Jurnal-el Badan Bahasa (e-Jurnal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
Not a member yet
    1538 research outputs found

    Metafora dalam Meme Ucapan Selamat Pagi di Media Sosial

    Get PDF
    This study discusses the use of metaphors contained in good morning memes on social media. The problem studied is the types and purposes of writing memes in good morning greetings on social media. This research is a type of qualitative research whose data is sourced from social media, including WhatsApp and Facebook. Data were collected using the documentation method. The results of this study are the types of metaphors that are generally found in good morning greeting memes, among others; (1) anthropomorphic metaphors that use nature as a comparison with humans, including plants, mountains, seeds, light, and light; (2) animal metaphors that use animals as comparisons with humans, including birds, bees, and flies; (3) the metaphor of the structure of daily activities describes human traits that are far from gratitude, peace, and pride; (4) inanimate metaphor refers to a fixed form, for example, chest; (5) standard metaphor refers to a general form, for example, happiness cannot be separated from gratitude; and (6) creative metaphors are metaphors that are produced from the creativity of speakers, for example comparing God or God's hand with a painter. The purpose of using metaphors in good morning memes is to advise, encourage, invite gratitude, pray, and thank God. AbstrakPenelitian ini membahas tentang penggunaan metafora yang terdapat dalam meme ucapan selamat pagi di media sosial. Permasalahan yang dikaji adalah jenis-jenis dan tujuan ditulisnya meme dalam ucapan selamat pagi di media sosial. Penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif yang datanya bersumber dari media sosial, di antaranya adalah WhatsApp dan Facebook. Data dikumpulkan dengan menggunakan metode dokumentasi. Hasil dari penelitian ini adalah jenis-jenis metafora yang umumnya terdapat dalam meme ucapan selamat pagi antara lain;  (1) metafora antropomorfisme yang menggunakan alam sebagai pembanding dengan manusia, di antaranya dengan tanaman, gunung, benih, cahaya, dan terang; (2) metafora binatang yang menggunakan binatang sebagai pembanding dengan manusia, di antaranya burung, lebah, dan lalat; (3) metafora struktur kegiatan sehari-hari menggambarkan sifat-sifat manusia yang jauh dari rasa syukur, rasa damai, dan kesombongan; (4) metafora mati mengacu pada bentuk yang bersifat tetap, misalnya lapang dada; (5) metafora standar mengacu pada bentuk yang bersifat umum, misalnya kebahagiaan tidak terlepas dari rasa syukur; dan (6) metafora kreatif merupakan metafora yang dihasilkan dari kreativitas penutur, misalnya membandingkan Tuhan atau tangan Tuhan dengan seorang pelukis. Tujuan penggunaan metafora dalam meme ucapan selamat pagi antara lain adalah menasihati, menyemangati, mengajak bersyukur, mendoakan, dan berterima kasih kepada Tuhan

    Balinese Language on the Street Signs in Singaraja Town, Bali: A Linguistic Landscape Analysis

    Get PDF
    The existence of local languages in Indonesia, including Balinese language is often related to marginalization issue. Some previous research revealed that Balinese language is rarely used in public spaces. The local government implements Governor Regulation Number 80 of 2018 to officially protect the language, including its existence in public spaces. This research explores the existence of Balinese language and script on the lingual street signs in Singaraja, North Bali. Further, the distribution of the lingual street signs is also investigated to reveal the government's primary and secondary target areas in language protection. The subjects of the study are 151 street signs that are placed by the department of transportation of Buleleng regency. The data are obtained through photograph taking and observation. The research reveals that the presence of Indonesian language marginalizes Balinese language. The regulation only successfully improves the use of Balinese script instead of the use of Balinese language. In terms of the sign distribution, the government focuses on signs with Balinese script at the center of the town due to the intense language contact in the area.  AbstrakKeberadaan bahasa daerah di Indonesia, termasuk bahasa Bali sering dihubungkan dengan isu marginalisasi. Beberapa penelitian sebelumnya mengungkapkan bahwa bahasa Bali jarang digunakan di ruang publik. Pemerintah daerah Bali telah menerapkan Peraturan Gubernur Nomor 80 Tahun 2018 untuk secara resmi melindungi bahasa dan aksara Bali, termasuk keberadaannya di ruang publik. Sehubungan dengan itu, penelitian ini menggali keberadaan bahasa dan aksara Bali pada rambu-rambu jalan lingual di Singaraja, Bali Utara. Selanjutnya, sebaran rambu-rambu jalan lingual juga diselidiki untuk mengungkap wilayah sasaran primer dan sekunder pemerintah dalam perlindungan bahasa Bali. Subyek penelitian adalah 151 rambu jalan yang dipasang oleh Dinas Perhubungan Kabupaten Buleleng. Data diperoleh melalui pengambilan foto dan observasi. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa bahasa Bali terpinggirkan dengan kehadiran bahasa Indonesia. Peraturan gubernur tersebut hanya berhasil meningkatkan penggunaan aksara Bali ketimbang penggunaan bahasa Bali. Dalam hal distribusi tanda, pemerintah memfokuskan penggunaan tanda dengan aksara Bali di pusat kota karena kontak bahasa yang intens terjadi di daerah tersebut

