Jurnal-el Badan Bahasa (e-Jurnal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
Not a member yet
1538 research outputs found
Sort by
Pribumi di Mata Kolonial dalam Kumpulan Cerpen Teh dan Pengkhianat Karya Iksaka Banu
This research aims to discuss social and cultural aspects that are closely related to Indonesian history regarding events of colonialism in the collection of short stories entitled Teh dan Pengkhianat by applying new historicism. This is a descriptive qualitative research. The theory used to analyze the relevance of literary works as social documents is from new historicism, Stephen Greenblatt (1980). Besides, the theory used to investigate colonialist perspectives on indigenous peoples is form orientalism, Edward Said (1935). The results of this research are as follows. First, historical representations are marked by fear, restraint, compulsion, and counterforce of indigenous people in the colonial period before and after 1945. Second, social representation is marked by humanity, preparation, and persistence in dealing with the variola virus that occurred in 1644. Third, cultural representations are marked by the hard work of indigenous people for equal rights in clothing style until transportation. Data that demonstrates hard work is the existence (space, process, and object), identity (matching), and unity/multiplicity (merging) of indigenous peoples and colonialists
Peningkatan Kemampuan Pemahaman Kosakata Melalui Aplikasi Kuis Kosakata Daring bagi Pemelajar BIPA Level A2
Penelitian ini menginvestigasi efektivitas penggunaan aplikasi permainan kosakata daring untuk meningkatkan pemahaman kosakata dan makna dalam konteks pada pemelajar BIPA level A2. Penelitian ini didasarkan pada evaluasi performa pemelajar dalam memahami kosakata ketika berada pada level sebelumnya Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan metode deskriptif, dan menggunakan observasi dan wawancara dalam pengumpulan data. Aplikasi kuis daring yang dipakai adalah Quizizz dan Wordwall yang dipakai secara bergantian karena mempunyai fitur yang berbeda – beda. Ada lima set kuis yang dibuat dengan model latihan soal yang bervariasi. Hasil kuis dianalisis termasuk skor dan jenis eror yang dibuat oleh pemelajar. Selanjutnya untuk tahap terakhir, murid mendapatkan tes kosakata tertulis sebagai ujian akhir program. Semua hasil kuis dan tes diolah bersama dengan hasil observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukan bahwa dengan menggunaan aplikasi permainan kosakata daring murid lebih menguasai kosakata dan memakainya sesuai dengan konteks yang benar. Pemelajar juga mampu memahami kalimat secara reseptif dan mampu memproduksi tuturan yang bermakna baik secara lisan dan tertulis.
Mitos dan Banjir
Abstrak: Banjir besar melanda bumi Kalimantan Selatan pada awal Januari 2021. Pada saat yang sama, muncul mitos-mitos yang berhubungan dengan banjir besar ini. Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan mitos yang muncul pada saat banjir, menjelaskan hubungan antara banjir (lingkungan) dan mitos ini, dan mengungkap penyebab pengaruhnya kepada masyarakat. Ada beberapa tahapan dalam penelitian ini; Pertama, mendata mitos-mitos yang muncul pada saat banjir besar bulan Januari 2021; Kedua, menghubungkan dan mencari sumber mitos itu dari sastra lisan di Kalimantan Selatan. Ketiga, Mengungkapkan makna mitos tersebut. Keempat, menganalisis mitos-mitos dengan menggunakan teori ekokritik Garrard. Kelima, menghubungkan antara mitos dengan masyarakat serta pengaruh mitos itu dalam masyarakat. Ada dua mitos yang muncul pada saat banjir di Kalimantan Selatan, yaitu mitos naga dan mitos keladi. Mitos naga bersumber dari adanya cerita naga penunggu Sungai Barito dalam cerita Asal Mula Sungai Barito dan Sungai Amandit dalam cerita Legenda Lok Sinaga. Sementara itu, mitos keladi berkaitan dengan pamali yang dipercaya orang Banjar. Kedua mitos ini merefleksikan