OBGYNIA - Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
Not a member yet
371 research outputs found
Sort by
Prenatal Diagnosis dan Penatalaksanaan Gastroskisis
Gastroskisis merupakan defek kongenital yang terjadi pada dinding abdomen janin. Kejadian yang dilaporkan di seluruh dunia berkisar antara 4-5 per 10.000 kelahiran hidup. Mortalitas pada bayi yang lahir dengan gastroschisis telah menurun selama bertahun-tahun tetapi morbiditas masih tetap tinggi. Diperlukan prenatal diagnosis yang optimal agar proses melahirkan bisa dipersiapkan sebaik mungkin. Pada prenatal diagnosis dilakukan penilaian defek kongenital lainnya agar hasil klinis lebih baik dengan manajemen lebih awal, selain itu dilakukan juga penilaian untuk menentukan adanya kelainan kromosom atau tidak. Apabila kelainan tersebut bersifat isolated, maka hasil klinis akan lebih baik dibandingkan gastroschisis dengan kelainan kromosom. Metode persalinan dan waktu persalinan yang direkomendasikan yaitu pada usia kehamilan 37 minggu dengan metode sectio caesarea. Manajemen neonatal meliputi persalinan di fasilitas kesehatan tersier dan manajemen bedah paska kelahiran yaitu penutupan bedah primer, penutupan bertahap dengan silo, atau penutupan umbilikal tanpa jahitan.Prenatal Diagnosis and Management of GastroschisisAbstractGastroskisis is a congenital defect that occurs in the fetal abdominal wall. Events reported throughout the world range from 4-5 per 10,000 live births. Mortality in infants born with Gastroskisis has declined over the years but morbidity is still high. An optimal prenatal diagnosis is needed so that the labor can be prepared as well as possible. Prenatal diagnosis is done by assessing other congenital defects so that clinical results are better with earlier management, in addition assessment is also done to determine whether there is a chromosome abnormality or not. If the abnormality is isolated, the clinical results will be better than Gastroskisis with chromosomal abnormalities. The recommended method of delivery and labor time is 37 weeks gestational age with the sectio caesarea method. Neonatal management includes delivery in tertiary health facilities and management of postnatal surgery namely primary surgical closure, staged reduction with silo and sutureless umbilical closure.Key words: Congenital Defect, Gastroskisis, Prenatal Diagnosi
Prevalence of Congenital Anomalies on Routine Ultrasound Examination of Second and Third Trimester Pregnancy
Objective:This study aims to determine the prevalence and characteristics of congenital anomalies and maternal demographic of second and third trimester pregnancy as a basis for the planning and management of congenital anomalies in the future pregnancy.Method: This is a descriptive-retrospective study conducted at Cikalongwetan General Hospital by collecting data obtained from the obstetrics and gynecology outpatient and inpatient register book from January 1st through December 31st 2018.Results: Ultrasound examination was performed on 2572 patients at second and third trimester of pregnancy. 37 cases (1.44%) of congenital anomalies was found. Single congenital anomalies was found in 29 cases (78.38%), while 8 cases were found with multiple anomalies (21.62%). Based on organ anomaly, defects in the central nervous system was the most common with 15 cases (40.54%), followed by gastrointestinal system in 8 cases (21.62%). The gestational age related to CA was found most common in the third trimester with 21 cases (56.76%), while deceased fetus (IUFD) was found in 11 cases (29.73%).Conclusion: This study is expected to foster early awareness regarding regular antenatal care and the importance of ultrasoud examination so can help in primary prevention of disability and reducing perinatal