Jurnal Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Jurnal Universitas 17 Agustus 1945 SurabayaNot a member yet
6388 research outputs found
Sort by
The Philosophical Approach to the Existence of Business Law: Comparison of Indonesia, Vietnam, and Ghana
Business law plays an important role in regulating the global and local economy, with different philosophical approaches in Indonesia, Vietnam, and Ghana, influenced by their respective legal traditions, cultures, and politics, while facing challenges in the implementation of effective, fair regulations that align with local values. This research aims to analyze how the philosophical and moral foundations of business law in Indonesia, Vietnam, and Ghana shape their legal frameworks and responses to economic globalization, taking into account the social, cultural, and political contexts of each country. This research uses a normative legal method with philosophical, comparative, and conceptual approaches to analyze business law regulations in Indonesia, Vietnam, and Ghana, and to identify the values underlying the business law systems in these countries, through the collection of data from primary, secondary, and tertiary legal materials, which are analyzed qualitatively and descriptively-analytically. The research findings indicate that the philosophical and moral foundations of business law in Indonesia, Vietnam, and Ghana reflect the socio-cultural and political backgrounds of each country, which also shape their responses to economic globalization. Indonesia relies on the principle of distributive justice based on religious and customary values, despite facing challenges of bureaucracy and corruption. Vietnam emphasizes socialist ideology with a focus on collectivism and social protection, which aligns with market liberalization to attract investment. Ghana, combining English common law and customary law, stresses the supremacy of law and transparency, though limited by weak legal infrastructure. These three countries demonstrate the importance of local philosophy and morality as a foundation for building adaptive business law regulations that remain rooted in national identity
Dialogues of Depth: Exploring Character and Theme in Ana María Rozo's The Little Prince
Ana María Rozo’s adaptation of The Little Prince delves into the emotional and philosophical depth through dialogue-driven interactions among the Aviator, the Little Prince, and the Fox. While much research has explored the themes of the original story, limited attention has been paid to how dialogue in theatrical adaptations reveals character psychology and advances the narrative. This study addresses that gap by analysing key conversational features such as turn-taking, repair mechanisms, and implicature to uncover how these elements shape character development and thematic exploration. It also investigates how reflective monologues and direct audience engagement enhance the play’s emotional and philosophical resonance. The research focuses on three key questions: (1) How do the dialogues reflect the social and emotional dynamics among characters? (2) What do repair mechanisms and implicatures reveal about character psychology and central themes? (3) How does audience engagement through dialogue amplify the play’s impact? Using an analytical framework centered on conversational dynamics, this study highlights moments such as the Aviator’s isolation being disrupted by the Little Prince’s innocent question, "Can you draw me a lamb?"—a poignant clash between adult pragmatism and childlike wonder. The Fox’s teachings, like "It is the time you have wasted for your rose that makes your rose so important," deepen emotional connections, while implicatures such as "what is essential is invisible to the eye" convey universal truths about humanity. This research demonstrates how Rozo’s adaptation uses dialogue to develop characters, engage audiences, and explore profound themes of love, friendship, and existential meaning
KONSTRUKSI KRITIK PERILAKU DISKRIMINATIF MASYARAKAT KOREA SELATAN TERHADAP PENYANDANG AUTISME: (KAJIAN SEMIOTIKA JOHN FISKE DRAMA “EXTRAORDINARY ATTORNEY WOO’’)
Most of the films and dramas produced by South Korea that tell about romance, but different from dramas that tell about the lives of people with autism spectrum. Drama “Extraordinary Attorney Woo” is one of the dramas with the theme of inspiration and touching in the life of a person with autism spectrum disorder who works at a large law firm. He has a high IQ of 164, an extraordinary memory, and a creative way of thinking but has a low EQ and poor social skills. Despite this, he is the smartest lawyer in South Korea with an autism spectrum disorder. This study aims to reveal the public perspective on autism spectrum disorder sufferers in the drama “Extraordinary Attorney Woo”. This research is motivated by the phenomenon of people with autism who often get discriminated against by their environment. Reality autism spectrum disorder described in the drama “Extraordinary Attorney Woo” is the focus of this research. The drama will be analyzed using John Fiske's semiotic theory. The results of this study indicate that in the drama "Extraordinary Attorney Woo" the public's view of people with autism is that all people with autism are not worthy of having a life like humans in general. Society still discriminates against people with autism in various environments such as schools, social environments, and work environments. In this drama, people with autism spectrum disorder are depicted as geniuses and have a high sense of humanity. People with autism spectrum disorder are able to have a high level of intelligence if done with the right therapy and training.
