OBGYNIA - Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
Not a member yet
371 research outputs found
Sort by
Wound Dehiscence Following Obstetrics and Gynecology Surgeries: An Observational Study at a Tertiary Hospital in Bandung
Introduction: Wound dehiscence is a severe postoperative complication that disrupts an abdominal wound closure which can be caused by endogenous or exogenous flora that infect a surgical wound. Many factors are responsible for surgical site infection in obstetric and gynecology patients considering all the basic standards are ideally maintained in tertiary care hospitals. To identify the characteristics of surgical wound dehiscence (SWD) patients who underwent obstetric and gynecological surgeries at Dr. Hasan Sadikin Hospital from 2021 to 2022.Methods: This study utilized a quantitative descriptive approach with a retrospective design. Results: A total of 43 subjects were included in the study and were divided into three groups based on their surgery type: obstetrics (n=11), gynecology (n=7), and gynecological oncology (n=25). The majority of SWD cases were associated with gynecological oncology surgeries. The patients were predominantly aged 18-65 years (88%), had superficial SWD (65%), normal BMI (37%), were non-smokers (67%), had a history of steroid medication usage (63%), received prophylactic antibiotics (63%), underwent elective surgery (58%), had laparotomy surgeries (100%), with a duration of ≥180 minutes (35%), and intraoperative bleeding of ≤1500 cc (63%). The surgical wounds were primarily classified as clean type (47%), and therapeutic antibiotics were administered to the majority of patients (74%).Conclusion: Most of our findings were consistent with existing theories. However, the discrepancies observed in some outcomes can serve as an evaluative tool to assess the adherence of current practices to established guidelines. It is crucial to consider the risk factors for SWD when developing preventive strategies.Dehisensi Luka Pascaoperasi Obstetri dan Ginekologi: Sebuah Studi Observasi di Rumah Sakit Tersier Di BandungAbstrakPendahuluan: Dehisensi luka pascaoperasi merupakan komplikasi serius yang dapat mengganggu penutupan luka di perut yang disebabkan oleh adanya flora bersumber secara endogen atau eksogen yang menginfeksi luka operasi. Banyak faktor yang berperan dalam infeksi daerah operasi walaupun sudah dilakukannya semua standar operasional yang selalu dipertahankan di rumah sakit perawatan tersier. Untuk mengetahui karakteristik pasien dehisensi luka pascaoperasi obstetri dan ginekologi di RSUP Dr. Hasan Sadikin.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif yang menganalisis faktor praoperatif, intraoperatif, dan pascaoperatif dari subjek penelitian. Hasil: Pada studi ini, terdapat 43 subjek yang selanjutnya dikategorikan menjadi tiga kelompok berdasarkan jenis operasinya: obstetri (n=11), ginekologi (n=7), dan onkologi ginekologi (n=25). Sebagian besar kasus berhubungan dengan operasi onkologi ginekologi, berusia 18 - 65 tahun (88%), memiliki dehisensi luka superfisial (65%), indeks massa tubuh normal (37%), bukan perokok. (67%), memiliki riwayat penggunaan obat steroid (63%), menerima antibiotik profilaksis (63%), menjalani operasi elektif (58%), menjalani operasi melalui laparotomi (100%), dengan durasi ≥180 menit (35%), memiliki luka operasi tipe bersih (47%), mengalami perdarahan intraoperative ≤1500 cc (63%), dan mendapatkan antibiotik terapeutik (74%).Kesimpulan: Sebagian besar hasil studi didapatkan sesuai dengan teori yang telah ada. Kesenjangan yang ditemukan pada luaran studi dapat menjadi alat evaluasi untuk menilai ketaatan pada praktik yang dilakukan untuk kemudian dijadikan pedoman praktik. Penting juga untuk mempertimbangkan faktor risiko dari dehisensi luka pascaoperasi ketika akan mengembangkan strategi preventif.Kata kunci: dehisensi luka pasca operasi, faktor risiko, praoperasi, intraoperasi, pascaoperas
