Faletehan Health Journal
Not a member yet
273 research outputs found
Sort by
Pengaruh Media Booklet dan Lembar Balik terhadap Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan Siswa tentang Covid-19
The best way to prevent COVID-19 disease is to break the chain of the spread of the virus through isolation, early detection and preventive protocols. These efforts must be disseminated to the community, including junior high school students and can be done using the media of booklet and flipbook. The purpose of this study was to find out the difference of booklet and flipbook media influence on the knowledge, attitudes and skills of junior high school students about COVID-19. This study used a pre-experimental method with a research design of one group pretest-posttest with control group. The research was conducted in 2 public junior high schools in Bengkulu City with a sample of 30 students in the treatment group and 30 students in the control group. The results of the research explained that the average knowledge of students who used booklet media was 2.00, the average attitude was 1.90 and skills were 1.90. Meanwhile, the average knowledge of the control group with the media of the flipbook was 1.83, attitude was 1.90 and skill was 1.80. Booklet media is more effective in improving students\u27 knowledge, attitudes and skills about COVID-19 than flipbook media.Cara terbaik untuk mencegah penyakit COVID-19 adalah dengan memutus mata rantai penyebaran virus tersebut melalui isolasi, deteksi dini dan melakukan protokol pencegahan. Upaya tersebut harus disebarluaskan ke masyarakat tidak terkecuali pada siswa sekolah menengah pertama (SMP) dan dapat dilakukan dengan menggunakan media booklet dan lembar balik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan pengaruh media booklet dan lembar balik terhadap pengetahuan, sikap dan keterampilan siswa SMP tentang COVID-19. Penelitian ini menggunakan metode pre-eksperimental dengan rancangan penelitian one group pretest-posttest with control group. Penelitian dilakukan di 2 SMP negeri di Kota Bengkulu dengan sampel sebanyak 30 siswa di kelompok perlakuan dan 30 siswa di kelompok kontrol. Hasil riset menjelaskan bahwa rerata pengetahuan siswa yang menggunakan media booklet sebesar 2,00, rerata sikap 1,90 dan keterampilan 1,90. Sementara itu, rerata pengetahuan kelompok kontrol dengan media lembar balik yaitu 1,83, sikap 1,90 dan keterampilan yaitu 1,80. Media booklet lebih efektif dalam meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan siswa tentang COVID-19 dibandingkan media lembar balik
Hubungan Kebiasaan Olahraga dengan Keluhan Nyeri Punggung Bawah (Low Back Pain) pada Penjahit
A preliminary study conducted on 10 tailors in Cilegon District showed that 60% of them suffered from moderate low back pain which could reduce their productivity. The purpose of this study is to find out the factors related to lower back pain complaints. This study used a cross-sectional design with a sample size of 70 tailors in Cilegon District. The sampling technique in this study was carried out using the accidental sampling method. Data were analysed through univariate and bivariate analysis, using the chi square test. The results of the analysis showed a relationship between age (P value=0.006), back posture (P value=0.002), and exercise habits (P value=0.015) with moderate low back pain complaints. There was no significant relationship between sitting duration (P value=0.511) and moderate low back pain complaints. The results showed that majority of respondents felt complaints of LBP in the moderate category (57.1%). Tailors should pay more attention to their back posture when sewing and do stretching and exercising.Studi pendahuluan yang dilakukan pada 10 penjahit di Kecamatan Cilegon menunjukkan 60% diantaranya menderita nyeri punggung bawah dengan kategori sedang sehingga dapat menurunkan produktivitas kerja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan keluhan nyeri punggung bawah (low back pain). Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan jumlah sampel sebanyak 70 penjahit yang berada di Kecamatan Cilegon. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan metode accidental sampling. Data dianalisis melalui analisis univariat dan bivariat dengan menggunakan uji chi square. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan antara usia (P value=0,006), posisi kerja (P value=0,002), dan kebiasaan olahraga (P value=0,015) dengan keluhan nyeri punggung bawah (low back pain). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara lama duduk (P value=0,511) dengan keluhan nyeri punggung bawah (low back pain). Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang merasakan keluhan LBP dengan kategori sedang lebih banyak (57,1%). Penjahit seharusnya lebih memperhatikan posisi kerja pada saat menjahit serta melakukan peregangan dan olahraga
Health Behavior Awareness: Gambaran Perilaku Kesehatan Remaja terhadap Risiko Sindrom Metabolik
