Open Journals System Universitas Ngudi Waluyo
Not a member yet
1880 research outputs found
Sort by
Evaluasi Efektifitas Penggunaan Uterotonika Misoprostol pada Induksi Persalinan Kehamilan Postterm
Postterm pregnancy, namely pregnancy that reaches 42 weeks or exceeds 294 days which requires appropriate treatment and there are indications of labor induction. The principle of labor management in postterm pregnancy is the fulfillment of the requirements for induction of labor. The pharmacological induction method uses the uterotonic drug misoprostol. This research aims to evaluate and analyze the cost effectiveness of using the uterotonic misoprostol in labor induction of postterm pregnancies. This research method is descriptive observation using a cross-sectional research design from a hospital perspective. Retrospective data collection method. Evaluation of the effectiveness of using the uterotonic misoprostol with percentages. The results of this study show the pattern of use of misoprostol uterotonics (73.5%), the use of uterotonics is in accordance with hospital guidelines (96%), the effectiveness of using uterotonics is successful in preventing bleeding (57.4%). And analysis of the cost effectiveness of using misoprostol and oxytocin in labor induction at RSUD dr. Sayidiman Magetan can conclude that misoprostol uterotonic is more effective with a percentage value of 60%.
Abstrak
Kehamilan postterm, yaitu kehamilan yang mencapai 42 minggu atau melewati 294 hari yang memerlukan penanganan tepat dan muncul indikasi dilaksanakan induksi persalinan. Prinsip penatalaksanaan persalinan pada kehamilan postterm adalah terpenuhinya syarat-syarat melakukan induksi persalinan. Metode induksi farmakologis menggunakan obat uterotonika misoprostol. Pelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dan analisis efektifitas biaya penggunaan uterotonika misoprostol pada induksi persalinan kehamilan postterm. Metode penelitian ini observasi deskriptif dengan menggunakan rancangan penelitian cross sectional menurut perspektif rumah sakit. Metode pengambilan data secara retrospektif. Evaluasi efektifitas penggunaan uterotonika misoprostol dengan persentase. Hasil penelitian ini menunjukkan pola penggunaan uterotonika misoprostol (73,5%), penggunaan uterotonika sudah sesuai dengan guideline rumah sakit (96%), efektifitas penggunaan uterotonika berhasil mencegah perdarahan (57,4%). Dan analisis efektifitas biaya penggunaan misoprostol dan oksitosin pada induksi persalinan di RSUD dr. Sayidiman Magetan dapat disimpulkan uterotonika misoprostol lebih effective dengan nilai persentase 60 %
PROFIL KONDISI FISIK ATLET PENCAK SILAT DI PSHT RAYON KEMBANGAN KABUPATEN MAGELANG
Pencak Silat is a product of Indonesian society and part of the people's culture. therefore the culture produced is the culture of society. Community culture is a culture of mutual cooperation, kinship, unity, unity, harmony and social tolerance. Physical condition is the most important basic requirement for optimal performance. Physical conditioning exercises are designed in stages to develop optimal physical conditioning. It is difficult to perform optimally if your physical condition is not good. The research used is quantitative descriptive research with a cross-sectional design, one of the characteristics is that there is no hypothesis and the information collected is presented. This research was conducted at the PSHT Rayon Kembangan training ground RT 03 RW 16 Sumberrejo Kembangan Magelang with a population of 15 athletes. The instrument used by researchers is the TKJI measurement for ages 16-18 years. The results of measuring the physical condition profile of pencak silat athletes at PSHT Rayon Kembangan have obtained results from arm muscle strength tests for male athletes in the good category with a percentage of 20.0% and for female athletes in the moderate category with a percentage of 33.4%. In terms of abdominal muscle strength, male athletes are in the good category with a percentage of 13.3% and female athletes are in the medium category with a percentage of 6.6%. The flexibility test for male athletes is in the medium category with a percentage of 26.6% and for female athletes in the medium category with a percentage of 20.0%. The speed test for male athletes was in the poor category with a percentage of 66.6% and in the poor category with a percentage of 33.33%. The coordination test for male athletes was in the very good category with a percentage of 46.6% and for female athletes in the very good category with a percentage of 26.6%. The power test for male athletes is in the very good category with a percentage of 66.6% and for female athletes is in the very good category with a percentage of 33.33%. The endurance test for male athletes is in the medium category with a percentage of 13.3% and for female athletes in the medium category with a percentage of 20.0%. Based on the results, it can be concluded that the pencak silat athletes at PSHT Rayon Kembangan have quite good physical condition because there are still several test and measurement components that still do not meet the TKJI standards for ages 16-18 years.
