OBGYNIA - Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
Not a member yet
371 research outputs found
Sort by
Hubungan Kualitas Hidup dan Kebutuhan Perawatan Paliatif Pasien Kanker Ginekologi di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin
Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana hubungan kualitas hidup dan kebutuhan perawatan paliatif pada pasien kanker ginekologi. Metode: Subjek penelitian ini adalah seluruh pasien kanker ginekologi yang dirawat di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan November-Desember 2018. Penelitian ini merupakan studi analitik dengan rancangan cross sectional. Data yang diperoleh dianalisis secara bivariat dengan menggunakan chi square dengan α = 0,05, untuk mengetahui hubungan antara kualitas hidup dengan kebutuhan perawatan paliatif.Hasil: Karakteristik subjek terbanyak berusia > 50 tahun (65,67%), pendidikan dasar (70,15%), ibu rumah tangga (89,55%), pendapatan di atas upah minimum regional (61,19 %), tujuan rawat inap kemoterapi (47,76%) dan tipe kanker karsinoma serviks (43,28%). Subjek penelitian dengan skor paliatif ≥ 4 sebanyak 25 orang (37,31%). Keluhan yang terbanyak adalah berat badan turun dan tidak nafsu makan (86,57 %). Kualitas hidup pasien kategori baik sebanyak 29 orang, sedang 36 orang, dan kurang 2 orang. Kualitas hidup pasien kanker ginekologi berhubungan dengan kebutuhan perawatan paliatif dengan nilai signifikansi p 0,004.Simpulan: Kualitas hidup berhubungan dengan skor paliatif. Semakin rendah skor paliatif maka kualitas hidup semakin baik.Relations of Quality of Life and Characteristics of Gynecological Cancer Patients In Hasan Sadikin HospitalAbstractObjective: The purpose of this study was to determine the characteristics of gynecological cancer patients, determine the quality of life of all gynecological cancer patients and to asses the correlation of quality of life and palliative care needs in gynecological cancer patients.Method: The subjects of this study were all gynecological cancer patients who were treated at Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung in November-December 2018. This study was an analytic study with a cross sectional design. Data obtained from the study were analyzed bivariately using chi square with α = 0.05, to determine the relationship between quality of life and palliative care needs.Results: The most characteristics of the subjects were with age> 50 years (65.67%), primary education (70.15%), housewives (89.55%) with income above the regional minimum wage (61.19%), the main goal of hospitalization is chemotherapy (47.76%) and the most types of cancer are cervical carcinoma (43.28%). The research subjects who had a palliative score of ≥ 4 were 25 people (37.31%). The most complaints were weight loss and no appetite (86.57%). The quality of life of patients with good category was 29 people, medium category was 36 people and poor category was 2 people. The quality of life of gynecological cancer patients has correlation with palliative care needs with a significance value of p 0.004.Conclusion: Quality of life has correlation with palliative scores, the lower the palliative score, the better the quality of life.Key words: Gynecological cancer; quality of life; palliative scor
Infeksi COVID-19 Dalam Kehamilan
Sejak kasus pertama infeksi Covid-19 di laporkan dari propinsi Wuhan China pada 12 Desember 2019, penyakit ini sudah menyebar dengan sangat cepat dan menjadi pandemi ke hampir seluruh dunia termasuk di Indonesia.Kasus infeksi Covid-19 pada ibu hamil juga semakin meningkat kajadiannya. Perbagai laporan ilmiah membanjiri media sosial dan ilmiah di seluruh dunia tentang epidemiologi, gejala klinis, perjalanan penyakit, etiologi, patomekanisme molekuler dan seluler, upaya deteksi dini, diagnosis, pencegahan dan pengobatannya.Pelbagai organisasi profesi kesehatan dunia menerbitkan serial panduan (guidelines) pengelolaan penyakit ini dalam kehamilan dari waktu ke wakt
