Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta
UPN (Universitas Pembangunan Nasional) Veteran Yogyakarta: Institutional RepositoryNot a member yet
7373 research outputs found
Sort by
PENGARUH EKUITAS MEREK AIR MINUM DALAM KEMASAN CLU TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN PADA MAHASISWA FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” YOGYAKARTA
Air adalah kebutuhan utama manusia,sehingga air sangat penting bagi manusia dan setiap orang
pasti menggunakannya. Banyak produsen yang akhirnya memproduksi Air Minum Dalam
Kemasan yang akhirnya menimbulkan persaingan antar produsen – produsen tersebut.
Persaingan membuat produsen untuk terus memaksimalkan produknnya agar konsumen tertarik
dengan produknya. Salah satu yang dilakukan produsen adalah melalui Merek. Merek dengan
ekuitas merek yang tinggi adalah aset yang amat berharga. Ekuitas merek yang tinggi
memberikan perusahaan begitu banyak keunggulan bersaing. Elemen ekuitas merek yang di teliti
di penelitian ini adalah kesadaaran merek asosiasi persepsi kualitas dan loyalitas,. Tujuan dari
penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh Kesadaran merek, Asosiasi
merek, Persepsi Kualitas dan Loyalitas air minum dalam kemasan Club terhadap keputusan
pembelian konsumen.
Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah Mahasiswa Fakultas Ekonomi
Universitas Pembangunan Nasional “ Veteran” Yogyakarta. Sampel yang digunakan adalah
mahasiswa yang pernah mengkonsumsi atau membeli air minum dalam kemasan Club sebanyak
100 mahasiswa.Metode yang digunakan yaitu purposive sampling.
Hasil Penelitian menunjukkan bahwa Kesadaran merek mempunyai pengaruh positif dan
signifikan terhadap Keputusan Pemebelian konsumen. Asosiasi merek mempunyai pengaruh
positif dan signifikan terhadap Keputusan Pembelian konsumen. Peresepsi Kualitas mempunyai
pengaruh positif dan signifikan terhadap Keputusan Pembelian konsumen. Loyalitas mempunyai
pengaruh positif dan tidak signifikan terhadap keputusan Pembelian Konsumen.
Kata Kunci : Kesadaran merek, Asosiasi Merek, Persepsi kualitas, Loyalitas, Keputusan
Pembalia
POLA KOMUNIKASI INTERPERSONAL DI PONDOK PESANTREN (Studi Kasus di Pondok Pesantren dan Panti Asuhan Yatim Piatu dan Dhuafa Muhammadiyah Prambanan)
ABSTRAK
Pondok pesantren adalah suatu lembaga pendidikan swasta yang didirikan
oleh seorang Kyai sebagai figur sentral yang berdaulat menetapkan tujuan pendidikan
pondoknya, menciptakan kepribadian muslim, menyebarkan agama atau menegakkan
Islam dan kejayaan umat Islam di tengah-tengah masyarakat dan mencintai ilmu
dalam rangka mengembangkan kepribadian Indonesia. Komunikasi interpersonal
adalah suatu dialog yang dilakukan antar individu atau antar individu dengan
kelompok dengan tujuan dan cara tertentu untuk mendapatkan hasil yang diinginkan.
Komunikasi interpersonal memungkinkan pengasuh maupun pengurus untuk
menjelaskan dan memberikan arahan didikan kepada para santrinya, sehingga dengan
komunikasi interpersonal yang baik, diharapkan dapat menyelesaikan permasalahan
dan kesalahpahaman antara beberapa pihak dalam pondok pesantren.
Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, yakni metode
penelitian yang memberikan gambaran jelas dan terperinci secara sistematis, sesuai
dengan fakta yang ada, yang dalam hal ini menjelaskan tentang Pola Komunikasi
Interpersonal Antara Pengasuh Dan Pengurus Dengan Para Santrinya Di Pondok
Pesantren dan Panti Asuhan Yatim Dan Dhuafa Muhammadiyah Prambanan.
