UIN (Universitas Islam Negeri) Sunan Kalijaga, Yogyakarta: E-Journal Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora
Not a member yet
765 research outputs found
Sort by
Quarter-life Crisis ditinjau dari Intoleransi Ketidakpastian pada Emerging Adult dengan Coping Religius sebagai Moderator
Quarter-life crisis refers to a psychological crisis characterized by confusion in identity exploration, feelings of helplessness, and anxiety related to future uncertainty experienced during emerging adulthood. Religious coping is viewed as one of the strategies used to manage psychological crises. This study explored the moderator effect of religious coping between intolerance of uncertainty and quarter-life crisis among emerging adults in Indonesia. Using a quantitative approach, data were collected through a survey involving 301 participants, employing the Quarter-Life Crisis Scale, the Indonesian version of IUS-12, and the Indonesian version of Brief RCOPE. Based on Moderated Regression Analysis (MRA), religious coping did not function as a moderator between intolerance of uncertainty and quarter-life crisis. Multiple regression analysis revealed that religious coping and intolerance of uncertainty jointly served as variables that significantly predicted of quarter-life crisis.
Quarter-life crisis merujuk pada krisis psikologis yang ditandai dengan kebingungan dalam eksplorasi identitas, perasaan tidak berdaya, dan kecemasan mengenai ketidakpastian masa depan yang cenderung dialami pada fase emerging adulthood. Sementara itu, coping religius dipandang sebagai salah satu upaya untuk mengatasi krisis psikologis. Penelitian ini mengeksplorasi peran coping religius sebagai moderator antara intoleransi ketidakpastian serta quarter-life crisis pada emerging adult di Indonesia. Dengan pendekatan kuantitatif, data dikumpulkan melalui survei terhadap 301 partisipan menggunakan Skala Quarter-life Crisis, IUS-12 versi Indonesia, dan Brief RCOPE versi Indonesia. Berdasarkan Moderated Regression Analysis (MRA), coping religius tidak berperan sebagai moderator antara intoleransi ketidakpastian dan quarter-life crisis. Dari analisis regresi ganda, coping religius dan intoleransi ketidakpastian bersama-sama berperan signifikan sebagai prediktor quarter-life crisis
Penyusunan Alat Ukur Kesiapan Menghadapi Kematian dalam Perspektif Islam
This study aims to develop a valid and reliable instrument to measure preparedness for death from an Islamic perspective. This measurement tool is essential for Muslim communities as it incorporates Islamic religious values. The research was conducted in three stages: literature review, semi-structured interviews, and blueprint development. The collected data were analyzed using Exploratory Factor Analysis (EFA) to examine the factor structure and construct validity of the instrument. The initial blueprint consisted of 55 items, which were reduced to 20 items after content validity assessment by seven experts (three Islamic scholars and four psychologists). The instrument was administered to 205 respondents. The EFA results refined the scale from four factors and 20 items to two factors and 19 items. The findings indicate that preparedness for death in Islam comprises two dimensions: a transcendental dimension (belief in destiny, awareness of the afterlife, and commitment to worship) and a social dimension (support from family, peers, and the religious environment).
