eJournal Unika Atma Jaya (Universitas Katolik Indonesia)
Not a member yet
3096 research outputs found
Sort by
Analysis of Teenagers as Voluntary and Potential Blood Donors at the Blood Donation Unit PMI Bojonegoro
Pendahuluan: Donor darah merupakan kegiatan yang berhubungan langsung dengan keselamatan, kesehatan, dan nyawa, baik bagi pendonor sendiri maupun resipien, Pemenuhan kebutuhan darah sesuai jumlah yang dibutuhkan sangat diperlukan untuk mendukung sistem Kesehatan, terutama selama pandemi COVID-19 karena dipercaya bahwa produk plasmafesesis merupakan salah satu tindakan yang mampu menurunkan gejala pada pasien. Tingginya minat donor darah pada usia remaja di dasari oleh jiwa sosial dan motivasi yang tinggi untuk saling tolong menolong sehingga remaja dikategorikan sebagai pendonor darah potensial dan berkelanjutan.
Metode : Penelitian ini dilakukan di UDD PMI Kabupaten Bojonegoro pada Februari hingga Maret 2022. Desain penelitian yang digunakan yaitu penelitian deskriptif kuantitatif. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling dan diperoleh 668 responden, yang terdiri dari 449 donor laki-laki dan 179 donor perempuan.
Hasil: Total pendonor darah yang terkumpul selama periode Februari – Maret 2022 sebanyak 668 donor (449 laki-laki dan 179 perempuan). Menurut WHO, batas usia pendonor adalah usia remaja hingga lansia (sebelum 65 tahun). Analisis data menunjukkan 181 donor (27%) termasuk kategori remaja (17-25 tahun), 167 donor (25%) kategori dewasa awal (26-35 tahun), 167 donor (25%) kategori dewasa akhir (36-45 tahun), 124 donor (19%) kategori lansia awal (46-55 tahun), dan 29 donor (4%) kategori lansia akhir (56-65 tahun). Beberapa karakteristik yang memengaruhi keberhasilan donor darah pada kelompok usia remaja antara lain kadar hemoglobin, tekanan darah, dan konsumsi makanan <2 jam sebelum donor.
Simpulan: Penelitian ini disimpulkan bahwa presentasi keberhasilan terbanyak adalah pada remaja akhir sebanyak 181 (27%). Proses seleksi donor pada kelompok usia remaja dipengaruhi oleh kadar hemoglobin, tekanan darah, dan waktu terakhir makan.kesehatan, dan nyawa, baik bagi pendonor sendiri maupun resipien, Pemenuhan kebutuhan darah sesuai jumlah yang dibutuhkan sangat diperlukan untuk mendukung system Kesehatan, terutama selama pandemic COVID-19 dimana dipercaya bahwa produk plasmafesesis merupakan salah satu Tindakan yang mampu menurunkan gejala pada pasien. Tingginya minat donor darah pada usia remaja di dasari oleh jiwa sosial dan motivasi yang tinggi untuk saling tolong menolong sehingga remaja dikategorikan sebagai pendonor darah potensial dan berkelanjutan.
Metode : Penelitian ini dilakukan di UDD PMI Kabupaten Bojonegoro pada Februari hingga Maret 2022. Jenis penelitian yang diterapkan adalah deskriptif kuantitatif menggunakan teknik purposive Sampling dan data yang terkumpul dari 668 sampel, yang terdiri dari 449 calon pendonor laki-laki dan 179 pendonor perempuan.
Hasil : Total pendonor darah yang terkumpul selama periode Februari – Maret 2022 sebanyak 668 donor (449 pendonor laki-laki dan 179 pendonor perempuan). Berdasarkan WHO, batas usia pendonor adalah usia remaja hingga lansia (sebelum 65 tahun). Analisis data menunjukkan 181 donor (27%) termasuk kategori remaja, 167 donor (25%) kategori dewasa awal, 167 donor (25%) kategori dewasa akhir, 124 donor (19%) kategori lansia awal, dan 29 donor (4%) kategori lansia akhir. Beberapa karakteristik yang mempengaruhi keberhasilan donor darah pada kelompok usia remaja antara lain kadar hemoglobin, tekanan darah, dan waktu mengkonsumsi makanan kurang dari 2 jam sebelum donor.
Kesimpulan : Penelitian ini disimpulkan bahwa presentasi keberhasilan terbanyak adalah pada remaja akhir sebanyak 181 (27%). Proses seleksi donor pada kelompok usia remaja dipengaruhi oleh kadar hemoglobin, tekanan darah, dan waktu terakhir makan. .
