OBGYNIA - Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
Not a member yet
    371 research outputs found

    Sexual Function in Cervical Cancer Patients Based on Female Sexual Function Index Questionnaire at Dr. Hasan Sadikin Central General Hospital From 2018 – 2023

    Full text link
    Objective: To describe the sexual function of cervical cancer patients undergoing radiation therapy at RSHS using the Female Sexual Function Index (FSFI) questionnaire.Methods: This cross-sectional study involved cervical cancer patients who received radiation therapy at RSHS between January 2018 and December 2023. Data were collected using the FSFI questionnaire and were analyzed descriptively.Results: Among 100 patients aged 15 to 70 years, the participants experienced overlapping symptoms. The most frequently reported dysfunctions were vaginal dryness (90.63%), orgasm disorders (79.17%), dyspareunia (64.58%), and decreased libido (58%). Comorbidities included hypertension, diabetes mellitus, and urinary tract infections.Conclusion: Most cervical cancer patients receiving radiation therapy experience sexual dysfunction, as identified using the FSFI questionnaire. Limited clinical discussion, psychosocial stress, and socioeconomic constraints contribute to this issue. Integrating sexual health assessment and support into survivorship care is essential to improving overall patient well-being.Fungsi Seksual pada Pasien Kanker Serviks Berdasarkan Kuesioner Female Sexual Function Index di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin Bandung Tahun 2018 – 2023Abstrak Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran fungsi seksual pasien kanker serviks yang menjalani terapi radiasi di RSHS menggunakan kuesioner Female Sexual Function Index (FSFI).Metode: Penelitian ini menggunakan metode potong lintang dan dilakukan pada pasien kanker serviks yang sedang menjalani terapi radiasi di RSHS antara Januari 2018 hingga Desember 2023. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner FSFI dan dianalisis secara deskriptif.Hasil: Dari 100 pasien berusia 15 – 70 tahun, para pasien mengalami gejala yang saling tumpang tindih. Disfungsi seksual yang paling sering dilaporkan adalah vagina kering (90,63%), gangguan orgasme (79,17%), dispareunia (64,58%), dan penurunan libido (58%). Komorbiditas yang ditemukan meliputi hipertensi, diabetes melitus, dan infeksi saluran kemih.Kesimpulan: Sebagian besar pasien kanker serviks yang menjalani terapi radiasi mengalami disfungsi seksual, sebagaimana diidentifikasi melalui kuesioner FSFI. Kurangnya diskusi klinis, stres psikososial, dan keterbatasan sosial ekonomi turut berkontribusi terhadap masalah ini. Integrasi penilaian dan dukungan kesehatan seksual dalam perawatan pascaterapi sangat penting untuk meningkatkan kesejahteraan pasien secara menyeluruh.Kata kunci: fungsi seksual; kanker serviks; komplikasi radioterap

    Accuracy of Platelet Parameters (PC, MPV, and PDW) as A Predictor of The Severity of Preeclampsia