Penelitian ini bertujuan menyusun instrumen yang valid dan reliabel untuk mengukur kesiapan menghadapi kematian dalam perspektif Islam. Alat ukur ini penting untuk masyarakat muslim karena mempertimbangkan aspek religius Islam. Penelitian dilakukan dalam tiga tahap: kajian literatur, wawancara semi-terstruktur, serta penyusunan blueprint. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan teknik Exploratory Factor Analysis (EFA) guna mengeksplorasi struktur faktor dan menguji konstruksi alat ukur yang dikembangkan. Blueprint yang awalnya berjumlah 55 aitem menjadi 20 aitem setelah uji validitas isi oleh tujuh ahli (3 ahli agama dan 4 ahli psikologi). Responden yang mengisi skala ini adalah 205 orang. Dalam proses EFA empat faktor dan 20 aitem mengerucut menjadi dua faktor dan 19 aitem. Hasil penelitian Temuan menunjukkan bahwa kesiapan menghadapi kematian dalam Islam terdiri dari dimensi transendental (iman kepada takdir, kesadaran akan kehidupan setelah mati, dan komitmen ibadah) serta dimensi sosial (dukungan keluarga, teman, dan lingkungan religius
Forgiveness dengan Altruisme pada Santri Pondok Pesantren
Altruism behavior is an important aspect that every santri needs to have as a form of survival in living in a group life in an Islamic boarding school. One of the factors contributing to the emergence of altruism behavior is forgiveness, defined as an individual’s capacity to forgive. This study aims to examine the relationship between forgiveness and altruism among santri in Islamic boarding school students. This research employed a quantitative correlational approach. The subjects of the study were students of the boarding school in Surabaya at the Wustho and Ulya Formal Diniyah Education levels who live in dormitories. The sampling technique was simple random sampling, with a total of 270 respondents. The instrument used was an adaptation of the Self Report Altruism Scale and the Heartland Forgiveness Scale. Data analysis used a simple linear regression technique. The findings indicate a significant positive relationship between forgiveness and altruism, suggesting that higher levels of forgiveness among santri are associated with higher levels their altruism behavior. Conversely, the lower the level of forgiveness, the lower the altruism shown by students.
Perilaku altruisme merupakan aspek penting yang perlu dimiliki setiap santri sebagai bentuk kebertahanan hidup dalam menjalani kehidupan berkelompok di pondok pesantren. Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap munculnya perilaku altruisme adalah forgiveness, yakni sikap memaafkan yang dimiliki individu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan forgiveness dengan altruisme pada santri pondok pesantren. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional. Subjek penelitian adalah santri pondok pesantren di Surabaya pada jenjang Pendidikan Diniyah Formal Wustho dan Ulya yang tinggal di asrama. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara simple random sampling dengan jumlah responden sebanyak 270 orang. Instrumen yang digunakan merupakan adaptasi dari Self Report Altruism Scale dan Heartland Forgiveness Scale. Analisis data menggunakan regresi linier sederhana. Temuan penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara forgiveness dengan altruisme, yang berarti bahwa semakin tinggi tingkat forgiveness yang dimiliki santri, maka semakin tinggi pula perilaku altruismenya. Sebaliknya, semakin rendah tingkat forgiveness, maka semakin rendah pula altruisme yang ditunjukkan oleh santri
“Saya Tidak Mau Ikut Demonstrasi”: Collective Action terhadap Procedural Injustice Ditinjau dari Empat Tipologi Budaya
This study aims to examine whether cultural typologies: vertical collectivism (VC), horizontal collectivism (HC), vertical individualism (VI), and horizontal individualism (HI), predict individuals’ intentions to engage in collective action in response to procedural injustice. The study employed a quantitative survey design involving 300 participants (67.67% female; 89% aged 18–30 years). Participants were presented with a procedural injustice vignette and subsequently completed the Individualism–Collectivism Scale (Triandis & Gelfand, 1998) and the Belief-Aligned Collective Action Scale (Cervone et al., 2023). Data were analyzed using multiple linear regression while controlling for age and gender. The findings indicate that vertical individualism significantly predicts higher intentions to engage in collective action (p < .001), whereas other cultural typologies do not show significant effects. These results suggest that individualistic orientations emphasizing competition and status differentiation may play a stronger role in motivating collective action under conditions of procedural injustice.