Kata Kunci : Donor Darah, Remaja, Donor Potensia
Hospital Electronic Medical Record: Satisfaction, Use And Perceived Benefit With Computer Literacy As Mediator in Sumba
Pendahuluan: Penggunaan rekam medis elektronik (RME) yang diwajibkan oleh Kementerian Kesehatan pada akhir tahun 2023 memberikan tantangan bagi perumahsakitan di Indonesia. Masih ada beberapa daerah yang memiliki sumber daya minimal namun “suka atau tidak suka” harus menjalankan RME dalam semua pelayanan. Faktor-faktor yang memengaruhi penggunaan RME tersebut perlu dikaji secara seksama, di antaranya adalah faktor literasi komputer.
Metodologi: Lokasi penelitian dilakukan di RS Karitas Weetabula, Kabupaten Sumba Barat Daya, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia dengan jumlah populasi pengguna RME 249 orang dengan tingkat pendidikan dari SMA-S3 dengan menggunakan Google Form yang disebarkan melalui pesan singkat. Terhimpun sampel sejumlah 185 orang yang kemudian diolah dengan SEM PLS 3.0.
Hasil: Ditemukan adanya hubungan positif dan signifikan antara kualitas sistem, kualitas layanan dengan kepuasan pengguna RME (P<0,05; T>1,96) begitu juga dengan hubungan antara penggunaan RME serta kepuasan pengguna terhadap manfaat RME baik individu maupun organisasi (P<0,05; T>1,96). Literasi komputer tidak memiliki hubungan moderasi yang bermakna namun memiliki hubungan mediasi terhadap kepuasan pengguna RME (P<0,05; T>1,96).
Simpulan: Perlu adanya penelitian lanjutan untuk mencari hubungan literasi komputer dalam memediasi kepuasan pengguna RME.ABSTRACT
Introduction: The use of the Electronic Medical Record (EMR) which is required by the ministry of health at
the end of 2023 poses a challenge for hospitals in Indonesia. There are still a number of areas that have
minimal resources but "like it or not" have to carry out EMR in all services. For this reason, it is necessary to
examine carefully the factors that influence the use of EMR, one of which is the factor of computer literacy.
Methodology: The research location was conducted at Karitas Weetabula Hospital, Southwest Sumba
Regency, East Nusa Tenggara Province, Indonesia with a population of 249 users with education levels from
High School Graduate to Doctoral Graduate by using the Google form which was distributed via short
messages. A sample of 185 people was collected which was then processed with SEM PLS 3.0
Results: There is a positive and significant relationship founding between system quality, service quality and
EMR user satisfaction (P<0,05; T>1,96) as well as the relationship between the use of EMR and user
satisfaction with the benefits of EMR both individuals and organizations (P<0,05; T>1,96). Computer literacy
does not have a significant moderating relationship but may have a mediating relationship to RME user
satisfaction (P<0,05; T>1,96).
Conclusion: Further research is needed to find the relationship between computer literacy in mediating EMR
user satisfaction.
Keywords: Computer Literacy, Electronic Medical Records, EMR, Perceived Benefits, Service Quality,
System Quality, Use of EMR, User Satisfaction
ABSTRAK
Pendahuluan: Penggunaan Rekam Medis Elektronik (RME) yang diwajibkan oleh kementerian kesehatan
pada akhir tahun 2023 memberikan tantangan bagi perumahsakitan di Indonesia. Masih ada beberapa daerah
yang memiliki sumber daya minimal namun “suka atau tidak suka” harus menjalankan RME Dalam semua
pelayanan. Untuk itu perlu dikaji secara seksama faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan RME tersebut
di antaranya adalah faktor literasi komputer.
Metodologi: Lokasi penelitian dilakukukan di RS Karitas Weetabula, Kabupaten Sumba Barat Daya, Provinsi
Nusa Tenggara Timur, Indonesia dengan jumlah populasi pengguna RME 249 orang dengan tingkat
pendidikan dari SMA-S3 dengan menggunakan google form yang disebarkan melalui pesan singkat.
