Jurnal-el Badan Bahasa (e-Jurnal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
Not a member yet
1538 research outputs found
Sort by
KOMPARASI KEARIFAN LOKAL SUNDA DAN JEPANG: PEMBENTUK KARAKTER ANAK
In the current era of globalization, cultures blend and dominate each other, making children confuse about their identity. Indonesia, as a multiracial and multicultural nation, is very rich in local wisdoms, and this wealth can be applied to build the character of children and fortify themselves from the negative influence of global or foreign cultures. Japan is a nation that lives based on culture and use local wisdoms as a foundation of life and learning materials that are directly implemented in everyday life. The same thing can be seen in the Sundanese society. Today many children do not recognize their own local wisdoms. This, according to the researchers, is due to the vacuum of local wisdom values in the curriculum and learning process. Therefore, various researchs on local wisdoms learning need to be done, include the learning program through oral tradition such as pupuh and folktale, and also traditional game. The method used in this research is descriptive qualitative method. The data used is the local wisdoms learning in Sundanese culture, which is the learning schedule related to local wisdoms that is limited to character building, and data related to local wisdoms in education in Japan, which is the schedule of "moral" learning activity. Data are analyzed based on Ratna's view (2015). Based on the results of the research, it is identified that the understanding of the values of local wisdoms can create a nation of character. The results of this study are theoretically useful to add references, especially on local wisdoms learning, and can be practically used as a learning model. ABSTRAKDi era globalisasi seperti sekarang ini, budaya membaur dan saling mendominasi sehingga membuat anak bingung akan jati dirinya. Indonesia, sebagai negara majemuk yang multiras dan multikultural, sangat kaya dengan kearifan-kearifan lokal, dan kekayaan ini bisa diaplikasikan untuk membentuk karakter anak dan membentengi diri mereka dari pengaruh negatif budaya global atau asing. Jepang merupakan bangsa yang hidup dengan berbasis budaya dan menjadikan kearifan lokal sebagai landasan hidup serta materi pembelajaran yang langsung diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Hal serupa juga terlihat dalam masyarakat Sunda. Saat ini banyak anak-anak yang tidak mengenali kearifan lokalnya. Hal ini, menurut peneliti, disebabkan adanya kekosongan nilai-nilai kearifan lokal dalam kurikulum dan pembelajaran. Untuk itu, berbagai penelitian tentang pembelajaran kearifan lokal perlu dilakukan, termasuk pembelajaran melalui tradisi sastra lisan seperti pupuh dan dongeng, serta permainan tradisional. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Data yang digunakan adalah pembelajaran kearifan lokal dalam budaya Sunda, yaitu jadwal pembelajaran terkait kearifan lokal yang dibatasi pada pembentukan karakter, dan data terkait kearifan lokal dalam pendidikan di Jepang, yaitu berupa jadwal kegiatan pembelajaran “moral”. Data dianalisis berdasarkan pandangan Ratna (2015). Berdasarkan hasil penelitian teridentifikasi bahwa pemahaman terhadap nilai-nilai kearifan lokal dapat menciptakan bangsa yang berkarakter. Hasil penelitian ini secara teoretis bermanfaat untuk menambah referensi, khususnya tentang pembelajaran kearifan lokal, dan secara praktis dapat dijadikan model pembelajaran.
