Dinamika Rekayasa (E-Journal - Engineering Departement Jenderal Soedirman University UNSOED)
Not a member yet
192 research outputs found
Sort by
SIMULASI KOORDINASI RELAY ARUS LEBIH POLA NON-KASKADE
Dibutuhkan pola koordinasi antar OCR agar diperoleh sistem pengamanan yang handal dalam mengamankan transformator dari gangguan arus lebih. Pola koordinasi yang digunakan di Gardu Induk 150 kV Rawalo saat ini adalah pola koordinasi kaskade, namun kelemahan pada pola ini adalah pengaturan waktu kerja OCR incoming selama 1 detik, sehingga jika terjadi kegagalan kerja pada OCR feeder maka transformator akan terganggu selama 1 detik. Oleh karena itu, dibutuhkan pola koordinasi baru yang tidak mengabaikan selektifitas sistem pengamanan dan dapat mempercepat waktu kerja OCR incoming yaitu pola koordinasi non-kaskade. Studi ini dilakukan untuk menganalisa penerapan pola koordinasi OCR non-kaskade di Gardu Induk 150 kV Rawalo. Untuk mengetahui kinerja pola koordinasi non-kaskade dilakukan simulasi pada Matlab Simulink 7.0.1. Hasil simulasi kinerja pola non-kaskade jika OCR feeder mengalami kegagalan kerja maka OCR incoming akan bekerja 0,6 detik setelah gangguan terjadi, sehingga transformator hanya akan terganggu selama 0,6 detik.Â
Analisis Efektivitas Penerapan Outrigger Pada Bangunan Bertingkat Dalam Mengurangi Simpangan Dengan Variasi Bentuk Outrigger
Gedung bertingkat tentu harus aman dan handal untuk menghadapi gempa yang sering terjadi di Indonesia, sehingga muncul inovasi bernama struktur outrigger. Sistem outrigger adalah suatu sistem struktur yang menghubungkan shear/corewall dengan kolom terluar dari suatu bangunan bertingkat. Desain outrigger sendiri memiliki banyak variasi bentuk outrigger, misalnya bentuk truss (X), V, dan Λ. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penerapan outrigger pada gedung bertingkat dalam mengurangi simpangan yang terjadi dengan variasi dari bentuk outrigger. Analisis akan dilakukan pada gedung 40 lantai dengan variasi tujuh model yaitu, model bangunan tanpa outrigger, model bangunan dengan outrigger berbentuk (X), (V), dan (Λ) yang masing-masing terletak di dua ketinggian yang berbeda. Hasil penelitian menunjukan bahwa bangunan dengan outrigger terbukti dapat mengurangi simpangan dan model bangunan dengan outrigger berbentuk (X) pada ketinggian 0.25h dan 0.75h merupakan yang paling efektif dalam memikul beban gempa yang terjadi. Pada model tersebut, penerapan outrigger dapat mengurangi simpangan hingga 10.75% pada arah X dan 5.52% pada arah Y
PEMANFAATAN LIMBAH PLASTIK MENJADI AGREGAT PADA MORTAR GEOPOLIMER
Berbagai jenis plastik susah berkontaminasi dengan tanah yang juga dianggap limbah anorganik, yang sulit hancur dengan sendirinya. Solusi pemanfaatan limbah plastik dapat digunakan sebagai agregat beton. Metode yang digunakan yaitu eksperimental di laboratorium dengan membandingkan mortar geopolimer dan konvensional dalam variasi jumlah agregat plastik substitusi agregat alam. Pengaruh penambahan plastik  Pasta geopolimer menggunakan 3 varian molaritas 8M, 12M, 16M. Hasil pengujian kuat tekan beton didapatkan nilai kuat tekan tertinggi pada mortar geopolimer 12M dengan penambahan agregat kasar berupa limbah plastik sebanyak 15% pada umur 28 hari dengan dengan hasil kuat tekan sebesar 28,24 MPa. Kuat tekan yang dihasilkan pada mortar konvensional dan mortar geopolimer didapatkan semakin meningkat dengan bertambahnya umur pengujiannya. Pengaruh agregat plastik dapat mengikat lebih baik secara homogen pada mortar geopolimer dibanding dengan mortar konvensional