Alcohol Abuse in Pregnancy (Case Report)
Introduction: Alcohol abuse is an uncommon but significant health issue among pregnant women in Indonesia. Even minimal alcohol consumption can cause substantial harm to both individuals and society. However, there are currently no national service standards for screening, recording, or counseling regarding alcohol use during pregnancy in Indonesia.Case Report: A 25-year-old woman, gravida 2 para 1 abortus 0 (G2P1A0), at 20-21 weeks of gestation, presented to the emergency room with decreased consciousness after consuming alcohol suspected to contain ethanol. Clinical assessment and laboratory tests indicated that the patient was suffering from metabolic encephalopathy and severe metabolic acidosis. The patient was promptly intubated and resuscitated. Despite receiving intensive care in the ICU, the patient experienced seizures and intrauterine fetal demise (IUFD), followed by spontaneous labor the next day. Unfortunately, the patient’s condition continued to deteriorate, and she succumbed to multi-organ failure due to high blood alcohol concentration on the ninth day of treatment.Conclusion: From the case we can conclude that alcohol use during pregnancy is closely linked to the patient’s psychological condition. To optimize patient care, obstetricians and gynecologists are encouraged to employ routine screening techniques, clinical laboratory tests, brief interventions, and appropriate treatment referrals, one of them is ASSIST by WHO. Unfortunately, many pregnant women in Indonesia lack access to specialist care. Therefore, it is crucial to disseminate information about the health risks associated with alcohol consumption and abortion within informal community sectors to effectively reach vulnerable groups.Penyalahgunaan Alkohol pada Kehamilan (Laporan Kasus)AbstrakPendahuluan: Penyalahgunaan alkohol merupakan masalah kesehatan yang jarang ditemukan pada ibu hamil di Indonesia, meski konsumsi alkohol dalam jumlah berapa pun dapat menimbulkan kerugian besar bagi individu dan masyarakat. Namun, saat ini belum ada standar layanan nasional untuk skrining, pencatatan, dan konseling mengenai penggunaan alkohol pada ibu hamil di Indonesia.Laporan Kasus: Seorang perempuan berusia 25 tahun, gravida 2 para 1 abortus 0 (G2P1A0), dengan usia kehamilan 20-21 minggu, datang ke IGD dengan kondisi penurunan kesadaran setelah meminum minuman beralkohol yang diduga mengandung etanol. Pemeriksaan klinis dan hasil laboratorium menunjukkan bahwa pasien menderita ensefalopati metabolik dan asidosis metabolik berat. Pasien segera diintubasi dan diresusitasi. Setelah satu hari perawatan di ICU, pasien mengalami kejang dan intrauterine fetal demise (IUFD), yang kemudian disusul dengan persalinan spontan keesokan harinya. Kondisi pasien terus memburuk selama perawatan dan meninggal pada hari kesembilan akibat kegagalan multiorgan karena tingginya kadar alkohol dalam darah. Hasil alloanamnesis dari keluarga pasien menunjukkan bahwa pasien mengalami tekanan psikologis akibat kehamilan yang tidak diinginkan, yang diduga terkait dengan percobaan aborsi.Kesimpulan: Dalam kasus ini dapat disimpulkan bahwa konsumsi alkohol selama kehamilan erat kaitannya dengan kondisi psikologis pasien. Untuk mengoptimalkan perawatan, dokter obstetri dan ginekologi didorong untuk mempelajari dan menggunakan teknik skrining rutin, tes laboratorium klinis, intervensi singkat, dan rujukan pengobatan yang tepat dengan skrining ASSIST dari WHO. Sayangnya, masih banyak ibu hamil di Indonesia yang tidak memiliki akses terhadap dokter spesialis. Oleh karena itu, informasi mengenai risiko kesehatan akibat alkohol dan aborsi penting untuk disebarluaskan kepada masyarakat di sektor informal sehingga kelompok rentan dapat dijangkau dengan baik.Kata kunci: intoksikasi alkohol, kehamilan, penyalahgunaan alkohol, abors
Progressivity of Variable Deceleration to Late Deceleration – A Case Report and It’s Implication
