Nun : Jurnal Studi Alquran dan Tafsir di Nusantara
Not a member yet
127 research outputs found
Sort by
Resepsi Masyarakat Madura Terhadap QS. AL-Ikhlas dalam Tradisi Kompolan Sabellesen
Kajian Al-Qur’an saat ini tidak hanya berkutat dalam kajian teks saja. Kajian Al-Qur’an mulai dilakukan pada ranah dialektikanya dengan kehidupan masyarakat. Tradisi kompolan sabellesen K. Abdul Munir di Desa Gadu Timur termasuk salah satunya. Tradisi ini merupakan peninggalan dari sesepuh terdahulu yang tetap berkembang sampai saat ini. Untuk mencapai hasil dari fakta lapangan kompolan sabellesen di Gadu Timur, peneliti merumuskana dua hal. 1. Bagaimana kompolan sabellesen di Gadu Timur. 2. Bagaimana horizon ekspektasi atau cakrawala harapan dari QS. Al-Ikhlas pada kompolan sabellesen. Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologis deskriptif. Pendekatan ini dilakukan dengan cara menganalisis secara detail tentang latar belakang berdirinya kompolan sabellesen serta resepsi kultural masyarakat Gadu Timur terhadap ayat Al-Qur’an yang dimasukkan dalam ritus lokal berupa tradisi kompolan sabellesen dengan tetap berpijak pada teori resepsi Hans Robert Jauss dengan konsep horizon of expectation. Dengan hal ini dapat diketahui hasilnya yang disederhanakan sebagai berikut: 1) kompolan sabellesen di Gadu Timur termasuk salah satu tradisi yang berdiri atas inisiatif sesepuh dalam meningkatkan nilai keagamaan masyarakatnya. 2) horizon of expectation pada anggota kompolan sabellesen meliputi horizon cakrawala harapan sempit dan cakrawala harapan luas dengan mengindikasikan fungsi informatif dan performatif di dalam menunjukkan cakrawala harapan luas anggota kompolan sabellese
Menimbang Hermeneutika Sebagai Mitra Tafsir
Untuk memahami kandungan al-Qur’an, kaum muslimin telah mempunyai ilmu tersendiri dan ini sudah di anggap mapan yaitu ilmu tafsir. Namun dewasa ini muncul ilmu yang belum pernah di kenal sebelumnya yaitu hermeneutika sebagai alat bantu untuk memahami al-Qur’an. Oleh karena geneologinya dari dunia barat dan di fungsikan untuk menafsirkan Bibel, tak pelak lagi hermeneutika menjadi perdebatan hebat di kalangan ulama. Sebut saja seperti Nashr Hamid Abu Zayd, Fazlur Rahman, Hasan Hanafi yang membuka kemungkinan untuk menerapkan hermenutika di dalam menafsirkan al-Qur’an. Di dalam bukunya “ Kaidah Tafsir” Quraish Shihab juga memberi komentar yang sama terhadap kebolehan hermeneutika dalam menafsirkan al-Qur’an meskipun dia membatasi dalam penggunaanya. Kemudian kelompok yang menolak penggunaan hermeneutika dalam menafsirkan al-Qur’an di antaranya Adian Husaini dan Muhammad Imarah. Dari Hasil penelitian yang penulis lakukan, di dapati bahwa ada beberapa bentuk hermeneutika bisa tetapi dijadikan sebagai mitra tafsir dalam menafsirkan ayat al-Qur’an untuk menguak makna yang terkandung di dalam al-Qur’an. Sehingga dengan menguak makna yang terkandung di dalamnya, maka al-Qur’an akan tetap dalam fungsinya sebagai petunjuk bagi manusia dan tetap pada maqam Shalih li kulli zaman wa al makan
Telaah Problematika Perceraian (Thalaq) Perspektif Asghar Ali Engineer
This article explains the thoughts built by Asghar Ali Engineer. The author focuses on one of the major sub-themes in the book The Qur’an Women and Modern Society, namely divorce in the Qur’an and Shari’ah. According to Asghar Ali Engineer, legal experts have agreed to a divorce that is still exclusive in the area of men. Basically, in the Qur’an there is no such explicit statement. Thus only conclusions, not holy rules, are interpreted by medieval scholars of QS. Al-Qur’an al-Baqarah 2: 237. According to him, there are several verses of the Qur’an about divorce which according to Asghar are not relevant to the current context, only at the time of the Prophet. The object of the study in this study is to describe the methodology of Asghar in interpreting verses about divorce. Furthermore, from the explanation of Asghar Ali Engineer who has been detailed, indeed he has used the method he built, namely liberation theology, which this time focused on the theme of gender equality. The concept that he built can be broken down by the model of liberative-sociological normative interpretation
Mufassir dan Kitab Tafsir Nusantara (TafsirTurjumun al-Mustafid Karya Abd. Rauf As-Singkilli)