    Full text link
    Objective: To evaluate the accuracy of platelet parameters—platelet count (PC), mean platelet volume (MPV), and platelet distribution width (PDW)—as predictors of preeclampsia severity. Methods:A case-control study was conducted on 153 pregnant women with preeclampsia at Arifin Achmad Hospital from January 2019 to December 2020. Platelet indices (PC, MPV, PDW) were compared between 61 patients with severe preeclampsia and 92 with non-severe preeclampsia. ROC analysis determined predictive accuracy, with sensitivity and specificity calculated for selected cut-off values. Results:Significant differences were found in PC (p=0.000), PDW (p=0.049), and MPV (p=0.012) between groups. ROC analysis showed PDW >12.3% had a sensitivity of 60.7% and specificity of 59.8%, while MPV >10.65 fL had a sensitivity of 62.3% and specificity of 64.1%. AUC values for PDW and MPV were 0.62 and 0.66, respectively, indicating weak predictive accuracy. Conclusion:Although platelet parameters differ significantly between preeclampsia severity groups, their predictive value is limited. They should not be solely relied upon for assessing preeclampsia severity. Akurasi Parameter Trombosit (PC, MPV, dan PDW) sebagai Prediktor Tingkat Keparahan PreeklampsiaAbstrak Tujuan: Penelitian ini dilaksanakan pada pasien preeklampsia untuk mengevaluasi akurasi parameter trombosit—jumlah trombosit (PC), volume trombosit rata-rata (MPV), dan lebar distribusi trombosit (PDW)—sebagai prediktor tingkat keparahan.Metode: Studi kasus-kontrol dilakukan pada 153 ibu hamil dengan preeklamsia di Rumah Sakit Arifin Achmad dari Januari 2019 hingga Desember 2020. Indeks trombosit (PC, MPV, PDW) dibandingkan antara 61 pasien dengan preeklamsia berat dan 92 pasien dengan preeklamsia tanpa gejala berat. Analisis ROC digunakan untuk menentukan akurasi prediktif, dengan perhitungan sensitivitas dan spesifisitas berdasarkan nilai cut-off tertentu. Hasil: Terdapat perbedaan signifikan pada PC (p=0.000), PDW (p=0,049), dan MPV (p=0.012) antara kedua kelompok. Analisis ROC menunjukkan bahwa PDW >12.3% memiliki sensitivitas 60.7% dan spesifisitas 59.8%, sedangkan MPV >10.65 fL memiliki sensitivitas 62.3% dan spesifisitas 64.1%. Nilai AUC untuk PDW dan MPV adalah 0.62 dan 0.66, menunjukkan akurasi prediktif yang lemah. Kesimpulan: Meskipun parameter trombosit menunjukkan perbedaan signifikan antara kelompok preeklamsia berat dan tidak berat, nilai prediktifnya terbatas. Parameter ini tidak dapat digunakan secara mandiri untuk menilai tingkat keparahan preeklamsia. Kata kunci: Preeklamsia, Jumlah Trombosit, Lebar Distribusi Trombosit, Volume Trombosit Rata-rata, Biomarker Predikti

    Effectiveness of Aspirin Dose in Preventing Preeclampsia in High-Risk Group: A Meta-Analysis

    Full text link
    Introduction: Preeclampsia is hypertension that occurs after 20 weeks of pregnancy and is accompanied by impaired function of the mother’s organs or the uteroplacental unit. Purpose: To evaluate the efficacy of aspirin doses in preventing preeclampsia in high-risk populations. Method: This study follows the PRISMA protocol. The reviewers examined all the findings and selected studies that met the inclusion criteria and PICO analysis. Statistical analysis was performed using Review Manager 5.4 software. A total of 14 journals met the inclusion criteria with searches in four databases (PubMed, Science Direct, Google Scholar, and Plos One). Result: Aspirin significantly reduced the incidence of preeclampsia in the high-risk group (RR 0.83 [95% CI: 0.78, 0.88], P<0.00001), reducing the incidence of preeclampsia by 50 mg/day (RR 0.56 [95% CI: 0.36, 0.86] P=0.008), 60 mg/day (RR 0.87 [95% CI: 0.81, 0.93] P <0.0001), 75 mg/day (RR 0.54 [95% CI: 0.40, 0.73] P<0.0001), 80-81 mg/day (RR 0.72 [95% CI: 0.56, 0.94] P=0.02), and 150 mg/day, reduced the incidence of PE (P<0.00001). Conclusion: The results of the study show that the best dose of aspirin to prevent PE in high-risk groups is 75 mg/day.Efektivitas Dosis Aspirin untuk Mencegah Preeklamsia pada Kelompok Risiko Tinggi: Sebuah MetaanalisisAbstrakPendahuluan: Preeklamsia adalah hipertensi yang terjadi setelah usia kehamilan 20 minggu dan disertai dengan gangguan fungsi organ ibu atau uteroplasenta. Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas dosis aspirin untuk mencegah preeklamsia pada kelompok risiko tinggi. Metode: Penelitian ini mengikuti protokol PRISMA. Para peninjau memeriksa semua temuan dan memilih penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dan analisis PICO. Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak Review Manager 5.4. Terdapat 14 jurnal yang memenuhi kriteria inklusi dengan pencarian di 4 database (PubMed, Science Direct, Google Scholar, dan Plos One). Hasil: Aspirin secara signifikan menurunkan kejadian preeklampsia pada kelompok risiko tinggi (RR 0,83 [95% CI: 0,78, 0,88], P<0,00001), menurunkan kejadian preeklamsia sebesar 50 mg/hari (RR 0.56 [95% CI: 0.36, 0.86] P=0.008), 60 mg/hari (RR 0.87 [95% CI: 0,81, 0.93] P <0,0001), 75 mg/hari (RR 0,54 [95% CI: 0,40, 0,73] P<0,0001), 80-81 mg/hari (RR 0,72 [95% CI: 0,56, 0,94] P=0,02), dan 150 mg/hari, mengurangi kejadian PE (P<0,00001). Kesimpulan: Hasil penelitian menunjukan bahwa dosis aspirin terbaik untuk mencegah PE pada kelompok risiko tinggi adalah 75 mg/hari