Terhimpun sampel sejumlah 185 orang yang kemudian diolah dengan SEM PLS 3.0
Hasil: Ditemukan adanya hubungan positif dan signifikan antara kualitas sistem, kualitas layanan dengan
kepuasan pengguna RME (P<0,05; T>1,96) begitu juga dengan hubungan antara penggunaan RME serta
kepuasan pengguna terhadap manfaat RME baik individu maupun organisasi (P<0,05; T>1,96). Literasi
komputer tidak memiliki hubungan moderasi yang bermakna namun memiliki hubungan mediasi terhadap
kepuasan pengguna RME (P<0,05; T>1,96).
Kesimpulan: Perlu adanya penelitian lanjutan untuk mencari hubungan literasi komputer dalam memediasi
kepuasan pengguna RME
ANALISIS KELAYAKAN PENDIRIAN KAMPUNG BELAJAR MENGAJAR BERWAWASAN ECOPRENEUR DI DUSUN CIHOE, DESA RIDOGALIH KECAMATAN CIBARUSAH - KABUPATEN BEKASI, KERJA SAMA ANTARA FAKULTAS EKONOMI & BISNIS UNIKA ATMA JAYA DENGAN PERHIMPUNAN VINCENTIUS JAKARTA
The establishment of a Cihoe Ecopreneur-oriented Learning Village in Ridogalih Village, Cibarusah District, Bekasi Regency, is one of the work plans of the Jakarta Vincentius Association Management. This was done as part of its responsibility to nature and others, in particular providing a training place for young people who are still studying at elementary school to high school levels in Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang and Bekasi, as well as children social orphanage under the Jakarta Vincentius Association, especially in the areas of improving soft skills and character building. Apart from that, it is also an effort to participate in improving the welfare of the people of Ridogalih Village, especially those living in Cihoe Hamlet
IMPLEMENTASI HAK ATAS KESEHATAN BAGI TERSANGKA TINDAK PIDANA NARKOTIKA DI KEPOLISIAN RESOR MANOKWARI
Kesehatan merupakan bagian dari Hak Asasi Manusia (HAM) yang merupakan kebutuhan dasar manusia, karena tanpa kesehatan, kehidupan menjadi tidak bermakna. Oleh karena itu, setiap warga negara berhak mendapatkan akses kesehatan untuk mengetahui kondisi kesehatannya dan mendapatkan layanan kesehatan yang layak. Ini juga berlaku bagi tersangka tindak pidana narkotika yang harus mendapatkan hak atas kesehatan yang memadai. Penelitian ini secara khusus membahas tentang implementasi hak atas kesehatan bagi tersangka tindak pidana narkotika di Kepolisian Resor Manokwari, Papua Barat. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis empiris. Data primer diperoleh melalui observasi di Kepolisian Resor Manokwari dan wawancara dengan Kapolres, Kasat Narkoba, dan Kasat Tahanan dan Barang Bukti (Satahti) Polres Manokwari. Penerapan pemenuhan hak atas kesehatan bagi tersangka tindak pidana narkotika di Polres Manokwari sudah berjalan dengan baik, namun masih terdapat kendala seperti terbatasnya jumlah personel kesehatan dan belum memadainya sarana prasarana kesehatan.Kesehatan merupakan bagian dari Hak Asasi Manusia (HAM) yang merupakan kebutuhan dasar manusia, karena tanpa kesehatan, kehidupan menjadi tidak bermakna. Oleh karena itu, setiap warga negara berhak mendapatkan akses kesehatan untuk mengetahui kondisi kesehatannya dan mendapatkan layanan kesehatan yang layak. Ini juga berlaku bagi tersangka tindak pidana narkotika yang harus mendapatkan hak atas kesehatan yang memadai. Penelitian ini secara khusus membahas tentang implementasi hak atas kesehatan bagi tersangka tindak pidana narkotika di Kepolisian Resor Manokwari, Papua Barat. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis empiris. Data primer diperoleh melalui observasi di Kepolisian Resor Manokwari dan wawancara dengan Kapolres, Kasat Narkoba, dan Kasat Tahanan dan Barang Bukti (Satahti) Polres Manokwari. Penerapan pemenuhan hak atas kesehatan bagi tersangka tindak pidana narkotika di Polres Manokwari sudah berjalan dengan baik, namun masih terdapat kendala seperti terbatasnya jumlah personel kesehatan dan belum memadainya sarana prasarana kesehatan
Perawatan Korektif Dinding Draft Tube dan Katup Kupu-kupu Pada Pembangkit Listrik
Preventive maintenance memainkan peran penting dalam menjaga keandalan dan efisiensi pembangkit listrik. Penelitian ini mengkaji penerapan K3 dalam pemeliharaan teknis, dengan fokus pada penggantian dinding draft tube di pembangkit listrik tenaga air dan perbaikan katup kupu-kupu di pembangkit listrik tenaga uap. Tantangan utama meliputi pengelolaan ruang terbatas, pemilihan material tahan korosi, dan penanganan komponen yang mengalami keausan akibat paparan air bertekanan tinggi. Proses penggantian dinding draft tube menggunakan stainless steel 304 dirancang untuk meningkatkan ketahanan korosi, sementara perbaikan katup kupu-kupu dilakukan melalui pengelasan cakram yang presisi. Metode yang digunakan mencakup inspeksi visual, pemotongan pelat dan baut yang rusak dengan teknik asetilin, serta penerapan langkah-langkah K3 yang ketat, termasuk penggunaan APD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa langkah-langkah ini tidak hanya memperpanjang usia komponen, tetapi juga mengembalikan performa optimal sistem. Penerapan protokol K3 secara disiplin terbukti efektif dalam meminimalkan risiko kecelakaan dan memastikan pekerjaan berlangsung lancar
