Jurnal Online Universitas Jambi
Not a member yet
    13172 research outputs found

    Analysis of Rice Farming Using Jajar Legowo and Coventional Planting System in Muaro Sebo District, Muaro Jambi Regency

    Full text link
    This research aims to: (1) describe the general characteristics of lowland rice farming under the jajar legowo and conventional planting systems in Maro Sebo District, Muaro Jambi Regency; (2) determine farmers’ income under both planting systems; and (3) analyze the income differences between the jajar legowo and conventional systems. The research employed a survey method, with primary data collected through interviews with respondent farmers. Descriptive analysis was used to illustrate the conditions of lowland rice farming under both planting systems, while quantitative analysis was conducted to examine farmers’ income levels. The results show that: (1) the jajar legowo system requires greater production inputs—including seeds, fertilizers, pesticides, and labor—compared with the conventional system, yet it yields a higher volume of harvested dry grain (GKP). (2) Farmers’ income under the jajar legowo system is higher than that under the conventional planting system. (3) Based on the results of the ANOVA test, there is a statistically significant difference in farmers’ income between the two planting systems, indicating that the jajar legowo system provides a higher income than the conventional system. Overall, the findings suggest that although the jajar legowo planting system demands more intensive input use, it delivers higher production and income, making it a more advantageous option for lowland rice farmers in Maro Sebo District

    The Analysis of Illocutionary Speech Act in the Album Song Lyrics Being Funny in a Foreign Language

    No full text
    This study aims to analyze the types of illocutionary speech acts, determining the most dominant type, and realization lyrics in the album Being Funny in a Foreign Language by The 1975. This study uses a qualitative method with Searle’s (1979) theory of speech acts as the main framework. The results showed that four main types of illocutionary acts were found, namely expressive, assertive, commissive, and directive. Expressive acts are the most dominant with around 40,14%, as the lyrics often express sadness, happiness, longing, regret, complaining, anger, and blaming. Then followed by assertive around 38,03%, directive around 13,38%, commissive around 8,45%, and no declaration speech acts are identified in this data analysis. The illocutionary acts are expressed implicitly, using poetic and symbolic language styles. These findings highlight how song lyrics function not only as artistic expression but also as meaningful communication tools within the field of pragmatics. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis jenis tindak tutur ilokusi, menentukan jenis yang paling dominan, dan realisasi lirik dalam album Being Funny in a Foreign Language oleh The 1975. Studi ini menggunakan metode kualitatif dengan teori tindak tutur Searle (1979) sebagai kerangka utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan empat jenis utama tindak ilokusi, yaitu ekspresif, asertif, komisif, dan direktif. Tindakan ekspresif adalah yang paling dominan dengan sekitar 40,14%, karena liriknya sering mengungkapkan kesedihan, kebahagiaan, kerinduan, penyesalan, keluhan, kemarahan, dan menyalahkan. Kemudian diikuti oleh asertif sekitar 38,03%, direktif sekitar 13,38%, komisif sekitar 8,45%, dan tidak ada tindak tutur deklaratif yang teridentifikasi dalam analisis data ini. Tindakan ilokusioner diungkapkan secara implisit, menggunakan gaya bahasa puitis dan simbolis. Temuan ini menyoroti bagaimana lirik lagu berfungsi tidak hanya sebagai ekspresi artistik tetapi juga sebagai alat komunikasi yang bermakna dalam bidang pragmatik.This study aims to analyze the types of illocutionary speech acts, determining the most dominant type, and realization lyrics in the album Being Funny in a Foreign Language by The 1975. This study uses a qualitative method with Searle’s (1979) theory of speech acts as the main framework. The results showed that four main types of illocutionary acts were found, namely expressive, assertive, commissive, and directive. Expressive acts are the most dominant with around 40,14%, as the lyrics often express sadness, happiness, longing, regret, complaining, anger, and blaming. Then followed by assertive around 38,03%, directive around 13,38%, commissive around 8,45%, and no declaration speech acts are identified in this data analysis. The illocutionary acts are expressed implicitly, using poetic and symbolic language styles. These findings highlight how song lyrics function not only as artistic expression but also as meaningful communication tools within the field of pragmatics. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis jenis tindak tutur ilokusi, menentukan jenis yang paling dominan, dan realisasi lirik dalam album Being Funny in a Foreign Language oleh The 1975. Studi ini menggunakan metode kualitatif dengan teori tindak tutur Searle (1979) sebagai kerangka utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan empat jenis utama tindak ilokusi, yaitu ekspresif, asertif, komisif, dan direktif. Tindakan ekspresif adalah yang paling dominan dengan sekitar 40,14%, karena liriknya sering mengungkapkan kesedihan, kebahagiaan, kerinduan, penyesalan, keluhan, kemarahan, dan menyalahkan. Kemudian diikuti oleh asertif sekitar 38,03%, direktif sekitar 13,38%, komisif sekitar 8,45%, dan tidak ada tindak tutur deklaratif yang teridentifikasi dalam analisis data ini. Tindakan ilokusioner diungkapkan secara implisit, menggunakan gaya bahasa puitis dan simbolis. Temuan ini menyoroti bagaimana lirik lagu berfungsi tidak hanya sebagai ekspresi artistik tetapi juga sebagai alat komunikasi yang bermakna dalam bidang pragmatik