mortality and morbidity.Key words: Prenatal, Congenital anomalies, UltrasonographyAbstrakTujuan: Menentukan prevalensi kejadian, jenis kelianan kongenital dan data demografi ibu saat trimeset dua dan tiga selama periode penelitian sebagai dasar dan bahan pertimbangan dalam perencanaan dan manajemen bayi dengan kelainan bawaan selanjutnya.Metode: Penelitian retrosepektif dengan cara mengumpulkan data yang diperoleh dari buku register kunjungan poli dan rawat inap Kebidanan dan Penyakit Kandungan RSUD Cikalongwetan selama periode 1 Januari – 31Desember 2018.Hasil: Pada penelitian ini telah dilakukan pemeriksaan ultrasonografi sebanyak 2572 ibu hamil trimester dua dan tiga, ditemukan kelainann kongenital 37 kasus (1,44%). Kelainan kongenital tunggal 29 kasus (78,38%), 8 kasus kelainan ganda (21,62%). Berdasarkan kelainan organ, cacat pada sistem saraf pusat menempati urutan pertama15 kasus (40,54%) diikuti oleh kelainan pada sistem pencernaan 8 kasus (21,62%) dan sistem saluran kemih4 kasus (16,22%) dan lainnya 12 kasus (32,43%). Usia kehamilan dari kelainan kongenital yang paling sering ditemukan pada trimester ketiga 21 kasus (56,76%) dengan janin yang telah meninggal (IUFD) sebanyak 11 kasus (29,73%).Kesimpulan: Penelitian ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran sejak dini mengenai perawatan antenatal yang teratur dan pentingnya pemeriksaan ultrasonografi sehingga dapat membantu dalam pencegahan primer kecacatan serta mengurangi angka kematian dan morbiditas perinatal.Kata kunci: Prenatal, Kelainan kongenital, Ultrasonograf
Karakteristik Hipertensi pada Kehamilan di Rumah Sakit Daerah Klungkung Tahun 2017
Tujuan: Untuk mengetahui karakteristik pasien hipertensi pada kehamilan di RSUD Klungkung tahun 2017.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian cros-sectional deskriptif yang dilakukan di unit bersalin RSUD Klungkung selama periode Januari hingga April 2017. Analisis data dilakukan secara deskriptifHasil: Kejadian hipertensi pada kehamilan lebih banyak terjadi pada ibu usia 20-24 tahun, didapatkan kejadian preeklamsia ringan tinggi pada kehamilan multigravida, kejadian preeklamsi berat cukup tinggi pada usia kehamilan preterm, kejadian preeklamsi ringan tinggi pada ibu dengan BMI kriteria overweight, persalinan sectio cesaria cukup tinggi pada ibu hamil dengan preeklamsi berat, terdapat kejadian bayi lahir mati sebanyak 3 bayi pada ibu dengan preeklamsi berat.Pembahasan: Hipertensi pada kehamilan sangat dipengaruhi oleh banyak faktor selain dari pada faktor karakteristik itu sendiri, faktor imunologi juga memiliki peranan penting terhadap terjadinya hipertensi pada kehamilan.Kesimpulan: Kejadian preeklamsi ringan masih mendominasi dari keseluruhan kasus hipertensi pada kehamilan, kemudian luaran klinis bayi lahir mati cederung terjadi pada kasus preeklamsi berat.Characteristics of Hypertension in Pregnancy in Kungkung Regional General Hospital 2017AbstractObjective: To determine the characteristics of hypertensive patients in pregnancy in Klungkung Hospital in 2017Method: This research was a descriptive cross-sectional study conducted at the maternity unit of Klungkung Hospital during the period of January 2017 to April 2017. Data analysis was carried out descriptivelyResult: Gestational hypertension is more common in women aged 20-24 years, there is a high incidence of mild preeclampsia in multigravida pregnancies, the incidence of severe preeclampsia is quite high at preterm pregnancy, the incidence of mild preeclampsia in mothers with BMI overweight criteria, high rate cesarean delivery pregnant women with severe preeclampsia, there were 3 babies born to birth in mothers with severe preeclampsia.Discussion: Hypertension in pregnancy is strongly influenced by many factors other than the characteristic factors themselves, immunological factors also have an important role in the occurrence of hypertension in pregnancy.Conclusion: The incidence of mild preeclampsia still dominates from all cases of hypertension in pregnancy, and the clinical outcome of infant mortality is likely to occur in cases of severe preeclampsia. Key words: Hypertension, Pregnancy, Outcome, Characteristics