Introduction: Cardiotocography (CTG) records changes in fetal heart rate and their temporal relationship with uterine contractions. This case report specifically highlights the progression of variable deceleration to late deceleration, its implication, and importance of variable deceleration.Case Report: A 42-year-old G4P2A1 patient at 37–38 weeks of gestation presented to our emergency unit with severe preeclampsia (170/110 mmHg) and irregular heart rate (120 – 70 – 110 bpm). We performed CTG and showed baseline 120–130, with no variability and accompanied by deceleration. The first 2 deceleration occur without the same timing as contraction, and the two later occur after contraction. We performed C-section on the patient and healthy female baby.Discussion: This case provides us with a rather unique pattern of CTG where we could see a slight progression from variable deceleration to late deceleration. Deceleration itself represents a reflex response of the fetus to reduce myocardial workload in response to stress; therefore, it can be secondary to cord compression or other causes. As this condition continues, the fetus deceleration progresses to late deceleration, presenting with a more dire condition and severe acidemic condition. Conclusion: Most of the time variable deceleration are classified as “cord compression” decelerations, while most cases of fetal acidemia in labor are due to reduction in uteroplacental perfusion not the compression of cord. Therefore, variable deceleration is an important sign of fetal acidemia, and when such if itis present, we should take the initiative for termination of pregnancy to prevent bad outcomes of the fetus.Progresivitas Deselerasi Variabel ke Deselerasi Lambat–Laporan Kasus dan ImplikasinyaAbstrakPendahuluan:Kardiotokografi merekam perubahan detak jantung janin dan hubungannya dengan kontraksi uterus. Laporan kasus ini hendak menunjukkan perubahan dari deselerasi variabel ke deselerasi lambat serta implikasi dan pentingnya deselerasi variabel.Laporan Kasus: Seorang wanita 42 tahun G4P2A1 gravida 37-38 minggu datang ke IGD dengan preeklamsia berat (170/110 mmHg) dan denyut jantung janin yang irreguler (120 – 70 – 110 x/menit). Setelah dilakukan kardiotokografi didapatkan baseline 120-130, tanpa ada akselerasi dan diikuti deselerasi. Dua deselerasi yang muncul pertama timbul tanpa ada hubungan dengan kontraksi uterus dan dua kontraksi berikut nya terjadi setelah kontraksi. Pasien kemudian dilakukan seksio sesarea dan lahir bayi perempuan sehat.Diskusi: Kasus ini memberikan gambaran kardiotokografi unik dengan adanya progresivitas dari deselerasi variabel ke deselerasi lambat. Deselerasi sendiri merupakan respon fetus terhadap stress dengan menurunkan beban kerja myocardium janin. Hal ini terjadi akibat hipoksia pada janin yang terjadi akibat kompresi tali pusat dan atau penyebab lain. Bila kondisi ini berlanjut menjadi deselerasi lambat maka kondisi fetus akan semakin memburuk dan masuk kedalam asidemia berat. Kesimpulan: Sering kali dalam melihat deselerasi variabel, kita menklasifikasikannya sebagai deselerasi yang disebabkan penekanan tali pusat/cord-compression yang bila dilakukan resusitasi dapat membaik. Akan tetapi mayoritas kasus dari asidemia fetus pada persalinan terjadi akibat penurunan aliran uteroplasental bukan dari kompresi tali pusat. Oleh karena itu deselerasi variabel justru merupakan tanda penting dalam menilai asidemia fetus dan bila ada dalam pemeriksaan karditokografi harus diambil langkah cepat untuk terminasi kehamilan guna mencegah luaran janin yang buruk.Kata kunci : kardiotokografi; deselerasi variabel; asidemia fetu
Effectiveness of Vitamin D Therapy on the Lipid Profile of Patients with Polycystic Ovary Syndrome
