OBGYNIA - Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
Not a member yet
371 research outputs found
Sort by
Teratoma Sakrokoksigeus: Kelainan Kongenital yang dapat Dikoreksi
Latar Belakang: Teratoma sakrokoksigeus (SCT) adalah jenis tumor sel germinal yang terjadi terutama pada bayi dan anak-anak. Insidennya adalah satu dari 40.000 kelahiran hidup. Teratoma sakrokoksigeus yang terdeteksi prenatal harus menjadi perhatian dan memerlukan pemantauan ketat. Kasus: Seorang wanita 23 tahun terdeteksi memiliki janin dengan teratoma sakrokoksigeus dengan diagnosis banding meningomielokel pada usia kehamilan 34 minggu. Pasien ini tidak melakukan kunjungan antenatal yang teratur. Terminasi kehamilan dilakukan dengan seksio sesarea. Prosedur operatif dilakukan dua bulan setelah kelahiran. Kesimpulan: Teratoma sakrokoksigeus yang terdiagnosis prenatal dapat menyebabkan komplikasi yang berat pada janin, meskipun tidak terjadi pada kasus ini. Kunjungan prenatal yang teratur diperlukan untuk memantau ukuran massa. Mielomeningokel adalah salah satu diagnosis banding pada teratoma sakrokoksigeus tipe A. Proses terminasi kehamilan dapat menyebakan trauma pada jaringan tumor. Oleh karena itu, pilihan terminasi harus mempertimbangkan ukuran tumor. Kata kunci: Teratoma Sakrokoksigeus, Anomali KongenitalAbstractBackground: Sacrococcygeal teratomas (SCT) is a subset of germ cell tumours occur predominantly in infants and children. The incidence is one in 40 000 live births. Sacrococcygeal teratomas diagnosed prenatally should be a caution and need regular observation. Case: A 23 years old woman was detected having a fetus with sacrococcygeal teratoma with differential diagnosis as a myelomeningocele at 34 weeks of pregnancy. The patient didn’t do prenatal visit regularly. The pregnancy was terminated with cesarean section without any complication. Surgical procedure of the tumor was succesfully done 2 months after delivery. Conclusion: Sacrococcygeal teratoma diagnosed prenatally can cause severe complication for the fetus, although it was not occur in this case.. Regular prenatal visit is needed to observe the size of the mass. Myelomeningocele is one of the differential diagnose in type A sacrococcygeal teratoma. The process of delivery can cause trauma to the tumor. In order that, termination method should be based on the size of the tumor.Key words: Sacrococcygeal Teratoma, Congenital Anomal
Factors Related to Type of Endometrial Cancer in RSUP Dr. M. Djamil Padang
Objective: This study aims to determine the relationship of risk factors with type of endometrial cancer.Method: This study used a cross sectional design in patients with endometrial cancer. Sampling uses total sampling technique, with a total sample of fifty six people. Data were obtained from the anatomical pathology section and medical records of Dr. RSUP M. Djamil Padang from 2016 until 2018. Analysis of data using Chi-Square test and logistic regressionResult: In this study, type I endometrial cancer is 75% cases while type II is 25% cases. Age, parity, diabetes mellitus, hypertension, genetics history and exclusive breastfeeding have no association with the type of endometrial cancer. The age of menarche and BMI have a relationship with the type of endometrial cancer. The dominant factor associated with the type of endometrial cancer is BMI (p = 0.042; OR = 6.547; 95% CI = 1.067-40.169), age (p = 0.037; OR = 4.854; 95% CI = 1.096-21.493), and age of menarche (p = 0.054; OR = 4.590; 95% CI = 0.974-21.635).Conclusion: On this research, BMI, age and age of menarche are the most dominant factor associated with the type of endometrial cancer. Faktor yang Berhubungan dengan Tipe Kanker Endometrium di RSUP Dr. M. Djamil PadangAbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor risiko dengan tipe kanker endometrium.Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional pada penderita kanker endometrium. Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling, dengan jumlah sampel sebanyak 56 orang. Data diperoleh dari bagian patologi anatomi dan rekam medik RSUP Dr. M. Djamil Padang periode 2016 – 2018. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dan regresi logistic.Hasil: Pada penelitian ini ditemukan 75% kasus merupakan kanker endometrium tipe 1 dan 25% kanker endometrium tipe II. Usia, paritas, diabetes mellitus, hipertensi, riwayat genetik dan pemberian asi eksklusif tidak memiliki hubungan dengan tipe kanker endometrium. Usia menarche dan IMT memiliki hubungan dengan tipe kanker endometrium. Faktor yang dominan berhubungan dengan tipe kanker endometrium adalah IMT (p = 0,042; OR = 6,547; 95% CI = 1,067-40,169), usia (p = 0,037; OR = 4,854; 95% CI = 1,096-21,493), dan usia menarche (p = 0,054; OR = 4,590; 95% CI = 0,974-21,635).Kesimpulan: Pada penelitian ini, IMT, usia dan usia menarche merupakan faktor yang paling dominan mempengaruhi tipe kanker endometriumKata kunci: Kanker Endometrium, Faktor Risiko
Preeklampsia Berat, Sindrom HELLP, dan Eklampsia Terhadap Luaran janin (Fetal outcome) di RSUD Ulin Banjarmasin
Tujuan: Mengetahui hubungan antara preeklampsia berat, sindrom HELLP, dan eklampsia terhadap luaran janin (kecil masa kehamilan, asfiksia, dan prematuritas) di RSUD Ulin BanjarmasinMetode: Menggunakan metode potong lintang berdasarkan data sekunder yang diambil dari rekam medis. Sampel yang diambil merupakan total sampel yaitu seluruh rekam medis ibu yang melahirkan dan luaran janin di kamar bersalin RSUD Ulin Banjarmasin pada bulan Januari - Desember tahun 2017. Penelitian ini mendapatkan sampel sebanyak 1.259 sampel. Analisis bivariat menggunakan uji chi-square yang dilanjutkan dengan analisis multivariat menggunakan uji regresi logistik dengan tingkat kemaknaan p<0,05 untuk analisis statistik. Hasil: Penelitian ini mendapatkan 1.259 sampel dari total sampel yang adalah seluruh ibu yang melahirkan di kamar bersalin RSUD Ulin tahun 2017. Preeklampsia berat, sindrom HELLP, dan eklampsia masing-masing terdapat 156, 32, 30 sampel sedangkan luaran janin kecil masa kehamilan, asfiksia, dan prematuritas masing-masing terdapat 225, 32, dan 30 sampel. Analisis chi-square menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara preeklampsia berat, sindrom HELLP, dan eklampsia terhadap luaran janin. Analisis multivariat dengan menggunakan uji regresi logistik mendapatkan kecil masa kehamilan sebagai luaran janin yang paling berhubungan dengan preeklampsia berat dan sindrom HELLP.Kesimpulan: Preeklampsia berat, sindrom HELLP, dan eklampsia mempunyai hubungan terhadap luaran janin. Preeklampsia berat dan sindorm HELLP paling berhubungan terhadap hasil luaran janin kecil masa kehamilan. Severe Preeclampsia, HELLP Syndrome, and Eclampsia against Fetal Outcome at Banjarmasin Ulin HospitalAbstractObjective: To study the correlation between severe preeclampsia, HELLP syndrome, and eclampsia on fetal outcome (small gestational age, asphyxia, and prematurity) at Ulin Banjarmasin General Hospital. Method: This study used cross-sectional method using secondary data obtained from medical record. The sampling method used was total sampling which involved all medical records of mothers giving birth and fetal outcomes in Ulin General Hospital delivery room in January – December 2017. This study obtained a total of 1259 samples. The