Open Journals System Universitas Ngudi Waluyo
Not a member yet
1880 research outputs found
Sort by
Perbandingan Efektivitas Profilaksis Intermiten Klobazam Versus Diazepam pada Kejang Demam Sederhana (KDS): Systematic Review: Comparison Effectiveness of the Intermittent Prophylaxis of Clobazam Versus Diazepam in Simple Febrile Seizures (SFS): Systematic Review
Febrile seizures are seizures that occur when body temperature rises (rectal temperature > 38o C). Each seizure can possibly cause epilepsy and trauma to the brain. The next priority is efforts to stop acute seizure attacks which can usually be treated with anti-seizure medication. Intermittent prophylaxis with clobazam at the onset of the first febrile seizure provides better results. This systematic review aims to review articles related to the use of intermittent prophylaxis of clobazam vs diazepam for children suffering from simple febrile seizures. The literature search method uses Google Scholar, PubMed and BMJ databases based on keywords. The selected articles were articles published between 2009-2023, full text in English, were original articles comparing the effectiveness of intermittent prophylaxis use of clobazam vs diazepam in febrile seizures in children. The results obtained were 4 articles that were relevant to the objectives of this systematic review. Data is homogeneous with RR of 0.44 (95% CI: 0.32-0.60) so that the therapeutic effectiveness of administering clobazam compared with diazepam is not significantly different even though there is a chance that the effectiveness of clobazam is 0.44 times compared with administering diazepam. The efficacy of clobazam compared to diazepam, clobazam has better advantages than diazepam in preventing recurrence of febrile seizures. Apart from that, the side effects that occur with clobazam are significantly lower, for example drowsiness and sedation.
ABSTRAK
Kejang demam merupakan bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal > 38o C). Setiap kejang kemungkinan dapat menimbulkan epilepsi dan trauma pada otak. Prioritas selanjutnya berupa usaha untuk menghentikan serangan kejang akut yang biasanya dapat ditangani dengan pemberian obat anti kejang. Pemberian profilaksis intermiten dengan klobazam pada permulaan terjadinya kejang demam pertama memberikan hasil yang lebih baik. Systematic review ini bertujuan untuk mereview artikel-artikel terkait adanya penggunaan profilaksis intermiten klobazam vs diazepam untuk anak penderita kejang demam sederhana. Pencarian literatur menggunakan metode berupa database Google scholar, PubMed dan BMJ berdasarkan keywords. Artikel yang dipilih adalah artikel yang dipublikasikan antara tahun 2009-2023, fulltext dalam inggris, merupakan original article yang membandingkan efektivitas antara penggunaan profilaksis intermiten klobazam vs diazepam pada kejang demam pada anak. Hasil diperoleh 4 artikel yang relevan terhadap tujuan systematic review ini. Data bersifat homogen dengan RR 0,44 (CI 95%: 0,32-0,60) sehingga efektivitas terapi pemberian klobazam dibandingkan dengan diazepam tidak berbeda bermakna meskipun terdapat peluang efektivitas klobazam sebesar 0,44 kali dibandingkan dengan pemberian diazepam. Kemanjuran klobazam dibandingkan dengan diazepam, klobazam memiliki keunggulan lebih baik dibandingkan diazepam dalam mencegah kekambuhan kejang demam. Selain itu efek samping yang timbul pada klobazam secara signifikan jauh lebih rendah misalnya seperti mengantuk dan sedasi
Pendidikan dan Pekerjaan Ibu Merupakan Faktor yang Berpengaruh Langsung terhadap Praktik Pemberian Makanan pada Anak (PMBA): Mother's Education and Work Are Factors That Have a Direct Influence on The Practice of Child Feeding (PMBA)
Complementary feeding practices can cause malnutrition which contributes to the incidence of child malnutrition. Many factors influence complementary feeding (CF) practices, including biological factors, socio-economic status, and local culture. This research aims to analyze the influence of bio-socioeconomic status and culture on Complementary Feeding (CF) practices in Semarang Regency. The research design is observational analytic with a cross-sectional approach. The population is all mothers who have toddlers aged 12-60 months in West Ungaran District, totaling 776 toddlers. The sampling technique used was accidental sampling with a sample size of 198 respondents. The independent variables are the mother's age, child care provider, number of children, mother's education, mother's occupation, child's gender, child order, and culture while the dependent variable is child feeding practices (IYCF) which are measured using the Complementary Feeding Practice Questionnaire (CFPQ), while the independent variable uses a questionnaire whose validity and reliability have been tested. The data analysis that will be used is univariate analysis, bivariate analysis and multivariate analysis with logistic regression. The results of the bivariate analysis showed that the age of the mother, child caregiver, number of children, order of children, gender of the child and culture were not significant to CF practices. Multivariate analysis with logistic regression shows that maternal education and maternal employment influence CF practices, where mothers with higher education tend to provide better CF practices by 2.77 than mothers with low education. Working mothers also tend to increase CF practices better by 2.17 compared to mothers who do not work. It is best for health workers and educational institutions to work together to increase the accessibility of information about good CF practices for children.