Abstrak
Pencak Silat merupakan produk masyarakat Indonesia dan bagian dari budaya masyarakat. oleh karena itu budaya yang dihasilkan adalah budaya masyarakat. Budaya masyarakat adalah budaya gotong royong, kekeluargaan, persatuan, kesatuan, kerukunan, dan toleransi sosial. Kondisi fisik merupakan syarat dasar terpenting untuk performa optimal. Latihan pengkondisian fisik dirancang secara bertahap untuk mengembangkan pengondisian fisik yang optimal. Sulit untuk tampil maksimal jika kondisi fisik tidak bagus. Penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kuantitatif dengan desain crossectional, salah satu cirinya adalah tidak ada Hipotesis dan informasi yang dikumpulkan disajikan Penelitian ini di lakukan ditempat latihan PSHT Rayon Kembangan RT 03 RW 16 Sumberrejo Kembangan Magelang dengan populasi 15 atlet. Dalam penelitian ini menggunakan instrumen dengan serangkaian tes dan kondisi pengukuran fisik dengan standar TKJI berusia 16 sampai 18 tahun. Hasil pengukuran profil kondisi fisik atlet pencak silat di PSHT Rayon Kembangan telah diperoleh hasil dari tes kekuatan otot lengan pada atlet putra dalam kategori baik dengan presentase 20,0% dan pada atlet putri dalam kategori sedang dengan presentase 33,4%. Pada kekuatan otot perut pada atlet putra dalam kategori baik dengan presentase 13,3% dan pada atlet putri dalam kategori sedang dengan presentase 6,6%. Tes fleksibilitas pada atlet putra dalam kategori sedang dengan presentase 26,6% dan pada atlet putri dalam kategori sedang dengan presentase 20,0%. Tes kecepatan pada atlet putra dalam kategori kurang dengan presentase 66,6% dan kategori kurang dengan presentase 33,33%. Tes koordinasi pada atlet putra dalam kategori baik sekali dengan presentase 46,6% dan pada atlet putri dalam kategori baik sekali dengan presentase 26,6%. Tes power pada atlet putra dalam kategori baik sekali dengan presentase 66,6% dan pada atlet putri dalam kategori baik sekali dengan presentase 33,33%. Tes daya tahan pada atlet putra dalam kategori sedang dengan presentase 13,3% dan pada atlet putri dalam kategori sedang dengan presentase 20,0%. Berdasarkan hasil dapat disimpulkan bahwa atlet pencak silat di PSHT Rayon Kembangan memiliki kondisi fisik yang cukup baik karena masih ada beberapa komponen tes dan pengukuran yang masih belum memenuhi standar TKJI usia 16-18 tahun
Uji Antiinflamasi Ekstrak Daun Andong Merah (Cordyline Fruticosa L. A Cheval) terhadap Tikus Model Induksi Karagenan: Anti-inflammatory Test of Red Andong Leaf Extract (Cordyline Fruticosa L. A Cheval) in the Rat Model of Carrageenan-Induced
Inflammation is a reaction to stimulation by harmful agents, infection, trauma, or tissue injury. One plant that has anti-inflammatory properties is red andong leaves. The chemical content of Andong leaf extract, which has anti-inflamatorry activity, is flavonoids. This study aims to determine the anti-inflammatory activity of ethanol extract of red andong leaves on carrageenan-induced white rats and determine the effective dose. Testing of the anti-inflammatory activity was carried out using 25 white rats as test animals and divided into 5 treatment groups, namely group 1 (diclofenac sodium dose 4.5 mg/kgBW), group II (Na CMC 0.5%), group III (extract dose 100 mg/kgBW), group IV (extract dose 200 mg/kgBW), group V (extract dose 400 mg/kgBW). After 30 minutes of administering the extract and comparator, the experimental animals were injected with carrageenan. Then, the rat leg volume was measured after 1 hour of injection, starting from the 1st to the 6th hour. The results of anti-inflammatory activity test observations were carried out by determining the percentage of inflammation in the rats' feet. The effective dose in the anti-inflammatory activity test was an extract dose of 200 mg/kgBW, which had inflammation percentage results that were comparable to the positive control.