Keywords: Discrimination, Autism Spectrum Disorder, Dram
Mengatasi Quarter Life Crisis: Loneliness dan Religiusitas pada Mahasiswa Rantau
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara loneliness (kesepian) dan religiusitas dengan quarter life crisis pada mahasiswa rantau. Fokus utama penelitian ini adalah pada hubungan antara loneliness dan religiusitas dengan quarter life crisis yang dialami individu. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif, dengan data yang dikumpulkan melalui kuesioner yang disebarkan kepada 212 responden. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari skala quarter life crisis, loneliness, dan religiusitas. Analisis data dilakukan menggunakan regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa loneliness berhubungan negatif dengan quarter life crisis, yang berarti semakin tinggi tingkat kesepian, semakin rendah tingkat quarter life crisis yang dialami. Sebaliknya, religiusitas ditemukan memiliki hubungan positif dengan quarter life crisis, yang menunjukkan bahwa individu dengan tingkat religiusitas yang lebih tinggi cenderung mengalami quarter life crisis yang lebih besar. Temuan ini diharapkan dapat memperdalam pemahaman mengenai dinamika yang terkait dengan quarter life crisis dan memberikan wawasan untuk pengembangan intervensi psikologis bagi individu yang mengalaminya
Self-Compassion dan Kepribadian Introvert: Potret Kecemasan Sosial pada Remaja
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara Self-compassion dan kepribadian Introvert dengan kecemasan sosial pada remaja. Kecemasan Sosial merupakan suatu kondisi dimana individu merasakan ketakutan secara berlebihan ketika berada pada situasi sosial. Individu yang mengalaminya sering khawatir tentang tanggapan orang lain terhadap dirinya, seperti takut diejek atau dikritik. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan teknik pengambilan sampel accidental sampling pada 384 responden. Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah Spearman’s Rho. Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan menunjukkan hubungan negatif antara Self-compassion dengan kecemasan sosial. Artinya semakin tinggi self-compassion semakin rendah kecemasan sosial, begitupun sebaliknya. Berdasarkan hasil analisis data yang dilakukan pada menunjukkan adanya hubungan positif antara kepribadian introvert dengan kecemasan sosial. Artinya semakin tinggi kepribadian introvert remaja semakin tinggi kecemasan sosial, begitupun sebaliknya. Hal ini mengindikasikan bahwa individu dengan kepribadian introvert cenderung memiliki tingkat kecemasan sosial yang lebih tinggi. Temuan ini memberikan wawasan baru bahwa kepribadian Introvert dapat menjadi faktor risiko untuk kecemasan sosial, terutama jika individu tersebut merasa tidak nyaman dalam situasi sosial tertentu
Nomophobia pada Remaja: Bagaimana Peran Kepribadian Introvert dan Dukungan Sosial?
Nomophobia memberikan dampak negatif terutama pada remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara kepribadian introvert dan dukungan sosial terhadap kecenderungan Nomophobia di kalangan remaja. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode pengambilan data melalui kuesioner. Penelitian dilaksanakan di SMPN 1 Tulangan dan SMP Al Islam Krian dengan total 211 subjek. Data dianalisis menggunakan metode korelasi Spearman-Brown. Hasil uji korelasi menunjukkan bahwa hubungan antara variabel kepribadian introvert dan Nomophobia menunjukan tidak adanya hubungan signifikan. Demikian pula, uji korelasi antara dukungan sosial dan Nomophobia menunjukkan tidak adanya hubungan signifikan. Kesimpulannya, tidak terdapat hubungan antara kepribadian introvert maupun dukungan sosial jika dihubungkan dengan kecenderungan Nomophobia
Orientasi Masa Depan dengan Kecemasan Karir Siswa SMK
Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara orientasi masa depan dengan kecemasan karir siswa SMK. Penelitian ini menggunakan teknik kuantitatif dengan pendekatan korelasional. Populasi dalam penelitian ini mencakup 446 siswa dari SMK Al-Asy’ariyah Prambon Nganjuk. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling dengan menetapkan kriteria tertentu yaitu siswa kelas XII dan siswa yang telah atau sedang PKL. Berdasarkan kriteria tersebut didapatkan 160 sampel yang sesuai. Instrumen yang digunakan terdiri dari orientasi masa depan dengan kecemasan karir siswa SMK. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif antara orientasi masa depan dengan kecemasan karir siswa SMK selain itu penelitian ini juga menunjukkan adanya hubungan linier dan signifikan antara kedua variabel yang mengindikasikan bahwa apabila orientasi masa depan siswa rendah maka kecemasan karir siswa tinggi begitupun sebaliknya apabila orientasi masa depan siswa tinggi maka orientasi masa depan rendah. Penelitian ini dapat menjadi landasan tentang pentingnya orientasi masa depan untuk menentukan arah karir siswa setelah lulus sekolah, sehingga dapat mengurangi tingkat kecemasan karir pada siswa SMK
Internal Locus of Control dan Manajemen Waktu: Kunci Atasi Prokrastinasi Akademik Mahasiswa Berorganisasi
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara internal locus of control, manajemen waktu, dan prokrastinasi akademik pada mahasiswa yang aktif dalam organisasi. Prokrastinasi akademik sering menjadi tantangan bagi mahasiswa, terutama mereka yang harus menyeimbangkan tugas akademik dengan tanggung jawab organisasi. Dengan pendekatan kuantitatif, data dikumpulkan dari mahasiswa organisasi di sebuah Universitas Swasta di Surabaya. Analisis menggunakan regresi linier berganda menunjukkan hubungan signifikan antara internal locus of control dan manajemen waktu terhadap prokrastinasi akademik (R = 0,043, p < 0,05). Mahasiswa dengan internal locus of control tinggi cenderung memiliki manajemen waktu yang lebih baik, sehingga mampu meminimalkan prokrastinasi akademik. Temuan ini memberikan kontribusi penting dalam pengembangan program intervensi yang berfokus pada peningkatan manajemen waktu dan penguatan internal locus of control guna mengurangi prokrastinasi akademik di kalangan mahasiswa
Pelecehan Seksual Verbal : Adakah peran Intensitas Menonton Film Porno ?