kebudayaan Banjar yang berkaitan dengan isu lingkungan. Mitos naga merupakan kritik sosial terhadap kondisi pegunungan Meratus yang sudah memprihatinkan akibat pertambangan dan perkebunan sawit, sedangkan mitos keladi merupakan kritik untuk bersikap adil terhadap hutan. Kedua mitos ini juga menunjukkan sikap urang Banjar yang tidak menyalahkan alam, lingkungan, dan cuaca, tetapi menyalahkan diri sendiri karena tidak mampu merawat alam.Kata kunci: mitos, naga, keladi, banjir, dan kerusakan lingkungan Abstract: A big flood hit South Kalimantan in early January 2021. At the same time, the myths related to this big flood came out. The research objectives are first, to describe the myths that came out during the flood, second, to explain the relationship between floods (environment) and these myths, the third, to reveal the causes of their effects on society. There are several stages in this research; First, to list the myths that emerged during the great flood in January 2021; Second, connecting and finding the source of the myth from oral literature in South Kalimantan. Third, revealing the meaning of the myth. Fourth, analyzing myths using Garrard's eco-critical theory. Fifth, connecting myths with society and the influence of these myths in society. Two myths emerged during the big flood in South Kalimantan, namely the dragon myth and the taro myth. The myth of the dragon comes from the story of the dragon guarding the Barito River in the origin story of the Barito River and the Amandit River in the Legend of Lok Sinaga. The taro myth relates to pamali believed by the Banjar people. These two myths reflect Banjar culture relates to environmental issues. The dragon myth is a social critique of the condition of the Meratus mountains, which is already alarming due to mining and oil palm plantations. Meanwhile, the taro myth is a criticism of being wise to the forest. These two myths also show the attitude of the Banjar people who do not blame nature, the environment, and the weather but blame themselves for ignorance of nature. Key word: myth, dragon, taro flood, and environmental damag
DERET VOKAL DAN DERET KONSONAN DALAM BAHASA TUNJUNG (TONYOOI)
AbstrakPenelitian ini menelaah struktur fonotaktik fonem di dalam deret vokal dan deret konsonan bahasa Tunjung (Tonyooi). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Berdasarkan data yang diperoleh pada struktur fonotaktik fonem di dalam deret vokal bahasa Tunjung (Tonyooi) ditemukan 20 jenis deret vokal, yaitu /a.u/, /a.o/, /a.e/, /a.i/, /i.a/, /i.u/, /i.i/, /i.e/, /i.o/, /u.o/, /u.e/, /u.a/, /u.i/, /e.o/, /e.a/, /e.u/, /o,u/, /o.i/, /o.a/, dan /o.e/. Deret vokal dalam bahasa Tunjung (Tonyooi) dapat ditemukan pada posisi awal, tengah, dan akhir sebuah kata. Adapun deret konsonan dalam bahasa Tunjung (Tonyooi) ditemukan pada posisi awal, tengah, dan akhir. Bunyi-bunyi konsonan yang berderet, yaitu /h.t/, /k.b/, /k.k/, /kng.g/, /l.d/, /l.g/, /m.b/, /m.k/, /m.p/, /n.c/, /n.d/, /n.j/, /n.s/, /n.t/, /ng.k/, /r.b/, /r.c/, /r.d/, /r.j/, /r.k/, /r.m/, /r.ng/, /r.p/, /r.s/, /r.t/, /r.w/, /s.b/, /s.k/, /s.l/, /s.p/, /t.r/. Kata kunci: deret vokal, deret konsonan, dan bahasa Tunjung (Tonyooi) AbstractThis study examines the phonotactic structure of phonemes in the vowel and consonant series of Tunjung (Tonyooi) language. The method used in this study is a qualitative descriptive method. Based on the data obtained on the phonotactic structure of the phonemes in the Tunjung (Tonyooi) language vowel series, 20 types of vowel series were found, namely/au/, /ao/, /ae/, /ai/, /ia/, /iu/, /ii/, /ie/, /io/, /uo/, /ue/, /ua/, /ui /, /eo/, /ea/, /eu/, /o,u/, /oi/, /oa/, and /oe/. Vowel series in Tunjung language (Tonyooi) can be found at the beginning, middle, and end of a word. The consonant series in the Tunjung language (Tonyooi) are found in the initial, middle, and final positions. Consonant sounds that line up, namely /ht/, /kb/, /kk/, /kng.g/, /ld/, /lg/, /mb/, /mk/, /mp/, /nc/, /nd/, /nj/, /ns/, /nt/, /ng.k/, /rb/, /rc/, /rd/, /rj/, /rk/, /rm/, /r.ng /, /rp/, /rs/, /rt/, /rw/, /sb/, /sk/, /sl/, /sp/, /tr/. Keywords: vowel series, consonant series, and Tunjung language (Tonyooi)
