OBGYNIA - Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
Not a member yet
    371 research outputs found

    Heterotopic Pregnancy after a Spontaneous Conception: A Case Report

    Full text link
    Introduction: Heterotopic pregnancy (HP) is a rare and potentially life-threatening condition in which an intrauterine pregnancy (IUP) and an ectopic pregnancy (EP) occur simultaneously. Increased awareness and early diagnosis are crucial to preventing complications. This case highlights the importance of timely identification and appropriate management of heterotopic pregnancy.Case report: A 32-year-old G2P1A0 pregnant woman was referred with a suspicion of heterotopic pregnancy. The patient had no prior complaints and had a spontaneous conception, there was no history of in vitro fertilization. At 2 months of gestation, an ultrasound revealed both an intrauterine pregnancy and an ectopic pregnancy. The laparoscopic diagnostic evaluation confirmed an enlarged right horn, requiring a wedge resection of the right horn. The procedure was completed successfully, and the intrauterine pregnancy progressed until term. This resulted in a cesarean section delivery of a healthy female infant weighing 3000 grams.Conclusion: This case underscores the need for a high index of suspicion when diagnosing heterotopic pregnancy, even in asymptomatic patients. Early recognition and surgical intervention significantly improve outcomes. The findings offer valuable insights for clinical practice and highlight the importance of vigilance in the evolving landscape of reproductive medicine.Kehamilan Heterotopik Pasca Konsepsi Spontan: Sebuah Laporan KasusAbstrakPendahuluan: Kehamilan heterotopik (KH) adalah kondisi langka dan berpotensi mengancam jiwa ketika kehamilan intrauterin (KIU) dan kehamilan ektopik (KE) terjadi secara bersamaan. Kesadaran yang lebih tinggi dan diagnosis dini sangat penting untuk mencegah komplikasi. Kasus ini menyoroti pentingnya identifikasi yang tepat waktu dan manajemen yang sesuai dari kehamilan heterotopik.Laporan kasus: Seorang wanita hamil G2P1A0 berusia 32 tahun dirujuk dengan kecurigaan kehamilan heterotopik. Pasien tidak memiliki keluhan sebelumnya dan kehamilan terjadi secara spontan, tanpa riwayat fertilisasi in vitro (IVF). Pada usia kehamilan 2 bulan, pemeriksaan ultrasonografi menunjukkan adanya kehamilan intrauterin dan kehamilan ektopik. Evaluasi diagnostik laparoskopi mengonfirmasi adanya pembesaran tuba kanan sehingga dilakukan reseksi parsial tuba kanan. Prosedur ini berhasil diselesaikan sampai kehamilan intrauterine cukup bulan dan menghasilkan kelahiran bayi Perempuan sehat dengan berat 3000 gram melalui operasi sesar.Kesimpulan: Kasus ini menekankan perlunya tingkat kecurigaan yang tinggi dalam mendiagnosis kehamilan heterotopic termasuk pada pasien yang tidak bergejala. Pengenalan dini dan intervensi bedah secara signifikan meningkatkan hasil klinis. Temuan ini memberikan wawasan berharga untuk praktik klinis dan menyoroti pentingnya kewaspadaan dalam perkembangan ilmu kedokteran reproduksi

    Urinary Bladder Injury Among Patients with Placenta Accreta Spectrum: Comparison Between Wedge Resection and Total Hysterectomy

