Jurnal UNMUH Jember (Universitas Muhammadiya)
Not a member yet
2068 research outputs found
Sort by
Perubahan Paradigma Orangtua Dalam Kesadaran Pendidikan Anak Usia Dini
Tujuan pengabdian masyarahat ini adalah untuk membantu meningkatkan kesadaran penduduk yang masih kurang peduli akan pendidikan anak di usia dini dan membantu para tenaga pengajar dalam mengolah administrasi di PAUD Melati. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu dengan melakukan studi lapangan. Studi lapangan yang dilakukan dengan melalui data observasi, wawancara dan dokumentasi serta studi kepustakaan untuk mendukung permasalahan yang diteliti oleh penulis. Metode pengabdian masyarakat yang digunakan adalah metode kualitatif yang hasil penelitiannya berupa narasi atau teks. Dan dari hasil pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh penulis kesadaran penduduk di RW 02 dan orang tua murid di PAUD Melati ini sangat kurang. Dan masih butuhnya bimbingan tenaga pengajar dibidang administrasi. Sehingga dengan adanya parenting seminar yang menargetkan para penduduk di RW02 dan orang tua murid di PAUD Melati serta pelatihan guru PAUD menjadi solusi untuk kemajuan dan perkembangan anak serta PAUD Melati di RW 02 yang berada didaerah Kenjeran. Kata Kunci : Kesadaran pendidikan anak usia dini, pelatihan administrasi, parenting seminar
WUJUD BUDAYA DAN PENDIDIKAN KARAKTER DALAM CERITA RAKYAT WATU DODOL
Cerita rakyat sangat perlu dipahami oleh masyarakat atau generasimuda karena di dalamnya memuat berbagai hal tentang budaya masyarakat tempat karya sastra itu hidup.Peran teknologi informasi dan komunikasi pada era digital saat ini tidak dapat dipungkiri telah menggeser peran orang tua dalam mendidik putra-putrinya, khususnya dalam hal pembentukan karakter. Kebiasaan orang tua zaman dahulu mendongengkan cerita rakyat menjelang tidur anak,diakui atau tidak telah semakin ditinggalkan. Sementara instrumen canggih yang bernama internet begitu banyak menawarkan berbagai informasi, pengetahuan, dan budaya tanpa adanya filter. Internet dan televisi terposisikan sebagai guru, namun tanpa memiliki rasio dan rasa. Anak bebas memilih yang baik atau pun yang buruk tanpa pujian, dorongan, atau pun ancaman dan hukuman. Kondisi ini patut diduga menjadi faktor yang berpengaruh terhadap lunturnya standar moral yang berakar pada nilai-nilai lokal. Dalam kondisi demikian, sekolah diharapkan menjadi tempat menggantungkan harapan untuk membentuk karakter anak sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa. Berkaitan dengan hal tersebut, Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan Struktur cerita rakyat Banyuwangi, Aspek Antropologi Budaya cerita rakyat Banyuwangi, Nilai pendidikan karakter cerita rakyat Banyuwangi, Relevansi cerita rakyat Watu Dodol dengan pembelajaran bahasa Indonesia di Sekolah Dasar
PEMEROLEHAN KALIMAT TANYA BAHASA INDONESIA ANAK PRASEKOLAH USIA 5—6 TAHUN
Perkembangan bahasa anak merupakan proses yang unik. Perkembangan tersebut berkaitan dengan perkembangan fisik dan otak anak. Masa perkembangan bahasa yang mendekati sempurna adalah prasekolah (5—6 tahun) karena anak telah memahami gramatikal dan memproduksi bahasa pertamanya. Pada masa ini, anak telah menyampaikan berbagai kalimat, misalnya kalimat tanya. Oleh sebab itu, tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pemerolehan kalimat tanya pada anak prasekolah 5—6 tahun. Jenis penelitian yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif. Data yang diharapkan adalah kalimat tanya yang disampaikan anak. Data dikumpulkan dengan teknik simak dan dianalisis dengan teknik padan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Anak prasekolah berusia lima dan enam tahun telah memperoleh kalimat tanya bahasa Indonesia. Anak prasekolah yang berusia 5 tahun telah mampu menyusun kalimat tanya biasa dengan struktur penggantian unsur kalimat berita dengan kata tanya apa, mana, dan kok serta kalimat tanya konfirmatif dengan kata iyakan yang disampaikan dengan intonasi tanya. Namun jumlahnya tidak banyak. Pemerolehan kalimat tanya pada anak usia enam tahun lebih bervariatif dibanding anak usia limat tahun. Untuk kalimat tanya biasa, anak menggunakan kata tanya apa, siapa, kenapa, dan kok serta kalimat tanya konfirmasi dengan struktur kalimat berita berintonasi tanya. Selain itu, anak juga menggunakan kata ganti apa (kah) untuk kalimat konfirmasi tersebut
PRINSIP KESANTUNAN DALAM FUNGSI TINDAK TUTUR ILOKUSI FILM EIN FREUND VON MIR DAN KOKOWÄÄH
