers in establishing relationship with nurses were internal factors in which clients had negative judgments about themselves, others and the environment and external factors where clients considered the nurse as a threatening stressor. Nursing care follow-up plans are expected to be maximized for individually, family, group and community.Isolasi sosial merupakan keadaan dimana seorang individu mengalami penurunan bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan orang lain di sekitarnya. Tujuanstudi kasus ini adalah untuk menganalisis tentang asuhan keperawatan isolasi sosial pasca pasung pada Tn. P dengan skizofrenia paranoid. Proses asuhan keperawatan dilakukan berdasarkan standar asuhan keperawatan generalis selama enam hari rawat pada tanggal 7-12 Mei 2018 pada Tn. P dengan usia 32 tahun dan berjenis kelamin laki-laki. Hasil didapatkan masalah keperawatan utama adalah isolasi sosial. Implementasi keperawatan berfokus pada kemampuan klien membina hubungan saling percaya dan meningkatkan kemampuan klien berinteraksi secara bertahap. Intervensi keperawatan memberikan dampak yang positif kepada klien dilihat dengan penurunan tanda dan gejala isolasi sosial pada aspek kognitif, afektif, fisiologis dan sosial, namun belum tampak penurunan pada aspek perilaku. Faktor yang menyebabkan klien sulit membina hubungan dengan perawat yaitu faktor internal dimana klien memiliki penilaian negatif terhadap diri sendiri, orang lain dan lingkungan dan faktor eksternal dimana klien menganggap perawat sebagai stressor yang membahayakan. Rencana tindak lanjut pelayanan keperawatan diharapkan dapat dimaksimalkan baik secara individu, keluarga, kelompok dan komunitas

    Kepatuhan Pembatasan Cairan dan Diet Rendah Garam (Natrium) pada Pasien GGK yang Menjalani Hemodialisa: Perspektif Health Belief Model

    Get PDF
    The mostly caused death on chronic renal failure are overhydration and hypercalemia. Therefore, the compliance of patients with chronic renal failure recognized as attempt to decrease mortality rate of it. The aim of this study was to describe compliance of fluid restriction and a low salt (sodium) diet in patients with chronic renal failure undergoing regular hemodialysis at Hospital dr. Hasan Sadikin. This research used descriptive method with cross-sectional approach. The samples of this research were regular hemodialysis patients who were selected by using consecutive sampling technique of 93 people. The  research instrument used questionnaire to measure compliance of fluid restriction and low salt (sodium) diet. Analysis used univariate analysis with median values.The analysis result showed that respondents who are compliance to the restriction of fluid were 35 people or 37.6%, while non-compliance is 58 people or 62.4%. Respondent who were comply of a diet low in salt (sodium) were 31 people or 33.3%, while non-compliance is 62 people or 66.7%. This study showed that most of patients with chronic renal failure did not adhere to restrictions of fluid and low-salt diet (sodium). The increasing of frequency education motivation and dietary fluid counseling in each hemodialysis schedule are nessesary.Penyebab kematian terbanyak pada GGK yaitu kelebihan cairan (over hydration) dan hiperkalemia. Oleh karena itu, kepatuhan pasien GGK dalam pembatasan cairan dan diet rendah garam menjadi upaya untuk mengurangi resiko kematian pada pasien GGK. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kepatuhan pembatasan cairan dan diet rendah garam (natrium) pada pasien GGK yang  menjalani hemodialisa rutin di RSUP dr. Hasan Sadikin, Bandung. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dari penelitian ini adalah pasien hemodialisa rutin dengan menggunakan teknik consecutive sampling dengan jumlah sampel 93 orang. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner untuk mengukur kepatuhan pembatasan cairan dan diet rendah garam (natrium). Data yang telah terkumpul kemudian dilakukan analisis univariat dengan menggunakan nilai Median. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang patuh terhadap pembatasan cairan sebanyak 35 orang (37,6%), sedangkan yang tidak patuh 58 orang (62,4 %). Berdasarkan tingkat kepatuhan diet rendah garam (natrium), responden yang patuh sebanyak 31 orang (33,3%), sedangkan yang tidak patuh sebanyak 62 orang (66,7 %). Penelitian ini menunjukkan sebagian besar pasien GGK tidak patuh terhadap pembatasan cairan dan diet rendah garam (natrium). Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan frekuensi edukasi motivasi serta konseling diet cairan di setiap jadwal hemodialisa

