OBGYNIA - Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
Not a member yet
    371 research outputs found

    High Level of Anti-Mullerian Hormone (AMH) as Predictor FOR Polycystic Ovary Syndrome among Women Women of Reproductive Age at Giri Emas Public Hospital

    Full text link
    Introduction: Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) is the most prevalent endocrine condition in women, affecting 5 – 10% of women who are of reproductive age. Together with other Rotterdam criteria, elevated blood AMH levels are considered a significant diagnostic for PCOS and may be used as a powerful predictor to reflect the certainty of the diagnosis of PCOS in women of reproductive age. Objective: This study aims to prove high AMH as a predictor for PCOS.Methods: This study is an analytic study with a case-control study design. A total of 30 respondents were divided into PCOS and control groups. All women were subjected to anthropometric assessments such as measurement of height, weight, BMI, and trans-abdominal ultrasonography for ovaries. Data analysis was carried out using independent t-tests and Chi-Square tests.Result: The data analysis revealed that the PCOS group’s mean AMH levels were considerably different (p<0.05), with 6.5±1.75 greater than the control group’s 3.34±0.64. AMH levels were found to be twice as high in the PCOS group as in the control group. AMH levels and PCOS incidence were compared using the Chi-Square test; the odd ratio is 17.875 (95% CI = 2.73 -116.8; p=0.001).Conclusion: High levels of AMH at reproductive age can 18 times predict the risk of PCOS.Kadar Antimullerian Hormon (AMH) Tinggi sebagai Prediksi Sindrom Polikistik Ovarium pada Wanita Usia Reproduksi di RSUD Giri EmasAbstrakPendahuluan: Sindrom Ovarium Polikistik (SOPK) merupakan kelainan endokrin yang menyerang kira-kira 5 - 10% wanita usia subur dan dianggap sebagai kelainan endokrin yang paling umum pada wanita. Kadar AMH serum yang meningkat saat ini dianggap sebagai penanda penting untuk SOPK dan dapat digunakan sebagai prediktor kuat untuk mencerminkan kepastian diagnosis SOPK pada wanita usia subur bersama dengan kriteria Rotterdam lainnya. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan kadar AMH yang tinggi sebagai prediktor SOPK. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan desain studi kasus kontrol. Sebanyak 30 responden akan dibagi menjadi kelompok SOPK dan kelompok kontrol. Semua wanita menjalani penilaian antropometri seperti pengukuran tinggi badan, berat badan, BMI, dan ultrasonografi trans-abdominal untuk ovarium. Analisis data dilakukan dengan uji t independen dan uji Chi-Square. Hasil: Analisis data menunjukkan rerata kadar AMH pada kelompok SOPK lebih tinggi 6,5±1,75 dibandingkan dengan kontrol 3,34±0,64 dan berbeda bermakna (p<0,05). Ditemukan kadar AMH pada kelompok SOPK dua kali lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol. Untuk mengetahui hubungan kadar AMH dengan kejadian PCOS digunakan uji Chi-Square dan odd ratio menunjukkan 17,875 (95% CI = 2,73 -116,8 ; p=0,001).Kesimpulan: Dapat disimpulkan bahwa pada penelitian ini kadar AMH yang tinggi pada usia reproduksi dapat memprediksi risiko PCOS sebesar 18 kaliKata kunci: AMH, PCOS, oligomenorea, hiperandrogen, anovulasi

    Intrauterine Fetal Demise with Antenatal Care Challenges, Socio-Demographic Factor and Cultural in Atambua, East Nusa Tenggara: A Case Report