    Overview of The Risk Factors of Spontaneous Abortus Among Young Pregnancy Woman: A Systemic Review

    Full text link
    Objective: To identify the risk factors of spontaneous abortus among young pregnancy women.Methods: We used PubMed and ScienceDirect databases and electronic journals such as the American Journal of Obstetrics and Gynecology and the International Journal of Gynecology and Obstetrics. The articles were screened based on inclusion and exclusion criteria. The keywords used for inclusion were “Risk Factors,” “Abortus,” and “Young Maternal Age.” Next, articles were quality assessed using the JBI Critical Appraisal Checklist. The extracted data were presented in the table and narrative synthesis.Result: This review has six studies that has identified the risk factors of spontaneous abortus among young pregnancy woman. The risks were body mass index, maternal habits, infection, coital, and experience of IPV. However, some factors, such as iodine level, are insignificant to spontaneous abortuses. This review also found that infection also had a role in the complications of spontaneous abortus. The limitation of this study was each variable was different in each survey. So, we couldn’t compare each variable to avoid bias from each study.Conclusion: The most affected risk factors of spontaneous abortus among young pregnancy woman are an infection, followed by first coital age, IPV, partner controlling behaviour, BMI, and maternal smoking habit.Faktor Risiko Abortus Spontan pada Kehamilan Usia Muda: Systematic ReviewAbstrakTujuan: Mengidentifikasi faktor risiko abortus spontan pada kehamilan usia muda.Metode: Kami menggunakan database web-based berupa PubMed dan ScienceDirect dan jurnal elektrik berupa American Journal of Obstetrics and Gynecology dan International Journal of Gynecology. Artikel yang didapatkan akan dilakukan skrining berdasarkan kriteria inklusi dan kriteria eksklusi. Kata kunci yang digunakan untuk melakukan inklusi berupa “Faktor Risiko”, “Abortus”, dan “Kehamilan Usia Muda”. Selanjutnya, artikel dilakukan penilaian kualitas menggunakan JBI Critical Appraisal Checklist. Data yang diekstrak disajikan dalam bentuk dabel dan narasi.Hasil: Sebanyak 6 penelitian yang ditelaah mengidentifikasi faktor risiko abortus spontan pada kehamilan usia muda berupa indeks massa tubuh, kebiasaan ibu hamil, infeksi, koitus, dan pengalaman kekerasan oleh pasangan. Namun, kadar iodine dalam tubuh tidak memengaruhi secara signifikan kejadian abortus spontan. Penelitian ini juga menemukan bahwa infeksi juga memiliki peran dalam terjadinya komplikasi pada abortus spontan. Keterbatasan pada penelitian ini adalah tidak ada variable yang sama dari artikel ditelaah. Oleh karena itu perbandingan tidak dapat dilakukan untuk mencegah kemungkinan kecenderungan pada penelitian yang ditelaah.Kesimpulan: Faktor risiko yang paling mempengaruhi abortus spontan pada ibu hamil Ketika usia muda adalah infeksi, diikuti dengan usia pada saat koital pertama, kekerasan dari pasangan, kebiasaan mengontrol pasangan, indeks massa tubuh, dan kebiasaan merokok.Kata Kunci: Abortus Spontan, Faktor Risiko, Kehamilan Usia Muda