    Analisis Gramatikal Ambiguitas dalam Program Legislasi Nasional Tahun 2026

    No full text
    This study aims to analyze grammatical ambiguities found in the 2026 Draft State Budget Law (Rancangan Undang-Undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, RUU APBN), which is part of the 2026 National Legislation Programme (Prolegnas). The clarity of legal language plays a crucial role in public policy formulation, as syntactic inaccuracies may lead to semantic confusion and open the possibility for multiple interpretations of policy intent. Using a descriptive qualitative approach and grammatical analysis methods, this study examines sentences within the 2026 Draft State Budget Law that demonstrate potential ambiguity. The analysis focuses on decomposing syntactic structures and classifying types of ambiguity according to their grammatical characteristics. The results indicate that grammatical ambiguities in the 2026 Draft State Budget Law fall into two major categories: referential ambiguity and structural ambiguity. Referential ambiguity arises from unclear referents or indeterminate meanings of sentence elements, whereas structural ambiguity results from imprecise syntactic arrangements that allow for more than one possible interpretation. These ambiguities may lead to differing understandings of policy content and the intended legal norms of the legislators. Therefore, this study highlights the importance of accuracy and consistency in the drafting of governmental legal language, especially in fiscal policy documents, to ensure that policy meanings are communicated explicitly, avoid multiple interpretations, and support both legal certainty and effective policy implementation. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ambiguitas gramatikal yang terdapat dalam Rancangan Undang-Undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RUU APBN) Tahun 2026 yang menjadi bagian dari Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2026. Kejelasan bahasa hukum memegang peranan penting dalam perumusan kebijakan publik, sebab ketidaktepatan struktur sintaksis dapat menimbulkan kerancuan makna dan membuka peluang penafsiran ganda terhadap maksud kebijakan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode analisis gramatikal. Data yang dianalisis berupa kalimat-kalimat dalam naskah RUU APBN 2026 yang menunjukkan potensi ambiguitas. Analisis difokuskan pada penguraian unsur sintaksis serta pengelompokan jenis ambiguitas berdasarkan karakteristik gramatikalnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ambiguitas gramatikal dalam naskah RUU APBN 2026 terbagi menjadi dua bentuk utama, yaitu ambiguitas referensial dan ambiguitas struktural. Ambiguitas referensial muncul akibat ketidakjelasan acuan atau penentuan makna unsur kalimat, sedangkan ambiguitas struktural timbul karena penyusunan unsur kalimat yang tidak tegas sehingga memungkinkan lebih dari satu interpretasi. Ambiguitas tersebut berpotensi menimbulkan perbedaan pemahaman terhadap isi kebijakan dan arah norma hukum yang dimaksudkan pembuat undang-undang. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan pentingnya ketelitian dan konsistensi dalam penyusunan bahasa hukum pemerintah di masa yang akan datang, khususnya dalam dokumen kebijakan fiskal, agar makna kebijakan dapat disampaikan secara eksplisit, tidak menimbulkan multitafsir, serta mendukung kepastian hukum dan efektivitas implementasi kebijakan pemerintah.This study aims to analyze grammatical ambiguities found in the 2026 Draft State Budget Law (Rancangan Undang-Undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, RUU APBN), which is part of the 2026 National Legislation Programme (Prolegnas). The clarity of legal language plays a crucial role in public policy formulation, as syntactic inaccuracies may lead to semantic confusion and open the possibility for multiple interpretations of policy intent. Using a descriptive qualitative approach and grammatical analysis methods, this study examines sentences within the 2026 Draft State Budget Law that demonstrate potential ambiguity. The analysis focuses on decomposing syntactic structures and classifying types of ambiguity according to their grammatical characteristics. The results indicate that grammatical ambiguities in the 2026 Draft State Budget Law fall into two major categories: referential ambiguity and structural ambiguity. Referential ambiguity arises from unclear referents or indeterminate meanings of sentence elements, whereas structural ambiguity results from imprecise syntactic arrangements that allow for more than one possible interpretation. These ambiguities may lead to differing understandings of policy content and the intended legal norms of the legislators. Therefore, this study highlights the importance of accuracy and consistency in the drafting of governmental legal language, especially in fiscal policy documents, to ensure that policy meanings are communicated explicitly, avoid multiple interpretations, and support both legal certainty and effective policy implementation. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ambiguitas gramatikal yang terdapat dalam Rancangan Undang-Undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RUU APBN) Tahun 2026 yang menjadi bagian dari Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2026. Kejelasan bahasa hukum memegang peranan penting dalam perumusan kebijakan publik, sebab ketidaktepatan struktur sintaksis dapat menimbulkan kerancuan makna dan membuka peluang penafsiran ganda terhadap maksud kebijakan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode analisis gramatikal. Data yang dianalisis berupa kalimat-kalimat dalam naskah RUU APBN 2026 yang menunjukkan potensi ambiguitas. Analisis difokuskan pada penguraian unsur sintaksis serta pengelompokan jenis ambiguitas berdasarkan karakteristik gramatikalnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ambiguitas gramatikal dalam naskah RUU APBN 2026 terbagi menjadi dua bentuk utama, yaitu ambiguitas referensial dan ambiguitas struktural. Ambiguitas referensial muncul akibat ketidakjelasan acuan atau penentuan makna unsur kalimat, sedangkan ambiguitas struktural timbul karena penyusunan unsur kalimat yang tidak tegas sehingga memungkinkan lebih dari satu interpretasi. Ambiguitas tersebut berpotensi menimbulkan perbedaan pemahaman terhadap isi kebijakan dan arah norma hukum yang dimaksudkan pembuat undang-undang. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan pentingnya ketelitian dan konsistensi dalam penyusunan bahasa hukum pemerintah di masa yang akan datang, khususnya dalam dokumen kebijakan fiskal, agar makna kebijakan dapat disampaikan secara eksplisit, tidak menimbulkan multitafsir, serta mendukung kepastian hukum dan efektivitas implementasi kebijakan pemerintah