Dari hasil penelitian diketahui bahwa Pola Komunikasi yang terjadi antara pengasuh,
pengurus, dan santri di Pondok Pesantren dan Panti Asuhan Yatim dan Dhuafa
Muhammadiyah Prambanan berdasarkan teori interaksi simbolik terjadi melakui
pernyataan simbol baik secara verbal dan maupun nonverbal yang terdiri atas
beberapa macam pola yaitu: Pola Komunikasi satu arah, dimana proses penyampaian
pesan dari komunikator kepada komunikan baik menggunakan media maupun tanpa
media, tanpa ada umpan balik dari komunikan dalam hal ini komunikan bertindak
sebagai pendengar saja; kemudian pola komunikasi dua arah atau timbal balik (two
way traffic aommunication) yaitu komunikator dan komunikan menjadi saling tukar
fungsi dalam menjalani fungsi mereka.
Faktor pendukung dalam pola dan proses komunikasi antara lain yaitu daya tarik
komunikator, keahlian pengurus dalam komunikasi, kesediaan komunikator untuk
berkomunikasi bersama, simbol-simbol verbal bahasa yang sama dimengerti oleh
komunikator dan komunikan, adanya iklim kepercayaan, adanya pengambilan
keputusan partisipatif, adanya iklim kejujuran dan berusaha untuk mencari jalan
keluar yang terbaik bagi kebaikan bersama, dan adanya keterbukaan. Sedangkan
faktor penghambat, yaitu para pengurus yang kurang kompak; kurangnya koordinasi
dan pengawasan dari pihak pengasuh karena lebih cenderung mementingkan urusan
pribadi; kesengajaan dari santri yang malas mengikuti kegiatan, serta kesibukan
pengurus dan pengasuh di luar pondok dan kurang terbukanya pengurus dengan
pengasuh dalam hal keuangan pondok.
Kata Kunci: komunikasi, pola komunikasi, interpersonal.
ABSTRACT
Boarding school is a private institution that was founded by Kyai as a central
figure sovereign cottage set educational goals, creating a Muslim personality,
spreading Islam and religion or uphold the glory of Muslims in society and love of
science in order to develop the personality of Indonesia. Interpersonal communication
is a dialogue conducted between individuals or between individuals and groups with
specific goals and ways to get the desired results. Interpersonal communication
allows caregivers and administrators to explain and give direction to the santrinya
upbringing, so with good interpersonal communication, is expected to resolve the
problems and misunderstandings between parties in a boarding school.
The method used is descriptive qualitative research method that provides a clear and
detailed picture of systematic, in accordance with the facts, which in this case
describes the pattern of Interpersonal Communication Between Caregivers And
Management With santrinya In Boarding Schools and Orphanages Orphans and
Dhuafa Muhammadiyah Prambanan.
The survey results revealed that the pattern of communication between caregivers,
administrators, and students at the boarding school and orphanage Orphans and
Dhuafa Muhammadiyah Prambanan based theory of symbolic interaction occurs with
through the statement and a symbol both verbally and nonverbally that consists of
several kinds of patterns are: Pattern one-way communication, where the process of
delivering a message from the communicator to communicant both media and nonmedia
use, without any feedback from the communicant communicant in this case
acts as a listener only; later pattern of two-way communication or reciprocal (two
way traffic aommunication) is communicator and a communicant exchange function
in living their function.
Supporting factors in the patterns and processes of communication, among others, the
attraction communicator, board expertise in communication, communicators
willingness to communicate with, the symbols are the same verbal language
understood by the communicator and the communicant, the existence of a climate of
trust, a participative decision-making, the climate of honesty and trying to figure out
the best way for the common good, and the openness. While inhibiting factor, namely
the managers who are less compact; lack of coordination and supervision of the
caregiver as more likely concerned with personal affairs; intent of lazy students who
take part, as well as administrators and caretakers bustle outside the lodge and less
open to caregivers in the management of financial cottage.
Keywords: communication, communication patterns, interpersonal
STUDI SIMULASI TENTANG PENGARUH PEMBUKAAN SUMUR FAL-5 PADA FORMASI `X` DI CHEVRON INDONESIA COMPANY
Formasi ‘X’ merupakan bagian wilayah kerja pada PT Chevron Indonesia
Company yang terletak di Balikpapan, Kalimantan Timur. Formasi ‘X’
merupakan bagian dari Cekungan Kutai dan merupakan Formasi yang Deltaic.
