eJournal Unika Atma Jaya (Universitas Katolik Indonesia)
Not a member yet
3096 research outputs found
Sort by
Hubungan Dismenore Primer dengan Kualitas Tidur Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya
Pendahuluan: Wanita mengalami menstruasi saat fase remaja dimulai. Proses menstruasi ini menimbulkan pengalaman yang kurang nyaman bagi wanita, salah satu yang tersering adalah dismenore. Prevalensi dismenore bervariasi namun mayoritas wanita yang mengalami dismenore terpengaruh kualitas tidurnya. Kualitas tidur yang buruk berdampak negatif terhadap kualitas hidup wanita, termasuk prestasi akademis pada kalangan pelajar atau mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dismenore primer dengan kualitas tidur mahasiswi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya (FKIK UAJ).
Metode: Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan pendekatan potong lintang. Penelitian dilakukan terhadap 212 responden yang merupakan mahasiswi FKIK UAJ angkatan 2019 – 2021. Pengambilan data dilakukan menggunakan Kuesioner Kualitas Tidur (KKT) yang telah dimodifikasi dan kuesioner WaLLID score yang disebarkan secara online melalui google form. Analisis data penelitian menggunakan uji Fisher’s Exact.
Hasil: Sebanyak 91% mahasiswi FKIK UAJ angkatan 2019–2021 mengalami dismenore primer, dengan prevalensi dismenore ringan sebanyak 36,3%, dismenore sedang 44,8%, dan dismenore berat 9,9%. Angka kejadian kualitas tidur baik pada reponden sebanyak 75%, sedangkan 25% lainnya mengalami kualitas tidur yang buruk. Hasil uji SPSS menunjukkan terdapat hubungan antara derajat keparahan dismenore primer dengan kualitas tidur responden dengan nilai p <0,05.
Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara derajat keparahan dismenore primer dengan kualitas tidur mahasiswi FKIK UAJ angkatan 2019–2021.Pendahuluan: Wanita mengalami menstruasi saat fase remaja dimulai. Proses menstruasi ini menimbulkan pengalaman yang kurang nyaman bagi wanita, salah satu yang tersering adalah dismenore. Prevalensi dismenore bervariasi namun mayoritas wanita yang mengalami dismenore terdampak kualitas tidurnya. Kualitas tidur yang buruk berdampak negatif terhadap kualitas hidup wanita, termasuk prestasi akademis pada kalangan pelajar atau mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dismenore primer dengan kualitas tidur mahasiswi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Atma Jaya.
Metode: Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan pendekatan potong lintang. Penelitian dilakukan terhadap 212 responden yang merupakan mahasiswi preklinik Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Atma Jaya angkatan 2019 – 2021. Pengambilan data dilakukan menggunakan Kuesioner Kualitas Tidur (KKT) yang telah dimodifikasi dan kuesioner WaLLID score yang disebarkan secara online melalui google form. Analisis data penelitian menggunakan uji bivariat Chi-Square.
Hasil Penelitian: Sebanyak 91% mahasiswi preklinik Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Atma Jaya angkatan 2019 – 2021 mengalami dismenore primer, dengan prevalensi dismenore ringan sebanyak 36,3%, dismenore sedang 44,8% dan dismenore berat 9,9%. Angka kejadian kualitas tidur baik pada reponden sebanyak 75%, sedangkan 25% lainnya mengalami kualitas tidur yang buruk. Hasil uji SPSS menunjukkan terdapat hubungan antara derajat keparahan dismenore primer dengan kualitas tidur responden dengan p value < 0,001.
