AL-HAYAT : Journal Of Islamic Education
Not a member yet
225 research outputs found
Sort by
Concentration on Learning Program Development in Islamic Education
An effort to educate learner in Islamic education as an order to the learner be able to change character and behavior. For Islamic education, learner hoped to be able to understand whole Islamic teachings and comprehend the aim of Islamic education entirely. Islamic subject Learning system has planned systematically and referred to learning components which have oriented to the new paradigm and the application of contextual teaching and learning approach; the class condition will be conducive and comfortable for the learner to be motivated to learn Islamic subject. In contextual teaching and learning approach be able to direct the process of Islamic teaching and learning for growing learner good behavior, character building, and moral values that will become human who has proper responsibility, emotional, intellectual, and human who has emotional intelligence in developing the learner potency in applying of Islamic educational making good relation between God with human being and doing whole Islamic teachings in Global Era. How the learner knows about Islamic teachings, but it discusses what has known and realized by learner after learning.? Learner hoped to be able to have a strong desire and a high commitment to understand and apply Islamic teachings.Suatu upaya mendidik peserta didik dalam pendidikan Islam agar siswa dapat mengubah karakter dan perilaku. Melalui pendidikan Islam, pelajar berharap dapat memahami seluruh ajaran Islam dan memahami sepenuhnya tujuan dari pendidikan Islam. Sistem pembelajaran mata pelajaran pendidikan Islam harus direncanakan secara sistematis dan harus mengacu pada komponen pembelajaran yang berorientasi pada paradigma baru dan penerapan pendekatan pembelajaran kontekstual, kondisi kelas akan kondusif dan mudah bagi peserta didik untuk termotivasi belajar Islam objek kajiannya. Tentunya pendekatan pembelajaran kontekstual dapat mengarahkan proses pembelajaran dan pembelajaran keislaman untuk menumbuhkan perilaku baik peserta didik, pembentukan karakter, dan nilai-nilai moral yang akan menjadi manusia yang memiliki tanggung jawab baik, emosional, intelektual, dan manusia yang memiliki kecerdasan emosional dalam mengembangkan potensi pelajar dalam menerapkan pendidikan Islam membuat hubungan yang baik antara Tuhan dengan manusia dan melakukan seluruh ajaran Islam di Era Global. Bagaimana pelajar tahu tentang ajaran Islam, tetapi membahas tentang apa yang telah diketahui dan disadari oleh pelajar setelah belajar? Setiap peserta didik dapat termotivasi serta memiliki keinginan yang kuat dan komitmen yang tinggi untuk mewujudkan dan menerapkan ajaran Islam
Perpaduan Kearifan Budaya Dan Nilai Agama Dalam Bina Damai (Studi Kasus di Kecamatan Gunungsari -Lombok Barat)
Conflicts inherent in human social life, have positive and negative effects. Instead of appearing in a definite form such as strengthening ties and affirming identity, conflict often arises negatively, in the way of violence, destruction, and loss of life. Bina Damai is the ideal concept in managing conflict before becoming destructive. Bina Damai is an effort from all levels of society in creating peace and tries to handle conflict so as not to cause damage and spread so that it is not controlled. All levels of the organization realize Bina Damai through the implementation of values that exist in culture and religion. This study uses qualitative research and data collection using observation, in-depth interviews, and documentation. The purpose of the study is to explore the cultural and religious values that are the foundations of Bina Damai in Gunungsari District, West Lombok. This study uses qualitative research and data collection using observation, in-depth interviews, and documentation. The results of this study are that cultural and religious values are still preserved and held firmly by the people of Gunungsari-West Lombok, these values are preserved in the form of daily acts and religious events, so as to be able to realize Bina Damai among residents in Gunungsari.Konflik melekat dalam kehidupan sosial manusia, memiliki efek positif dan negative. Alih-alih muncul dalam bentuk positif seperti menguatkan ikatan dan penegasan identitas, konflik seringkali muncul dalam bentuknya yang negative, berupa kekerasan, pengerusakan, dan penghilangan nyawa. Bina Damai adalah konsep yang ideal dalam mengelola konflik sebelum menjadi destruktif. Bina Damai adalah usaha dari seluruh lapisan masyarakat dalam menciptakan perdamaian dan usaha mengelola konflik agar tidak menimbulkan kerusakan dan menyebar sehingga tidak terkendali. Bina Damai diwujudkan oleh seluruh lapisan masyarakat melalui pelaksanaan nilai-nilai yang ada dalam budaya dan agama. