OBGYNIA - Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
Not a member yet
    371 research outputs found

    Non-Severe Preeclampsia and Subclinical Inflammation: A Study of Cyclophilin A, NF-κB, PARP- 1, and Apoptosis in Human Placentas

    Full text link
    Objective: To compare the expression of CyP-A, NF-κB, PARP-1, and apoptotic index in Non-Severe Preeclampsia (NS-PE) and Normal Pregnancy (NP) and explore their roles in inflammation during preeclampsia.Methods: Conducted in Depok, Indonesia, the cross-sectional study involved 28 participants divided into NS-PE and NP groups based on ISSHP criteria. NP was defined as uncomplicated pregnancies at 38–40 weeks gestation. Placental weight was measured, and ELISA was used to assess biomolecule levels. Data were analyzed using T-tests or Mann-Whitney tests.Result: Maternal gestational age, body mass index, and leukocyte levels were significantly higher in NS-PE. The apoptotic index, measured by TUNEL assay, was also significantly elevated in NS-PE (41.56 ±24.87) compared to NP (23.96 ±18.79; p = 0.044). While CyP-A, PARP-1, and NF-κB levels were higher in NS-PE eventhough they were not statistically significant. Immunohistochemistry confirmed an overall increase in these molecules, supporting their clinical relevance.Conclusion: Despite the lack of statistical significance, increased inflammation and apoptosis in NS-PE may contribute to placental dysfunction and adverse pregnancy outcomes.Non-Severe Preeclampsia dan Inflamasi Subklinis: Studi CyP-A, NF-κB, PARP-1, dan Apoptosis pada Plasenta ManusiaAbstrak Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan ekspresi CyP-A, NF-κB, PARP-1, dan indeks apoptosis antara preeklamsia non-severe (NS-PE) dan kehamilan normal (NP), serta perannya dalam proses inflamasi pada preeklamsia.Metode: Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross-sectional. Penelitian ini dilakukan di Depok, Indonesia, dengan 28 partisipan yang dikelompokkan menjadi NS-PE dan NP berdasarkan kriteria ISSHP. Berat plasenta diukur dan kadar biomolekul dianalisis menggunakan ELISA. Uji T dan alternatif Mann-Whitney digunakan untuk analisis statistik.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa usia kehamilan, indeks massa tubuh (IMT), dan kadar leukosit secara signifikan lebih tinggi pada NS-PE. Indeks apoptosis (TUNEL) juga lebih tinggi secara signifikan pada NS-PE (41,56 ±24,87) dibandingkan NP (23,96 ±18,79; p = 0,044). Kadar CyP-A, PARP-1, dan NF-κB lebih tinggi pada NS-PE meskipun tidak signifikan secara statistik, pemeriksaan IHK mengonfirmasi relevansi klinis peningkatan pada keseluruhan biomolekul tersebut. Kesimpulan: Meskipun signifikansi statistik rendah, peningkatan peradangan dan apoptosis pada NS-PE dapat menyebabkan disfungsi plasenta dan dampak buruk pada kehamilan.Kata kunci: Apoptosis; inflamasi; preeklamsia

    Analysis of Outpatient and Postpartum Family Planning Services in Makassar Teaching Hospitals for Two Years

