OBGYNIA - Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
Not a member yet
371 research outputs found
Sort by
Perbandingan Kadar 25-(OH)-Vitamin D3 pada Serum Kelompok Mioma Uteri dan Non-Mioma Uteri
AbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan perbedaan kadar 25-hidroksi-vitamin D3 pada serum kelompok mioma uteri dan non-mioma uteri. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan rancangan komparatif cross sectional. Subjek penelitian adalah wanita usia reproduksi yang menjalani prosedur laparatomi/laparaskopi yang memenuhi kriteria inklusi penelitian (n=42). Subjek penelitian dibagi menjadi dua kelompok, yakni kelompok mioma uteri (n=21) dan non-mioma uteri (n=21). Pada kedua kelompok dilakukan pemeriksaan kadar serum 25-hidroksi-vitamin D3 kemudian diperiksa dengan metode Electro-chemiluminescence Immunoassay (ECLIA). Penelitian ini dilakukan di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Juni−Agustus 2017. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan kadar 25-hidroksi-vitamin D3 rata-rata pada kelompok mioma uteri adalah 6,70 (3,29) ng/ml, sementara pada kelompok non-mioma uteri 10,34 (2,79) ng/ml. Perbedaan kadar rata-rata 25-hidroksi-vitamin D3 pada kedua kelompok tersebut bermakna dengan nilai p<0,001. Namun, tidak didapatkan korelasi antara kadar 25-hidroksi-vitamin D3 dengan berat massa mioma uteri. Kesimpulan : Kadar 25-hidroksi-vitamin D3 pada kelompok mioma uteri lebih rendah dibandingkan dengan kelompok non-mioma uteri. Comparison Serum Level OF 25-Hydroxy-Vitamin D3 in Uterine Fibroid Group and Non-Uterine Fibroid GroupAbstract Objective: The aim of this study was to determine if there is any significant difference between serum levels of 25-hydroxy-vitamin D3 of uterine fibroid group and non-uterine fibroid group. Method: This was an observational analytic study with comparative cross-sectional method. Subjects were women in reproductive age who underwent laparotomy / laparoscopy procedures who met the study criteria (n=42). The subjects were divided into two groups, uterine fibroid group (n=21) and non-uterine fibroid (n=21). Measurement of serum 25-hydroxy-vitamin D3 was performed using Electro-chemiluminescence Immunoassay (ECLIA) method. The study was conducted at Dr. Hasan Sadikin hospital in June−August 2017. Result: The results showed the mean level 25-hydroxy-vitamin D3 on uterine fibroid group was 6.70 (3.29) ng / ml and non-uterine fibroid group 10.34 (2.79) ng/ml. There was significant difference between serum level of 25-hydroxy-vitamin D3 in uterine fibroid group and non-uterine fibroid with p value <0.001. But, there was no correlation between serum level of 25-hydroxy-vitamin D3 content and the weight of uterine fibroid mass. Conclusions: Serum level of 25-hydroxy-vitamin D3 is lower in uterine fibroid group than non-uterine fibroid group.Key words: Uterine fibroid, vitamin D, 25-hydroxy-vitamin D
Perspektif Ginekologi Fistula Fesikovaginal
Etiologi fistula vesiko vaginal (FVV) telah berubah, menjadi lebih terkait dengan histerektomi. Meskipun banyak publikasi tentang hal ini, namun pengelolaan FVV tetap menjadi sumber perdebatan. Pilihan pengelolaan masih menjadi masalah mendasar seperti pendekatan bedah yang lebih disukai dan waktu operasi yang optimal masih sangat bervariasi.Di negara-negara berkembang, penyebab utama FVV adalah obstruksi akibat partus lama (97%).1 Sebaliknya, di negara-negara industri cedera iatrogenik pada saluran kemih adalah penyebab paling umum dari FVV dan mayoritas konsekuensi dari pembedahan ginekologis.Diperkirakan bahwa 0,8 per 1.000 dari semua histerektomi dipersulit oleh adanya risiko FVV.2 Penyebab lain FVV adalah neoplasma ganas dan iradiasi pelvis. Berbeda dengan fistula obstetrik dan iradiasi, yang khas pada fistula pascaoperasi (pasca histerektomi) adalah hasil dari trauma yang muncul lebih cepat terlihat dan terlokalisasi pada jaringan sehat