    Full text link
    Objective: This study aims to assess the incidence of urinary bladder injury among pregnant women with placenta accreta spectrum (PAS) who underwent total hysterectomy and wedge resection.Methods: This study employed a cross-sectional design by reviewing secondary data of all pregnant women with PAS who underwent total hysterectomy or wedge resection at Hasan Sadikin General Hospital from January 2021 to December 2023. Statistical analysis for categorical data used the Chi-square test or Fisher’s exact test, and numerical data were analyzed using the unpaired T-test or Mann-Whitney test.Results: The sample consists of 116 patients. A total of 84 patients underwent total hysterectomy, and 32 patients underwent wedge resection. There was no significant difference in mean age between the two groups (p = 0.129). The results showed a significant difference between the two groups for birth weight (p = 0.007) and the incidence of urinary bladder injury (p = 0.018). No urinary bladder injury occurred in the wedge resection group, while 13 (15.50%) patients experienced urinary bladder injury in the total hysterectomy group.Conclusion: Total hysterectomy is associated with a higher incidence of urinary bladder injury compared to wedge resection.Cedera Vesika Urinaria pada Pasien dengan Spektrum Plasenta Akreta:Perbandingan antara Wedge Resection dan Total HisterektomiAbstrak Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menilai angka kejadian cedera vesika urinaria antara wanita hamil dengan spektrum plasenta akreta (SPA) yang menjalani histerektomi totalis dan wedge resection.Metode: Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode potong lintang dengan meninjau data sekunder semua ibu hamil dengan SPA yang menjalani histerektomi totalis atau wedge resection di Rumah Sakit Umum Pusat Hasan Sadikin periode Januari 2021 - Desember 2023. Analisis statistik untuk data kategorik menggunakan uji Chi-square atau uji Fisher dan data numerik diuji menggunakan uji T-tidak berpasangan atau uji Mann-Whitney.Hasil: Sampel penelitian ini terdiri atas 116 pasien. Sebanyak 84 pasien menjalani histerektomi totalis dan 32 pasien menjalani wedge resection. Tidak ada perbedaan rata-rata usia yang bermakna antar kedua kelompok (p = 0,129). Hasil penelitian menunjukkan perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok untuk berat badan lahir (p = 0,007) dan kejadian cedera vesika urinaria (p = 0,018). Tidak ada yang mengalami cedera vesika urinaria pada kelompok wedge resection, sedangkan 13 (15,50%) pasien mengalami cedera vesika urinaria pada kelompok histerektomi totalis.Kesimpulan: Histerektomi totalis berhubungan dengan tingkat kejadian cedera vesika urinaria yang lebih tinggi dibandingkan dengan wedge resection

    The Relationship of Preeclampsia to the Incidence of Preterm Labor at Raden Mattaher Jambi Hospital in 2021-2023

    No full text
    Objective: This study aims to determine the association between preeclampsia and preterm labor at Raden Mattaher Jambi Hospital. Methods: This study uses an observational analytic method with a cross-sectional. Data collection techniques using purposive sampling. Data were obtained from the medical records of all laboring mothers who met the inclusion and exclusion criteria. Result: There is an association between preeclampsia and preterm labor at Raden Mattaher Jambi Hospital from 2021 to 2023, with a p-value ofObjective: This study aims to determine the relationship of preeclampsia to the incidence of preterm labor at Raden Mattaher Jambi Hospital. Methods: This study used an observational analytic method with a cross-sectional approach. using purposive sampling. Data were obtained from the medical records of all laboring mothers who met the inclusion and exclusion criteria. Result: There is a relationship between preeclampsia and the incidence of preterm labor at Raden Mattaher Jambi Hospital in 2021-2023 with a p-value <0.001 (p<0.05) with an OR of 5.904. Most cases of preeclampsia mothers occur at the age of 20-35 years, with the most recent education of Senior High School (SMA), the most common employment status is not working, and most are first-time mothers (primipara). Conclusion: There is a significant relationship between preeclampsia and the incidence of preterm labor at Raden Mattaher Jambi Hospital in 2021-2023, obtaining an OR value of 5.904. Preeclampsia mothers have a risk of 5.904 of experiencing preterm labor compared to mothers who do not experience preeclampsia. Key words: Preeclampsia, Preterm Labor.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan preeklampsia terhadap kejadian persalinan preterm di RSUD Raden Mattaher Jambi.Metode: Penelitian ini menggunakan metode analitik observational dengan pendekatan cross-sectional. menggunakan purposive sampling. Data diperoleh dari rekam medis seluruh ibu bersalin yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.Hasil: Terdapat hubungan preeklampsia terhadap kejadian persalinan preterm di RSUD Raden Mattaher Jambi tahun 2021-2023 dengan nilai p-value <0,001 (p<0,05) dengan OR 5,904. Kasus ibu preeklampsia sebagian besar terjadi pada usia 20-35 tahun, dengan pendidikan terakhir terbanyak Sekolah Menengah Atas (SMA), status pekerjaan terbanyak tidak bekerja, dan sebagian besar adalah ibu yang pertama kali bersalin (primipara).Kesimpulan: Ada hubungan yang bermakna antara preeklampsia terhadap kejadian persalinan preterm di RSUD Raden Mattaher Jambi tahun 2021-2023 diperoleh nilai OR 5,904. Ibu preeklampsia berisiko 5,904 mengalami persalinan preterm dibandingkan dengan ibu yang tidak mengalami preeklampsia.Kata kunci: Preeklampsia, Persalinan Preterm