Abstrak
Praktik pemberian makan yang kurang tepat dapat menyebabkan malnutrisi yang berkontribusi dalam kejadian gizi buruk anak. Banyak faktor yang mempengaruhi praktik Pemberian Makan Bagi Anak (PMBA) diantaranya faktor biologis, sosial ekonomi status dan budaya setempat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh bio-sosial ekonomi status dan budaya dengan praktik Pemberian Makan Bagi Anak (PMBA) di Kabupaten Semarang. Desain penelitian adalah analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi adalah seluruh ibu yang memiliki balita usia 12-60 bulan di Kecamatan Ungaran Barat sebanyak 776 balita. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah accidental sampling dengan jumlah sampel sebesar 198 responden. Variabel independen adalah umur ibu, pengasuh anak, jumlah anak, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, jenis kelamin anak, urutan anak dan budaya sedangkan variabel dependennya adalah praktik pemberian makan bagi anak (PMBA) yang diukur dengan menggunakan Complementary Feeding Practice Questionare (CFPQ), sedangkan variabel independen menggunakan kuesioner yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data yang akan digunakan adalah analisis univariat, analisis bivariat dan analisis multivariat dengan regresi logistic. Hasil analisis bivariat diperoleh umur ibu, pengasuh anak, jumlah anak, urutan anak, jenis kelamin anak dan budaya tidak signifikan dengan praktik PMBA. Analisis multivariat dengan regresi logistik menunjukkan bahwa pendidikan ibu dan pekerjaan ibu berpengaruh terhadap praktik PMBA, di mana ibu dengan pendidikan tinggi cenderung memberikan PMBA yang lebih baik sebesar 2,77 dibandingkan ibu berpendidikan rendah. Ibu yang bekerja juga cenderung meningkatkan praktik PMBA yang lebih baik sebesar 2,17 dibandingkan ibu yang tidak bekerja. Sebaiknya tenaga kesehatan dan instansi pendidikan bersinergi dalam meningkatkan keterjangkauan informasi tentang praktik PMBA yang baik bagi anak
Pengaruh Intervensi Konseling Feeding Rules dan Massage Eating Difficulties dalam Mengatasi Kesulitan Makan Balita di Kelurahan Cangkiran Mijen Semarang: The Effect of Feeding Rules Counselling and Eating Difficulty Massage to Overcome Eating Problems in Toddlers in Cangkiran Mijen, Semarang
Toddlers aged 1-5 years are a group that is vulnerable to nutritional problems. During this period, they experience very rapid growth and development. Toddlers usually have difficulty eating because of the increasing activities such as playing and running. While in toddlers, there is a process of growth and development that requires adequate nutrition. Efforts to overcome eating difficulties can be done with basic rules for feeding with Feeding Rules and pharmacological efforts with Massage Eating Difficulties. The purpose of the study was to determine the effect of counseling on feeding rules and massage eating difficulties on overcoming eating difficulties in toddlers. The research design used Experimental research with a One group Pre-Test and Post-test design approach model. The population of this study were toddlers aged 1-5 years who experienced weight gain in Cangkiran Mijen Village, Semarang. The sampling technique used Purposive Sampling and the number of samples obtained was 45 toddlers. The statistical test used was Mc Nemar from the results obtained p value = <0.001, then Ha was accepted, meaning that there was an Effect of Counseling on Feeding Rules and Massage Eating Difficulties on eating difficulties in toddlers in Cangkiran Mijen Village, Semarang. It is hoped that this research can be applied by health services including midwives as one of the complementary actions or interventions that can be carried out in providing midwifery care to toddlers in overcoming eating difficulties in toddlers.