    Hubungan Pengetahuan, Sikap, Pelatihan, Pengawasan Dengan Persepsi Tentang Penerapan SMK3

    Get PDF
    Based on Regulation of Government Regulation Number 50 Year 2012, Occupational Safety and Health Management System (SMK3) is part of company management system as a whole in the framework of risk control related to work activities to create safe, efficient and productive workplace. PT. PLN (Persero) Mahakam Sector has included the OSHMS in its corporate management system. However, there has not been any review and assessment to the extent how the workers give support to the OSHMS. This research aims to find out the factors which influence the perception of the workers toward the OSHMS. The design of this research was analytic survey with quantitative method and using cross sectional approach with the total sample are 47 workers. This research applied correlation test of chi square with 95% CI. The research findings showed that there was a correlation between knowledge (p =0.029), attitudes (p =0.002) and OSH training (p =0.028) and the perception toward the OSHMS. Supervision (p =0.109) didn’t have a correlation with the workers perception. Attitudes about OSH becomes the most influential factor in the perception of workers on OSHMS.Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2012, Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) adalah bagian dari sistem manajemen perusahaan secara keseluruhan dalam rangka pengendalian risiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif. PT. PLN (Persero) Sektor Mahakam sebagai salah satu perusahaan dengan potensi bahaya dan resiko kecelakaan yang tinggi telah memasukan SMK3 ke dalam sistem manajemen perusahaan meskipun sejauh ini belum ada peninjauan ulang dan pengukuran tentang dukungan tenaga kerja terhadap penerapan SMK3. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan persepsi tenaga kerja tentang SMK3 pada tenaga kerja PT. PLN (Persero) Sektor Mahakam Unit PLTGU Tanjung Batu. Desain penelitian yang digunakan adalah survei analitik dengan metode kuantitatif dan pendekatan cross sectional dengan besar sampel sebanyak 47 tenaga kerja. Penelitian ini menggunakan uji korelasi chi square dengan CI=95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan pengetahuan (p=0.029), sikap (p=0.002), dan pelatihan K3 (p=0.028) dengan persepsi tentang SMK3, sedangkan variabel pengawasan (p=0.109) tidak berhubungan dengan persepsi tenaga kerja tentang penerapan SMK3. Sikap menjadi faktor yang paling berhubungan dengan persepsi tenaga kerja tentang SMK3

    Case Study dalam Mengatasi Anemia pada Remaja Putri di Keluarga dengan Model HEMA Coach (Health Education, Modifikasi prilAku, dan Coaching)

    Get PDF
    Adolescents are among the groups at risk of anemia caused by a lack of iron in the body with various precipitating factors. Interventions consisted of Health Education, Modification PrilAku, and CoacHing named HEMA Coach. The purpose of the intervention is the decreasing prevalence of anemia in the family. The research design is case study using family nursing approach to 10 families taken with purposive sampling technique. The results showed an increase in knowledge, attitude, and family skills in overcoming anemia problems in young women. Research recommendations are health promotion policy, monitoring on changes in the behavior of young women are carried out in a sustainable manner done continuously.Remaja merupakan salah satu kelompok yang berisiko mengalami anemia yang disebabkan kurangnya zat besi di dalam tubuh dengan berbagai faktor pencetus. Intervensi yang dilakukan terdiri dari Health Education, Modifikasi prilAku, dan CoacHing yang diberi nama HEMA Coach Tujuan intervensi adalah terjadinya penurunan prevalensi anemia di keluarga. Desain penelitian adalah study kasus menggunakan pendekatan asuhan keperawatan keluarga terhadap 10 keluarga yang diambil dengan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan terjadi peningkatan pengetahuan, sikap, dan keterampilan keluarga dalam mengatasi masalah anemia pada remaja putri. Rekomendasi penelitian adalah kebijakan pemerintah dalam pemberian promosi kesehatan dan monitoring terhadap perubahan perilaku remaja putri yang dilakukan secara berkelanjutan