Penelitian ini bertujuan untuk menguji peran tipologi budaya; vertical collectivism (VC), horizontal collectivism (HC), vertical individualism (VI), dan horizontal individualism (HI), dalam memprediksi intensi individu untuk terlibat dalam aksi kolektif ketika menghadapi ketidakadilan prosedural. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei yang melibatkan 300 partisipan (67,67% perempuan; 89% berusia 18–30 tahun). Partisipan terlebih dahulu diberikan skenario ketidakadilan prosedural (vignette), kemudian diminta mengisi Individualism–Collectivism Scale (Triandis & Gelfand, 1998) dan Belief-Aligned Collective Action Scale (Cervone et al., 2023). Data dianalisis menggunakan regresi linier berganda dengan mengontrol variabel usia dan jenis kelamin. Hasil analisis menunjukkan bahwa hanya tipologi budaya vertical individualism yang secara signifikan memprediksi peningkatan intensi aksi kolektif (p < .001), sementara tipologi budaya lainnya tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan. Temuan ini mengindikasikan bahwa orientasi individualistik yang menekankan kompetisi dan diferensiasi status memiliki peran yang lebih kuat dalam mendorong aksi kolektif dalam konteks ketidakadilan prosedural
Intensitas Komunikasi dan Mood Pasca Makan terhadap Perilaku Konsumsi Junk Food pada Komunitas Kuliner di Twitter
The consumption of junk food has been increasing among adolescents and young adults, along with the growth of food-related communities on social media that shape consumption norms and individuals’ emotional experiences after eating. Intense social interactions within online communities and post-meal affective states are assumed to play an important role in reinforcing junk food consumption as part of a lifestyle. This study examined the effects of communication intensity in a Twitter-based food community and post-meal mood on junk food consumption behavior. A quantitative survey method was applied to 103 community members selected through purposive sampling, using the Dutch Eating Behavior Questionnaire (DEBQ), the Food-Related Mood Scale (FDMS), and a researcher-modified communication intensity scale. Multiple linear regression analysis revealed that communication intensity (β=0.443; p<0.05) and post-meal mood (β=0,289; p<0,05) had significant positive effects and jointly explained 38.2% of the variance in junk food consumption behavior. These findings highlight the role of digital communities in shaping consumption norms and emphasize the importance of mood as a trigger in the emotional cycle of eating behavior. Food-related online communities have the potential to be optimized as collaborative nutrition education platforms to promote healthier eating patterns and enhance psychological awareness after consumption.
Perilaku konsumsi junk food semakin meningkat di kalangan remaja dan dewasa muda, seiring dengan berkembangnya komunitas kuliner di media sosial yang turut membentuk norma konsumsi serta pengalaman emosional individu setelah makan. Interaksi sosial yang intens dalam komunitas daring dan kondisi afektif pasca mengonsumsi makanan diduga berperan penting dalam memperkuat kecenderungan konsumsi junk food sebagai bagian dari gaya hidup. Penelitian ini menganalisis pengaruh intensitas komunikasi pada komunitas kuliner di Twitter dan mood pasca makan terhadap perilaku konsumsi junk food. Metode kuantitatif survei diterapkan pada 103 anggota komunitas (purposive sampling) menggunakan instrumen DEBQ (perilaku makan), FDMS (mood pasca makan), dan skala intensitas komunikasi yang telah dimodifikasi oleh peneliti. Analisis regresi linier berganda mengungkapkan bahwa intensitas komunikasi (β=0,443; p<0,05) dan mood pasca makan (β=0,289; p<0,05) berpengaruh positif signifikan, serta secara bersama-sama menjelaskan 38,2% variasi perilaku konsumsi junk food. Temuan menegaskan peran komunitas digital dalam membentuk norma konsumsi serta pentingnya mood sebagai pemicu siklus emosional dalam perilaku makan. Komunitas pecinta kuliner berpotensi dioptimalkan sebagai sarana edukasi gizi kolaboratif untuk mendorong pola makan yang lebih sehat dan meningkatkan kesadaran psikologis pasca konsumsi
Peran Problem-Focused Coping dan Family Protective Factors dalam Membangun Resiliensi Orangtua Anak Berkebutuhan Khusus
Parents of children with special needs face ongoing challenges, including high caregiving demands, prolonged stress, and the need to adjust parenting expectations. This study examines the role of problem-focused coping and family protective factors in predicting parental resilience. Participants were 83 parents of children with physical or psychological developmental disorders receiving services at YPAC Semarang, selected through purposive sampling. Data were collected using the Inventory of Family Protective Factors (IFPP), Brief-Coping Orientation to Problems Experienced Inventory (Brief-COPE), and the Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC). Pearson correlation analysis showed that problem-focused coping and family protective factors were positively associated with resilience (r = .317 and r = .153). Multiple regression analysis indicated that both variables significantly predicted parental resilience simultaneously (R = .371, p < .01), contributing 13.8% of the variance (R² = .138). The findings suggest that parental resilience is a multidimensional construct influenced by coping strategies, family strengths, and other psychological and contextual factors. Strengthening problem-focused coping and enhancing family protective factors may therefore support resilience development among parents of children with special needs.
