Jurnal Universitas Tribhwuana Tunggadewi
Not a member yet
1771 research outputs found
Sort by
Challenges of Local Government in Formation of New Autonomous Regions
The formation of new regions does not merely mean reducing the administrative area so that government functions can be carried out more optimally, it also reduces the level of their political alienation so that people rediscover their role in the dynamics of government politics in their region. The concurrent creation of autonomous areas is the emergence of an independent status based on the goals and actual circumstances of the local population in a specific region or area as a component of the Indonesian nation and national territory. The objective of this study is to undertake a research and understanding process based on a technique that examines human problems and societal phenomena using a qualitative approach. Using a spiral data analysis paradigm, information was gathered via observations, interviews, and documentation.. The results of the study are that the formation of new autonomous regions is a process carried out so that autonomous regions can have a strong autonomous status as provincial capitals, so that the process of forming this autonomous region is very important and must be considered, but the approach of community proposals or community participation is important, this stage must go through from below (grass roots). Third, it cannot be denied that economic factors are one of the main triggers for the desire to form autonomous regions, because every new region is entitled to an allocation of funds. Pembentukan daerah otonom baru tidak hanya berarti pengurangan wilayah administratif agar fungsi pemerintahan dapat dijalankan secara lebih optimal, tetapi juga mengurangi tingkat keterasingan politiknya sehingga masyarakat dapat menemukan kembali perannya dalam dinamika politik pemerintahan di daerahnya. Pembentukan daerah otonom secara bersamaan adalah munculnya status kemandirian berdasarkan tujuan dan keadaan nyata penduduk setempat di suatu daerah atau wilayah tertentu sebagai komponen bangsa dan wilayah nasional Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan proses penelitian dan pemahaman berdasarkan teknik yang mengkaji permasalahan manusia dan fenomena kemasyarakatan dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Dengan menggunakan paradigma analisis data spiral, informasi dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembentukan daerah otonom baru merupakan proses yang dilakukan agar daerah otonom dapat memiliki status otonomi yang kuat sebagai ibu kota provinsi, sehingga proses pembentukan daerah otonom ini sangat penting dan harus diperhatikan, namun pendekatan usulan masyarakat atau partisipasi masyarakat menjadi penting, tahapan ini harus melalui dari bawah (akar rumput). Ketiga, tidak dapat dipungkiri bahwa faktor ekonomi menjadi salah satu pemicu utama keinginan untuk membentuk daerah otonom, karena setiap daerah baru berhak mendapatkan alokasi dana.Â
Meritokrasi Adaptif Digital: Pendekatan Baru dalam Reformasi Birokrasi Era Digital
Bureaucratic reform in Indonesia aims to create professional, efficient, effective, transparent, and accountable governance. However, its implementation faces challenges such as low digital literacy among senior employees and bureaucratic–political interference that hinders the application of meritocracy. This study aims to analyze bureaucratic leadership strategies in implementing adaptive meritocracy in response to digitalization dynamics and bureaucratic–political relations, using a case study of Lowokwaru District, Malang City. The research employed a descriptive qualitative approach with snowball sampling, involving six informants from bureaucratic, academic, and legislative sectors. Data were collected through in-depth interviews, observations, and document reviews, and analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldana. The findings show that meritocracy is relatively well understood at the leadership level but uneven at the operational level. Efforts through online recruitment and digital-based performance evaluation have been made but remain influenced by non-merit practices, seniority, and weak rule enforcement. This study proposes the “Digital Adaptive Meritocracy (DAM)” model, combining competence-based meritocracy, accelerated digital literacy, integrity- driven leadership, peer-learning, and strengthened oversight and rule of law to reinforce bureaucratic reform and accelerate government digitalization. Reformasi birokrasi di Indonesia bertujuan menciptakan tata kelola pemerintahan yang profesional, efisien, efektif, transparan, dan akuntabel. Namun, pelaksanaannya menghadapi tantangan seperti rendahnya literasi digital pegawai senior dan intervensi birokrasi-politik yang menghambat penerapan meritokrasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis strategi pimpinan birokrasi dalam menerapkan meritokrasi adaptif terhadap dinamika digitalisasi dan hubungan birokrasi-politik, dengan studi kasus di Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik snowball sampling, melibatkan enam informan dari unsur birokrasi, akademisi, dan legislatif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumen, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana. Hasil penelitian menunjukkan pemahaman meritokrasi di tingkat pimpinan cukup baik, tetapi belum merata di level pelaksana. Upaya telah dilakukan melalui rekrutmen daring dan penilaian kinerja digital, namun masih dipengaruhi praktik non-merit, senioritas, dan lemahnya penegakan aturan. Penelitian ini merekomendasikan model “Meritokrasi Adaptif Digital (MAD)” yang menggabungkan merit berbasis kompetensi, akselerasi literasi digital, kepemimpinan berintegritas, peer-learning, serta penguatan pengawasan dan supremasi hukum untuk memperkuat reformasi birokrasi dan mempercepat digitalisasi pemerintahan.