Abstrak
Anak balita yang berusia 1-5 tahun merupakan kelompok yang rawan terhadap masalah gizi, Pada masa ini mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat. Balita biasanya menjadi sulit makan karena semakin bertambahnya aktivitas seperti bermain dan berlari. Sedangkan pada balita terjadi proses pertumbuhan dan perkembangan yang membutuhkan kecukupan nutrisi. Upaya untuk mengatasi kesulitan makan dapat dilakukan dengan aturan dasar pemberian makan dengan Feeding Rules dan upaya farmakologi dengan Massage Eating Difficulties. Tujuan penelitian ntuk mengetahui Pengaruh konseling feeding rules dan massage eating difficulties terhadap mengatasi kesulitan makan pada balita. Rancangan penelitian menggunakan penelitian Experimental dengan model pendekatan One group Pre-Test and Post-test design. Populasi dari penelitian ini adalah balita berusia 1-5 tahun yang mengalami berat badan tidak naik di Kelurahan Cangkiran Mijen Semarang. Teknik pengambilan sample dengan Purposive Sampling dan didapatkan jumlah sampel sebesar 45 balita. Uji statistic yang digunakan adalah Mc Nemar dari hasil didapatkan nilai p value = <0,001, maka Ha diterima, artinya ada Pengaruh Konseling Feeding Rules dan Massage Eating Difficulties terhadap kesulitan makan pada balita di Kelurahan Cangkiran Mijen Semarang. Diharapkan penelitian ini dapat diaplikasikan oleh pelayanan Kesehatan termasuk Bidan sebagai salah satu Tindakan atau intervensi komplementer yang dapat dilakukan dalam memberikan asuhan kebidanan pada anak balita dalam mengatasi kesulitan makan pada anak balita.
FIGURATIVE LANGUAGE IN THE WEEKND’S MY DEAR MELANCHOLY
The relationship between language and lyrics is fascinating, since music and language's blend together. "Lyrikos" in Greek means "sung to the lyre," indicates the connection to performance art. Figurative language is a language that are not meant to be taken literally or understood in ways that normally understood. Through the use of Perrine's theory, the paper exploring what is the most used figurative language and how the artist uses figurative language in their writing. Within My Dear Melancholy EP by Canadian singer The Weeknd, there are 33 data of metaphor, conveying feelings of melancholy and heartbreak. Symbolism with 18 data, used to express deep ideas related to emotional struggles and heartache. And irony with 15 data, used to adds depth to the lyrical narrative. The Weeknd clever application of linguistic devices gives the story more depth using metaphor, symbolism, and irony to explore the complexities of heartbreak and emotional struggle
Faktor-Faktor Yang Berhubungan dengan Kejadian Rawat Inap Ulang pada Pasien CHF di RSUD Dr. Gunawan Mangunkusumo
CHF patients are often re-hospitalized due to recurrence causing despair and fear of death. Several factors that influence re-hospitalization are family support, adherence to medication therapy and adherence to a low-salt diet Objective: To determine the factors associated with the incidence of re-hospitalization in congestive heart failure patients. The design of this research uses descriptive correlational with a cross sectional approach. The population studied was CHF patients at RSUD Dr. Gunawan Mangunkusumo Ambarawa with a sample size of 34 people was taken using accidental sampling technique. Data analysis used chi square which was processed using the SPSS data processing program. Results: Family support was mostly in the good category (55.9%), medication therapy compliance was mostly in the low category (52.9%), low salt diet compliance