HIERARKI SASTRA POPULER DALAM ARENA SASTRA INDONESIA KONTEMPORER
Artikel berjudul Hierarki Sastra Populer dalam Arena Sastra Indonesia Kontemporer ini merupakan ikhtiar untuk mendeskripsikan, memahami, dan mengeksplisitkan kondisi kealaman sastra Indonesia kekinian yang menjadi latar kemunculan karya sastra yang diberi label ‘populer’. Karya sastra ‘populer’ sesungguhnya selalu muncul di setiap periode dengan problematikayang kurang lebih mirip: apakah populer itu, siapa yang menyebutnya ‘populer’, apa implikasi dari pelabelan ‘populer’, dan bagaimana modus kemunculan serta keberadaannya. Dengan pemahaman bahwa tidak ada satu pun praktik labelisasi yang tidak mengandung implikasi estetis dan sosiologis, artikel ini disusun dengan pendekatan Strukturalisme Genetik yang digagas Pierre Bourdieu. Pendekatan tersebut, yang lantas melahirkan teori Arena Produksi Kultural, berguna untuk mengidentifikasi kontestasi simbolik yang terjadi diantara agen-agen sastra yang bertarung untuk mendapatkan posisi tertentu dalam arena sastra Indonesia kontemporer
CERITA BERSAMBUNG “SRIPANGGUNG KETHOPRAK”: SEBUAH PENEGUHAN TERHADAP KEBANGSAAN PADA ZAMAN HINDIA BELANDA
The research is aimed at exploring the role of Javanese Ngoko style as media to convey nationalism idea in Sripanggung Kethoprak serial story. Sripanggung Kethoprak serial story is Javanese literary piece that succeeded in setting free the use of Javanese Krama style in its narration story. The use of Javanese Ngoko style was one of reactions toward Krama Javanese style (in story narration) which was published by Balai Pustaka. The use of Javanese Ngoko style (in story narration) in Sripanggung Kethoprak serial story was manifestation of nationalism spirit in favor of democratic condition. Literary sociology (Ronald Tanaka macro literary system) was employed in the research. And, descriptive method was used to describe or to give systematical, factual, and accurate picture of facts, features, and inter – phenomenon relations that were investigated (Sripanggung Kethoprak serial story).AbstrakPenggunaan ragam bahasa Jawa ngoko dalam narasi cerita merupakan salah satu reaksi atas otoritas bahasa Jawa ragam krama (dalam narasi cerita) yang diproduksi oleh penerbit Balai Pustaka. Pemakaian bahasa Jawa ragam ngoko (dalam narasi cerita) pada cerita bersambung Sripanggung Kethoprak adalah manifestasi dari semangat kebangsaan untuk menuju pada suatu keadaan yang demokratis.Adapun teori yang dipergunakan di dalam penelitian ini adalah sosiologi sastra (sistem makrosastra Ronald Tanaka). Penelitian ini bertujuan mengungkapkan peran bahasa Jawa ragam ngoko sebagai media penyampai gagasan kebangsaan di dalam cerita bersambung Sripanggung Kethoprak. Cerita bersambung Sripanggung Kethoprak merupakan karya sastra Jawa yang berhasil membebaskan pemakaian bahasa Jawa ragam krama dalam narasi ceritanya. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif untuk membuat deskripsi atau gambaran secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat, dan hubungan-hubungan antarfenomena yang diteliti (cerita bersambung Sripanggung Kethoprak)
KAJIAN SEMANTIK ETNOGRAFI PADA CERITA RAKYAT JEPANG WARASHIBECHŌJA
This study discuss the word and the sentences containing meaning ethnography in Japanese Folklore of Warashibechōja. This study uses the theory of semantic ethnography focusing to the meanings illustrating the local culture system. Through the text story of Warashibechōja data is collected anda analysed using methodes of descriptive qualitative with techniques note. The result of this study is found the word including sonkeigo constituting oral expression which is based on consideration respect towards the interloculator. In addition to, found the culture vacabularies describing Japanese traditional culture, those are wara, miso, furoshiki, uma, and muko. The illustrated Ideology is someone shall try to do from the small thing seriously to get the best result and found also the intention to diffuse religion of Buddhist in Japan.AbstrakPenelitian ini membahas kata serta kalimat yang mengandung makna etnografi pada cerita rakyat Jepang Warashibechōja. Penelitian ini menggunakan teori semantik etnografi yang memfokuskan pada makna-makna yang menggambarkan sistem kebudayaan setempat. Melalui teks cerita Warashibechōja data dikumpulkan dan dianalisis menggunakan metode metode deskriptif kualitatif dengan teknik catat. Hasil dari penelitian ini adalah ditemukannya kata yang termasuk sonkeigo yang merupakan ungkapan tingkat tutur yang didasarkan pada pertimbangan rasa hormat terhadap lawan bicara. Selain itu, ditemukan pula kosakata budaya yang menggambarkan kebudayaan tradisional Jepang, yaitu wara, miso, furoshiki, uma, dan muko. Ideologi yang tergambar adalah seseorang harus berusaha dari hal kecil secara sungguh-sungguh untuk mendapatkan hasil yang terbaik dan terdapat pula maksud untuk menyebarkan agama Buddha di Jepang
