OBGYNIA - Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
Not a member yet
    371 research outputs found

    The Relationship Between Pre-Pregnancy Body Mass Index and the Incidence of Preeclampsia in Primigravida at Cibabat Regional Hospital

    Full text link
    Objective: This study investigates the association between pre-pregnancy body mass index (BMI) and the incidence of preeclampsia in primigravida women.Methods: This cross-sectional study includes women who delivered at Cibabat General Hospital between 2023 and 2024. Pre-pregnancy BMI (kg/m²) was classified according to WHO categories: underweight (less than 18.5), normal (18.5–22.9), overweight (23.0–24.9), obese class I (25.0–29.9), and obese class II (≥30.0). The Spearman-Rho correlation coefficient was employed to analyze the relationship between pre-pregnancy BMI and the incidence of preeclampsia. Result: Our study demonstrated that, among 217 participants, 159 (73.3%) experienced preeclampsia. The proportion of women with an overweight/obese BMI who have preeclampsia is higher (36%-38%) compared to those with normal BMI (19%) and underweight BMI (15%). The Spearman-Rho correlation coefficient suggested a positive correlation between pre-pregnancy BMI and the incidence of preeclampsia (r = 0.367; p < 0.001), indicating that an increased BMI is statistically associated with an increased risk of preeclampsia.Conclusion: A BMI is associated with an increased risk of preeclampsia in primigravida women.Hubungan antara Indeks Massa Tubuh Sebelum Kehamilan terhadap Kejadian Preeklamsia pada Ibu Primigravida di RSUD CibabatAbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menilai hubungan antara IMT pra-kehamilan dan insiden preeklamsia pada ibu primigravida.Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian potong lintang dan melibatkan ibu primigravida yang menjalani persalinan di RSUD Cibabat pada periode 2023 hingga 2024. IMT partisipan sebelum kehamilan dikategorikan berdasarkan standar WHO: berat badan kurang (< 18.5), normal (18.5-22.9), berat badan berlebih (23.0 – 24.9), obesitas tipe 1 (25.0 – 29.9), dan obesitas tipe 2 (≥30.0). Data kemudian dianalisis lebih lanjut menggunakan metode spearman-rho correlation coefficient untuk menetukan korelasi antara IMT pra kehamilan dan kejadian preeklampsia. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan, dari 217 partisipan pada penelitian ini, 73,3% diantaranya mengalami kejadian preeklamsia. Proporsi preeklampsia tampak lebih tinggi pada partisipan dengan berat badan berlebih/obesitas (36–38%) dibandingkan dengan partisipan dengan IMT normal (19%) dan IMT kurang berat badan (15%). Hasil uji spearman-Rho correlation coefficient menunjukkan korelasi positif antara IMT pra-kehamilan dan kejadian preeklamsia (r = 0,367; p < 0,001), mengindikasikan peningkatan IMT sebelum kehamilan berhubungan dengan risiko preeklamsia.Kesimpulan: Peningkatan IMT pra-kehamilan berhubungan dengan peningkatan risiko preeklamsia pada wanita primigravida.Kata kunci: Edukasi prakonsepsi; Indeks massa tubuh; Primigravida

    Reevaluating Predictors of Extremely Low Birth Weight: The Dominance of Hemoglobin over Maternal Age and the Discovery of 9.25 g/dL as a New Risk Threshold