    Comparison of Chondroitin Sulfate-E Expression in Benign and Malignant Epithelial Type Ovarian Tumors

    Full text link
    Objective: Ovarian cancer is the fifth leading cause of cancer-related death in women, due to late diagnosis and limited screening methods. Chondroitin Sulfate-E (CS-E) has shown potential as biomarkers. This study aims to evaluate CS-E expression in epithelial-type benign and malignant ovarian tumors and its potential as a biomarker using QuPath software.Methods: This observational analytic study used a cross-sectional design. Samples were selected based on histopathology of patients with epithelial-type benign and malignant ovarian tumors from surgeries in 2023. Immunohistochemistry using the GD3G7 antibody was performed to detect CS-E expression in tumor tissues preserved in paraffin blocks at Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung. Expression was quantified using QuPath software. Statistical analysis used the Mann-Whitney and t-test. Result: No significant difference in CS-E expression was found between malignant and benign tumors (p = 0.492). Demographic factors (age, BMI, menopausal status, and parity) showed no significant differences between groups. Conclusion: CS-E expression has not yet demonstrated potential as a biomarker to distinguish between benign and malignant ovarian tumors.Perbandingan Ekspresi Chondroitin Sulfate-E pada Tumor Ovarium Jinak dan Ganas Tipe Epitel Abstrak Tujuan: Kanker ovarium merupakan penyebab kematian kelima terbanyak terkait kanker pada wanita yang disebabkan oleh keterlambatan diagnosis dan keterbatasan metode skrining. Chondroitin Sulfate-E (CS-E) menunjukkan potensi sebagai biomarker. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi ekspresi CS-E pada tumor ovarium jinak dan ganas tipe epitelial serta menilai potensinya sebagai biomarker menggunakan perangkat lunak QuPath. Metode: Penelitian analitik observasional ini menggunakan desain potong lintang. Sampel dipilih berdasarkan hasil histopatologi pasien dengan tumor ovarium jinak dan ganas tipe epitelial dari operasi tahun 2023. Pemeriksaan imunohistokimia dengan antibodi GD3G7 dilakukan untuk mendeteksi ekspresi CS-E pada jaringan tumor yang diawetkan dalam blok parafin di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Ekspresi dianalisis secara kuantitatif menggunakan perangkat lunak QuPath. Uji statistik yang digunakan adalah Mann-Whitney dan uji t. Hasil: Tidak ditemukan perbedaan bermakna dalam ekspresi CS-E antara tumor ganas dan jinak (p = 0,492). Faktor demografis (usia, indeks massa tubuh, status menopause, dan paritas) juga tidak menunjukkan perbedaan bermakna antar kelompok.Kesimpulan: Ekspresi CS-E belum menunjukkan potensi sebagai biomarker untuk membedakan antara tumor ovarium jinak dan ganas. Kata kunci: Biomarker, GD3G7, Glikosaminoglikan, Kanker Ovarium, Kondroitin sulfat

    Characteristics of Patients with Diminished Ovarian Reserve Undergoing in Vitro Fertilization (IVF) at Hasan Sadikin Hospital from 2019-2023