Polycystic ovary syndrome (PCOS) is characterized by chronic hyperandrogenism and anovulation that is also associated with various clinical and biochemical features. Vitamin D deficiency is a common problem that affects up to half of the adult population worldwide, including patients with PCOS. Based on these considerations, we are interested in further exploring the effectiveness of vitamin D in improving lipid profiles in PCOS.Efektivitas Terapi Vitamin D pada Profil Lipid Penderita Sindrom Ovarium PolikistikAbstrakSindrom Ovarium Polikistik (PCOS) ditandai dengan hiperandrogenisme kronis dan anovulasi yang juga berhubungan dengan berbagai gambaran klinis dan biokimia. Kekurangan vitamin D adalah masalah umum yang mempengaruhi setengah populasi orang dewasa di seluruh dunia, termasuk pasien PCOS. Tinjauan literatur ini dilakukan untuk mencari artikel asli dan review mengenai pertanyaan spesifik mengenai efektivitas terapi vitamin D terhadap profil lipid pasien PCOS.Kata kunci: PCOS, Lipid, Vitamin
Multigravida 37 Weeks Pregnant Not in Labour with Carotid Cavernous Fistula Life Single Fetus Head Presentation: Case Report
Background: Carotid cavernous fistula (CCF) is an abnormal shunt from the carotid artery to the cavernous sinus. The management of pregnant patients with CCF is individualized. The aims of this case report are to document a rare presentation of a multigravida at 37 weeks of gestation with a carotid cavernous fistula, describe clinical symptoms and management, report outcomes, and contribute insights to the medical literature.Case Report: The referred patient, G2P1A0, who was 37 weeks pregnant with a live single fetus in cephalic presentation, presented with left eye swelling persisting since the first pregnancy at 6 months gestation, associated with headaches. The patient underwent neurosurgical intervention at Mohammad Hoesin Hospital, including digital subtraction angiography (DSA). Currently, experiencing preterm labor symptoms, the management includes inpatient care, blood transfusion (Hb > 10 g/dL), and termination via the perabdominal approach.Discussion: A multigravida at 37 weeks pregnant in labor with carotid cavernous fistula and a live single fetus in head presentation, as existing literature suggests, has no clear link between maternal carotid cavernous fistula history and fetal outcomes. Despite concerns about potential fetal abnormalities and cancer risk from endovascular embolization therapy during pregnancy, postpartum follow-up with advanced digital subtraction angiography (DSA) is planned.Conclusion: The complexity of managing a multigravida at 37 weeks pregnant in labor with carotid cavernous fistula and a live single fetus in head presentation emphasizes the importance of a multidisciplinary approach for optimal maternal and fetal outcomes.Multigravida Hamil 37 Minggu Belum Inpartu dengan Fistula Cavernosa Karotis Janin Tunggal Hidup Presentasi Kepala: Laporan KasusAbstrakLatar belakang: Fistula kavernosus karotis (CCF) adalah celah/ lubang abnormal dari arteri karotis ke sinus kavernosus. Penatalaksanaan pasien hamil dengan CCF bersifat individual. Tujuan dari laporan kasus ini adalah untuk mendokumentasikan presentasi langka seorang multigravida pada usia kehamilan 37 minggu dengan fistula kavernosus karotis, mendeskripsikan gejala klinis dan penatalaksanaannya, melaporkan hasil, dan menyumbangkan wawasan untuk literatur medis.Laporan Kasus: Pasien yang dirujuk, G2P1A0, pada usia kehamilan 37 minggu dengan janin tunggal hidup dengan presentasi kepala, datang dengan pembengkakan mata kiri yang berlangsung sejak kehamilan pertama pada usia kehamilan 6 bulan, yang berhubungan dengan sakit kepala. Pasien menjalani intervensi bedah saraf di Rumah Sakit Mohammad Hoesin, termasuk Digital Subtraction Angiography (DSA). Saat ini, mengalami gejala persalinan prematur, penatalaksanaan yang dilakukan meliputi rawat inap, transfusi darah (Hb > 10 g/dL), dan terminasi melalui pendekatan perabdominal.Diskusi: Seorang multigravida dengan usia kehamilan 37 minggu yang melahirkan dengan fistula kavernosa karotis dan janin tunggal hidup dengan presentasi kepala, merupakan kasus yang jarang terjadi, karena literatur yang