Formasi ‘X’ memiliki 6 lapisan dan merupakan reservoir water drive. Formasi
‘X’ pertama kali diproduksikan pada tahun 2006, memiliki 2 sumur produksi yaitu
FAL-2 dan FAL-4, serta 4 sumur yang masih dalam kondisi ditutup yaitu FAL-1,
FAL-3, FAL-5, dan FAL-6. OOIP dari Formasi ‘X’ adalah sebesar 10.3 MMSTB
dan recovery factor hingga September 2012 adalah sebesar 16.7%. Pada tahun
2013, FAL-5 direncanakan untuk berproduksi. Dikarenakan letak sumur FAL-5
berdekatan dengan sumur FAL-2, maka tujuan dari simulasi ini adalah melihat
pengaruh dari beberapa skenario yang akan dilakukan pada kedua sumur ini
terhadap recovery factornya dan kenaikan watercutnya.
Optimasi produksi pada Formasi ‘X’ dilakukan dengan menggunakan
simulasi reservoir. Dimulai dengan pembuatan model yaitu dengan memodelkan
kondisi reservoir secara numerik berdasarkan integrasi dari beberapa data yang
ada (geologi & reservoir) untuk memperoleh kinerja reservoir dengan teliti pada
berbagai skenario produksi. Dalam penulisan skripsi ini digunakan simulator
ECLIPSE 2500a tipe Black Oil Simulator (E100). Proses simulasi Formasi ‘X’
dimulai dengan tahapan sebagai berikut: tahapan persiapan dan pengolahan data,
pembuatan model dan Gridding, inisialisasi, history matching, dan prediksi.
Dalam proses persiapan dan pengolahan data SCAL dan PVT, dikarenakan di
Formasi ‘X’ belum pernah dilakukan coring sehingga data SCAL diambil dari
lapisan lain yang masih berada dalam satu Reservoir. Dan untuk data PVT maka
digunakan korelasi-korelasi untuk mencari sifat-sifat fisik fluida reservoir.
Optimasi produksi Formasi ‘X’ dilakukan dengan 6 skenario yang
diprediksi selama 6 tahun, skenario V : memproduksikan sumur FAL-2 melalui
lapisan SN-5 dan membuka sumur FAL-5 di lapisan SN-1 yaitu 31.4% dan
kenaikan harga Water cut yang relatif stabil baik untuk sumur FAL-2 maupun
sumur FAL-5
STRATEGI KOMUNIKASI PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN REMBANG DALAM MENGEMBANGKAN SEKTOR PARIWISATA
Penelit ian ini berjudul “Strategi Komunikasi Pemerintah Daerah
Kabupaten Rembang Dalam Mengembangkan Sektor Pariwisata”. Dengan
mengambil lokasi penelitian di Kantor Dinas Pariwisata Kabupaten Rembang
untuk mengetahui pengembangan di sektorpariwisata Kabupaten Rembang
dengan metode penelitian diskriptif kualitatif. Menggunakan teknik
pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dokumentasi. Tehnik
triangulasi sumber merupakan teknik yang mengarahkan penulis agar dalam
pengumpulan data menggunakan beragam sumber data yang tersedia. Strategi
komunikasi yang diterapkan Pemerintah Kabupaten Rembang antara lain:
pembangunan sarana informasi, kerjasama antar pihak, strategi komunikasi
promosi (pembuatan brosur, pamflet, media internal, media website,
pembuatan logo, pengadaan event-event). Hal ini dilakukan untuk
menginformasikan keberagaman wisata yang ada di Kabupaten Rembang.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa factor
lingkjungan internal (kekuatan,kelemahan) yang mempengaruhi strategi
pengembangan sector pariwisata kabupaten Rembang antara lain: Rembang
mempunyai berbagai macam potensi pariwisata, Dinas Pariwisata kurang
optimal di dalam mengembangkan promosi pariwisata, belum ada souvenir
yang khas, sarana penunjang kurang memadahi, SDM kurang provisional
dalam bidang pariwisata. Factor lingkungan eksternalnya (peluang,ancaman):
adalah peningkatan PAD, perekonomian masyarakat meningkat, peluang
investasi, persaingan pariwisata, kurangnya kerjasama dengan investor dan
kurangnya peran masyarakat dalam sector pariwisata.