Rasio Low Density Lipoprotein dan High Density Lipoprotein pada Preeklamsi Berat dibandingkan dengan Kehamilan Normal di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung
AbstractObjective: This study aims to distinguish level of (LDL/HDL) and Low Density Lipoprotein/High Density Lipoprotein ratio in severe preeclampsia patient compared to normal pregnancy.Method: The study design was comparative cross-sectional study with consecutive sampling method that compared the laboratory results of LDL, HDL and ratio LDL/HDL that met the inclusion criteria. Subjects of this study were severe preeclampsia and normal pregnancy patient that fulfilled the inclusion criteria (n=60) in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung during August-September 2017.Result: It is revealed that the differences in level of LDL and LDL/HDL ratios in both groups were significant with p value ≤ 0,05. But there were no differences in HDL level. Increased level of LDL/HDL ratio in pregnancy was related to increased risk of preeclampsia with cut-off point> 2,632. If the increased level of LDL/HDL above cut-off point then the insident of severe preeclampsia increased 21,36 times.Conclusion: It was concluded that level of LDL and LDL/HDL ratios in severe preeclampsia were higher than in normal pregnancy. The increased LDL/HDL ratio of > 2.632 increased the risk of severe preeclampsia by 21.36 times.Perbandingan Rasio Low Density Lipoprotein/High Density Lipoprotein antara Preeklamsi Berat dan Kehamilan Normal di RSUP Dr. Hasan Sadikin BandungAbstrakTujuan: Penelitian ini adalah untuk mencari perbedaan rasio Low Density Lipoprotein/High Density Lipoprotein (LDL/HDL) pada preeklamsi berat dibandingkan dengan kehamilan normal sebagai faktor risiko timbulnya preeklamsi.Metode: Rancangan penelitian kasus kontrol membandingkan LDL, HDL, dan rasio LDL/HDL penderita preeklamsi berat dan kehamilan normal (n=60) bulan Agustus-September 2017 di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung.Hasil: Hasil penelitian didapatkan perbedaan kadar LDL dan rasio LDL/HDL pada kedua kelompok secara bermakna dengan nilai p ≤0,05. Namun tidak didapatkan perbedaan yang bermakna pada kadar HDL. Peningkatan kadar LDL dan rasio LDL/HDL berhubungan dengan peningkatan risiko terjadinya preeklamsi dengan nilai cut-off > 2,632. Bila terjadi peningkatan rasio LDL/HDL diatas nilai cut-off maka risiko tejadinya preeklamsi berat sebesar 21,36 kali.Simpulan: Kadar LDL yang tinggi dan nilai cut-off rasio LDL/HDL >2,632 meningkatkan risiko terjadinya preeklamsi berat 21,36 kaliKata kunci: Preeklamsi, LDL, HDL, Rasio LDL/HD
Karakteristik Pasien Bersalin dengan HIV Positif dan Tingkat Keberhasilan Pemberian ARV Profilaksis pada Bayi Baru Lahir
Tujuan: Mengetahui karakteristik pasien bersalin dengan HIV positif dan pencapaian pemberian anti retro viral (ARV) profilaksis pada bayi baru lahir di RSUP M. Djamil Padang.Metode: Penelitian ini merupakan studi deskriptif menggunakan desain cross sectional study. Penelitian dilakukan di bagian kebidanan RSUP M. Djamil Padang periode 1 Januari 2017−31 Desember 2018 dengan melakukan penelusuran rekam medis pasien obstetri HIV positif. Sampel penilitian ini adalah seluruh pasien dengan HIV positif yang bersalin dalam rentang periode 1 Januari 2017−31 Desember 2018.Hasil: Selama periode penelitian didapatkan total 1068 pasien bersalin di RSUP M. Djamil Padang. Didapatkan dua puluh sampel dengan HIV positif, dimana 5 sampel (25%) merupakan pasien yang berasal dari rujukan Puskesmas di Kota Padang, dan sisanya dari rujukan berbagai rumah sakit kabupaten di Sumatera Barat. Mayoritas sampel berusia 20-35 tahun (85%), pendidikan SMA (40%), menikah satu kali (60%), multigravida 2-4 (80%), dan dilakukan terminasi kehamilan pada usia kehamilan 37−42 minggu (100%). 