ABSTRAK
Peradangan adalah reaksi terhadap rangsangan agen berbahaya, infeksi, trauma, atau cedera pada jaringan. Salah satu tanaman yang memiliki khasiat antiinflamasi yaitu daun andong merah. Kandungan kimia dari ekstrak daun andong yang memiliki aktivitas antiinflamasi yaitu flavonoid. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antiinflamasi ekstrak etanol daun andong merah terhadap tikus putih yang diinduksi karagenan dan mengetahui dosis efektifnya. Pengujian aktivitas antiinflamasi dilakukan dengan menggunakan hewan uji tikus 25 ekor dibagi dalam 5 kelompok perlakuan yaitu kelompok I kontrol negatif (Na CMC 0,5 %), kelompok II kontrol positif (natrium diklofenak dosis 4,5 mg/kg BB), kelompok III (ekstrak dosis 100 mg/kg BB), kelompok IV (ekstrak dosis 200 mg/kg BB), kelompok V (ekstrak dosis 400 mg/kg BB). Hewan uji diberikan ekstrak dan pembanding, kemudian disuntik karagenan setelah 30 menit. Setelah penyuntikan, volume kaki tikus diukur setiap jam, dimulai pada jam pertama dan berakhir pada jam ke enam. Hasil pengamatan uji aktivitas antiinflamasi dilakukan dengan menentukan persentase peradangan pada kaki tikus. Dosis efektif pengujian antiinflamasi yaitu ekstrak dosis 200 mg/kgBB yang memiliki hasil persentase peradangan yang sebanding dengan kontrol positif
Efektivitas Posisi Bersalin terhadap Lama Kala II Persalinan: Effect of Maternity Position on the Length of Second Stage of Labor
The position of the mother during the birthing process can be freely changed or modified according to the wishes of the birthing mother. The birthing mother therefore receives fewer opportunities for labor and delivery in the preferred position, assuming the supine one as the standard due to easier monitoring of fetal well-being, administration of intravenous therapy, locus-regional anesthesia, and performance of medical procedures, perineal support, and birth assistance. Effects of different maternal positions during labor on maternal and neonatal outcomes. The purpose of this study was to analyze the effect of maternity positions on the length of the second stage of labor in the city of Semarang. This research was conducted at Midwife Independent Practice (PMB): Eka Setyowati, Sudiyah Proborini, Amelia & Sukateni. The type of research is Quasy-Experimental with a Post-Test Only with Control Group design. The population in this study were all birthing mothers with term pregnancies. The sampling technique is by using the accidental sampling technique. The research sample was 40 respondents. Data distribution analysis used Shapiro-Wilk, simple linear regression to determine the effect of birth position on the length of the second stage of labor, and multiple linear regression to determine the effect of maternity position on the length of the second stage of labor which was controlled by the age of the birthing mother. The results of the research show that for every 1 year increase in a pregnant woman's age, the length of the second stage will accelerate by 0.8 hours faster. Mothers who gave birth in the lateral position experienced the second stage of labor 1.8 hours faster than mothers who gave birth in the lithotomy position. Acceleration of the second stage of labor in pregnant women in the lateral position was not significant (B= -1.8, 95%CI: -13.4-9.7, p = 0.751). The effectiveness of the lateral position in accelerating the length of the second stage of labor is 0.03%. It is hoped that the results of this study will give birthing mothers the awareness to always pay attention to the condition of their bodies, so that all prospective pregnant women can plan for pregnancy at a productive age (20–35 years), because within this age range the reproductive organs work optimally. The mother should choose a position as comfortable as possible, namely the position that is more or the most effective in accelerating the progress of the second stage of labor.