    Full text link
    Objective: This study aimed to describe the characteristics of patients with diminished ovarian reserve undergoing in vitro fertilization (IVF) to improve understanding of its implications for infertility.Methods: Cross-sectional descriptive study using medical records of patients who underwent IVF at Dr. Hasan Sadikin General Hospital (RSHS) from 2019 to 2023. Analyzed variables included age, education level, occupation, duration of marriage, body mass index, Anti-Müllerian hormone (AMH) level, and ovarian stimulation protocol.Results: A total of 57.14% of the 55 patients were aged 35 – 40 years, 87.5% nulliparous, and 55.36% had a body mass index greater than 24.9 kg/m2. The percentage that held a bachelor’s degree was 64.29%, and 55.36% had AMH levels below 1.1 ng/ml. A total of 78.57% received a short stimulation protocol, and 21.43% received a long stimulation protocol.Conclusion: Most patients with diminished ovarian reserve undergoing IVF at RSHS (2019 – 2023) were aged 35 – 40, nulliparous, obese class I–II, AMH value <1.1 ng/ml, and were subjected to a short IVF protocol.Karakteristik Pasien dengan Diminished Ovarian Reserve yang Melakukan In Vitro Fertilization (IVF) di Rumah Sakit Hasan Sadikin pada Tahun 2019 – 2023AbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan menggambarkan karakteristik pasien dengan cadangan ovarium menurun yang menjalani fertilisasi in vitro untuk meningkatkan pemahaman tentang implikasi cadangan ovarium menurun pada infertilitas.Metode: Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif observasional potong lintang yang menggunakan data rekam medis pasien yang menjalani fertilisasi in vitro di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) periode 2019 – 2023. Variabel yang dianalisis meliputi usia, tingkat pendidikan, pekerjaan, lama menikah, indeks massa tubuh, kadar hormon anti-Müllerian, dan protokol stimulasi ovarium.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 55 pasien, 57,14% berusia 35 – 40 tahun, 87,5% belum pernah melahirkan, 55,36% memiliki indeks massa tubuh lebih dari 24,9 kg/m2, 64,29% berpendidikan sarjana, dan 55,36% memiliki kadar hormon anti-Müllerian kurang dari 1,1 ng/ml. Sebanyak 78,57% menjalani protokol stimulasi pendek dan 21,43% menjalani protokol stimulasi panjang.Kesimpulan: Sebagian besar pasien dengan cadangan ovarium menurun yang menjalani fertilitasi in vitro di RS Dr. Hasan Sadikin (201 – 2023) berusia 35 – 40 tahun, nullipara, obesitas kelas I–II, nilai AMH <1.1 ng/ml dan menjalani protokol IVF pendek.Kata kunci: Anti-mullerian hormone; diminished ovarian reserve; FSH; infertilitas; in vitro fertilization (IVF), teknologi reproduksi berbant

    Comparison of Clinical Characteristics between Pregnant Women Confirmed with Covid-19 with and Without Severe Preeclampsia

    Full text link
    Background:Several clinical studies have reported that COVID-19 was associated with an increased risk of preeclampsia and preeclampsia-like syndrome in infected pregnant women, but the results are still controversial. This study aims to compare the clinical characteristics of pregnant women with confirmed COVID-19 with and without severe preeclampsia.Methods:This retrospective study of pregnant women confirmed for COVID-19 was carried out at RSUP Dr. Hasan Sadikin from April 1st, 2020 to April 30th, 2022. Epidemiological data, clinical features, and laboratory results of subjects with and without severe preeclampsia in pregnant COVID-19 patients were collected and analyzedResults: Eighty-six subjects were in our study, with 42 subjects with severe preeclampsia and 44 subjects without severe preeclampsia. The average age of mothers in this study was 26 years, with a more significant proportion at term. The proportion of primigravida with severe preeclampsia was significantly more than those without severe preeclampsia (71.42% vs 29.54%, p=0.02). There was no significant difference in clinical severity between patients with or without severe preeclampsia (p>0.05). Comparing laboratory parameters showed significant differences in the laboratory characteristics of hemoglobin (28.57% vs 2.2%, p=0.03) and platelets (33.33% vs 4.54%, p=0.02).Conclusion: Our study showed that the clinical characteristics and disease severity were not significantly different. Laboratory markers correlate significantly with the severity of maternal disease, so they can be used as prognostic indicators.Perbandingan Karakteristik Klinis Ibu Hamil Terkonfirmasi Covid- 19 dengan dan Tanpa Preeklamsia BeratAbstrakLatar Belakang: Beberapa studi klinis telah melaporkan bahwa Infeksi COVID-19 dikaitkan dengan peningkatan risiko preeklamsia dan sindroma yang mirip preeklamsia pada wanita hamil yang terinfeksi, tetapi hasilnya masih kontroversial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan karakteristik klinis ibu hamil yang terkonfirmasi COVID-19 dengan dan tanpa preeklamsia berat.Metode: Penelitian secara retrospektif pada ibu hamil positif COVID-19 ini dilakukan di RSUP Dr. Hasan Sadikin dari tanggal 1 April 2020 sampai dengan 30 April 2022. Data berupa epidemiologi, gambaran klinis, hasil laboratorium subjek dengan dan tanpa preeklamsia berat pasien hamil COVID-19 dikumpulkan dan dianalisisHasil: Data yang berhasil dikumpulkan dalam penelitian ini adalah delapan puluh enam subjek yang terbagi atas 42 subjek dengan preeklamsia berat dan 44 subjek tanpa preeklamsia berat. Usia rata-rata ibu dalam penelitian ini 26 tahun, dengan proporsi yang lebih signifikan pada usia kehamilan cukup bulan. Proporsi primigravida dengan preeklamsia berat lebih signifikan dibandingkan dengan tanpa preeklamsia berat (71.42% vs 29.54%, p=0.02). Tidak ditemukan perbedaan signifikan pada keparahan klinis di antara pasien dengan atau tanpa preeklamsia berat (p>0.05). Perbandingan parameter laboratorium didapatkan perbedaan signifikan pada karakteristik laboratorium hemoglobin (28,57% vs 2.2%, p=0.03) dan trombosit (33.33% vs 4,54%, p=0.02).Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa karakteristik klinis dan keparahan penyakit tidak berbeda secara signifikan pada kedua pasien. Penanda laboratorium berkorelasi signifikan dengan tingkat keparahan penyakit ibu sehingga dapat digunakan sebagai indikator prognostik.Kata kunci: COVID-19, Karakteristik Klinis , Kehamilan, Preeklamsia Bera