Evaluasi Tebal Perkerasan Lentur Akibat Beban Berlebih Dengan Metode Austroads Menggunakan Program Circly 6.0
Faktor utama terjadinya kerusakan jalan yaitu akibat dari angkutan barang yang membawa beban melebihi sumbu terberat suatu kendaraan (Overload). Penelitian ini dilakukan untuk membandingkan desain tebal perkerasan menggunakan beban standar dan akibat beban berlebih kendaraan. Metode Austroads digunakan dalam mendesain tebal perkerasan, sedangkan Program Circly 6.0 digunakan untuk mengevaluasi kemampuan tebal perkerasan tersebut dalam memikul beban. Data LHR dan beban kendaraan digunakan untuk menghitung nilai Equivalent Standard Axles (ESA), Cumulative Growth Factor (CGF), dan Design Equivalent Standard Axles (DESA), sehingga dapat diketahui jenis material dan tebal setiap lapis perkerasan menggunakan Design Chart. Dari hasil penelitian didapatkan tebal lapis perkerasan untuk umur rencana 20 tahun dengan CBR tanah dasar 5% untuk beban standar yaitu Lapis permukaan 17,5 cm (Aspal, Modulus 3000 MPa), Lapis pondasi atas 10 cm (Granular, Modulus 350 MPa), dan lapis pondasi bawah 25 cm (Cemented Material, Modulus 5000 MPa), sedangkan untuk beban berlebih dengan material yang sama, tebal perkerasan terdiri dari Lapis permukaan 22,5 cm, Lapis pondasi atas 10 cm, dan  lapis pondasi bawah 20 cm. Beban berlebih yang digunakan dalam perhitungan masuk dalam kategori pelanggaran tingkat II (5-15%) dan tingkat III (>25%).  Dari Program Circly 6.0 dapat diketahui bahwa desain Lapis perkerasan untuk beban standar maupun beban berlebih sudah memenuhi standar dan aman untuk digunakan. Hal ini ditandai dengan nilai Cumulative Damage Factor (CDF) ≤
Pengaruh Waktu Curing Terhadap Nilai Swelling Pada Tanah Lempung Dengan Campuran Fly Ash Dan Bottom Ash
Tanah lempung yang berplastisitaas tinggi memiliki masalah dengan kembang susut yang cukup tinggi, oleh karena itu perlu adanya stabilisasi agar nilai pengembangan pada tanah lempung plastisitas tinggi turun dan dapat digunakan sebagai tanah dasar dalam suatu konstuksi. Upaya stabilisasi yang dilakukan dengan dengan cara mencampurkan tanah lempung dengan bahan adiktif berupa abu dasar, abu terbang, dan kapur. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh lama waktu pemeraman untuk mendapatkan nilai pengembangan terkecil pada tanah lempung plastisitas tinggi akibat penambahan bahan adiktif berupa kapur, abu dasar dan abu terbang. Hasil menunjukan bahwa dengan penambahan bahan adiktif dan memberi perlakuan berupa pemeraman pada campuran tanah lempung dapat menurunkan nilai swelling. Untuk kondisi optimum potensi pengembangan terjadi pada variasi campuran L 5% + MS6 95%, dimana pada campuran tersebut potensi pengembangan sangat kecil dibandingkan dengan tanah asli dan tanah campuran lainnya. Dapat dilihat dari kondisi pemeraman 28 hari penurunan yang terjadi sebesar 98% dibanding tanah asli yang tidak diberi perlakuan. Jadi, dapat disimpulkan dengan memberi campuran bahan adiktif dan diberi pemeraman dapat memperbaiki tanah asli dan dapat memperkecil nilai swelling potentia
PRIORITAS PENGEMUDI UNTUK KENYAMANAN LAYANAN PENUMPANG DI LINGKUNGAN AKADEMIK BERBASIS K-NEAREST NEIGHBOR