Abstrak
Posisi ibu selama proses persalinan bisa bebas diubah atau dimodifikasi sesuai dengan keinginan ibu melahirkan. Ibu melahirkan menerima lebih sedikit kesempatan untuk persalinan dan melahirkan dalam posisi yang disukai, dengan asumsi yang telentang sebagai standar karena lebih mudah pemantauan kesejahteraan janin, pemberian terapi intravena, anestesi lokus-regional, dan kinerja prosedur medis, dukungan perineum, dan bantuan kelahiran. Efek dari posisi ibu yang berbeda selama persalinan pada hasil ibu dan neonatal. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menganalisis efektifitas posisi bersalin terhadap lama kala II persalinan di kota Semarang. Penelitian ini dilakukan di Praktik Mandiri Bidan (PMB): Eka Setyowati, Sudiyah Proborini, Amelia & Sukateni. Jenis penelitian ini Quasy-Eksperimental dengan rancangan Post-Test Only with Control Group. Populasi penelitian Populasi pada penelitian ini yaitu semua ibu bersalin dengan kehamilan aterm. Teknik pengambilan sampel yaitu dengan menggunakan tehnik accidental sampling. Sampel penelitian 40 responden. Analisis distribusi data menggunakan Saphiro-Wilk, Regresi linier sederhana untuk mengetahui efek posisi bersalin terhadap lama kala II persalinan, dan Regresi linier ganda untuk mengetahui efek posisi bersalin terhadap lama kala II persalinan yang terkontrol oleh usia ibu bersalin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap kenaikan umur ibu hamil 1 tahun akan terjadi percepatan lama kala 2 sebesar 0.8 jam lebih cepat. Ibu bersalin dengan posisi lateral mengalami kala II persalinan 1.8 jam lebih cepat dibandingkan dengan ibu bersalin dengan posisi Lithotomi. Percepatan kala II persalinan pada ibu hamil dengan posisi lateral tidak signifikan (B= -1.8, 95%CI: -13,4-9.7, p = 0.751). Efektifitas posisi lateral dalam mempercepat lama kala II persalinan sebesar 0.03%
Penerapan Naive Bayes Classifier untuk Analisis sentimen Ulasan Pelanggan pada Frenz Accessories Handphone
Frenz Accessories Handphone adalah sebuah perusahaan yang bergerak di industri penjualan aksesoris HP dengan 200 cabang yang tersebar di pulau Jawa. Frenz sangat menghargai pendapat pelanggan terkait produk dan layanan yang mereka sediakan untuk meningkatkan kepuasan pelanggan dalam menghadapi persaingan industri yang semakin ketat. Namun, data ulasan pelanggan dengan volume yang terus meningkat di platform online seperti Google Maps membutuhkan waktu yang lama untuk mengetahui polaritas ulasan positif atau negatif secara manual. Oleh karena itu, diperlukan model analisis sentimen akurat yang dapat mengklasifikasikan ulasan pelanggan. Penelitian ini menggunakan metode Naive Bayes Classifier karena efisiensi dan kemampuannya yang handal dalam menangani klasifikasi teks dengan volume data yang besar. Algoritma ini sederhana namun efektif, memberikan hasil yang cepat dan akurat dengan komputasi yang relatif rendah. Alur metode ini dimulai dari pengumpulan data, data understanding, preprocessing text, data visualization, data preparation, dan modelling. Dataset yang digunakan untuk membangun model analisis sentimen adalah data ulasan pelanggan Frenz dari Google Maps sebanyak 1.311 data. Analisis sentimen dalam setiap aspek menghasilkan nilai akurasi sebesar 98% pada aspek Pelayanan, 100% pada aspek Kualitas, dan 82% pada aspek Barang. Hasil klasifikasi analisis sentimen divisualisasikan dalam bentuk dashboard yang dilengkapi dengan filter berdasarkan waktu, aspek, dan sentimen
Sistem Informasi Reservasi Tour dan Travel Berbasis Website Menggunakan Metode Waterfall di Dirga Muda Travel Kabupaten Grobogan