Metabolic syndrome among adolescents is an increasing health problem associated with unhealthy lifestyles, including low physical activity and high-fat, high-sugar diets. This study aimed to describe adolescent health behavior related to the risk of metabolic syndrome. A descriptive quantitative design with a cross-sectional approach was employed. A total of 100 late adolescents aged 17–21 years living in Banjarbaru City, South Kalimantan were selected using a convenience sampling technique through social media flyers. Data were collected using a validated and reliable Health Belief Model-based questionnaire (CVI = 0.89; α = 0.87) and analyzed descriptively using frequency and percentage. The results showed that most respondents had good health behavior perceptions, particularly in self-efficacy (74%), perceived susceptibility (69%), and cues to action (60%), while perceived severity remained low (53%). These findings indicate that adolescent health awareness is generally good; however, the perception of disease seriousness needs to be improved. Strengthening self-efficacy and enhancing understanding of metabolic syndrome risk are essential to foster healthy lifestyles among adolescent.Sindrom metabolik pada remaja merupakan masalah kesehatan yang semakin meningkat seiring dengan perubahan gaya hidup yang tidak sehat, seperti kurang aktivitas fisik dan pola makan tinggi lemak serta gula. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan perilaku kesehatan remaja terhadap risiko sindrom metabolik. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 100 remaja akhir berusia 17–21 tahun di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan dipilih menggunakan teknik convenience sampling melalui penyebaran flyer media sosial. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner berbasis Health Belief Model yang telah diuji validitas (CVI = 0,89) dan reliabilitasnya (α = 0,87). Analisis data dilakukan secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi dan persentase. Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki persepsi perilaku kesehatan yang baik pada dimensi self-efficacy (74%), perceived susceptibility (69%), dan cues to action (60%), sedangkan dimensi perceived severity masih rendah (53%). Temuan ini menunjukkan bahwa kesadaran kesehatan remaja cukup baik, namun persepsi terhadap keseriusan penyakit masih perlu ditingkatkan. Penguatan efikasi diri dan peningkatan pemahaman tentang risiko sindrom metabolik diperlukan untuk membentuk perilaku hidup sehat sejak usia remaja
Analisis Hubungan Masa Kerja terhadap Gangguan Fungsi Pendengaran pada Pekerja Tambang Batu Bara
Hearing loss due to noise exposure is a significant health problem, especially in high-noise work environments, such as the coal mining industry. This study aims to analyze the effects of length of employment on hearing impairment among workers at X Inc., Bontang. A quantitative approach with a cross-sectional method was used in this study, involving 52 workers who were exposed to high noise in the geology, CHP, utilities, and port facility operation area. Data collection was carried out through an audiometric survey to measure the level of hearing loss at various frequencies. The results showed that most respondents (86.5%) were over 40 years old and had worked for more than 10 years, leading to higher risk of hearing loss. Additionally, the relationship between length of employment and rate of hearing loss was significant; coal miners who worked longer showed more severe hearing loss. This study suggested the importance of implementing stricter noise regulations and more effective health protection to prevent hearing loss among coal miners. These findings can provide a basis for policymakers to formulate better preventive measures.Gangguan pendengaran akibat paparan kebisingan merupakan masalah kesehatan yang signifikan, terutama dalam lingkungan kerja dengan tingkat kebisingan tinggi, seperti industri pertambangan batubara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh lama bekerja terhadap gangguan fungsi pendengaran pada pekerja di PT. X, Bontang. Pendekatan kuantitatif dengan metode cross-sectional digunakan dalam penelitian ini, melibatkan 52 pekerja yang terpapar kebisingan tinggi di area geologi, CHP, utilities, dan port facility operation. Pengumpulan data dilakukan melalui survei audiometri untuk mengukur tingkat gangguan pendengaran pada berbagai frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden (86,5%) berusia lebih dari 40 tahun dan memiliki masa kerja lebih dari 10 tahun, yang berisiko lebih tinggi terhadap gangguan pendengaran. Hasil penelitian juga mengungkapkan adanya hubungan signifikan antara lama masa kerja dengan tingkat gangguan pendengaran; pekerja yang lebih lama bekerja menunjukkan kerusakan pendengaran yang lebih parah. Penelitian ini menyarankan pentingnya penerapan regulasi kebisingan yang lebih ketat dan perlindungan kesehatan yang lebih efektif untuk mencegah gangguan pendengaran pada pekerja pertambangan. Temuan ini dapat menjadi dasar bagi pengambil kebijakan dalam merumuskan langkah-langkah pencegahan yang lebih baik