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dan pengumpulan data dengan metode observasi, wawancara mendalam dan dokumentasi. Tujuan dari penelitian adalah untuk menelusuri nilai-nilai budaya dan agama yang menjadi pondasi Bina Damai di Kecamatan Gunungsari-Lombok Barat. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dan pengumpulan data dengan metode observasi, wawancara mendalam dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini adalah nilai-nilai budaya dan agama masih dilestarikan dan dipegang teguh oleh masyarakat Gunungsari-Lombok Barat, nilai-nilai tersebut dilestarikan dalam bentuk perbuatan sehari-hari maupun acara-acara keagamaan, sehingga mampu mewujudkan Bina Damai antar warga di Gunungsari
Law Enforcement in Indonesia: Exploration of the Concept of Justice in Islamic Dimension with Pancasila Ideology
Law enforcement in Indonesia is still not going well and is so alarming. The problem of law enforcement (law enforcement) always tends to be the imbalance of dynamic interactions between legal aspects in expectations or das swollen, with elements of the application of the law in reality das sein. The weakness of law enforcement in Indonesia today can be reflected in various resolutions of significant cases that have not been completed, one of which is the practice of corrupt corruption, but ironically the main actors are very few who are legally enforced. This fact is precisely the best compared to some cases involving small people. Judging from the study of philosophy, the reflection of legal philosophy is done to be able to know the irregularities that exist in the application of the law in looking at the value orientation of justice that concerns the view of human life. Because the code must always be returned to its original purpose to create justice, this study discusses Sidharta's conception of building and legal systems in examining the problem of law enforcement in Indonesia. The research method used in this paper is descriptive research, which aims to investigate law enforcement in Indonesia in terms of the study of the philosophy of law and law enforcement seen from the concept of Sidharta in creating justice law.
Penegakan hukum di Indonesia masih belum berjalan dengan baik dan begitu memprihatinkan. Permasalahan penegakan hukum (law enforcement) selalu bertendensi pada ketimpangan interaksi dinamis antara aspek hukum dalam harapan atau das sollen, dengan aspek penerapan hukum dalam kenyataan das sein. Lemahnya penegakan hukum di Indonesia saat ini dapat tercermin dari berbagai penyelesaian kasus besar yang belum tuntas, salah satunya adalah praktek korupsi yang menggurita, namun ironisnya para pelaku utamanya sangat sedikit yang terambah hukum. Kenyataan tersebut justru berbanding terbaik dengan beberapa kasus yang melibatkan rakyat kecil. Dilihat dari kajian filsafat, refleksi filsafat hukum dilakukan untuk dapat mengetahui kejanggalan-kejanggalan yang ada dalam penerapan hukum dalam menilik orientasi nilai keadilan yang menyangkut pandangan hidup manusia. Sebab hukum harus selalu dikembalikan kepada tujuan awalnya untuk menciptakan keadilan. Penelitian ini membahas konsepsi Sidharta tentang bangunan dan sistem hukum dalam mengkaji masalah penegakan hukum di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan ini adalah penelitian deskriptif, yang bertujuan untuk mengkaji penegakan hukum di Indonesia ditinjau dari kajian filsafat hukum dan penegakan hukum dilihat dari konsep Sidharta dalam menciptakan hukum yang berkeadilan
Manajemen Penilaian Pembelajaran Menggunakan K13
Teaching and learning process requires an assessment to determine the effectiveness of learning that has been done. Assessment in the learning process aims to determine various issues related to development and reciprocity, so that learning is expected to be oriented towards the development of quality assessment of learning in schools. Assessment results can be used by teachers to improve learning activities. In this case, the assessment should be viewed as an important thing that can give ideas for teachers for the implementation of further learning. General subjects at MI Muhammadiyah 5 Wonoasri use KTSP Curriculum. In line with the characteristics of competency-based curriculum oriented to the mastery of competence, the appraisal system implemented in the form of a competency-based valuation system. Thus the standard of educational assessment for the competency-based curriculum is the standard of the appraisal system oriented to the level of competency mastery targeted within the curriculum. In the Curriculum 2013 implemented on religious subjects, the assessment is an authentic assessment.Proses belajar mengajar sangat memerlukan suatu penilaian untuk mengetahui efektifitas pembelajaran yang telah dilakukan. Penilaian