MENATA DIRI DAN MENEGAKKAN PANCASILA: KAJIAN TERHADAP GEGURITAN DALAM MAJALAH-MAJALAH BERBAHASA JAWA DI YOGYAKARTA PASCA KEMERDEKAAN SAMPAI DENGAN TAHUN 1966
Recognizing Pancasila within Indonesian national and governmental life dynamic activities story could be comprehended through some guritan expression as written and published during postindependence to 1966 era in Javanese magazines, Praba, Kembang Brayan, and Medan Bahasa Basa Djawi. Review to those guritans was conducted using sociology theory by Janet Wolff by presenting social cultural phenomena in postindependence to 1966 era and interpreting content of guritans as written and published at that era. The result shows that the content of the guritans is ideology to as citizens to self reconcile and stand up Pancasila as dasic ideology of Negara Kesatuan Republik Indonesia ABSTRAKMengenal kembali Pancasila dalam dinamika perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia dapat dipahami melalui ekspresi beberapa guritan yang ditulis dan diterbitkan masa pascakemerdekaan dengan tahun 1966 di majalah berbahasa Jawa, Praba, Kembang Brayan, dan Medan Bahasa Basa Djawi. Kajian terhadap guritan-guritan tersebut dilakukan dengan teori sosiologi sastra Janet Wolff, yaitu dengan melihat fenomena sosial budaya yang terjadi pada masa pascakemerdekaan sampai dengan tahun 1966 dan menafsirkan isi guritan-guritan yang ditulis dan diterbitkan pada masa itu. Hasil pembacaan terhadap guritan-guritan tersebut menunjukkan sebuah ideologi untuk mengajak masyarakat menata diri dan menegakkan Pancasila sebagai dasar ideologi Negara Kesatuan Repiblik Indonesia.
Harmoni Bahasa dari Persfektif Penerjemahan dalam Kasus Pemadanan Istilah Teknis
The language harmony in this study is oriented to the idea of the awakening of sincronized or similar object, concept, definition and term in relation to the terms adoption strategy by a general translation from one language to another (donor by recipient language). Terms are important pillars in the science systems that they must have the same meaning for everyone using it so the information exchange will obtain a good result. Thus, through a general consensus on meanings, names and specific terms along with the usages consistently will result in the uniformity of a special vocabulary containing the standard concepts, terms and definitions. The data collecting method is by browsing electronic library (e-lib) with data source taken as samples such as (1) Phonological adaptation of borrowed terms in Duramazwi reMimhanzi, (2) Translation journal of translation procedures, strategies and methods, (3) Are there connections between English and Romanian terminology in Medicine?, (4) Third-year students’ difficulties in translating computing terms from English into Arabic, (5) Studying Loanwords and Loanword Integration: Two Criteria of confirmity. The analysis is conducting by observing phonological aspects phenomenon (concerning pronunciation system) and orthographic aspect (concerning writing system). Based on these data, it is shown that the technical term equivalence strategy is conducted through the adjustment of sound and the foreign writing system (donor language) with changes based on the phonological system according to the pronunciation and the orthography system of a language (recipient language). The strategy is an attempt to maintain the full meaning of the concept contained in the terms of a language which meaning is not revealed in other languages in order to establish harmony or similarity of vision in the context of the use of the term to build language harmony among language speakers or users. AbstrakIstilah merupakan sendi penting di dalam sistem ilmu pengetahuan, harus mempunyai makna yang sama bagi semua orang yang menggunakannya, agar pertukaran informasi memperoleh hasil yang baik, maka melalui kesepakatan umum tentang makna, nama dan istilah khusus serta penggunaannya secara konsisten akan menghasilkan keseragaman suatu kosa kata khusus yang memuat konsep, istilah, dan definisinya yang baku.Artikel ini merupakan hasil kajian bidang penerjemahan tentang suatu pendekatan yang terkait dengan peristilahan, khususnya istilah teknis (technical