THE PRESS HISTORY REPRESENTATION BEFORE AND AFTER INDONESIA'S INDEPENDECE IN MENCARI SARANG ANGIN NOVEL
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi sejarah pers di masa sebelum kemerdekaan dan pascakemerdekaan Indonesia dalam novel Mencari Sarang Angin karya Suparto Brata. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan sejarah. Dalam penelitian ini dimanfaatan teori new historicism. Hasil penelitan ini adalah paparan analisis representasi sejarah pers di masa Hindia-Belanda, Jepang, masa kemerdekaan, dan sampai masa pemberotakan PKI. Representasi sejarah tersebut berkaitan dengan peran penting pers. Pers digambarkan mempunyai posisi strategis dalam kemerdekaan dan kesatuan Indonesia. Hal itu mencerminan bahwa representasi sejarah ini merupakan wujud perlawanan terhadap pemerintah Orde Baru yang sangat membatasi pers. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa dala novel Mencari Sarang Angin disusun sebuah sejarah baru yang memposisikan pers sebagai lembaga utama yang berjasa dalam kemerdekaan dan kesatuan Indonesia.Abstract: This study aims to analyze the the press history representation before and after Indonesia's independece in Mencari Sarang Angin novel by Suparto Brata. This study is a qualitative study with a historical approach. In this study, the theory of new historicism is utilized. The result of this study is an analysis of press history representation of Hindia Belanda, Japan, the Independence Period, until the PKI rebellion. This historical representation is related to the important role of the press. The press is depicted to have a strategic position in Indonesia's independence and unity. This reflects that historical representation is a form of resistance against Orde Baru government which severely restricted the press. Therefore, it can be concluded that in the novel Mencari Sarang Angin a new history was compiled that positioned the press as the main institution that contributed to Indonesia's independence and unity
REPRESENTASI BUDAYA DALAM NOVEL BOENGA ROOS DARI TJIKEMBANG
Novel bukan hanya menyajikan unsur seni, melainkan unsur budaya, sejarah, dan nilai estetik lainnya melalui bahasa. Akan tetapi, tidak semua pembaca menemukan nilai tersebut dan sekadar menikmati cerita yang dituliskan oleh penulisnya. Tujuan penulisan artikel ini untuk menemukan nilai budaya apa saja yang terdapat di dalam novel Boenga Roos dari Tjikembang karya Kwee Tek Hoay yang merupakan keturunan Tionghoa. Penelitian ini termasuk ke dalam jenis kualitatif deskriptif di mana peneliti memaparkan hasil penelitiannya menggunakan teks secara deskriptif. Kemudian, peneliti menggunakan pendekatan di dalam penelitian berupa analisis isi dengan memfokuskan pada novel dengan melakukan kajian objektif. Kajian objektif dipilih karena peneliti dapat menelaah secara mendalam nilai-nilai yang terdapat di dalam novel tersebut. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti, ditemukan unsur kebudayaan Sunda, Jawa, dan Tionghoa dalam novel Boenga Roos dari Tjikembang
Fenomena Disfemisme dalam Kartun Anak Pada Pertelevisian Indonesia