    Full text link
    AbstractObjectives: Extremely Low Birth Weight (ELBW) is a critical factor influencing neonatal morbidity and mortality. Maternal anemia has been linked to negative pregnancy outcomes; the precise hemoglobin threshold for predicting ELBW risk remains poorly defined, especially in low-resource environments.Methods: A cross-sectional observational study was carried out at Ciawi District Hospital between 2019 and 2020. Data from medical records on maternal hemoglobin levels (g/dL) and neonatal birth weights (grams) were extracted for analysis. Statistical methods employed included the Kruskal-Wallis and Mann-Whitney tests, as well as ROC curve analysis.Results: The study comprised 320 cases. The optimal cutoff value for maternal hemoglobin to accurately predict ELBW was identified as 9.25 g/dL (AUC 0.615; p = 0.045). Mothers with hemoglobin levels below this threshold exhibited a 2.1-fold increase in the risk of delivering ELBW infants (p = 0.039). Additionally, the negative predictive value was determined to be 94.05%, indicating that this threshold may serve as a viable screening tool for assessing the risk of ELBW.Conclusion: Maternal hemoglobin levels below 9.25 g/dL are significantly correlated with an elevated risk of ELBW. This threshold may function as an effective early screening parameter for identifying high-risk pregnancies, thereby improving maternal and neonatal health outcomes.Keywords: Birth Weight, ELBW, Hemoglobin, Maternal Anemia, Risk Screening Evaluasi Ulang Prediktor Berat Badan Lahir Sangat Rendah: Dominasi Hemoglobin pada Usia Ibu dan Penemuan 9,25 g/dL sebagai Ambang Risiko Baru AbstrakTujuan: Berat Badan Lahir Sangat Rendah (BBLR) merupakan faktor penting yang memengaruhi morbiditas dan mortalitas neonatal. Anemia ibu telah dikaitkan dengan hasil kehamilan yang negatif. Ambang hemoglobin yang tepat untuk memprediksi risiko BBLR masih belum didefinisikan dengan baik, terutama di lingkungan dengan sumber daya rendah.Metode: Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi observasional potong lintang dilakukan di Rumah Sakit Daerah Ciawi antara tahun 2019 dan 2020. Dilakukan analisis data dari catatan medis tentang kadar hemoglobin ibu (g/dL) dan berat badan lahir neonatal (gram). Metode statistik yang digunakan meliputi uji Kruskal-Wallis dan Mann-Whitney, dan analisis kurva ROC.Hasil: Studi ini terdiri atas 320 kasus. Nilai batas optimal hemoglobin ibu untuk memprediksi BBLR secara akurat diidentifikasi sebesar 9,25 g/dL (AUC 0,615; p = 0,045). Ibu dengan kadar hemoglobin di bawah ambang batas ini menunjukkan peningkatan risiko melahirkan bayi ELBW sebanyak 2,1 kali lipat (p = 0,039). Selain itu, nilai prediktif negatif ditetapkan sebesar 94,05%, yang menunjukkan bahwa ambang batas ini dapat berfungsi sebagai alat skrining yang layak untuk menilai risiko ELBW.Kesimpulan: Kadar hemoglobin ibu di bawah 9,25 g/dL berkorelasi signifikan dengan peningkatan risiko ELBW. Ambang batas ini dapat berfungsi sebagai parameter skrining dini yang efektif untuk mengidentifikasi kehamilan berisiko tinggi sehingga meningkatkan hasil kesehatan ibu dan bayi baru lahir

    Relationship between Antenatal Care in Severe Preeclampsia and Maternal and Neonatal Outcomes

    Full text link
    Objective: This study aims to evaluate the relationship between the frequency of antenatal care (ANC) visits and maternal and infant outcomes in cases of severe preeclampsia.Methods: The collected data were processed using computerized methods to convert them into analyzable information. Data analysis was conducted to describe the proportion of each variable descriptively. Furthermore, the results were elaborated through descriptive analysis and hypothesis testing.Result: Based on medical record data, 91.7% of patients had undergone antenatal care (ANC) visits; however, only about 80% received pre-eclampsia screening services according to the 10T standard.Conclusion: The study concluded that inadequate antenatal care (ANC) visits were significantly associated with an increased risk of eclampsia and acute renal failure. On the other hand, there was no statistically significant association between ANC compliance and the occurrence of complications such as placental abruption, HELLP syndrome, DIC, and maternal death.Hubungan Antenatal Care Pada Preeklampsia Berat terhadap Luaran Maternal dan NeonatalAbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi hubungan antara frekuensi kunjungan antenatal care (ANC) dan luaran maternal dan infant pada kasus preeklamsia berat.Metode: Data yang telah terkumpul diolah secara komputerisasi untuk mengubah data menjadi informasi. Analisis data dilakukan untuk melihat gambaran proporsi masing-masing variabel yang disajikan secara deskriptif. Selanjutnya, hasil analisis tersebut diuraikan ke dalam analisis deskriptif dan pengujian hipotesis.Hasil: Berdasarkan data rekam medis, ditemukan bahwa 91,7% pasien telah menjalani kunjungan antenatal care (ANC), namun hanya 80% yang mendapatkan pelayanan skrining preeklamsia sesuai standar 10T.Kesimpulan: Kesimpulan menunjukkan bahwa kunjungan Antenatal Care (ANC) yang tidak memadai memiliki hubungan yang signifikan dengan peningkatan risiko eklamsia dan gagal ginjal akut. Sementara di sisi lain, tidak terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara tingkat kepatuhan ANC dengan kejadian komplikasi seperti solusio plasenta, edema paru, Sindrom HELLP, DIC, dan kematian ibu.Kata kunci: Antenatal Care; Preeklamsia; Neonata