    Ragam Tindak Ilokusi Guru Bahasa Indonesia dalam Pembelajaran Daring

    Get PDF
    Tindak tutur ilokusi yang ada dalam pembelajaran daring sangat dimungkinkan beragam dan mempunyai peranan yang sangat penting. Peran penting tersebut ialah sebagai sarana dalam bertutur agar maksud tuturan dapat tersampaikan dengan jelas dan mudah dimengerti. Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan dan mendeskripsikan ragam tidak tutur ilokusi yang ada dalam  proses pembelajaran daring. Sumber data penelitian ini ialah video pembelajaran  daring guru Bahasa Indonesia di SMAN Arjasa dengan menggunakan aplikasi Zoom. Kajian ini menjadikan tuturan guru Bahasa Indonesia yang diindikasikan mengandung tindak ilokusi di dalamnya sebagai data. Penelitian ini  dirancang sebagai penelitian kualitatif dengan menerapkan metode deskriptif interpretatif. Pendekatan yang diterapkan dalam rangka analis data ialah pendekatan pragmatik. Proses pengumpulan dilakukan dengan melakukan perekaman pada saat guru melakukan  pembelajaran daring melalui aplikasi Zoom. Kemudian, rekaman tersebut disimak dan dicatat guna mendapatkan data yang sesuai dengan rumusan masalah. Hasil penelitian dan pembahasan menunjukkan bahwa guru menggunakan tindak tutur ilokusi pada tiap-tiap bagian dalam proses pembelajaran, yaitu pada bagian pembukaan dan apersepsi, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Pada tiap bagian tersebut, muncul berbagai tindak ilokusi baik tindak ilokusi asertif, direktif, komisif, ekspresif, maupun deklaratif. Ragam tindak tutur yang ditemukan tersebut diharapkan mampu menjadi bahan pengayaan bagi guru semua mata pelajaran pada umumnya dan lebih khusus mata pelajaran Bahasa Indonesia. 

    PERSEPSI URGENSI INKLUSI ASPEK-ASPEK MULTIMODALITAS DALAM DESAIN MODEL PEMBELAJARAN PRAGMATIK EDUKASIONAL

    Get PDF
     Abstrak Tujuan penelitian adalah mendeskripsikan persepsi urgensi inklusi komponen-komponen multimodalitas dengan berbagai aspeknya ke dalam desin model pembelajaran pragmatik edukasional. Data penelitian kuantitatif berwujud angka-angka yang ditunjukkan dalam persentase atas respons pernyataan-pernyataan yang diberikan. Data jenis ini diperoleh dengan cara mendistribukan instrumen kuesioner melalui ‘google form’ kepada responden yang pernah mendapatkan perkuliahan pragmatik edukasional. Data kualitatif penelitian ini berupa aspek-aspek komponen konteks yang membentuk multimodalitas dan mencakup aspek linguistik, visual, spasial, gestural, dan aural. Metode pengumpulan data jenis kedua adalah metode simak dengan teknik baca dan catat khususnya untuk mendapatkan data kualitatif penelitian ini. Selanjutnya, data yang telah terkumpul diklasifikasi dan ditipifikasi serta dianalisis untuk mendapatkan angka-angka persentase persepsi urgensi inklusi dimensi-dimensi multimodalitas dalam desain model pembelajaran pragmatik edukasional. Metode analisis isi diterapkan untuk memberikan pemaknaan pada temuan-temuan angka kuantitatif berupa persentase persepsi urgensi tersebut. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa persepsi inklusi aspek-aspek multimodalitas meliputi aspek linguistik, visual, gestural, spasial, dan aural memiliki angka persentase yang sangat tinggi. Setiap aspek dipersepsi responden dengan angka persentasi setuju dan sangat setuju yang mendekati 100%. Dengan demikian dapat ditegaskan bahwa inklusi dimensi-dimensi multimodalitas dengan segala aspeknya urgen untuk dilakukan dalam pembelajaran pragmatik edukasional. Kata-kata kunci: Persepsi urgensi, dimensi-dimensi multimodalitas, pragmatik edukasional            AbstractThe purpose of this research is to describe the perception of the urgency of including multimodality components with various aspects into the design of educational pragmatic learning models. Quantitative research data are in the form of numbers that are shown in percentages of the responses to the statements given. This type of data was obtained by distributing a questionnaire instrument through the 'google form' to respondents who had received educational pragmatics lectures. The qualitative data of this study is in the form of aspects of the cybertext context components that form multimodalities which include linguistic, visual, spatial, gestural, and aural aspects. The second type of data collection method is the reading method with between the line reading and note-taking techniques, especially to obtain qualitative data for this study. Furthermore, the data that has been collected is classified and typified and analyzed to get the percentage figures for the perception of the urgency of inclusion in the multimodality dimensions of educational pragmatic learning model design. The content analysis method is applied to give meaning to the findings of the quantitative figures in the form of the percentage of the perception of urgency. The results of this study indicate that the perception of inclusion of multimodality aspects including linguistic, visual, gestural, spatial, and aural aspects has a very high percentage. Each aspect is perceived by respondents with a percentage agree and strongly agree close to 100%. Thus, it can be emphasized that the inclusion of multimodality dimensions with all its aspects is urgent to do in designing educational pragmatics learning.. Keywords: Perception of urgency, multimodality dimensions, educational pragmatic