Kesimpulan: Terdapat hubungan antara derajat keparahan dismenore primer dengan kualitas tidur mahasiswi preklinik Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Atma Jaya angkatan 2019 – 202
Implementasi Peraturan Desa Dalam Pengelolaan Ekosistem Mangrove Berkelanjutan Berbasis Teori Medebewind
Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui peraturan pengelolaan mangrove berkelanjutan berbasis Masyarakat dan Peraturan Desa sebagai peraturan implementasi konservasi mangrove berbasis komunitas Kelompok Tani Krida Wana Lestari. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif empiris. Dalam pembentukan Peraturan Desa (Perdes), asas tugas pembantuan berperan penting dalam memberikan kerangka kerja bagi pengelolaan sumber daya alam, termasuk ekosistem mangrove. Tugas Pembantuan (Medebewind) adalah penugasan dari Pemerintah kepada daerah dan/atau desa, dari pemerintah provinsi kepada kabupaten, atau kota dan/atau desa, serta dari pemerintah kabupaten, atau kota kepada desa untuk melaksanakan tugas tertentu dengan kewajiban melaporkan dan mempertanggungjawabkan pelaksanaannya kepada yang menugaskan Metode empiris diperoleh dari hasil observasi, kuesioner dan wawancara dengan Kelompok Tani Krida Wana Lestari. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dengan menggunakan peraturan undang-undang dan data sekunder dengan menggunakan buku, jurnal dan artikel. Dianalisis dengan metode kualitatif dengan menggunakan pendekatan perundang-undangan (statute approach) dan pendekatan riset (research approach).Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui peraturan pengelolaan mangrove berkelanjutan berbasis Masyarakat dan Peraturan Desa sebagai peraturan implementasi konservasi mangrove berbasis komunitas Kelompok Tani Krida Wana Lestari. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif empiris. Dalam pembentukan Peraturan Desa (Perdes), asas tugas pembantuan berperan penting dalam memberikan kerangka kerja bagi pengelolaan sumber daya alam, termasuk ekosistem mangrove. Tugas Pembantuan (Medebewind) adalah penugasan dari Pemerintah kepada daerah dan/atau desa, dari pemerintah provinsi kepada kabupaten, atau kota dan/atau desa, serta dari pemerintah kabupaten, atau kota kepada desa untuk melaksanakan tugas tertentu dengan kewajiban melaporkan dan mempertanggungjawabkan pelaksanaannya kepada yang menugaskan Metode empiris diperoleh dari hasil observasi, kuesioner dan wawancara dengan Kelompok Tani Krida Wana Lestari. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dengan menggunakan peraturan undang undang dan data sekunder dengan menggunakan buku, jurnal dan artikel. Dianalisis dengan metode kualitatif dengan menggunakan pendekatan perundang-undangan (statute approach) dan pendekatan riset (research approach)
PEMANTAUAN DAN PENGENDALIAN SUHU DAN KELEMBAPAN UDARA UNTUK TANAMAN TOMAT DENGAN MENGGUNAKAN WEMOS D1
Plant cultivation process is an important component in creating optimal harvest results. Those results can be affected by both air temperature and humidity in the plant’s environment. Traditional method for monitoring and controlling temperature and humidity consume a lot of time and energy. This Wemos D1 and ThingSpeak equipped monitoring and controlling system was made in order to make those works easier. The system uses air temperature and humidity sensor which will perform reading to the environment’s condition. Datas collected from the reading progress will be forwarded by Wemos D1 to ThingSpeak so it can be observed by users. Exhaust fan and mist maker will be used as controlling components for the environment. This system is expected to help in developing plant cultivation techniques.
Proses budidaya tanaman merupakan komponen penting dalam mewujudkan hasil panen yang optimal. Hasil panen tersebut dapat dipengaruhi oleh suhu dan kelembapan udara di lingkungan tanaman tersebut. Metode tradisional untuk melakukan pemantauan dan pengendalian suhu dan kelembapan sangat memakan waktu dan juga tenaga manusia. Agar dapat meringankan pekerjaan tersebut, maka dirancang sistem pemantauan dan pengendalian suhu dan kelembapan udara menggunakan Wemos D1 dan ThingSpeak. Sistem tersebut menggunakan beberapa sensor yaitu sensor suhu dan kelembapan udara yang akan melakukan pembacaan terhadap kondisi lingkungan. Data dari hasil pembacaan tersebut kemudian akan diteruskan oleh Wemos D1 ke ThingSpeak agar dapat diamati oleh pengguna. Exhaust fan dan mist maker akan digunakan sebagai komponen pengendali untuk lingkungan tanaman. Sistem ini diharapkan dapat membantu dalam perkembangan teknik budidaya tanaman.
 
Kebutuhan Banyaknya Titik Roof Outlet Pada Sistem Pemipaan
The JST 01 Data Center development project is located on Jl.
Bidara Cina in the Jatinegara District, East Jakarta, DKI Jakarta.