Pengaruh Kinesio Taping terhadap Intensitas Low Back Pain pada Kehamilan Trimester Tiga
AbstrakTujuan: Penelitian ini adalah untuk menganalisis karakteristik pasien Low Back Pain (LBP), menganalisis perbedaan penurunan intensitas LBP dan keterbatasan aktivitas pada kelompok yang diberikan kinesio taping dan parasetamol dengan kelompok yang diberikan parasetamol Metode : Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain eksperimental dengan melakukan uji klinis metode Pretest-Posttest Control Group Design yang dilakukan dengan menilai sebelum dan setelah perlakukan pada kelompok kontrol dan intervensi. Hasil : Penelitian didapatkan perbedaan penurunan intensitas nyeri Numeric Rating Scale (NRS) yang bermakna pada kelompok kontrol dan intervensi sebesar 33,3% dan 60% dengan nilai p<0,001 dan perbedaan penurunan keterbatasan aktivitas Rolland Morris Disability Questionaire (RMDQ) yang bermakna pada kelompok kontrol dan intervensi sebesar 25,0% dan 55,6% dengan nilai p<0,001. Kesimpulan : Terdapat perbedaan penurunan intensitas LBP dan keterbatasan aktivitas yang bermakna pada kelompok yang mendapatkan intervensi kinesio taping dibandingkan dengan kelompok kontrol yang tidak mendapatkan kinesio taping Effect Of Kinesio Taping to the Intensity of Low Back Pain in Third Trimester PregnancyAbstractObjective : This research aims to analyze the characteristics patient who suffer LBP and to analyze the differences in LBP intensity and activity limitations in the groups that given kinesio taping and paracetamol with groups that given paracetamol only.Method: This research is quantitative research by conducting clinical test of Pretest-Posttest Control Group Design method which is done by assessing before and after treatment in control and intervention group. Result : The results showed significant difference in pain intensity Numeric Rating Scale (NRS) in control and intervention group by 33.3% and 60% with p <0.001 and significant difference in activity limitation Rolland Morris Disability Questionaire (RMDQ) in control and intervention group by 25.0% and 55.6% with p value <0.001. Conclusion : This research conclusion there was a significant differences in decreasing LBP intensity activity limitations in the group receiving the kinesio taping intervention compared with the control group who did not receive kinesio taping Key words: Effect Of Kinesio Taping to the Intensity of Low Back Pain in Third Trimester Pregnanc
Ultrasonography feature and Clinical Finding of Trisomy 13 (Patau Syndrome): A Case Report
Background: Trisomy 13 is a trisomy disorder of chromosome 13 which causes many fetal structural defects. The prognosis is very poor and the majority is still birth. Major structural anomalies are occasionally identified in the late-first or early-second trimester. Any discovery of multiple structural anomalies in the fetus increases the chances of chromosomal anomalies. Case Report: Here we report trisomy 13 case of A 34-years-old housewife, third gravida, prenatal diagnosis during antenatal ultrasonography showed diaphragmatic hernias, cardiovascular dextroposition, ventricular septal defect, labiognatopalatoschizis