Pemilihan Alternatif Trase Jalan Tol Pluit - Bandara dengan Sistem Rekayasa Nilai
Jalan tol eksisting menuju bandara telah mengalami kejenuhan yang berdampak pada tingkat pelayanan menjadi turun. Untuk mengatasi kepadatan tersebut, maka di perlukan jaringan jalan baru agar menuju atau ke Bandara menjadi lebih lancar. Pembangunan jalan tol tidak terlepas dari pemilihan trase jalan yang tepat. Pada studi ini, dilakukan perencanaan trase jalan yang mempertimbangkan Aspek Teknis yaitu : 1) Geometrik Jalan 2) Topografi Jalan 3) Pelaksanaan Konstruksi dan Aspek Non Teknis yaitu : 1) Aspek Ekonomi dan Keuangan 2) Aspek Kemudahan Konstruksi 3) Aspek Lingkungan 4) Aspek Pengembangan Kawasan 5) Aspek Sosial. Kedelapan aspek tersebut diolah untuk mendapatkan trase terbaik dengan menggunakan metode rekayasa nilai agar kemungkinan terbangunnya menjadi lebih pasti. Terdapat 6 alternatif yang dijadikan dalam peniliaian pemilihan trase, dan salah satu alternatif merupakan trase terbaik dengan nilai 7,23. Selisih biaya untuk pembangunan alternatif tersebut tidak terlalu signifikan dibandingkan dengan dampak sosial dan lingkungan alternatif lainnya
Perancangan Detail Engineering Design (DED) Dermaga Tipe Dolphin: Pendekatan Analisis Teknis dan Lingkungan
Penyusunan Detail Engineering Design (DED) dermaga merupakan langkah penting dalam pembangunan infrastruktur untuk memastikan desain memenuhi kebutuhan operasional, kondisi lingkungan, serta standar teknis dan keselamatan. Desain mencakup panjang dermaga, kedalaman perairan, struktur penopang, alat bantu, dan sistem penanganan barang sesuai jenis kapal. Berdasarkan observasi, survei lapangan, dan analisis topografi-batimetri, pier/jetty tipe dolphin dipilih sebagai solusi optimal. Kawasan dermaga memiliki kontur daratan landai dengan tepian sungai terjal, sementara investigasi tanah menunjukkan lapisan keras pada kedalaman tertentu yang mendukung stabilitas struktur. Desain meliputi jetty head dengan plat lantai 15 cm, balok 30 × 50 cm, serta tiang pancang baja berdiameter 40 cm dengan nilai N-SPT 40-60. Breasting dan mooring dolphin didesain menggunakan tiang pancang baja untuk meningkatkan efisiensi dan stabilitas operasional. Desain ini dirancang untuk menjamin daya tahan konstruksi dan keberlanjutan operasional dermaga
KEMAMPUAN LITERASI BAHASA INDONESIA PELAKU UMKM PRODUK LOKAL BADUI PADA TOKO ONLINE DAN E-COMMERCE TOKOPEDIA
The indigenous Badui community is known for its strict customs; among other things, prohibitions on schools and the use of technology in daily life so it is not surprising that the majority of Badui people cannot write, especially the Badui Dalam indigenous community and the older generation of the Badui Luar community. As time goes by, the Badui Luar indigenous people are starting to openup using technology in the form of cell phones and the internet. The use of cell phones and the internet among the Badui Luar indigenous community is not only for communication, but also for trading. Initially, the use of social media by the Badui indigenous community was Facebook and Instagram for trading. In the last year, some of them have started using e-commerce. The use of social media indirectly becomes a learning medium for the indigenous Badui Luar community to write because like it or not they have to communicate in writing with consumers in the form of chat texts and create product descriptions in the online shops they own. However, due to their limited ability to write and speak Indonesian well, they often experience communication barriers with consumers which ultimately impacts the success of buying and selling transactions. The objectives to be achieved in this research include: (1) knowing the ability of small business owner local Badui to write sentences, (2) knowing the ability of small business owner in understanding sentences or short conversation texts and responding to chats in writing. This research is a development of the research results of Saleh Abas (2006) which states that a person's ability to write is determined by accuracy in using languageelements, organizing discourse in the form of an essay, accuracy in using language, and choosing the