Abd al-Ra`uf al-Sinkilli, also known as teungku Syakh Kualam, is a quite productive Indonesian ulama, he took his education from his own birthplace, Singkil area, to the Arabian Land. Among his works is the book Tarjūman al-Mustafīd, an interpretive book which is recognized as the first interpretation book produced in Indonesia using the Malay language. This book has been published many times in various regions of the world. The method of writing Tarjuman al-Mustafid’s interpretation, we can see from two angles namely the angle of interpretation and the angle of meaning. When we explore from the point of view of the interpretation that explains the order of the verse and the explanation of the aspects and contents of the content of the verse, this is the tahlili method. Meanwhile, when viewed from the perspective of the meaning explained from the Tafsir, the method applied in writing the Tafsir is the ijmali method. Because the explanation is concise, concise, easy to understand and suitable for beginners. From this explanation makes the interpretation of Tarjūman al-Mustafīd very special, not only composed by the great ʻulama but also as the first interpretation in Malay which is complete 30 juz
Implementasi Pemahaman Pedagang Pantai Muaro Lasak Padang Tentang Ramah Lingkungan Berbasis Al-Qur’an
Pantai Muaro Lasak Padang merupakan salah satu dari nama-nama kecil Pantai Padang. Pantai ini termasuk icon Kota Padang yang banyak dikunjungi oleh masyarakat. Dalam perkembangannya, aktivitas dan rekreasi di pantai ini menimbulkan perubahan terhadap kualitas lingkungan disekitar pantai. Banyak ditemukan tumpukantumpukan sampah dan minimnya perawatan kebersihan dalam pengelolaan pantai ini. Hal ini menunjukkan rendahnya kesadaran pedagang akan ramah lingkungan. Padahal, ajaran al-Qur’an sangat melarangorang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi. Bahkan manusia sebagai khalifah di muka bumi ini dituntut untuk bersikap ramah terhadap lingkungan. Melihat permasalahan di atas, maka peneliti ingin meneliti lebih lanjut tentang sejauh bana pemahaman pedagang tentang ramah lingkungan berbasis al-Qur’an, serta implementasi dari pedagang Pantai Muaro Lasak Padang berbasis al-Qur’an. Penelitian ini merupakan jenis penelitian lapangan (field research) dengan metode kualitatif. Sumber primer yang digunakan dalam penelitian ini adalah pedagang Pantai Muaro Lasak Padang, dengan populasi sekitar 120 orang dan sampel sebanyak 20 orang dengan cara snowball sampling. Sumber sekunder berupa datadata dokumen seperti buku-buku, jurnal, artikel, koran, laporan penelitian, photo maupun literatur lain yang memuat informasi serta data yang menunjang penelitian ini. Cara mendapatkan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Kemudian, metode analisis data adalah deskriptif-analitis dengan menggunakan pola berfikir induktif. Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa Pertama, Pedagang Pantai Muaro Lasak Padang sudah memahami tentang ramah lingkungan berbasis al-Qur’an ini, yaitu kewajiban menjaga dan merawat lingkungan yang berlandaskan al-Qur’an, artinya berbuat baik terhadap semua yang ada di lingkungan sekitar, baik itu kepada sesama manusia (pedagang, pengunjung), tumbuhan, hewan, air, dan lain-lain.Kedua, Penjelasan tentang ramah lingkungan menurut al-Qur’an sudah mereka dapatkan dari majelis ta’lim dan wirid remaja, yaitu para penceramah selalu memberikan pengajianpengajian tentang ramah lingkungan yang berlandaskan dalam al-Qur’an. Ketiga,implementasi dari pedagang hanya dalam bentuk menjaga kebersihan lingkungan sekitar. Sampah-samapah yang mereka bersihkan tersebut lalu dibuang ke tepi laut. Bahkan sebagian yang lain ada yang menyapu langsung ke tepi laut dengan tujuan agar air laut membawa lalu menghilangkan sampah-sampah tersebut
The Oracle of Gog and Magog: A Social-Rhetorical Interpretation of The Prophetic Discourse in Al-Kahf 83-101
As a prophetic narrative, Gog and Magog oracle has a strong influence over many Islamic sects and groups. The analysis and interpretation of God’s message within this oracle is a necessity to understand the social, cultural and literary influence of the narrative on religious and non-religious communities. By applying the socio-rhetorical interpretation (intertexture texture), readers can gain more awareness the prophetic discourse which is a part of Allah message to humanity. The main focus of the analysis is the inner texture
Al-Qur’an Sebagai Weltanschauung Revolusi Industri 4.0 Dalam Menghadapi Tantangan Barat Pada Abad Ke-21