dalam proses pembelajaran bertujuan untuk menentukan berbagai isu yang berhubungan dengan pengembangan dan timbal balik, sehingga diharapkan pembelajaran berorientasi pada pengembangan penilaian kualitas pembelajaran di sekolah. Hasil penilaian dapat digunakan guru untuk meningkatkan kegiatan pembelajaran. Dalam hal ini, penilaian harus dipandang sebagai hal penting yang dapat memberi ide bagi guru untuk pelaksanaan pembelajaran selanjutnya. Mata pelajaran umum pada MI Muhammadiyah 5 Wonoasri menggunakan Kurikulum KTSP. Sejalan dengan karakteristik kurikulum berbasis kompetensi yang berorientasi pada penguasaan kompetensi, maka sistem penilaian yang diterapkan berupa sistem penilaian berbasis kompetensi. Dengan demikian standar penilaian pendidikan untuk kurikulum berbasis kompetensi adalah standar sistem penilaian yang berorientasi pada tingkat penguasaan kompetensi yang ditargetkan di dalam kurikulum. Pada Kurikulum 2013 yang dilaksanakan pada mata pelajaran agama, penilaian yang dilaksanakan adalah penilaian autentik
Inclusive Curriculum Education Modification Management (Case Study at Ponorogo National Immersion Primary School)
An inclusive school is a regular school that accommodates students with special needs, both those who have abnormalities or special talents that they all study in the same environment and place. One of the activities carried out is journal writing related to the implementation of learning in inclusive settings both done in regular class and Children's Stimulation Unit room. The Inclusive Culture program which was programmed at this institution was welcomed with positive support from parents, all elements of the school and the Education Office Government which are expected to have gradual changes in the inclusive school environment for the community and the District Education Office more aware of the importance of education for all.Sekolah inklusif merupakan sekolah regular yang mengakomodasi peserta didik dengan kebutuhan khusus, baik yang memiliki kelainan ataupun bakat istimewa yang mereka semua belajar dalam lingkungan dan tempat yang sama.Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah ada penulisan jurnal terkait pelaksanaan pembelajaran dalam setting inklusif baik yang dilakukan di kelas reguler dan ruang Unit Stimulasi Anak. Program Inclusive Culture yang memang diprogramkan di lembaga ini disambut dengan dukungan positif dari orang tua murid, seluruh elemen sekolah dan Pemerintah Dinas Pendidikan yang diharapkan nantinya ada perubahan yang bertahap dalam lingkungan sekolah inklusif bagi masyarakat dan Dinas Pendidikan Kabupaten lebih sadar akan pentingnya pendidikan untuk semua
Profil Pendidikan Karakter Mahasiswa Non Muslim dalam Implementasi Al-Islam dan Kemuhammadiyahan
This study aims to identify the profile of the implementation of Al-Islam and Kemuhammadiyahan education and to know the role of Al-Islam and Kemuhammadiyahan education in the formation of non-Muslim students character at Muhammadiyah University of Sorong. This research uses qualitative approach method with data collection technique through observation, interview, documentation and questionnaire (questionnaire). The result of the research shows that non-Muslim students already have religious attitude, honest (sidq), endeavor (jihad), good discipline, consistency (istiqomah) and tolerance (tassamuh) after getting Al-Islam and Kemuhammadiyahan learning integrated with Islamic values and understand kemuhammadiyahan. The role of learning in integrating Islamic values and kemuhammadiyahan associated with character education shows that non-Muslim students while doing the tasks and lectures are given seriously and do not complain much, the students always do the job seriously without cheating, the students always believe in yourself , and mutual respect between one student with another student.Penelitian ini bertujuan untuk mengindentifikasi Profil pelaksanaan pendidikan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan serta mengetahui peran pendidikan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan dalam pembentukan karakter mahasiswa non-muslim di Universitas Muhammadiyah Sorong. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan secara kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dokumentasi dan angket (kuesioner). Hasil penelitian yang didapatkan informasi bahwa mahasiswa non muslim sudah memiliki sikap religius, jujur (sidq), berusaha keras (jihad), kedisiplinan, konsistensi (istiqomah), dan toleransi (tassamuh) yang baik setelah mendapatkan pembelajaran Al-Islam dan Kemuhammadiyahan yang diintegrasikan dengan nilai-nilai Islam dan paham akan kemuhammadiyahan. Peran pembelajaran dalam pengintegrasian nilai-nilai Islam dan kemuhammadiyahan yang dikaitkan dengan pendidikan karakter tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa non muslim ketika mengerjakan tugas dan perkuliahan yang diberikan dengan serius dan tidak banyak mengeluh, mahasiswa selalu mengerjakan tugas dengan serius tanpa menyontek, mahasiswa selalu percaya dengan diri sendiri, dan saling menghargai antara mahasiswa satu dengan mahasiswa yang lain
