Jurnal Online - Universitas Islam Kalimantan
Not a member yet
4346 research outputs found
Sort by
KODE ETIK DALAM PROFESI KONSELOR BERDASARKAN ORGANISASI PROFESI BIMBINGAN DAN KONSELING (ABKIN) DAN ORGANISASI KONSELOR LAINNYA
The counselor profession has an important role in helping individuals overcome various emotional challenges and problems. In carrying out their duties, counselors are expected to adhere to a strict code of ethics, which guides their professional behavior. The code of ethics for counselors is established by the counselor professional institution. For the Indonesian territory, the code of ethics for counselors is determined by the Indonesian Counseling Guidance Association (ABKIN). A code of ethics is a guide or guideline for professional behavior or a moral foundation that is practiced, secured and upheld by counselors as members of professional organizations. This article explores aspects of the ABKIN code of ethics, codes of ethics of other counselor professions and compares the ABKIN Code of Ethics with codes of ethics issued by other counselor organizations, such as the American Counseling Association (ACA) in the United States. The method used in this research is a literature study with a qualitative descriptive approach. The data source comes from collecting documents in the form of books and previous research originating from various references. The data analysis technique used is descriptive analysis. The results of this research provide a better understanding of the importance of ethics in the counselor profession and illustrate how codes of ethics function as a guide to professional behavior for counselors based on regulations issued by several counselor organizations
PEMANFAATAN SAMPAH RUMAH TANGGA BERBASIS SUMUR SERAPAN SISA MAKANAN (SUSAN) SEBAGAI BAHAN PEMBUATAN PUPUK ORGANIK DI DESA MENGESTA TABANAN - BALI
Di zaman sekarang sampah merupakan salah satu masalah yang memerlukan perhatian untuk segera dituntaskan. Secara umum jenis sampah dapat dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu sampah organik/basah dan sampah anorganik/kering. Sampah organik adalah sampa h yang berasal dari sisa mahkluk hidup yang mudah terurai secara alami tanpa proses campur tangan manusia untuk dapat terurai. Sampah organik ini dapat berupa sampah rumah tangga seperti dedaunan, sisa makanan, sisa sayuran, buah busuk, dan rerumputan. Sedangkan Sampah anorganik adalah sampah yang sudah tidak dipakai lagi dan sulit terurai. Contohnya seperti botol plastik, kaleng bekas, kaca, karet dan kresek. Sampah- sampah ini jika dibiarkan maka akan menimbulkan permasalahan yang serius seperti banjir, tercemarnya air tanah , menceramari sungai, dan mencemari udara. Maka dari itu, hal ini harus segera ditanggulangi dengan melakukan pemanfaatan sampah rumah tangga berbasis SUSAN. SUSAN sendiri merupakan kepanjangan dari sumur serapan sisa makanan dimana SUSAN ini memiliki definisi lubang di permukaan tanah dengan kedalaman bervariasi antara 1-4 meter, diameter tergantung seberapa besar potensi sisa makanan. Cara kerja SUSAN ini yaitu dengan memcacah kecil sampah organik kemudian dimasukan ke dalam lubang SUSAN selanjutnya lubang tersebut ditutup kembali. Hingga 1-2 bulan pupuk telah siap untuk digunakan. Dengan menggunakan metode SUSAN ini dampak yang dihasilkan sangat banyak seperti hemat tempat, tanah di sekitar lubang SUSAN ini akan subur, kemudian pupuknya bisa diberikan pada tanaman dan bisa membantu mengurangi jumlah sampah yang tidak terolah sehingga mampu mengurangi dampak negatif dari adanya proses pengolahan sampah yang keliru
WORKSHOP PELAYANAN PENGUATAN KARIER REMAJA DISABILITAS DI YAYASAN RUMAH DISABILITAS BORNEO BANJARMASIN