Efektifitas Aplikasi E-Posyandu Kesehatan (ePoK) terhadap Partisipasi Orang Tua dalam Stimulasi Pertumbuhan dan Perkembangan Balita
Parents play a crucial role in child growth and development due to high-intensity interactions since birth. Parental participation is critical to child health, requiring them to possess information and skills for early detection and providing growth stimulation. This study aims to examine the effectiveness of E-Posyandu Health application in increasing parental participation in stimulating the growth and development of children under five. A quasi-experimental design with a non-equivalent control group design was used. The intervention group used the application for 2 months, while the control group received routine services from health center. Sampling was conducted using a simple random sampling technique, involving 70 parents in each group. Data analysis used the Mann Whitney test to evaluate significant differences between the two groups. The study was conducted in Tanjungpinang City from July to October 2024. The results showed that the intervention group experienced a much greater increase in parental participation compared to the control group, with a 20% improvement and p-value <0.05. The use of the application was proven enhancing parental participation in stimulating children under five growth and development.Orang tua memiliki peran krusial dalam pertumbuhan dan perkembangan anak karena intensitas interaksi yang tinggi sejak lahir. Partisipasi orang tua sangat menentukan kesehatan anak, sehingga mereka perlu memiliki informasi dan keterampilan untuk mendeteksi dini dan memberikan stimulasi tumbuh kembang. Penelitian ini bertujuan menguji efektivitas aplikasi E-Posyandu Kesehatan (ePoK) dalam meningkatkan partisipasi orang tua dalam stimulasi tumbuh kembang balita. Menggunakan desain quasi eksperimen dengan rancangan non-equivalent control group design. Kelompok intervensi menggunakan aplikasi ePoK selama 2 bulan, sedangkan kelompok kontrol menerima layanan rutin puskesmas. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik simple random sampling, melibatkan 70 orang tua di setiap kelompok. Analisis data menggunakan uji Mann Whitney untuk mengevaluasi perbedaan signifikan antara kedua kelompok. Penelitian ini dilakukan di Kota Tanjungpinang pada bulan Juli-Oktober 2024. Hasil penelitian menunjukan bahwa kelompok intervensi mengalami peningkatan partisipasi orang tua yang jauh lebih besar dibandingkan kelompok kontrol yaitu sebesar 20% dengan nilai p <0,001. Penggunaan aplikasi ePoK terbukti dapat meningkatkan partisipasi orang tua dalam melakukan stimulasi pertumbuhan dan perkembangan balita
Fenomena Penerapan Asuhan Kebidanan Holistik Islami dalam Mendukung Tumbuh Kembang Balita di Tempat Praktik Mandiri Bidan
The implementation of holistic Islamic midwifery care plays a significant role in supporting the growth and development of toddlers, particularly in independent midwifery practices. This study aims to identify and explore the application of holistic Islamic midwifery care and its impact in supporting toddler growth and development in independent midwifery practices. The research employed a mixed-methods approach with a convergent parallel design, involving 132 toddler’s mother and 3 midwives as respondents. Quantitative data were collected through questionnaires, while qualitative data were obtained through in-depth interviews. The results showed that 75.8% of mothers rated the midwifery services as "good," and 83.3% felt highly involved in their baby\u27s care. The holistic Islamic approach, encompassing physical, mental, and spiritual dimensions, positively influenced mothers\u27 understanding of their babies\u27 health and increased their involvement in the care process. However, education regarding this approach needs to be strengthened, particularly in understanding its spiritual aspects. Overall, this study concludes that the application of holistic Islamic midwifery care supports toddler growth and development by enhancing the quality of baby care and increasing maternal involvement.Penerapan asuhan kebidanan holistik Islami berperan penting dalam mendukung tumbuh kembang balita, khususnya dalam praktik mandiri bidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengeksplorasi penerapan asuhan kebidanan holistik Islami serta dampaknya dalam mendukung tumbuh kembang balita di tempat praktik mandiri bidan. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed-method dengan desain convergent parallel, melibatkan 132 ibu balita dan 3 bidan sebagai responden. Data kuantitatif dikumpulkan melalui kuesioner, sedangkan data kualitatif diperoleh melalui wawancara mendalam. Hasil menunjukkan bahwa 75,8% ibu menilai pelayanan bidan sebagai "baik," dan 83,3% ibu merasa sangat terlibat dalam perawatan bayi. Pendekatan holistik Islami yang mencakup dimensi fisik, mental, dan spiritual memberikan efek positif terhadap pemahaman ibu tentang kesehatan bayi serta meningkatkan keterlibatan mereka dalam proses perawatan. Namun, edukasi terkait pendekatan ini masih perlu diperkuat, terutama dalam hal pemahaman aspek spiritual. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan asuhan kebidanan holistik Islami mendukung tumbuh kembang balita melalui peningkatan kualitas perawatan bayi dan keterlibatan ibu