    Hubungan Pengetahuan dan Sikap dengan Perilaku Caring Perawat di Rumah Sakit

    Get PDF
    Caring is a nursing action that puts the nurse caring towards the clien. In addition, caring to be the core of nursing care. This study aimed to determine factors associated with caring behavior of nurses. This study design was quantitative with cross sectional. This study was conducted at dr.Dradjat Prawiranegara Serang Hospital with 51 respondents. The statistical test showed that education level of nruse was not significant associated with caring behavior (p value 0.264), while knowledge and attitude of caring were significantly associated (p value <0,001). Caring behaviour can be affected by knowledge and attitude of nurse. Nurses who have good knowledge and attitude made good caring behaviours too.Caring merupakan tindakan keperawatan yang mengedepankan kepedulian perawat terhadap klien. Selain itu, caring menjadi inti dari asuhan keperawatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku caring perawat. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross sectional. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit dr.Dradjat Prawiranegara Serang dengan jumlah sampel 51 responden. Hasil penelitian menunjukan tidak ada hubungan antara pendidikan dengan perilaku caring perawat (p value =0,264). Sedangkan pengetahuan dan sikap perawat memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku caring (p value <0,001). Perilaku caring yang baik dapat dipengaruhi oleh pengetahuan dan sikap perawat yang baik tentang caring. Perawat yang memiliki pengetahuan dan sikap yang baik menjadikan perilaku caring perawat menjadi baik pula

    Pengaruh Konseling Gizi Terhadap Pengetahuan dan Pola Asuh Ibu Balita Gizi Kurang di Wilayah Kerja Puskesmas Rapak Mahang Tenggarong

    No full text
    Nutritional deficiency in children under five years old can affect their brain development. At the national level, the percentage of nutritional deficiency-malnutrition cases in 2013 reached 19.3 %. This research aimed to find out the effect of nutrition counseling on the knowledge and parenting of the mothers of with nutritional deficiency in the operational area of Puskesmas Rapak Mahang. The method used in this research was quasi experiment with nonequivalent control group design. In this research used 30 respondents for experiment and control group. The method for determined respondent was nonprobability sampling with accidental sampling, The instrument that used in this research was questionnaire. The data were analyzed by using statistical analysis of Wilcoxon at the significance level of 0.05. The result of statistical analysis showed that there was an effect of nutrition counseling on the knowledge about nutrition (p value = 0.001) and there was an effect of nutrition counseling on the parenting of the mothers in the experimental group (p value = 0.001). It is suggested that nutrition counseling be given at Posyandu (Integrated Service Post) so that the mothers of balita who do not visit the Puskesmas will get nutrition counseling.Kekurangan gizi pada usia balita dapat mempengaruhi perkembangan otak pada anak. Secara nasional, kasus gizi buruk-kurang pada tahun 2013 mencapai 19,3%. Angka ini terus meningkat setiap tahunnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konseling gizi terhadap pengetahuan dan pola asuh ibu balita gizi kurang di wilayah kerja Puskesmas Rapak Mahang. Metode penelitian yang digunakan adalah bentuk penelitian quasi experiment dengan desain penelitian nonequivalent control group design. Penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 30 sampel pada kelompok kontrol dan perlakuan. Teknik penentuan sampel pada kelompok perlakuan dalam penelitian ini yaitu nonprobability sampling dengan metode accidental sampling. Instrumen yang digunakan dalam peneliitian ini adalah kuisioner. Analisis data yang digunakan adalah uji statistik wilcoxon dengan taraf signifikansi 0.05. Hasil uji statistik, terdapat pengaruh konseling gizi terhadap pengetahuan gizi (p value= <0,001) dan juga terdapat pengaruh konseling gizi terhadap pola asuh ibu pada kelompok perlakuan (p value= <0,001). Sebaiknya konseling gizi dilaksanakan di posyandu sehingga ibu balita gizi kurang yang tidak ke puskesmas dapat mengikuti konseling gizi