Pariwisata adalah suatu kegiatan yang terjadi karena adanya kesatuan faktor-faktor yang saling terkait antara lain wisatawan, perjalanan wisata, pariwisata, industri, dan lain-lain. Sumber utama devisa negara Indonesia adalah pariwisata karena Indonesia merupakan negara terbesar di Asia Tenggara, sehingga Indonesia memiliki jenis pariwisata seperti wisata budaya, sosial dan alam, masing-masing daerah memiliki ciri khas tersendiri. Dalam pengembangan perangkat lunak metode rekayasa perangkat lunak digunakan. Perangkat lunak yang digunakan adalah metode air terjun atau waterfall. Menurut Pressman, metode air terjun bersifat sistematis melalui model klasik pengembangan perangkat lunak, Struktur ini meliputi: analisis, desain, pengkodean,dan pengujian. Digunakan oleh penulis penelitian ini penulis menggunakan metode waterfall sering disebut sebagai siklis hidup klasik, yang menggambarkan pendekatan yang sistematis dalam pengembangan perangkat lunak,mulai dari spesifikasi yang diperlukan oleh pengguna untuk tahap selanjutnya.
Dari hasil kuesioner yang telah dikumpulkan dari jumlah rata-rata maka ditemukan hasil persentasi 90% maka menurut Pengujian dengan Uji Usability Sistem Informasi Reservasi tour dan travel berada di Kategori Sangat Layak untuk di gunakanSistem informasi yang dibuat menggunakan Bahasa pemrograman PhpMyAdmin dan Sistem Informasi ini membahas tentang transaksi pemesanan Dirga muda travel. Dari hasil pengujiani sistemi yang dilakukan oleh penulis melalui Uji Functional Suitability dan Usability Testing sistem ini dinyatakan sangat layak dengan tingkat persentase Uji Functional Suitability 100% dan Usability 88% dengan hasil tersebut menyatakan bahwai Sistem Informasi inii sangat layak untuk digunakan.
Keyword : Travel, Waterfall, Dirga Muda Trave
Peran Kepolisian Dalam Pengawasan dan Pengendalian Minuman Beralkohol
Nowadays, alcohol abuse is a growing problem in society. Recently, there has been a huge uproar in the habit or culture among the public, namely that drinking alcoholic beverages, alcoholic beverages or alcoholic beverages are considered as something that has a negative stigma in the public mind, being called alcoholic beverages does not mean that they are strong but rather the effects they have on the body. Alcoholic drinks or what can be called liquor are drinks that are very dangerous for the human body because someone who consumes excessive alcohol can be at risk of experiencing several health problems, such as damage to vital organs, loss of body fluids, and decreased brain function. Moreover, quite a few victims died after drinking alcoholic beverages, especially mixed alcohol. The position of the police as law enforcement officers is expected to be able to monitor and regulate the distribution of alcoholic drinks in the Semarang Regency area. The author in this study used descriptive qualitative research. In general, descriptive research, including legal research, aims to accurately describe identities and conditions in society. This indication emerged because of the lack of understanding of the residents themselves. The position of the police in supervising and controlling alcoholic beverages in the Semarang district area is less than optimal, as evidenced by the fact that there are still many problems that arise due to one of them being the lack of socialization of regional regulations regarding alcoholic beverages from both the police and Satpol PP. The police only focus on repressive actions (raids) even though they are not often carried out because the public is not very familiar with the applicable regulations. This matter has become a polemic among residents because the circulation of alcohol is still rampant in the Semarang Regency area. In fact, with the large number of cases involving alcoholic drinks in Semarang Regency, the perpetrators range from young people to the elderly. The impact is that there are many fights, brawls, rapes, this is the responsibility of the Regency government. Semarang together with the Semarang Police to overcome this.