    Full text link
    Introduction: Intrauterine fetal demise (IUFD) is fetal death at ≥20 weeks of pregnancy or ≥350 grams birth weight. In 2015, the stillbirth rate was 18.4 per 1,000 live births worldwide, with Indonesia having one of the highest infant mortality rates. Despite the recommendation for antenatal care (ANC) to be performed six times, it is typically only conducted twice in NTT, particularly in Atambua. Limited ANC, low education, and cultural practices such as betel chewing and alcohol intake affect maternal and fetal health.Case Illustration: A 32-year-old multigravida (G7P4A2) woman with IUFD at 33 weeks had only one ANC visit during her first pregnancy. She consumed alcohol three times daily and chewed betel nut four times a day. The patient complained of weakness, sore throat, and mild abdominal pain. Examination revealed an absent fetal heart rate and pale conjunctiva. Lab tests confirmed HSV-1 infection and anemia. She was treated with acyclovir and ferrous sulfate.Conclusion: The lack of ANC increases susceptibility to infections, while other challenges include socio-demographic problems and cultural concerns. Improving ANC for early detection, and education on alcohol and betel chewing are crucial to enhancing maternal and fetal health in high-risk areas.Kematian Janin Intrauterin dengan Tantangan Pelayanan Antenatal, Faktor Sosiodemografis, dan Budaya di Atambua, Nusa Tenggara Timur: Laporan KasusAbstrakPendahuluan: Kematian Janin Dalam Rahim (KJDR) adalah kematian janin pada usia kehamilan ≥20 minggu atau berat lahir ≥350 gram. Pada tahun 2015, angka mortalitas bayi lahir mati secara global adalah 18,4 per 1.000 kelahiran; dan Indonesia merupakan salah satu negara dengan angka kematian bayi tertinggi. elayanan antenatal (ANC) direkomendasikan enam kali kunjungan, namun sering terjadi dua kali di NTT, khususnya Atambua. ANC yang terbatas, pendidikan rendah, serta praktik budaya, seperti konsumsi pinang dan alkohol berdampak terhadap kesehatan ibu dan janin.Ilustrasi Kasus: Wanita berusia 32 tahun (G7P4A2) multigravida dengan KJDR pada usia kehamilan 33 minggu, hanya melakukan ANC satu kali selama kehamilan pertama, mengonsumsi alkohol tiga kali sehari, dan buah pinang empat kali sehari. Keluhan pasien lemas, sakit tenggorokan, disertai nyeri perut. Pemeriksaan fisik terdapat konjungtiva pucat, dan tidak ditemukan denyut jantung janin. Tes lab menunjukkan infeksi HSV-1 dan anemia. Pasien diobati dengan asiklovir dan sulfas ferosus.Kesimpulan: Kurangnya ANC mengakibatkan kerentanan terhadap risiko infeksi, sedangkan masalah sosiodemografis dan faktor budaya menjadi tantangan. Upaya meningkatkan ANC dalam deteksi dini disertai edukasi terkait konsumsi alkohol dan pinang merupakan kunci untuk meningkatkan kesehatan ibu dan janin, terutama di daerah berisiko tinggi.Kata kunci: Budaya, Kematian janin dalam rahim, Pelayanan antenatal, Sosiodemografi

    Management of Ovarian Cancer in the Second Trimester of Pregnancy: A Case Report and Literature Review