    Full text link
    Objective: To evaluate the distribution and characteristics of the family planning (FP) service acceptors in the outpatient clinics and postpartum wards in the main teaching hospital and its affiliated hospitals in Makassar in a two-year period. Method: The retrospective descriptive study was conducted using FP service registers and patients’ medical records from January 2023 to January 2024. Data included sociodemographic characteristics (age, parity, education, occupation), type of procedure (postpartum vaginal delivery, caesarean section, curettage), and contraceptive method chosen (implant, intrauterine device [IUD], sterilization). All eligible acceptors during the study period were included. The Data were analyzed descriptively and presented as the frequencies and percentages. Result: The total of 5,684 FP acceptors is recorded. The most commonly used methods are IUD (2,882; 50.7%), implants (2,239; 39.4%), and sterilization (563; 9.9%). The majority of the acceptors are 20-35 years old (4,835; 85.1%) and have the parity two (1,978; 34.8%). The most contraceptive initiation occurs after the vaginal delivery (3,420; 60.2%). The high school graduates represent the largest education group (3,125; 54.9%), and housewives are the most frequent occupational group (3,974; 69.9%).Conclusion: The postpartum FP services remain the main entry point for the contraceptive use in the teaching and affiliated hospitals. The counseling strengthening, especially during the antenatal and postpartum care, may further improve the uptake of the appropriate contraception in line with the socio-demographic needs.Analisis Pelayanan Keluarga Berencana Rawat Jalan dan Pascasalin di Rumah Sakit Pendidikan di Makassar Selama Dua Tahun”Abstrak Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengevaluasi distribusi dan karakteristik akseptor pelayanan keluarga berencana (KB) pada poliklinik rawat jalan dan ruang nifas di rumah sakit pendidikan utama dan rumah sakit jejaring di Makassar selama periode dua tahun.Metode: Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif retrospektif dilakukan dengan menggunakan register pelayanan KB dan rekam medis pasien dari Januari 2023 hingga Januari 2024. Data yang dikaji meliputi karakteristik sosiodemografi (usia, paritas, pendidikan, pekerjaan), jenis tindakan (persalinan pervaginam pascapersalinan, seksio sesarea, kuretase), serta metode kontrasepsi yang dipilih (implan, alat kontrasepsi dalam rahim, sterilisasi). Semua akseptor yang memenuhi kriteria selama periode penelitian diikutsertakan. Data dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk frekuensi serta persentase.Hasil: Sebanyak 5.684 akseptor KB tercatat. Metode yang paling banyak digunakan adalah alat kontrasepsi dalam rahim (2.882; 50,7%), implan (2.239; 39,4%), dan sterilisasi (563; 9,9%). Mayoritas akseptor berusia 20-35 tahun (4.835; 85,1%) dan memiliki paritas dua (1.978; 34,8%). Sebagian besar inisiasi kontrasepsi dilakukan setelah persalinan pervaginam (3.420; 60,2%). Lulusan Sekolah Menengah Atas merupakan kelompok pendidikan terbesar (3.125; 54,9%), sedangkan ibu rumah tangga merupakan kelompok pekerjaan terbanyak (3.974; 69,9%).Kesimpulan: Pelayanan KB pascasalin tetap menjadi pintu masuk utama penggunaan kontrasepsi di rumah sakit pendidikan dan jejaring. Penguatan konseling, terutama pada masa antenatal dan pascasalin, dapat lebih meningkatkan pemilihan kontrasepsi yang tepat sesuai kebutuhan sosiodemografi.Kata kunci: Keluarga berencana, kontrasepsi pasca persalinan, Makassar, metode kontrasepsi, pelayanan rawat jala

    Characteristics of Epithelial Ovarian Cancer at RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang Period from January 2020 to September 2023

    Full text link
    Objective: To determine the characteristics of epithelial ovarian cancer patient at Dr. Mohammad Hoesin Palembang General Hospital from January 2020 to September 2023.Methods: This study is a descriptive observational study utilizing secondary data from the Medical Records Department. The inclusion criteria included all patients diagnosed with epithelial ovarian cancer based on anatomical pathology results from the Medical Records Department at Dr. Mohammad Hoesin Palembang Hospital, covering the period from January 2020 to September 2023.Results: A total of 153 patient medical records met the inclusion and exclusion criteria. The results of the study findings revealed that the majority of epithelial ovarian cancer patients were aged 45–59 years (pre-elderly) (51%), had an normal Body Mass Index of 18.5–22.9 kg/m² (57.5%), were most commonly diagnosed at FIGO Stage IIIC (42.5%), had no family history of the disease (98.7%), and were nulliparous (32.7%)Conclusion: Epithelial ovarian cancer patients were predominantly found in the pre-elderly age group, with a normal Body Mass Index, the majority diagnosed at stage IIIC, without a family history, and nulliparous.Karakteristik Kanker Ovarium Epitel di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang Periode Januari 2020 – September 2023AbstrakTujuan: Mengetahui karakteristik pasien kanker ovarium epitel di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang periode Januari 2020 – September 2023Metode: Penelitian ini merupakan deskriptif observasional menggunakan data sekunder dari Instalasi Rekam Medis. Kriteria inklusi, yaitu seluruh pasien yang didiagnosis kanker ovarium epitel berdasarkan hasil patologi anatomi di Instalasi Rekam Medis RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang periode Januari 2020 – September 2023.Hasil: Mayoritas pasien kanker ovarium epitel berusia 45 – 59 tahun (pra-lanjut) (51%), Indeks Massa Tubuh normal 18,5–22,9 kg/m2 (57,5%), mayoritas pada stadium IIIC (42,5%), tidak memiliki riwayat keluarga (98,7%), dan nuliparitas (32,7%).Kesimpulan:Penderita kanker ovarium epitel sebagian besar ditemukan pada kelompok usia pra-lansia, dengan ndeks Massa Tubuh normal, sebagian besar berada pada stadium IIIC, tidak memiliki riwayat keluarga, dan nuliparitas.Kata kunci: Kanker Ovarium Epitel, Karakteristik