85% sampel merupakan pasien dengan status HIV yang telah dikenal dan mendapat terapi ARV sebelumnya. 5% sampel bersalin secara spontan dan 95% sampel bersalin secara seksio sesarea. Seluruh bayi baru lahir dari ibu dengan HIV positif mendapatkan ARV profilaksis pada empat jam pertama pasca persalinan.Kesimpulan: Prevalensi persalinan dengan HIV positif di RSUP M. Djamil Padang adalah 1,87%, dan pencapaian pemberian ARV profilaksis pada bayi baru lahir adalah 100%. Characteristics of Maternity Patients with HIV Positive and Achieving Provision of ARV Prophylaxis in NewbornsAbstractObjective: To determine the characteristics of HIV positive maternity patients and the achievement of prophylactic anti retro viral (ARV) provision in newborns at M. Djamil Hospital Padang.Method: This is a descriptive study using a cross sectional study design. The study was conducted in department of M. Djamil Hospital Padang period January 1st, 2017−December 31st, 2018 through the search of medical records of HIV positive obstetric patients. This research sample is all HIV positive patients who deliver within period January 1st, 2017-December 31st, 2018.Result: There were 1068 patients gave birth during the study period. Twenty samples were found to be HIV positive, of which 5 samples (25%) patients came from referrals of primary health care in Padang, and the remainder were referrals from various district hospitals in West Sumatra. The majority of the sample were 20−35 years of age (85%), high school education (40%), married once (60%), multigravida 2−4 (80%), and termination of pregnancy at 37-42 weeks of gestation (100%). 85% of the samples were patients with known HIV status and were previously treated with ARVs. 5% of spontaneous maternity samples and 95% of samples delivered by cesarean section. All newborns from HIV-positive mothers get prophylactic ARVs in the first four hours postpartum.Conclusion: The prevalence of HIV positive labor in M. Djamil Hospital Padang is 1.87%, and the achievement of prophylactic ARV administration at newborns is 100%.Key words: HIV Positive, ARVs, Pregnant Women, Newbor
Severe Preeclampsia at 26 weeks gestation on Nulliparous with complication of Bilateral Serous Retinal Detachment
Preeclampsia is still one of the leading causes of death and severe maternal morbidity. The rate of incidences range from 5 to 10 % in all pregnancies. Clinical condition in Preeclampsia is increasing blood pressure and proteinuria. Preeclampsia can cause multisystem disorders including visual disruptions. The incidence rate of visual system disruptions is 25 % of patients with severe preeclampsia and 30% of patients with eclampsia. The most common visual complication is hypertensive retinopathy, serous retinal detachment, and cortical blindness. The incidences of serous retinal detachment are approximately 1% in severe preeclampsia and 10% in eclampsia. We report a case of 28 years old nulliparous with severe preeclampsia at 26 weeks gestation, who complained blurred vision, we ran several examinations and bilateral serous retinal detachment was diagnosed. Her visual has significant improvement a few weeks after pregnancy termination.Abstrak Preeklampsia masih menjadi salah satu penyebab utama kematian dan morbiditas maternal.[1] Tingkat insiden preeklampsia berkisar dari 5 hingga 10% pada semua kehamilan.