data undergone bivariate analysis using chi-square test proceeded by multivariate analysis using logistic regression with significance value p <0,05 for statistical analysis.Result: This study obtained 1,259 samples from the total samples of mothers giving birth in Ulin General Hospital delivery room in 2017. Severe preeclampsia, HELLP and eclampsia each have 156, 32, 30 samples while the fetal outcome was small gestational age, asphyxia, and prematurity each have 225, 32, and 30 samples. Chi-square analysis showed a significant relationship between severe preeclampsia, HELLP syndrome, and eclampsia on fetal outcomes. Multivariate analysis using logistic regression showed small gestational age as the fetal outcome that has the most significant correlation with severe preeclampsia and HEELP syndrome.Conclusion: Severe preeclampsia, HELLP syndrome, and eclampsia have a correlation with fetal outcome. Severe preeclampsia and HELLP syndrome are most correlation fetal outcome of a small gestational age.Key words: Severe Preeclampsia, HELLP Syndrome, Eclampsia, Fetal Outcome, Ulin General Hospita
Evaluasi Program Deteksi Dini Kanker Serviks dengan Metode See and Treat di Kabupaten Karawang
AbstrakTujuan: Kanker serviks merupakan jenis kanker terbanyak nomor dua di kalangan perempuan di Indonesia setelah kanker payudara. Kanker serviks dikenal dengan “silent killer” karena perkembangannya yang sulit dideteksi. Metode see and treat dengan pemeriksaan Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) dan tindakan segera jika ditemukan IVA positif menggunakan krioterapi merupakan upaya untuk menurunkan angka kejadian dan mortalitas yang disebabkan kanker serviks. Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan evaluasi pelaksanaan program deteksi dini kanker serviks di Kabupaten Karawang dari dimulainya pelaksanaan program pilot project dari tahun 2007 hingga sekarang. Metode: Desain penelitian menggunakan metode mixed method. Rancangan penelitian kuantitatif dengan metode potong lintang dan rancangan penelitian kualitatif dengan melakukan wawancara dengan panduan open-ended question.Hasil: Dari hasil penelitian variabel yang paling berpengaruh terhadap komponen input adalah sumber daya manusia dan dukungan pemerintah berupa pendanaan, pada komponen proses adalah variabel pelaksanaan dan monitoring evaluasi, sedangkan pada variabel output sasaran target program masih jauh dari yang diharapkan. Kesimpulan: Dapat disimpulkan bahwa program deteksi dini kanker serviks dengan metode see and treat di Kabupaten karawang masih kurang optimal. Dibutuhkan sumber daya manusia yang baik secara kualitas dan kuantitas, ketersediaan sarana dan prasarana, dukungan pemerintah yang optimal, dan sosialisasi masyarakat untuk menunjang keberhasilan program.Evaluation of Early Detection of Cervical Cancer with See and Treat Method in Karawang RegencyAbstractObjective: Cervical cancer is the second most common cancer among women in Indonesia after breast cancer. Cervical cancer is known as the “silent killer” because its development is difficult to detect. The see and treat method with IVA examination and immediate action if a positive IVA was found using cryotherapy is an attempt to reduce the incidence and mortality caused by cervical cancer. The purpose of this research is to explore the implementation of early detection program of cervical cancer in Kabupaten Karawang from the beginning of pilot project implementation from year 2007 until now.Method: The research design used mixed method. The design of quantitative research with cross sectional method and qualitative research design by conducting an interview