Prenatal Distress pada Ibu Hamil Usia Remaja dan Faktor yang Memengaruhinya
Pregnancy during adolescence is vulnerable to psychosocial problems, including prenatal distress, which can have adverse effects on the well-being of the mother and fetus in both the short and long term. This study aims to identify the prevalence of prenatal distress among adolescent pregnant women and its determinants. A descriptive-analytical study with a cross-sectional design was conducted among 242 adolescent pregnant women in Serang City, selected using consecutive sampling. Instruments included a socio-demographic questionnaire, PTSD Symptom Scale (PSS), Multidimensional scale of perceived social support (MSPSS), London Measure of Unplanned Pregnancy Instrument (LMUP), Marital Adjustment Test (MAT), and Prenatal distress Questionnaire (PDQ). Data were analyzed multivariately using logistic regression. Most respondents (66.5%) experienced prenatal distress. Significant determinants included gravida status, social support, pregnancy planning, and marital satisfaction. Logistic regression showed low social support (OR=8.77), marital dissatisfaction (OR=5.40), unplanned pregnancy (OR=3.80), and primigravida (OR=2.61) as the four main predictors. Supports from various parties are needed to overcome prenatal distress in pregnant adolescents, so that mothers are better prepared for their pregnancies.Kehamilan pada masa remaja rentan terhadap masalah psikososial, termasuk prenatal distress, yang dapat berakibat buruk pada kesejahteraan ibu dan janin baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi prevalensi prenatal distress pada ibu hamil remaja dan faktor-faktor yang memengaruhinya. Penelitian deskriptif analitik dengan desain potong lintang dilakukan terhadap 242 ibu hamil remaja di Kota Serang yang diambil dengan metode consecutive sampling. Instrumen yang digunakan meliputi kuesioner sosiodemografi, PTSD Symptom Scale (PSS), Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS), London Measure of Unplanned Pregnancy Instrument (LMUP), Marital Adjustment Test (MAT), dan Prenatal distress Questionnaire (PDQ). Data dianalisis secara multivariat menggunakan regresi logistik. Sebagian besar responden (66,5%) mengalami distres prenatal. Faktor-faktor yang memengaruhi distres prenatal antara lain status gravida, dukungan sosial, perencanaan kehamilan, dan kepuasan pernikahan. Regresi logistik menunjukkan dukungan sosial yang rendah (OR=8,77), ketidakpuasan pernikahan (OR=5,40), kehamilan yang tidak direncanakan (OR=3,80), dan primigravida (OR=2,61) sebagai empat prediktor utama. Dukungan dari berbagai pihak diperlukan untuk mengatasi distres prenatal pada ibu hamil remaja, agar ibu lebih siap menghadapi kehamilannya
Pengaruh Earplug dan Eye Mask terhadap Kualitas Tidur pada Pasien dengan Gangguan Tidur di Intensive Care unit
Sleep disturbances, such as noise and light, can affect metabolism and inflammatory processes of ICU patients, negatively impacting on health. This study aimed to determine the effect of using earplugs and eye masks in improving sleep quality of ICU patients. The method used was quantitative with a quasy experimental non-equivalent group control design. The number of samples was 28 respondents who were selected by purposive sampling technique and divided into 2 groups. The sleep quality instrument used the Richard Campbell Sleep Questionnaire (RCSQ). Data were analyzed by frequency distribution test, Independent Sample T-Test and paired sample T-Test through SPSS version 25. The results of this study showed that there was a significant effect before and after the use of earplugs and eye masks. Although the use of earplugs and eye masks is a cost-effective, safe, and can improve the sleep quality of ICU patients, further research is needed to identify the effect of these interventions on certain disease groups.Gangguan tidur seperti kebisingan dan cahaya dapat mempengaruhi metabolisme dan proses inflamasi pasien ICU sehingga dapat memberikan dampak negatif yang luas pada kesehatan. Tujuan dari penelian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh penggunaan earplugs dan eye mask dalam meningkatkan kualitas tidur pada pasien ICU. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan rancangan penelitian quasy experimental non-equivalent group control design. Jumlah sampel 28 responden yang dipilih dengan teknik purposive sampling dibagi menjadi 2 kelompok. Instrumen kualitas tidur menggunakan Richard Campbell Sleep Questionnaire (RCSQ). Data dianalisis dengan uji distribusi frekruensi, independent sample T-Test dan paired simple T- Test melalui spss versi 25. Hasil penelitian menunjukkan pengaruh yang signifikan antara sebelum dan sesudah penggunaan earplugs dan eye mask. Meskipun penggunaan earplugs dan eye mask merupakan intervensi yang hemat biaya, aman, dan dapat meningkatkan kualitas tidur pada pasien ICU, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menunjukan efek intervensi ini terhadap kelompok penyakit tertentu