and renal dextra pyeletaxis. From the chromosomal analysis, the fetal karyotype was 47 XY+13. A male infant was born with weight of 2600 grams, 46 cm, cyanosis, and severe respiratory distress with congenital abnormalities of micrognathia, diaphragmatic hernia, dextrocardia, ventricular septal defect, persistent pulmonary hypertension of newborn, undescended testis, labiognatopalatoshizis, and polydactily. Discussion: Prenatal diagnosis can be done through amniocentesis for karyotyping which is the gold standard for diagnosis trisomy 13. In addition, screening can also be done since the first trimester.Conclusion: All pregnancies in second trimester must be evaluated for structural abnormalities through ultrasonography and cytogenetic examination if necessary for early diagnosed.Key word: Congenital Abnormalities, Ultrasonography, Clinical Finding, Trisomy 13, Patau SyndromeAbstrakLatar Belakang: Trisomi 13 merupakan kelainan jumlah kromosom 13 yang menyebabkan defek struktural pada fetus. Prognosisnya sangat buruk dan kebanyakan lahir mati. Kelainan struktural mayor sering teridentifikasi pada akhir trimester pertama atau awal trimester kedua. Setiap temuan kelainan struktural pada fetus berpotensi kelainan kromosom.Laporan Kasus: Di sini akan dijelaskan kasus trisomi 13 yang didiagnosis prenatal dari wanita G3P1011, 34 tahun, terdiagnosis melalui pemeriksaan ultrasonografi. Antenatal scan dilakukan pada usia kehamilan 21 minggu dan gambaran ultrasonografi menunjukkan hernia diafragmatika, dextrokardia, ventricular septal defect, labiognatopalatoschizis dan pielektasis ginjal kanan. Kemudian dilanjutkan pemeriksaan kromosom melalui amniosintesis dan didapatkan hasil 47 XY+13. Bayi laki-laki lahir secara sectio secarea dengan berat 2600 gram, panjang badan 46 cm, sianosis, asfiksia berat, kelainan kongenital micrognatia, hernia diafragmatika, dextrokardia, defek septum ventrikular, hipertensi pulmonal, labiognatopalatoshizis, dan polidactili. Diskusi: Diagnosis prenatal dapat dilakukan melalui pemeriksaan amniosintesis bertujuan untuk melihat karyotyping yang merupakan gold standard untuk mendiagnosis trisomi 13. Selain itu, screening juga dapat dikerjakan sejak trimester pertama.Kesimpulan: Semua kehamilan pada trimester kedua harus dievaluasi kelainan struktural melalui ultrasonografi dan bila perlu pemeriksaan sitogenetik sehingga dapat mendiagnosis lebih awal.Kata kunci: Kelainan Kongenital, Ultrasonografi, Klinis, Trisomi 13, Patau Sindrom
Ginekologi Kosmetik dari Paradigma Uroginekologi-Rekonstruksi
Sebagai spesialis uroginekologi, kami adalah spesialis yang menangani perubahan fungsional dan anatomi dasar panggul perempan sebagai akibat proses persalinan, penuaan, dan faktor lainnya. Banyak dari pasien kami yang ditemui setiap hari, juga mengeluhkan perubahan fungsi seksual dan penampilan estetika genital. Oleh karena itu kami sebagai spesialis dasar panggul berkewajiban untuk memahami masalah ini dan mengatasinya atau merujuknya ke spesialis bedah yang berkualifikasi terbaik.Ginekologi Kosmetik telah menjadi salah satu subspesialisasi bedah uroginekologi elektif dengan pertumbuhan tercepat untuk perempuan dan termasuk spesialis kedalam bidang ginekologi, urologi, dan bedah plastik. Bidang minat khusus ini mencakup prosedur kosmetik untuk meningkatkan penampilan estetika daerah vulvo/vagina, serta perbaikan fungsional vagina dalam upaya untuk meningkatkan atau membantu memulihkan fungsi seksual setelah perubahan yang mungkin terjadi setelah melahirkan dan/atau penuaan.