ada menunjukkan tidak ada hubungan yang jelas antara riwayat fistula kavernosa karotis ibu dan hasil janin. Meskipun ada kekhawatiran mengenai potensi kelainan janin dan risiko kanker dari terapi embolisasi endovaskular selama kehamilan, tindak lanjut pascapersalinan dengan angiografi pengurangan digital (DSA) lanjutan direncanakan.Simpulan: Kompleksitas pengelolaan multigravida dengan usia kehamilan 37 minggu dalam persalinan dengan fistula kavernosa karotis dan janin tunggal hidup dengan presentasi kepala, menekankan pentingnya pendekatan multidisiplin untuk luaran ibu yang optimal. Perlunya pendektanan multidispilin keilmuan memeberiksan hasil yanga baik pada ibu dan bayinya.Kata kunci: Fistula Kavernosa Karotis, Angiografi Pengurangan Digita
Neonatal Outcome in Relation to Cardiotocography Interpretation During Pregnancy
Introduction: The aim of this study is to evaluate the interrelation between neonatal outcome (neonatal asphyxia status) and cardiotocography interpretation during pregnancy.Methods: This is an observational analytical study employing a cross-sectional approach involving patients delivering at Hasan Sadikin General Hospital in 2023. The inclusion criteria were patients who gave birth with cardiotocography interpretation and neonatal outcome recording at 32-37 weeks of gestation. The exclusion criteria were fetal with congenital anomalies and multiple pregnancy. This study utilized secondary data from patient case notes. This study employed non-probability consecutive sampling. Descriptive and analytical statistics were performed.Result: The result of this study indicates abnormal cardiotocography patterns are significantly associated with higher incidences of asphyxia (p=0.0001). No significant difference was found between incidence of asphyxia with the type of delivery and birth weight. There was also no significant difference between Cardiotocography category II and III based on the maternal and neonatal factors.Conclusion: This study concluded that the significant relationship between CTG results, and neonatal asphyxia underscores the importance of CTG monitoring in predicting and managing fetal distress.Luaran Neonatus berdasarkan Pemeriksaan Kardiotokografi pada KehamilanAbstrakPendahuluan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi hubungan antara hasil neonatal (status asfiksia neonatal) dan interpretasi kardiotokografi selama kehamilan.Metode: Metode penelitian ini adalah analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional yang melibatkan pasien yang melahirkan di Rumah Sakit Umum Hasan Sadikin pada tahun 2023. Kriteria inklusi adalah pasien yang melahirkan dengan interpretasi kardiotokografi dan pencatatan hasil neonatal pada usia kehamilan 32 – 37 minggu. Kriteria eksklusi adalah janin dengan anomali kongenital dan kehamilan ganda. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari catatan kasus pasien. Penelitian ini menggunakan metode sampling konsekutif non-probabilitas. Statistik deskriptif dan analitik dilakukan.Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pola kardiotokografi abnormal secara signifikan terkait dengan insiden asfiksia yang lebih tinggi (p=0.0001). Tidak ditemukan perbedaan signifikan antara insiden asfiksia dengan jenis persalinan dan berat lahir. Tidak ada perbedaan signifikan antara kategori Kardiotokografi II dan III berdasarkan faktor maternal dan neonatal.Kesimpulan: Penelitian ini menyimpulkan bahwa hubungan signifikan antara hasil CTG dan asfiksia neonatal menekankan pentingnya pemantauan CTG dalam memprediksi dan mengelola distress janin.Kata kunci: Kardiotokografi, Neonatal, Distress janin, APGA
The Relationship Between Body Mass Index And Anemia An Pregnancy At The Muara Fajar Rumbai Community Health Center, Pekanbaru City