    Efikasi Diri Dan Dukungan Sosial Pasien Hemodialisa Dalam Meningkatkan Kepatuhan Pembatasan Cairan

    Get PDF
    The increasing of intradialitic weight due to non-adherence to fluid intake of patients who undergoing hemodialysis is resulting in chronic buildup of fluid and risks for cardiovascular disorders and hypertension, as well as increased mortality and morbidity rate in patients with chronic renal failure. Social support is one of factors that support patient compliance in the therapy. This research design was mixed methods with sequential explanatory. Population in this study were all patients with chronic renal failure who underwent hemodialysis in Rumah Sakit Umum Tangerang. Quantitative sample were selected by using total sampling technique of 76 patients, and the number of qualitative samples taken by using purposive sampling technique of 6 patients. Data were collected with Chronic Kidney Disease Self-Efficacy Instrument and Multidimentional Scale Perceived Social Support, as well as interviews. Quantitative data analized with pearson correlation, but qualitative data analized by using Miles and Huberman model analysis techniques. Pearson correlation showed that there was a relationship between efficacy and social support with fluid restriction compliance (r = 0.476 p = 0.001) and (r = 0.308 p = 0.007). Based on the results of in-depth interviews found that the suffer from thirst cause patients to be non-compliance of fluid intake program restriction. It is expected that the hospital provides a special room to the patient\u27s family, and the nurse gives high motivation to the patient while undergoing the therapy regimen.Peningkatan berat badan intradialitik akibat ketidakpatuhan asupan cairan pasien yang menjalani hemodialisa berdampak pada terjadinya penumpukan cairan secara kronis dan berisiko terhadap gangguan pada kardiovaskuler dan hipertensi, serta meningkatkan mortalitas dan morbiditas pada pasien dengan gagal ginjal kronik. Dukungan sosial menjadi salah satu faktor yang mendukung kepatuhan pasien dalam menjalankan terapi. Penelitian ini menggunakan rancangan mixed methods dengan desain sequential explanatory. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa di RSU Kabupaten Tangerang. Jumlah sampel kuantitatif dipilih menggunakan tehnik total sampling sebanyak 76 orang dan  jumlah sampel kualitatif  diambil secara purposive sampling sebanyak 6 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan Chronic Kidney Disease Self-Efficacy Instrument dan Multidimentional Scale Perceived Social Support, serta wawancara. Analisis data kuantitatif dengan analisis deskriptif dan korelasi pearson. Analisis data kualitatif menggunakan teknik analisis model Miles dan Huberman. Hasil Uji korelasi Pearson, ada hubungan antara efikasi dan dukungan sosial dengan kepatuhan pembatasan cairan  (r=0.476 p= 0.001) dan (r=0.308 p= 0.007).  Berdasarkan hasil wawancara mendalam didapatkan bahwa rasa haus menjadi penyebab ketidakpatuhan menjalankan program pembatasan asupan cairan. Diharapkan rumah sakit memberikan ruang khusus kepada keluarga pasien dan perawat memberi motivasi yang tinggi kepada pasien dalam menjalankan regimen terapinya