Pengaruh Vaksin BCG dalam Meningkatkan Proses Segresi Seluler pada Lesi Prakanker Serviks Uteri Derajat Rendah
Tujuan: Penelitian ini adalah untuk menganalisis peranan pemberian vaksin bacille calmette-guerin (BCG) terhadap proses regresi seluler pada lesi prakanker serviks uteri derajat rendahMetode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan pretest (IVA dan Histopatologi) - posttest (IVA dan Test HPV DNA) with control design di Poliklinik Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Desember 2017-Maret 2018. Hasil: Untuk pemeriksaan IVA bulan ke-0 pada kelompok BCG kategori positif sebanyak 9 (100.0%) sedangkan untuk pemeriksaan IVA bulan ke-3 pada kelompok BCG kategori positif sebanyak 3 (33.3%) dan negatif menjadi sebanyak 6 (66.7%), pemeriksaan tes HPV DNA bulan ke 12 pada kelompok BCG kategori positif HPV DNA High Risk tidak ditemukan ( 0 % ). Hasil uji statistik pada kelompok perlakuan diperoleh nilai p0.05.Kesimpulan: Terdapat peranan pemberian vaksin BCG terhadap regresi seluler lesi prakanker serviks derajat rendah.The effect of Bacille Calmette-Guerin vaccine on regression of cervical intraepithelial neoplasia-1AbstractObjective: The aim of this study was to analyze the role of Baccile Calmete Guerin (BCG) vaccines delivery in low grade precancerous cervical lesions.Methods: The design of the study was a pretest and posttest experimental with control, done at Hasan Sadikin Hospital Bandung Outpatient Clinic during December 2017–March 2018. Result: Patients with positive VIA test in the intervention group in month-0 were 9 patients (100.0%), in month-3 were 3 patients (33.33%) and the other 6 patients (66.7%) changed into negative. Patients with positive VIA test in the control group in month-0 were 9 patients (100.0%), in month 3 were 8 patients (88.9%) and the other 1 patients (11.1%) changed into negative. The result of statistical analysis in the intervention group was p0.05.Conclusion: : there is a role of BCG vaccine in low grade precancerous cervical lesions.Key words: BCG vaccine, VIA test, Low grade cervical precancerous lesions
Akurasi Spesivisitas dan Sensitivitas Angka RMI 2 Skor pada Penderita Tumor Ganas Ovarium di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Periode 2017−2018
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui spesifitas dan sensitivitas skor RMI 2 dalam menentukan keganasan ovarium. Kadar CA 125 dan skor RMI 2 diukur dari hasil pemeriksaan histopatologi digunakan sebagai pemeriksaan gold standard. Penelitian ini dilakukan pada periode Januari 2017−Desember 2018.Metode: Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan rancangan cross sectional. Data kategorik diuji dengan uji chi-square atau uji Exact Fisher. Data numerik digunakan uji-t tidak berpasangan atau uji Mann Whitney. Sumber data diperoleh dari rekam medis pasien di Poli Ginekologi Onkologi RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung berdasarkan angka skor RMI 2 pada penderita suspek tumor ganas ovarium.Hasil: Sampel berjumlah 172 dengan 31 berkategori jinak dan 141 berkategori ganas berdasarkan hasil histopatologi. Hasil penelitian menunjukkan nilai median CA 125 kelompok ganas dibanding kelompok jinak (437, 05 vs 212,14) bermakna secara statistik p = 0,001 (nilai p200 dengan sensitivitas 95,74% dan spesifisitas 16,12%.Kesimpulan: Skor RMI 2 adalah metode yang digunakan untuk memprediksi tumor ganas ovarium. Hal ini sangat berguna digunakan dengan kombinasi CA 125 dengan hasil pemeriksaan ultrasonografi (USG) dan status menopause atau dikenal dengan Risk Malignancy Index (RMI skor 2 cut off point >200 ) dengan sensitivitas 95,74%, spesifisitas 16,12%dan akurasi 81,39 %. Skor RMI 2 mempunyai sensitivitas yang tinggi, tetapi mempunyai spesivisitas yang rendah, sehingga membutuhkan penelitian lebih