was mostly in the low category (52.9%), the incidence of re-hospitalization was mostly in the high category. (64.7%). There was a significant relationship between family support (p-value = 0.006), adherence to medication therapy (p-value = 0.040) and low-salt diet adherence (p-value = 0.006) with the incidence of re-hospitalization. Family support, adherence to medication therapy and adherence to a low salt diet are associated with the incidence of re-hospitalization. Suggestion: CHF patients must comply with drug therapy and a low-salt diet that has been determined by showing an observation sheet at each check-up to avoid re-hospitalization
Abstrak
Pasien-pasien CHF sering rawat inap ulang akibat adanya kekambuhan menyebabkan putus asa dan takut kematian. Beberapa faktor yang mempengaruhi rawat inap ulang adalah dukungan keluarga, kepatuhan terapi pengobatan dan kepatuhan diet rendah garam. Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian rawat inap ulang pada pasien gagal jantung kongestif. Desain pada penelitian ini menggunakan deskriptif korelasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi yang diteliti pasien CHF yang pernah menjalani rawat inap ulang di RSUD Dr. Gunawan Mangunkusumo Ambarawa dengan jumlah sampel 34 orang diambil dengan teknik accidental sampling. Analisis data yang digunakan chi square yang diolah dengan SPSS. Dukungan keluarga sebagian besar kategori baik (55,9%), kepatuhan terapi pengobatan sebagian besar kategori rendah (52,9%), kepatuhan diet rendah garam sebagian besar kategori rendah (52,9%), kejadian rawat inap ulang sebagian besar kategori tinggi (64,7%). Ada hubungan yang bermakna dukungan keluarga (p-value = 0,006), kepatuhan terapi pengobatan (p-value = 0,040) dan kepatuhan diet rendah garam (p-value = 0,006) dengan kejadian rawat inap ulang. dukungan keluarga, kepatuhan terapi pengobatan dan kepatuhan diet rendah garam berhubungan dengan kejadian rawat inap ulang. Pasien CHF harus mematuhi terapi obat dan diet rendah garam yang telah ditentukan dengan menunjukkan lembar observasi setiap kali kontrol agar tidak terjadi rawat inap ulang
Analisis Efektivitas Biaya Penggunaan Antibiotik Cefoperazone dan Levofloxacin pada Penyakit Infeksi Saluran Kemih di Rumah Sakit Islam Sultan Agung: Cost-Effectiveness Analysis Of The Use of Antibiotics Cefoperazone and Levofloxacin in Urinary Tract Infections at Sultan Agung Islamic Hospital
An infectious condition called UTI occurs when there are more than 100,000 bacteriuria per milliliter of urine in a urine culture. The aim of this study was to assess the cost effectiveness of the antibiotics Levofloxacin and Cefoperazone at RSI Sultan Agung Semarang. Retrospective data collection was carried out from the Finance Department, Pharmacy Installation, and Patient Medical Records. The study was conducted in July and August 2023. Overall hospital medical costs were included in the cost statistics, which also included costs for prescription drugs, in-patient rooms, doctor visits and laboratory work. This research shows that the length of stay in hospital in general for UTI sufferers who use the antibiotic drug Levofloxacin is 1.6/day with a total cost of IDR 6,649,295 with an ACER value of IDR 985,831/day while the average hospitalization for UTI who use The antibiotic drug Cefoperazone is 2.00 days with a total cost of IDR 5,901,038 with an ACER value of IDR 949,694/day. Compared with the antibiotic levofloxacin, UTI treatment studies using Cefoperazone antibiotic therapy have proven to be more cost-effective.