Masa remaja merupakan masa yang rentan terhadap perubahan baik secara fisiologis, psikologis, emosi, minat, pola prilaku dan prioritas. Anak tunarungu dapat diartikan anak yang tidak dapat mendengar. Tidak dapat mendengar atau kemungkinan kurang mendengar atau tidak mendengar sama sekali. Anak tunarungu berbicara tanpa suara atau dengan suara kurang jelas atau bahkan tidak berbicara sama sekali. Tak jarang anak anak berkebutuhan khusus (ABK) atau penyandang disabilitas tunarungu mendapatkan deskriminasi di dunia kerja. Mereka dianggap sebelah mata karena keterbatasan yang mereka miliki. Mereka dianggap tidak mampu menjalankan tugas dengan baik karena kondisi fisik, intelegensi, serta hubungan sosialnya yang tidak normal. Padahal, mereka juga berhak untuk mendapatkan hak pendidikan, kesehatan, sosial masyarakat, serta sebuah pekerjaan.Metode pelaksanaan menggunakan metode: (1) ceramah; (2) pelatihan; dan (3) evaluasi. Khalayak sasaran berjumlah 11 orang disabilitas yang menghadiri kegiatan PKM.Hasil kegiatam PKM Dari hasil analisis data pretes evaluasi awal kegiatan, maka dapat di klasifikasikan bahwa penguatan karier remaja disabilitas yayasan borneo banjarmasin tergolong dalam kategori Rendah (3,27). Hal ini tentunya merupakan hal yang wajar, dikarenakan selama ini remaja disabilitas belum pernah diberikan pelayanan penguatan karier. dan Dari hasil analisis data posttes evaluasi keseluruhan kegiatan, maka dapat di klasifikasikan bahwa pemberian pelayanan penguatan karier remaja disabilitas borneo Banjarmasin tergolong dalam kategori kategori Sedang (4,39). Hal ini tentunya hal yang baik, karena adanya peningkatan pengetahuan setelah diberikan workshop pengabdian kepada masyarakat.
ROTASI DAN PENYIAPAN LAHAN PENGGEMBALAAN TERNAK SAPI DI KELOMPOK SINAR TIMUR MAKMUR JAYA KECAMATAN KINTAP, KABUPATEN TANAH LAUT
Ketersediaan lahan-lahan hijauan pakan sudah bergeser menjadi perkebunan kelapa sawit, banyak masyarakat yang tergolong usaha kecil dan menengah yang gulung tikar akibat ketersedian pakan yang kurang sehingga harga menjadi melonjak. Sehingga perlu dilakukan model pengembalaan yang efektif dan efesien untuk meningkatkan pertumbuhan ternak sapi di perkebunan kelapa sawit.Tujuan dari kegiatan pengabdian ini adalah : untuk meningkatkan kemampuan kelompok ternak dalam teknis pengembalaan ternak yang terintegrasi dengan kelapa sawit, meningkatkan kemampuan pengelolaan unit usaha ternak sapi potong. Metode pengabdian kepada kemasayarakat ini yaitu metode penyuluhan dan pendampinagan teknik model pengembalaan ternak di kawasan perkebunan kelapa sawit. Parameter yang dikaji adalah kemampuan peternak melakukan rotasi pengembalaan. Sistim pengembalaan secara rotasi dapat memberikan keuntungan baik bagi petani maupun perusahaan kelapa sawit, dimana lahan yang dijadikan pengembalaan ternak tidak padat di mana ternak hanya dipelihara beberapa hari saja selain itu ternak mendapatkan hijauan yang berkualitas. Disimpulkan bahwa sistim pengembalaan secara rotasi dapat meningkatkan produktivitas ternak dan dapat meningkat kan pertumbuhan kelapa sawit
PILIHAN KARIR BERDASARKAN MODEL SCHWARTZ DAN SCHEIN PADA WIRAUSAHA MUDA DI KOTA BANJARMASIN (TINJAUAN DESKRIPTIF)
Nowadays career choices are dynamic and changeable, along with the advancement of technology. Business can be done virtually so that it is more attractive to young people. However, Values play an important role in career choice and lifelong career management. Values are the desired goals that individuals seek to fulfill their needs and are important for understanding career orientation in terms of protean and boundaryless career orientations and career anchors. However, how career orientations or career anchors fit into established and supported models and into the structure of human basic values remains an important and