words used to write. The method used in this research is descriptive qualitative. The research subjects were local Badui product who already had online shops on Tokopedia e-commerce. The sample obtained by purposive sampling consisted of 10 small business owner who already had an online shop on Tokopedia e-commerce with the status still active. Research data was obtained based on 26 texts describing local Badui products; including woven cloth, koja bags, palm sugar and tutu coffee. This data is to determine sentence structure, diction, punctuation, and creativity in creating sentences. The data analysis technique uses descriptive analysis based on product description text. The results of the research show that 6 out of 10 small business owner who are local Badui products have quite good writing skills, but are not good in terms of grammar, diction, punctuation and creativity in creating sentences. The conclusions from this research show that the Indonesian language literacy skills of small business owner local Badui product are quite good even though they have not received formal education
THE UNIQUE TRANSLATION STRATEGY OF NOVEL TITLES
Titles of literary works such as novels plays an important role in attracting possible readers. Novel titles should also reflect the contents of the books. When a book is translated to other languages, the title should be translated accordingly. Novel titles are not always translated literally in the target language, they may vary from one country to another. For example, in “Harry Potter and the philosopher stone” in the UK, the phrase ‘philosopher stone’ is translated into ‘sorcerer’s stone’ in the US and ‘batu bertuah’ (miracle stone) in Indonesia. In French it is even translated into ‘Harry Potter a l’ecole des sorciers’ (Harry Potter in the school of witches). This study aims to investigate the translation strategies of English novel titles to Indonesian. By searching the internet and from private book collection, the writer collect 50 English novels which have been translated and published in Indonesian. Based on the writer’s personal preference, all the novels belong to thriller/suspense genre. The data collected were 50 English titles and their translations in Indonesian. Before arriving at this number of data, a preliminary selection has been done by eliminating the target text titles that were using literal translation strategy. This is deliberately done to discover the unique translation strategy of novel titles and to find out the reason for the specific translation strategy. Three main theories are used to analyse the novel titles, they are functions of title translation as suggested by Nord (2005) and Viezzi model translation (2013) and Vinay & Dalbernet (1995) translation strategies. In translating the titles, equivalence is pursued, but if it is not possible, there are other ways to accomplish it. The results show strategies such as adaptation, modulation, equivalence, and transposition are used to translate novel titles to Indonesian. Meanwhile based on Viezzi model, the target titles are categorised into explicit, indicative of the genre, suggestive, and seductive. This study would raise the translators’ awareness to choose more communicative and creative titles for literary translation tasks, including novels and other literary works
METRICAL STRESS IN MANDAR PHONOLOGY AND POETRY
This short paper is to extend the theory of metrical phonology to the system of stress in one language of Indonesia: Mandar. As the subfamily of South Sulawesi language, Mandar is spoken on the northern coast of West Sulawesi province, from the city of Polewali in the east to the town of Tinambung in the west. The data itself is gathered from native Mandar speaker which provides a good representation of the language. This paper has surveyed the distribution of word-level stress in Mandar from the perspective of the theory of metrical phonology. It has shown that the language typically requires each prosodic word to host a single instance of stress on penultimate syllable. The final proposal is to have the stress pattern emerge from the construction of a single disyllabic trochee at the right edge of the word, with the trochee requires first syllable to be heavy (CVC or CVV) and second syllable to be light (CV or CVC as word-final consonant are non-moraic, but not CVV). From this position, we have shown that our metrical analysis allows us to see another property of traditional Kalinda’da’ poetry: beyond showing a regular number of syllables in each line, these poems also require different numbers of stresses. We leave it to future work to extend this result