Jurnal Pertanian UMPAR (Universitas Muhammadiyah Parepare)
Not a member yet
    529 research outputs found

    FAKTOR- FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERMINTAAN DAN PENAWARAN EKSPOR IKAN HIAS INJEL NAPOLEON POMACANTHUS XANTHOMETAPON DI SULAWESI SELATAN

    No full text
    Indonesian ornamental fish export growth between 1987 to 2010 are likely to continue to rise. According AKKII and AKIS (2008), data obtained from the International Trade Center (ITC) shows the average growth of import demand for the country to reach 15% per year. Destination country or the world ornamental fish market, among others the European Union, the USA, Japan, Singapore and Taiwan. The purpose of the study was to determine the factors that affect the demand and supply of ornamental fish exports injel napoleon and to determine the level of supply and demand injel napoleon fish and its relation to the level of utilization. The analysis used is multiple linear regression models of log-log / double logarithmic models or also called constant elasticity using descriptive method. The data in this study based on the dimension of time, namely the time-series data (time series) derived from primary and secondary data from company exporters ornamental fish and ornamental fish business associations. Ornamental fish export price injel napoleon significant negative effect on the demand for ornamental fish export injel napoleon. Ornamental fish export price injel pajamas significant positive effect on the demand for ornamental fish export injel napoleon. The rupiah exchange rate against the dollar has no significant effect terhada p number injel napoleon fish export demand. Ornamental fish export price injel injel napoleon and pajamas as well as the exchange rate against the dollar significantly influence the number of ornamental fish export demand injel napoleon. Napoleon injel supply curve curved reverse (backward bending supply curve) shows that the supply is declining despite rising prices for suspected fish stock decreases

    EVALUASI PENURUNAN ANGKA MORTALITAS DAN MORBIDITAS AYAM PEDAGING YANG MENDAPATKAN PENAMBAHAN TEPUNG LEMPUYANG (ZINGIBER AROMATICUM VAL) DALAM RANSUM

    No full text
    Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh suplementasi tepung lempuyang yang berbeda pada ransum  terhadap penurunan angka mortalitas  dan  morbiditas (penyebab penyakit) dari  kematian ayam pedaging tersebut. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak  Lengkap  (RAL) dengan  ulangan sebanyak tiga kali dan tiga taraf perlakuan  yaitu P0=kontrol, P1=0,5% tepung lempuyang, P2=2,5% tepung lempuyang, P3=4,5% tepung lempuyang dan P4=6,5% tepung lempuyang.  Angka mortalitas ayam pedaging pada perlakuan P0 (4 ekor),  P1 (2 ekor) P2 (0 ekor) P3 (0 ekor) dan P4 (1 ekor). P0 (control) berpengaruh sangat nyata terhadap perlakuan P1,P2,P3 dan P4. Perlakuan P1 (2 ekor) berpengaruh nyata terhadap perlakuan P0, P2, P3 tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap     perlakuan P4. Persentase morbiditas atau angka serangan penyakit adalah 7 %  (7 ekor dari 90 ekor). Penyakit yang muncul selama pemeliharaan adalah Tetelo (Newcastle Disease) yang pada akhirnya menyebabkan kematian tujuh ekor ayam pedaging. Ayam yang mati akibat penyakit Tetelo (Newcastle Disease) selanjutnya dilakukan bedah bangkai oleh dokter hewan di Dinas Peternakan Kabupaten Sidrap. Berdasarkan hasil penelitian  pemberian tepung lempuyang dalam ransum dengan dosis 2,5% dan 4,5% dapat meningkatkan kekebalan ayam pedaging dengan angka mortalitas 0%.  Sedangkan  Angka mortalitas tertinggi diperoleh perlakuan P0 yaitu 4%, dan Pemberian tepung lempuyang dengan dosis yang tepat dapat meningkatkan kekebalan ayam pedaging

    ANALISIS PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI KACANG KORO PEDANG (Canavalia ensiformis) PADA BERBAGAI KONSENTRASI PUPUK ORGANIK CAIR DAN PEMANGKASAN