    Relationship Between Severe Preeclampsia, Gestational Hypertension, Impending Eclampsia, Preeclampsia, Superimposed Preeclampsia, and Chronic Hypertension on Fetal Outcomes at Respati Maternal and Child Hospital, Tasikmalaya

    Full text link
    Objective: This study aims to explore the impact of preeclampsia on fetal outcomes at birth.Methods: This research used a total sampling method with a cross-sectional design. The data were from all pregnant patients and newborns delivered at Respati Maternity and Children’s Hospital, Tasikmalaya, in 2023. Hypertensive disorders included preeclampsia, severe preeclampsia (SPE), superimposed preeclampsia, gestational hypertension (GHT), impending eclampsia, and chronic hypertension, while fetal outcomes included birth weight and prematurity.Results: A total of 1,190 subjects were included. There was an association between birth weight and SPE (p < 0.01, PR = 7.64), GHT (p < 0.01, PR = 13.33), and superimposed preeclampsia (p < 0.05, PR = 5.24). A significant association was found between prematurity and SPE (p < 0.01, PR = 2.79), impending eclampsia (p < 0.05, PR = 3.63), superimposed preeclampsia (p < 0.01, PR = 4.47), and chronic hypertension (p < 0.05, PR = 3.63). No significant associations were found between other variables and low birth weight or prematurity.Conclusion: There is an association between SPE and superimposed preeclampsia with low birth weight and prematurity, between GHT and low birth weight, and between impending eclampsia and prematurity.Hubungan antara Preeklampsia Berat, Hipertensi Gestasional, Impending Eklampsia, Preeklampsia, Superimposed Preeklampsia, dan Hipertensi Kronis terhadap Luaran Janin di RSIA Respati TasikmalayaAbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi lebih dalam mengenai dampak preeklampsia terhadap luaran bayi saat lahir.Metode: Penelitian ini dilaksanakan dengan metode total sampling, menggunakan desain potong lintang (cross-sectional) dengan data pasien ibu hamil dan janin yang dilahirkan di RSIA Respati Tasikmalaya pada tahun 2023. Variabel gangguan hipertensi meliputi preeklampsia, preeklampsia berat (PEB), superimposed preeklampsia, hipertensi gestasional (HTG), impending eklampsia, dan hipertensi kronis, sedangkan variabel luaran bayi meliputi berat badan lahir (BBL) dan prematuritas.Hasil: Sebanyak 1.190 subjek dikumpulkan. Terdapat hubungan yang signifikan antara BBL dengan PEB (p < 0,01, PR = 7,64), HTG (p < 0,01, PR = 13,33), dan superimposed preeklampsia (p < 0,05, PR = 5,24). Terdapat hubungan yang signifikan antara prematuritas dengan PEB (p < 0,01, PR = 2,79), impending eklampsia (p < 0,05, PR = 3,63), superimposed preeklampsia (p < 0,01, PR = 4,47), dan hipertensi kronis (p < 0,05, PR = 3,63). Tidak ditemukan hubungan antara variabel lainnya dan BBLR atau prematuritas.Kesimpulan: Terdapat hubungan antara PEB dan superimposed preeklampsia dengan berat badan lahir rendah dan prematuritas, terdapat hubungan antara HTG dan BBLR, dan terdapat hubungan antara impending eklampsia dan prematuritas.Kata kunci: Fetomaternal, Luaran Janin, Preeklampsia, RSIA Respati