lanjut.Accuracy of Specificity and Sensitivity of RMI 2 Score Numbers in Ovarium Fanner Tumors in RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Period 2017-2018AbstractObjective: This study aims to determine the specificity and sensitivity of RMI 2 score in ovarian malignancy. The CA 125 level and the RMI 2 score were measured and adjusted by histopathology examination as gold standard. This research was conducted in period January 2017−December 2018.Methods: This research used observational analitic research method with cross sectional design. Categorical data were tested by chi-square test or Fisher's Exact test. Numerical data are used unpaired t-test or Mann Whitney test. The source of data from medical records of patients in Gynecology Oncology Clinic Dr. Hasan Sadikin Bandung based on the RMI 2 score with suspected ovarian malignant tumors.Result: Samples were 172 with 31 benign categories and 141 malignant categories based on the results of histopathology. The results showed a median value of CA 125 of the malignant group compared to the benign group (437, 05 vs. 212.14) statistically significant p = 0.001 (p value 200 with a sensitivity of 95.74% and specificity of 16.12%. Conclusion: This study is an RMI 2 score is a useful way as a predictor of ovarian malignancy. This is very useful to use with a combination of CA 125 with the results of ultrasonography (USG) and menopausal status or known as the Risk Malignancy Index (RMI score 2 cut off point> 200) with a sensitivity of 95.74%, specificity 16.12% and accuracy 81 , 39%. RMI 2 score has high sensitivity, but has low specificity, so it needs further research.Key words: CA 125, RMI 2 score, ovarian malignanc
Perbandingan Uji Hemostasis pada Preeklamsia antara Awitan Dini pada Awitan Lambat
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan uji hemostasis pada preeklamsia antara awitan dini (PEAD) dengan awitan lambat (PEAL)Metode: Penelitian ini adalah penelitian analitik observasional dengan pendekatan potong lintang dengan menggunakan data rekam medis pasien preeklamsia yang dirawat dan atau melahirkan di RSUP DR M Djamil Padang. Analisis univariate disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan analisis univariate menggunakan uji T tidak berpasangan dan uji Mann-WhitneyHasil: PT (Prothrombine Time) dan APTT (Activated Partial Thromboplastin Time) lebih rendah pada PEAD daripada PEAL (p>0,05), D-dimer lebih tinggi PEAD daripada PEAL(p>0,05), dan jumlah trombosit lebih rendah PEAD daripada PEAL(p<0,05)Kesimpulan: Pada penelitian ini tidak terdapat perbedaan yang bermakna dari parameter faal pembekuan darah berupa PT, APTT, dan D-dimer, tetapi terdapat perbedaan yang bermakna pada jumlah trombosit antara PEAD dan PEAL dengan jumlah trombosit PEAD lebih rendah daripada PEALComparison of Hemostatic Test Result Between Cases of Early and Late Onset PreeclampsiaAbstractObjective: This study aimed to compare haemostatic test of early onset preeclampsia and late onset preeclampsiaMethod: This study was observational analytic study using cross-sectional design that collected data from medical records patients of preeclampsia who were hospitalized and/or giving birth in RSUP DR M Djamil Padang. Data were analized using Univariate analysis were presented in the form of frequency distribution table and Bivariate data were tested with Independent T-Test and Mann-Whitney TestResult: In this study, there was no differences in prothrombin time, activated partial thromboplastine time and D-dimer but thrombocyte count were different between early and late onset PreeclampsiaConclusion: On this research thrombocyte count is lower in early than late onset Preeclampsia and there is significantly different between early and late onset PreeclampsiaKey words: prothrombin time, activated partial thromboplastin time, D-dimer, thrombocyte count, early and late onset preeclampsi