Intrauterine Device Malposition Into The Bladder with Stone Formation
Introduction: Intrauterine device (IUD) is accepted and used as an effective contraception globally. Malposition of intrauterine device into the bladder with stone formation was very rare complication. In this study, we report a case in which IUD malposition had caused bladder stone formation in a female patientCase presentation: Patient was a female, 50 years old, complained of painful urination approximately 1 year before admission and was diagnosed with recurrent urinary tract infection (UTI). Patient also had history of IUD insertion for ten years. Instead of IUD insertion in her uterine, patient had history of 2 times birth delivery. Imaging examination was performed on April 2018, in Hasan Sadikin Hospital, Bandung and found IUD in pelvic area. In ultrasound imaging we found a hyperechoic with acoustic shadow that resembles an IUD. Endoscopic management was performed by cystoscopy instrument. We found a half of IUD in the bladder with encrustation and calcification in the device. We performed lithotripsy with pneumatic lithotripter to disintegrate the encrustation. An IUD extracted from the bladder cavity by cystoscopy grasper. Postoperative evaluation we found no complications and send home the patient 3 days after the procedure. Conclusion: IUD malposition can be found to bladder cavity. Recurrent UTI needs radiological investigation to provide for any abnormality in urinary tract. IUD extraction could be performed by transvesical approach if the device malposeed to the bladder. Key words: bladder stone, intrauterine device, malpositionAbstrakPendahuluan: Intrauterin device (IUD) merupakan alat kontrasepsi yang efektif dan diterima serta digunakan secara luas. Malposisi IUD ke buli dengan pembentukan batu adalah komplikasi yang sangat jarang terjadi. Pada studi berikut ini, kami melaporkan sebuah kasus malposisi IUD yang telah menyebabkan pembentukan batu buli pada pasien perempuan. Presentasi kasus: Seorang perempuan usia 50 tahun mengeluh nyeri ketika sedang berkemih sejak 1 tahun sebelum masuk rumah sakit dan didiagnosis dengan infeksi saluran kencing berulang. Pasien memiliki riwayat pemasangan IUD sejak 10 tahun lalu. Walaupun demikian, pasien memiliki riwayat 2 kali melahirkan. Pada pemeriksaan rontgen ditemukan IUD di rongga pelvis. Pada pemeriksaan ultrasonografi ditemukan gambaran hiperekhoik dengan acoustic shadow dengan bentuk menyerupai IUD. Tata laksana endoskopik dilakukan dengan alat sistoskopi. Kami menemukan sebagian IUD berada di dalam buli disertai dengan enkrustasi dan kalsifikasi pada IUD. Kami melakukan litotripsi dengan litotriptor pneumatik untuk menghancurkan enkrustasi. Intrauterine device dikeluarkan dari dalam buli dengan pinset sistoskopi. Evaluasi pascaoperasi tidak ditemukan komplikasi dan pasien pulang 3 hari setelah prosedur.Simpulan: Malposisi IUD dapat terjadi ke dalam buli. Infeksi saluran kemih berulang memerlukan pemeriksaan radiologis untuk mencari abnormalitas pada saluran kemih. Intrauterine device dapat dikeluarkan dengan pendekatan transvesika jika mengalami malposisi ke buli. Key words: batu buli, intrauterine device, malposis
Recurrent multi-drug-resistant tuberculosis with unilateral destroyed lung in pregnancy: a case report
Background: Multi-drug-resistant Tuberculosis (MDR-TB) remains a public health problem in developing countries such as Indonesia. The extensive parenchymal damage due to MDR-TB could manifest as an irreversible destroyed lung, leading to respiratory and also cardiovascular complication. Its occurrence in pregnancy is uncommon but is highly associated with higher mortality and morbidity for both maternal and fetal.Case Report: We report a case of 24 year old primigravida in National Respiratory Center Hospital, diagnosed with an unilateral destroyed lung due to MDR-TB in pregnancy at 32 weeks of gestational age. On initial presentation, she reported fatigue, nausea, night sweats, chronic dyspnoe and was found to have complete left destroyed lung. Her disease was managed during pregnancy using long-term oxygen therapy despite persistent desaturation.Conlusion: Aside from frequent monitoring, prolonged oxygen therapy might benefit the chronic hypoxia condition in gestational destroyed lung due to previous MDR-TB infection, for preventing maternal-fetal