This paper examines the use of dysphemism in children's cartoon shows in Indonesian television which are categorized as dangerous and cautious according to KPAI and KPI. The issue of this paper is focused on discussing the types of dysfemism used. This research is a descriptive qualitative type. The data of this research are sentences containing dysphemism. The data source of this research is the children's cartoon show Spongebob Squarepants¸ Crayon Shinchan, and Little Krishna taken from television and Youtube shows. The method of providing data is done by referring to the record and record techniques. The method of data analysis is done by the method of distribution with techniques for direct elements, fade techniques, and dressing techniques. The results of data analysis are presented by informal methods. Based on the results of data analysis, it was concluded that the type of dysfemism in children's cartoon shows in Indonesian television is in the form of 1) a comparison between humans and animals that are conventionally considered to have certain behaviors, 2) term or nickname derived from taboo body organs, body effluvia (odor or secretion), and sexual behavior, 3) nickname or dysphemistic greetings taken from physical characters that are seen so that it is considered to be an abnormal person, 4) curses and nicknames that use the term from mental abnormalities or mental illness, 5) sexist, racist, speciesist, classist, ageist and otherIST dysfemism that function as insults, and 6) the term insult or disrespect that calls insult to the intended character.AbstrakDalam tulisan ini dikaji penggunaan disfemisme dalam tayangan kartun anak pada pertelevisian Indonesia yang dikategorikan berbahaya serta hati-hati menurut KPAI dan KPI. Permasalahan dalam tulisan ini difokuskan pada pembahasan jenis disfemisme yang digunakan. Penelitian ini berjenis deskriptif kualitatif. Data penelitian ini berupa kalimat yang mengandung disfemisme. Sumber data penelitian ini adalah tayangan kartun anak “Spongebob Squarepants”¸ “Crayon Shinchan”, dan “Little Krishna” yang diambil dari tayangan televisi dan YouTube. Metode penyediaan data yang digunakan adalah metode simak dengan teknik rekam dan teknik catat. Metode analisis data yang digunakan adalah metode agih dengan teknik bagi unsur langsung, teknik lesap, dan teknik ganti. Hasil analisis data disajikan dengan metode informal. Berdasarkan hasil analisis data, disimpulkan bahwa jenis disfemisme dalam tayangan kartun anak pada pertelevisian Indonesia berupa 1) perbandingan manusia dengan hewan yang secara konvensional dianggap memiliki perilaku tertentu, 2) istilah atau julukan yang berasal dari organ tubuh yang ditabukan, efluvia tubuh (bau atau sekresi), dan perilaku seksual, 3) julukan atau sapaan disfemistik yang diambil dari karakter fisik yang terlihat sehingga dianggap seolah menjadi orang yang abnormal, 4) kutukan dan julukan yang menggunakan istilah dari abnormalitas mental atau penyakit jiwa, 5) disfemisme sexist, racist, speciesist, classist, ageist, dan -IST lainnya yang berfungsi sebagai penghinaan, dan 6) istilah penghinaan atau tidak hormat yang menyerukan penghinaan pada karakter yang dituju
Tindak Tanggapan dalam Gelar Wicara Video “Coklat Kita Humor Sufi”
The purpose of this research is to describe the response action in Coklat Kita Humor Sufi entitled "The Wallet’s Health". The method used in this research is the descriptive qualitative method with content analysis. The data and data sources are in the form of words, phrases, or sentences found in the talk show video of Coklat Kita Humor Sufi. The data were collected by using the uninvolved conversation observation technique. The test of the validity of the data is using investigator triangulation. The analysis technique with three components, namely reduction, presentation, and data collection. The results of the data analysis found that the response strategies that occurred were (1) criticizing, (2) convincing, (3) sense of wonder, (4) agreeing, (5) clarifying, (6) blaming, (7) explaining, and (8) suggesting. The response strategy is dominated by direct explanation. AbstrakTujuan dari adanya penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan tindak tanggapan dalam program Coklat Kita Humor Sufi yang berjudul “Kesehatan Dompet”. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan analisis isi. Data dan sumber data berupa kata, frasa, atau kalimat yang ditemukan dalam program Coklat Kita Humor Sufi. Pengumpulan data menggunakan metode simak libat bebas cakap. Uji keabsahan data menggunakan triangulasi penyidik. Teknik analisis yang digunakan adalah tiga komponen, yaitu reduksi, penyajian, dan penarikan data. Analisis data menghasilkan strategi tindak tanggapan yang terjadi yang berupa (1) mengkritik, (2) meyakinkan, (3) rasa heran, (4) menyetujui, (5) mengklarifikasi, (6) menyalahkan, (7) menjelaskan, dan (8) menyarankan. Strategi tanggapan yang dilakukan didominasi dengan menjelaskan secara langsung