Abstrak
Penyalahgunaan minuman keras dewasa ini adalah kasus yang lumayan bertumbuh di masyarakat. Akhir- akhir ini gempar sekali kebiasaan ataupun budaya di tengah publik ialah minum minuman beralkohol, minuman beralkohol ataupun minuman keras dianggap selaku suatu yang mempunyai stigma negatif ditengah pemikiran publik, dengan dinamakannya minuman keras bukan berarti bentuknya yang keras melainkan akibat yang ditimbulkannya terhadap badan. Minuman beralkohol ataupun yang dapat diucap miras merupakan minuman yang sangat beresiko untuk badan manusia sebab seorang yang komsumsi alkohol berlebih dapat berisiko hadapi beberapa permasalahan kesehatan, semacam rusaknya organ vital, kehilangan cairan tubuh, sampai menurunya kerja otak. Apalagi tidak sedikit korban wafat sehabis menenggak minuman keras, paling utama miras oplosan. Kedudukan kepolisian selaku aparat penegak hukum diharapkan sanggup mengawasi sekaligus mengatur peredaran minuman beralkohol di daerah Kabupaten Semarang. Penulis dalam penelitian ini memakai riset yang sifatnya deskriptif kualitatif. Pada biasanya riset deskriptif tercantum riset hukum bertujuan guna menggambarkan secara pas identitas, kondisi dalam masyarakat. Indikasi tersebut mencuat sebab minimnya pemahaman warga itu sendiri. Kedudukan kepolisian dalam pengawasan serta pengendalian minuman beralkohol di daerah kabupaten semarang kurang maksimal dibuktikan dengan masih banyak masalah- masalah terjalin disebabkan salah satunya minimnya sosialisasi peraturan wilayah tentang minuman keras baik dari pihak kepolisian serta satpol pp. Pihak kepolisian cuma berfokus dalam aksi represif( razia) meski tidak kerap dicoba sebaliknya masyarakat belum banyak mengenali ketentuan yang berlaku. Perihal ini jadi polemik di tengah warga sebab masih maraknya peredaran miras di daerah Kabupaten Semarang faktanya dengan banyaknya kasus- kasus tentang minuman beralkohol di Kabupaten Semarang pelakunya mulai dari anak muda sampai berusia dampaknya merupakan banyaknya perkelahian, tawuran, pemerkosaan ini jadi tanggung jawab untuk pemerintah Kabupaten Semarang bersama- sama Polres Semarang buat mengatasinya
Implementasi Secara Hukum Terhadap Karakter Seseorang Dalam Masyarakat Menuju Kepribadian Berbangsa dan Bernegara
This research aims to examine character in the social life of the nation and state. The things studied in this research are about tolerant living side by side with a pluralistic life of different religions and habits that live together in worship and the social life of the community in obedience to legal norms in Banyumas district. The lives of forest village communities whose lives are limited in terms of educations, transportation, technology, healt, welfare, with the average livelihood of forest farmers being very varied and marginalized. This research uses empirical legal research or socio legal research. The approach used is an approach to society with the help of qualitative social sciences. The result of the research is the legal implementation of a person’s character in society towards national and state personality. The aim is to know and understand the characteristics of culture values that coexist in society peacefully by obeying legal norms in accordance with legal culture.