[2] Kondisi klinis Preeklampsia adalah meningkatnya tekanan darah dan proteinuria. Preeklamsia dapat menyebabkan gangguan multisistem termasuk gangguan penglihatan.[3] Tingkat kejadian gangguan sistem penglihatan adalah 25% pada pasien dengan preeklampsia berat dan 50% pada pasien dengan eklampsia.[3] Komplikasi visual yang paling umum terjadi adalah retinopati hipertensi, serous retinal detachment, dan kebutaan kortikal.[4] Insidensi serous retinal detachment sekitar 1% pada preeklampsia berat dan 10% pada eklampsia.[5] Kami melaporkan kasus nulipara berusia 28 tahun dengan preeklamsia berat pada usia kehamilan 26 minggu, yang mengeluhkan penglihatan kabur, dilakukan beberapa pemeriksaan dan bilateral serous retinal detachment ditegakkan. Penglihatan pasien mengalami perbaikan yang signifikan minggu ke-lima setelah terminasi kehamilan
Perbandingan Faktor Determinan dan Luaran Preeklamsi Periode Sebelum dan Saat Program Jaminan Kesehatan Nasional Dilaksanakan
AbstrakTujuan: Mencari perbedaan faktor determinan (karakteristik dan faktor risiko), morbiditas dan mortalitas ibu dan bayi dalam kasus preeklamsi pada periode sebelum dan saat program Jaminan Kesehatan Nasional dilaksanakan.Metode: Rancangan penelitian ini adalah studi cross-sectional terhadap data sekunder untuk menganalisis karakteristik faktor risiko, morbiditas dan mortalitas pada kejadian preeklamsi di RSUP Dr. Hasan Sadikin antara periode Maret−September 2012−1 Januari 2016−31 Desember 2017. Penelitian ini dilakukan di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Februari−Mei 2018.Hasil: Didapatkan perbedaan yang bermakna (p<0,05) pada(usia, pasien, indikator, antenatal care, dan penyakit-penyakit) subjek penelitian. Didapatkan peningkatan angka seksio sesarea pada kasus preeklamsi (p<0,001). Tidak ditemukan perbedaan yang bermakna pada angka kematian ibu dengan kasus preeklamsi (p=0,366). Tidak terdapat perbedaan yang bermakna pada hasil luaran perinatal pada subjek penelitian dari segi skor APGAR, kejadian stillbirth dan kematian neonatal dini.Simpulan: Pada periode saat program JKN dilaksanakan terdapat perbedaan karakteristik dan faktor risiko ibu preeklamsi, serta terdapat peningkatan angka seksio sesarea. Tidak didapatkan perbedaan angka mortalitas ibu dan luaran (morbiditas dan mortalitas) bayi.Comparison of Determinant Factors and Outcome of Preeclampsia in Periods Before and When the National Health Insurance Program was ImplementedAbstractObjective: To distinguish determinant factors (characteristics and risk factors), maternal and neonatal morbidity and mortality in preeclampsia cases in periods before and when the National Health Insurance program was implemented. Method: The study design is cross sectional analyticstudy by taking the data from medical record to analyze the determinant factor (characteristics and risk factors), morbidity and mortality of preeclampsia at Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung on March−September 2012 and January 2016−December 2017. This study was conducted in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung during February-May 2018.Results: There is a significant difference (P<0.05) in characteristics and risk factor subject of research in terms of age, gestational age, parity, educational degree, ANC, a history of hypertension and cardiovascular disorder. There is an incrising of cesarean section rate on preeclampsia cases (p<0.001).There is no significant difference in maternal mortality and perinatal outcomes (APGAR score, stillbirth and early neonatal death). Conclusion: There are differences in determinant factor (characteristics and risk factors) preeclampsia when the National Health Insurance program was implemented. There was no difference in maternal mortality and perinatal outcomes.Key words: preeclampsia, National Health Insurance, maternal and perinatal outcom