    Cadmium Exposure and Preeclampsia: A Systematic Review of Environmental Risk in Pregnancy

    Full text link
    Objective: To systematically evaluate current scientific evidence on the association between cadmium (Cd) exposure and the risk of preeclampsia in pregnant women, and to explore underlying mechanisms and population-specific patterns.Methods: This systematic review was conducted according to PRISMA guidelines. Comprehensive literature searches were performed across PubMed, Scopus, Web of Science, ScienceDirect, and Google Scholar without time restriction, focusing on the past 15 years. Inclusion criteria encompassed original human studies measuring cadmium exposure—biological, dietary, or environmental—and reporting preeclampsia as an outcome. Risk of bias was assessed using the Newcastle-Ottawa Scale.Results: Twenty-five eligible studies were included, spanning case-control, cohort, and cross-sectional designs across diverse geographic regions. Most studies found a positive association between cadmium exposure and increased preeclampsia risk, though methodological heterogeneity exists. Proposed mechanisms include cadmium-induced oxidative stress, endothelial dysfunction, placental insufficiency, and hormonal dysregulation. Evidence also highlights differences in risk based on diet, region, and environmental regulation. However, inconsistencies in exposure metrics and population stratification remain.Conclusion: The cumulative evidence suggests cadmium is a plausible environmental risk factor for preeclampsia. Future research must standardize exposure assessments and address population-specific modifiers. This review provides critical groundwork for hypothesis-driven studies and policy frameworks addressing toxic metal exposure in maternal health.Paparan Kadmium dan Preeklampsia: Tinjauan Sistematis terhadap Risiko Lingkungan pada KehamilanAbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk melakukan tinjauan sistematis terhadap bukti ilmiah terkini mengenai hubungan antara paparan kadmium (Cd) dan risiko preeklampsia pada ibu hamil, serta mengeksplorasi mekanisme biologis yang mendasari dan pola risiko spesifik populasi.Metode: Tinjauan sistematis ini disusun berdasarkan pedoman PRISMA. Pencarian literatur dilakukan secara menyeluruh melalui basis data PubMed, Scopus, Web of Science, ScienceDirect, dan Google Scholar tanpa batasan waktu, dengan fokus pada publikasi 15 tahun terakhir. Kriteria inklusi meliputi penelitian asli pada manusia yang mengukur paparan kadmium—baik secara biologis, dietetik, maupun lingkungan—dan melaporkan preeklampsia sebagai luaran. Risiko bias dinilai menggunakan Newcastle-Ottawa Scale.Hasil: Sebanyak 25 studi memenuhi kriteria dan dianalisis, mencakup desain studi kasus-kontrol, kohort, dan potong lintang dari berbagai wilayah geografis. Mayoritas studi menunjukkan adanya hubungan positif antara paparan kadmium dan peningkatan risiko preeklampsia, meskipun terdapat heterogenitas metodologis. Mekanisme yang diusulkan meliputi stres oksidatif akibat kadmium, disfungsi endotel, insufisiensi plasenta, dan disregulasi hormonal. Bukti juga menunjukkan perbedaan risiko berdasarkan pola diet, lokasi geografis, dan tingkat pengawasan lingkungan. Namun, masih terdapat ketidakkonsistenan dalam metrik paparan dan stratifikasi populasi.Kesimpulan: Bukti kumulatif mendukung bahwa kadmium merupakan faktor risiko lingkungan yang potensial terhadap preeklampsia. Penelitian selanjutnya perlu menstandarkan metode pengukuran paparan dan mempertimbangkan faktor-faktor spesifik populasi. Tinjauan ini memberikan landasan penting bagi studi berbasis hipotesis dan penyusunan kebijakan terkait paparan logam toksik dalam kesehatan maternal.Kata kunci: Komplikasi kehamilan; paparan kadmium; preeklampsia; stres oksidatif; toksikologi lingkunga

    Association between Serum Cotinine Levels, Fetal Biometry, and Umbilical Artery Flow in Pregnant Women Exposed to Secondhand Smoke