    The Influence of COVID-19 Severity on Maternal and Perinatal Outcomes: Evidence from a Cohort Study in Indonesia

    Full text link
    Objective: This study aimed to assess the association between COVID-19 severity and maternal and neonatal outcomes at Dr. Hasan Sadikin General Hospital, Bandung, Indonesia.Methods: A retrospective cohort study was conducted among pregnant women with confirmed COVID-19 who delivered between March 1, 2020, and March 31, 2022. Patients were categorized by disease severity (asymptomatic, mild, moderate, severe, or critical). Demographic, clinical, maternal, and neonatal data were collected. Statistical analyses included Fisher’s exact and Kruskal-Wallis tests for bivariate analysis and Poisson regression for multivariate analysis (significance level α = 0.05).Results: Among 199 pregnant women, most were asymptomatic (42.7%) or had mild symptoms (37.2%). Higher COVID-19 severity was significantly associated with increased ICU/semi-ICU admission and oxygen therapy, as well as neonatal complications. After adjustment, moderate to critical cases showed significantly increased risks for ICU/semi-ICU care (p = 0.012, aRR 14.6; 95% CI: 1.8–118.2) and oxygen therapy (p = 0.001, aRR 12.2; 95% CI: 2.7–55.3). Mild cases were not linked to adverse outcomes.Conclusion: Moderate to critical COVID-19 during pregnancy is associated with higher risks of adverse maternal and neonatal outcomes, emphasizing the importance of early detection and close monitoring.Dampak Keparahan COVID- 19 pada Luaran Kehamilan: Studi Kohort di IndonesiaAbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan mengevaluasi hubungan antara tingkat keparahan COVID-19 dan luaran kehamilan serta neonatal di RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung.Metode: Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah kohort retrospektif pada ibu hamil dengan konfirmasi COVID-19 yang melahirkan antara 1 Maret 2020 hingga 31 Maret 2022. Pasien dikelompokkan berdasarkan tingkat keparahan (asimtomatik, ringan, sedang, berat, kritis). Data demografi, klinis, serta luaran ibu dan bayi dikumpulkan. Analisis statistik dilakukan menggunakan SPSS, dengan uji Fisher’s exact dan Kruskal-Wallis untuk bivariat, serta regresi Poisson untuk multivariat (α=5%).Hasil: Hasil penelitian menunjukkan dari 199 ibu hamil yang dianalisis, mayoritas bersifat asimtomatik (42,7%) atau ringan (37,2%). Keparahan penyakit yang lebih tinggi secara signifikan berhubungan dengan peningkatan kebutuhan perawatan ICU/semi-ICU dan terapi oksigen, serta komplikasi neonatal. Setelah penyesuaian, COVID-19 sedang–kritis berkorelasi dengan peningkatan risiko ICU/semi-ICU (p=0,012, aRR 14,6; 95% CI 1,8–118,2) dan terapi oksigen (p=0,001, aRR 12,2; 95% CI 2,7–55,3). Kasus ringan tidak menunjukkan hubungan dengan luaran buruk.Kesimpulan: Keparahan COVID-19 sedang hingga kritis pada kehamilan meningkatkan risiko luaran buruk sehingga diperlukan identifikasi dini dan pemantauan ketat

    Clomiphene-Metformin vs Clomiphene in Infertil Women with Polycystic Ovary Syndrome: A Systematic Review and Meta-analysis