    Full text link
    Introduction: Ovarian carcinoma during pregnancy is a rare but clinically significant condition that requires swift and precise management to optimize maternal and fetal outcomes. This case report highlights the successful conservative surgical management of malignant mucinous ovarian cancer diagnosed in the second trimester. It provides insights into the feasibility and safety of surgical intervention during pregnancy, contributing valuable evidence to the existing literature on oncologic care during pregnancy.Case Illustration: A 21-year-old woman, G1P0A0, presented at 17-18 weeks of gestation with no complaints related to her pregnancy but reported abdominal enlargement over the past three months. At 6 weeks gestation, the patient was diagnosed with an ovarian cyst, later confirmed as a large cystic mass on the right ovary with papillary components through ultrasound. The IOTA simple rules indicate that the mass was suspected to be malignant. The provisional diagnosis was suspected ovarian malignancy with a differential diagnosis of multilocular ovarian cyst. The patient underwent a planned right oophorectomy at 18 weeks gestation. Histopathology revealed a mucinous malignant tumor of the right ovary that had not invaded the right fallopian tube. The pregnancy was continued, and the patient was closely monitored, with plans for further evaluation postpartum.Conclusion: This case highlights the feasibility and safety of conservative surgical management of ovarian cancer in the second trimester, demonstrating that timely intervention can optimize both maternal and fetal outcomes. The successful continuation of pregnancy after surgery reinforces the importance of individualized, multidisciplinary approaches to oncologic care during pregnancy.Penatalaksanaan Kanker Ovarium pada Kehamilan Trimester Kedua: Sebuah Laporan Kasus dan Tinjauan PustakaAbstrakPendahuluan: Karsinoma ovarium pada kehamilan merupakan kondisi yang jarang terjadi tetapi, memiliki implikasi klinis yang signifikan. Penatalaksanaannya memerlukan keputusan yang cepat dan tepat untuk mengoptimalkan hasil bagi ibu dan janin. Laporan kasus ini menyoroti keberhasilan manajemen bedah konservatif pada kanker ovarium mucinous ganas yang terdiagnosis pada trimester kedua kehamilan. Kasus ini memberikan wawasan mengenai kelayakan dan keamanan tindakan bedah selama kehamilan, serta berkontribusi terhadap literatur ilmiah terkait onkologi kehamilan.Ilustrasi Kasus: Seorang wanita berusia 21 tahun, G1P0A0, datang pada usia kehamilan 17 – 18 minggu tanpa keluhan, namun melaporkan pembesaran perut selama tiga bulan terakhir. Pada usia kehamilan 6 minggu, pasien didiagnosis dengan kista ovarium yang kemudian dikonfirmasi sebagai massa kistik besar pada ovarium kanan dengan komponen papiler melalui pemeriksaan ultrasonografi. Berdasarkan IOTA simple rules, massa tersebut dicurigai ganas. Diagnosis sementara adalah dugaan keganasan ovarium dengan diagnosis banding kista ovarium multilokular. Pasien menjalani operasi ooforektomi kanan yang terencana pada usia kehamilan 18 minggu. Hasil histopatologi menunjukkan tumor mukinosa ganas pada ovarium kanan yang tidak menyerang tuba falopi kanan. Kehamilan dilanjutkan, dan pasien dipantau secara ketat dengan rencana evaluasi lebih lanjut setelah persalinan.Kesimpulan: Kasus ini menyoroti kelayakan dan keamanan manajemen bedah konservatif pada kanker ovarium trimester kedua. Intervensi yang tepat dapat mengoptimalkan hasil bagi ibu dan janin. Keberhasilan kelanjutan kehamilan setelah tindakan bedah ini menegaskan pentingnya pendekatan multidisiplin yang disesuaikan dengan kondisi pasien dalam penatalaksanaan kanker pada kehamilan.Kata kunci: kanker ovarium, kehamilan, kanker ovarium musinosu

    Comparison Between WHO Partograph and Friedman Curve in Diagnosing Labor Dystocia

    Full text link
    Objective: This study aims to determine the importance of appropriate device selection and training in optimizing delivery outcomes and reducing the incidence of cesarean delivery.Methods: The method used in this research is a literature review using three databases: PubMed, NCBI, and Google Scholar, covering publications from 2014 to 2024. A total of 19 articles were included after screening.Results: Labor dystocia is characterized by slow progress of labor. It is the leading cause of unplanned cesarean delivery. The WHO Partograph, recognized for its flexibility and real-time monitoring capabilities, enables early detection of complications and helps reduce unnecessary interventions. Conversely, the Friedman Curve provides a more rigid temporal framework, which may lead to overdiagnosis and higher cesarean delivery rates. Conclusion: While both tools are beneficial, the WHO Partograph demonstrates greater adaptability and effectiveness in managing labor dystocia, particularly in varied clinical environments.Perbandingan Antara Partograf WHO dan Kurva Friedman dalam Diagnosis Labor DystociaAbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pentingnya pemilihan alat yang tepat dan pelatihan untuk mengoptimalkan hasil persalinan dan mengurangi kejadian persalinan sesar.Metode: Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu tinjauan literatur dengan menggunakan tiga database yaitu PubMed, NCBI, dan Google Scholar. Dengan rentang waktu pencarian selama 10 tahun terakhir yaitu tahun 2014 hingga tahun 2024. Setelah dilakukan skrining, terdapat 19 artikel yang digunakan dalam penelitian iniHasil: Persalinan macet (Labor dystocia) ditandai dengan kemajuan persalinan yang lambat. Hal ini merupakan penyebab utama persalinan sesar yang tidak direncanakan. Partograf WHO, yang dikenal dengan fleksibilitas dan pemantauan waktu yang nyata, memungkinkan deteksi dini komplikasi dan mengurangi intervensi yang tidak perlu. Sebaliknya, Kurva Friedman memberikan kerangka kerja temporal yang lebih kaku, yang dapat menyebabkan overdiagnosis dan peningkatan angka persalinan sesar. Kesimpulan: Meskipun kedua alat tersebut berharga, Partograf WHO menunjukkan kemampuan beradaptasi dan efektivitas yang lebih besar dalam mengelola distosia persalinan