Peran pengemudi adalah sebagai komponen penggerak sarana transportasi yang memobilisasi penumpang yang ada didalamnya. Sudah sepantasnya calon penumpang menginginkan rasa nyaman ketika berkendara dan terjamin keselamatannya, berdasarkan penelitian sebelumnya menyatakan bahwa 82,39% dari kecelakaan yang terjadi disebabkan oleh faktor pengemudi, sisanya dipengaruhi faktor kendaraan dan kondisi jalan raya. Sebuah instansi pendidikan yang didalam operasional kegiatan akademiknya tidak lepas dari masalah transportasi. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan prioritas pengemudi yang sesuai untuk setiap order pesanan transportasi. Metode yang digunakan adalah K-Nearest Neighbor dengan mengelompokkan data berdasarkan kedekatan jarak dengan tetangga terdekat (k). Nilai k merupakan nilai acuan dalam menentukan optimalisasi kedekatan data testing terhadap data sample. Berdasarkan hasil uji pada 20 data sample dihasilkan nilai akurasi tertinggi yaitu 43 % dengan memanfaatkan pendekatan k = 7 , sehingga k=7 dapat dijadikan k optimal pada proses penentuan prioritas pemilihan drive
Aspek-aspek Hidraulik Keruntuhan Bangunan Pengendali Sedimen Kedung Ringin
Keruntuhan bangunan hidraulik check dam merupakan suatu fenomena keruntuhan bangunan hidraulik yang penting dikaji, khususnya ditinjau dari aspek-aspek hidraulik yang menyebabkan keruntuhan bangunan. Kajian keruntuhan bangunan Check dam dalam artikel ini mengambil kasus fenomena keruntuhan Bangunan Pengendali Sedimen (BPS) Kedung Ringin di wilayah Kabupaten Kebumen Provinsi Jawa Tengah Indonesia. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa keruntuhan bangunan tersebut dipicu sufosi dan boiling oleh rembesan di bawah spillway. Perbaikan keruntuhan bangunan tersebut harus dilakukan dengan mengganti seluruh bagian spillway dengan memasang material baru disertai pengawasan lebih ketat dalam pekerjaan pelaksanaan mengacu pada spesifikasi teknis yang ditetapkan. Diperlukan pula pemasangan turap di bawah spillway baru minimal sepanjang 4 m dari dasar spillway untuk mengantisipasi terjadinya sufosi di masa datan
SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS PETA PENANAMAN MODAL KABUPATEN CILACAP
Pemanfaatan teknologi semakin mempengaruhi perkembangan suatu daerah, khususnya dalam hal ini adalah potensi penanaman modal yang ada pada kabupaten Cilacap. Banyak investor yang tertarik untuk berinvestasi di kabupaten Cilacap, namun kurang tepat dan cepatnya informasi menyulitkan para investor yang akan berinvestasi. Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) kabupaten Cilacap membutuhkan sebuah sistem yang dapat mengelola data secara cepat dan tepat dalam menyajikan informasi yang dibutuhkan investor dan juga menarik minat investor untuk berinvestasi di kabupaten Cilacap. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membantu investor dalam memperoleh informasi terkait keadaan dan nilai investasi yang diimplementasikan dalam sistem informasi geografis yang menggambarkan peta penanaman modal untuk sektor-sektor potensi investasi yang ada di kabupaten Cilacap dengan berbasis web. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode waterfall serta menggunakan bahasa pemrograman PHP dan basis data MySQL pada pengembangan sistemnya. Implikasi hasil dari pengimplementasian sistem informasi geografis ini dapat dijadikan upaya dalam peningkatan kualitas layanan berbasis website yang sangat berpengaruh terhadap kegiatan penanaman modal yang akan dilakukan oleh para investor sehingga kabupaten Cilacap dapat terus berkembang dan memanfaatkan sistem informasi geografis dalam menyajikan informasi potensi penanaman modal