The phenomenon of revolution industry 4.0 in 21st century influence by values of secularization. In the context related with locality and time wherever discourse about tren revolution industry 4.0 especially in the epistemology as only solution resolve of human problems. While in the aspect transcendent implication in related dimention of divinity (habl minnallah) not procured attention. This Condition happen because western paradigm-secular as important challenge in 21St century is truly influence the idea of revolution industrion 4.0. In other word that the idea is not value free but value laden. This while not refuse that scientist however in west or east influence by paradigm is supply could by religion or culture and others. This Paper offer the function of Qur’an as weltanschauung revolution industry 4.0 in western challenge in 21st century. Where using the philosophy approach placed the Qur’an as scienctist paradigm in onset. This context happen procces of the islamization of science have meaning that implication industry 4.0 related with dimention of divinity (habl Minnallah)The conclusion of paper is created paradigm revolution industry 4.0 section from Islamic science and can attention aspect horizontal as related with humanity (habl minannâsh) and aspect vertical as related with dimention of divinity (habl Minnallah)in concident
Studi Tafsir Nusantara: Analisis Metode Tafsir Alternatif Moqsith Ghozali
Tulisan ini mencoba untuk menjelaskan landasan dan prinsip-prinsip perumusan metodologi tafsir alternatif yang digagas oleh Abdul Moqsith Ghazali. Untuk mengurai masalah ini, penulis melakukan studi kepustakaan dengan mengkaji tawaranmetodologi tafsirMoqsith Ghazali dalam buku “Metodologi Studi al-Quran”. Studi ini menghasilkan kesimpulan bahwa metodologi tafsir alternatif yang digagas Moqsith Ghozali bertujuan untuk membebaskan ahli hukum dari ketergantungan terhadap teks, merubah kebiasaan lama dari literal ke substansial. Sedangkan yang menjadi landasan dalam perumusan kaidah alternatif tersebut adalah maqās}id al-Sharī’ah.Tiga kaidah baru yang ditawarkan Moqsith adalah al-‘ibrah bi al-maslah}ah lā bi khus}ūs}al-asbāb, jawāz naskh al-nus}ūs} al-juziyyah bi al-mas}lah}ah dan tanqi>h} al-nus}ūs} bi ‘aql mujtama’ yajūzu
Menakar Hermeneutika Umar
Although not including in al-sabiqun al-awwalun, Umar was a shahaba of the Prophet who was very famous. During the time of jahiliyyah he was a person who really hated Islam, but when he converted to Islam and became a caliph he succeeded in making Islam spread to various regions. He is a person who organizes government administration so that Islam becomes a real country. In relation to the Qur’an he became a phenomenal person because his words seemed to precede the revealed verses of the Qur’an. The model of his understanding of the Qur’an in order to establish a policy is also interesting because it seems that he rejects the literal meaning of the Qur’an. This research aims to investigate and explain how Umar’s hermeneutics is working. The result was: first, the text in Umar’s hermeneutics was highly upheld. Second, Umar in understanding the Qur’an gives great attention to the context. Third, Umar was very progressive in carrying out ijtihad to achieve maslahat. Then also analyzed the applicative examples of Umar’s hermeneutics in the three cases: hadd cut off hands, giving zakat to muallafatu qulubuhum, and the division of ghanimah
Paradigma Qira>’atul Qur’a>n bis Si>rah wa Qira>’atus Si>rah bil Qur’a>n dalam Membaca Fenomena
Arikel ini mengelaborasi tentang fenomena Nuzululquran, baik dalam perdebatan para pegiat studi Al-Qur’an maupun dalam realitas kehidupan masyarakat.Topik ini dianggap penting sebab diskusi tentang Nuzululquran dalam khazanah keislaman bukan sekedar tafsir, tetapi justru pertarungan ideologis.Masalah yang hendak dijawab ada dua.Pertama,bagaimana Al-Qur’an membicarakan dirinya sendiri terkait dengan penanggalan penurunannya, bagaimana tafsir terhadap penanggalan yang diinformasikan oleh diri Al-Qur’an tersebut, dan surat apa saja yang dianggap pertama kali diturunkan. Kedua, mengapa terjadi friksi terkait peringatan Nuzululquran, padahal Al-Qur’an merupakan kitab suci.Dalam menjawab dua masalah tersebut, penulis menggunakan paradigma qirā’atul Qur’ān bis sīrah wa qirā’atus sīrah bil Qur’ān. Berdasarkan kajian yang telah dilakukan, terdapat dua temuan.Pertama, Al-Qur’an membicarakan tentang penurunannya sendiri dengan menyitir tiga kata kunci dan para mufasir kemudian mengaitkannya bahwa penurunan Al-Qur’an terjadi di bulan Ramadan, di mana saat itu disebut dengan lailatulkadar yang dipenuhi dengan keberkahan (mubarakah), dan informasi tentang penggalan Al-Qur’an yang diturunkankalipertama menunjukkan data yang berbeda, namun demikian informasi yang paling populer berdasarkan riwayat dari ‘Āisyah ra tentang Q.S. al-‘Alaq, 96:1-5.Kedua, perdebatan seputar peringatan Nuzululquran antarkelompok masyarakat memiliki kecenderungan ideologis.Nuzululquran bukan hanyapersoalan agama (baca: syariah), tetapi jugasosial, budaya, dan ekonom