Hubungan Pelatihan, Beban Kerja, Motivasi dan Kepuasan Kerja dengan Kinerja Tenaga Kesehatan dalam Penemuan Kasus TB
Tuberculosis (TB) cases detection is one of the main interventions in addressing this health problem, which the high or low rate of case detection can be brought on by several causes, such as the lack of performance of healthcare workers in detecting TB cases. The objective of this research was to examine how the performance of healthcare workers in detecting TB cases is related to training, workload, motivation, and job satisfaction. This quantitative research was conducted using a cross-sectional approach. Overall, a total of 77 health workers from Samarinda Public Health Center became the sample. The results of the chi-square test indicated that there was no relationship between training and the performance of TB healthcare workers. However, there was a relationship between the performance of TB healthcare workers and workload (p=0.043), motivation (p=0.000), and job satisfaction (p=0.000). The factor that significantly influenced the performance of TB healthcare workers was job satisfaction. Organizational leaders were expected to enhance employee satisfaction by providing a pleasant workplace.Penemuan kasus tuberculosis (TB) merupakan salah satu intervensi utama dalam mengatasi masalah kesehatan ini dimana tinggi rendahnya penemuan kasus dapat disebabkan oleh beberapa faktor, seperti kurangnya kinerja tenaga kesehatan dalam penemuan kasus TB. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana kinerja tenaga kesehatan terhadap penemuan kasus TB berhubungan dengan pelatihan, beban kerja, motivasi, dan kepuasan kerja. Penelitian kuantitatif ini dilakukan menggunakan pendekatan cross-sectional. Secara keseluruhan, 77 orang tenaga kesehatan Puskesmas Kota Samarinda diambil sebagai sampel total. Hasil uji chi-square menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara pelatihan dengan kinerja tenaga kesehatan TB. Namun, ada hubungan antara kinerja tenaga kesehatan TB dengan beban kerja (p=0,043), motivasi (p=0,000), dan kepuasan kerja (p=0,000). Faktor yang paling berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja tenaga kesehatan TB adalah kepuasan kerja. Pimpinan organisasi diharapkan dapat meningkatkan kepuasan karyawan dengan menyediakan tempat kerja yang menyenangkan
Analysis of the Relationship between Education, Merital Status, Age of Marriage and Exposure to Education with Awareness of Thalassemia Screening in Indonesia
Indonesia sebagai negara dengan jumlah kasus thalasemia yang cukup banyak masih kurang secara pengetahuan dan kesadaran akan penyakit ini. Kurangnya pengetahuan ini ditinjau sebabnya dan dapat berdampak pada jumlah kasus screening yang rendah. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan usia pernikahan, status pernikahan, tingkat pendidikan, dan keterpaparan edukasi terhadap pemahaman masyarakat mengenai kesadaran screening thalasemia. Penelitian ini merupakan studi cross-sectional dengan jumlah sampel 35 responden yang diambil dengan kombinasi metode convenience sampling dan purposive sampling. Analisis data menggunakan uji chi square. Hasil studi menunjukkan bahwa keterpaparan edukasi thalasemia (p value 0,018) secara statistik memiliki hubungan yang signifikan dengan kesadaran melakukan screening thalasemia. Sementara itu, variabel status pernikahan (p value 0,160), tingkat pendidikan (p value 0,502), dan usia pernikahan (p value 0,128) tidak memiliki hubungan dengan kesadaran melakukan screening thalasemia. Pengetahuan thalasemia perlu ditingkatkan dengan cara mempromosikan strategi pencegahan thalasemia melalui edukasi, deteksi dini, dan konseling pranikah.Indonesia as a country with a fairly large number of thalassemia cases still lacks knowledge and awareness of thalassemia. This lack of knowledge is reviewed for its causes and can have an impact on the low number of screening cases. The purpose of this study was to analyze the relationship between age of marriage, marital status, education level, and exposure to education on public understanding of thalassemia screening awareness. This study is a cross-sectional study with a sample of 35 respondents taken with a combination of convenience sampling and purposive sampling method. Data analysis used the chi square test. The results of the study showed that exposure to thalassemia education (p value 0.018) statistically had a significant relationship with awareness of thalassemia screening. Meanwhile, the variables of marital status (p value 0.160), education level (p value 0.502), and age of marriage (p value 0.128) did not have a relationship with awareness of thalassemia screening. Knowledge of thalassemia needs to be improved by promoting strategies of thalassemia prevention through education, early detection, and premarital counseling