    Risk of Urinary Tracy Infection Among Pregnant Women with Anemia: A Systematic Review and Meta-Analysis

    Full text link
    Objective: This study aims to provide an evidence-based answer to whether anemia during pregnancy is a risk factor for the development of UTIMethods: A literature search for the systematic review and meta-analysis was carried out by PubMed, ScienceDirect, and Scopus databases for observational studies that reported the incidence of anemia during pregnancy and urinary tract infections (UTI). Quantitative analysis of pooled odd ratio with a 95% confidence interval was performed using Review Manager 5.4 software and visualized by forest plot graphResult: Based on 9 articles included in the analysis, anemia revealed a statistically significant for UTI [Pooled OR 2.38, 95% CI: 1.24—4.56; p<0.00001] but not for asymptomatic bacteriuria (ASB) [Pooled OR 2.08, 95% CI: 0.89—4.90; p=0.09]. We accumulated both outcomes for the total bacteriuria and demonstrated statistically significant [Pooled OR 2.27, 95% CI: 1.38—3.75; p<0.0001].Discussion: Statistical significance was observed for the development of UTI 2.38 times in pregnant women with anemia compared to pregnant women without anemia.Conclusion: This research showed evidence that anemia during pregnancy was a significant risk factor for the development of UTI and bacteriuria, but not a significant risk factor for ASB.Risiko Infeksi Saluran Kemih pada Ibu Hamil dengan Anemia: Tinjauan Sistematis dan Meta-AnalisisAbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk memberikan jawaban berbasis bukti mengenai apakah anemia selama kehamilan merupakan faktor risiko untuk perkembangan ISK atau bukanMetode: Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah tinjauan sistematis dan meta-analisis yang disusun berdasarkan PRISMA guideline. Pencarian literatur dilakukan melalui basis data PubMed, ScienceDirect, dan Scopus pada penelitian observasional yang melaporkan kejadian anemia selama kehamilan dan infeksi saluran kemih (ISK). Analisis kuantitatif untuk gabungan odd ratio dengan interval kepercayaan 95% dilakukan menggunakan perangkat lunak Review Manager 5.4 dan divisualisasikan dengan grafik forest plotHasil: Berdasarkan 9 artikel yang disertakan dalam analisis menunjukkan bahwa anemia selama kehamilan memiliki hubungan yang signifikan terhadap kejadian  ISK [Pooled OR 2.38, 95% CI: 1.24—4.56; p<0.00001], tetapi tidak untuk bakteriuria asimtomatik (ASB) [Pooled OR 2,08, 95% CI: 0,89—4,90; p=0,09]. Kami menggabungkan kedua hasil untuk total bakteriuria dan menunjukkan signifikansi statistik [Pooled OR 2,27, 95% CI: 1,38—3,75; p<0,0001].Pembahasan: Anemia selama kehamilan dapat meningkatkan risiko ISK sebesar 2,38 kali lebih tinggi daripada tanpa anemia yang terjadi melalui mekanisme disregulasi sistem imun. Pemantauan kadar hemoglobin pada periode antenatal dapat menjadi upaya skrining faktor risiko terjadinya ISK.Kesimpulan: Anemia selama kehamilan merupakan faktor risiko untuk perkembangan ISK dan bakteriuria, tetapi bukan faktor risiko untuk ASB. Evaluasi faktor risiko dan penatalaksanaan anemia lebih dini menjadi upaya penting bagi klinisi dalam mencegah perkembangan terjadinya ISK selama kehamilanKata kunci: Anemia; faktor risiko; infeksi saluran kemih; kehamilan; meta-analisi