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tentang karakter dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara. Hal-hal yang dikaji dalam penelitian ini adalah tentang hidup bertoleransi secara berdampingan dengan kehidupan yang pluralisme yang berbeda agama dan kebiasaan yang hidup secara bersama-sama dalam beribadah serta kehidupan sosial masyarakat dalam ketaatan terhadap norma hukum di kabupaten Banyumas. Kehidupan masyarakat desa hutan yang hidupnya serba keterbatasan baik pendidikan, transportasi, teknologi, kesehatan, kesejahteraan dengan mata pencaharian rata-rata petani hutan yang sangat bervariatif dan terpinggirkan. Penelitian ini menggunakan penelitian hukum empirik atau socio legal research. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan terhadap masyarakat dengan bantuan ilmu-ilmu sosial secara kualitatif. Hasil dari penelitian adalah implementasi secara hukum terhadap karakter seseorang dalam masyarakat menuju kepribadian berbangsa dan bernegara. Tujuannya adalah agar mengetahui dan memahami karakteristik nilai-nilai kebudayaan yang hidup berdampingan dalam masyarakat secara damai dengan mentaati norma hukum sesuai dengan budaya huku
Perbedaan Pengetahuan Kader Sebelum dan Sesudah Pendidikan Kesehatan dengan Metode Ceramah dan Role Play Tentang Deteksi Dini Faktor Resiko Kehamilan: Differences in Knowledge of Cadres Before and After Health Education with Lecture Methods and Role Play About Early Detection of Pregnancy Risk Factors
The high number of mother and baby deaths is still a significant health problem; the community is expected to play a decrease in the decline in the figure. Health cadres are the selected and trained society to help healthcare in health attempts, including pre-determination of pregnancy risk factors. Health cadies need to be given health education with more effective methods in enhancing the development of the presence of pregnancy factor of the pregnancy of the only one with the talk of the talk and role play. The purpose of researching is to know the difference in caders' knowledge before and after being given health education with lectures and role play in the village of Dangin Puri Klod. The design used by pre-experiment with pretest-post stating design. Implementation in February-March 2023 with Purposive Sampling Technique. The amount of samples is 55 cadres. Research instruments use questionnaires. Data analysis using the Wilcoxon test. Pretest results showed that 19 people (34.5%) have good knowledge, 20 people (36.4%) with sufficient knowledge, 16 people (29.1%) have less knowledge, and post-test results show 55 people (100%) have good knowledge. Wilcoxon test results are significant differences in Kader's knowledge with a P-value of 0.000 <0.05. From the results of the statistical tests obtained throughout, the respondents experienced an increase in knowledge. Researchers suggestions so that cadres practice determining the risk factor on the field so that the case of domestic detection by the community can increase.
Abstrak
Tingginya angka kematian ibu dan bayi masih menjadi masalah kesehatan utama, masyarakat diharapkan dapat berperan dalam upaya penurunan angka tersebut. Kader kesehatan merupakan masyarakat yang dipilih dan dilatih untuk membantu tenaga kesehatan dalam upaya kesehatan termasuk deteksi dini faktor resiko kehamilan. Kader kesehatan perlu diberikan pendidikan kesehatan dengan metode yang lebih efektif dalam meningkatkan pengetahuan deteksi dini faktor resiko kehamilan salah satunya yaitu dengan metode ceramah dan role play. Tujuan penelitian untuk mengetahui perbedaan pengetahuan kader sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan dengan ceramah dan role play di Desa Dangin Puri Klod. Desain yang digunakan pre-eksperiment dengan pretest-posttest design. Pelaksanaan pada bulan Februari - Maret 2023 dengan teknik Purposive Sampling. Jumlah sampel adalah 55 kader. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner. Analisa data menggunakan uji Wilxocon. Hasil pretest menunjukkan sebanyak 19 orang (34.5%) memiliki pengetahuan baik, 20 orang (36.4%) dengan pengetahuan cukup, 16 orang (29.1%) memiliki pengetahuan kurang dan hasil posttest menunjukkan 55 orang (100%) memiliki pengetahuan baik. Hasil uji Wilxocon terdapat perbedaan yang signifikan pada pengetahuan kader dengan p-value 0.000<0.05. Dari hasil uji statistik diperoleh seluruh responden mengalami peningkatan pengetahuan. Saran peneliti agar kader dapat mempraktekkan deteksi dini faktor resiko di lapangan sehingga cakupan deteksi dini oleh masyarakat dapat meningkat