with open-ended question guide. Result: From the results of research, the most influential variables on the input components are human resources and government support in the form of funding, the component of the process is the implementation and evaluation variables evaluation, while the target output variable target program is still far from expected. Conclusion: It can be concluded that early detection program of cervical cancer with see and treat method in Karawang district is not optimal. Good human resources needed in quality and quantity, availability of facilities and infrastructure, optimal government support, and socialization of the community to support the success of the program.Key words: Cervical cancer, program evaluation, see and trea
Kasus yang Langka: Sebuah Persalinan Normal dari Wanita Hamil Prematur dengan Janin Sacrococcygeal Teratoma
Latar belakang: Insiden kehamilan dengan janin Sacrococcygeal Teratoma (SCT) yaitu1 dari 35.000 kelahiran hidup. SCT dideteksi dengan skrining ultrasonografi (USG) prenatal trimester kedua.Tujuan; Mendemonstrasikan peran USG janin dalam diagnosis SCT.Laporan kasus: Wanita 20 tahun G2P1A0 kehamilan 28 minggu keluhan kontraksi, pecah selaput ketuban. Teraba janin tunggal, fundus teraba massa padat. Pemeriksaan genital pembukaan serviks 7 cm, USG intrauterin tunggal perkiraan usia kehamilan 28 minggu, tampak massa echogenic campuran dari daerah sacrococcygeal, terdapat daerah padat kistik di dalam massa ukuran 11,4 x 12,3 cm. Kemungkinan invasi ke panggul janin disimpulkan SCT tipe II. Persalinan pervaginam, berat janin 1600 gram , apgar score 2-3-4, dengan massa padat kistik pada sacrum ukuran 13x13cm. Tampak perdarahan dari massa teratoma.Hasil: SCT adalah neoplasma lesi kistik jinak. Komplikasi berupa perdarahan intramural masif dan distosia. Klasifikasi Altman: massa terdapat di eksterior atau intrapelvik, tipe I(47%): terletak di luar janin. tipe II(35%): massa terdapat di eksternal memiliki ekstensi intrapelvic. tipe III(8%): eksternal terletak di dalam panggul dan perut. tipe IV(10%): presakral tanpa presentasi eksternal. Pada USG, SCT muncul sebagai massa echogenisitas campuran yang memanjang dari sacrum. USG pada SCT padat (20%), kistik(30%) dan campuran(50%). Kesimpulan: Ultrasonografi mempengaruhi keputusan dan manajemen klinis sehingga prognosis baik.Kata kunci: Sacrococcygeal Teratoma, Kehamilan PrematurAbstractBackground: The incidence of pregnancy with fetal Sacrococcygeal Teratoma (SCT) occurs in 1 out of every 35.000 live births. SCT detected by second trimester prenatal ultrasonography (USG) screening.Objective: Demonstrating the role of fetal ultrasound in the diagnosis of SCT.Case report: a 20 year old G2P1A0 with 28 weeks pregnancy came with contractions and membranes ruptured. Examination found were single fetus, fundus palpable a mass. The cervical dilatation 7 cm, intrauterine ultrasound a 28 weeks of age fetus, appears an echogenic mass in the sacrococcygeal region containing a dense area 11.4x12.3 cm. We concluded an invasive to the fetal pelvis was type II SCT. Vaginal delivery performed, baby weight 1600 grams, apgar score 2-3-4, solid mass in sacrum 13x13cm. Bleeding from teratoma mass emerged.Result: SCT is a rare tumour. Complications consist of massive bleeding and dystocia. SCT classified according to Altman. Type I(47%): located outside fetus, type II(35%): mass available on external with intrapelvic extension, type III(8%): externally located inside pelvis and abdomen, type IV(10%): presacral without external presentation. On ultrasound, SCT appears as a mixed echogenicity mass extending sacrum. Ultrasound: solid SCT(20%), cystic(30%) and mixed(50%).Conclusion: Ultrasonography affects decisions and clinical management that make a good prognosis.Key words: Sacrococcygeal Teratoma, Premature Pregnanc