    No full text
    Tujuan penelitian untuk mengetahui pertumbuhan dan produksi tanaman kacang koro pedang pada berbagai konsentrasi pupuk organik cair (POC) dan waktu pemangkasan.Penelitian ini menggunakan Rancangan Petak Terpisah (RPT) dengan dasar Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang diulang sebanyak tiga kali. Petak utama adalah konsentrasi POC (C) terdiri dari empat taraf, yaitu: 0 ml/l air (C0), 10 ml/l air (C1), 20 ml/l air (C3) dan 30 ml/l air (C4). Sedangkan anak petak adalah waktu pemangkasan terdiri dari tiga taraf, yaitu: tanpa pemangkasan (P0), 30 hari setelah tanam (hst) (P1) dan 60 hst (P2), yang dilanjutkan dengan uji BNT jika perlakuan berpengaruh nyata.Hasil percobaan menunjukkan Indeks Luas Daun (ILD), Laju Asimilasi Netto (LAN), Laju Tumbuh Pertanaman (LTP), dan produksi tertinggi tanaman kacang koro pedang diperoleh pada konsentrasi POC 30 ml/l air. Waktu pemangkasan yang memberikan hasil tertinggi pada pertumbuhan dan produksi tanaman kacang koro pedang adalah 60 hst. Interaksi antara POC dan pemangkasan yang memberikan hasil terbaik adalah konsentrasi POC 30 ml/l air dan pemangkasan saat tanaman berumur 60 hst, dengan produksi 3,9 ton/ha

    DESIMINASI DUA MODEL TEKNOLOGI BIOGAS PADA PETERNAKAN RAKYAT DI KABUPATEN ENREKANG GUNA MENCIPTAKAN MASYARAKAT HEMAT ENERGI

    No full text
    Perkembangan ternak sapi perah khususnya di Kabupaten Enrekang Sulawesi Selatan mengalami perkembangan yang cukup pesat. Banyak kelompok ternak yang mengembangkan kegiatan pada bidang ini. Hasil utama dari sapi perah di Kabupaten Enrekang yaitu Susu yang kemudian diolah menjadi Dangke (makanan khas masyarakat Enrekang). Selain hasil utama ada juga hasil sampingan yang tidak kalah pentingnya yaitu feses dan urin. Feses dan urin penting sebab setiap hari ternak perah mengeluarkan feses dan urin, dan jika dibiarkan begitu saja ini akan menjadi sampah atau limbah yang dapat mencemari lingkungan dan menyebabkan kontaminasi susu yang sudah diperah. Proses ini akan menyebabkan kualitas susu menjadi menurun. Saat ini telah banyak teknologi khususnya pengolahan limbah yang digunakan. Semua teknologi menguntungkan, namun beberapa model teknologi tidak mampu bertahan sampai sekarang. Teknologi biogas salah satunya. Banyak model biogas di Kabupaten Enrekang yang telah dilaksanakan. Namun tingkat keberhasilannya rendah dalam daya tahan teknologi. Banyak teknologi biogas yang rusak menyebabkan masyarakat peternak enggan menggunakan alat ini. Metode pelaksanaanya itu Feses dicampur dengan air, menggunakan perbandingan 1 : 1 diaduk hingga merata. Feses yang telah tercampur dengan air kemudian dimasukkan ke dalam digester selanjutnya didiamkan selama 10 – 20 hari dalam keadaan hampa udara (anerob). Pada kondisi inilah terjadi reaksi dan interaksi antara bakteri metanogen dan non-metanogen serta bahan yang diumpankan ke dalam digester sebagai input. Ini adalah proses phisio-kimia yang kompleks dengan proses biologis yang melibatkan berbagai faktor dan tahapan bentuk. Hasil kegiatan menunjukkan adanya perbedaan digester berbahan fiber dan digester berbahan beton. Selain berbeda kapasitas, reaktor pada digester beton lebih banyak menghasilkan gas. Gas dari digester beton tidak perlu ditampung, tapi langsung disambungkan ke kompor. Hasilnya digester beton dapat digunakan memasak sepanjang hari sedangkan digester fiber hanya mampu digunakan beberapa jam saja