    Diagnosis and Management of Complex Genital Warts: Case Report

    Full text link
    Introduction: This case reports a pregnancy complicated by condyloma acuminata with co-infection of HIV and tuberculosis (TB). Such a combination is rarely documented and presents significant clinical and therapeutic challenges. This case aims to demonstrate the effectiveness of a simple surgical approach in managing extensive condyloma acuminata during high-risk pregnancy.Case Presentation: A 24-year-old pregnant woman was diagnosed with condyloma acuminata along with confirmed HIV and TB co-infection. Electrocauterization was performed successfully, leading to complete lesion removal and significant improvement in wound healing, with no early recurrence observed. The pregnancy was planned to be delivered by cesarean section.Conclusion: This case demonstrates that, even with multiple comorbidities and a high-risk pregnancy, simple surgical treatments like electrocauterization can be both safe and effective. Early multidisciplinary intervention is crucial for achieving the best maternal outcomes.Diagnosis dan Penatalaksanaan Kondiloma Genital dengan Komplikasi: Laporan KasusAbstrakPendahuluan: Laporan kasus ini membahas kehamilan yang disertai komplikasi berupa kondiloma akuminata dengan ko-infeksi HIV dan tuberkulosis (TB). Kombinasi tersebut jarang didokumentasikan dan menimbulkan tantangan klinis serta terapeutik yang signifikan. Kasus ini bertujuan untuk menunjukkan efektivitas pendekatan bedah sederhana dalam menangani kondiloma akuminata ekstensif pada kehamilan risiko tinggi.Presentasi Kasus: Seorang wanita hamil berusia 24 tahun didiagnosis menderita kondiloma akuminata dengan ko-infeksi HIV dan TB terkonfirmasi. Tindakan elektrokauter berhasil dilakukan dengan hasil berupa pengangkatan lesi secara menyeluruh dan perbaikan yang nyata pada penyembuhan luka, tanpa adanya kekambuhan dini yang teramati. Kehamilan direncanakan untuk dilahirkan dengan operasi sesar.Kesimpulan: Kasus ini menegaskan bahwa dalam konteks komorbiditas multipel dan kehamilan risiko tinggi, penatalaksanaan bedah sederhana seperti elektrokauter dapat aman dan efektif. Intervensi multidisiplin sejak dini sangat penting untuk mencapai luaran maternal yang optimal.Kata kunci: HIV: Kehamilan; kondiloma akuminata; tuberkulosi

    The Critical Role of CT Imaging in Detecting Acute Neurological Complications of Eclampsia: A Case Series

    Full text link
    AbstractIntroduction: An intracranial hemorrhage (ICH) is a rare condition but potentially life-threatening event, especially in pregnancy, and could happen in patients with eclampsia. At Hasan Sadikin General Hospital (RSHS), several eclampsia cases are admitted annually, some with worsening neurological conditions. Neuroimaging using CT-Scan is indicated in patients with seizures, decreased consciousness, or visual disturbances to detect intracranial pathology.  Case: We reported three cases of maternal eclampsia, two patients' chief complaint was seizures, but all of our patients were unconscious. All of our patients had a previous history of pre-eclampsia in the last pregnancy. All of our patients performed a CT scan performed in postpartum patients as a neurologic examination. All of our patients have worse outcomes. The Medical and Health Research Ethics Committee of the Faculty of Medicine, Padjajaran University with Ref no: DP.04.03/D/XIV.6.5/71/2025.Conclusion: Neuroimaging in patients with seizure-induced worsening of the condition has an important role in identifying other abnormalities, specifically intracranial hemorrhage. In this study, we conclude that patients with seizures in pregnancy should be screened with neuroimaging (computed tomography scan) to rule out central nervous system pathology, thereby improving the patient's condition and reducing maternal mortality.Keywords: CT scan, Convulsion, Eclampsia, Pregnancy Peran Kritis Pencitraan CT dalam Mendeteksi Komplikasi Neurologis Akut pada Eklampsia: Seri KasusAbstrakPendahuluan: Perdarahan intrakranial (PIK) merupakan kondisi langka namun berpotensi mengancam jiwa, terutama pada kehamilan, dan dapat terjadi pada pasien eklampsia. Neuroimaging menggunakan CT-Scan berperan dalam deteksi dini perburukan kondisi pasien dengan penurunan kesadaran.Kasus: Penelitian ini melaporkan tiga kasus eklampsia maternal, keluhan utama dua pasien adalah kejang, namun semua pasien pada penelitian ini tidak sadar. Semua pasien memiliki riwayat preeklampsia sebelumnya pada kehamilan terakhir. Semua pasien melakukan CT scan sebagai pemeriksaan neurologis. Semua pasien memiliki hasil yang lebih buruk. Komite Etik Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran dengan Ref no: DP.04.03/D/XIV.6.5/71/2025.Kesimpulan: Neuroimaging pada pasien dengan kondisi yang memburuk akibat kejang memiliki peran penting dalam mengidentifikasi kelainan lain, khususnya perdarahan intrakranial. Dalam penelitian ini, peneliti menyimpulkan bahwa pasien dengan kejang selama kehamilan harus diskrining dengan neuroimaging (pemindaian tomografi terkomputasi) untuk menyingkirkan patologi sistem saraf pusat sehingga memperbaiki kondisi pasien dan mengurangi angka kematian ibu.Kata kunci: CT scan, Eklampsia, Kehamilan, Kejan