Manajemen Ekspektatif pada Kehamilan Preterm Gemeli Satu Hidup Satu Meninggal
Latar Belakang: Sindrom transfusi janin kembar/twin to twin transfusion syndrome (TTTS) merupakan komplikasi dari kehamilan multipel monokorion (15%–20 %) dengan risiko morbiditas dan mortalitas tinggi.Tujuan: Melaporkan kasus TTTS.Rancangan dan Metode: Merupakan laporan kasus seorang wanita berusia 30 tahun yang dirawat di bangsal obstetri dan ginekologi RSUP Dr. M. Djamil Padang periode 9–13 November 2018 dengan diagnosis awal G2P1A0H1 gravid preterm 27–28 minggu dengan TTTS.Hasil: Diagnosis TTTS ditegakkan berdasarkan temuan ultrasonografi; kehamilan monochorionic diamniotic (MCDA) dan polihidramnion pada salah satu kantung (single deepest pocket: 22,64 cm). Dilakukan amnioreduksi dua kali atas indikasi subyektif (sesak); pasien dipulangkan 1 hari kemudian. Pada kontrol pertama (7 hari setelah pasien dipulangkan), salah satu janin diketahui mengalami intrauterine fetal death (IUFD). Kehamilan dipertahankan hingga aterm dengan pemantauan kadar fibrinogen pasien. Kehamilan diterminasi pada usia kehamilan 37 - 38 minggu secara section caesarea transperitoneal (SCTP) atas indikasi letak lintang. Bayi pertama berjenis kelamin perempuan, berat 1.800 gram, panjang badan 41 cm, appearance, pulse, grimace, activity, respiration (APGAR) score 7/8. Bayi kedua berjenis kelamin perempuan, berat 500 gram, panjang badan 35 cm, derajat maserasi grade III. Penyebab intrauterine growth restriction (IUGR) dan IUFD pada kasus ini diduga karena TTTS.Simpulan: Diperlukan pemantauan kadar fibrinogen hingga kehamilan aterm pada TTTS. Bayi yang lahir hidup memerlukan pemeriksaan lanjutan untuk memantau komplikasi TTTS.Kata kunci: monochorionic diamniotic, sindrom tranfusi janin kembar, ultrasonografiAbstractBackground: Twin to twin transfusion syndrome (TTTS) syndrome is a complication of multiple monocorionic pregnancies (15% - 20%) with a high risk of morbidity and mortality. Objectives: To report a case of TTTS.Design and Methods: A case report of a woman, 30 years old, was diagnosed as G2P1A0L1 preterm pregnancy 27 - 28 weeks with TTTS. Patient was treated in obstetrics and gynecology ward of Central Public Hospital Dr. M. Djamil Padang since November 9th 2018 until December 13rd 2018. Results: Twin to twin transfusion syndrome was diagnosed by ultrasound findings; the presence of a monochorionic diamniotic (MCDA) pregnancy and the presence of polyhydramnios in the other sac (single deepest pocket: 22.64 cm). Amnioreduction was performed twice for patient’s subjective indication (dyspnea); Patient was discharged one day after second amnioreduction. At first control (7 days after discharged), one of fetal twins was known to intrauterine fetal death (IUFD). Pregnancy was maintained till term by monitoring fibrinogen level. The patient was terminated in pregnancy 37 - 38 weeks by section caesarea transperitoneal (SCTP) for indications of transverse lie position. First baby is female, weight 1.800 gr, length: 41 cm, appearance, pulse, grimace, activity, respiration (APGAR) score 7/8. Second baby is female, weight 500 gr, length 35 cm, maceration level grade III. Twin to twin transfusion syndrome was suspected as cause of intrauterine growth restriction (IUGR) and IUFD in this case.Conclusion: Monitoring of fibrinogen levels is required until aterm pregnancy in TTTS. Live born baby needs a follow up examination to monitor complications of TTTS.Key words: monochorionic diamniotic, twin to twin transfusion syndrome, ultrasonograph