Menulis Teks Pidato Persuasif, Motivasi Belajar, dan Pendekatan Saintifik dengan Bantuan Media Powtoon
The purpose of this research is to determine the ability to write persuasive speech text and learning motivation of junior high school students whose learning uses a scientific approach assisted by powtoon media compared to those using a scientific approach, to determine whether there is a relationship between learning motivation and the ability to write persuasive speech text of junior high school students, and to Knowing student performance in implementing the scientific approach, solving knowledge questions, and completing practical assignments to write persuasive speech texts. The method used in this study is a quasi-experimental type nonequivalent control group design. The sample in this study were 50 junior high school students. Based on the research data, it was found that the experimental class was better at writing persuasive speech texts than the control class. In the association test data between the ability to write persuasive speech text and learning motivation, it turns out that in the experimental class the Sig value is 0.058> 0.05 and in the control class the sig value is 0.357> 0.05. These results mean that there is no association between the ability to write persuasive speech texts and learning motivation in either the experimental class or the control class. The performance of students when implementing the scientific approach assisted by the powtoon media was 86.66%. These results meant that the student's performance was very good. The student's performance in his ability to write persuasive speech texts in the experimental class was in the good category, while in the control class it was in the poor category. AbstrakTujuan dari penelitian yaitu untuk mengetahui kemampuan menulis teks pidato persuasif dan motivasi belajar siswa SMP yang pembelajarannya menggunakan pendekatan saintifik dengan bantuan media Powtoon dibandingkan dengan yang menggunakan pendekatan saintifik, untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara motivasi belajar dengan kemampuan menulis teks pidato persuasif siswa SMP, dan untuk mengetahui kinerja siswa dalam implementasi pendekatan saintifik, menyelesaikan soal-soal pengetahuan, dan menyelesaikan tugas praktik menulis teks pidato persuasif. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah quasi eksperimen dengan tipe nonequivalent control group design. Sampel pada penelitian ini yaitu siswa SMP yang berjumlah 50 orang. Berdasarkan data penelitian diperoleh hasil bahwa kelas eksperimen lebih baik dalam menulis teks pidato persuasif dibandingkan kelas kontrol. Pada data uji asosiasi antara kemampuan menulis teks pidato persuasif dengan motivasi berlajar ternyata pada kelas eksperimen diperoleh nilai Sig 0,058> 0,05 dan di kelas kontrol diperoleh nilai Sig 0,357 > 0,05. Hasil tersebut bermakna bahwa tidak ada asosiasi antara kemampuan menulis teks pidato persuasif dan motivasi belajar baik di kelas eksperimen ataupun kelas kontrol. Kinerja siswa pada saat mengimplementasikan pendekatan saintifik dengan bantuan media powtoon diperoleh hasil 86,66 % hasil tersebut bermakna bahwa kinerja siswa sangat baik. Adapun kinerja siswa dalam kemampuannya dalam menulis teks pidato persuasif di kelas eksperimen yaitu ada dalam kategori baik, sedangkan di kelas kontrol yaitu dalam kategori kurang