The MT. Haryono Data Center stands at an elevation of 65 meters
above sea level and comprises 14 floors, divided into two work
areas: Gantry and IX. Rainfall at the JST 01 Data Center project
site is recorded at 318.5 mm/h, based on data processed from
BMKG Kemayoran, Cengkareng, and Pondok Betung stations. The
analysis follows the Singapore Standard SS 525-2006 Code of
Practice for Roof Drainage. The building's total roof area is
2,128.43 m², necessitating 14 Roof Outlet points for the operation
of the Siphonic Rainwater System. Of these, five Roof Outlets are
allocated to the Gantry area, while nine are distributed across the
IX area.Proyek pembangunan JST 01 Data Center terletak di Jl. Bidara Cina
Kec. Jatinegara, Kota Jakarta Timur, DKI Jakarta. Data Center MT.
Haryono memiliki tinggi enam puluh lima MDPL dengan jumlah
lantai sebanyak empat belas yang dibagi ke dalam dua area
pekerjaan yakni Gantry dan IX. Curah hujan di proyek JST 01
Data Center adalah sebesar 318,5 mm/h. Data curah hujan
tersebut didapat dan diolah dari stasium BMKG Kemayoran,
Cengkareng dan Pondok Betung dengan berdasarkan Singapore
Standard SS 525-2006 Code of Practice for Drainage of Roofs. Dengan
luas atap keseluruhan bangunan proyek JST 01 Haryono Data
Center yakni seluas 2128,43 m2 didapatkan jumlah titik Roof
Outlet untuk mengoperasikan Siphonic Rain Water System
dibutuhkan sebanyak empat belas titik Roof Outlet yang tersebar
lima di area Gantry dan sembilan di area IX
Kabupaten Lengkap Spasial Kantor Pertanahan Kabupaten Bintan
The digital transformation at the Ministry of Agrarian Affairs and Spatial Planning/National Land Agency (Kementerian ATR/BPN) is carried out to improve land services. The Spatial Complete Regency (Kabupaten Lengkap Spasial) program represents an implementation of this digital transformation. It is an initiative to ensure that all land parcels are mapped both spatially and legally. This study uses a qualitative descriptive method with primary data collection conducted at the Land Office of Bintan Regency. The findings indicate that the realization of the ‘Bintan Land Office Spatial Complete City’ program in Bintan Regency faces challenges including data synchronization, the quality of textual and spatial data, and issues related to gaps and overlaps. Progress in implementing the ‘Bintan Land Office Spatial Complete City’ program has shown an increased percentage of mapped KW456 parcels, expanded coverage of areas with aerial photographs, improved resolution of gaps and overlaps, and greater completion of anomalous parcel issues. This study also highlights the importance of cross-sectional collaboration and technology optimization in achieving the Spatial Complete City in Bintan Regency
Classification Of Multi-Class Face Expression Using Modification Of VGG-16 Model
In the era of modern technology, facial recognition has become an important application in various fields, such as security, education and health. One method used to recognize faces is a Convolutional Neural Network (CNN), specifically the VGG-16 architecture which is known for its consistent performance. But even though CNN can recognize faces, its accuracy in recognizing faces is inadequate. This research aims to increase the accuracy of facial expression classification so that it is more optimal by modifying the CNN VGG-16 architecture. This research uses GridSearch techniques, K-Fold Cross Validation, and utilizes multiple datasets. The dataset used consists of two image datasets, namely SMIC and SAMM facial-micro expressions, each of which has been normalized and converted to a grayscale scale measuring 48x48 pixels. The GridSearch process is applied to optimize parameters such as the number of filters, learning rate, dropout rate, activation function, and batch size. The K-Fold Cross Validation technique with five folds was used to ensure the generalization of the model to new data. The research results show that this modification is able to achieve validation accuracy of up to 98.31% in the training process, showing a significant improvement compared to the standard method. And showed an increase in accuracy in testing of 98.04% in research.Di era teknologi modern, pengenalan wajah telah menjadi aplikasi penting di berbagai bidang, seperti keamanan, pendidikan, dan kesehatan. Salah satu metode yang digunakan untuk mengenali wajah adalah Convolutional Neural Network (CNN), khususnya arsitektur VGG-16 yang dikenal dengan kinerjanya yang konsisten. Namun meskipun CNN dapat mengenali wajah, akurasinya dalam mengenali wajah belum memadai. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan akurasi klasifikasi ekspresi wajah agar lebih optimal dengan memodifikasi arsitektur CNN VGG-16. Penelitian ini menggunakan teknik GridSearch, K-Fold Cross Validation, dan memanfaatkan beberapa dataset. Dataset yang digunakan terdiri dari dua dataset citra, yaitu ekspresi wajah-mikro SMIC dan SAMM yang masing-masing telah dinormalisasi dan dikonversi ke skala grayscale berukuran 48x48 piksel. Proses GridSearch diterapkan untuk mengoptimalkan parameter seperti jumlah filter, learning rate, dropout rate, fungsi aktivasi, dan ukuran batch. Teknik K-Fold Cross Validation dengan lima kali lipat digunakan untuk memastikan generalisasi model ke data baru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modifikasi ini mampu mencapai akurasi validasi hingga 98,31% pada proses pelatihan, menunjukkan peningkatan yang signifikan dibandingkan dengan metode standar. Dan menunjukkan peningkatan akurasi pada pengujian sebesar 98,04% pada penelitian
PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI UNTUK MENINGKATKAN PERKEMBANGAN AKADEMIK PESERTA DIDIK BERKEBUTUHAN KHUSUS
"Students with special needs" is a term used to describe students with disabilities or limitations, whether sensory, intellectual, physical, or social-emotional, that impact their growth and development, necessitating specialized educational support services. Students with special needs face various developmental challenges, such as establishing self-identity, strengthening social relationships, and developing independence and academic abilities. However, a uniform learning approach often fails to address diverse learning needs, resulting in suboptimal achievement of these developmental tasks. In the context of the Independent Curriculum (National Curriculum), differentiated learning is an adaptive and responsive solution to this diversity. This article discusses the implementation of differentiated learning as a strategy to support the achievement of developmental tasks in students with special needs, specifically to help enhance their cognitive development and develop academic competencies through effective learning. Based on theoretical studies and data from five recent empirical research findings, differentiated learning has been shown to improve learning outcomes, self-confidence, learning independence, active participation in project-based learning, and create a positive and inclusive classroom climate. Therefore, this strategy needs to be systematically integrated into learning practices to support the holistic growth and development of students with special needs.Peserta didik berkebutuhan khusus merupakan terminologi untuk peserta didik yang mempunyai hambatan atau keterbatasan, baik hambatan atau keterbatasan dalam sensoris atau inderawi, intelektual, fisik maupun sosial emosional, yang mempengaruhi proses tumbuh kembangnya sehingga membutuhkan layanan pendampingan pendidikan secara khusus. Peserta didik berkebutuhan khusus dihadapkan pada berbagai tugas perkembangan seperti pembentukan identitas diri, penguatan hubungan sosial, serta pengembangan kemandirian dan kemampuan akademik. Namun, pendekatan pembelajaran yang seragam sering kali tidak mampu menjawab kebutuhan belajar yang beragam, sehingga berdampak pada kurang optimalnya pencapaian tugas perkembangan peserta didik berkebutuhan khusus. Dalam konteks Kurikulum Merdeka yang dinamai Kurikulum Nasional, pembelajaran berdiferensiasi merupakan salah satu solusi yang adaptif dan responsif terhadap keragaman tersebut. Artikel ini membahas implementasi pembelajaran berdiferensiasi sebagai strategi untuk mendukung pencapaian tugas perkembangan peserta didik berkebutuhan khusus secara khusus untuk membantu meningkatkan perkembangan kognitifnya sehingga kompetensi akademiknya berkembang melalui efektivitas pembelajaran. Berdasarkan kajian teori dan data lima temuan penelitian empiris terkini, pembelajaran berdiferensiasi terbukti mampu meningkatkan hasil belajar, rasa percaya diri, kemandirian belajar, partisipasi aktif dalam pembelajaran berbasis proyek, serta menciptakan iklim kelas yang positif dan inklusif. Oleh karena itu, strategi ini perlu diintegrasikan secara sistematis dalam praktik pembelajaran guna mendukung tumbuh kembang peserta didik berkebutuhan khusus secara holistik
Aktivitas Fisik Sebagai Penentu Frailty: Melampaui Indeks Massa Tubuh, Lingkar Pinggang, dan Body Fat Percentage.
Pendahuluan: Proses penuaan meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami masalah kesehatan, salah satunya adalah frailty. Sebuah penelitian studi potong lintang oleh Setiati, et al. di Indonesia pada tahun 2020, didapatkan prevalensi sebesar 66,20% pre-frail dan 18,70% frail.
Tujuan: Mendapatkan gambaran mengenai frailty pada lansia dan faktor risikonya di Pusaka Kebon Jeruk, Jakarta Barat.
Metode: Penelitian ini menggunakan metode potong lintang dan terdiri dari 100 subjek dengan usia ≥60 tahun yang telah memenuhi kriteria penelitian. Pengambilan data dilakukan melalui wawancara menggunakan instrumen yang sudah divalidasi.