Perbedaan Kadar Vitamin D pada Wanita Usia Reproduksi Tidak Hamil dan Wanita Hamil Trimester Pertama
Tujuan: Penelitian ini untuk mengetahui perbedaan kadar vitamin D pada wanita usia reproduksi tidak hamil dan wanita hamil trimester pertama.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan metode rancangan Comparative Cross Sectional yaitu membandingkan kadar vitamin D pada dua kelompok yaitu wanita usia reproduksi tidak hamil dan wanita hamil trimester pertama. Subjek penelitian yaitu wanita usia reproduksi (18-35 tahun) tidak hamil dan bertempat tinggal di kota Bandung dengan wanita dengan usia kehamilan trimester pertama yang memenuhi kriteria inklusi penelitian (n=60). Pada kedua kelompok dilakukan pemeriksaan kadar vitamin D kemudian diperiksa dengan metode Electro-chemiluminescence immunoassay (ECLIA). Penelitian ini dilakukan di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Februari-April 2018.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan kadar vitamin D rata-rata pada kelompok wanita usia reproduksi tidak hamil adalah 18,73 (6,93) ng/mL, sementara pada kelompok wanita hamil trimester pertama yaitu 13,87 (4,04) ng/mL. Perbedaan kadar rata-rata vitamin D pada kedua kelompok tersebut bermakna dengan nilai p<0,001Simpulan: Kadar vitamin D pada kelompok wanita hamil trimester pertama lebih rendah dibandingkan dengan kelompok usia reproduksi tidak hamilDifferences of vitamin D Level in Non-Pregnant Reproductive Age Women and First Trimester Pregnant WomenAbstractObjective: This research aims to compare differences in vitamin D levels in the group of non pregnant women of reproductive age and group of first trimester pregnant women.Method: This type of research is an observational analytic study with Comparative Cross Sectional design method that is comparing vitamin D levels in two groups: non pregnant women of reproductive age and first trimester pregnant women. Subjects of the study were women of reproductive age (18-35 years) who were not pregnant and lived in Bandung with women with first trimester gestational age who fulfilled the inclusion criteria (n=60). In both groups examined vitamin D levels and then examined by Electro-chemiluminescence immunoassay (ECLIA) method. This research was conducted at Hasan Sadikin Hospital Bandung in February-April 2018Result: The results showed that the average vitamin D level in the non pregnant women of reproductive age group was 18.73 (6.93) ng/mL, while in the first trimester pregnant women group was 13.87 (4.04) ng/mL. The difference in mean vitamin D levels in both groups was significant with p <0.001Conclusion: Levels of vitamin D in the group of first trimester pregnant women are lower than the group of non pregnant women of reproductive Key words: Vitamin D, women of reproductive age not pregnant, first trimester pregnant wome
Personalized Medicine dalam Pelayanan Kesehatan Reproduksi
AbstrakTujuan: Untuk mencoba mencari kejelasan kelemahan dan keunggulan berbagai paradigma dan mencoba membuktikan bahwa Personalized Medicine itu adalah paradigma yang terbaik, sampai saat ini.Metode: Studi PustakaHasil: Dengan seiring waktu Clinical Medicine juga mendapatkan tambahan pengembangan dari Evidence Based Medicine dan Genome Medicine. Personalized Medicine lebih mengembangkan ilmu kedokteran sesuai dengan individu masing-masing sehingga menjadi lebih baik.Kesimpulan: Walaupun terbukti bahwa Clinical Medicine, Evidence Based Medicine dan Genome Medicine mempunyai kelemahan di samping keunggulannya masing-masing, tetapi ketiga paradigma tersebut masih bisa digunakan, pada kondisi dan dan situasi tertentu. Personalized Medicine, sampai saat ini, masih yang terbaik, karena dalam pelaksanaannya terungkap sifat yang Holistik, Humanistik dan penuh Empati. Dengan perkataan lain, dokter yang melaksanakan pelayanan ini telah menjalankan kewajibannya dengan baik, berupa