ABSTRAK
Kondisi menular yang disebut ISK terjadi ketika ada lebih banyak 100.000 bakteriuria per mililiter urin dalam kultur urin. Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai efektivitas biaya antibiotik Levofloxacin dan Cefoperazone di RSI Sultan Agung Semarang. Pengumpulan data secara retrospektif dilakukan dari Bagian Keuangan, Instalasi Farmasi, dan Rekam Medis Pasien. Penelitian dilakukan pada bulan Juli dan Agustus 2023. Keseluruhan biaya pengobatan rumah sakit dimasukkan dalam statistik biaya, yang juga mencakup biaya obat resep, kamar rawat inap, kunjungan dokter, dan pekerjaan laboratorium. Penelitian ini menunjukkan durasi lamanya tinggal di rumah sakit pada umumnya bagi penderita ISK yang menggunakan obat antibiotik Levofloxacin yaitu 1,6/hari total biaya Rp6.649.295 dengan nilai ACER Rp985.831/hari sedangkan rata-rata rawat inap pada ISK yang menggunakan obat antibiotik Cefoperazone adalah 2,00 hari total biaya Rp5.901.038 dengan nilai ACER Rp949.694/hari. Dibandingkan dengan antibiotik Levofloxacin, penelitian pengobatan ISK menggunakan terapi antibiotik Cefoperazone terbukti lebih hemat biaya
THE EFFECTIVENESS OF CHUNKING AND PAUSING TECHNIQUE ON ENGLISH SPEECH FLUENCY ABILITY OF SENIOR HIGH SCHOOL STUDENTS AT SMA NEGERI 2 UNGARAN
Based on observations in several schools, speaking skills are considered more difficult for students to master than other passive English skills (reading and writing). Public speaking as the ability to speak well in public for students is less than optimal. Students often experience difficulties due to lack of preparation so they are not confident when doing public speaking. Another cause is excessive anxiety so that the presentation they make does not match expectations. There are several methods and techniques that can be used in making presentations or public speaking so that the presenter can produce a good performance and the material presented can be accepted by the audience, one of which is chunking and pausing techniques. This research aims to determine the effect of using Chunking and Pausing techniques on English Speech Fluency abilities for high school students in Semarang Regency area. This activity was carried out for 18 students of the English Club at SMA Negeri 2 Ungaran class X and XI by conducting a pre-test, providing material and ending with a post-test. From the results of this activity, it was found that there was a significant change in the students' speech fluency before and after being given chunking and pausing technique material, namely an increase in the fluency aspect of 2.6, the pronunciation and accent aspect of 1.3. , the vocabulary mastery aspect is 1.4, the grammar aspect is 0.4, and the details aspect is 1.3.
It can be concluded that the students' ability to use chunking and pausing techniques makes their speech performance look more natural so that the level of understanding of the listener becomes better and the listener's attention becomes higher than before.
Keywords: Public speaking, chunking techniques, pausing techniques
 
Servqual dalam Kualitas Pelayanan terhadap Kepuasan Pasien Pengguna JKN di Puskesmas Karangrayung
The harmony of sustainable and integrated services at community health centers is a quality in health services that can increase the level of public health. The quality of Puskesmas services appears to be not optimal because services are still received late. Patients’ perceptions of the quality of health services starting from the needs and expectations of the community appear to be lacking, so the quality of services provided by the Karangrayung Community Health Center needs to be researched. The service quality approach in service marketing research that was developed and popular is used as a reference in this research, namely identifying 5 components (servqual) in service quality. This research aims to determine the description of the 5 components of patient satisfaction in service quality services, namely reliability, responsiveness, assurance, empathy, tangibles for JKN users at the Karangrayung Community Health Center in 2023. With this type of quantitative descriptive research conducted from May to July 2023. Conclusion The sample using a purposive sampling technique was 100 respondents. Data analysis used Univariate analysis of variables, namely patient satisfaction with JKN users from 5 (five) dimensions. The results of research on JKN patient satisfaction from 5 dimensions, namely Reliability (reliability) 80 patients (80%), Responsiveness (responsiveness) 80 patients (80%), Assurance (guarantee) 83 patients (83%), Empathy (empathy) 75 patients (75%), Tangible (physical evidence) was 86 patients (86%). So it was concluded that the majority of respondents stated that health services at the Karangrayung Community Health Center for patients using JKN were satisfied and served well.