    Pengaruh Paket Informasi Terhadap Pengetahuan Keluarga Dengan Skizofrenia

    Get PDF
    Schizophrenia is a disease affecting the brain and causing disturbing thoughts, perceptions, emotions, movements, and behaviors. Schizophrenia causes sufferers to experience many problems not only in their lives but also their family. The lack of knowledge of family with schizophrenia can affect the pattern of inappropriate care at home. The purpose of this study was to determine the effect of information package about schizophrenia to the family knowledge with schizophrenia. This research used quasi-experimental with pre and post-test with control group design. The sample size is 60 families with schizophrenia. Measurement of knowledge was two times, there was before and after intervention by using questionnaire of knowledge. Statistical analysis uses dependent and independent sample T-test. The result shows the knowledge mean score before the intervention was 6,13 (SD=2,330) and after an intervention was 10,53 (SD=1,833). There is an effect of packet information on increasing the knowledge of family with schizophrenia (p-value <0,05). It is important for nurses to provide an information package to families to improve knowledge so a family can provide care and create the right environmental conditions for people with schizophrenia.Skizofrenia adalah penyakit yang memengaruhi otak dan menyebabkan timbulnya pikiran, persepsi, emosi, gerakan, dan perilaku yang terganggu.  Hal ini menyebabkan penderitanya mengalami banyak masalah bukan hanya dalam kehidupan orang dengan skizofrenia (ODS) sendiri tetapi juga kehidupan keluarga. Pengetahuan keluarga yang kurang dapat berpengaruh pada pola perawatan yang tidak tepat selama ODS dirawat dirumah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh paket informasi tentang skizofrenia terhadap pengetahuan keluarga dengan skizofrenia. Penelitian ini merupakan penelitian quasi eksperimental, dengan desain pre and post test with kontrol group. Jumlah sampel yaitu 60 keluarga yang memiliki penderita skizofrenia. Pengukuran pengetahuan dilakukan sebanyak 2 kali, yaitu sebelum diberikan intervensi dan setelah diberikan intervensi dengan menggunakan kuesioner pengetahuan. Analisis menggunakan Dependent Sample T Test dan Independent Sample T Test. Hasil penelitian menunjukkan rerata skor pengetahuan sebelum intervensi adalah 6,13 (SD=2,330) dan sesudah intervensi adalah 10,53 (SD=1,833). Terdapat pengaruh pemberian paket informasi terhadap peningkatan pengetahuan keluarga ODS (p value < 0,05). Penting bagi perawat untuk memberikan paket informasi kepada keluarga dengan ODS untuk meningkatkan pengetahuan sehingga dapat memberikan perawatan dan menciptakan kondisi lingkungan yang tepat bagi orang dengan schizoprhenia

    Pendidikan Kesehatan Jiwa Bagi Kader Kesehatan Di Kecamatan Cikatomas Tasikmalaya