Perbedaan Tanda Neuropati Perifer Diabetik Sebelum dan Sesudah Dilakukan Senam Kaki Diabetik pada Penderita DM Tipe 2 di Desa Nglorog
Diabetes Melitus (DM) is a group of metabolic disease characterized by hyperglicemia resulting from defects in insulin secretion, insulin action, or both.the most common type of diabetes is type 2 of Diabetes Melitus. Type 2 of Diabetes Melitus has several complications, one of which is microvascular complication, that called neuropathy which result in decreased foot sensitivity. The appropriate diabetes management, one of wich is physical exercise with diabetic foot exercise. Diabetic foot exercise is a physical exercise that can be done by DM sufferers and non-DM sufferers with the aim of helping improve blood circulation in the legs. The aim To analyze different symptom of diabetic peripheral neuropathy before and after foot diabetic exercise on pasient with type 2 of Diabetes Melitus in Nglorog Village, Pringsurat District, Temanggung Regency. Research design with pre-experimental with one group pretest-posttest design with sampling technique using purposive sampling obtained 30 samples. Data analysis used the Wilcoxon statistical test. The result After the intervention of diabetic foot exercise, as many as 27 type 2 of DM patients experienced negative diabetic peripheral neuropathy. Bivariate analysis showed that there was an different symptom of diabetic peripheral neuropathy before and after foot diabetic exercise on type 2 of DM patients in Nglorog Village, Pringsurat District, Temanggung Regency with a p-value of 0.000. The results of this study can be used as input for the community, especially the residents of Nglorog Village to practice it independently in their respective homes to improve blood flow so that diabetic peripheral neuropathy does not occur.
Abstrak
Diabetes Melitus (DM) adalah sekelompok penyakit metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia akibat gangguan sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya. Diabetes yang paling sering terjadi adalah DM tipe 2. Diabetes Melitus tipe 2 memiliki beberapa komplikasi, salah satunya komplikasi mikrovaskuler yaitu neuropati yang mengakibatkan penurunan sensitivitas kaki. Manajemen diabetes yang baik, salah satunya adalah latihan fisik dengan senam kaki diabetik. Senam kaki diabetik adalah latihan fisik yang bisa dilakukan oleh penderita DM maupun bukan penderita DM dengan tujuan untuk membantu memperlancar peredaran darah bagian kaki. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis perbedaan tanda neuropati perifer diabetik sebelum dan sesudah dilakukan senam kaki diabetik pada penderita DM tipe 2 di Desa Nglorog, Kecamatan Pringsurat, Kabupaten Temanggung. Desain penelitian dengan pre eksperimental dengan rancangan one group pretest-postest dengan kuesioner skor Diabetic Neuropathy Symptoms (DNS) dengan teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling didapatkan 30 sampel. Analisis data menggunakan uji statistik Wilcoxon. Hasil setelah dilakukan intervensi senam kaki diabetik, sebanyak 27 penderita DM tipe 2 mengalami negatif neuropati perifer diabetik. Analisa bivariat menunjukkan ada perbedaan tanda neuropati perifer diabetik sebelum dan sesudah dilakukan senam kaki diabetik pada penderita DM tipe 2 di Desa Nglorog, Kecamatan Pringsurat, Kabupaten Temanggung dengan p value 0,000. Saran dari hasil penelitian ini dapat dijadikan masukan bagi mayarakat khususnya warga Desa Nglorog untuk mempraktikkanya secara mandiri di rumah masing-masing untuk memperlancar aliran darah sehingga tidak terjadi neuropati perifer