ABSTRAK
Keselarasan pelayanan yang berkesinambungan dan terintegrasi di puskesmas merupakan kualitas dalam pelayanan kesehatan yang dapat terjadi peningkatan pada derajat kesehatan terhadap kesehatan masyarakat. Layanan Puskesmas yang berkualitas terlihat belum maksimal dikarenakan masih didapatkan pelayanan yang terlambat. Persepsi pasien terhadap kualitas pelayanan kesehatan dimulai dari kebutuhan dan harapan masyarakat yang didapat terlihat kurang, sehingga mutu pelayanan yang telah diselenggarakan oleh Puskesmas Karangrayung perlu diteliti. Pendekatan kualitas pelayanan dalam riset pemasaran jasa yang dikembangkan dan popular dijadikan sebagai acuan dalam penelitian ini yaitu mengidentifikasi 5 komponen (servqual) dalam kualitas pelayanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui diskripsi dari 5 komponen kepuasan pasien dalam servquel kualitas pelayanan yaitu reliability, responsiveness, assurance, emphaty, tangibles pada pengguna JKN di Puskesmas Karangrayung tahun 2023. Dengan jenis penelitian deskriptif kuantitatif yang dilakukan pada bulan Mei sampai Juli tahun 2023. Pengambilan sampel dengan teknik purposive sampling sebanyak 100 responden. Analisis data yang digunakan analisi Univariat dari variabel yaitu kepuasan pasien pengguna JKN dari 5 (lima) dimensi. Hasil penelitian kepuasan pasien JKN dari 5 demensi yaitu Reliability (kehandalan) 80 pasien (80%), Responsiveness (daya tanggap) 80 pasien (80%), Assurance (jaminan) sebanyak 83 pasien (83%), Empathy (empati) sebanyak 75 pasien (75%), Tangible (bukti fisik) sebanyak 86 pasien (86%). Maka disimpulkan bahwa sebagian besar responden menyatakan bahwa pelayanan kesehatan di Puskesmas Karangrayung pada pasien pengguna JKN merasa puas dan dilayani dengan sudah baik
Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan Pajanan Debu PM10 dan PM2.5 pada Relawan Lalu Lintas di Jalan Diponegoro Ungaran
The air quality index of an area is assessed by looking at environmental parameters that are the standard for monitoring air quality between PM2.5, and PM10. Both PM2.5 and PM10 can be inhaled, and some of them settle in the airways. Respiratory disorders caused by PM 10 and PM 2.5 particles include coughing, decreased lung function, lung cancer, asthma, difficulty breathing and death. A preliminary study obtained a PM10 value for the Diponegoro road section of 50.57 µg/m3 and PM 2.5 of 32.1 µg/m3. The amount of acceptable health risk or to estimate the health risk from exposure to PM10 and PM2.5 can be calculated using the Environmental Health Risk Analysis (ARKL) method. The purpose of this study was to analyze the environmental health risks of PM10 and PM2.5 in the population directly exposed to ambient air pollution along Diponegoro Street in 2023. The environmental population is all PM10 and PM2.5 air on Diponegoro Street Ungaran. The human population taken in this study were volunteers working on Jalan Diponegoro Ungaran. Samples were taken purposively at 24 sample points which were points with higher human activity, PM10 and PM2.5 measurements were carried out every morning and evening using an Air Quality Monitor. The results showed that the risk level at 24 points had RQ ≥1 for PM10 and PM2.5, so it can be concluded that it is included in the unsafe risk category
ABSTRAK