    No full text
    Objective: To compare the efficacy of clomiphene citrate and metformin with clomiphene citrate alone in treating primary infertility in women with polycystic ovarian syndrome.Methods: PubMed, SCOPUS, and Google Scholar databases were searched for English-language randomized controlled trials from 2015 to 2024. Inclusion criteria: reproductive age group (15 - 35 years), all ethnicities, diagnosed with PCOS by all current criteria, who are primarily infertile, and received clomiphene citrate and metformin compared to clomiphene citrate alone or with placebo. Primary outcomes: efficacy or improvement in fertility.Result: The search returned 1251 articles; 120 articles addressed metformin or clomiphene citrate, and four randomized controlled trials (RCTs) comparing metformin and clomiphene citrate with clomiphene citrate alone were included. One thousand seven hundred thirty-seven (1737) women with primary infertility and PCOS were included in this systematic review. The dose of metformin was 500 - 850mg twice or thrice daily, and the dose of clomiphene citrate was 50 - 100mg once daily. Based on four articles, the efficacy of fertility improvement of metformin and clomiphene citrate was significantly higher (231/869; 26.58%) compared to clomiphene citrate alone or with placebo (169/868; 19.47%) (OR = 1.5; 95% CI 1.10 [1.04-1.15]; p-value = 0.0004, 4 trials; I2 = 49%; n = 1737).Conclusion: Metformin and clomiphene citrate are more effective for improving fertility than clomiphene alone or placebo, respectively. Further methodological trials are necessary to identify additional differences in effectiveness and other outcomes between metformin and clomiphene citrate, particularly regarding safety and adverse effects.Clomifene-Metformin vs Clomifene pada Wanita Infertil Primer dengan Sindrom Ovarium Polikistik: Systematic Review dan Meta-AnalysisAbstrakTujuan: Penelitian ini dilakukan untuk membandingkan efikasi clomifene sitrat dan metformin versus clomifene sitrat pada terapi infertilitas primer pada wanita dengan sindrom ovarium polikistik.Metode: Pencarian menggunakan database Pubmed, SCOPUS, dan Google Scholar untuk Randomized Controlled Trials berbahasa Inggris dari tahun 2015 sampai 2024. Kriteria inklusi: kelompok usia produktif (15 - 35 tahun), semua etnis, didiagnosis dengan PCOS dengan seluruh kriteria, merupakan pasien infertil primer, mendapatkan clomifene sitrat dan metformin dibandingkan dengan clomifen sitrat saja atau dengan plasebo. Hasil primer: efikasi peningkatan fertilitas,Hasil: Hasil pencarian adalah 1251 artikel; 120 artikel membahas metformin atau clomifene sitrat, dan empat RCT yang dilakukan systematic review dan meta-analysis. Seribu tujuh ratus tiga puluh tujuh (1737) wanita infertil primer dan PCOS masuk ke dalam systematic review ini. Dosis metformin adalah 500 - 850mg dua atau tiga kali sehari, dan dosis clomifene sitrat adalah 50 - 100mg sekali sehari. Berdasarkan empat artikel, efikasi peningkatan fertilitas dari metformin dan clomifene sitrat signifikan lebih tinggi (231/869; 26.58%) dibandingkan dengan clomifene sitrat saja atau dengan plasebo (169/868; 19.47%) (OR = 1.5; 95% CI 1.10 [1.04-1.15]; p-value = 0.0004, 4 trials; I2 = 49%; n = 1737).Kesimpulan: Metformin dan clomifene sitrat memiliki efikasi peningkatan fertilitas yang lebih baik dibandingkan dengan clomifene sitrat saja atau dengan plasebo. Uji metodologi lebih lanjut dibutuhkan untuk menentukan perbedaan lebih lanjut dari keefektifan dan hasil lainnya antara metformin dan clomifene sitrat, dengan mempertimbangkan keamanan dan efek samping