    PERTUMBUHAN JAGUNG BERMUTU PROTEIN TINGGI PADA BERBAGAI DOSIS NITROGEN

    No full text
    Para pemulia tanaman mengembangkan jagung bermutu protein tinggi (Quality Protein Maize) disingkat QPM. QPM memiliki beberapa kelebihan dibandingkan jagung biasa, yaitu dapat meningkatkan nilai nutrisi pangan, meningkatkan nilai nutrisi pakan dan mensubstitusi sumber protein untuk pakan dari bungkil kedelai dan tepung ikan. Sehingga pakan lebih murah dan impor kedelai berkurang. Jagung QPM memiliki kandungan asam amino esensial, yaitu lysin dan triptofan dua kali lipat dari jagung lain. Manusia dan ternak membutuhkan kedua asam amino tersebut. Ternak seperti unggas dan babi yang tidak dapat menghasilkan lysin dan triptofan sendiri, sehingga harus disuplai dari bahan makanannya untuk produksi protein hewani.  Penelitian disusun faktorial 2 faktor, faktor I adalah Jagung QPM yang terdiri dari 4 varietas, terdiri dari Srikandi Putih-1 (Q1), Srikandi Kuning 2 (Q2) Srikandi Kuning-3 (Q3), dan Bima BQ (Q4).  Faktor ke dua adalah Dosis pupuk Nitrogen yang terdiri dari tanpa Urea (D1), 100kg Urea/ha(D2), 200 kg Urea/ha(D3) dan 300 kg Urea/ha(D4). Diperoleh 20 kombinasi perlakuan yang di ulang 3 kali sehingga terdapat 60 plot percobaan. Aplikasi pupuk N dilakukan pada 7 hst dan 40 hst. Untuk menilai pengaruh perlakuan terhadap pertumbuhan jagung. Hasil penelitian menunjukkan varietas Srikandi Putih mempunyai pertumbuhan terbaik dibanding varietas Srikandi Kuning-2, Srikandi Kuning-3, dan Bima BQ pada kondisi cekaman nitrogen (N)

    ANALISIS PROKSIMAT CHIPS RUMPUT LAUT EUCHEUMA COTTONII PADA SUHU PENGGORENGAN DAN LAMA PENGGORENGAN BERBEDA

    No full text
    Chips  rumput  laut  adalah produk makanan ringan dengan fortifikasi rumput laut serta penambahan bahan lain yang dihasilkan melalui proses penggorengan. Untuk menghasilkan chips rumput laut yang berorientasi pasar namun tetap bergizi baik, maka diperlukan suatu kajian mengenai kandungan proksimat produk chips rumput laut. Penelitian ini bertujuan untuk : 1) menentukan kandungan proksimat pada produk chips rumput laut dengan suhu penggorengan dan lama penggorengan berbeda-beda, dan 2) Mengestimasi suhu penggorengan dan lama penggorengan  optimum pada chips rumput laut Eucheuma cottonii.  Penelitian ini menerapkan dua perlakuan yaitu : (1) lama penggorengan 5 menit(A1), 10 menit (A2), 15 menit (A3), 20 menit (A4), dan (2) Suhu penggorengan 750C (B1), 800C (B2), 850C (B3), 900C (B4).  Analisis proksimat menunjukkan bahwa kadar air tertinggi diperoleh pada perlakuan A3B1 yaitu 10,23 % dan terendah pada perlakuan A4B4 3,25 %, kadar protein tertinggi pada perlakuan A4B4 yaitu 9,99% dan terendah pada A1B1 yaitu 3,25%, kadar lemak tertinggi pada A1B4 43,79% dan terendah pada A3B2 27,14%, kadar abu tertinggi pada A3B3 3,66% dan terendah pada A3B1 0,57%, dan kadar karbohidrat tertinggi pada A1B4 yaitu 9,86% dan terendah A1B1 4,91%.  Suhu penggorengan optimum adalah 90 oC dan lama  penggorengan optimum adalah 20 menit atau perlakuan A4B4 yang menghasilkan produk terbaik di antara perlakuan yang diterapkan

    DINAMIKA PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI KEDELAI DENGAN BERBAGAI KONSENTRASI BIOETANOL DAN DOSIS MIKORIZA

    No full text
    Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian bioetanol dan mikoriza terhadap pertumbuhan dan produksi kedelai. Penelitian ini menggunakan Rancangan Faktorial dengan dasar Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan ulangan sebanyak tiga kali, perlakuan pertama adalah bioetanol yang terdiri dari tiga taraf konsentrasi, yaitu 0% (kontrol), 10%, dan 20%. Sedangkan perlakuan kedua adalah mikoriza yang terdiri dari tiga taraf, yaitu tanpa Mikoriza, 4 g.tan-1, dan 8 g.tan-1 yang dilanjutkan dengan uji duncan jika perlakuan berpengaruh nyata. Hasil percobaan menunjukkan tinggi tanaman tertinggi diperoleh dari perlakuan bioetanol 20% dan mikoriza 8 g.tan-1. Analisis ragam jumlah daun berbeda nyata (?=0.05) terhadap interaksi bioetanol dan mikoriza umur 14 hst. Pengamatan ILD diperoleh nilai tertinggi umur 43 hst pada perlakuan bioetanol 10% dan mikoriza 8 g.tan-1, sedang nilai tertinggi LAN umur 43 hst pada perlakuan kontrol, dan nilai tertinggi LTR umur 43 hst pada perlakuan bioetanol 20% dan mikoriza 8 g.tan-1. Hasil produksi tertinggi diperoleh pada perlakuan bioetanol 10% dan mikoriza 8 g.tan-1