    Congenital Lymphangioma of the Fetal Limb: A Rare Case

    No full text
    Introduction: Lymphangioma is a rare congenital malformation caused by the failure of primitive lymphatic channels to connect with the venous system. Its incidence is approximately 1 in 6,000 pregnancies, with only 2% affecting the limbs. Prenatal diagnosis remains challenging, requiring advanced imaging techniques for accurate differentiation from other congenital masses.Case Presentation: A 39-year-old woman, G6P4A1L4, was referred to Arifin Achmad Hospital at 25+6 weeks due to fetal lower limb enlargement and ascites. Ultrasound revealed a large multicystic mass on the fetal left thigh and buttock, measuring 10.2 × 7.8 × 6.4 cm. Initially suspected as sacrococcygeal teratoma, further evaluation suggested lymphangioma. The Doppler study indicated reduced vascularity. After thorough counseling and an ethics committee review involving obstetricians, neonatologists, and pediatric surgeons, the parents opted for termination. Labor was induced with misoprostol 50 mcg orally every 4 hours (two doses), leading to the delivery of a 1,400-gram male infant with an APGAR score of 3 and 0. The baby died 15 minutes post-birth. Maternal condition remained stable with normal vital signs and laboratory results post-delivery.Discussion: Prenatal diagnosis of lymphangioma is difficult due to its resemblance to other congenital masses. Regular extremity screening is crucial for early detection. Postnatal histopathology confirmed lymphangioma, showing dilated lymphatic channels without solid components. This case highlights the importance of multidisciplinary management and serial imaging for prognosis refining prognosis. Conclusion: Prenatal diagnosis is crucial for management planning. Serial ultrasound and MRI can refine prognosis. A multidisciplinary approach is essential for optimal care.Limfangioma Kongenital pada Ekstremitas Bawah Janin: Kasus Langka Abstrak Pendahuluan: Limfangioma adalah malformasi kongenital langka yang disebabkan oleh kegagalan saluran limfatik primitif untuk terhubung dengan sistem vena. Insidensinya 1 dalam 6.000 kehamilan, dengan hanya 2% yang mengenai ekstremitas. Diagnosis prenatal tetap menjadi tantangan, memerlukan teknik pencitraan canggih untuk membedakannya secara akurat dari massa kongenital lainnya. Presentasi Kasus: Seorang wanita berusia 39 tahun dengan G6P4A1H4 dirujuk ke Rumah Sakit Arifin Achmad pada usia kehamilan 25+6 minggu karena pembesaran ekstremitas bawah janin dan asites. Ultrasonografi menunjukkan massa multikistik besar pada paha kiri dan bokong janin, berukuran 10,2 × 7,8 × 6,4 cm. Awalnya dicurigai sebagai teratoma sakrokoksigeal, namun evaluasi lebih lanjut mengarah pada dugaan limfangioma. Studi Doppler menunjukkan vaskularisasi yang berkurang. Setelah konseling menyeluruh dan tinjauan oleh komite etik yang melibatkan dokter obstetri, neonatologi, dan bedah anak, orang tua memilih terminasi kehamilan. Persalinan diinduksi dengan misoprostol 50 mcg per oral setiap 4 jam (dua dosis). Induksi ini menghasilkan kelahiran bayi laki-laki seberat 1.400 gram dengan skor APGAR 3 dan 0. Bayi meninggal 15 menit setelah lahir. Kondisi ibu tetap stabil dengan tanda vital dan hasil laboratorium normal pascapersalinan.Diskusi: Diagnosis prenatal limfangioma sulit karena kemiripannya dengan massa kongenital lainnya. Skrining ekstremitas secara rutin sangat penting untuk deteksi dini. Histopatologi pascanatal mengonfirmasi limfangioma dengan menunjukkan saluran limfatik yang melebar tanpa komponen solid. Kasus ini menekankan pentingnya manajemen multidisiplin dan pencitraan serial untuk memperjelas prognosis.Kesimpulan: Diagnosis prenatal sangat penting dalam perencanaan manajemen. Ultrasonografi serial dan MRI dapat membantu memperjelas prognosis. Pendekatan multidisiplin sangat diperlukan untuk perawatan optimal. Kata kunci: Diagnosis prenatal, Limfangioma, Malformasi limfatik, Manajemen perinatal, Massa ekstremitas janin