ABSTRAKPenelitian ini mengkaji tindak tutur yang ada pada dialog antartokoh dalam film “Ein Freund von mir dan Kokowääh” yang meliputi (1) jenis tindak tutur ilokusi, (2) fungsi tindak tutur ilokusi, (3) prinsip kesantunan, dan (4) skala kesantunan.Penelitian kualitatif ini, menggunakan metode dokumentasi untuk mengumpulkan data. Melalui metode agih, jenis dan fungsi tindak tutur ilokusi dapat ditentukan. Untuk meneliti prinsip kesantunan dan skala kesantunan menggunakan metode padan pragmatis. Hasilpenelitianmenunjukkanbahwa:(1) pada film Kokowääh jenis tindak tutur yang ditemukan adalah asertif/representatif, ekspresif, direktif, komisif, dan deklarasi, sedangkan pada film Ein Freund von mir yang ditemukan adalah jenis tindak tutur asertif/representatif, direktif, ekspresif, komisif, dan deklarasi. (2) fungsi tindak tutur ilokusi yang didapat mempunyai jumlah berbeda-beda bergantung pada jenis tindak tutur ilokusinya baik pada film Kokowääh maupun pada film ein Freund von mir. (3) prinsip kesantunan yang paling banyak digunakan dalam film “Kokowääh”yaitu maksim kearifan, pujian, kedermawanan, kerendahan hati, dan kesimpatisan, sedangkan dalam film“Ein Freund von mir” adalah maksim pujian, kedermawanan, kearifan, kerendahan hati, dan kesimpatisan. (4) skala kesantunan yang digunakan adalah skala kemanasukaan dengan hasil didominasi oleh skala kemanasukaan tinggi.Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa tuturan-tuturan dalam kedua film tersebut banyak berupa pernyataan yang mempunyai fungsi yang berbeda-beda tergantung dengan konteks di mana tuturan tersebut terjadi. Dari tuturan-tuturan tersebut diketahui bahwa maksim kesepakatanlah yang banyak digunakan dalam bersopan santun dengan skala kesantunan kemanasukaan tinggi, di mana lawan tutur dapat dengan bebas menentukan tindakan berikutnya
ASESSMEN DAN TREATMENT SISWA HIPERAKTIF KB-TK AL BAROKAH MOJOSONGO
Mitra kegiatan PKM ini adalah KB-TK Al Barokah. Kedua mitra ini berada di Mojosongo Surakarta. Permasalahan yang dihadapi mitra yaitu, belum memiliki kemampuan dalam melakukan deteksi dini dan penanganan serta belum memiliki model pembelajaran yang mampu memfasilitasi kebutuhan belajar anak hiperaktif. Tujuan dari program PKM ini adalah untuk membantu mitra dalam memberikan asesmen anak hiperaktif dan mengembangkan model pembelajaran yang tepat untuk anak hiperaktif. Solusi yang diberikan adalah: (a) Memberikan edukasi cara screening deteksi dini anak hiperaktif, (b) Membantu memberikan edukasi treatment untuk anak hiperaktif khususnya dalam kegiatan belajar mengajar.Setelah diberikan edukasi tentang ADHD, tentang ciri dan karakteristinya serta bagaimana melakukan deteksi dini terhadap ADHD, guru-guru yang ada di KB TK Al Barokah kini sudah memiliki pemahaman yang baik tentang anak ADHD dan sudah mampu melakukan deteksi dini terhadap gangguan ADHD
PELUANG DAN TANTANGAN IMPLEMENTASI UU JPH (STUDI ANALISIS ATAS UU NO. 33 TENTANG JAMINAN PRODUK HALAL)
Populasi umat Islam di dunia berjumlah lebih dari 1,6 miliar jiwa dan Indonesia memberikan kontribusi sekitar 12,7 persen dari total muslim dunia. Hal tersebut menjadikan Indonesia negara muslim terbesar di dunia. Sebagai negara yang mayoritas berpenduduk muslim, Indonesia sudah seharusnya memperhatikan kebutuhan warganya dalam mengkonsumsi produk halal. Namun, fakta tersebut tidak berbanding lurus dengan kondisi pertumbuhan halal di Indonesia. Posisi Indonesia saat ini adalah sebagai Big Market bukan Player dalam Industri Halal Global. Hadirnya UU JPH bagaikan angin segar bagi Indonesia untuk merubah posisi dari Big Market menjadi Big Player. Namun, penerapan UU JPH ini selain memiliki peluang juga dihadapkan pada beberapa tantangan. Berkenaan dengan hal ini, peneliti ingin meneliti lebih dalam terkait peluang dan tantangan penerapan UU JPH serta relevansinya dengan kondisi perekonomian Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari berbagai sektor usaha, meliputi pertanian hingga kelautan Indonesia memiliki potensi sangat besar yang memungkinkan untuk diimplementasikan sertifikat halal di dalamnya. Namun UU JPH ini sulit diterapkan pada sektor industri kosmetik, obat-obatan, produk rekayasa genetika, maupun produk kimiawi. Pembebanan biaya atas sertifikasi halal juga dinilai menjadi beban bagi pelaku usaha untuk mendapatkan sertifikasi halal. Relevansi penerapan UU JPH ini masih bisa dilaksanakan dengan beberapa tahapan pelaksanaan sertifikasi halal yang dimulai dari produk makanan dan minuman pada dasarnya merupakan pemberian waktu untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi sertifikasi halal. Dengan adanya UU JPH sekaligus peraturan pelaksananya, yaitu PP No.31 Tahun 2019 diharapkan mampu menggerakkan perekonomian Indonesia dengan menjadikan Indonesia sebagai pusat produk halal dunia
THE CONCEPT OF ETHICS IN LEADERSHIP ACCORDING TO IMAM AL-GHAZALI THOUGHT