    Case Report: Family’s Role in Mentoring Adolescent Pregnancy

    Full text link
    Introduction: Adolescent pregnancy negatively affects maternal and infant health, leading to preterm birth, low birth weight (LBW), and intrapartum hemorrhage, all of which contribute to increased maternal and neonatal mortality. It is also associated with unintended pregnancies and unsafe abortions. Deliveries by mothers under 20 years old are associated with higher neonatal, infant, and under-five mortality rates and a greater risk of stunting. Infant health outcomes are heavily influenced by maternal nutritional status. Case Report: A 15-year-old adolescent (Mrs. S) was brought by her aunt to Ahmad Ripin District Hospital, Muaro Jambi, on November 10, 2022, for antenatal assessment. Initial examination showed a body mass index (BMI) of 16 (underweight; <18.5), for which a total gestational weight gain target of 12.5–18 kg was recommended. Her MUAC was 21 cm and hemoglobin (Hb) 9 g/dL. The case underscores the crucial role of a strong family support system in achieving adequate weight gain in pregnant adolescents, given its significant association with maternal health during pregnancy and infant birth weight. Conclusion: this case highlights the importance of healthcare education and monitoring in adolescent pregnancy. It shows that when combined with the family’s role as a supporter, these factors can effectively protect maternal and infant health, resulting in positive outcomes.Laporan Kasus: Peranan Keluarga dalam Pendampingan Kehamilan Remaja Abstrak Pendahuluan: Kehamilan remaja berdampak negatif pada kesehatan ibu dan bayi. Beberapa dampak negatif tersebut adalah bayi prematur, berat badan lahir rendah (BBLR), dan perdarahan persalinan yang berujung pada kenaikan kematian maternal–neonatal. Kehamilan pada remaja juga berkaitan dengan kehamilan tidak diinginkan dan aborsi tidak aman. Persalinan pada ibu <20 tahun berkontribusi pada tingginya kematian neonatal, bayi, dan balita, serta meningkatkan risiko stunting. Luaran bayi sangat dipengaruhi status gizi ibu. Laporan Kasus: Seorang ibu Ny.S berusia15 tahun, pertama kali dibawa oleh bibinya ke Rumah Sakit Daerah Ahmad Ripin, Kabupaten Muaro Jambi, pada tanggal 10 November 2022 untuk memeriksakan kehamilannya. Setelah dilakukan pemeriksaan, Ny.S memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) 16 yang berarti kurang dari 18,5 (gizi kurang) harus meningkatkan berat badannya sebesar 12,5 sampai 18 kg. Ny.S memiliki nilai LILA 21 cm, dan kadar Hemoglobin 9 gr/dl. Dalam menyukseskan pertambahan berat badan remaja yang hamil diperlukan peranan keluarga yang berkualitas untuk menjadi support system terbaik karena berhubungan dengan kesehatan ibu selama kehamilan serta berat badan bayi saat lahir. Kesimpulan: Berdasarkan laporan kasus ini, peran keluarga sebagai pendamping kehamilan remaja terbukti efektif menjaga kesehatan ibu dan bayi. Di samping itu, pengetahuan tentang kesehatan ibu dan bayi pada tingkat individu (faktor pengetahuan ibu) serta dukungan tenaga kesehatan juga berkontribusi signifikan terhadap luaran yang baik.Kata kunci: kehamilan remaja; kesehatan ibu dan bayi: peran keluarg

    Diagnostic and Management Challenges of Systemic Lupus Erythematosus in Pregnancy Complicated with Severe Preeclampsia and Intrauterine Growth Restriction: A Case Report

    Full text link
    Introduction: Systemic lupus erythematosus (SLE) is a chronic systemic autoimmune disease more common in women than men. The risk of lupus flare increases during pregnancy. This case report describes the diagnostic and management challenges of SLE in pregnancy.Case Illustration: This case report describes a 27-year-old female, G3P1A1, 27 weeks of pregnancy, who presented with a six-hour history of headache, epigastric pain, and irregular uterine contractions. The patient has a poor obstetric history, with a miscarriage in her first pregnancy and an intrauterine fetal death (IUFD) in her second pregnancy. Ultrasonography showed an estimated fetal weight (EFW) of 878 grams. The laboratory test results revealed elevated levels with ANA of 140.2 units, anti-dsDNA of 1094 IU/mL, positive direct and indirect Coombs tests, and 1000 mg/dL urine protein. Conclusion: The diagnosis of SLE is established when a group of symptoms and signs are found according to the SLE Risk Probability Index criteria or the criteria for SLE in The Assessment using the European League Against Rheumatism/American College of Rheumatology. Early diagnosis of SLE in women is expected to prevent its impact on pregnancy. Management of SLE during pregnancy includes the use of hydroxychloroquine, azathioprine, steroid therapy, and addressing any complications that have occurred.Tantangan Diagnosis dan Tatalaksana Lupus Eritematosus Sistemik pada Kehamilan yang Disertai Preeklampsia Berat dan Restriksi Pertumbuhan Intrauterin: Sebuah Laporan KasusAbstrakPendahuluan: Systemic lupus erythematosus (SLE) adalah penyakit autoimun sistemik kronis yang lebih sering terjadi pada perempuan dibandingkan dengan laki-laki. Risiko lupus flare meningkat selama kehamilan. Laporan kasus ini bertujuan untuk menjelaskan tantangan diagnostik dan tatalaksana SLE pada kehamilan. Laporan Kasus: Laporan kasus ini menggambarkan seorang perempuan berusia 27 tahun, G3P1A1, usia kehamilan 27 minggu yang datang dengan keluhan nyeri kepala, nyeri epigastrium, dan kontraksi rahim tidak teratur selama enam jam. Pasien memiliki riwayat obstetri yang kurang baik, dengan keguguran pada kehamilan pertama dan kematian janin dalam kandungan (IUFD) pada kehamilan kedua. Pemeriksaan ultrasonografi menunjukkan estimasi berat janin (EFW) sebesar 878 gram. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan peningkatan ANA sebesar 140,2 unit, Anti-dsDNA sebesar 1094 IU/mL, tes Coombs langsung dan tidak langsung yang positif, serta protein urin sebesar 1000 mg/dL. Kesimpulan: Diagnosis SLE ditegakkan apabila ditemukan kumpulan gejala dan tanda sesuai SLE Risk Probability Index (SLERPI) atau kriteria SLE pada The assessment using the European League Against Rheumatism/American College of Rheumatology (EULAR/ACR). Penegakan dini SLE pada perempuan diharapkan dapat mencegah dampaknya pada kehamilan. Tatalaksana SLE selama kehamilan meliputi pemberian hydroxychloroquine, azathioprine, terapi steroid, serta penanganan komplikasi yang telah terjadi.Kata kunci: kehamilan, preeeklamsia, sistemik lupus eritematosus