    Calcium Paradox, Vitamin D and Vitamin K2

    Full text link
    Calsium supplementation during pregnancy is a routine standard practice for antenatal care recommended by WHO, FIGO, POGI as well as Indonesia Ministry of Health. Calcium is one of essential micronutrients needed in human life, especially during pregnancy known for bone and teeth development, prevent osteoporosis, involved in blood coagulation, prevent haemorrhages during pregnancy and post partum periods, muscle contraction, prevent hypertension, preeclampsia, prematurity, IUGR, LBW, stunting, increase immunity, etc.Prevalence of hypocalcemia varies from 60 % to 70.5 % in low-medium income countries (LMIC) and 30 % to 60 % in high income countries (HIC).A systematic review study conducted in 2019 reported a prevalence of low calcium consumption less than 800 mg/day (normal consumption is around 1000-1200 mg/day) was 29 % in HIC and 82 % in LMIC, including Malaysia 377 mg/day and Indonesia < 400 mg/day.Calcium metabolism in human body is very much depend on the normal level of vitamin D, magnesium and parathyroid hormone in blood. Vitamin D is mainly needed for the absorption of calcium in intestine. The combination of vitamin D and calcium supplementation is very much recommended

    Reduction of Maternal Calponin 1: Evidence to Support Natural Progesterone Superiority to Nifedipine in the Treatment of Uncomplicated Premature Contraction