Ethics in Leadership are an evolving and important subject to research in the Islamic political studies. This is because ethics in leadership are one of the foundations that deciding the value of good or bad. Many Muslim scholars who have poured his idea to build the concept of ethics in leadership that gives the benefit and happiness in this world and hereafter. Imam al-Ghazali is one of the scholars who has written works on ethics in leadership. His idea of ethics in leadership is built on a solid foundation and has a typical Sufi moral. His Thoughts on ethics in leadership has become a reference and an important example for many leaders in the world until today. This research is library research with the research is a qualitative descriptive approach. The results showed that the concept of ethics in leadership by Imam al-Ghazali oriented to the impact of the soul in the pursuit of happiness in this world and hereafter. Ethics in the thinking of Imam al-Ghazali described as rational and religious science that should be combined in the leadership. The idea of ethics in leadership was not similar to the dominant secular ethics. The requirement to be a leader according to Imam al-Ghazali is focused on aspects of the character and integrity of a leader. The essence is, ethics in leadership should be the path to apply God's law in order to create balance in the world toward eternal happiness in the afterlife.
Keywords: Ethics, Leadership, Imam al-Ghazali, Political Sciences
EFFECTIVENESS OF ROUTE LICENSE ONLINE SERVICES IN PENANAMAN MODAL DAN PELAYANAN TERPADU SATU PINTU (PMPTSP) OFFICE WEST JAVA
Route licence online is a service in DPMPTSP West Java to increase public service in transportation. But there are still problems in licence online services. Such as applicants who prefer services manually compared to online. The results showed that the effectiveness of route licence online in DPMPTSP West Java was seen as ineffective because infrastructure was still lacking, costs were still limited and human resources with special expertise in the computer field were still few. The production process has not been effective due to lack of communication so the public response is low, socialization media needs to be addressed. Judging from the results it is effective because the apparatus serves well, friendly so that the community is satisfied. In productivity, it has not been effective because it is seen from the level of education, the apparatus with educational background in the computer field is still small.
Keywords: effectiveness, route permit online services
ANALYSIS OF COMPETENCE OF APPARATUS IN PUBLIC SERVICES AT THE INVESTMENT OFFICE AND ONE-STOP INTEGRATED LICENSING SERVICE GORONTALO REGENCY
This study aims to analyze the competency of the apparatus in carrying out services to the Investment Office and the One-Stop Integrated Licensing Service (DPMPTSP) of Gorontalo Regency. This study uses a qualitative descriptive method in analyzing the competency of the field of expertise in carrying out tasks and functions of public services related to licensing. The results of the study show that the competency of the apparatus is related to knowledge and work experience. There are 11 (eleven) apparatus competencies that are based on aspects of expertise based on education, this greatly supports the implementation of DPMPTSP's duties and functions in administering government services. In carrying out the function of public service based on the competency of the apparatus, this institution has 3 (three) fields, namely the field of Investment, Licensing Services and Supervision and advocacy. The conclusion of this study, even though the competency aspects have been fulfilled, but still found public complaints related to the quality of services that have not been in line with expectations. So this research recommends increasing the competency of the apparatus through various trainings to increase the capacity of individuals in providing services to the community.
Keywords: Competence, apparatus, public services
PERFORMING POLITICS IN THE AGE OF SOCIAL MEDIA: ENTERTAINMENT, INFORMATION AND GOVERNANCE
This paper discusses the way politics is performed in the age of social media through popular platforms such as Facebook and Twitter. While these platforms function as a site for networking and information sharing, these sites also contain a wealth of data about the users ready to be mined by any interested parties, be it for political or economic gains. This feature is a characteristic of the present world brought about by the Fourth Industrial Revolution. As the world is increasingly becoming online, traditional way of doing and performing politics, ranging from practicing politics to communicating about politics, has changed. The paper outlines five interrelated ways in which politics are now performed online and the implications to governance and democracy. Following the argument of Neil Postman on public discourse in the age of television, this paper argues that in the age of social media, politics is now performed not only in an entertaining manner, but social media has also encouraged speculations and uncertainties among its citizens. Thus, while the potential for social media is there to increase political participation among citizens, it also carries with it the danger of creating a mis-informed public despite the wealth of political information available.
Keywords: social media, Neil Postman, performing politic