mortality and morbidities, such as respiratory failure and IUGR.AbstrakLatar Belakang: Tuberkulosis Multi-drug-resistant (TB-MDR) tetap menjadi masalah kesehatan pada negara berkembang, seperti Indonesia. Kerusakan parenkin luas yang diakibatkan oleh infeksi TB-MDR dapat bermanifestasi sebagai kerusakan paru ireversibel, dengan komplikasi respiratorik dan kardiovaskular. Kejadian kerusakan paru akibat TB-MDR dalam kehamilan jarang terjadi, namun berdampak pada peningkatan mortalitas dan morbiditas pada janin dan ibu. Laporan Kasus: Studi ini melaporkan kasus perempuan primigravida 24 tahun didiagnosa dengan kerusakan paru unilateral akibat infeksi TB-MDR pada kehamilan 32 minggu di RS Pusat Paru Nasional. Pada pemeriksaan awal, didapatkan pasien mengeluhkan kelelahan kronik, nausea, keringat malam, sesak kronik dan didapatkan memiliki kerusakan paru kiri komplit. Keadaan pasien dalam kehamilan ditatalaksana dengan terapi oksigen jangka panjang untuk mengatasi desaturasi persisten Kesimpulan: Di samping pengawasan ketat, terapi oksigen jangka panjang dapat menjadi tatalaksana utama untuk kondisi hipoksia kronik pada kerusakan paru dalam kehamilan akibat infeksi lama TB-MDR untuk mencegah morbiditas dan mortalitas ibu dan janin, seperti gagal napas dan pertumbuhan janin terhambat (PJT)
Prevalensi Kejadian Infeksi Virus HbsAg pada Bayi Baru Lahir dari Ibu dengan HbsAg Positif
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui angka kejadian penularan infeksi virus HbsAg pada bayi baru lahir dari ibu dengan HbsAg Positif.Metode: Penelitian ini merupakan studi deskriptif. Data diambil dari rekam medik pasien dari ibu yang melakukan persalinan dengan pemeriksaan HbsAg positif. Data yang diambil adalah identitas pasien, sosioekonomi keluarga dan hasil laboratorium yang melakukan persalinan baik secara pervaginam maupun perabdominam di RSUP Dr. M. Djamil Padang, selama periode Januari 2017-Desember 2018. Data yang dicatat: anamnesa riwayat antenatal, riwayat penyakit sebelumnya, dan hasil pemeriksaan HbsAg baik pada ibu maupun pada bayi yang baru lahir dari ibu yang mempunyai HbsAg positif. Hasil: Terdapat 1068 ibu hamil yang melakukan persalinan. Didapatkan 42 ibu yang melahirkan dengan hasil positif HbsAg, terdapat 4 ibu dengan positif HbsAg melahirkan secara pervaginam dan 38 ibu dengan positif HbsAg melahirkan dengan seksio sesaria. Kejadian infeksi Hepatitis B pada bayi baru lahir dari ibu positif HbsAg di RSUP Dr. M Djamil Padang Yaitu 0% (0/42) dengan riwayat pemberian vaksin HB0 <12 jam dan pemberian Immunoglobulin Hepatitis B mencapai sebesar 100%.Kesimpulan: Tidak ada penularan secara vertikal dengan 100% riwayat pemberian vaksin HB0 dan pemberian immunoglobulin Hepatitis BPrevalence of HbsAg Virus Infection in Newborns Infants from Mothers with HBsAg Positive AbstractObective: This study aims to determine the incidence of transmission of HBsAg virus infection in newborns infant from mothers with HbsAg positive.Method: Statistic analysis is a descriptive study. The data was taken from the medical record of patients from mothers who gave birth with positive HBsAg examination. The data is the patient’s identity, family’s socioeconomics and laboratory results from mother that had delivery both vaginally and caesarean section in RSUP dr. M. Djamil Padang, during the period of January 2017-December 2018. Data recorded: history of antenatal history, previous history of disease, and results of HBsAg examination both in the mother and in newborns of mothers who have HBsAg positive.Result: There were 1068 pregnant women who gave birth. There were 42 mothers who gave birth with positive HBsAg results, there were 4 mothers with HBsAg positive who giving birth by vaginal delivery and 38 mothers with positive HBsAg giving birth with cesarean section. The incidence of Hepatitis B infection in newborns from mothers who have positive for HbsAg examination in RSUP Dr. M Djamil Padang is 0% (0/42) with a history of HB0 <12 hours vaccine administration and Hepatitis B immunoglobulin reaches 100%.Conclusion: There is no vertical transmission with 100% history of HB0 vaccine administration and Hepatitis B immunoglobulin administrationKey words: Hepatitis B, HBsAg, Pregnant Wome
Perbedaan antara Jenis dan Derajat Kelainan Jantung serta Jenis Persalinan terhadap Outcome Ibu dan Bayi pada Kehamilan dengan Penyakit Jantung
