Agroteknika (E-Journal)
Not a member yet
195 research outputs found
Sort by
Proyeksi Skala Usaha Anggrek Bulan (Phalaenopsis amabilis L.) dengan Penerapan Variasi Media Tanam
Anggrek bulan yang secara ilmiah dikenal dengan nama Phalaenopsis amabilis L. merupakan tanaman hias yang banyak digemari di Indonesia. Saat melakukan budidaya anggrek, penting untuk mempertimbangkan beberapa biaya, termasuk harga bahan tanam. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai kelayakan komersial Anggrek Bulan (Phalaenopsis amabilis L.) dengan menyelidiki dampak dari substrat tanam yang berbeda. Penelitian ini berkaitan dengan properti yang dimiliki oleh CV. Anggrek Candi di Kota Semarang, dan dilakukan pada bulan Mei dan Juli tahun 2023. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) untuk mengetahui pengaruh tiga perlakuan media tanam yang berbeda: akar kadaka (M1), arang (M2), dan sphagnum moss (M3). Setiap terapi diulang sebanyak enam kali. Kriteria penelitian ini meliputi kuantifikasi jumlah akar, panjang akar, jumlah daun, panjang daun, dan rentang daun. Data penelitian dilakukan analisis varians (ANOVA), dengan tingkat signifikansi 5%. Sebuah studi keuangan dilakukan untuk memastikan biaya yang terkait dengan produksi anggrek. Data ini menunjukkan bahwa setiap perlakuan media memiliki pengaruh yang sama terhadap semua parameter yang diteliti. Sphagnum moss dianggap sebagai media tanam yang optimal untuk mendorong perkembangan vegetatif pada bibit Phalaenopsis amabilis L.. Apabila angka R/C Ratio bernilai 1 maka menunjukkan bahwa perusahaan budidaya anggrek telah mencapai titik impas. Hal ini menandakan bahwa petani budidaya anggrek tidak memperoleh keuntungan dan tidak pula mengalami kerugian
Evaluasi Potensi Rendang dan Kalio Minangkabau sebagai Pangan Fungsional
Rendang merupakan salah satu harta karun masakan tradisional Indonesia yang berasal dari suku Minangkabau Sumatera Barat. Rendang mempunyai komposisi bumbu dan rempah yang banyak dan beragam, yang akan mempengaruhi aktivitas antioksidan dan menghambat oksidasi sehingga lambat tengik yang menjadi penyebab lamanya umur simpan rendang. Selain itu kandungan antioksidan pada rendang akan memiliki potensi sebagai pangan fungsional. Selama proses pemasakan, senyawa produk reaksi Maillard diduga terbentuk. Melanoidin adalah salah satu produk senyawa reaksi Maillard yang memiliki aktivitas antioksidan. Kalio merupakan salah satu masakan asal Sumatera barat yang memiliki komposisi bahan yang mirip dengan rendang, tetapi proses pembuatannya lebih singkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana reaksi Maillard selama pemasakan yang berakibat pada pembentukan senyawa melanoidin sebagai pigmen warna cokelat rendang terhadap aktivitas dan kapasitas antioksidan dari rendang dibandingkan dengan kalio yang mungkin berpotensi sebagai pangan fungsional. Variabel yang diukur adalah intensitas pencokelatan, aktivitas dan kapasitas antioksidan, kemudian data dianalisis secara statistik menggunakan uji t. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai Intensitas pencokelatan daging rendang (0,322±0,001) sangat nyata lebih tinggi dibandingkan dengan daging kalio (0,163±0,001). Hal ini menandakan reaksi Maillard lebih jauh terjadi pada daging rendang dibandingkan dengan daging kalio. Sementara aktivitas antioksidan bumbu (62,46±1,43%) dan daging rendang (46,23±1,43%) sangat nyata lebih tinggi dibandingkan dengan bumbu (23,86±1,62%) dan daging kalio (23,9±0,24%). Kapasitas antioksidan bumbu (310,08±7,23 mg EVC 100 g-1 BK) dan daging rendang (227,76±7,23 mg EVC 100 g-1 BK) sangat nyata lebih tinggi dibandingkan dengan bumbu (114,34±9,16 mg EVC 100 g-1 BK) dan daging kalio (114,51±1.20 mg EVC 100 g-1 BK)
Keragaman Morfologi Tanaman Kepel (Stelochocarpus burahol Hook F & Thomson) di Desa Burikan, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, Yogyakarta