Kata Kunci : Strategi Komunikasi Pemerintah Daera
PENGARUH RETURN ON ASSET , EARNING PER SHARE, DAN DIVIDEND PAYOUT RATIO TERHADAP HARGA SAHAM PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA
Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empiris pengaruh return on
asset , earning per share, dan dividend payout ratio terhadap harga saham
perusahaan manufaktur yang terdaftar di bursa efek Indonesia. Data dalam
penelitian ini merupakan data sekunder dan dikumpulkan dengan menggunakan
metode purposive sampling yang diperoleh secara tidak langsung dan dalam
bentuk yang sudah disusun dengan baik di Indonesian Capital Market Directory
(ICMD) dengan periode pengamatan 3 tahun, yaitu tahun 2009-2011 yang
diperoleh jumlah sampel 93 perusahaan. Analisis data yang digunakan adalah
analisis regresi berganda. Dalam penelitian ini juga menggunakan uji asumsi
klasik yang meliputi uji normalitas, uji multikolinearitas, uji heteroskedastisitas
dan uji autokorelasi.
Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa, return on asset , earning
per share, dan dividend payout ratio berpengaruh signifikan terhadap harga
saham.
Kata Kunci : return on asset , earning per share,dividend payout ratio, harga
saham, manufaktur
PENGARUH PENGETAHUAN AKUNTANSI, KEPRIBADIAN WIRAUSAHA DAN KETIDAKPASTIAN LINGKUNGAN TERHADAP KINERJA MANAJER PADA USAHA KECIL MENENGAH (UKM) DI KABUPATEN SLEMAN YOGYAKARTA
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengetahuan akuntansi, kepribadian wirausaha, dan ketidak pastian lingkungan terhadap kinerja manajer pada usaha kecil menengah (UKM) di Kabupaten Sleman Yogyakarta. Klarifikasi UKM yang beraktivitas di bidang sandang, kimia & bahan bangunan, pangan, kerajinan, dan logam & elektronika. Sumber data dalam penelitian ini adalah primer yang diperoleh secara langsung dari jawaban kuesioner manajer UKM dengan kualifikasi di atas. Daftar UKM dengan klarifikasi tersebut diperoleh dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Sleman.
Teknik pengumpulan data dilakukan dengan metode survei. Data diperoleh dengan menggunakan kuesioner yang dibagikan kepada manajer UKM. Untuk pemilihan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling. Teknis analisis data menggunakan analisis deskriptif, analisis kuantitatif (teknis analisis regresi linier berganda), uji validitas, uji reliabilitas, uji hipotesis (uji simultan, uji parsial dan koefisien determinasi).
Berdasarkan hasil penelitian, pengetahuan akuntansi, kepribadian wirausaha dan ketidak pastian lingkungan berpengaruh signifikan secara parsial terhadap kinerja manajer, dan secara simultan berpengaruh signifikan terhadap kinerja manajer. Nilai R² pada penelitian ini adalah sebesar 0,827 yang berarti 82,7% perubahan yang dialami tingkat kinerja manajer dapat dijelaskan oleh variabel pengetahuan akuntansi, kepribadian wirausaha dan ketidak pastian lingkungan, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh variabel lainnya. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan kinerja manajer pada UKM di Kabupaten Sleman.
Kata Kunci : Pengetahuan Akuntansi, Kepribadian Wirausaha,
Ketidakpastian Lingkungan, Kinerja Manaje
GEOLOGI DAN STUDI LINGKUNGAN PENGENDAPAN FORMASI KALIBENG DAERAH MONDOKAN DAN SEKITARNYA, KECAMATAN MONDOKAN,KABUPATEN SRAGEN,PROVINSI JAWA TENGAH
Secara geomorfik, daerah penelitian dibagi menjadi tiga bentukan asal, yaitu bentukan asal denudasional, Subsatuan geomorfik Dataran terkikis lemah (D1), Subsatuan geomorfik Dataran terkikis kuat (D2) dan Subsatuan geomorfik Perbukitan terkikis kuat (D3). Bentukan asal fluvial Subsatuan geomorfik Tubuh sungai (F1) dan Subsatuan geomorfik Dataran aluvial (F2). Pola pengaliran yang berkembang pada daerah penelitian yaitu fault trellis.