Multiparitas sebagai Faktor Risiko Kejadian Kurang Energi Kronis (KEK) pada Ibu Hamil di Kecamatan Biduk-Biduk Kabupaten Berau
Tujuan: untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian Kurang Energi Kronik (KEK) pada ibu hamil. Metode: penelitian observasional analitik ini menggunakan desain cross sectional. Populasi penelitian adalah semua ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Biduk-Biduk Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur tahun 2018 dengan 121 sampel yang diambil menggunakan teknik consecutive sampling. Analisis data menggunakan uji Regresi Logistik. Hasil: penelitian dari 121 ibu hamil didapatkan 28 ibu hamil (23,2%) memiliki usia berisiko, 33 ibu hamil (27,3%) memiliki paritas lebih dari 2 kali, dan 23 ibu hamil (19%) mengalami KEK. Uji Regresi Logistik didapatkan hubungan signifikan antara paritas (0−2) dengan kejadian KEK pada ibu hamil dengan OR 10,535 95% CI 1,336-83,085 sedangkan pada variabel usia terhadap kejadian KEK tidak didapatkan hubungan signifikan. Kesimpulan: penelitian didapatkan hubungan antara paritas ibu hamil (0−2) dengan kejadian KEK di wilayah Puskesmas Biduk-Biduk dengan peningkatan risiko hingga l0 kali lipat dibandingkan ibu hamil dengan paritas lebih dari 2.Parity as Risk Factor of Chronic Energy Deficiency Incidence on Pregnant Women at Biduk-Biduk Subdistrict Berau RegencyAbstractObjective: to analyze factors that related to Chronic Energy Deficiency (CED) in pregnant women. Method: in this analytic observational research used was a cross sectional design. The population were all pregnant women in working area of Biduk-Biduk Community Health Centre in 2018 with 121 samples which had been taken by consecutive sampling technique. Data was analyzed by means of Logistic Regression statistic test. Result: from 121 pregnant women, there were 28 pregnant women (23.2%) with age at risk, 33 pregnant women (27.3%) with parity more than two, and 23 pregnant women (19%) suffered CED. There is a significant relationship between parity (0 to 2) with CED in pregnant women (OR 10.535 95% CI 1.336−83.085), however there is no significant relationship between age and CED. Conclusion: parity in pregnant women (0−2) has significant relationship with CED with increased risk to ten fold compared to pregnant women with parity more than two.Key words: Parity, Age, Chronic energy deficiency (CED
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perempuan Usia Reproduksi dalam Mencari Bantuan Penanganan Inkontinensia Urin di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung
AbstrakTujuan: Inkontinensia urin merupakan kondisi yang sering dialami wanita. Meskipun demikian, hanya kurang dari setengah wanita dengan gejala tersebut yang berkonsultasi ke dokter mengenai inkontinensia, dan faktor penentu dalam pengobatan tidak dipahami dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis apakah faktor pengetahuan, budaya, pendidikan, dan penghasilan memengaruhi pasien inkontinensia urin tidak berobat ke rumah sakit, serta mengetahui faktor yang paling dominan dan alasan-alasan pasien inkontinensia urin tidak berobat ke rumah sakit. Metode: Jenis penelitian ini adalah metode kombinasi (mixed methods) dengan desain penelitian cross sectional atau potong lintang. Sampel pada penelitian ini berjumlah sebanyak 70 pasien menderita inkontinensia urin. Adapun pasien yang diwawancarai adalah sebanyak 10 orang pasien atau informan. Hasil: Penelitian kuantitatif pada variabel faktor pendidikan dan faktor penghasilan, hasil analisis Kolmogorov test terlihat nilai P>0.05. Pada variabel faktor pengetahuan dan faktor budaya, hasil analisis Kolmogorov test terlihat nilai P0,05. The knowledge and cultural factors result with P <0,05. Conclusion: There is correlation between knowledge and eastern culture with urinary incontinence patient not treatment at polyclinic RS Hasan Sadikin Bandung, the most dominant factor influencing is the culture factor, as well as the reasons patients with urinary incontinence do not go to the hospital is due to not knowing that urinary incontinence is a disease and a shame.Key words: Urinary incontinence, knowledge factor, cultural factor, educational factor, income facto