Tanaman kepel (S. burahol Hook F & Thomson) merupakan tanaman identitas dari Daerah Istimewa Yogyakarta yang sulit ditemukan karena telah langka. Kelangkaan tersebut disebabkan oleh adanya anggapan di masyarakat bahwa tanaman kepel sebagai tanaman Keraton sehingga masyarakat tidak berani untuk menanamnya. Upaya konservasi untuk pelestarian tanaman kepel hingga saat ini belum banyak dilakukan. Konservasi bertujuan untuk menyediakan sumber daya genetik sehingga tersedia apabila dibutuhkan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tentang keragaman morfologi tanaman kepel di Desa Burikan Kecamatan Mlati Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta. Pelaksanaan penelitian dilaksanakan melalui beberapa tahap, dimana tahap (i) survey kepada masyarakat sekitar, kemudian dilanjutkan tahap (ii) identifikasi lokasi dan pengambilan data primer serta sekunder. Pengamatan dilakukan pada karakter morfologi pohon dan daun. Data hasil pengamatan disajikan dalam bentuk skoring dan dilanjutkan pengelompokan data matriks (Cluster Analysis) dan pembuatan dendogram Unweigthed Pair Group Method Arithmetic Average (UPGMA) menggunakan program MVSP (Multi Variate Statistical Package) version 3.22. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai keragaman tanaman kepel berdasarkan morfologi pohon sebesar 0-80%, artinya hanya 20% kemiripan dari karkteristik pohon tanaman kepel yang dijumpai. Sedangkan nilai keragaman tanaman kepel berdasarkan morfologi daun sebesar 0-89%, artinya hanya 11% kemiripan dari karakteristik daun tanaman kepel yang dijumpai
Analisis Sifat Fisikokimia Keju Mozarella dengan Penambahan Antosianin dari Bubuk Bunga Telang (Clitoria ternatea)
Kelopak Bunga telang (Clitoria ternatea) mempunyai pigmen antosianin yang dapat digunakan sebagai alternatif pewarna alami untuk memberikan warna ungu-biru. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian bunga telang terhadap sifat fisikokimia keju Mozzarella. Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan terdiri dari A=0%, B=0,25%, C=0,50%, D=0,75% dan E=1,00%. Variabel yang dilihat meliputi sifat kimia (antosianin dan pH), sifat fisik (nilai b*), kualitas mutu hedonik dan kualitas hedonik. Pemberian bubuk bunga telang memiliki pengaruh pada kandungan antosianin, nilai b*, nilai pH, warna, tekstur dan rasa. Namun, pemberian bubuk bunga telang tidak memiliki pengaruh pada mutu hedonik aroma. Persentase bubuk bunga telang yang memiliki pengaruh terbesar pada pengujian warna terdapat pada perlakuan E (1,00%) dengan rata-rata kadar antosianin (27,18) mg/g, nilai b* (-18,66), nilai pH (5,58) dan uji skor tinggi subjek pada tingkat tekstur hedonis (4,93) dan rasa hedonis (4,63). Pemberian bubuk bunga telang sebanyak 1,00% pada keju Mozzarella menjadikan kandungan antosianin tertinggi, warna terbiru, serta tekstur yang sangat disenangi panelis
Struktur Genetik Molekuler Selada Laut (Ulva lactuca) di Pantai Ulee Lheue, Indonesia
Pantai Ulee Lheue merupakan kawasan pantai di Kota Banda Aceh yang dikembangkan untuk wisata. Spesies rumput laut makro alga tersebar luas di Pantai Ulee Lheue namun belum pernah dimanfaatkan. Satu diantara selada laut hijau (sea lettuce) yang melimpah di Pantai Ulee Lheue yaitu Ulva lactuca. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi struktur genetik Ulva lactuca yang berasal dari Pantai Ulee Lheue, Aceh, Indonesia secara molekuler. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu skrining morfologi Ulva lactuca yang berpedoman pada literatur jurnal kemudian analisis molekuler ekstraksi DNA genom menggunakan gen primer ITS. Selanjutnya pengujian jarak genetik dengan metode Trichotomy melalui software Treeview X dari analisis statistik GenAlex. Hasil penelitian menunjukkan nilai Fit tidak ada perbedaan yang signifikan dengan Fis. Nilai total migran (Nm) menunjukkan nilai yang berbeda yaitu pada lokus ITS1 0,330 dan ITS 2 yaitu 0,094. Variasi alel lokus ITS dibedakan dengan jelas dari nilai PIC >0,5 artinya memiliki nilai polimorfis yang tinggi. Panjang alel dalam PCR teramplifikasi 300 bp s/d 500 bp. Identifikasi frekuensi statistik gen ITS dari sampel diperoleh pada kedua lokus menunjukkan nilai yang sama (1,000), Fst menunjukkan nilai dalam lokus ITS 1 adalah 0,431, dan ITS 2 0,726. Kekerabatan sangat erat diperoleh dari analisis filogenetik terbagi dalam dua (2) kelompok. Sampel UL8 terpisah dengan sampel UL1, UL2, UL3, UL4, UL5, UL6, UL7, UL9, UL10, UL11, UL12, UL13, UL14 dan UL15. Namun sampel UL10 dan UL14 berada dalam 1 klaster sama dengan sampel UL9 dan UL13. Kekerabatan tersebut kemungkinan dikarenakan spesies Ulva berasal dari pesisir pantai yang sama