    Characteristics of Patients with Placenta Accreta Spectrum at Dr. Hasan Sadikin Central General Hospital in 2019-2023

    No full text
    Objective: This study aimed to describe the epidemiological characteristics of placenta accrete spectrum (PAS) and to identify contributing factors of the patients treated at Dr. Hasan Sadikin General Hospital, Bandung. PAS is a serious obstetric complication caused by abnormal trophoblast invasion into the myometrium. Historically rare—1 in 30,000 conceptions in 1960—its incidence has increased significantly, now occurring in 1 in 500 to 1 in 533 pregnancies. Methods: A cross-sectional study was conducted using secondary data from 2019–2023. Patient characteristics were analyzed using descriptive statistics. Result: This study shows the median age of patients was 35 years (23 – 45 years). Nearly half (49.1%) had a history of one prior cesarean section. Urinary tract complications occurred in 8.5% and digestive tract involvement in 9.4% of cases. Additionally, 84.9% of neonates had low birth weight. Higher degrees of PAS were more frequently managed with hysterectomy. However, so far there is no guideline stating the definite indications for conservative management and hysterectomy.Conclusion: The study highlights the importance of risk identification and prenatal care in managing PAS cases and reducing adverse outcomes. Further longitudinal research is necessary to explore associations between identified risk factors and maternal-fetal outcomes.Karakteristik Pasien dengan Spektrum Plasenta Akreta di RSUD Dr. Hasan Sadikin Tahun 2019 – 2023AbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik epidemiologis kasus spektrum plasenta akreta (Placenta Accreta Spectrum/PAS) dan mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi pada pasien yang dirawat di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin, Bandung. PAS merupakan komplikasi obstetri serius yang disebabkan oleh invasi abnormal trofoblas ke dalam miometrium. Dahulu kondisi ini sangat jarang terjadi—sekira 1 dari 30.000 konsepsi pada tahun 1960—namun kini insidennya meningkat secara signifikan menjadi 1 dari 500 hingga 1 dari 533 kehamilan. Metode: Penelitian dilakukan secara potong lintang menggunakan data sekunder dari tahun 2019 hingga 2023. Karakteristik pasien dianalisis menggunakan statistik deskriptif.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan median usia pasien 35 tahun (23 – 45 tahun). Hampir setengah dari pasien (49,1%) memiliki riwayat satu kali operasi sesar. Komplikasi saluran kemih ditemukan pada 8,5% pasien, dan keterlibatan saluran pencernaan pada 9,4% kasus. Selain itu, 84,9% neonatus lahir dengan berat badan lahir rendah. Terdapat hubungan yang signifikan antara derajat PAS dengan jenis penatalaksanaan yang diterima pasien. Namun, hingga kini belum ada pedoman yang menyatakan secara pasti indikasi penggunaan manajemen konservatif atau histerektomi.Kesimpulan: Penelitian ini menekankan pentingnya identifikasi faktor risiko dan perawatan antenatal dalam menangani kasus PAS guna mengurangi komplikasi. Penelitian longitudinal lebih lanjut diperlukan untuk menilai hubungan antara faktor risiko yang teridentifikasi dengan luaran maternal dan janin.Kata Kunci: Deskripsi; Epidemiologi; Karakteristik; Spektrum Plasenta Akret

    Colorectal Anal Distress Inventory 8 (CRADI-8) Scores in PFDI-20 In Women With OASIS Before and After Repair

    Full text link
    Objectives: This research aims to assess and compare CRADI-8 scores in women with grade 3-4 OASIS before and after surgical repair. Methods: This cross-sectional study analyzed 37 OASIS patients at Hasan Sadikin Hospital, Bandung (January 2021-December 2023). CRADI-8 scores were measured pre- and post-surgery, with scores categorized by grade (0-4). The McNemar test was used for statistical analysis (