Pada daerah penelitian, stratigrafi terdiri dari 5 satuan batuan. Dari tua ke muda yaitu Satuan napal Kalibeng berumur Pliosen Awal (N18-N19), Satuan batugamping Klitik berumur Pliosen Akhir (N20-N21), Satuan batupasir Pucangan berumur Pleistosen Awal (N22)Satuan endapan aluvial berumur Holosen. Struktur geologi yang berkembang pada daerah penelitian adalah Sesar Mendatar Mondokan, Sesar Mendatar Gemantar, Antiklin Jambangan dan Sinklin Jambangan.
Satuan napal Kalibeng merupakan suatu endapan turbidit, yakni endapan klastika kasar dan halus yang terbentuk dari hasil resedimentasi oleh sistem aliran, yang terdiri dari sedimen yang bergerak turun karena gravitasi (sediment gravity flow) yang kemudian berkembang dan pada akhirnya menjadi suatu sistem kipas bawah laut. Dengan ciri adanya penebalan ke atas, terdapat asosiasi Classical Turbidites (CT) yakni munculnya sikuen Bouma(1962) interval Ta – Tc, maka Satuan napal Kalibeng terendapkan pada lingkungan pengendapan Lower fan on Submarine Fan (Walker, 1978).
ABSTRACT
Base of geomorphology, my research location divide in three form. Denudational form divide to be weak land subform, strong subform and StrongMountain Subform. Then there is Fluvial form which divide to be River body Subform and alluvium land. Type of river’s flow at my research location is fault trellis.
In my research location base of stratigraphy, divide ti be five type of rock. From older rock start from Kalibeng Marl,Klitik Limestone and Pucangan Sandstone than alluvium. And I found three of Geology structure in my research location. That’s Mondokan slip fault, Gemantar slip fault, Jambangan Anticline and jambangan Sincline.
Kalibeng marl is formed by turbidite flow mechanism, which divide to fine till coarse grain size. It formed by fall down sediment gravity flow which developing and finally to be a submarine fan. In my research location founded thick up type and yo can founded the association of Classical turbidites which can divided again to be a Bouma sequence Ta,Tb and Tc interval. So the conclution is Kerek marl Sedimentation enviroment at Lower fan on Submarine Fan (Walker, 1978)
GEOLOGI DAN PERHITUNGAN CADANGAN BATUGAMPING SEBAGAI BAHAN BAKU PEMBUATAN SEMEN PORTLAND DAERAH TIPAR KIDUL KECAMATAN AJIBARANG PROVINSI JAWA TENGAH
SARI
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan informasi geologi daerah telitian, mengenai geomorfologi, struktur geologi, stratigrafi dan potensi geologi, serta jumlah cadangan sumber daya didaerah tersebut . Secara administratif, lokasi penelitian terdapat diwilayah Daerah Desa Darmakradenan, Desa Tiparkidul Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas Propinsi Jawa Tengah yang secara geografis berada pada posisi 7 27 33.3 LS dan 109 02 00 BT . Pengamatan lapangan yang meliputi pengamatan terhadap morfologi dan litologi daerah telitian, pengamatan dan pengukuran dari kekar-kekar untuk mengetahui arah umum dari kekar-kekar tersebut. Pengamatan dan pengukuran kedudukan bidang sesar ( jika ditemui ) yang berguna untuk analisa struktur geologi ( analisa Stereografis ) yang bekerja pada daerah telitian.
Melalui pendekatan berbagai unsur morfologi yang ada dilapangan dan disesuaikan dengan peta topografi/rupabumi, serta didukung oleh peneliti sebelumnya, yakni menurut Van Bemmelen, 1949, penulis membagi daerah telitian menjadi empat satuan bentuk asal yang mengacu pada klasifikasi Van Zuidam tahun 1979 dan 1983, yaitu: bentuk asal Struktural, denudasional , Pelarutan/Karst, dan Fluvial. Berdasarkan empat satuan bentuk asal diatas, penulis membagi satuan bentuk asal menjadi lima satuan geomorfik, yaitu: Perbukitan sinklin ( S1) , perbukitan antiklin terdenudasi ( S2) , Perbukitan Karst ( K1) , perbukitan terisolir ( D1 ) Tubuh Sungai ( F1) , dan Dataran Banjir ( F2) .