Review Artikel: Keanekaragaman Hanjeli (Coix lacrima-jobi L.) di Sumatera Barat
Indonesia dikenal sebagai wilayah megabiodiversity, hal ini disebabkan karena menyimpan keanekaragaman spesies flora serta fauna yang melimpah. Kuantitas dari biodiversitas ini bersifat fluktuatif, kenaikan terjadi jika ditemukan spesies-spesies baru di alam, dan penurunan bisa disebabkan akibat terjadinya kepunahan. Sumatera Barat merupakan daerah dengan tingkat sumber keanekaragaman hayati yang tinggi. Namun sampai saat ini potret biodiversitas provinsi Sumatera Barat tidak dideskripsikan secara menyeluruh dan lengkap, tercatat belum semua daerah memiliki basis data kanekaragaman hayati. Salah satu pangan lokal alternatif yang belum teridentifikasi secara menyeluruh ialah tanaman hanjeli dengan nama ilmiah Coix lacrima-jobi L. Tujuan dari review artikel ini yakni untuk mengumpulkan informasi-informasi perihal kondisi keanekaragaman tanaman hanjeli yang ada di Sumatera Barat. Ditemukan bahwa hanjeli mampu untuk tumbuh pada dataran rendah hingga dataran tinggi serta mampu adaptif pada bermacam kondisi ekosistem, antara lain pada lahan kering serta zona di sekitar sumber aliran air. Diketahui bahwa terdapat keanekaragaman tanaman hanjeli yang ditemukan di provinsi Sumatera Barat, hal ini terlihat dari keragaman fenotipik yang ditampilkan baik berupa karakter kualitatif maupun kuantitif pada batang, daun, bunga, serta biji
Karakteristik Sensori dan Aktivitas Antioksidan Minuman Fungsional yang Diperkaya Bunga Telang (Clitoria ternatea L) dan Daun Kelor (Moringa oleifera)
Minuman fungsional atau minuman herbal adalah minuman yang dibuat dari bahan-bahan herbal dan memiliki manfaat seperti menambah asupan gizi atau vitamin, meningkatkan stamina bahkan dapat mengurangi resiko penyakit tertentu. Bunga telang (Clitoria ternatea L) dan daun kelor (Moringa oleifera) merupakan bahan herbal yang telah teridentifikasi memiliki kandungan antioksidan tinggi, sehingga dapat dijadikan bahan baku pembuatan minuman fungsional atau minuman herbal. Penggunaan kedua bahan tersebut dalam satu produk minuman herbal belum pernah diteliti sebelumnya, sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan bunga telang dan daun kelor terhadap karakteristik sensori dan aktivitas antioksidan minuman fungsional. Penelitian ini dirancang menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan perlakuan bubuk bunga telang (2 g, 4 g dan 6 g) dan bubuk daun kelor (2 g dan 4 g). Hasil penelitian menunjukkan nilai IC50 setiap perlakuan berkisar antara 149,36 - 198,76 µg/ml (aktivitas antioksidan sedang – sangat lemah), kadar flavonoid antara 2242,85 – 2792,90 mg/100 g, dengan karakteristik warna hijau teal (3,88 – 3,92) sampai biru teal (4,60 – 4,76) seiring peningkatan konsentrasi bunga telang, aroma agak langu (3,26 – 3,45) sampai langu (2,40 – 2,48), dan rasa agak sepat (2,68-2,72) sampai sepat (1,80 – 1,84). Data tersebut menunjukkan bahwa kombinasi bubuk bunga telang 6 g dan bubuk daun kelor 4 g (T3K2) memiliki aktivitas antioksidan tertinggi dengan nilai IC50 sebesar 149,36 µg/ml, dan memiliki karakteristik warna biru teal (4,60), aroma agak langu (3,32) dan rasa sepat (1,80)
Kajian Penambahan Kinetin dan 2,4-D terhadap Pertumbuhan Kultur Jaringan Tanaman Pisang Barangan (Musa paradisiaca L.) pada Fase Subkultur