    KONSEP GENDER MASYARAKAT BENUAQ DALAM CERITA RAKYAT: SEBUAH TINJAUAN FUNGSIONALISME STRUKTURAL

    Get PDF
    Tulisan ini menggambarkan konsep gender masyarakat Benuaq dalam cerita rakyatnya, yaitu “Bullu”, “Putri Inuinang jadi Ratu”, “Ayus dan Siluq Berpisah Selama-lamanya”, dan “Belietn Siluq. Masalah yang difokuskan dalam tulisan ini adalah bagaimana konsep gender masyarakat Dayak Benuaq dalam cerita rakyatnya? Tulisan ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik analisis konten untuk mengupas konsep gender dalam cerita rakyat. Teori sosial yang beraliran feminism, yaitu fungsionalisme struktural digunakan dalam tulisan ini untuk menggambarkan konsep gender masyarakat Benuaq. Hasil tulisan menunjukkan bahwa konsep gender yang dianut masyarakat Benuaq meliputi peran sosial yang egaliter atau sama antar laki-laki dan peremapuan dan peran kultural yang menempatkan laki-laki dan perempuan sesuai dengan peran dan fungsi masing-masing. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pembagian peran sosial antara laki-laki dan perempuan masyarakat Benuaq tidak ditentukan secara pasti. Secara kultural, laki-laki dan perempuan Benuaq sama-sama mendapat kedudukan yang penting dalam masyarakatnya.Kata kunci: gender, fungsionalis, struktural, Benua

    IDENTITAS MANUSIA DI RUANG KOTA DALAM DUA CERPEN KALIMANTAN TIMUR TAHUN 1980-AN

    Get PDF
    AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui identitas manusia yang terdapat di ruang kota dalam dua cerpen Kalimantan Timur tahun 1980-an. Kedua cepen tersebut berjudul Selamat Tinggal Kegelapan” karya Herman S (26 Oktober 1988), dan “Ketika Malam Semakin Menanjak” karya Ch Iskandar (4 Januari 1989). Dengan teori sosiologi sastra, penelitian ini menganalisis berbagai bentuk identitas tokoh yang terjadi dalam relasi tokoh dengan lingkungannya. Analisis menunjukkan bahwa identitas yang terjadi pada kedua cerpen tersebut berupa tokoh yang melakukan pertahanan eksistensi dan keterasingan identitas di ruang kota. Di ruang kota tokoh melakukan pertahanan eksistensi dengan mengambil identitas yang berkaitan dengan kriminal. Perubahan identitas ke arah positif terjadi ketika tokoh menyadari bahwa pekerjaannya  merugikan orang lain.  Analisis juga menunjukkan tokoh yang mengalami keterasingan identitas karena kehilangan semua identitas terdahulu.  Hal tersebut mengakibatkan kelas sosial tokoh menjadi rendah. Dua cerpen tersebut menunjukkan posisi manusia di ruang kota yang diketahui melalui bentuk identias manusia tersebut. Kata kunci: identitas, eksistensi, keterasingan AbstractThis study aims to determine human identity in urban spaces in two East Kalimantan short stories in the 1980s. The short stories are Herman S’ “Selamat Datang Kegelapan”  October 26th, 1988) and Ch Iskandar's “Ketika Malam Semakin Menanjak” (January 4th, 1989). This study analyzes numerous forms of characters’ identity in the character's elationship with his environment using sociological literary theory.The analysis reveals that in those two short stories the identity is in the form of a character who defends the existence and alienation of identity in urban space. In the city space, the character performs the defense of his existency by having identities related to criminals. A positive change of identity occurs when people realize that what they do is disadvantageous to others. The analysis also shows characters who experience identity alienation because of their lost previous identities. This brings about the social class of the character to be low. Those short stories show human position in urban spaces through these forms of human identity. Keywords: identity, existence, alienatio