Indeks kualitas udara suatu daerah dinilai dengan melihat parameter lingkungan yang menjadi standart pemantauan kualitas udara diantara PM2.5, PM10. Baik PM2.5 maupun PM10 dapat terhirup, dan beberapa di antaranya mengendap di saluran udara. Gangguan pernapasan yang timbul akibat partikel PM 10 dan PM 2.5 antara lain batuk-batuk, menurunnya fungsi paru, kanker paru-paru, asma, kesulitan bernapas hingga kematian Studi pendahuluan diperoleh nilai PM10 ruas jalan diponegoro sebesar 50,57 µg/m3 dan PM 2.5 sebesar 32,1 µg/m3. Besarnya risiko kesehatan yang dapat diterima atau untuk memperkirakan risiko kesehatan dari paparan PM10 dan PM2.5 dapat dihitung menggunakan metode Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis risiko kesehatan lingkungan PM10 dan PM2.5 pada populasi yang terpapar langsung polusi udara ambien di sepanjang jalan Diponegoro Tahun 2023. Populasi lingkungan adalah semua udara PM10 dan PM2.5 di Jalan Diponegoro Ungaran. Populasi manusia yang diambil dalam penelitian ini adalah para relawan yang bekerja di Jalan Diponegoro Ungaran. Sampel diambil secara purposive sebanyak 24 titik sampel yang merupakan titik dengan aktivitas manusia lebih tinggi, pengukuran PM10 dan PM2.5 dilakukan setiap pagi dan sore hari menggunakan Air Quality Monitor. Hasil penelitian menunjukan tingkat resiko pada 24 titik memiliki RQ ≥1 untuk PM10 dan PM2.5, sehingga dapat disimpulkan bahwa termasuk dalam kategori risiko tidak aman
Gambaran Parenting Stres Pada Ibu yang Menikah di Usia Muda terhadap Perilaku Kekerasan pada Anak Usia Dini: Description of Parenting Stress in Mothers Who Married at a Young Age on Violent Behavior in Early Childhood
The role of mother in the family is very important. For mothers who marry at a young age, it can be assumed that they will be psychologically prepared and mature. The majority of studies explain that parenting stress is experienced more by mothers. The immaturity of mothers who marry at a young age will lead to parenting stress, which is a psychological condition that occurs when a mother cannot adapt to her role as a mother. This study aims to describe parenting stress in mothers who marry at a young age towards violent behavior in children. This research is important to do because parenting stress experienced by mothers will have an impact on their child's upbringing and has the potential to cause violence in children. This study uses a qualitative method. The research subjects were 5 young mothers aged between 20-25 years and had children aged 3-6 years. From the results of this study it was concluded that mothers who have high levels of parenting stress have a tendency to commit acts of violence against children compared to mothers who have lower levels of stress. In addition, support from the family, especially partners, is needed to reduce the level of stress experienced so that it can minimize the occurrence of violence in children
ABSTRAK
Peran ibu dalam keluarga sangat penting. Pada ibu yang menikah di usia muda, dapat diasumsikan bahwa ia akan memiliki kesiapan dan kematangan secara psikologis. Mayoritas penelitian menjelaskan bahwa parenting stress lebih banyak dialami oleh ibu. Ketidakmatangan kondisi ibu yang menikah usia muda akan memunculkan parenting stress yaitu kondisi psikologis yang terjadi ketika ibu tidak bisa beradaptasi dengan perannya sebagai seorang ibu. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan parenting stress pada ibu yang menikah di usia muda terhadap perilaku kekerasan pada anak. Penelitian ini penting untuk dilakukan karena parenting stress yang dialami ibu akan berdampak pada pengasuhan anaknya dan memiliki potensi untuk menimbulkan kekerasan pada anak. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Subyek penelitian berjumlah 5 orang ibu muda yang berusia antara 20-25 tahun dan memiliki anak dengan rentang usia 0-6 tahun. Dari hasil penelitian tersebut disimpulkan bahwa ibu yang memiliki tingkat parenting stress yang tinggi memiliki kecenderungan untuk melakukan tindakan kekerasan pada anak dibandingkan ibu yang memiliki tingkat stress yang lebih rendah. Selain itu dukungan dari keluarga terutama pasangan sangat dibutuhkan untuk mengurangi tingkat stres yang dialami sehingga dapat meminimalisisr terjadinya kekerasan pada anak