    What Drives Youth to Farm? Exploring Social, Economic, and Personal Factors

    Full text link
    Cross-regional survey studies found that determinants of factors consistently influence youth decisions to enter/stay in agriculture: land access, capital/financial access, education & technical training, and family/community support. By analyzing the literatures, regression analysis and mixed-methods studies generally show that without improved land access and financing, training programs alone are difficult to drive long-term retention. A number of Indonesian case studies (and reviews on agricultural digitalization) show that digitalization (marketing platforms, agronomic information, management systems) can increase the attractiveness of agriculture for younger generations and help them become agripreneurs—but the evidence on the medium-term economic impact (income, business stability) is still limited and most studies are descriptive or qualitative. There are reports that emphasize the great potential but also the obstacles to implementation (digital literacy, infrastructure investment)

    Forecasting Vegetable Crop Production in Jambi Province Using Linear Trend Analysis

    Full text link
    This analysis is crucial given the strategic role of the horticulture sector in providing nutritious food and its potential contribution to the Free Nutritious Food Program (MBG). The approach used is descriptive quantitative with a linear trend analysis method. Secondary data on annual vegetable production were obtained from the Central Bureau of Statistics (BPS) of Jambi Province. The linear trend equation Yt = aXt + b was calculated using the least squares method to measure the average annual change in production (a) and the model's coefficient of determination (R²). The analysis results show that all 10 commodities recorded a positive average annual increase trend. Large Chili had the highest growth rate, averaging 15,098 tons per year. The model showed a strong fit for commodities such as Chinese Cabbage/Mustard Greens (R²=0.8225) and Spring Onions (R²=0.8237). However, significant fluctuations were identified in Cabbage (R²=0.4983) and Bird's Eye Chili (R²=0.4799), indicating a high influence of non-linear factors. A very sharp surge in production occurred in the last two years (2023–2024), especially for Bird's Eye Chili and Eggplant, which recorded the highest production. Based on the strong linear trend projections, vegetable production in Jambi Province is predicted to continue increasing and stabilize at a high level, with Large Chili projected to reach 213,294 tons by 2027. The implications of this research are the need for risk mitigation of volatility (especially for Cabbage and Bird's Eye Chili) and an increase in post-harvest and distribution infrastructure capacity to accommodate larger production volumes in the future

    Analysis of Internal and External Factors of Farmers that Influence the Productivity of Self-Help Palm Oil Plantations in Merlung District, West Tanjung Jabung Regency