    Local Wisdom and Didactic Values in Lullaby Kawih Mepende Murangkalih

    Get PDF
    This research is entitled "Local Wisdom and Didactic Values in Lullaby Kawih Mepende Murangkalih Song". This study aims to examine the lullaby oral tradition in Bandung Regency. In this study, the author tries to record the lullaby that develops in the community. The area that is used as a source of lullabies is the Bandung Regency area. This research method uses descriptive qualitative. The focus is on a comprehensive picture of people's knowledge, skills, and attitudes towards lullabies in the Bandung Regency. The role of the lullaby is essential because it is part of the formation of the nation's character. Through local wisdom and didactic values in the lullaby, the message is expected to form toddlers, young people who have noble character when they grow up. AbstrakPenelitian ini berjudul “Kearifan Lokal dan Nilai-Nilai Didaktik dalam Lagu Lullaby Kawih Mepende Murangkalih”. Penelitian ini bertujuan mengkaji tradisi lisan lullaby di Kabupaten Bandung. Dalam penelitian ini, penulis mencoba merekam lullaby yang berkembang di masyarakat. Daerah yang dijadikan sumber lullaby adalah Wilayah Kabupaten Bandung. Metode penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif. Fokusnya adalah pada gambaran yang komprehensif tentang pengetahuan, keterampilan, dan sikap masyarakat terhadap lagu pengantar tidur di Kabupaten Bandung. Peran lullaby sangat diperlukan karena bagian dari pembentukan karakter bangsa. Melalui kearifan lokal dan nilai-nilai didaktis dalam lullaby, pesan tersebut diharapkan dapat membentuk balita, generasi muda yang berakhlak mulia ketika dewasa nanti

    COVER DEPAN Jentera: Jurnal Kajian Sastra Volume 11, Nomor 2, Desember 2022

    No full text

    Kejahatan Bahasa di Wilayah Hukum Papua Barat: Kajian Linguistik Forensik

    Get PDF
    The problem of language crime has recently become a serious problem that is being faced by linguists and law enforcement officials. This language crime problem includes: interdisciplinary aspects between the worlds of language, law, and crime. The current facts prove that in analyzing the Investigation Report (BAP) regarding the investigation of a legal case in the legal territory of West Papua, it was found that the results of the investigation and investigation required a linguist. For this reason, this study aims to describe the branch of forensic linguistics that is present to bridge language facts and legal facts as one of the supporting aspects in providing proof of a case in court. This study uses two approaches, namely (1) a theoretical approach and (2) a methodological approach. The theoretical approach is an exploration of Forensic Linguistic theory, while the methodological approach is a descriptive approach with an explanatory dimension. This study uses forensic linguistic theory as the main umbrella in exploring language facts that contain elements/meanings of language crimes. This study is explored from the perspective of forensic linguistics by referring to the phenomenon of the results of investigations and case investigations in the jurisdiction of West Papua. The objects in this study consist of three cases, namely (1) Defamation, (2) Humiliation, and (3) Fraud. The results of the analysis illustrate that forensic linguistics becomes a strong tool of evidence in decisions that have legal implications by considering linguistic features and their suitability with legal facts in disentangling types of crimes in the text and context as well as interactions between two or more parties in language crimes. AbstrakMasalah kejahatan bahasa akhir-akhir ini menjadi masalah serius yang sedang dihadapi oleh ahli bahasa dan aparat penegak hukum. Masalah kejahatan bahasa ini mencakup: aspek interdisipliner antara dunia bahasa, hukum, dan kejahatan. Fakta saat ini membuktikan bahwa dalam menganalisis Berita Acara Pemeriksaan (BAP) tentang investigasi atas sebuah kasus hukum di wilayah hukum Papua Barat, dijumpai bahwa hasil penyidikan maupun penyelidikan memerlukan ahli bahasa. Untuk itu, kajian ini bertujuan mendeskripsikan cabang linguistik forensik yang hadir menjembatani fakta bahasa dan fakta hukum sebagai salah satu aspek pendukung dalam memberikan pembuktian sebuah perkara di pengadilan. Kajian ini menggunakan dua pendekatan, yakni (1) pendekatan teoretis dan (2) pendekatan metodologis. Pendekatan teoretis adalah eksplorasi teori Linguistik Forensik, sedangkan pendekatan metodologi adalah pendekatan deskriptif dengan dimensi eksplanatif. Kajian ini menggunakan teori linguistik forensik sebagai payung utama dalam mengeksplorasi fakta-fakta bahasa yang mengandung unsur/makna kejahatan bahasa. Kajian ini dieksplorasi melalui perspektif linguistik forensik dengan mengacu pada fenomena hasil penyidikan dan penyelidikan kasus di wilayah hukum Papua Barat. Objek dalam kajian ini terdiri atas tiga kasus, yakni (1) Pencemaran Nama Baik, (2) Penghinaan, dan (3) Penipuan. Hasil analisis menggambarkan bahwa linguistik forensik menjadi alat bukti kuat dalam keputusan-keputusan yang berdampak hukum dengan pertimbangan fitur linguistik dan kesesuaiannya dengan fakta hukum dalam mengurai jenis kejahatan pada teks dan konteks serta interaksi antara dua pihak atau lebih dalam tindak kejahatan bahasa