    Correlation of Histological Type, Stage, Age, and Prognosis in Uterine Cervical Cancer at Margono Soekardjo Hospital Purwokerto from January – December 2024

    Full text link
    Objective: To evaluate the correlation of histological subtype, stage, age, and prognosis in cervical cancer patients treated at Prof. Dr. Margono Soekarjo Hospital, Purwokerto.Methods: This is a retrospective descriptive cohort study conducted using medical records. Data on cervical cancer staging, age, and histopathological subtype were collected from all patients meeting the inclusion criteria. Statistical analysis was performed, and associations were examined using chi-square tests. The data used in the study were obtained from the medical records of patients at the research site from January to December 2024.Result: Of 582 patients identified, 245 met the inclusion criteria. Squamous cell carcinoma (SCC) accounted for 147 cases, and adenocarcinoma (AC) for 98. Most patients were aged >50 years old and diagnosed at stage II. SCC was most common at stage II, while AC was most frequently found at stage III. Statistical analysis revealed a significant but weak association between age, stage, prognosis, and histological subtype.Conclusion: There was a significant weak correlation of histological subtype and age, stage, and prognosis in cervical cancer.Korelasi Tipe Histologis, Stadium, Usia, dan Prognosis pada Kanker Uterin Serviks di Rumah Sakit Margono Soekardjo pada Januari – Desember 2024AbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi antara subtipe histologis, stadium, usia, dan prognosis kanker serviks uteri pada pasien yang diobati di RSUD Prof. Dr. Soekarjo Margono, Purwokerto, dalam rentang waktu Januari – Desember 2024Metode: Studi ini merupakan studi retrospektif deskriptif kohort dengan data dari rekam medis. Data yang diambil adalah stadium kanker, usia, dan subtipe histopatologis dan didapatkan dari semua pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Analisis statistik dilakukan serta asosiasi diuji dengan uji Chi-Square. Data yang digunakan dalam penelitian diperoleh dari rekam medis pasien di RSUD Margono Soekardjo, Purwokerto pada bulan Januari hingga Desember 2024Hasil: Dari 582 pasien, sebanyak 245 pasien memenuhi kriteria inklusi. Karsinoma sel skuamosa (SCC) ditemukan pada 147 kasus, sedangkan adenokarsinoma (AC) pada 98 kasus. Sebagian besar pasien berusia >50 tahun dan didiagnosis pada stadium II. SCC paling banyak ditemukan pada stadium II, sementara AC didapatkan paling banyak pada stadium III. Analisis statistik menunjukkan adanya hubungan bermakna dengan korelasi lemah antara usia, stadium, dan prognosis dengan tipe histologis.Kesimpulan: Terdapat korelasi signifikan antara subtipe histologis dan usia, stadium, serta prognosis kanker serviks.Kata kunci: Kanker serviks; prognosis; subtipe histologis; stadium; usi