Characteristics of Postpartum Hemorrhage Patients in RSUD Raja Tombolotutu Kabupaten Parigi Moutong Sulawesi Tengah
AbstractObjective: This study aimed to identify the characteristics of postpartum hemorrhage patients in Raja Tombolotutu General Hospital, Parigi Moutong Sulawesi Tengah Indonesia.Method: A retrospective-descriptive study was conducted using a cross-sectional method and secondary data with total sampling technique from medical record of obstetric patients with postpartum hemorrhage in Raja Tombolotutu General Hospital, from May 2017 to April 2018.Result: From 72 cases of postpartum hemorrhage, patients’ characteristics were age 20−35 years old (56.95%), multipara (45.84%), gestational age 37−42 weeks (69.45%), underwent vaginal delivery (93.05%), junior high school graduated (41.67%), housewife (59.72%), delivered in Primary Health Care (59.72%) and covered by Universal Health Coverage (58.33%). About 54.17% patients of postpartum hemorrhage have done 1−4 times for antenatal care visits. Majority etiology of the postpartum hemorrhage was retained placenta (61.11%). Conclusion: The major characteristics of postpartum hemorrhage patients are 20−35 years old, multipara, at term pregnancy, underwent vaginal delivery, junior high school graduated, and housewife. Most of them delivered in Primary Health Care and covered by Universal Health Coverage. Retained placenta is the main cause of postpartum hemorrhage. More than half of postpartum hemorrhage patients have done 1−4 times antenatal care visits. Karakteristik Pasien Perdarahan Postpartum di RSUD Raja Tombolotutu Kabupaten Parigi Moutong Sulawesi Tengah, IndonesiaAbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan karakteristik pasien perdarahan postpartum di RSUD Raja Tombolotutu, Kabupaten Parigi Moutong Sulawesi Tengah Indonesia.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif yang menggunakan metode potong lintang dan data sekunder dengan teknik total sampling dari rekam medis pasien dengan diagnosis perdarahan postpartum di RSUD Raja Tombolotutu, mulai Mei 2017 sampai April 2018.Hasil: Dari 72 kasus perdarahan postpartum, karakteristik pasien antara lain: usia 20-35 tahun (56,95%), multipara (45,84%), usia kehamilan 37-42 minggu (69,45%), persalinan pervaginam (93,05%), lulusan sekolah menengah pertama (41,67%), ibu rumah tangga (59,72%), bersalin di puskesmas (59,72%) dan pembiayaan ditanggung oleh Jaminan Kesehatan Nasional (58,33%). Etiologi perdarahan postpartum terbanyak adalah retensio plasenta (61,11%). Sebanyak 54,17% pasien perdarahan postpartum pernah melakukan 1-4 kali kunjungan antenatal. Kesimpulan: Karakteristik pasien perdarahan postpartum yang tertinggi adalah pasien dengan usia 20-35 tahun, multipara, kehamilan aterm, persalinan pervaginam, lulusan sekolah menengah pertama, dan ibu rumah tangga. Sebagian besar pasien bersalin di puskesmas dan pembiayaan ditanggung oleh Jaminan Kesehatan Nasional. Retensio plasenta merupakan penyebab utama perdarahan postpartum. Sebanyak lebih dari setengah pasien perdarahan postpartum pernah melakukan 1-4 kali kunjungan antenatal.Kata kunci: perdarahan postpartum, kematian ibu, retensio plasent
Effectiveness Curcuma Longa to Prevent Cells Damage in Early Pregnant Mice with Acute Toxoplasmosis