Geologi daerah penelitian terdiri dari, satuan batupasir halang, Umur dari satuan, satuan batupasir Halang adalah Miosen Tengah – Pliosen Awal ( N14 – N18) ( Blow,1969) , satuan batulempung Tapak adalah Pliosen Awal – Pliosen Akhir ( N18 – N20) ( Blow, 1969) , satuan batugamping darmakradenan anggota Tapak adalah Pliosen Awal – Pliosen Akhir ( N18 – N20 ) dan endapan aluvial berumur Holosen.. Struktur geologi yang berkembang pada daerah telitian berupa kekar yang berarah relatif timurlaut-baratdaya dan baratlaut-tenggara. Sesar yang berkembang pada daerah telitian adalah Reverse Slip Fault. Antiklin dan sinklin di tipar kidul berdasarkan klasifikasi Fluety ( 1964) lipatan ini termasuk kedalam jenis gentle inclined fold. Berdasarkan hasil perhitungan pada cadangan batugamping diperkirakanperhitungan keseluruhan batugamping di daerah telitian total keseluruhannya 99.385.262 ton
RANCANGAN GEOMETRI LERENG TAMBANG BATUBARA BLOK II DAN III DI PT. DUTA TAMBANG SUMBER ALAM, KABUPATEN NUNUKAN PROVINSI KALIMANTAN UTARA
PT. Duta Tambang Sumber Alam (PT. DTSA) merupakan salah satu perusahaan tambang batubara yang berlokasi di daerah Seimenggaris, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara. PT. DTSA berencana melakukan pengembangan penambangan pada blok II dan III sehingga membutuhkan rekomendasi geoteknik berupa rancangan geometri lereng yang aman.
Data masukan untuk pemodelan geoteknik blok II dan III diwakili oleh empat lokasi pemboran yaitu lubang Bor A2-GT02 dan A2-GT03 untuk blok II, serta A3-GT01 dan A3-GT02 untuk blok III, kemudian dibuat Sayatan yaitu Sayatan A-A’ melewati lubang Bor A2-GT03, Sayatan B-B’ melewati lubang Bor A2-GT02, dan Sayatan C-C’ melewati lubang Bor A3-GT01 dan A3-GT02. Dari ubang bor dilakukan pengambilan sampel dan dapat diketahui litologi perlapisan batuan. Sampel batuan selanjutnya dilakukan pengujian uji sifat fisik, uji kuat ekan, dan uji kuat geser langsung. Data masukan material yang digunakan antara ain bobot isi kering (γ
d
) dan bobot isi jenuh (γ
), serta kohesi (C) dan sudut geser dalam (). Kondisi air tanah diasumsikan pada kondisi kering, setengah jenuh, dan
s
enuh. Pemodelan geoteknik dilakukan menggunakan bantuan program Slide 6.0 dengan metode kesetimbangan batas. Pemodelan rancangan lereng tunggal dibuat dengan ketinggian lereng 6 m, 10 m, dan 15 m, dengan sudut kemiringan lereng 60°, 70° dan 80°. Lereng keseluruhan disimulasikan dengan tinggi lereng 26 m, 36 m, 46 m, dan 56 m dengan sudut 35°, 40°, 45° dan 50° untuk semua ketinggian. Pemodelan lereng Lowwall dengan asumsi lereng terbentuk dari ketinggian maksimum hingga main seam terdalam.