    Full text link
    Introduction: Premature contractions precede preterm birth, which is still a challenging subject as it may contribute to neonatal mortality. Treatment is often aimed at providing some time window for lung maturation. This study aims to compare the efficacy of nifedipine versus progesterone in postponing preterm birth and to provide evidence of the biological process by changes in maternal serum calponin 1 level.Method: An oral dose of 20 mg nifedipine given three times daily was compared to a single dose of 400 mg intra-vaginal natural progesterone in a single-blinded, non-randomized controlled trial. Selected subjects were normal, singleton pregnancies between 28 - 34 weeks of gestational age with premature contraction and intact amniotic membrane. The primary outcome was a reduction in the frequency and strength of contraction, and the secondary measure was the adjustment of serum calponin before and after the intervention.Results: This finding was supported by reducing calponin levels in maternal sera. Despite the reduction of frequency and strength of contractions occurring in the nifedipine arm, serum calponin level increased, indicating that the myometrial contractility pathway was not completely deterred.Conclusion: This study revealed that natural progesterone was superior to nifedipine in treating premature contraction. It was also supported by evidence of maternal sera calponin level reduction, indicating disruption of the contraction pathway.Penurunan Serum Calponin 1 Ibu: Bukti yang Mendukung Keunggulan Progesteron Alami dibandingkan Nifedipine dalam Pengobatan Kontraksi Dini Tanpa KomplikasiAbstrakPendahuluan: Kelahiran prematur selalu didahului oleh kontraksi prematur. Hingga saai ini kelahiran prematur masih menjadi topik yang menantang karena dapat berkontribusi pada kematian neonatal. Pengobatan sering bertujuan memberikan waktu untuk pematangan paru-paru. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan efektivitas nifedipin versus progesteron dalam menunda kelahiran prematur dan untuk memberikan bukti proses biologis melalui perubahan kadar serum calponin 1 ibu.Metode: Dosis oral 20mg nifedipin yang diberikan tiga kali sehari dibandingkan dengan dosis tunggal 400mg progesteron alami intra-vagina dalam uji coba single-blinded non-randomized controlled. Subjek yang dipilih adalah kehamilan normal, kehamilan tunggal usia kehamilan antara 28 - 34 minggu dengan kontraksi prematur dan selaput ketuban yang utuh. Hasil utama adalah pengurangan frekuensi dan kekuatan kontraksi dan ukuran sekunder adalah penyesuaian serum calponin sebelum dan sesudah intervensi.Hasil: Temuan ini didukung oleh penurunan kadar calponin dalam serum ibu. Meskipun terjadi pengurangan frekuensi dan kekuatan kontraksi pada lengan nifedipin, kadar serum calponin meningkat yang mungkin mengindikasikan bahwa jalur kontraktilitas miometrium tidak sepenuhnya terhalang.Kesimpulan: Hasilnya, penelitian ini mengungkapkan bahwa progesteron alami lebih unggul daripada nifedipin dalam pengobatan kontraksi dini. Hal ini juga didukung oleh bukti penurunan kadar serum calponin ibu yang mengindikasikan gangguan pada alur kontraksi.Kata kunci: Calponin 1, Kontraksi dini, Kelahiran prematur, Nifedipine, Progestero

    Effect of Methotrexate on Anti-Mullerian Hormone Levels, β-hCG and Tumor Size in Women with Low-Risk Gestational Trophoblast Disease

    Full text link
    Introduction: This study aimed to evaluate the effect of methotrexate (MTX) chemotherapy on anti-mullerian hormone (AMH) levels, human chorionic gonadotropin (HCG) levels, and tumor size in women with gestational trophoblastic disease (GTD). Method: This study was conducted at Hasan Sadikin General Hospital, Bandung, West Java, from April to October 2020. The AMH level, beta human chorionic gonadotropin (ß-hCG) and tumor size in women with a low risk of GTD prior to and after MTX chemotherapy treatment were measured and compared.Results: Our study found a reduction in mean AMH level to 0.82 ng/ml after the MTX chemotherapy. The mean AMH level after chemotherapy in women with low-risk GTD decreased to 0.82 ng / ml. In addition, ß-hCG level decreased after chemotherapy with MTX. There was a negative relationship between ß-hCG level and tumor size before and after chemotherapy. Higher ß-hCG levels and tumor size before chemotherapy resulted in a further increase in AMH after chemotherapy.Discussion: There was a decrease in AMH and ß-hCG levels after three cycles of MTX chemotherapy in women with low-risk GTD. Tumor size and ß-hCG correlated with post-chemotherapy AMH results.Pengaruh Metotreksat terhadap Kadar Hormon Anti Mullerian, β-hCG dan Ukuran Tumor pada Wanita dengan Penyakit Trofoblas Gestasional Risiko RendahAbstrakPendahuluan: Penelitian ini mengevaluasi efek kemoterapi metotreksat (MTX) terhadap kadar hormon anti-mullerian (AMH), kadar human chorionic gonadotropin (HCG), dan ukuran tumor pada wanita yang didiagnosis penyakit trofoblas gestasional (GTD) risiko rendah.Metode: Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Umum Pusat Hasan Sadikin, Bandung, Jawa Barat, dari bulan April hingga Oktober 2020. Kadar AMH, beta human chorionic gonadotropin (ß-hCG), dan ukuran tumor pada wanita dengan GTD risiko rendah sebelum dan sesudah pengobatan kemoterapi MTX diukur dan dibandingkan.Hasil: Pada penelitian kami menemukan penurunan kadar AMH rata-rata menjadi 0,82 ng/ml setelah kemoterapi MTX. Rata-rata kadar AMH setelah kemoterapi pada wanita dengan GTD risiko rendah menurun menjadi 0,82 ng/ml. Selain itu, kadar ß-hCG juga menurun setelah kemoterapi dengan MTX. Terdapat hubungan negatif antara kadar ß-hCG dan ukuran tumor sebelum kemoterapi dan AMH setelah kemoterapi. Kadar ß-hCG yang lebih tinggi dan ukuran tumor sebelum kemoterapi menunjukkan peningkatan lebih tinggi pada AMH setelah kemoterapi.Kesimpulan: Terjadi penurunan kadar AMH dan ß-hCG setelah tiga siklus kemoterapi MTX pada wanita dengan GTD risiko rendah. Ukuran tumor dan kadar ß-hCG berkorelasi dengan hasil kadar AMH setelah kemoterapi.Kata kunci: Kemoterapi, Metotreksat, Hormon anti-mullerian, ß-hCG, Tumor trofoblas gestasiona