Objective: To prove the effectiveness of Curcuma longa to prevent damage cells by analyzing FOXP3 gene expression, TNF-α level, and histopathology of placental tissue. Method: This study was conducted in 20 early pregnant mice, divided in 5 groups (K1-K5). K1-K4 were injected with tachyzoites. K1 and K2 were intervened with Curcuma longa 125 and 500 mg/kg/day. K3 were intervened with spiramycin 60 mg/kg/day, K4 were intervened with 0,2 distilled water, and K5 was not injected and intervened. IgG-IgM levels, FOXP3 mRNA expression, TNF-α level was examined serially, and placental mice were taken for histopathology examination 7 days after intervention.Result: FOXP3 mRNA expression in K1 and K2 increased significantly 7 days after intervention compared to K4 (p < 0.05), however the increased of expression in two groups has no significant difference. TNF-α level in K1 and K2 decreased significantly 7 days after intervention compared to K4 (p < 0.05), however the decrease of level in two groups has no significant difference. Hemorrhagic and necrotic cells were not found in K1 and K2, but were found in K3 (75%) and K4 (100%). Conclusion: Curcuma longa 125 mg is effective to prevent cells damage in early pregnant mice with acute toxoplasmosis. Efektivitas Ekstrak Curcuma Longa Mencegah Kerusakan Sel Pada Mencit Hamil Muda dengan Toksoplasmosis Akut.AbstrakTujuan: Membuktikan efektivitas Curcuma longa mencegah kerusakan sel dengan menganalisis ekspresi gen FOXP3, kadar TNF-α, dan histopatologi jaringan plasenta.Metode: Penelitian dilakukan pada 20 tikus hamil muda, dibagi dalam 5 kelompok (K1-K5). K1-K4 diinjeksi 10 takizoid toksoplasma intra abdominal. Tiga hari pasca injeksi takizoid, K1 dan K2 diintervensi dengan Curcuma longa 125 dan 500 mg / kg / hari. K3 diintervensi dengan spiramisin 60 mg / kg / hari, K4 diintervensi dengan 0,2 ml air suling dan K5 tidak diinjeksi dan tidak diintervensi. Kadar IgG-IgM, ekspresi mRNA FOXP3, kadar TNF-α diperiksa secara serial dan plasenta tikus diambil untuk pemeriksaan histopatologi 7 hari pasca intervensi.Hasil: Ekspresi mRNA FOXP3 pada K1 dan K2 meningkat bermakna (p< 0.05) 7 hari pasca intervensi dibandingkan dengan K4 (p <0,05), tetapi peningkatan ekspresi pada kedua kelompok tidak terdapat perbedaan bermakna. Kadar TNF-α pada K1 dan K2 menurun bermakna 7 hari pasca intervensi dibandingkan dengan K4 (p <0,05), tetapi penurunan kadar pada dua kelompok tidak terdapat perbedaan bermakna. Hemoragik dan nekrotik sel tidak ditemukan pada K1 dan K2, tetapi ditemukan pada K3 (75%) dan K4 (100%).Kesimpulan: Curcuma longa 125 mg efektif untuk mencegah kerusakan sel pada tikus hamil muda dengan toksoplasmosis akut.Key words: Curcuma longa, kerusakan sel, hamil muda, gene FOXP3, TNF-α, toxoplasmosi
Efektivitas Pil Oral Kombinasi Dosis Rendah dalam Pengelolaan Perdarahan Uterus Abnormal pada akseptor DMPA
Tujuan: Untuk mengeksplorasi Efektivitas Pil Oral Kombinasi (POK) dalam Pengobatan Perdarahan Uterus Abnormal pada akseptor DMPA.Metode: Kami melakukan percobaan untuk menyelidiki efek pil oral kombinasi dosis rendah dalam pengelolaan PUA pada akseptor DMPA. Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Dr. Kariadi Semarang, Indonesia. Desain penelitian yang digunakan adalah pra eksperimental. Dua puluh dua akseptor DMPA diberikan terapi POK dosis rendah sekali sehari selama 28 hari (satu siklus), kemudian subjek dievaluasi untuk durasi perdarahan selama perawatan. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pemberian POK dosis rendah dan variabel dependen adalah jumlah hari perdarahan.Hasil: Terdapat penurunan bermakna rata-rata hari perdarahan pada akseptor DMPA dengan PUA antara sebelum dan sesudah terapi POK dosis rendah dari 22,2(4,48) menjadi 9,2 (6,16) hari (p=0,0001). Persentase dari subjek penelitian yang pendarahannya berhenti dalam minggu pertama setelah pengobatan adalah sebesar 45,5 %. Hanya terdapat satu orang yang mengeluhkan efek samping berupa pusing dan mual selama pengobatanKesimpulan: Pil Oral Kombinasi Dosis rendah dapat mengurangi hari perdarahan pada akseptor DMPA Low Dose Oral Contraceptive Pills Efficacy in the Treatment of Abnormal Uterine Bleeding Secondary to DMPAAbstractObjective: To explore the effectivity of Low Dose Oral Contraceptive Pills (LDOCP) in managing AUB in DMPA users. Method: We performed the study to investigate the effect of LDOCP in managing AUB in DMPA users. This study was performed in Dr. Kariadi Hospital Semarang, Indonesia. The study design is pre experimental. Twenty two subjects received LDOCP once a day for 28 day (one menstrual cycle). Subjects then evaluated for bleeding length during treatment. Independent variable in this study is LDOCP treatment and the dependent variable is the bleeding days.Result: The mean bleeding days in DMPA users with AUB were significantly reduced after LDOCP therapy from 22,2(4,48) days to 9,2 (6,16) days (p=0,0001). The precentage of subjects in whom bleeding was stopped during the first week initial treatment was 45,5 %. The mild side effects, such as dizziness and nausea, were experienced by only one subject.Conclusion : LDOCP significantly reduced bleeding days in DMPA users with AUBKey words: OCP, PUA, DMPA, bleeding day
Phaleria Macrocarpa’s Extract Inhibits Autophagy Probably Through TNF-α in HUVEC Cell Culture
Objective: This study aimed to determine the effects of Phaleria macrocarpa’s extract on TNF-α and LC3-II level and their correlation in preeclampsia-induced HUVEC. Method: This study used HUVEC culture as an in vitro model and Phaleria macrocarpa’s extract, widely used as an anti-inflammation and antioxidant.Result: Phaleria macrocarpa’s extract reduce TNF-α level siginificantly at concentration of 7.813μg/mL and at 62.5μg/mL reduce TNF-α level to normal level. There was no significant decrease and reduction to normal level in LC3-II. TNF-α has a strong positive correlation with LC3-II (r=0.958), that reduced TNF-α level will decrease LC3-II levels, where a decrease in TNF-α level of 1pg/mL will reduce LC3-II levels by 0.413pg/mL.Conclusion: Thus, Phaleria macrocarpa’s extract might be used to overcome endothelial dysfunction and autophagy in preeclampsia.Ekstrak Phaleria macrocarpa Menghambat Otofagi Melalui TNF-α Pada Kultur Sel HUVECAbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek ekstrak Phaleria macrocarpa pada inflamasi dan otofagi pada sel endotel dengan mengukur kadar TNF-α dan LC3-II pada HUVEC yang diinduksi serum preeklampsia.Metode: Penelitian ini menggunakan kultur HUVEC sebagai model in-vitro yang banyak digunakan untuk memelajari patogenesis preeklampsia. Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl juga dikenal sebagai Mahkota Dewa secara luas digunakan sebagai anti-inflamasi dan antioksidan Hasil: Hasil menunjukkan ekstrak Phaleria macrocarpa menurunkan kadar TNF-α secara signifikan pada konsentrasi 7.813 μg/mL dan konsentrasi 62.5 μg/mL menurunkan kadar TNF-α ke kadar normal. Tidak terdapat penurunan signifikan rerata kadar LC3-II antara kontrol dan model PE dan dibutuhkan ekstrak Phaleria macrocarpa pada konsentrasi lebih dari 250 μg/mL untuk menurunkan kadar LC3-II pada model preeklamsia ke kadar hamil normal. Kadar TNF-α memiliki korelasi positif yang bermakna dengan LC3-II dengan tingkat korelasi sangat kuat (r = 0.847), dimana penurunan kadar TNF-α sebesar 1 pg/mL akan menurunkan kadar LC3-II sebesar 0.413 pg/mL.Kesimpulan: Dengan demikian, ekstrak Phaleria macrocarpa dapat digunakan untuk mengatasi disfungsi endotel dan otofagi pada preeklampsia.Kata kunci: Phaleria Macrocarpa, Preeklampsia, HUVEC, TNF-α, LC3-I