Smart Tourism: Comparative study of the Mandalika Special Economic Zone with Labuhan Bajo
The purpose of this study is to investigate how smart tourism differs from other digital tourism marketing. The tourism sector is experiencing a growing trend known as digital tourism, which leverages digital technologies to enhance the overall tourist experience.. The research method used is descriptive qualitative with data processing using NVivo 12 Plus. ResultsThis study shows that the Mandalika Special Economic Zone (KEK) shows significant advantages compared to Labuan Bajo in implementing the Smart Tourism concept. The Mandalika SEZ has effectively integrated digital technology, first with the implementation of Smart Advertising for data-driven marketing and culminating in the creation of Smart Attractions that enrich the digital experience for visitors. The main characteristics of Mandalika in attracting visitors are its modern infrastructure, improved public accessibility, and facilities that accommodate those with disabilities. In contrast, although Labuan Bajo is rapidly developing as a super-priority destination, the use of smart technology is still limited, especially related to digital integration and the use of Smart Advertising. In addition, improving facility management and inclusive accessibility in Labuan Bajo is essential to meet the criteria of international tourism destinations. Both destinations have significant potential for sustainable tourism expansion; however, a more systematic and integrated approach based on technological innovation, exemplified by the Mandalika SEZ, has shown greater efficacy in accelerating the achievement of creative, sustainable, and inclusive tourism development goals.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki bagaimana pariwisata pintar berbeda dari pemasaran pariwisata digital lainnya. Sektor pariwisata sedang mengalami tren yang berkembang yang dikenal sebagai pariwisata digital, yang memanfaatkan teknologi digital untuk meningkatkan pengalaman wisatawan secara keseluruhan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pengolahan data menggunakan NVivo 12 Plus. Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika menunjukkan keunggulan yang signifikan dibandingkan dengan Labuan Bajo dalam menerapkan konsep Pariwisata Cerdas. KEK Mandalika telah mengintegrasikan teknologi digital secara efektif, pertama dengan penerapan Iklan Cerdas untuk pemasaran berbasis data dan berpuncak pada penciptaan Atraksi Cerdas yang memperkaya pengalaman digital bagi pengunjung. Karakteristik utama Mandalika dalam menarik pengunjung adalah infrastrukturnya yang modern, aksesibilitas publik yang ditingkatkan, dan fasilitas yang mengakomodasi mereka yang berkebutuhan khusus. Sebaliknya, meskipun Labuan Bajo berkembang pesat sebagai destinasi superprioritas, penggunaan teknologi pintar masih terbatas, terutama terkait dengan integrasi digital dan penggunaan Iklan Cerdas. Selain itu, peningkatan manajemen fasilitas dan aksesibilitas yang inklusif di Labuan Bajo sangat penting untuk memenuhi kriteria destinasi pariwisata internasional. Kedua destinasi tersebut memiliki potensi yang signifikan untuk perluasan pariwisata berkelanjutan; namun, pendekatan yang lebih sistematis dan terintegrasi berdasarkan inovasi teknologi, seperti yang dicontohkan oleh KEK Mandalika, telah menunjukkan kemanjuran yang lebih besar dalam mempercepat pencapaian tujuan pembangunan pariwisata yang kreatif, berkelanjutan, dan inklusif
Green Economy Sirkular Limbah Kulit PKK Desa Jatirejoyoso, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang
Limbah kulit yang dihasilkan dari beberapa industry kerajinan kulit di Desa Jatirejoyoso biasanya terbuang dan belum termanfaatkan optimal. Selain itu, berpotensi mencemari lingkungan, padahal limbah kulit yang dihasilkan masih memiliki karakteristik unik untuk diolah kembali. Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) Green Economy Sirkular Limbah Kulit dilaksanakan untuk meningkatkan keterampilan dan kemandirian ekonomi ibu-ibu PKK Desa Jatirejoyoso, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, melalui pemanfaatan limbah kulitMelalui pendekatan ekonomi sirkular, limbah tersebut diolah kembali menjadi produk bernilai ekonomi yang mampu meningkatkan daya tarik estetika serta nilai jual produk. Beberapa produk yang sudah dihasilkan antara lain gantungan kunci, gantungan tas, dompet koin, hiasan dinding, lanyard nametag, label kulit, dan merchandise lainnya. Kegiatan Pemberdayaan meliputi sosialisasi, pelatihan intensif mulai dari teknik pemilihan bahan, teknik desain produk, teknik produksi, teknik emboss, teknik pengemasan, dan teknik pemasaran. Hasil program menunjukkan peningkatan signifikan dalam pengetahuan dan keterampilan peserta, khususnya pada tahap pembersihan bahan, pemotongan, desain, dan aplikasi emboss. Program pemberdayaan yang dilaksanakan sudah menunjukkan hasil dari sisi ekonomi, yaitu mitra PKK sudah mendapatkan pesanan, berproduksi dan menjual karya-karya nya. Ke depan, program ini berpotensi melahirkan unit usaha baru berbasis kerajinan limbah kulit sekaligus berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan melalui penerapan prinsip ekonomi sirkular bagi ibu-ibu PKK Desa Jatirejoyoso, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, yang tadinya tidak berkegiatan berpenghasilan menjadi berdaya secara ekonomis.
Teknologi Oven Dengan Pengatur Suhu Untuk Efisiensi Produksi Usaha Mikro Roti Dan Kue Di Kampung Tajung Kelurahan Polagan, Kabupaten Sampang
Mitra Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) adalah Usaha Mikro Roti dan Kue Kampung Tajung. Permasalahan ditinjau dari aspek produksi adalah proses produksi pada tahap pemanggangan kue membutuhkan waktu relatif lama karena hanya menggunakan 1 oven 1 pintu. Dampaknya adalah proses produksi kue relatif lama khususnya ditahap memanggang kue basah dalam oven. Kondisi ini menyebabkan Mitra tidak mampu memenuhi peningkatan volume pesanan pada periode tertentu khususnya puasa dan lebaran. Tujuan kegiatan adalah menerapkan Teknologi Tepat Guna (TTG) oven 1 oven 4 pintu untuk efisiensi produksi roti dan kue kapasitas besar dengan pengatur suhu kepada Mitra. Metode kegiatan adalah 1) Rancang bangun dan pembuatan TTG oven roti dan kue kapasitas besar dengan pengatur suhu, dan 2) Pelatihan, praktek, uji-coba, dan pendampingan penggunaan TTG oven kepada mitra. Luaran kegiatan adalah TTG oven roti dan kue kapasitas besar dengan pengatur suhu kepada Mitra
Inovasi Pendataan (PBB-P2) Berbasis Elektronik : E-SPOP & GIS-EL Badan Pendapatan Daerah Kabupaten Jombang Di Desa Mancilan
 This research discusses the innovation of updating Land and Building Tax in Jombang Regency through the E-SPOP GIS-EL application in 2024. Land and Building Tax is a compulsory public payment imposed on building and land use rights where the amount of tax will be determined based on the size of the object. Innovation is a new idea or concept that has never been done or published before. Researchers want to explain phenomena that are ongoing or that have occurred. Data collection techniques in this research come from books, academic journals and research that has been done before discussing innovation in tax data collection, besides that researchers also participate in implementing these innovations. The data obtained is then analyzed using descriptive analysis techniques. Definition of E-SPOP in accordance with Article 1 number 5 of PMK 48/2021, Taxpayer Notification Letter is used by taxpayers to report tax object data in accordance with the Land and Building Tax Law and must be accompanied by an SPOP attachment. Electronic SPOP (E-SPOP) is SPOP in electronic form. Understanding GIS-EL or known as electronic-based GIS is a system of analyzing all types of data. The main element of GIS lies in the concept of data related to specific geographic locations. The data is obtained from E-SPOP that has been inputted and verified by Bapenda Jombang.Penelitian ini membahas tentang inovasi pemutakhiran Pajak Bumi dan Bangunan di Kabupaten Jombang melalui aplikasi E-SPOP GIS-EL tahun 2024. Pajak Bumi dan Bangunan merupakan pembayaran umum wajib yang dibebankan atas hak atas bangunan dan hak guna tanah yang besarnya pajak akan ditetapkan berdasarkan luas objeknya. Inovasi merupakan suatu ide atau konsep baru yang belum pernah dilakukan atau dipublikasikan sebelumnya. Peneliti ingin menjelaskan fenomena yang sedang berlangsung maupun yang telah terjadi. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini bersumber dari buku-buku, jurnal akademik dan penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya yang membahas tentang inovasi dalam pendataan pajak, selain itu peneliti juga ikut serta dalam mengimplementasikan inovasi tersebut. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan teknik analisis deskriptif. Pengertian E-SPOP menurut Pasal 1 angka 5 PMK 48/2021, Surat Pemberitahuan Wajib Pajak digunakan oleh wajib pajak untuk melaporkan data objek pajak sesuai dengan Undang-Undang Pajak Bumi dan Bangunan dan wajib disertai dengan lampiran SPOP. SPOP Elektronik (E-SPOP) adalah SPOP dalam bentuk elektronik. Pengertian GIS-EL atau yang dikenal dengan GIS berbasis elektronik merupakan suatu sistem analisis semua jenis data. Elemen utama dari GIS terletak pada konsep data yang berkaitan dengan lokasi geografis tertentu. Data tersebut diperoleh dari E-SPOP yang telah diinput dan dioperasikan oleh Bapenda Jombang
Kesejahteraan Psikososial pada Mahasiswa Generasi Z yang Mengalami Fatherless di Kota Bengkulu
The issue of fatherless has become an increasingly discussed topic, particularly in Indonesia, which is noted as one of the countries with a high rate of fatherlessness. Many individuals acknowledge experiencing this situation and report significant impacts, including effects on psychosocial well-being. This study aims to understand the psychosocial well-being of Generation Z student collage who experience fatherless. The research employs a qualitative method with a phenomenological approach to explore the subjective experiences of the informants. Six informants were selected as primary participants based on the criteria of being Generation Z student collage residing in Bengkulu City and experiencing fatherlessness, either due to the physical or emotional absence of a father. Data were collected through in-depth interviews with informants who agreed to participate. The findings reveal that fatherlessness significantly impacts the psychosocial well-being of student collage. Identified impacts include difficulties in managing emotions, such as feelings of anger, sadness, or frustration, as well as challenges in building healthy interpersonal relationships. This condition often leads to low self-confidence, social withdrawal, and difficulties in establishing trust with others. Isu fatherless semakin banyak diperbincangkan, terutama di Indonesia yang tercatat sebagai salah satu negara dengan tingkat fatherless yang tinggi. Banyak individu mengakui mengalami situasi ini dan merasakan dampak signifikan, termasuk terhadap kesejahteraan psikososial. Penelitian ini bertujuan untuk memahami kondisi kesejahteraan psikososial mahasiswa generasi Z yang mengalami situasi fatherless. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, yang bertujuan untuk menggali pengalaman subjektif para informan. Sebanyak enam informan dipilih sebagai partisipan utama yang memenuhi pertimbangan kriteria yaitu mahasiswa generasi Z yang berdomisili di Kota Bengkulu dan mengalami situasi fatherless, baik akibat ketiadaan ayah secara fisik maupun emosional. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan informan yang bersedia berpartisipasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa situasi fatherless memberikan dampak signifikan terhadap kesejahteraan psikososial mahasiswa. Dampak yang diidentifikasi meliputi kesulitan dalam mengelola emosi, seperti rasa marah, sedih, atau frustrasi, serta tantangan dalam membangun hubungan intrapersonal yang sehat. Kondisi ini sering kali menyebabkan mahasiswa merasa kurang percaya diri, cenderung menarik diri dari lingkungan sosial, atau mengalami kesulitan dalam membangun kepercayaan dengan orang lain
Factors Influencing the Compliance of Person in Charge (PIC) In The Accreditation Documentation Management System at Pelita Insani Hospital