    Full text link
    This study aims to describe the conditions of self-help oil palm farming in Merlung District, West Tanjung Jabung Regency, and analyze the role of internal and external factors on productivity, including their influence through the moderating variable of production input use. Internal factors studied include age, education, farming experience, motivation, number of family members, and farmer ethnicity, while external factors include marketing access, FFB selling price, and access to the carrying market. The analysis was conducted using the Partial Least Square (PLS) method with a sample of 43 farmers. The results showed that oil palm farming is managed conventionally with an average land area of ​​2.6 ha per farmer. Maintenance activities include fertilization 1–4 times per year, spraying and pruning 1–2 times per year, and harvesting twice per month using family labor and outside labor. Internal factors were proven to have a positive and significant effect on productivity, while external factors did not have a direct effect. However, through moderation in the use of production inputs such as urea, NPK, and dolomite fertilizers, internal factors still have a positive, although not significant, influence, while external factors show a positive and significant influence on the productivity of self-help oil palm farming

    Representing Generations Through Slang: A Comparative Study of MTV and Tiktok in Indonesian Pop Culture

    No full text
    This article examines how slang shapes generational linguistic identity in Indonesia by comparing two media environments: MTV in the early 2000s and TikTok in the current digital era. Using sociolinguistic perspectives on media and youth identity, the study analyzes how each platform influences the creation, spread, and social meaning of slang. MTV, as a one-way broadcast medium, produced relatively stable slang tied to localized adaptations of global youth culture. In contrast, TikTok operates as a participatory, algorithm-driven space where slang changes quickly through abbreviation, blending, code-mixing, and sound alteration. These forms circulate virally and gain meaning through collective user practices. Despite differences in structure and pace, both eras show that slang functions as a marker of group belonging, humor, and generational distinction. The study demonstrates how shifting media infrastructures shape linguistic innovation and the ongoing negotiation of youth identity in Indonesian popular culture. Abstrak Artikel ini membahas bagaimana slang membentuk identitas linguistik generasi di Indonesia dengan membandingkan dua lingkungan media: MTV pada awal 2000-an dan TikTok pada era digital saat ini. Dengan menggunakan perspektif sosiolinguistik tentang media dan identitas anak muda, studi ini menganalisis bagaimana setiap platform memengaruhi penciptaan, penyebaran, dan makna sosial dari slang. MTV, sebagai media siaran satu arah, menghasilkan bentuk slang yang relatif stabil dan terkait dengan adaptasi lokal dari budaya anak muda global. Sebaliknya, TikTok berfungsi sebagai ruang partisipatif yang digerakkan algoritma, di mana slang berubah cepat melalui pemendekan, pencampuran, alih kode, dan perubahan bunyi. Bentuk-bentuk ini menyebar secara viral dan memperoleh makna lewat praktik pengguna. Meski berbeda dalam struktur dan kecepatan, kedua era menunjukkan bahwa slang berfungsi sebagai penanda kebersamaan kelompok, humor, dan pembeda antar generasi. Studi ini menunjukkan bagaimana perubahan infrastruktur media membentuk inovasi bahasa dan negosiasi identitas anak muda dalam budaya populer Indonesia.This article examines how slang shapes generational linguistic identity in Indonesia by comparing two media environments: MTV in the early 2000s and TikTok in the current digital era. Using sociolinguistic perspectives on media and youth identity, the study analyzes how each platform influences the creation, spread, and social meaning of slang. MTV, as a one-way broadcast medium, produced relatively stable slang tied to localized adaptations of global youth culture. In contrast, TikTok operates as a participatory, algorithm-driven space where slang changes quickly through abbreviation, blending, code-mixing, and sound alteration. These forms circulate virally and gain meaning through collective user practices. Despite differences in structure and pace, both eras show that slang functions as a marker of group belonging, humor, and generational distinction. The study demonstrates how shifting media infrastructures shape linguistic innovation and the ongoing negotiation of youth identity in Indonesian popular culture. Abstrak Artikel ini membahas bagaimana slang membentuk identitas linguistik generasi di Indonesia dengan membandingkan dua lingkungan media: MTV pada awal 2000-an dan TikTok pada era digital saat ini. Dengan menggunakan perspektif sosiolinguistik tentang media dan identitas anak muda, studi ini menganalisis bagaimana setiap platform memengaruhi penciptaan, penyebaran, dan makna sosial dari slang. MTV, sebagai media siaran satu arah, menghasilkan bentuk slang yang relatif stabil dan terkait dengan adaptasi lokal dari budaya anak muda global. Sebaliknya, TikTok berfungsi sebagai ruang partisipatif yang digerakkan algoritma, di mana slang berubah cepat melalui pemendekan, pencampuran, alih kode, dan perubahan bunyi. Bentuk-bentuk ini menyebar secara viral dan memperoleh makna lewat praktik pengguna. Meski berbeda dalam struktur dan kecepatan, kedua era menunjukkan bahwa slang berfungsi sebagai penanda kebersamaan kelompok, humor, dan pembeda antar generasi. Studi ini menunjukkan bagaimana perubahan infrastruktur media membentuk inovasi bahasa dan negosiasi identitas anak muda dalam budaya populer Indonesia