Hasil: Dari 100 responden, sebagian besar berusia 60-74 tahun (75%), perempuan (71%), pendidikan ≥12 tahun (90%). Terdapat 18% lansia yang mengalami frailty. Analisis bivariat menunjukkan faktor yang memiliki hubungan bermakna adalah usia (p<0,001; RO=7,633; 95%CI=2,519–23,127) dan aktivitas fisik (p=0,011; RO=3,857; 95%CI=1,308–11,370).
Simpulan: Frailty memiliki hubungan bermakna dengan usia dan aktivitas fisik. Usia menjadi faktor yang paling memengaruhi dan meningkatkan risiko frailty pada lansia.
Pendahuluan : Proses penuaan meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami masalah kesehatan, salah satunya adalah frailty. Sebuah penelitian studi potong lintang oleh Setiati, et al. di Indonesia pada tahun 2020, didapatkan prevalensi sebesar 66,20% pre-frail dan 18,70% frail.
Tujuan : Mendapatkan gambaran mengenai frailty pada lansia dan faktor risikonya di Pusaka Kebon Jeruk, Jakarta Barat.
Metode : Penelitian ini menggunakan metode potong lintang dan terdiri dari 100 subjek dengan usia ≥60 tahun yang telah memenuhi kriteria penelitian. Pengambilan data dilakukan melalui wawancara menggunakan instrumen yang sudah divalidasi.
Hasil : Dari 100 responden, sebagian besar berusia 60-74 tahun (75%), perempuan (71%), pendidikan ≥12 tahun (90%). Terdapat 18% lansia yang mengalami frailty. Analisis bivariat menunjukkan faktor yang memiliki hubungan bermakna adalah usia (p : <0,001; RO : 7,633; 95%CI : 2,519 – 23,127) dan aktivitas fisik (p : 0,011; RO : 3,857; 95%CI : 1,308 – 11,370).
Kesimpulan : Frailty memiliki hubungan bermakna dengan usia dan aktivitas fisik. Dengan usia menjadi faktor yang paling memengaruhi dan meningkatkan risiko frailty pada lansia. Kata Kunci : Frailty, lansia, usia, indeks massa tubuh, lingkar pinggang, body fat percentage, aktivitas fisi
ADOPSI PEMBAYARAN DIGITAL MELALUI QRIS DAN DAMPAKNYA TERHADAP KINERJA FINANSIAL UMKM DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh adopsi QRIS terhadap kinerja finansial pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Latar belakang penelitian ini didasari oleh meningkatnya digitalisasi sistem pembayaran serta dorongan pemerintah untuk memperluas inklusi keuangan melalui penggunaan QRIS di kalangan pelaku UMKM. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei dan pengumpulan data melalui kuesioner. Responden dalam penelitian ini adalah pelaku UMKM yang telah mengadopsi QRIS dalam operasional bisnisnya. Hasil uji validitas dan reliabilitas menunjukkan bahwa seluruh instrumen penelitian dinyatakan valid dan reliabel. Analisis regresi linier sederhana menunjukkan bahwa adopsi QRIS berpengaruh positif dan signifikan terhadap peningkatan kinerja finansial UMKM. Temuan ini memperkuat argumen bahwa digitalisasi sistem pembayaran dapat menjadi alat strategis dalam mendorong efisiensi dan pertumbuhan usaha kecil. Implikasi praktis dari hasil penelitian ini adalah perlunya sosialisasi berkelanjutan dan dukungan dari pemerintah maupun lembaga keuangan dalam mendorong transformasi digital UMKM
PENGARUH PROFITABILITAS, SALES GROWTH, LEVERAGE, DAN MAJORITY SHAREHOLDERS TERHADAP NILAI PERUSAHAAN
This study aims to determine the effect of profitability, sales growth, leverage, and majority shareholder ownership on firm value in manufacturing companies listed on the Indonesia Stock Exchange 2021-2023. This study used a quantitative approach with secondary data in the audited financial reports. The sample was selected using a purposive sampling method based on certain criteria, resulting in 109 manufacturing companies with a total of 327 observations over three years. Data analysis was performed using multiple linear regression using SPSS version 27 with a significance level of 0.05. The results showed that profitability had a positive effect on firm value, while sales growth, leverage, and majority shareholder ownership had a negative effect on firm value