    Survival Outcomes at Three Years After Primary vs Interval Debulking in Advanced Ovarian Cancer: A Retrospective Study from Hasan Sadikin Hospital (2021)

    Full text link
    Objective: Ovarian cancer is the third most prevalent malignancy among women in Indonesia. The 5-year survival rate is approximately 49%, with 68% of patients diagnosed at an advanced stage. Standard treatment involves debulking surgery, which is categorized into primary debulking surgery (PDS) and interval debulking surgery (IDS). This study aims to compare the survival outcomes of ovarian cancer patients treated with PDS versus IDS at Dr. Hasan Sadikin General Hospital (RSHS) during 2021.Methods: A retrospective review of medical records was performed for ovarian cancer patients who underwent surgery at RSHS in 2021. Patients were classified according to the type of surgical management (PDS or IDS), and survival data were analyzed accordingly.Result: A total of 46 patients were included, with 38 undergoing PDS and 8 undergoing IDS. The mean overall survival was 34.1 months for the PDS group and 27.5 months for the IDS group. Bivariate analysis showed no significant difference in survival between the two groups (HR: 1.810, p = 0.341; 95% CI: 0.53–6.13). However, age (HR: 0.950, p = 0.014; 95% CI: 0.91–0.99) and progression-free survival duration (HR: 0.788, p = 0.0001; 95% CI: 0.71–0.86) were identified as significant prognostic factors for overall survival.Conclusion: The mean overall survival for patients undergoing primary debulking surgery (PDS) was higher than for those undergoing interval debulking surgery (IDS), although this difference was not statistically significant.Angka Kelangsungan Hidup Tiga Tahun Setelah Debulking Primer vs Interval pada Kanker Ovarium Stadium Lanjut: Sebuah Studi Retrospektif di RSUP Hasan Sadikin (2021)AbstrakTujuan: Kanker ovarium merupakan keganasan ketiga terbanyak pada wanita di Indonesia. Angka kelangsungan hidup 5 tahun sekira 49%, dengan 68% pasien datang pada stadium lanjut. Tatalaksana standar melibatkan operasi debulking yang diklasifikasikan menjadi operasi debulking primer (PDS) dan operasi debulking interval (IDS). Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan hasil kelangsungan hidup pasien kanker ovarium yang diobati dengan PDS versus IDS di RSUP Dr. Hasan Sadikin (RSHS) selama tahun 2021.Metode: Sebuah studi retrospektif dilakukan melalui tinjauan rekam medis pasien kanker ovarium yang menjalani tatalaksana bedah di RSHS pada tahun 2021. Pasien dikategorikan berdasarkan jenis tatalaksana bedah (PDS atau IDS), dan data kelangsungan hidup dianalisis.Hasil: Sebanyak 46 subjek diikutsertakan, dengan 38 pasien menjalani PDS dan 8 pasien menjalani IDS. Rerata kelangsungan hidup keseluruhan adalah 34,1 bulan pada kelompok PDS dan 27,5 bulan pada kelompok IDS. Analisis bivariat tidak menunjukkan perbedaan signifikan dalam kelangsungan hidup antara kedua kelompok (HR: 1,810, p = 0,341; 95% CI: 0,53–6,13). Namun, usia (HR: 0,950, p = 0,014; 95% CI: 0,91–0,99) dan durasi kelangsungan hidup bebas progresi (HR: 0,788, p = 0,0001; 95% CI: 0,71–0,86) diidentifikasi sebagai faktor prognostik yang signifikan terhadap kelangsungan hidup keseluruhan.Kesimpulan: Rata-rata kelangsungan hidup keseluruhan pasien yang menjalani operasi debulking primer (PDS) lebih tinggi daripada rata-rata kelangsungan hidup keseluruhan pasien yang menjalani operasi debulking interval (IDS), meskipun tidak signifikan secara statistik.Kata kunci: Angka kelangsungan hidup; kanker ovarium; pembedahan debulking interval; pembedahan debulking prime

    329

    full texts

    371

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    OBGYNIA - Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