    NO Way! BIRGing and CORFing by Football Fans in Their Reaction Videos toward Last Minute Goals

    No full text
    Football fandom has evolved into a digital space where emotions and identity are openly displayed. This study aims to examine how football fans express and manage emotions through expression and impression when reacting to last-minute goals. The problem addressed is how fans’ emotional behaviors reflect Basking in Reflected Glory (BIRGing) and Cutting Off Reflected Failure (CORFing) within social identity theory. Using a descriptive qualitative method, data were collected from fan reaction videos on social media, analyzed through verbal and non-verbal cues. The findings reveal that victory triggers expressions of pride and unity (BIRGing), while defeat leads to disappointment and emotional distancing (CORFing). These emotional reactions not only reveal spontaneous feelings but also reflect deeper psychological connections between fans and their supported teams. They demonstrate how football fans perform their social identity and collective emotion in digital spaces, making emotional expression part of online cultural participation. Overall, the study argues that reaction videos are not merely sources of entertainment but serve as performative acts of identity negotiation and emotional expression, reflecting how digital culture shapes modern fandom and social belonging. Abstrak Budaya penggemar sepak bola kini berkembang dalam ruang digital, tempat emosi dan identitas ditampilkan secara terbuka. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana penggemar sepak bola mengekspresikan dan mengelola emosi melalui expression dan impression saat menanggapi gol di menit-menit terakhir. Permasalahan yang diangkat adalah bagaimana perilaku emosional penggemar mencerminkan konsep Basking in Reflected Glory (BIRGing) dan Cutting Off Reflected Failure (CORFing) dalam kerangka teori identitas sosial. Dengan metode kualitatif deskriptif, data diperoleh dari video reaksi penggemar di media sosial dan dianalisis berdasarkan isyarat verbal dan nonverbal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemenangan memunculkan ekspresi kebanggaan dan kebersamaan (BIRGing), sedangkan kekalahan menimbulkan kekecewaan dan jarak emosional (CORFing). Reaksi emosional ini tidak hanya menunjukkan perasaan spontan, tetapi juga mencerminkan keterikatan psikologis yang lebih dalam antara penggemar dan tim yang mereka dukung. Hal ini memperlihatkan bagaimana penggemar sepak bola menampilkan identitas sosial dan emosi kolektifnya di ruang digital, menjadikan ekspresi emosi sebagai bagian dari partisipasi budaya daring. Secara keseluruhan, penelitian ini berpendapat bahwa video reaksi bukan sekadar hiburan, tetapi merupakan tindakan performatif dalam negosiasi identitas dan ekspresi emosi yang mencerminkan bagaimana budaya digital membentuk fandom modern dan rasa kebersamaan sosial.Football fandom has evolved into a digital space where emotions and identity are openly displayed. This study aims to examine how football fans express and manage emotions through expression and impression when reacting to last-minute goals. The problem addressed is how fans’ emotional behaviors reflect Basking in Reflected Glory (BIRGing) and Cutting Off Reflected Failure (CORFing) within social identity theory. Using a descriptive qualitative method, data were collected from fan reaction videos on social media, analyzed through verbal and non-verbal cues. The findings reveal that victory triggers expressions of pride and unity (BIRGing), while defeat leads to disappointment and emotional distancing (CORFing). These emotional reactions not only reveal spontaneous feelings but also reflect deeper psychological connections between fans and their supported teams. They demonstrate how football fans perform their social identity and collective emotion in digital spaces, making emotional expression part of online cultural participation. Overall, the study argues that reaction videos are not merely sources of entertainment but serve as performative acts of identity negotiation and emotional expression, reflecting how digital culture shapes modern fandom and social belonging. Abstrak Budaya penggemar sepak bola kini berkembang dalam ruang digital, tempat emosi dan identitas ditampilkan secara terbuka. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana penggemar sepak bola mengekspresikan dan mengelola emosi melalui expression dan impression saat menanggapi gol di menit-menit terakhir. Permasalahan yang diangkat adalah bagaimana perilaku emosional penggemar mencerminkan konsep Basking in Reflected Glory (BIRGing) dan Cutting Off Reflected Failure (CORFing) dalam kerangka teori identitas sosial. Dengan metode kualitatif deskriptif, data diperoleh dari video reaksi penggemar di media sosial dan dianalisis berdasarkan isyarat verbal dan nonverbal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemenangan memunculkan ekspresi kebanggaan dan kebersamaan (BIRGing), sedangkan kekalahan menimbulkan kekecewaan dan jarak emosional (CORFing). Reaksi emosional ini tidak hanya menunjukkan perasaan spontan, tetapi juga mencerminkan keterikatan psikologis yang lebih dalam antara penggemar dan tim yang mereka dukung. Hal ini memperlihatkan bagaimana penggemar sepak bola menampilkan identitas sosial dan emosi kolektifnya di ruang digital, menjadikan ekspresi emosi sebagai bagian dari partisipasi budaya daring. Secara keseluruhan, penelitian ini berpendapat bahwa video reaksi bukan sekadar hiburan, tetapi merupakan tindakan performatif dalam negosiasi identitas dan ekspresi emosi yang mencerminkan bagaimana budaya digital membentuk fandom modern dan rasa kebersamaan sosial