Orang tua anak berkebutuhan khusus menghadapi tuntutan pengasuhan yang tinggi, stres berkepanjangan, serta penyesuaian strategi pengasuhan. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran koping berfokus masalah dan faktor perlindungan keluarga terhadap resiliensi orangtua. Subjek penelitian berjumlah 83 orang tua anak dengan gangguan perkembangan fisik atau psikologis di YPAC Semarang yang dipilih melalui purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan IFPP, Brief-COPE, dan CD-RISC. Hasil analisis korelasi menunjukkan hubungan positif antara koping berfokus masalah dan faktor perlindungan keluarga dengan resiliensi (r = .317; r = .153). Analisis regresi berganda menunjukkan kedua variabel secara simultan memprediksi resiliensi secara signifikan (R = .371; p < 0,01) dengan kontribusi sebesar 13,8% (R² = .138). Hasil penelitian menegaskan bahwa resiliensi orangtua merupakan konstruk multidimensional yang dipengaruhi oleh strategi koping, kekuatan keluarga, dan faktor psikososial lainnya. Oleh karena itu, penguatan koping adaptif dan faktor perlindungan keluarga penting dalam meningkatkan resiliensi orangtua anak berkebutuhan khusus
Broken Bonds: How Capitalism, Globalization, and Technology Erode ‘Asabiyyah
Ibn Khaldun, in his Muqaddimah, explained that the cycle of civilizational rise and decline is determined by the strength of ‘asabiyyah. Although various studies have examined the relevance of ‘asabiyyah, particularly within contemporary Muslim societies, the relationship between modernization processes and civilizational collapse within the framework of ‘asabiyyah remains largely underexplored. This study aims to analyze the relevance of ‘asabiyyah in understanding the dynamics of modern civilizations, specifically investigating the impact of capitalism, globalization, and technological advancement on the potential for civilizational decline, using the historical cases of the Soviet Union and Nazi Germany. The research adopts a descriptive qualitative approach through a literature review of books and national and international journal articles focusing on ‘asabiyyah. Data were collected through systematic and selective searches across leading databases such as Google Scholar, PubMed, and Scopus. Data analysis was conducted using meta-analysis techniques to identify major themes, compare arguments, and construct a theoretical synthesis from various sources. The findings of this study indicate that the erosion of ‘asabiyyah can accelerate the internal vulnerabilities of a civilization, as reflected in the historical cases of the Soviet Union and Nazi Germany. The findings of this study underscore the critical importance of strengthening collective identity and social solidarity as prerequisites for the resilience of modern civilizations, while also encouraging comparative studies that integrate Ibn Khaldun’s classical theory with contemporary theories of social solidarity, globalization, and cultural identity.