Introduction: Anemia during pregnancy is a health problem that can be detrimental to the mother and baby, such as premature birth, low birth weight, and even death in the mother. Inappropriate nutritional intake can cause health problems such as malnutrition which can increase risks in pregnancy such as low birth weight, premature birth, and anemia.Method: This study is a cross-sectional study of pregnancy in the first and third trimesters recorded at the Muara Fajar Rumbai Community Health Center, Pekanbaru was conducted in February 2024.Results: This study was conducted with a total research sample of 106 pregnant women. Bivariate analysis showed the relationship between the incidence of anemia and gestational age showed a p-value <0.05. The relationship between BMI and the incidence of anemia in pregnant women was found to be a p-value of 0.001, which indicates that there is a relationship between BMI and the incidence of anemia in pregnant women in the Muara Fajar Community Health Center working area, Pekanbaru City. The variables age, BMI, level of knowledge, and income are the dominant variables in causing the incidence of anemia in pregnancy.Conclusion: Maternal nutritional status as assessed by BMI influences the incidence of anemia in pregnant women, especially in the third trimester.Hubungan Antara Indeks Massa Tubuh dan Anemia Pada Kehamilan di Puskesmas Muara Fajar, Kota PekanbaruAbstrakPendahuluan: Anemia selama kehamilan merupakan masalah kesehatan yang dapat merugikan ibu dan bayi seperti kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, hingga menyebabkan kematian pada ibu. Asupan gizi yang tidak sesuai dapat menyebabkan masalah kesehatan seperi malnutrition yang dapat meningkatkan risiko pada kehamilan seperti berat bayi lahir rendah kelahiran prematur dan anemia.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional pada ibu hamil trismester I dan III yang terdata di Puskesmas Muara Fajar Rumbai Kota Pekanbaru yang dilakukan pada bulan Februari 2024.Hasil: Penelitian ini dilakukan dengan total sampel penelitian berjumlah 106 orang ibu hamil. Analisis bivariate menunjukkan hubungan antara kejadian anemia dan usia kehamilan menunjukkan p-value < 0,05. Hubungan antara IMT dan kejadian anemia pada ibu hamil diperoleh p-value 0.001 yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan IMT dengan kejadian anemia pada ibu hamil di wilayah Kerja Puskesmas Muara Fajar Kota Pekanbaru. Variabel usia, IMT, tingkat pengetahuan, dan penghasilan menjadi variabel yang dominan dalam mengakibatkan kejadian anemia pada kehamilan.Kesimpulan: Status gizi ibu yang dinilai dari IMT memengaruhi kejadian anemia pada ibu hamil terutama pada trimester ke-III.Kata kunci: Kehamilan, Status Gizi, Indeks Massa Tubuh, Anemia
Laporan Kasus: Empty Follicle Syndrome pada Siklus Fertilisasi In-Vitro
Pendahuluan: Empty follicle syndrome (EFS) adalah suatu kondisi langka, yaitu tidak terdapatnya oosit pada folikel ovarium yang matang saat tindakan ovum pick-up (OPU). Prevalensi kasus ini berkisar 2,7%. Tujuan: Mengkaji kasus jarang yang terjadi pada siklus Fertilisasi In-Vitro (IVF) yang dilakukan stimulasi ovarium terkontrol.Metode: Laporan kasus pada program IVF siklus pertama yang diberikan stimulasi dengan menggunakan short protocol pemberian human recombinant follicle stimulating hormone (rFSH) 150 IU sejak hari ke-2 sampai dengan hari ke-12 dan cetrotide 0.25 mg pada hari ke-7 hingga hari ke-12 dilanjutkan dengan trigger menggunakan choriogonadotropin alfa 250 μg.Hasil: Perempuan berusia 30 tahun dengan infertilitas 4 tahun, mengikuti program IVF siklus I, dan diberikan stimulasi ovarium terkontrol dengan short protocol menggunakan rFSH 150 IU. Pada hari ke-12 didapatkan 10 folikel pada kedua ovarium, dengan estradiol >3000 pg/ml dan progesteron 0,94 ng/ml. Diputuskan untuk dilakukan trigger dengan choriogonadotropin alfa 250 μg. Setelah 36 jam trigger diberikan dan dilakukan OPU tidak didapatkan satu pun oosit pada cairan folikel tersebut, baik yang matur maupun yang imatur. β-hCG serum pasca-OPU adalah 2,3 mIU/ml. Pasien ditegakkan dengan diagnosis Empty Follicle Syndrome. Kesimpulan. Penegakan