under-explored question. The purpose of this study is to use Schwartz's structural values model to empirically explore the relationships and structural correspondences between basic values, career orientations, and career anchor models.Schwartz's value structure. Protean and boundaryless career orientations are positively related to Schwartz's basic values that emphasize openness to change and career anchors meaningfully follow the motivational sequence of these basic values.Overall, the overlap between core values, career orientations, and career anchors emerged as relatively significant, suggesting that core values, orientations, and career anchors should be considered simultaneously to understand and address the factors and processes underlying young entrepreneurs' career choices and paths
Upaya Meningkatkan Resiliensi Akademik dengan Konseling Kelompok Teknik Cognitive Restructuring
Students with low academic resilience are often influenced by factors such as belief in their abilities, ability to manage academic tasks, anxiety, and completing various academic demands. Preliminary studies show that students' academic resilience tends to be low, so they need help to increase their resilience in facing academic challenges. This research aims to examine increasing academic resilience through cognitive restructuring techniques in group counseling services at SMPN 02 Silo. The research design used was qualitative with a Guidance and Counseling Action Research (PTBK) approach. The research sample consisted of 6 students selected using purposive sampling from 152 students. Data was collected using a questionnaire to measure the level of academic resilience before and after the intervention. The results showed that more than 75% of the sample experienced a significant increase in their academic resilience. These findings indicate that cognitive restructuring-based group counseling services can improve students' academic resilience. This research suggests that similar programs be implemented in other schools to test the generalizability of the findings and explore other factors that may influence students' academic resilience, such as social support and environmental influences.____________________________________________________________Siswa dengan resiliensi akademik yang rendah sering kali dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti keyakinan terhadap kemampuan diri, kemampuan mengelola tugas akademik, kecemasan, dan penyelesaian berbagai tuntutan akademik. Studi pendahuluan menunjukkan bahwa resiliensi akademik siswa cenderung rendah, sehingga mereka memerlukan bantuan untuk meningkatkan ketahanan dalam menghadapi tantangan akademik. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peningkatan resiliensi akademik melalui teknik cognitive restructuring dalam layanan konseling kelompok di SMPN 02 Silo. Desain penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan Penelitian Tindakan Bimbingan dan Konseling (PTBK). Sampel penelitian terdiri dari 6 siswa yang dipilih menggunakan purposive sampling dari total 152 siswa. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner untuk mengukur tingkat resiliensi akademik sebelum dan setelah intervensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 75% sampel mengalami peningkatan yang signifikan dalam resiliensi akademik mereka. Temuan ini menunjukkan bahwa layanan konseling kelompok berbasis restrukturisasi kognitif dapat secara efektif meningkatkan ketahanan akademik siswa. Penelitian ini menyarankan agar program serupa diterapkan di sekolah-sekolah lain untuk menguji generalisasi temuan, serta untuk mengeksplorasi faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi resiliensi akademik siswa, seperti dukungan sosial dan pengaruh lingkungan.