    Konstruksi Laki-Laki Ideal dalam Iklan Skincare Pemutih: Kajian Bahasa, Visual, dan Narasi di Media Sosial

    No full text
    The increasing phenomenon of men using skincare in the digital era indicates a shift in masculinity values, previously associated with physical toughness, toward aesthetics, self-care, and visual performativity. Whitening skincare advertisements on social media, particularly TikTok, play a significant role in constructing the ideal male: a man with bright, clean, athletic, and professional skin. This study aims to uncover how the language, visuals, and narratives of advertisements construct representations of modern masculinity through Fairclough's critical discourse analysis. The research method uses a qualitative approach, collecting data in the form of six whitening skincare advertisements for men, which are then analyzed across three dimensions: text, discursive practices, and socio-cultural practices. The results show that at the textual level, advertisements employ motivational and heroic lexicons, such as  dare to win it, fresh & clean, and "total masculine manhood," to reposition skincare as a masculine and competitive activity. Visual representations emphasize bright, glowing skin, an athletic body, a clean face, and a minimalist aesthetic as symbols of modernity and self-control. At the level of social practice, advertisements are proven to reproduce the ideology of colorism and whiteness by positioning light skin as a standard of success, hygiene, and social status in modern masculinity. The research conclusion confirms that whitening skincare advertisements not only offer beauty products but also become an arena for identity production that normalizes new standards of masculinity on social media. Abstrak Penelitian ini menganalisis bagaimana iklan skincare pemutih di media sosial membentuk konstruksi laki-laki ideal melalui perpaduan bahasa, visual, dan narasi yang menormalisasi perawatan kulit sebagai bagian dari maskulinitas modern. Menggunakan pendekatan Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough, penelitian ini mengkaji tiga dimensi wacana, yaitu teks, praktik diskursif, dan praktik sosial-budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada level teks, iklan menggunakan leksikon motivasional (berani memenangkannya, fresh, brightens instantly) dan struktur tuturan heroik-kompetitif yang mereposisi skincare sebagai aktivitas maskulin, dinamis, dan terkait performativitas. Representasi visual memperkuat wacana ini melalui penampilan tubuh atletis, kulit cerah, close-up wajah glowing, serta estetika minimalis, sehingga menampilkan figur laki-laki modern yang bersih, kuat, dan profesional. Pada level praktik diskursif, industri skincare dan influencer marketing berperan sebagai produsen wacana yang menormalisasi penggunaan skincare melalui narasi autentisitas dan aspirasi diri. Sementara itu, laki-laki muda sebagai konsumen aktif menginternalisasi standar estetika baru tersebut melalui interpretative repertoires. Pada dimensi praktik sosial-budaya, iklan terbukti mereproduksi ideologi colorism dan whiteness dengan memposisikan kulit cerah sebagai simbol status, higienitas, dan kesuksesan. Temuan ini menegaskan bahwa iklan skincare pemutih merupakan arena penting dalam produksi identitas maskulin di era digital.The increasing phenomenon of men using skincare in the digital era indicates a shift in masculinity values, previously associated with physical toughness, toward aesthetics, self-care, and visual performativity. Whitening skincare advertisements on social media, particularly TikTok, play a significant role in constructing the ideal male: a man with bright, clean, athletic, and professional skin. This study aims to uncover how the language, visuals, and narratives of advertisements construct representations of modern masculinity through Fairclough's critical discourse analysis. The research method uses a qualitative approach, collecting data in the form of six whitening skincare advertisements for men, which are then analyzed across three dimensions: text, discursive practices, and socio-cultural practices. The results show that at the textual level, advertisements employ motivational and heroic lexicons, such as  dare to win it, fresh & clean, and "total masculine manhood," to reposition skincare as a masculine and competitive activity. Visual representations emphasize bright, glowing skin, an athletic body, a clean face, and a minimalist aesthetic as symbols of modernity and self-control. At the level of social practice, advertisements are proven to reproduce the ideology of colorism and whiteness by positioning light skin as a standard of success, hygiene, and social status in modern masculinity. The research conclusion confirms that whitening skincare advertisements not only offer beauty products but also become an arena for identity production that normalizes new standards of masculinity on social media. Abstrak Penelitian ini menganalisis bagaimana iklan skincare pemutih di media sosial membentuk konstruksi laki-laki ideal melalui perpaduan bahasa, visual, dan narasi yang menormalisasi perawatan kulit sebagai bagian dari maskulinitas modern. Menggunakan pendekatan Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough, penelitian ini mengkaji tiga dimensi wacana, yaitu teks, praktik diskursif, dan praktik sosial-budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada level teks, iklan menggunakan leksikon motivasional (berani memenangkannya, fresh, brightens instantly) dan struktur tuturan heroik-kompetitif yang mereposisi skincare sebagai aktivitas maskulin, dinamis, dan terkait performativitas. Representasi visual memperkuat wacana ini melalui penampilan tubuh atletis, kulit cerah, close-up wajah glowing, serta estetika minimalis, sehingga menampilkan figur laki-laki modern yang bersih, kuat, dan profesional. Pada level praktik diskursif, industri skincare dan influencer marketing berperan sebagai produsen wacana yang menormalisasi penggunaan skincare melalui narasi autentisitas dan aspirasi diri. Sementara itu, laki-laki muda sebagai konsumen aktif menginternalisasi standar estetika baru tersebut melalui interpretative repertoires. Pada dimensi praktik sosial-budaya, iklan terbukti mereproduksi ideologi colorism dan whiteness dengan memposisikan kulit cerah sebagai simbol status, higienitas, dan kesuksesan. Temuan ini menegaskan bahwa iklan skincare pemutih merupakan arena penting dalam produksi identitas maskulin di era digital