diagnosis Empty Follicle Syndrome masih menjadi kontroversial, salah satu etiologinya adalah kadar HCG yang rendah pasca-trigger. Pasien direncanakan untuk IVF ulang dengan batch trigger berbeda dan evaluasi serum β-hCG 36 jam pasca-trigger (sebelum OPU), dan pengulangan trigger bila serum level belum adekuat.Case Report: Empty Follicle Syndrome in an In-Vitro Fertilization CycleAbstractIntroduction: Empty follicle syndrome (EFS) is a rare condition in which no oocytes could be retrieved from mature ovarian follicles during ovum pick-up (OPU). Its prevalence ranges from 2,7%.Objective: To review a rare case of In-Vitro Fertilization (IVF) cycle undergoing controlled ovarian hyperstimulation (COH).Method: This is a case report of a first cycle IVF program that was stimulated using a short protocol of human recombinant follicle stimulating hormone (rFSH) 150 IU from day 2 to 12 and cetrotide 0.25 mg on day 7 to 12 followed by triggering using choriogonadotropin alpha 250 μg.Results: A 30-year-old female with 4 years of primary infertility, was enrolled in her first IVF cycle, and was undergoing COH with short protocol using 150 IU rFSH. On day 12, 10 follicles were found on both ovaries, with favorable oestradiol >3000 pg/ml and progesterone 0.94 ng/ml levels. A trigger of 250 micrograms of choriogonadotropin alpha was administered. During oocyte retrieval, no oocyte (mature or immature) was present in the follicular fluid. Post OPU β-hCG serum was 2.3 mIU/ml. The patient was diagnosed with EFS. Conclusion: The diagnosis of EFS is still controversial with an etiology being post-trigger low HCG level. The patient was recommended to undergo a repeat IVF cycle with a different batch of triggers and evaluation of serum β-hCG before OPU, and a repeat trigger if serum levels were not adequate.Key words: Empty follicle syndrome, β-hCG, Oocytes, Trigger, Ovum Pick-Up
Outcome of Fetuses with Anterior Abdominal Wall Defects in A Tertiary Referral Hospital
Introduction: The most common abdominal wall defects are gastroschisis and omphalocele. Gastroschisis is a case of intraabdominal herniation caused by an abdominal wall defect from exposure to amniotic fluid during pregnancy. Omphalocele is a case of intraabdominal herniation covered with a membranous sac on the umbilical cord’s base. Gastroschisis occurred in 1/4000 of the of the global birth rate. Prevalence of omphalocele in between 1/3000 and 1/5000 cases of pregnancy. The purpose of the purpose of the research is to present an overview of patients with congenital defects such as Gastroschisis and Omphalocele.Method: Research design is observational and descriptive. Data obtained from medical records in Hasan Sadikin tertiary referral hospital Bandung. Sample size was obtained by total sampling and conducted in April 2020–April 2023. Results: The demographics of gastroschisis include male (50%), female (50%), preterm (20%), stillbirth (30%), severe asphyxia (14.29%), moderate asphyxia (57.14%), normal asphyxia (8.57%), newborn mortality (14.29%), and other congenital anomalies (40%). In comparison, the demographics of omphalocele are male (66.67%), female (33.33%), preterm (58.33%), stillbirth (16.67%), severe asphyxia (40%), moderate asphyxia (40%), normal asphyxia (20%), newborn mortality (50%), and other congenital abnormalities (25%). Abdominal wall defects are seldom related with gender.Conclusion: Abdominal wall defect is a very rare congenital abnormality. This abnormality will require primary abdomen closure surgery to enhance the baby’s prognosis. The more other risk factors exist within abdominal wall defect babies, the worse their following prognosis will be. The prognosis for omphalocele is more severe than gastroschisis due to the presence of asphyxia and prematurity.Luaran Janin dengan Defek Dinding Abdominal Anterior di Rumah Sakit Rujukan TersierAbstrakPendahuluan: Cacat dinding depan abdomen yang paling banyak terjadi adalah