    A Comparative Analysis of Internal Radiation vs Box System in Treatment Efficacy and Patient Survival of Advanced Stage Cervical Cancer

    Full text link
    Objectives: To evaluate the comparative effectiveness of brachytherapy and the box system in therapeutic success and patient survival in cervical cancer, along with associated prognostic factors.Methods: This retrospective analytical study used medical records from the Obstetrics & Gynecology Oncology Clinic and Radiotherapy Unit at Dr. Kariadi General Hospital in Semarang. The study included cervical cancer patients with stage IIB-IIIB disease who were treated between January 2017 and December 2022. Data analysis involved both statistical methods and survival analysis using the Kaplan-Meier approach.Results: During the 2017-2022 study period, a total of 939 patients with stage IIB-IIIB cervical cancer who completed full radiation therapy were evaluated for their 2-year survival rate. The cohort included 89 patients in the box system group and 850 in the brachytherapy/internal radiation group. Complete response was achieved in 46.1% of box system patients compared to 75.5% in the brachytherapy group (p<0.0001); partial response rates were 53.9% and 24.5%, respectively. Kaplan-Meier analysis showed a 2-year survival rate (2 YSR) of 41.6% for the box system and 64.0% for brachytherapy. The mean survival time was 15.37 months for the box system and 19.09 months for brachytherapy.Conclusion: Internal radiation therapy (brachytherapy) showed significantly better clinical outcomes compared to the box system approach. It resulted in a longer mean survival time (19.09 vs 15.37 months; p<0.001) and higher 2-year survival rates (64.0% vs 41.6%; log-rank p<0.001).Keywords: Cervical cancer, box system, brachytherapy, therapy response, survivalPerbandingan antara Radiasi Interna vs Box System dalam KeberhasilanTerapi dan Kelangsungan Hidup Pasien Kanker Servik Stadium LanjutAbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan radiasi interna dan box system dalam keberhasilan terapi dan kelangsungan hidup pasien kanker serviks serta faktor-faktor yang memengaruhi.Metode: Penelitian ini menggunakan metode analitik retrospektif dengan menggunakan rekam medis Poli Kandungan dan Onkologi dan Instalasi Radioterapi RSUP Dr. Kariadi Semarang. Subyek penelitian adalah pasien kanker servik stadium IIB-IIIB mulai periode januari 2017-Desember 2022. Analisis statistika menggunakan analisis analitik dan analisis survival menggunakan metode Kaplan Meier.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama tahun 2017– 2022 didapatkan total 939 pasien dengan diagnosis kanker servik stadium IIB-IIIB yang menjalankan terapi radiasi lengkap dan dapat dilakukan evaluasi survival rate 2 tahun. Total subjek pada kelompok box system sebanyak 89, sedangkan kelompok brakiterapi/radiasi interna sebanyak 850 subjek. Respon terapi komplet sebesar 46,1% pada kelompok box system, dan 75,5% pada kelompok radiasi interna, respon terapi parsial 53,9% pada kelompok box system dan 24,5% pada kelompok radiasi interna, dengan nilai p <0.0001. Analisis survival dengan metode Kaplan -Meier didapatkan 2-YSR 41,6% pada kelompok Box system, sedangkan 64% pada kelompok radiasi interna sedangkan mean survival time pada kelompok box system 15,37 bulan dan kelompok radiasi interna 19,09 bulan dengan nilai p <0.001Kesimpulan: Pemberian radiasi interna memberikan keberhasilan terapi klinis yang lebih tinggi dengan nilai mean survival time lebih tinggi. Pemberian radiasi interna memberikan kelangsungan hidup 2 tahun sebanyak 64%, sedangkan box system sebanyak 41,6%Kata kunci: Kanker servik, box system, brakiterapi, respon terapi, survival  