    Diagnostic Approach to Vaginismus and How to Differentiate it from Dyspareunia

    Full text link
    Introduction:Vaginismus is a recurrent or persistent spasm of the muscles of the outer third of the vagina that interferes with coitus. The diagnosis of vaginismus is challenging since it requires the exclusion of possible organic comorbidities. Vaginismus needs to be differentiated from dyspareunia. This article comprehensively discusses the approach to diagnosis and management of vaginismus and highlights its differences from dyspareunia.Methods: A literature search was conducted in PubMed®, ScienceDirect, and Google Scholar databases on February 7–8, 2024, using Boolean combinations of the specified keywords. No specific timeframe was used. Editorials, commentaries, and articles other than written in English and Indonesian were excluded.Results: The review found that vaginismus is characterized by involuntary pelvic floor muscle contractions and significant anxiety towards penetration, which is diagnosed mainly through patient history and physical examination. In contrast, dyspareunia encompasses a wider range of pain, which may be superficial or deep and can result from various physiological or psychological factors. Differentiating between the two conditions requires a detailed clinical interview, physical examination, and possibly additional tests to identify the specific cause.Conclusion: Treatment for vaginismus focuses on reducing fear and pelvic muscle spasms, while dyspareunia focuses on addressing the underlying cause and pain management.Pendekatan Diagnosis pada Vaginismus dan Cara Membedakannya dengan DispareuniaAbstrakPendahuluan: Vaginismus adalah spasme otot-otot sepertiga bagian luar vagina yang berulang atau terus-menerus dan mengganggu koitus. Diagnosis vaginismus menantang dan memerlukan eksklusi kemungkinan komorbiditas organik. Vaginismus perlu dibedakan dengan dispareunia. Artikel ini membahas pendekatan diagnosis dan penatalaksanaan vaginismus secara komprehensif dan menyoroti perbedaannya dengan dispareunia.Metode: Pencarian literatur dilakukan di basis data PubMed®, ScienceDirect, dan Google Scholar pada tanggal 7 – 8 Februari 2024 dengan menggunakan kombinasi Boolean dari kata kunci yang ditentukan. Tidak ada jangka waktu tertentu yang digunakan dalam pencarian artikel untuk tinjauan literatur ini. Editorial, komentar, dan artikel yang tidak berbahasa Inggris dan Indonesia tidak disertakan.Hasil: Tinjauan menunjukkan bahwa vaginismus ditandai oleh kontraksi involunter otot dasar panggul serta kecemasan signifikan terhadap penetrasi. Diagnosis utama didasarkan pada riwayat pasien dan pemeriksaan fisik. Sebaliknya, dispareunia mencakup spektrum nyeri, baik superfisial maupun dalam, yang dapat dipicu oleh berbagai faktor fisiologis atau psikologis. Untuk membedakan kedua kondisi tersebut, diperlukan wawancara klinis yang mendetail, pemeriksaan fisik, dan tes tambahan guna mengidentifikasi penyebab spesifik.Kesimpulan: Terapi untuk vaginismus berfokus pada pengurangan rasa takut dan spasme otot panggul, sedangkan dispareunia berfokus pada penanganan penyebab yang mendasari dan manajemen nyeri.Kata kunci: Diagnosis, dyspareunia, tatalaksana, vaginismu

    A Five-Year Study of Maternal and Neonatal Risk Factors Contributing to Early Neonatal Death at a Tertiary Referral Hospital