Primigravida Hamil 12 Minggu dengan Atrial Septal Defect Secundum dan Hipertensi Pulmonal Berat Janin Tunggal Hidup Intrauterin
Latar Belakang: Atrial Septal Defect (ASD) apabila disertai hipertensi pulmonal berat harus dikonseling karena tingginya insiden morbiditas dan mortalitas ibu dan janin. Tujuan: Memaparkan sebuah kasus primigravida dengan ASD secundum dan hipertensi pulmonal berat sehingga dapat dilakukan tatalaksana dan pemilihan kontrasepsi yang sesuai.Metode: Laporan kasus seorang wanita berusia 30 tahun, hamil 12 minggu, mengeluh sesak nafas, batuk pada malam hari, dan jantung berdebar-debar. Hasil rontgen thoraks menunjukkan gambaran hipertensi pulmonal disertai peningkatan vaskularisasi paru. Kateterisasi jantung menunjukkan ASD secundum besar, hipertensi pulmonal berat, high flow, high resistance, dan reaktif dengan tes O2. Hasil ekokardiografi (2017) menunjukkan ASD secundum berat, regurgitasi trikuspid dan pulmonal moderat. Ultrasonografi abdomen menunjukkan kesan hamil 12 minggu janin tunggal hidup intrauterin, mioma uteri intramural dan subserosum, perdarahan subamnion dan subkorion. Pada pasien ini, dilakukan abortus provokatus medisinalis melalui pemberian Prostaglandin dilanjutkan dengan dilatasi dan kuretase.Kesimpulan: Kehamilan pada wanita dengan ASD umumnya ditoleransi dengan baik, dengan luaran ibu dan janin yang baik. Pasien dengan penyakit jantung berat sebaiknya tidak hamil dan bila hamil sebaiknya diterminasi. Preparat estrogen merupakan kontraindikasi pada pasien jantung. Pemilihan kontrasepsi harus mempertimbangkan keparahan, tipe anatomis kelainan jantung, dan keinginan ibu untuk mempertahankan fungsi reproduksinya.Kata Kunci: primigravida, ASD secundum, hipertensi pulmonal AbstractBackground: Atrial Septal Defect (ASD) with severe pulmonary hypertension should be counseled because of the high incidence of maternal and fetal morbidity and mortality. Objective: Describing a case of primigravida with ASD secundum and severe pulmonary hypertension so that appropriate management and contraception can be selected.Method: A 30-year-old woman, 12 weeks pregnant, suffered from shortness of breath, coughing at night, and palpitations. Chest X-ray showed pulmonary hypertension with increased pulmonary vascularity. Cardiac catheterization showed a large ASD secundum, severe pulmonary hypertension, high flow, high resistance, and reactive O2 test. Echocardiography (2017) showed severe ASD secundum, moderate tricuspid, and pulmonary regurgitation. Abdominal ultrasonography showed 12 weeks gestational age single live fetus intrauterine, intramural and subserosal uterine myoma, and also subamniotic and subchorionic bleeding. We did provoked abortion using Prostaglandin continued with dilatation and curettage.Conclusion: Pregnancy in women with ASD is generally well tolerated, with good maternal and fetal outcomes. Patients suffered from severe heart disease should not be pregnant, and if necessary get pregnancy terminated. Estrogen preparations are contraindicated in these patients. The choice of contraception must consider the severity, the anatomy of heart abnormality, and mother's desire to maintain her reproductive function. Key words: primigravida, ASD secundum, pulmonary hypertension