To improve service quality, hospitals in Indonesia are required to undergo accreditation organized by SNARS. This process demands systematic documentation of patient care and service data. However, many documents are often not reported or recorded properly, which necessitates an effective management system. The Accreditation Documentation Management System (ADMS) is an IT-based tool designed to manage accreditation documents efficiently and is operated daily by the designated Person in Charge (PIC). At Pelita Insani Hospital, the use of ADMS for data reporting remains suboptimal due to several influencing factors. The purpose of this research was to examine the factors that influence the obedience of PIC at Pelita Insani Hospital. This research used cross sectional design. Population were all of the PIC at Pelita Insani Hospital, 150 persons. The sample were collected by proportional random sampling. The total sample of this research were 130 respondents. The dependent variable was the obedience. The data were collected by questionnaire and observation. The data were analized using multiple linear regression with significance level p 0,05. The result showed that there were influence between knowledge (p = 0,000), motivation (p = 0,000) and workload (p=0,043) toward the obedience of PIC to report data with Accreditation Document Management System however, facilities did not significantly influence the compliance of the Person in Charge (PIC) in reporting using the Accreditation Documentation Management System (p = 0.902). It can be conclude that there were significant effect of knowledge, motivation and workload toward the obedience of PIC to report the data with Accreditation Document Management System Based on these findings, hospital management is advised to enhance PICs’ knowledge, motivation, and manage their workload to improve compliance in ADMS reporting. Additionally, upgrading facilities and infrastructure may also support better reporting outcomes
Community And Family-Based Intervention Strategies To Prevent Stunting: A Systematic Review
Stunting is a state of chronic malnutrition associated with nutritional insufficiency.  Stunting can increase the risk of morbidity and mortality, hindering children's growth and development. Malnutrition in toddlers can also arise due to the cultural practices, eating habits, and social norms related to food intake. The role of the family and the community is very important in ensuring the success of stunting prevention programs. This study aimed to undertake a systematic review of the international literature on community-based interventions to prevent stunting in children under 5 years. We reviewed original quantitative research from Scopus, Science Direct, PubMed, and ProQuest using the keywords “community intervention†OR “family intervention†AND “stunting†AND “toddlersâ€. We conducted a critical appraisal using PRISMA guidelines on evidence documenting the community-based intervention or program as a strategy to reduce stunting in toddlers, between 1 January 2013 and 31 January 2023 with the inclusion criteria of English-language, full-text, open-access, quantitative studies. Thirteen peer-reviewed papers met the inclusion criteria. This review found that family-based intervention could improve child growth and community-based intervention could strengthen the community health systems. The existing evidence showed a positive impact of community and family-based intervention to prevent stunting. Family-strengthening interventions may have an impact on reducing stunting among children under 5 years.Â
PENGARUH PERAN MANAJEMEN LOGISTIK UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI DISTRIBUSI DI PT BAHARI UTAMA SAMUDRA
This research aims to examine the role of logistics management in increasing distribution efficiency at PT Bahari Utama Samudra. Through a case study approach, this research identifies the factors that influence logistics performance, the obstacles faced, and the strategies implemented to optimize the distribution process. The research results show that implementing tracking technology, optimizing delivery routes, and proper inventory management can significantly increase a company's operational efficiency