CURE dan CARE secara proporsional, suatu sifat yang bisa membuktikan keprofesionalannya.Kata kunci: Personalized medicine, pelayanan kesehatan dan kesehatan reproduksi. Personalized Medicine in Reproductive Health ServiceAbstractsObjectives: To look for any weakness and superiority for each of those paradigms and try to prove that Personalized Medicine is the best method in health service, until today.Method: Literature reviewResult: Developing clinical medicine also followed by Evidence Based Medicine and Genome Medicine other wise personalize medicine developing medical practice individuality to be better.Conclusion: Although we know Clinical Medicine, Evidence Based Medicine and Genome Medicine have some weaknesses, we also believe that those paradigms still can be used in certain conditions and situations. Mean while Personalized Medicine, until present time, is still the best method, because during its implementation, it describes its characteristic of Holistic, Humanism and full of Empathy. In other words, a physician who acts this way, is performing his obligation in the form of CURE and CARE, proportionally, an effort that can be considered as a sign of his professionalism.Key word: Personalized Medicine, health service and reproductive health
Kematian Janin Dalam Rahim pada Kehamilan Aterm dengan Eklampsia, Partial Hellp Syndrome, Edema Paru Akut dan Syok Kardiogenik
Tujuan: Melaporkan eklampsia, partial HELLP syndrome, edema paru akut sebagai komplikasi dari preeklampsia berat.Metode: Laporan Kasus.Hasil: Preeklampsia berat dan eklampsia merupakan penyebab kematian ibu berkisar 1.5-25 %, sedangkan kematian bayi antara 45-50 % di Indonesia. Eklampsia adalah kelainan akut pada ibu hamil, persalinan, atau nifas ditandai kejang dan atau koma, dimana sebelumnya sudah menunjukkan gejala preeklampsia. Preeklampsia dan eklampsia memberi pengaruh buruk pada janin. Kami melaporkan kasus nulipara berusia 20 tahun dengan Kematian Janin Dalam Rahim + eklampsia + partial HELLP syndrome + Edema Paru + syok kardiogenik. Persalinan diakselerasi dengan forceps ekstraksi dan bayi lahir mati dengan Berat 2700g. Kesadaran pasien menurun dua jam post partum dan pasien tampak sesak. Pasien mengalami perbaikan selama perawatan dan dipulangkan pada hari ke 5.Kesimpulan: Sindroma HELLP merupakan komplikasi preeklampsia dan eklampsia yang mengancam nyawa karena tingkat morbiditas dan mortalitas maternal serta perinatal yang tinggi. Diperlukan diagnosa dini dan intervensi tepat untuk mencegah perkembangan patofisiologi yang mengarah ke komplikasi.Kata kunci: KJDR, Eklampsia, Partial HELLP syndrome, Edema Paru AkutAbstractObjective: To report eclampsia, HELLP syndrome, acute lung edema as complications of severe preeclampsia.Methods: Case report.Result: In Indonesia, severe preeclampsia and eclampsia are the causes of maternal mortality in the range of 1.5-25%, while infant mortality is between 45-50%. Eclampsia is an acute disorder in pregnant women, childbirth, or puerperium characterized by seizures and/ coma, which have previously shown symptoms of preeclampsia. It has negative influence on the fetus. We reported a case of 20 years old nulliparous with Intrauterine Fetal Death+eclampsia+partial HELLP syndrome+acute lung edema+cardiogenic shock. The labor accelerated by forceps extraction and 2700 grams stillbirth was born. Patient awareness decreased two hours post partum, she was short of breath. She was treated and her condition get improved then discharged on 5th day. Conclusion: HELLP Syndrome is a severe variant complication of Preeclampsia and Eclampsia because of the level of maternal-perinatal morbidity is high. It needs early diagnosis and prompt treatment to arrest further progress leading to complications. Key words: IUFD, Eclampsia, Partial HELLP syndrome, Acute Lung Edem
Diagnosis and Management of Heterotopic Pregnancy: A Case Report