Ibn Khaldun dalam Muqaddimah menjelaskan siklus kemajuan dan kemunduran peradaban ditentukan oleh kekuatan ‘asabiyyah. Meskipun berbagai penelitian telah mengkaji relevansi ‘asabiyyah khususnya di masyarakat Muslim kontemporer, namun keterkaitan antara proses modernisasi dan keruntuhan peradaban dalam kerangka ‘asabiyyah masih jarang dibahas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis relevansi ‘asabiyyah dalam memahami dinamika peradaban modern, khususnya pengaruh kapitalisme, globalisasi, dan kemajuan teknologi terhadap potensi kemunduran peradaban dengan mengambil kasus historis Uni Soviet dan Nazi German. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan studi pustaka terhadap buku-buku dan artikel jurnal nasional dan internasional yang berfokus pada ‘asabiyyah. Data dikumpulkan melalui pencarian sistematis dan selektif dari berbagai database terkemuka seperti Google Scholar, PubMed, dan Scopus. Analisis data dilakukan dengan teknik meta-analisis untuk mengidentifikasi tema-tema utama, membandingkan argumentasi, dan menyusun sintesis teoritis dari berbagai sumber. Temuan penelitian menunjukkan bahwa erosi ‘asabiyyah dapat mempercepat kerentanan suatu peradaban, sebagaimana tercermin pada kasus Uni Soviet dan Nazi Jerman. Implikasi penelitian ini menegaskan pentingnya memperkuat identitas kolektif dan solidaritas sosial sebagai prasyarat ketahanan peradaban modern, serta mendorong kajian komparatif yang mengintegrasikan teori klasik Ibn Khaldun dengan teori-teori kontemporer mengenai solidaritas sosial, globalisasi, dan identitas budaya
Nurturing the Earth through Islamic Ethical Practices and Community-Based Permaculture in Indonesia
The global environmental crisis, marked by climate change, deforestation, and ecosystem degradation, has brought widespread social impacts, including economic inequality, health crises, and food insecurity. In Indonesia, environmental pressures have intensified due to unsustainable agricultural practices, rapid urbanization, and extractive industries, necessitating new development models that prioritize environmental regeneration and social resilience. This study aims to explore how Islamic ecological principles are operationalized through permaculture practices at the Bumi Langit Institute and Kedai Teh Umran in Yogyakarta. This research employed a qualitative method with an interpretive approach. Data were collected through semi-structured interviews, participant observation, and document analysis conducted at both research sites. The data were then analyzed using thematic analysis techniques based on Groat and Wang’s six-phase framework. The findings reveal that the principles of khilafah (stewardship), barakah (blessing), and mizan (balance) have been effectively embodied in agroforestry systems, waste-to-resource cycles, and community development initiatives grounded in Islamic ethics. The study implies that faith-based and community actors play a vital role in addressing contemporary ecological crises and highlights the need for stronger partnerships between religious institutions, academic bodies, and environmental practitioners to advance spiritually grounded innovations in the Anthropocene era.
Krisis lingkungan global yang ditandai oleh perubahan iklim, deforestasi, dan degradasi ekosistem telah membawa dampak sosial yang luas, termasuk ketidaksetaraan ekonomi, krisis kesehatan, dan kerawanan pangan. Di Indonesia, tekanan lingkungan semakin meningkat akibat praktik pertanian tidak berkelanjutan, urbanisasi cepat, dan industri ekstraktif, sehingga diperlukan model pembangunan baru yang berfokus pada regenerasi lingkungan dan ketahanan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana prinsip-prinsip ekologi Islam dioperasionalkan melalui praktik permakultur di Bumi Langit Institute dan Kedai Teh Umran di Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan interpretatif. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi partisipatif, dan analisis dokumen di Bumi Langit Institute dan Kedai Teh Umran. Analisis data dilakukan dengan teknik analisis tematik berdasarkan kerangka enam fase Groat dan Wang. Temuan penelitian menunjukkan bahwa prinsip khilafah, keberkahan (barakah), dan keseimbangan (mizan) telah berhasil diwujudkan dalam sistem agroforestri, siklus limbah, dan pengembangan komunitas berbasis etika Islam. Implikasi penelitian ini menegaskan bahwa aktor berbasis agama dan komunitas memiliki peran vital dalam mengatasi krisis ekologi kontemporer, serta mendorong perlunya kemitraan antara lembaga keagamaan, akademisi, dan praktisi lingkungan untuk memperkuat inovasi berbasis nilai spiritual di era Antroposen
Digital Literacy as a Tool for Countering Radicalism Among Islamic Boarding School Students (Santri)