    Rising Adolescents Pregnancy Cases: An Additional Problem in Efforts to Reduce Maternal Mortality Rates

    Full text link
    In the past three months, our institution have cared for 17 cases of pregnancies involving mothers under 20 years old. The youngest case involved a 14-year-old adolescent. These adolescent pregnancies are accompanied by various pregnancy pathologies, such as preterm birth, cephalopelvic disproportion, preeclampsia and eclampsia, mental disorders, and the potential for death for both the mother and the baby. In past decades, the majority of adolescent pregnancies were due to early marriage, while currently, unmarried pregnancies are on the rise. This is noteworthy, as it may be not only in Bandung and its surrounding areas but also throughout Indonesia and even globally. The increase in adolescent pregnancies results in the potential for maternal deaths, which are expected to increase in the future if this is not prevented and controlled properly

    Insulin Treatment for Gestational Diabetes Mellitus

    Full text link
    AbstractIntroduction: Gestational diabetes is one of the most common pathologies in pregnancy that can potentially cause other complications, both to the mother and the fetus. This condition is considered a global health problem, with Asia having the highest prevalence.Methods: This article is a literature review of publications from the past five years (2019–2024) obtained from the NCBI, PubMed, and Science Direct databases. The keywords used include “gestational diabetes,” “insulin therapy,” “types of insulin,” dan “management”.Results: Insulin remains the gold standard therapy for managing GDM when lifestyle interventions over 1–2 weeks fail to achieve glycemic targets. Various types of insulin, such as human insulin, rapid-acting analogs (lispro, aspart), intermediate-acting insulin (NPH), and basal analogs (detemir, glargine), are considered safe and effective for use during pregnancyDiscussion: The main advantage of insulin is that it does not cross the placenta, thereby avoiding teratogenic risks. Some insulin analogs, such as lispro and detemir, have the advantage of reducing the risk of maternal hypoglycemia and providing more stable glycemic control.Conclusion: Insulin is the only therapy that does not cross the placenta, and most types do not affect pregnancy and fetuses or neonates.Keywords: diabetes gestational; insulin; treatment Pengobatan Insulin untuk Diabetes Mellitus GestasionalAbstrak Pendahuluan: Diabetes gestasional merupakan salah satu patologi yang paling umum terjadi pada kehamilan. Penyakit ini berpotensi menimbulkan komplikasi lain, baik pada ibu maupun janin. Kondisi ini dianggap sebagai masalah kesehatan global dan di Asia memiliki prevalensi tertinggi.Metode: Artikel ini merupakan tinjauan literatur dari publikasi dalam lima tahun terakhir (2019–2024) yang diperoleh dari basis data NCBI, PubMed, dan Science Direct. Kata kunci yang digunakan meliputi “gestational diabetes,” “insulin therapy,” “types of insulin,” dan “management”.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa insulin tetap menjadi terapi standar emas dalam penatalaksanaan GDM apabila intervensi gaya hidup selama 1 – 2 minggu tidak mampu mencapai target glikemik. Berbagai jenis insulin seperti insulin manusia, analog kerja cepat (lispro, aspart), insulin intermediet (NPH), dan analog basal (detemir, glargine) dinilai aman dan efektif digunakan selama kehamilan.Diskusi: Keuntungan utama insulin adalah tidak melewati plasenta sehingga menghindari risiko teratogenik. Beberapa jenis insulin analog seperti lispro dan detemir memiliki keunggulan berupa penurunan risiko hipoglikemia maternal dan kontrol glikemik yang lebih stabil.Kesimpulan: Insulin merupakan satu-satunya terapi yang tidak melewati plasenta dan sebagian besar jenis insulin tidak memiliki efek pada kehamilan dan janin atau neonatus.Kata kunci: diabetes gestasional; insulin; tatalaksan

    329

    full texts

    371

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    OBGYNIA - Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