Studi Kasus Penerapan Konseling Individual Menggunakan Rational-Emotive Perilaku untuk Mengatasi Self-Injury Perserta Didik
The aim of this research is to find out and examine in depth self-injury in class VIII students at SMP Negeri 14 Pontianak. The case subjects in this research were two class VIII students who committed self-injury. This research uses a descriptive method with a qualitative approach in the form of a case study. The data collection techniques used were observation, interviews and documentation. Meanwhile, the data analysis technique uses case study steps which include problem elimination, diagnosis, prognosis, treatment, evaluation and follow-up. In providing treatment to subjects in cases I and II, the researcher provided an individual counseling service model using Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) with emotional control card techniques and role playing. Based on research results, the factors that cause self-injury are internal factors such as psychology, and external factors such as family, environment and social media. There were visible changes in the subject of case I and the subject of case II after being given treatment five times. The changes seen in the subject of case I include being able to control his emotions, having feelings of self-worth, and not wanting to commit self-injury. Meanwhile, the changes seen in the subject of case II were being able to control emotions, wanting to get closer to friends, having feelings of worth in the subject of the case, and not wanting to commit acts of self-injury._____________________________________________________________Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mengkaji secara mendalam tentang self-injury pada perserta didik kelas VIII di SMP Negeri 14 Pontianak. Subjek kasus dalam penelitian ini adalah dua orang perserta didik kelas VIII yang melakukan self-injury. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif dalam bentuk studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan teknik analisis data menggunakan langkah-langkah studi kasus yang meliputi identifikasi masalah, diagnosis, prognosis, treatment, evaluasi dan tindak lanjut. Dalam pemberian treatment pada subjek kasus I dan II peneliti memberikan model layanan konseling individual menggunakan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) dengan teknik kartu kontrol emosi dan role playing. Berdasarkan hasil penelitian, faktor penyebab self-injury yaitu faktor internal seperti psikologis, dan faktor eksternal seperti keluarga, lingkungan, dan media sosial. Terdapat perubahan yang tampak pada subjek kasus I dan subjek kasus II Setelah diberikan treatment sebanyak lima kali pertemuan. Perubahan yang tampak pada subjek kasus I diantaranya adalah sudah bisa mengontrol emosinya, sudah adanya perasaan berharga dalam diri, dan tidak mau melakukan self-injury. Sedangkan perubahan yang tampak pada subjek kasus II adalah bisa mengontrol emosi, mau mendekatkan diri dengan teman, sudah adanya perasaan berharga dalam diri subjek kasus, dan tidak mau melakukan self-injury
Meningkatkan Resiliensi Remaja Penyintas Bencana Alam Melalui Konseling Kelompok: Kajian Literatur Sistematis
Recently natural disasters often hit Indonesia. Natural disasters are natural events that cause material, physical, and psychological losses and have various impacts on the survivors. Therefore, resilience is one of the important attributes for adolescents to manage conflicts and come up with appropriate responses in dealing with difficult situations. The purpose of this study is to determine and describe the effectiveness of group counseling to increase the resilience of adolescent survivors of natural disasters. This research uses a systematic literature review (SLR). The literature review procedure uses the PRISMA model. Based on the selection results with the PRISMA model, 127 articles were obtained then after passing the selection according to the PRISMA 2020 guidelines, 16 articles were obtained that were feasible and followed the criteria and with the research objectives to be analyzed. Based on the results of the analysis and literature review, it is known that over the past decade, group counseling has proven effective in increasing the resilience of adolescent survivors of natural disasters. For future research, it is recommended to conduct experimental research and use group counseling to improve the resilience of adolescent survivors of