Background: Heterotopic pregnancy is a rare case of pregnancy. The incident is estimated to be 1:30000 to spontaneus pregnancy. Heterotopic pregnancy is a life threatening condition to maternal and intrauterine fetus.Case Report:A 36 years old woman came with over 1 month history of amenorrhea, after being examined, her gestational age was 9-10 weeks. On 28th February 2018 patient came to PHC due to lower abdominal pain and vaginal bleeding. Ectopic pregnancy was revealed then laparotomy was performed. Then, patient came back and complained of enlarged abdomen since the laparotomy, ultrasonography examination showed intrauterine fetus. At 35 weeks gestational age, patient was undergoing cesarean section due to fetal distress.Discussion:Heterotopic pregnancy are both intrauterine and ectopic pregnancy that occur at the same time. Heterotopic pregnancy often hardly detect because of unspecific symptoms. In this case it also found difficulty in diagnosing heterotopic pregnancy, the patient was only diagnosed as ruptured ectopic pregnancy.Conclusion:Heterotopic pregnancy has a high mortality rate if the diagnosis and treatment is not done well. Ultrasonography (USG) examination has an important role in order to help diagnosing in remote area.Key words : Heterotopic pregnancy, USG, Diagnose, Treatment AbstrakLatar belakang:Kehamilan Heterotopik adalah kehamilan yang sangat jarang terjadi, angka kejadiannya sekitar 1:30000 dibandingkan dengan kehamilan spontan. Kehamilan Heterotopik seringkali menyebabkan komplikasi yang dapat mengancam jiwa ibu dan janin.Laporan Kasus:Wanita usia 36 tahun datang dengan keluhan Amenorea lebih dari 1 bulan, setelah di periksa pasien dinyatakan hamil dengan usia kehamilan 9-10 minggu. Pada 28 februari 2018, pasien datang ke puskesmas dengan keluhan nyeri perut bawah dan keluar darah dari jalan lahir, kemudian pasien di rujuk ke Rumah Sakit. Pasien didiagnosis dengan kehamilan ektopik dan dilakukan laparotomi. Kemudian pasien kontrol dan mengeluh perut bertambah besar pascaoperasi, dari pemeriksaan ultrasonographi didapatkan adanya janin intrauterin. Pada usia kehamilan 35 minggu dilakukan operasi caesar dikarenakan gawat janin.Diskusi:Kehamilan Heterotopik adalah kehamilan intrauterin dan kehamilan ektopik yang terjadi pada waktu yang bersamaan. Kehamilan heterotopik seringkali sulit dideteksi dikarenakan gejala yang tidak spesifik. Pada kasus ini juga ditemukan kesulitan dalam mendiagnosa kehamilan heterotopik.Kesimpulan:Kehamilan heterotopik memiliki angka mortalitas yang tinggi jika diagnosis dan tatalaksana yang dilakukan tidak baik. USG berperan penting dalam membantu penegakkan diagnosis di daerah terpencil.Kata kunci: Kehamilan Heterotopik; USG; Diagnosis; Tatalaksan
Luaran Maternal dan Neonatal pada Preeklampsia Berat Perawatan Konservatif di RSUD Dr. Soetomo Surabaya
Tujuan: Mengetahui luaran maternal dan neonatal pada PEB perawatan konservatif di RSUD Dr. Soetomo Surabaya Metode: Deskriptif observational retrospektif menggunakan data sekunder dari rekam medis mulai Januari 2012 sampai dengan Desember 2017. Kriteria inklusi: semua pasien preeklampsia berat usia kehamilan 28 minggu lebih dari 50%. Komplikasi maternal tersering adalah sindrom HELLP dan edema paru.Maternal and Neonatal Outcomes in Severe Preeclampsia Patient with Conservative Treatment at Dr. Soetomo Surabaya HospitalAbstractObjective: To describe the maternal and neonatal outcome in severe preeclampsia patient with conservative treatment at Dr. Soetomo Surabaya HospitalMethod: This study is a retrospective observational study using secondary data from medical record from January 2012 to December 2017. Inclusion criteria: all severe preeclampsia patients with 28 weeks is more than 50%. The most maternal complication in Dr. Soeotmo Surabaya Hospital is HELLP syndrome and lung edema.Key words: Preeclampsia, Conservative Treatment