Kemungkinan longsor yang terjadi pada lereng adalah longsor busur. Rekomendasi geometri lereng tunggal untuk semua jenis material adalah tinggi 10 m dan sudut 60°. Analisis kemantapan lereng lowwall dengan acuan FK > 1,50, diperoleh nilai FK=3,33 (blok II) dan FK=2,77 (blok III), jadi dapat dikatakan aman. Rekomendasi lereng highwall pada masing-masing blok, yaitu blok II : Tinggi 56 m, Sudut 40°, dengan nilai FK 1,59, dan blok III : Tinggi 56 m, Sudut 50°, dengan nilai FK 1,65. Asumsi kondisi air tanah jenuh. Rekomendasi geometri lereng didasarkan pada nilai FK aman paling minimum, yaitu FK ≥ 1,30 untuk lereng tunggal dan FK ≥ 1,50 untuk lereng keseluruhan. Pada lereng highwall, nilai Faktor Keamanan (FK) terbesar didapat pada ketinggian 26 m dengan sudut kemiringan 35°, dan nilai FK terkecil pada ketinggian 56 m dengan sudut kemiringan 50°. Lereng keseluruhan dalam kondisi Jenuh, nilai FK di blok II berkisar antara 3,40 – 1,41, blok III antara 3,68 – 1,65, dan lowwall kedua blok antara 2,77 – 3,33. Dalam kondisi kering, nilai FK di blok II berkisar antara 4,42 – 2,09, blok III antara 5,51 – 2,62, dan Lowwall kedua blok antara 7,00 – 9,07
PENYELIDIKAN GEOLISTRIK INDUCED POLARIZATION UNTUK PENDUGAAN MINERAL SULFIDA DI DESA SOBO KEC. TIRTOMOYO, WONOGIRI, JAWA TENGAH
PT. Sapporo melakukan eksplorasi guna mengetahui penyebaran mineral sulfida di Desa Sobo, kec. Tirtomoyo, Wonogiri, Jawa tengah, dimana di daerah tersebut ditemukannya beberapa terowongan bekas penambangan yang telah dieksploitasi pada zaman penjajahan Belanda. Mineral sulfida pada umumnya berbentuk intrusi dan urat-urat kuarsa, di daerah tersebut juga terdapat singkapan seperti galena, pyrite dan tembaga. Mengingat bentuk bijih (ore body) dari mineral sulfida menyebar, sehingga tidak dapat melakukan penelitian langsung dengan pengeboran, untuk itu metode penelitian yang akan digunakan adalah Metode Geofisika.
Salah satu metode yang dapat memberikan gambaran bawah permukaan tanah secara umum tanpa penggalian adalah metode geofisika dengan menggunakan Metode Geoscan (Resistivity 2D dan Induced Polarization). Penyelidikan geolistrik IP ini menggunakan konfigurasi dipole-dipole, dan hanya dibatasi pada penentuan variasi tahanan jenis bawah permukaan tanah dan chargeability secara vertikal maupun horizontal serta dalam luasan 10 Ha IPR dari PT. Sapporo, mengingat yang dicari adalah keberadaan mineral sulfida, maka tujuan penelitian ini adalah memperoleh nilai tahanan jenis dari tiap-tiap lapisan batuan yang dilalui lintasan geolistrik secara vertikal dan horizontal, sehingga dapat menduga penyebaran endapan mineral sulfida.
Pengambilan data pada kegiatan ekplorasi ini menggunakan alat ARES (Automatic Resistivity). Data hasil pengukuran diolah dengan Program RES2DINV. Pengolahan data dilakukan dengan meng-input data kedalam program untuk kemudian mendapatkan permodelan dalam bentuk resistivity dan chargeability yang berupa penampang lintasan geolistrik. Selanjutnya dilakukan interpretasi model dan nilai tahanan jenis tiap batuan pada penampang tersebut, dimana nilai dari chargeability mineral sulfida adalah 500-1000 msec yang berwarna hijau sampai ungu dengan nilai resistivity 10-100 Ohm.m yang berwarna biru tua sampai biru muda. Setelah dilakukan pengambilan, pengolahan dan interpretasi data maka lintasan yang dianggap potensi untuk diteliti lebih lanjut dengan pengeboran (coring) adalah TM.01 titik 09 - 12, TM.03 titik 08 - 13, TM.06 titik 34 - 36, TM.05 titik 24 - 26 dan test pit adalah TM.02 titik 06 - 07. Estimasi sumber daya mineral sulfida yang dihitung dengan cara interpretasi daerah pengaruh pedoman titik terdekat (rule of nearest point) menghasilkan 5.377 m³ dan dalam ton sejumlah 26.884 ton