terms). Sejumlah pendekatan yang dapat disajikan adalah sebagai alternatif dengan mengacu pada prinsip-prinsip kesamaan konsep antara bahasa sumber dan bahasa target (donor and recipient language). Data dalam kajian ini diperoleh melalui akses internet (online) untuk memperoleh jurnal, artikel dan referensi lain yang mengkaji masalah peristilahan dan aspek-aspek linguistik secara tekstual yang berorientasi pada bidang penerjemahan. Hasil dari kajian ini menunjukkan bahwa bentuk interakasi di antara berbagai bahasa dalam bidang penerjemahan, khususnya menyangkut istilah teknis dapat dilakukan dengan pendekatan penyesuaian aspek kebahasaan atau kaidah linguistik bahasa donor menurut aspek atau kaidah kebahasaan bahasa penerima (recipient language). Hal ini dilakukan adalah sebagai upaya untuk mempertahankan makna konsep yang dimiliki bahasa donor di satu sisi, dan upaya menyesuaikan aspek atau kaidah linguistik menurut bahasa penerima di sisi lain. Dengan demikian, harmoni bahasa dapat terbangun bagi penutur atau pengguna bahasa di antara komunitas bangsa itu sendiri
ISU GENDER DALAM CERPEN “PAYUDARA NAI NAI” KARYA DJENAR MAESA AYU
Peristiwa Reformasi 1998 telah membawa dampak yang cukup besar dalam berbagai aspek kehidupan, salah satunya dalam dunia sastra Indonesia. Setelah peristiwa reformasi ini, banyak muncul penulis-penulis perempuan yang mengangkat tema-tema yang sebelumnya dianggap tabu. Di antara tema yang terangkat ialah kesetaraan gender dan seksualitas. Cerpen “Payudara Nai Nai” karya Djenar Maesa Ayu adalah salah satu karya yang menyinggung tentang gender. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Dari hasil pembahasan diketahui bahwa dalam cerpen tersebut ditemukan tiga isu gender, yakni stereotipe, marginalisasi, dan kekerasa
PERGESERAN DAN MODULASI DALAM BUKU CERITA ANAK THE YOUNGEST FROG BERIKUT TERJEMAHANNYA
Kajian ini membahas beberapa metode terjemahan yang menyoroti bagaimana mengantisipasi konsep dalam bahasa sumber yang tidak dapat diterjemahkan dan kewajarannya dalam bahasa sasaran. Hasil dari kajian ini memperlihatkan bahwa pergeseran struktur (structure shift) dan modulasi yang digunakan sebagai alat untuk menerjemahkan
KETIDAKADILAN GENDER DALAM DWILOGI PADANG BULAN DAN CINTA DI DALAM GELAS KARYA ANDREA HIRATA: KRITIK SASTRA FEMINIS
Penelitian ini membahas masalah ketidakadilan gender dan strategi perempuan menghadapi ketidakadilan gender dalam Dwilogi “Padang Bulan dan Cinta di Dalam Gelas” karya Andrea Hirata. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan manifestasi ketidakadilan gender dan strategi perempuan dalam menghadapi ketidakadilan gender yang terdapat dalam dwilogi Padang Bulan dan Cinta di Dalam Gelas. Penelitian ini menggunakan teori struktur novel dan teori kritik sastra feminis. Teori struktur digunakan untuk menganalisis novel dan kritik sastra feminis untuk menganalisis masalah prasangka gender yang terdapat dalam “Padang Bulan dan Cinta di Dalam Gelas”. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan objektif dengan metode deskriptif analisis dengan teknik analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketidakadilan gender di dalam “Padang Bulan dan Cinta di Dalam Gelas”, antara lain, (1) jika suami atau kepala keluar meninggal maka dapat dipastikan keluarga itu akan musnah, (2) kondisi fisik masih dijadikan alasan untuk mendiskriminasikan perempuan, (3) suami berperilaku buruk dan menyakiti istri yang dinikahinya secara sah, dan (4) perempuan diharamkan bermain catur. Adapun strategi perempuan dalam menghadapi ketidakadilan gender dengan cara redefinisi, asimilasi, dan menciptakan dimensi bar
MITOS AMPLOP DALAM CERPEN “AMPLOP”
Mitos amplop yang hidup dalam kehidupan masyarakat diangkat oleh Feliwati dalam cerpen “Amplop”. Cerpen yang berlatar kehidupan akdemik di sebuah SMA ini mengisahkan amplopyang diterima oleh kepala sekolah. Permasalahan yang diangkat adalah amplop sebagai mitos kehadiran amplop sebagai mitos dan ironi dunia pendidikan yang terdapat dalam cerpen “Amplop”. Data yang berupa kalimatkalimat dalam cerpen “Amplop” dianalisis dengan menggunakan metode deskriptifkualitatif dengan pendekatan sosiologi sastra.Dari hasil pembahasan disimpulkan bahwa kehadiran amplop sebagai mitos dalam cerpen mengemban fungsi sebagai pengukuh (myth of concern) bagi mitos serupa yang sudah muncul dan hidup dalam masyarakat.Sementara itu, ironi pendidikan yang terepresentasi dalam cerpen adalah praktik suap „amplop‟ yang melibatkan kepala sekolah yang idealnya dijadikan teladan positif di lingkungan sebuah sekolah