    MITOS ROKAT AENG MANES MASYARAKAT MARITIM SITUBONDO: ANALISIS SKEMA AKTANSIAL DAN STRUKTUR FUNGSIONAL (Myths of Rokat Aeng Manes Situbondo Maritime Community: Analysis of Actional Schemes and Functional Structures)

    Get PDF
    This research is focused on the folklore of the maritime community in Situbondo, especially the myth of the Rokat aeng manes in Agel Village. Agel's Aeng Manis skirt is an original Situbondo tradition which has its own peculiarities. This traditional ceremony has been going on for generations in the Agel community. The Aeng Manis Rokat Ceremony in Agel Village is a village clean-up ceremony carried out by the Agel community. This ceremony is held to celebrate the harvest and pray for it to be kept away from various logs, diseases, and disasters. This research discusses the myth of the Rokat Aeng Manis ritual in Agel Asembagus, Situbondo village from the perspective of oral tradition with the theory of the Greimas schema and functional structure and the analysis of interpretation in the context of oral history. The method used was ethnography, which emphasizes the active participation of researchers or is directly involved in the community being studied to obtain field notes that can answer research problems. The results describe the phenomenon of violence against women, namely Princess Mayangsari due to the attack of the King of Bali on the Madura Kingdom which is divided into three stages. This condition was resolved with the emergence of the White Tiger (Helper) who was motivated to restore the dignity and glory of the Madura Kingdom.Penelitian ini difokuskan pada folklor masyarakat maritim di Situbondo, khususnya mitos rokat aeng manes di Desa Agel. Rokat Aeng Manis Agel adalah tradisi asli Situbondo yang mempunyai kekhasan tersendiri. Upacara adat ini telah berlangsung turun temurun di masyarakat Agel. Upacara Rokat Aeng Manis di desa Agel merupakan sebuah upacara bersih desa yang dilaksanakan oleh masyarakat Agel. Upacara ini dilaksanakan untuk mensyukuri hasil  panen dan mendoakan agar dijauhkan dari berbagai bala, penyakit, dan bencana. Penelitian ini mendiskusikan mitos ritual Rokat Aeng Manis di Desa Agel Asembagus Situbondo dari perspektif tradisi lisan dengan teori skema aktan dan struktur fungsional Greimas dan analisis tafsir dalam konteks sejarah lisan. Metode yang digunakan adalah etnografi yang mengedepankan partisipasi aktif peneliti atau terlibat langsung ke masyarakat yang diteliti untuk mendapatkan catatan lapangan yang dapat menjawab permasalahan penelitian. Hasil penelitian mendeskripsikan fenomena kekerasan terhadap perempuan yakni Putri Mayangsari akibat adanya penyerangan Raja Bali pada Kerajaan Madura yang terbagi menjadi tiga babak. Kondisi tersebut terselesaikan dengan munculnya Macan Putih (helper) yang termotivasi untuk mengembalikan martabat dan kejayaan Kerajaan Madura.

    1,167

    full texts

    1,538

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal-el Badan Bahasa (e-Jurnal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