Character Education Based on Gender Justice in The Islamic Perspective
Character educators are educated to form a person's personality through high education of character, which results in the back of someone's reality, namely good behavior, honesty, responsibility, respect for others, hard work, and so on. Gender differences are not really a problem as long as they do not give birth to discrimination. But in reality gender differences have given birth to various injustices, especially to women. Teachers who are held during this time are considered to be still many who are gender biased. These halghter can be found in the subject matter and in the treatment of female students in certain schools. From a material perspective, it can be seen in several book packages on student subjects, in which there is often a treatment that may not be accepted or has led to gender discrimination.Pendidik karakter dididik untuk membentuk kepribadian seseorang melalui pendidikan karakter yang tinggi, yang menghasilkan di belakang realitas seseorang, yaitu perilaku yang baik, kejujuran, tanggung jawab, rasa hormat terhadap orang lain, kerja keras, dan sebagainya. Perbedaan gender bukan masalah asalkan tidak melahirkan diskriminasi. Namun dalam kenyataannya, perbedaan gender telah melahirkan berbagai ketidakadilan, terutama bagi perempuan. Guru yang dipegang selama ini dianggap masih banyak yang bias gender. Halter ini dapat ditemukan dalam materi pelajaran dan perlakuan terhadap siswa perempuan di masing-masing sekolah. Dari perspektif fisik, dapat dilihat dalam beberapa paket buku tentang mata pelajaran siswa, di mana sering ada perlakuan yang mungkin tidak diterima atau mengarah pada diskriminasi gender
Perencanaan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam: Sebuah Ikhtiar Penanggulangan Narkoba dan HIV/AIDS bagi Pelajar
Once of the seriousness abuse drug and HIV/AIDS, the teacher has to refer learning achievement on academic competence is expected to plan the model of learning in drug and HIV/AIDS control. This paper analyzes 1. The concept of PAI learning to plan them; 2. Implementation of PAI learning; and 3. The implications of PAI learning as an effort to defer HIV/AIDS among students. Paper approach with qualitative, descriptive, documentation on credible, dependable, konfirmable, and transferable of phenomenology. It is known that: 1. The concept of learning-based planning improves the various intelligences: a) spiritual; b) emotional and social intelligence; c) intellectual intelligence, and d) kinesthetic intelligence reflected in religious and social values; 2. Implementation of learning model packed with data analyzing model, ethnographic questions, making an ethnographic record; 3. The implications of PAI learning include: Internal factors: self-motivation, heeding the advice of teachers, families milieu, and society and compliance based on the ethical value of learners in religious practice. External factors: supervision, teachers, famillies milieu, community, and synergism of educational institutions with related all programs. The formal indicator is the spiritual collaboration of Imam Suprayogo (holy book, mosque, and ulama), non-drug and HIV / AIDS.Begitu gawatnya penyalahangunaan narkoba dan penularan HIV/AIDS, maka guru selain mengacu produk pencapaian pembelajaran kompetensi akademik diharapkan dapat merencanakan model pembelajarannya dalam penganggulangan narkoda dan HIV/AIDS. Makalah ini menganalisis 1. Konsep perencanaan pembelajaran PAI; 2. Implementasi pembelajaran PAI; dan 3. Implikasi pembelajaran PAIsebagai ikhtiar penanggulanan HIV/AIDS di kalangan pelajar. Penulisan makalah dengan pendekatan deskriptif kualitatif fenomenologi, literasi dokumentatifkredibel, dependabel, konfirmabel, dan transferabel. Diketahui bahwa: 1. Konsep perencanaan pembelajaran berbasis peningkatan berbagai kecerdasan: a) cerdas spiritual; b) cerdas emosional dan sosial; c) cerdas intelektual, dan d) cerdas kinestetis tercermin dalam nilai-nilai agama dan sosial kemasyarakatan; 2. Implementasi model pembelajarannya dikemas dengan model analyzing data, ethnographic questions, making an ethnographic record; 3. Implikasi pembelajaran PAI meliputi: Faktor internal yaitu: motivasi diri, mengindahkan saran guru, milieu—keluarga, dan masyarakat serta kepatuhan berdasarkan nilai etis pemelajar dalam pengamalan agama. Faktor eksternal: pengawasan, guru, milieu--orang tua, masyarakat, dan sinergisme institusi pendidikan dengan lembaga-lembaga terkait. Indikator formal adalah kolaborasi spiritualis Imam Suprayogo (kitab suci, masjid, dan ulama), nir narkoba dan HIV/AIDS