    No full text
    Pada umumnya penderita gangguan jiwa tinggal bersama keluarga sehingga keberadaan kader di masyarakat sangat membantu pemerintah dalam menggerakkan masyarakat agar aktif dalam berbagai program kesehatan yang digalakkan pemerintah. Kader perlu memiliki pengetahuan mengenai kesehatan jiwa. Pendidikan kesehatan jiwa merupakan upaya langsung untuk meningkatkan pengetahuan kader. Kader di Kecamatan Cikatomas belum pernah mendapatkan pendidikan kesehatan jiwa secara khusus sehingga perlu diberikan pendidikan kesehatan jiwa agar pemahamannya meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan kader tentang pendidikan kesehatan jiwa di Kecamatan Cikatomas Tasikmalaya. Penelitian ini merupakan penelitian quasi eksperimental pre-post test. Populasinya adalah seluruh kader kesehatan yang berada di Kecamatan Cikatomas Tasikmalaya sebanyak 32 kader. Pemilihan sampel menggunakan sampling jenuh, yang dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Lokasi penelitian di Kecamatan Cikatomas Tasikmalaya. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang berisi pertanyaan tertutup dan telah dilakukan uji validitas-reliabilitas. Data dianalisis menggunakan distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan kader meningkat, sebelum diberi pendidikan kesehatan jiwa menunjukan rerata nilai sebesar 29,34 dan setelahnya menjadi 35,20 dengan selisih 5,86. Hasil akhir dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi pihak Puskesmas agar mengembangkan materi dan metoda yang diberikan pada kader dalam rangka mengoptimalkan program kesehatan jiwa.In general, people with mental disorders living with the family so that the presence of cadres in the community greatly assist the government in mobilizing the community to be active in various health programs promoted by the government. Cadres need to have knowledge about mental health. Mental health education is a direct effort to increase cadre knowledge. The cadres in Cikatomas sub-district have never received health education especially mental health so they need to be given mental health education to increase their understanding. This study aims to identify mental health education provided for the cadres in Kecamatan Cikatomas Tasikmalaya. This research uses quantitative descriptive approach with quasi experimental pre-post test design. The population is all health cadres in Kecamatan Cikatomas Tasikmalaya with 32 cadres. Sample selection using saturated sampling, then divided into 2 groups, treatment groups and control groups. Location of research in District Cikatomas Tasikmalaya. Data were collected using questionnaires containing closed-ended questions and validity-reliability tests. Data were analyzed using frequency distribution. The results showed that the knowledge of cadres increased, before given mental health education showed the average value of 29.34 and afterwards to 35.20 with the difference of 5.86. The final result of this study is expected to provide information for the Puskesmas to develop the materials and methods given to the cadres in order to optimize the mental health program

    Latar Belakang Remaja Menggunakan Lem Aibon

    Get PDF
    oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/2Remaja merupakan kelompok umur yang paling mudah terpengaruh mengingat masa remaja adalah masa transisi dari masa kanak – kanak menuju masa dewasa sehingga mengakibatkan mereka mudah terjerumus dalam berbagai perilaku negatif salah satunya menghirup lem aibon. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui latar belakang remaja menggunakan lem aibon. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan desain fenomenologi. Partisipan dalam penelitian ini adalah remaja yang tinggal di Distrik Merauke yang berusia antara 10-17 tahun. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam dan FGD terhadap 10 partisipan yang setiap hari aktif menghirup lem. Teknik analisis menggunakan metode colaizzi. Penelitian menghasilkan 4 tema yakni rasa ingin tahu, faktor ketidakharmonisan dalam keluarga, ketergantungan, dan pengaruh teman sebaya. Berdasarkan hasil penelitian, peneliti menyarankanepada pemerintah dan pihak terkait  untuk melakukan pendekatan mulai dari usia dini mengenai dampak dari perilaku menghirup lem melalui lembaga swadaya masyarakat.Remaja merupakan kelompok umur yang paling mudah terpengaruh mengingat masa remaja adalah masa transisi dari masa kanak – kanak menuju masa dewasa sehingga mengakibatkan mereka mudah terjerumus dalam berbagai perilaku negatif salah satunya menghirup lem aibon. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui latar belakang remaja menggunakan lem aibon. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan desain fenomenologi. Partisipan dalam penelitian ini adalah remaja yang tinggal di Distrik Merauke yang berusia antara 10-17 tahun. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam dan FGD terhadap 10 partisipan yang setiap hari aktif menghirup lem. Teknik analisis menggunakan metode colaizzi. Penelitian menghasilkan 4 tema yakni rasa ingin tahu, faktor ketidakharmonisan dalam keluarga, ketergantungan, dan pengaruh teman sebaya. Berdasarkan hasil penelitian, peneliti menyarankanepada pemerintah dan pihak terkait  untuk melakukan pendekatan mulai dari usia dini mengenai dampak dari perilaku menghirup lem melalui lembaga swadaya masyarakat

    255

    full texts

    273

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Faletehan Health Journal
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