    Dampak Adaptasi Kesantunan pada Pola Interaksi Asertif-Direktif Diskusi Percakapan Kelompok Siswa di SMP Negeri 9 Penajam Paser Utara

    No full text
    Group discussions in class require tasks to be completed quickly, so that interactions between students are often dominated by speech that directs action and has the potential to create tension. This study aims to describe (1) the realization of directive and assertive speech acts in group discussions among students in class IX-A of SMP Negeri 9 Penajam Paser Utara, (2) the politeness strategies accompanying these utterances, and (3) their impact on interaction patterns. This study uses a descriptive qualitative approach. The data, in the form of group discussion transcripts (8 episodes) with a total of 42 utterances, were collected through observation and transcribed, then classified based on the type of speech act and analyzed using the speech act framework and Brown and Levinson's politeness theory (face and face-threatening act). The results show that directive speech acts tend to be dominant, especially the subcategory of requesting (9 utterances), followed by ordering (5), directing sequence (4), prohibiting (2), and silencing (2). Assertive speech acts appeared in the form of judging (5), accusing (4), denying (1), stating (1), explaining/giving examples (1), classifying (1), expressive reactions (1), and affirming references (1). Politeness strategies were evident through the use of question forms for clarification/confirmation, positive politeness (e.g., reinforcement/solidarity), and lexical mitigation; however, under certain conditions, direct utterances without mitigation appeared, which increased face threat. As a result, mitigated directive utterances reinforce cooperative-coordinative interaction patterns, while a combination of assertive attacks (e.g., accusations/labels) and coercive directives encourages conflict escalation with patterns of attack-defense-silencing. These findings emphasize the importance of teacher facilitation in discussion learning so that coordinative assertiveness remains in line with linguistic politeness. Abstrak Diskusi kelompok di kelas menuntut penyelesaian tugas secara cepat sehingga interaksi antarsiswa kerap didominasi tuturan yang bersifat mengarahkan tindakan sekaligus berpotensi memunculkan ketegangan. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan (1) realisasi tindak tutur direktif dan asertif dalam diskusi kelompok siswa kelas IX-A SMP Negeri 9 Penajam Paser Utara, (2) strategi kesantunan yang menyertai tuturan tersebut, serta (3) dampaknya terhadap pola interaksi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data berupa transkrip diskusi kelompok (8 episode) dengan total 42 tuturan, dikumpulkan melalui teknik simak dan ditranskripsikan, kemudian diklasifikasikan berdasarkan jenis tindak tutur dan dianalisis menggunakan kerangka tindak tutur serta teori kesantunan Brown dan Levinson (face dan face-threatening act). Hasil menunjukkan bahwa tindak tutur direktif cenderung dominan, terutama subkategori meminta (9 tuturan), diikuti menyuruh (5), mengarahkan urutan (4), melarang (2), dan membungkam (2). Tindak tutur asertif muncul dalam bentuk menilai (5), menuduh (4), menyangkal (1), menyatakan (1), menjelaskan/mencontohkan (1), mengklasifikasikan (1), ekspresif reaksi (1), dan menegaskan rujukan (1). Strategi kesantunan tampak melalui penggunaan bentuk tanya untuk klarifikasi/konfirmasi, kesantunan positif (misalnya penguatan/solidaritas), dan mitigasi leksikal; namun pada kondisi tertentu muncul tuturan langsung tanpa mitigasi yang meningkatkan ancaman muka. Dampaknya, tuturan direktif yang termitigasi memperkuat pola interaksi kooperatif–koordinatif, sedangkan kombinasi asertif menyerang (mis. tuduhan/label) dan direktif koersif mendorong eskalasi konflik dengan pola penyerangan–pertahanan–pembungkaman. Temuan ini menegaskan pentingnya fasilitasi guru dalam pembelajaran diskusi agar ketegasan koordinatif tetap sejalan dengan kesantunan berbahasa.Group