Analysis of Arab Nahwu Textbooks In The Ta'lim Line of Al-Lughah Al-'Arabiyat li An-Natiqina Bighairiha
Arabic is an international language that can foster unity and affection among Muslims wherever they are. Therefore, this language is widely studied in various educational institutions owned by Muslims. Particularly in the present time, the harmonious relationship between the rising Muslim countries, accompanied by rapid technological developments, encourages Muslims to learn this language in earnest. This paper focuses his analysis on one of the books of the Genealogy of Ta'lim al-Lughah al-Arabiyah, the book of Nahwu. Broadly speaking the concept of writing a book of every book in the genealogy written with the same concept. The election on Nahwu's book is because according to the author's opinion, this book can represent al-mawad al-lughah al-arabiyah (other Arabic lessons) in the series of genealogy books. The analysis of this book covers two aspects: 1. General description of the book; a. The name of the book, b. Author of book, c. Elements of the book, and d. Topics. 2. The subject matter of the book; a. Text of the material and its topics, b. Language, vocabulary, term, c. Learning objectives, d. The topics of Nahwu's rule, e. Teaching methods, f. Teaching media, and g. Exercises.Bahasa Arab adalah bahasa internasional yang dapat menumbuhkan persatuan dan kasih sayang di antara Muslim dimanapun mereka berada. Karena itu, bahasa ini banyak dipelajari di berbagai lembaga pendidikan yang dimiliki oleh umat Islam. Khususnya di masa sekarang, hubungan harmonis antara negara-negara Muslim yang sedang berkembang, disertai dengan perkembangan teknologi yang pesat, mendorong umat Islam untuk belajar bahasa ini dengan sungguh-sungguh. Naskah ini memfokuskan analisisnya pada salah satu buku dari Silsilah Ta'lim al-Lughah al-Arabiyah, buku Nahwu. Secara garis besar konsep penulisan buku setiap buku dalam silsilah ditulis dengan konsep yang sama. Pemilihan pada buku Nahwu adalah karena menurut pendapat penulis, buku ini dapat mewakili al-mawad al-lughah al-arabiyah (pelajaran bahasa Arab lainnya) dalam seri buku silsilah. Analisis buku ini mencakup dua aspek: 1. Gambaran umum buku, b. Penulis buku, c. Elemen buku, dan d. Topik. 2. Subjek buku: teks materi dan topiknya, b. Bahasa, kosakata, istilah, c. Tujuan pembelajaran, d. Topik-topik aturan Nahwu, e. Metode pengajaran, f. Media pengajaran, dan g. Latihan
Islamic Education Leadership Morality
The importance of moral education leadership is to ensure the excellent implementation of education at all levels. The ethical implementation of educational leadership starts from oneself, the immediate environment and is done through habituation in the behavior of daily life, moral internalization in educational leadership is supported by knowledge, self-concept, and conscience because the moral direction of education is influenced by internal factors and external. Internal factors include reason, intrinsic motivation, and self-tendencies, and external factors are all factors that come from outside the individual. The implication is that important leaders set an example in good attitudes and behavior, especially for education leaders, that every individual involved in education needs to implement morals, so that an atmosphere that supports each other's moral leadership and makes education moral morale an essential part of the lead process, various factors which affects the moral direction of education needs to be considered, evaluated and corrected so that all become optimal.
Pentingnya moral kepemimpinan pendidikan adalah untuk menjamin baiknya pelaksanaan pendidikan di semua tingkat. Implementasi moral kepemimpinan pendidikan dimulai dari diri sendiri, lingkungan terdekat dan dilakukan melalui pembiasaan-pembiasaan dalam perilaku kehidupan sehari-hari, internalisasi moral dalam kepemimpinan pendidikan didukung oleh pengetahuan, konsep diri, dan hati nurani, karena moral kepemimpinan pendidikan dipengaruhi oleh faktor-faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi akal pikiran, motivasi instrinsik dan kecenderungan diri, serta faktor eksternalnya adalah segala faktor yang datang dari luar diri individu. Implikasinya, pemimpin penting memberi contoh dalam sikap dan perilaku yang baik terutama bagi pemimpin pendidikan, setiap individu yang terlibat dalam pendidikan perlu mengimplementasikan moral, sehingga tercipta suasana yang saling mendukung moral kepemimpinan pendidikan dan menjadikan moral kepemimpinan pendidikan sebagai bagian penting dalam proses memimpin, berbagai faktor yang mempengaruhi moral kepemimpinan pendidikan perlu diperhatikan, di evaluasi dan di perbaiki sehingga seluruhnya menjadi optimal