ABSTRACT
The intensity behavior of watching porn movies can increase sexual stimulation which can affect how a person's attitude and behavior in which these attitudes and behavior can lead to a tendency to verbal sexual harassment behavior. This study aims to determine the relationship between the intensity of watching pornographic films and the tendency for verbal sexual harassment behavior in male students. The method used is quantitative with correlational studies. Sampling used is non-probability sampling with Accidental Sampling Technique. The participants used in this study were 154 male students in Surabaya. The data collection method uses a Likert scale. The measurement tools used are the Intensity of Watching Porn Films scale and the Verbal Sexual Harassment scale. Hypothesis testing in this study used Spearman's Rho correlation using SPSS. The results of data analysis showed that the Rho value of = 0.798 with a significance of p = 0.000 (p <0.01) so that there was a positive relationship between the intensity of watching porn movies and the tendency of verbal sexual harassment behavior in male students.
ABSTRAK
Perilaku intensitas menonton film porno dapat meningkatkan rangsangan seksual yang dapat mempengaruhi bagaimana sikap dan perilaku seseorang yang dimana sikap dan perilaku tersebut dapat menimbulkan terjadinya kecenderungan perilaku pelecehan seksual verbal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan intensitas menonton film porno dengan kecenderungan perilaku pelecehan seksual verbal pada mahasiswa laki-laki. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan studi korelasional. Pengambilan sampel yang digunakan adalah non-probability sampling dengan Teknik Accidental Sampling. Partisipan yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 154 mahasiswa laki-laki di Surabaya. Metode pengumpulan data menggunakan skala likert. Alat ukur yang digunakan adalah skala intensitas Menonton Film Porno dan skala Pelecehan Seksual Verbal. Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan korelasi Spearman’s Rho dengan menggunakan SPSS. Hasil analisis data menunjukkan nilai Rho sebesar = 0, 798 dengan signifikasi p=0,000 (p < 0,01) sehingga ada hubungan positif antara intensitas menonton film porno dengan kecenderungan perilaku pelecehan seksual verbal pada mahasiswa laki-laki
Peran mediasi collective self-esteem dalam meningkatkan kompetensi media sosial melalui kewarganegaraan digital di kalangan mahasiswa: The mediating role of collective self-esteem in enhancing social media competence through digital citizenship among college students
College students face challenges in developing social media competencies that support their participation in digital citizenship. This study aimed to analyze the relationship between digital citizenship and social media competency mediated by collective self-esteem among college students (N = 736). The web-based study was used to collect data by convenience sampling and three measurement instruments, the digital citizenship scale (α= 0.90) to measure digital citizenship, the social media competence scale for college students (α= 0.92) to measure social media competence, and the collective self-esteem scale (α= 0.94) to measure collective self-esteem. The data were analyzed using Hayes mediation analysis with 5,000 percentile bootstrap samples and a 95% confidence interval. The results of the mediation test through jamovi (Version 2.3.2) showed that collective self-esteem played a role in mediating the relationship between digital citizenship and social media competence. However, the role of collective self-esteem as a mediator is not perfect because of its small effect. The findings prove that evaluating the student's national identity is indirectly a form of attitude toward maintaining a positive group (state) to control relational activities and citizenship by adopting social media. The findings emphasize the importance of strengthening college students' collective identity to support more positive and responsible use of social media within the context of digital citizenship