Pisang (Musa paradisiaca L.) adalah salah satu buah yang paling populer dan diminati oleh masyarakat Indonesia. Salah satu tanaman pisang yang memiliki potensi untuk dibudidayakan yaitu pisang barangan. Upaya dalam menyediakan bibit yang unggul dalam waktu singkat dan dalam jumlah banyak salah satunya melalui kultur jaringan. ZPT (Zat Pengatur Tumbuh) Kinetin dan 2,4-D yang dikombinasikan dengan seimbang mampu memacu proses morfogenesis pada eksplan. Tujuan penelitian ini yaitu mengkaji pengaruh konsentrasi Kinetin dan 2,4-D yang berbeda terhadap pertumbuhan kultur jaringan pisang barangan pada fase subkultur. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial 4x4 dengan 3 kali ulangan. Faktor pertama adalah konsentrasi Kinetin; 0 mg/L (K0), 2,5 mg/L (K1), 5 mg/L (K2), 7,5 mg/L (K3). Faktor kedua adalah konsentrasi 2,4-D; 0 mg/L (D0), 0,5 mg/L (D1), 1 mg/L (D2), 1,5 mg/L (D3). Parameter yang diamati adalah waktu muncul tunas, persentase kemunculan tunas, jumlah tunas, tinggi tunas, jumlah akar, dan jumlah daun. Data dianalisis ragam (ANOVA), jika berpengaruh nyata dilanjutkan dengan uji DMRT dengan taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi pada parameter persentase kemunculan tunas dan jumlah daun terbaik dicapai oleh perlakuan konsentrasi Kinetin 0 mg/l dan 2,4-D 0 mg/l (K0D0). Perlakuan konsentrasi Kinetin 5 mg/l berpengaruh nyata pada parameter jumlah tunas, tinggi tunas, dan jumlah akar, sedangkan pada parameter waktu muncul tunas terbaik terdapat pada perlakuan konsentrasi Kinetin 2,5 mg/l. Penambahan 2,4-D menyebabkan penurunan pada semua parameter sehingga tidak dianjurkan untuk tahap subkultur
Pemanfaatan Abu Sekam Padi dan Arang Kayu Sebagai Salah Satu Alternatif Penggunaan Top Soil untuk Media Tanam Bibit Kelapa Sawit di Pre-Nursery
Penggunaan media tanam merupakan salah satu penentu keberhasilan dalam pembibitan kelapa sawit. Media tanam berperan sebagai media tumbuh dan penyedia unsur hara dan air. Penggunaan top soil sebagai media tanam telah banyak dilakukan dan kemungkinan keberadaannya akan berkurang. Penggunaan abu sekam padi dan arang kayu dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif sebagai media tanam. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji respons pertumbuhan dan biomassa bibit kelapa sawit terhadap pemberian abu sekam padi dan arang kayu sebagai media tanam di pre-nursery. Penelitian ini dari April sampai Juli 2022 di kebun percobaan Wedomartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman. Percobaan mengimplementasikanmenggunakan rancangan acak kelompok faktorial. Faktor pertama dan kedua berturut-turut adalah komposisi abu sekam padi dan arang kayu dengan masing-masing faktor terdiri dari empat taraf perlakuan, yaitu: 0, 10, 20, dan 30%. Terdapat 16 kombinasi perlakuan dengan pengulangan tiga kali. Pengaruh interaksi yang signifikan terhadap pemberian kombinasi perlakuan abu sekam padi dan arang kayu terlihat pada peubah tinggi bibit pada umur 10 dan 12 minggu setelah tanam (MST), bobot segar dan kering pucuk, dan bobot segar akar bibit kelapa sawit. Tinggi bibit, bobot segar dan kering tajuk, serta bobot segar akar bibit kelapa sawit tertinggi diperoleh pada saat aplikasi abu sekam padi (20%) tanpa penambahan arang kayu (0%). Bobot kering dan panjang akar bibit kelapa sawit tidak dipengaruhi oleh komposisi abu sekam padi dan arang kayu
Pengaruh Komposisi Ampas Kopi dan Cascara Terhadap Karakteristik Biobriket
Gaya hidup saat ini menyebabkan penambahan jumlah limbah di lingkungan, termasuk limbah dalam proses produksi dan pengolahan kopi. Limbah ampas kopi yang berlimpah dapat digunakan dalam pembuatan biobriket. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan perlakuan formulasi terbaik dari ampas kopi dan cascara dalam pembuatan biobriket yang berkualitas. Sampel disusun menggunakan metode RAL 2 faktorial berupa rasio bahan baku ampas kopi: cascara (1:0, 1:1, 2:1, 1:2, dan 0:1) dan penggunaan perekat tapioka (4, 5, dan 6%). Analisis yang dilakukan antara lain penentuan densitas, kadar air, abu, volatile matter, fixed carbon, serta laju pembakaran dan dibandingkan menggunakan SNI 01-6235-2000. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa perlakuan P13 (rasio ampas kopi:cascara 1:0 dengan perekat 60%) menghasilkan karakteristik biobriket terbaik dengan densitas 0,545 g/cm3, kadar air 4,575%, abu 3,333%, zat menguap 11,058%, karbon terikat 85,609% dan laju pembakaran sebesar 2,124 g/menit, serta memenuhi persyaratan SNI