    HUBUNGAN KARAKTERISTIK HABITAT DENGAN KELIMPAHAN IKAN HIAS INJEL NAPOLEON POMACANTHUS XANTHOMETAPON DI PERAIRAN KABUPATEN PANGKEP, SULAWESI SELATAN

    No full text
    Tujuan penelitian ini adalah mengestimasi dan menganalisis kelimpahan ikan hias Injel Napoleon (Pomacanthus xanthometapon)  berdasarkan kondisi tutupan karang hidup di perairan Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Ikan hias Injel Napoleon ini merupakan ikan hias laut termahal. Ikan ini hidup dan berkembang biak di habitat terumbu karang. Keberadaan dan kemunculannya pada habitat terumbu karang ini masih belum diketahui secara jelas. Kerusakan terumbu karang yang terjadi selama ini diperkirakan turut mengancam ketersedian ikan hias ini. Oleh karena itu, informasi kelimpahan kaitannya dengan kondisi terumbu karang (prosentase dan jenis tutupan karang hidup) menjadi sangat penting. Metode penelitian didasarkan pada sampling paralel antara kelimpahan (visual sensus) dan prosentase  tutupan karang hidup (Point Intercept Transect)  di lokasi penelitian. Lokasi penelitian di Perairan Kepulauan Liukang Tumpabbiring dan Kepulauan Liukang Tangaya. Analisis keterkaitan kelimpahan dan tutupan karang hidup dilakukan dengan regresi linier. Hasil kajian menunjukkan bahwa Status tutupan karang di perairan Kepulauan Tuppabiring bentuk reef flat  berada pada kondisi baik (53,50 %), reef cress sedang  (47,28%), dan reef slope  baik (52,78%), sedangkan di perairan Kepulauan Liukang Tangaya yang ditemukan pada bentuk reef flat  berada pada kondisi baik (54,17 %),  reef cress baik  (58,11%), dan reef slope baik ( 60,28%). Kelimpahan ikan Injel Napoleon sebesar 0,0004 ekor/m2 dan standing stock  12.411.333 ekor pada perairan Kepulauan Liukang Tupabbiring sedangkan pada Kepulauan  Liukang Tangaya sebesar 0,016 ekor/m2  dan standing stock 727.718.000

    PENGARUH SIFAT FISIK DAN KIMIA TANAH TERHADAP KOMUNITAS HUTAN MANGROVE (KASUS DI KABUPATEN SINJAI)

    No full text
    Penelitian dilakukan di Desa Tongke-tongke dan Lingkungan Pangasa Kelurahan Samataring Kecamatan Sinjai Timur Kabupaten Sinjai dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh parameter lingkungan seperti sifat fisik dan kimia tanah terhadap komunitas hutan mangrove di Kabupaten Sinjai.Hasil penelitian menunjukkan parameter lingkungan tanah yang berpengaruh terhadap pertumbuhan mangrove di dua lokasi penelitian menunjukkan pH yang rendah sekitar 6,1-6,8 namun masih relevan dengan pertumbuhan hutan mangrove, kedua lokasi memiliki kelas tekstur lempung berdebu untuk semua tempat pengambilan sampel dan hal ini masih layak untuk pertumbuhan mangrove, sehingga tidak mengganggu kehidupan mangrove di lokasi penelitian

    APLIKASI MIKORIZA VESIKULAR ARBUSKULAR TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN KEDELAI (Glycine max L. Merrill)

    No full text
    Pertambahan penduduk mengakibatkan pertumbuhan industri menggunakan kedelai turut meningkat, namun tidak diikuti oleh peningkatan produktivitas kedelai sehingga impor kedelai masih dibutuhkan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian berbagai dosis mikoriza vesikular arbuskular terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman kedelai. Penelitian ini menggunakan rancangan dasar dengan dasar Rancangan Acak Kelompok (RAK) sebanyak tiga kelompok, perlakuan mikoriza terdiri dari tiga taraf, yaitu tanpa Mikoriza sebagai kontrol, 4 g.tan-1, dan 8 g.tan-1 yang dilanjutkan dengan uji BNT jika perlakuan berpengaruh nyata. Hasil percobaan menunjukkan tinggi tanaman, ILD, LAN, LTR dan berat biji tidak berpengaruh nyata, sedang jumlah daun berbeda nyata pada ?=0.05

    0

    full texts

    529

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Pertanian UMPAR (Universitas Muhammadiyah Parepare)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