gastroschisis dan omphalocele. Gastroschisis adalah kasus herniasi intraabdomen yang disebabkan oleh cacat dinding perut akibat paparan cairan ketuban selama kehamilan. Omphalocele adalah kasus herniasi intraabdomen yang ditutupi kantung membran di dasar tali pusat. Gastroschisis terjadi pada 1/4000 angka kelahiran global. Prevalensi omfalokel antara 1/3000 dan 1/5000 kasus kehamilan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyajikan gambaran pasien dengan kelainan bawaan seperti Gastroschisis dan Omphalocele.Metode: Desain penelitian adalah observasional dan deskriptif. Data diperoleh dari rekam medis di rumah sakit rujukan tersier Hasan Sadikin Bandung. Besar sampel diperoleh dengan cara total sampling dan dilakukan pada bulan April 2020–April 2023.Hasil: Demografi gastroschisis meliputi laki-laki (50%), perempuan (50%), prematur (20%), lahir mati (30%), asfiksia berat (14,29%), asfiksia sedang (57,14%), asfiksia normal (8,57%). ), kematian bayi baru lahir (14,29%), dan kelainan kongenital lainnya (40%). Sebagai perbandingan, demografi omfalokel adalah laki-laki (66,67%), perempuan (33,33%), prematur (58,33%), lahir mati (16,67%), asfiksia berat (40%), asfiksia sedang (40%), asfiksia normal (20). %), kematian bayi baru lahir (50%), dan kelainan bawaan lainnya (25%). Cacat dinding perut jarang berhubungan dengan jenis kelamin.Kesimpulan: Cacat dinding perut merupakan kelainan bawaan yang sangat tidak biasa. Kelainan ini memerlukan operasi penutupan perut utama untuk meningkatkan peluang hidup bayi. Adanya faktor risiko tambahan pada bayi baru lahir dengan kelainan dinding perut memperburuk prognosisnya. Omphalocele sering menyebabkan asfiksia dan prematur, sehingga prognosisnya lebih buruk dibandingkan gastroschisis.Kata Kunci : Cacat dinding depan abdomen, Gastroschisis, Omphalocele
Hubungan Tingkat Keparahan Infeksi Covid-19 pada Wanita Hamil dengan Luaran Maternal dan Perinatal di RSUPP Betun Kabupaten Malaka
Tujuan: Tingkat keparahan infeksi Covid-19 pada wanita hamil bisa menyebabkan luaran maternal dan perinatal yang berbeda-beda. Tujuan dalam penelitian ini yaitu mengetahui hubungan tingkat keparahan infeksi Covid-19 pada wanita hamil dengan luaran maternal dan perinatal.Metode: Penelitian menggunakan metode cross-sectional. Sampel berjumlah 90 orang. Pengambilan data berupa data rekam medis dengan instrumen menggunakan lembar ceklist mengenai luaran maternal dan luaran perinatal.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan luaran maternal pada kelompok variabel hipertensi, persalinan prematur, obesitas, dan mortalitas lebih besar dari 0,05 (nilai p>0,05) yang berarti tidak signifikan atau tidak bermakna secara statistik. Hasil luaran maternal pada kelompok variabel preeklampsia dan ketuban pecah dini lebih kecil dari 0,05 (nilai p 0.05), which was not significant or not statistically significant. Meanwhile, the maternal outcome in the variable group of preeclampsia and premature rupture of membranes was less than 0.05 (p value <0.05), which was significant or statistically significant, thus it could be explained that there was a significant percentage difference. In the perinatal outcome, the variables of perinatal weight, degree of asphyxia and perinatal mortality were less than 0.05 (p value <0.05) which means significant or statistically significant. Thus it can be explained that there is a statistically significant percentage difference between the variables of perinatal weight, degree of asphyxia and perinatal mortality in the Covid-19 infection severity group.Conclusion: There is a significant relationship between the severity of Covid-19 infection and maternal outcomes in the pre-eclampsia and premature rupture of membranes groups. There is a significant relationship between the severity of Covid-19 infection and perinatal outcomes in perinatal weight, degree of asphyxia and perinatal mortality.Key words: Covid-19 infection severity, maternal outcome, perinatal outcome