discussions in class require tasks to be completed quickly, so that interactions between students are often dominated by speech that directs action and has the potential to create tension. This study aims to describe (1) the realization of directive and assertive speech acts in group discussions among students in class IX-A of SMP Negeri 9 Penajam Paser Utara, (2) the politeness strategies accompanying these utterances, and (3) their impact on interaction patterns. This study uses a descriptive qualitative approach. The data, in the form of group discussion transcripts (8 episodes) with a total of 42 utterances, were collected through observation and transcribed, then classified based on the type of speech act and analyzed using the speech act framework and Brown and Levinson's politeness theory (face and face-threatening act). The results show that directive speech acts tend to be dominant, especially the subcategory of requesting (9 utterances), followed by ordering (5), directing sequence (4), prohibiting (2), and silencing (2). Assertive speech acts appeared in the form of judging (5), accusing (4), denying (1), stating (1), explaining/giving examples (1), classifying (1), expressive reactions (1), and affirming references (1). Politeness strategies were evident through the use of question forms for clarification/confirmation, positive politeness (e.g., reinforcement/solidarity), and lexical mitigation; however, under certain conditions, direct utterances without mitigation appeared, which increased face threat. As a result, mitigated directive utterances reinforce cooperative-coordinative interaction patterns, while a combination of assertive attacks (e.g., accusations/labels) and coercive directives encourages conflict escalation with patterns of attack-defense-silencing. These findings emphasize the importance of teacher facilitation in discussion learning so that coordinative assertiveness remains in line with linguistic politeness. Abstrak Diskusi kelompok di kelas menuntut penyelesaian tugas secara cepat sehingga interaksi antarsiswa kerap didominasi tuturan yang bersifat mengarahkan tindakan sekaligus berpotensi memunculkan ketegangan. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan (1) realisasi tindak tutur direktif dan asertif dalam diskusi kelompok siswa kelas IX-A SMP Negeri 9 Penajam Paser Utara, (2) strategi kesantunan yang menyertai tuturan tersebut, serta (3) dampaknya terhadap pola interaksi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data berupa transkrip diskusi kelompok (8 episode) dengan total 42 tuturan, dikumpulkan melalui teknik simak dan ditranskripsikan, kemudian diklasifikasikan berdasarkan jenis tindak tutur dan dianalisis menggunakan kerangka tindak tutur serta teori kesantunan Brown dan Levinson (face dan face-threatening act). Hasil menunjukkan bahwa tindak tutur direktif cenderung dominan, terutama subkategori meminta (9 tuturan), diikuti menyuruh (5), mengarahkan urutan (4), melarang (2), dan membungkam (2). Tindak tutur asertif muncul dalam bentuk menilai (5), menuduh (4), menyangkal (1), menyatakan (1), menjelaskan/mencontohkan (1), mengklasifikasikan (1), ekspresif reaksi (1), dan menegaskan rujukan (1). Strategi kesantunan tampak melalui penggunaan bentuk tanya untuk klarifikasi/konfirmasi, kesantunan positif (misalnya penguatan/solidaritas), dan mitigasi leksikal; namun pada kondisi tertentu muncul tuturan langsung tanpa mitigasi yang meningkatkan ancaman muka. Dampaknya, tuturan direktif yang termitigasi memperkuat pola interaksi kooperatif–koordinatif, sedangkan kombinasi asertif menyerang (mis. tuduhan/label) dan direktif koersif mendorong eskalasi konflik dengan pola penyerangan–pertahanan–pembungkaman. Temuan ini menegaskan pentingnya fasilitasi guru dalam pembelajaran diskusi agar ketegasan koordinatif tetap sejalan dengan kesantunan berbahasa

    11,014

    full texts

    13,172

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Online Universitas Jambi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