    Full text link
    Objective: This study aims to explore maternal and neonatal risk factors associated with early neonatal death at a central referral hospital in West Java.Methods: A cross-sectional study was conducted. Over five years, 310 early newborn mortality samples were collected from 9,240 births. Key characteristics associated with early infant death were identified using univariate and multivariate analysis.Results: Among the mothers, 63.9% were from outside Bandung and aged 15–46. 64.5% (n=200) of neonates died within two days. Primiparous mothers accounted for 33.2% (103). Common maternal conditions included premature contractions (27.1%), premature rupture of membranes (22.9%), hypertension (14.2%), placenta previa (6.5%), and eclampsia (3.5%). 84.8% of neonates were premature, and 59.4% experienced early death. Bivariate analysis showed significant relationships with parity, maternal diseases, mode of delivery, and newborn hypoxia. Death after 48 hours was notably associated with mode of delivery (p=0.009; OR 1.54).Conclusion: END is associated with parity, maternal conditions, delivery mode, and asphyxia. Improved prenatal care and stronger referral systems can reduce mortality rates.Analisis Faktor Risiko Ibu dan Neonatus terhadap Kematian Neonatal Dini di RS Rujukan Tersier: Studi Lima TahunAbstrakTujuan: Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi faktor risiko maternal dan neonatal yang terkait dengan kematian neonatal dini pusat rujukan di Jawa Barat.Metode: Metode penelitian dilakukan dengan studi potong lintang selama lima tahun. 310 sampel kematian neonatal dini diambil dari 9,240 kelahiran. Analisis multivariate dan univariate dilakukan untuk melihat hubungan faktor-faktor penting yang berhubungan dengan kematian neonatal diniHasil: Hasil penelitian menunjukan sebanyak 63,9% berasal dari luar Bandung dan berusia antara 15 dan 46 tahun. 64,5% (n=200) bayi meninggal dalam dua hari. 33,2% persalinan prematur (103). Kondisi patologis ibu yang ditemukan kontraksi prematur (27,1%), ketuban pecah dini (22,9%), hipertensi (14,2%), plasenta previa (6,5%) dan eklampsia (3,5%). 84,8% lahir prematur, dan 59,4% meninggal dini. Menurut analisis bivariat, ada hubungan yang signifikan antara cara persalinan, penyakit ibu, hipoksia bayi baru lahir, dan paritas (p=0.009; OR 1.54). Kematian bayi setelah 48 jam memiliki korelasi yang signifikan dengan metode persalinan.Kesimpulan: KND dikaitkan dengan paritas, penyakit ibu, cara persalinan, dan asphyxia. Memperkuat sistem referral dan meningkatkan perawatan antenatal dapat mengurangi angka kematian.Kata kunci: faktor risiko maternal; kematian neonatal dini; komplikasi maternal; metode persalina

    An Overview of Side Effects on Post-Placental IUD Acceptors by Independent Practice Midwives in Jembrana Regency

    Full text link
    Objective: Women who have given birth three or more times will be advised to use the Long-Acting Reversible Contraceptives (LARCs) to avoid the risk of complications in both mother and baby. One of the most widely used LARCs is the Intrauterine Device (IUD); however, the use of IUDs in Indonesia is recorded low. IUD acceptors in Couples of Childbearing Age in Indonesia in 2022 were still very low, i.e., 7.7% of the total 27.3 million couples, while data in Bali Province in 2022 showed the number of IUD users with a percentage of 32.3% of the total 777,016 couples; while in Jembrana Regency, it was 23.6% of the total 48,471 couples. The insertion of a post-placental IUD is one of the opportunities to prevent unplanned or unwanted pregnancies. This research was conducted to get an overview of side effects on Post-placental IUD acceptors conducted by Independent Practice Midwives in Jembrana Regency. Methods: This study uses descriptive research describing post-placental IUD acceptors by independent practice midwives. The samples include 75 data obtained from the delivery register of Independent Practice Midwives in Jembrana Regency who served postpartum IUDs from January 2021 to November 2024. Results: The characteristics of post-placental IUD acceptors are 76% at the age group of 20-35 years and 77.3% working mothers or taking care of the household. Moreover, 78.7% completed secondary education, 62.7% have more than one child, and 60% have used IUDs for more than 1 year. IUDs were reported to cause long period of menstruation (13.3% of respondents), cause abdominal pain (9.3% of respondents), have respondents to replace IUDs with other contraceptive methods (8% of respondents), and experience expulsion. Conclusion: Post-placental IUD insertion by Independent Practice Midwives in Jembrana Regency is effective resulting in low side effects, expulsion, and failure.Gambaran Eefek Samping Pada Akaseptor IUD Pasca-Plasenta oleh Bidan Praktek Mandiri di Kabupaten JembranaAbstrakTujuan: Ibu yang melahiran tiga kali atau lebih akan disarankan menggunakan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) karena berisiko mengalami komplikasi baik pada ibu maupun bayi. Salah satu MKJP yang banyak digunakan adalah Intra Uterine Device (IUD). Namun, pengguna IUD secara nasional masih rendah. Akseptor IUD pada pasangan usia subur (PUS) di Indonesia tahun 2022 masih sangat rendah yaitu 7,7% dari total 27.3 juta PUS, sedangkan data di Provinsi Bali tahun 2022 menunjukkan jumlah pengguna IUD dengan persentase 32,3% dari total 777.016 jumlah Pasangan Usia Subur (PUS), dan di Kabupaten Jembrana 23,6% dari total 48.471 jumlah PUS. Pemasangan IUD pasca-plasenta menjadi salah satu kesempatan untuk mencegah terjadinya kehamilan yang tidak direncanakan atau dikehendaki. Penelitian ini dilakukan agar mendapat gambaran efek samping pada akseptor IUD pasca-plasenta yang dilakukan oleh Bidan Praktik Mandiri di Kabupaten Jembrana.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dari data akseptor IUD pasca-plasenta yang dipasang oleh Bidan Praktik Mandiri (BPM). Sampel yang digunakan adalah 75 sampel dengan data didapatkan dari register persalinan Bidan Praktik Mandiri di Kabupaten Jembrana yang melayani IUD pascasalin rentang Januari 2021-November 2024.Hasil: Karakteristik akseptor IUD pasca-plasenta didapatkan menurut usia 76% merupakan wanita usia subur kelompok usia 20 - 35 tahun, dan 77,3 % sebagai ibu bekerja mengurus rumah tangga. Sebanyak 78,7% menyelesaikan pendidikan paling banyak adalah level menengah, menurut jumlah anak 62.7% merupakan multipara, dan 60% telah memakai IUD lebih dari 1 tahun. Efek samping penggunaan IUD dilaporkan haid yang lama, yaitu sebanyak 13.3 % responden dan nyeri perut sebesar 9.3% responden. Sedangkan kegagalan IUD menyebabkan 8% responden mengganti IUD dengan metode kontrasepsi lain dan 1.3% responden mengalami ekspulsi.Kesimpulan: Pemasangan IUD pasca-plasenta oleh Bidan Praktik Mandiri di Kabupaten Jembrana efektif dengan efek samping, ekspulsi, dan kegagalan yang rendah.Kata kunci: efek samping, IUD pasca-plasenta, kegagala