    Relationship between Age, Parity and Body Mass Index in Pregnant Women with the Incidence of Preeclampsia at Prof. Dr. Margono Soekardjo Hospital Purwokerto

    Full text link
    Background: Preeclampsia is a crucial problem in developing country and contributes 9% of maternal mortality in Asia. Moreover it has been the second main cause of maternal death in Indonesia and the leading cause of maternal death in Central Java since 2019.Objective: This study aims to determine the relationship between age, parity and BMI in pregnant women with the incidence of preeclampsia.Methods: This study is a retrospective analytic observational study with a case control design. The research subjects were all cases of vaginal delivery and cesarean section from July to December 2022.Results: There were 200 women as subjects consisting of 100 women with preeclampsia and 100 women without preeclampsia. Most of the research subjects were aged <35 years (71.5%). It was found that preeclampsia was significantly associated with age ≥35 years (p=0.019), BMI ≥30 (p=0.008) and primiparity (p=0.006). On bivariate analysis, women with age ≥35 years (OR 2.1; 95% CI; 1.12-3.97), BMI ≥30 (OR 2.4; 95% CI; 1.25-4.87) and primiparity (OR 2.2; 95% CI; 1.2- 3.92) are at increased risk of developing preeclampsia.Conclusion: The results of this study indicate that age ≥ 35 years, BMI ≥30 and primiparity are associated with the occurrence of preeclampsia.Hubungan Usia, Paritas dan Indeks Masa Tubuh pada Ibu Hamil dengan Kejadian Preeklamsia di RSUD Prof. Dr. Margono Soekardjo PurwokertoAbstrak Pendahuluan: Preeklamsia masih menjadi masalah kesehatan ibu yang krusial di negara berkembang dan berkontribusi sebanyak 9% mortalitas maternal di Asia. Preeklamsia menempati urutan ke-2 kematian ibu di Indonesia dan menjadi penyebab utama kematian ibu di Jawa Tengah sejak tahun 2019.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara usia, paritas, dan IMT pada ibu hamil dengan kejadian preeklamsia.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik retrospektif dengan desain case control. Subjek penelitian adalah seluruh kasus persalinan pervaginam dan seksio sesarea pada bulan Juli sampai Desember 2022.Hasil: Diperoleh subjek sebanyak 200 wanita yang terdiri atas 100 wanita dengan preeklampsia dan 100 wanita tanpa preeklampsia. Sebagian besar subjek penelitian berusia <35 tahun (71.5%). Ditemukan bahwa preeklamsia secara signifikan berhubungan dengan usia ≥35 tahun (p=0.019), IMT ≥30 (p=0.008) dan primiparitas (p=0.006). Pada analisis bivariat, wanita dengan usia ≥35 tahun (OR 2.1; 95%CI; 1.12 - 3.97), IMT ≥30 (OR 2.4; 95%CI; 1.25 - 4.87) dan primipara (OR 2.2; 95%CI; 1.2 - 3.92) berada dalam peningkatan risiko terjadi preeklamsia. Kesimpulan: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa usia ≥35 tahun, IMT ≥30 dan primiparitas berhubungan dengan terjadinya preeklampsia.Kata kunci: preeklamsia, usia, paritas, indeks masa tubu

    329

    full texts

    371

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    OBGYNIA - Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