The use of digital media to spread extremism and radicalism is the driving force behind this research. This research aims to examine how the information literacy model counters radicalism narratives. A counter narrative is a narrative that is deliberately framed with the intention of countering or minimizing the influence of negative narratives that are intolerant and extreme (Wahid Foundation, 2021). This research method uses descriptive qualitative and verification testing to look at the information literacy model in counter narrative efforts carried out by four pesantren. Collective Data through interviews, FGDs, observations, and literature studies. Informants in this research include pesantren leaders and Santri representatives. The resource persons include the Head of the Garut Ministry of Religion Representative Office, the Head of the Garut National and Political Unity Office (Kesbangpol), the Garut MUI Board, and the Garut NU Fatayat Board. Result of this research showed that pesantren information literacy is effective in countering narratives of radicalism through interpretation to re-frame the meaning of jihad and da\u27wah that has been used as an argument by radical groups, strengthening national insight, pesantren entrepreneurship, and digital media literacy for santri. In solving the problem of radicalism, it is necessary to look at economic and religious factors. This is so the government can find the right reformulation to prevent radicalism and extremism. In addition, the role of women as the first school for children must be an important facto
Modest Modernities: Muslim Identity, Globalisation, and Urban Transformation in Indonesia
Global neoliberalism and rapid urbanization have transformed cities worldwide, redefining social life and religious identities. In Jakarta, Indonesia’s capital, these forces have intensified through economic growth, migration, and global connectivity, challenging the Muslim majority to sustain their faith within a consumerist and market-driven urban order. This study aims to analyze how neoliberal policies and globalization shape the social and cultural dynamics of Muslims in Jakarta and how they negotiate and adapt their identities amid modern urban transformation. Employing a qualitative descriptive design, this research relies on literature review and document analysis of official statistical reports and scholarly works on Jakarta’s socio-economic context. Data were analyzed thematically following Mezmir’s framework, involving coding, theme clustering, and narrative construction to interpret the relationship between urban transformation, neoliberalism, and Muslim identity. The findings reveal that Muslim identity in Jakarta is not eroded but hybridized—integrating Islamic ethics with modern practices such as digital zakat, halal lifestyle consumption, and mosque-based social welfare systems. These adaptations show resilience, creativity, and negotiation between religious tradition and global modernity. The implication of this study is the need for inclusive urban policies that protect religious practices, promote social equity, and strengthen community solidarity amid neoliberal pressures.
Neoliberalisme global dan urbanisasi yang cepat telah mengubah wajah kota-kota di seluruh dunia, sekaligus memengaruhi kehidupan sosial dan identitas keagamaan masyarakat. Di Jakarta, sebagai ibu kota Indonesia, kekuatan tersebut semakin terasa melalui pertumbuhan ekonomi, arus migrasi, dan keterhubungan global yang tinggi. Kondisi ini menantang masyarakat Muslim untuk tetap mempertahankan nilai-nilai keagamaannya di tengah budaya kota yang kompetitif dan konsumtif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana kebijakan neoliberal dan globalisasi membentuk dinamika sosial dan budaya umat Muslim di Jakarta serta bagaimana mereka menegosiasikan dan menyesuaikan identitasnya di tengah transformasi kota modern. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui studi literatur dan analisis dokumen yang terkait kondisi sosial-ekonomi Jakarta. Data dianalisis dengan metode tematik berdasarkan kerangka Mezmir, melalui proses pengkodean, pengelompokan tema, dan penyusunan narasi untuk menafsirkan hubungan antara transformasi kota, neoliberalisme, dan identitas Muslim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa identitas Muslim di Jakarta tidak hilang, tetapi bertransformasi menjadi bentuk hibrid yang memadukan etika Islam dengan praktik modern seperti zakat digital, gaya hidup halal, dan solidaritas sosial berbasis masjid. Adaptasi ini menunjukkan ketahanan dan kreativitas umat Muslim dalam menghadapi modernitas. Implikasi penelitian ini adalah pentingnya kebijakan kota yang inklusif, yang mampu melindungi praktik keagamaan, memperkuat keadilan sosial, dan mendorong solidaritas komunitas di tengah tekanan neoliberal