    Surgical Approach for Uterine Perforation due to Gestational Trophoblastic Neoplasia: A Case Report

    Full text link
    Introduction: The most common life-threatening complication of gestational trophoblastic neoplasia (GTN) is uterine perforation. In several cases, a surgical approach becomes inevitable. However, there are numerous considerations regarding the technique of hysterectomy.Case Presentation: A 37-year-old (P1A2) woman came to the ER with severe abdominal pain 12 h before admission. The patient had been previously diagnosed with GTN and was scheduled to undergo methotrexate chemotherapy. However, due to the development of an acute abdomen, accompanied by low hemoglobin levels and free fluid showing signs of uterine perforation, an emergency total abdominal hysterectomy was performed. The intra-operative findings revealed intra-abdominal bleeding and uterine perforation at the right fundal side of the uterus. The patient underwent postoperative chemotherapy and showed significant improvement. Conclusion: Regardless of the efficacy of chemotherapy in GTN, abdominal hysterectomy proved to be beneficial for treating uterine perforation in an emergency setting.Pendekatan Pembedahan pada Perforasi Uterus Akibat Tumor Trofoblastik Gestasional : Sebuah Laporan KasusAbstrakPendahuluan: Komplikasi paling umum yang mengancam jiwa dari Tumor Trofoblastik Gestasional (TTG) adalah perforasi uterus. Pendekatan pembedahan tidak dapat dihindari dalam beberapa kasus. Namun, ada banyak pertimbangan mengenai teknik pembedahan dalam setiap kasus.Laporan Kasus: Seorang wanita berusia 37 tahun (P1A2) datang ke UGD dengan nyeri perut hebat 12 jam sebelum masuk rumah sakit. Pasien didiagnosis dengan neoplasia trofoblastik gestasional dan dijadwalkan untuk kemoterapi metotreksat. Abdomen akut, kadar hemoglobin rendah, cairan bebas menunjukkan tanda perforasi uterus. Temuan intraoperatif adalah perdarahan intra-abdomen dan perforasi uterus di sisi fundus kanan uterus. Histerektomi abdomen total darurat dilakukan. Pasien menjalani kemoterapi pasca-operasi dengan kondisi yang membaik.Kesimpulan:Terlepas dari efektivitas kemoterapi pada TTG, histerektomi abdominal bermanfaat untuk mengobati perforasi uterus dalam keadaan darurat.Kata kunci: Histerektomi, perforasi uterus, trofoblastik neoplasia

    329

    full texts

    371

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    OBGYNIA - Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