AbstrakTujuan: Penelitian ini dilakukan upaya untuk menilai karakteristik dan outcome kehamilan dengan kelainan jantung baik pada ibu dan bayi di RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung dari tahun 2015 sampai 2017.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik (cross-sectional). Subjek penelitian adalah semua ibu hamil dengan kelainan jantung yang menjalani persalinan di RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung dari tahun 2015 − 2017 dengan menggunakan data sekunder. Hasil: Selama periode penelitian sebanyak 76 sampel penelitian yang diperoleh. Pada penelitian ini usia rata-rata ibu adalah 30 tahun, paling banyak pada paritas 1 dan 3 yaitu sebesar 31,6%. Usia kehamilan saat terjadi persalinan > 37 minggu sebanyak 53,9%. Lama perawatan pasien rata-rata 7 sampai 8 hari dengan ruang rawat yang paling banyak adalah ICU sebanyak 32,9%, dan ruang rawat biasa sebesar 39.5%. Jenis kelainan jantung yang paling sering adalah kardiomiopati peripartum dan hipertensi, yaitu sebesar 42,1%. Jenis persalinan yang banyak dilakukan adalah seksio sesarea yaitu sebesar 64,5%. Penelitian ini memperoleh bahwa ibu dengan kelainan jantung yang hidup sebesar 88,2% dan meninggal sebesar 11,8% setelah menjalani persalinan.Kesimpulan: Ada perbedaan antara derajat kelainan jantung berdasarkan NYHA (New York Heart Association) dengan outcome ibu dan bayi pada kehamilan dengan kelainan jantung.Differences between Types and Degrees of Heart Disorders and Types of Labor in the Outcome of Mothers and Babies in Pregnancy with Heart DiseaseAbstractObjective: through this research conducted efforts to assess the characteristics and outcome of pregnancy with cardiac disease both in mother and infant in dr dr. Hasan Sadikin Bandung from year 2015 to 2017.Method: an observational analytic (cross-sectional) research with subjects were all pregnant women with cardiac abnormalities who underwent delivery at dr. Hasan Sadikin Bandung from 2015 to 2017 using secondary data.Results:During the research period as many as 76 samples obtained. In this study the average age of the mother is 30 years, most at parity 1 and 3 that is equal to 31.6%, age of pregnancy during labor> 37 weeks by 53.9%. The average length of patient care was 7 to 8 days with the most hospital room was ICU of 32.9% and the regular room was 39.5%. The most common types of heart disorders are peripartum cardiomyopathy and hypertensive heart disease, which is 42.1%. Type of delivery mostly by cesarean section that is equal to 64.5%. The study found that mothers with heart abnormalities were 88.2% alive and died of 11.8% after going through labor.Conclusion: There is a difference between the degree of cardiac abnormalities based on NYHA (New York Heart Association) classification with maternal and infant outcomes in pregnancy with cardiac abnormalities.Key words: Type and Degree of Heart Abnormality, Type of Birth, Outcome of Mother and Infan
Postpartum Anxiety Factors Involved in Subjects Undergoing Cesarean Section as Analyzed by Zung Self Rating Anxiety Scale
AbstractObjective: postpartum mother who underwent cesarean section may experience anxiety. The risk factors associated with anxiety include age, education and income level, parity, social and cultural factors, delivery methods, as well as the history of pregnancy.Method: This study used analytic, cross-sectional method. Postpartum mother (n=194) were recruited for this study. All participants consented to fill a questionnaire, to determine the subject’s parameters and anxiety levels. Severity of postpartum anxiety was determined based on the Zung Self-rating Anxiety Scale (SAS). Result: Postpartum anxiety (SAS ≥45) were mostly found in the group experiencing emergency cesarean section (71.13%) compared to the group with scheduled cesarean section (32.1%) (p SLTA (73,4% vs 12,9%, p <0,001). Tingkat pendapatan yang berbeda (lebih rendah dari UMR, sama atau lebih tinggi dari UMR) memiliki prevalensi pasca melahirkan sebesar 47,2% dan 46,3%, namun tidak signifikanberbeda secara statistik. Simpulan: Terdapat perbedaan tingkat kecemasan pasca seksio sesarea pada kelompok seksio sesarea segera dibandingkan terencana dengan usia dan tingkat pendidikan.Kata kunci: Seksio sesarea, usia, tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, paritas, Zung Self-rating Anxiety Scal