natural disasters, besides counselors must also pay attention to several aspects, such as group cohesiveness, the quality of relationships built between group members, and cultural biases that may occur during the group counseling process. ____________________________________________________________Dewasa ini bencana alam kerap melanda Indonesia. Bencana alam merupakan peristiwa alam yang menyebabkan kerugian secara materi, fisik maupun psikis serta menimbulkan berbagai dampak bagi para penyintasnya. Oleh sebab itu resiliensi menjadi salah satu atribut penting untuk dimiliki remaja untuk mengelolah konflik dan memunculkan respon yang tepat dalam menghadapi situasi sulit. Tujuan dalam penelitian ini mengetahui dan mengambarkan efektivitas konseling kelompok untuk meningkatkan resiliensi remaja penyintas bencana alam. Penelitian ini menggunakan systematic literature review (SLR). Prosedur kajian literatur menggunakan model PRISMA. Berdasarkan hasil seleksi dengan model PRISMA diperoleh 127 artikel yang kemudian setelah melewati seleksi sesuai pedoman PRISMA 2020, diperoleh 16 artikel yang layak dan sesuai kriteria maupun dengan tujuan penelitian untuk dianaliasis. Berdasarkan hasil analisis dan kajian literature diketahui bahwa selama satu dekade terakhir, konseling kelompok telah terbukti efektif untuk meningkatkan resiliensi remaja penyintas bencana alam. Kepada penelitian selanjutnya disarankan untuk melakukan penelitian eksperimen dan menggunakan konseling kelompok untuk meningkatkan resiliensi remaja penyintas bencana alam, selain itu konselor juga harus memperhatikan beberapa aspek, seperti kohesivitas kelompok, kualitas hubungan yang terbangun antar anggota kelompok dan bias-bias budaya yang mungkin terjadi selama proses konseling kelompok
Pengaruh Bentuk dan Diameter Kawat Kondensor terhadap Kadar dan Volume Etanol
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi diameter kawat kondensor terhadap hasil distilasi etanol berbasis biomassa. Kondensor dengan diameter 1/4 inci, 3/4 inci, dan 5/16 inci diuji untuk mengevaluasi efisiensi distilasi dalam menghasilkan etanol dengan kemurnian dan volume yang optimal. Proses distilasi dilakukan selama tiga jam dengan pengukuran volume dan kadar etanol setiap jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada jam pertama, kondensor 1/4 inci dan 5/16 inci menghasilkan etanol sebanyak 550 ml dengan kadar 90%, sementara kondensor 3/4 inci menghasilkan 390 ml dengan kadar yang sama. Pada jam ketiga, kadar etanol pada kondensor 1/4 inci turun menjadi 0%, sedangkan kondensor 3/4 inci mempertahankan kadar etanol sebesar 65% dengan volume distilat 170 ml. Kondensor 5/16 inci menghasilkan volume tertinggi (390 ml) namun dengan kadar etanol hanya 10%. Hasil ini menunjukkan bahwa diameter kawat kondensor mempengaruhi efisiensi distilasi, di mana kondensor berdiameter 5/16 inci memberikan keseimbangan terbaik antara volume dan kemurnian etanol yang dihasilkan. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan teknologi distilasi bioetanol yang lebih efisien dan mendukung kebijakan energi terbarukan di Indonesia
RESTORASI CITRA MAGNETIC RESONANCE IMAGING (MRI) RUANG KATERISASI JANTUNG RSUD ULIN BANJARMASIN MENGGUNAKAN METODE BLIND DECONVOLUTION
Magnetic Resonance Imaging (MRI) adalah sebuah metode pemeriksaan diagnostik yang mulai digunakan sejak tahun 1980. Gambar yang dihasilkan merupakan hasil rekonstruksi pencitraan komputer. Namun berbeda dengan CT-Scan MRI tidak menggunakan radiasi ion melainkan menggunakan medan magnet dan radiofrekuensi. studi kasus yang dijumpai banyak gangguan debluring terhadap citra yang didapatkan dari MRI. Degradasi dan gangguan tersebut tentunya akan berakibat pada pada kualitas gambar yang dihasilkan. Hal tersebut tentunya sangat merugikan dalam dunia medis dikarenakan citra yang dihasilkan akan digunakan untuk mendiagnosa ataupun mendeteksi kelainan yang ada pada tubuh. Dari hasil penulisan dapat disimpulkan proses peningkatan kualitas citra termal dilakukan dengan menggunakan metode blind deconvolution yang terdiri dari 3 tahap, yaitu mencari nilai kernel, mencari nilai konvolusi dan estimasi (MAP????,????). Metode blind deconvolution dapat diterapkan dalam peningkatan kualitas citra termal dengan cara mengurangi efek blur yang terdapat pada gambar. Aplikasi peningkatan kualitas citra termal telah selesai dirancang dengan menggunakan matlab R2022a dan dapat dijalankan pada sistem operasi macOS atau windows