    Full text link
    Objective: This study aimed to investigate the impact of SHS exposure on fetal biometry and umbilical artery flow at 24 – 28 weeks of gestation.Methods: This cross-sectional study included 110 pregnant women, divided into a study group (55 passive) smokers and a control group (55 non-passive smokers). Serum cotinine levels were measured using ELISA. Fetal biometry (biparietal diameter, head circumference, abdominal circumference, and femur length) and umbilical artery flow (pulsatility and resistance indices) were assessed via ultrasound and Doppler ultrasonography. Group comparisons were conducted using Chi-square and independent t-tests.Results: The passive smoker group had significantly higher mean serum cotinine levels compared with the control group (10.97 ng/mL vs. 4.53 ng/mL; p = 0.01). However, no statistically significant differences (p > 0.05) were found in any of the fetal biometric parameters or umbilical artery flow indices between the groups. Correlation analyses also showed no significant association between cotinine levels and the measured fetal outcomes.Conclusion: In this second-trimester study, SHS exposure, confirmed by elevated cotinine levels, was not associated with measurable adverse effects on fetal biometry or umbilical artery flow. These non-significant findings underscore the need for longitudinal research to evaluate the cumulative impact of SHS, particularly in the third trimester and on final birth outcomes.Hubungan antara Kadar Kotinin Serum, Biometri Janin, dan Aliran Arteri Umbilikalis pada Ibu Hamil yang Terpapar Asap Rokok PasifAbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menelaah dampak paparan asap rokok pasif terhadap biometri janin dan aliran arteri umbilikalis pada usia kehamilan 24 – 28 minggu.Metode: Penelitian potong lintang ini melibatkan 110 ibu hamil yang dibagi menjadi kelompok studi (55 perokok pasif) dan kelompok kontrol (55 bukan perokok pasif). Kadar kotinin serum diukur menggunakan metode ELISA. Biometri janin (meliputi diameter biparietal, lingkar kepala, lingkar perut, dan panjang femur) serta aliran arteri umbilikalis (indeks pulsasi dan indeks resistensi) dinilai melalui ultrasonografi (USG) dan USG Doppler. Perbandingan antarkelompok dianalisis menggunakan uji Chi-square dan uji t independen.Hasil: Kelompok perokok pasif memiliki rerata kadar kotinin serum yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol (10,97 ng/mL vs. 4,53 ng/mL; p = 0,01). Namun, tidak ditemukan perbedaan bermakna secara statistik (p > 0,05) pada parameter biometri janin maupun indeks aliran arteri umbilikalis antara kedua kelompok. Analisis korelasi juga tidak menunjukkan adanya hubungan bermakna antara kadar kotinin dengan luaran janin yang diukur.Kesimpulan: Pada penelitian trimester kedua ini, paparan asap rokok pasif yang dikonfirmasi dengan peningkatan kadar kotinin tidak berhubungan dengan efek merugikan yang terdeteksi pada biometri janin maupun aliran arteri umbilikalis. Temuan yang tidak signifikan ini menekankan pentingnya penelitian longitudinal untuk menilai dampak kumulatif paparan asap rokok pasif, terutama pada trimester ketiga dan luaran kelahiran akhir.Kata kunci: Aliran arteri umbilikalis; biometri janin; kotinin; paparan asap rokok pasi

    The Indonesian Version of the Chapron’s Screening Method for Endometriosis Diagnosis based on Questionnaire as a Tool for Better Endometriosis Screening in Indonesia

    Full text link
    Objective: This study aims to translate, develop, and assess the validity and reliability of the Indonesian version of Professor Chapron’s screening method for endometriosis diagnosis based on the questionnaire as a tool for better endometriosis screening in Indonesia.Methods: Development of the questionnaire using 5 steps: translation, synthesis, back translation, expert committee review, and pretesting by involving language expert and subject expert. The analysis includes the validity and reliability of the questionnaire.Results: A sample of 30 subjects was enrolled. The questionnaire was consist of 3 sections, including characteristic patient questions, yes or no questions (8 questions), and pain scale questions (5 questions). Of the 8 yes or no questions, 7 were valid (r >0.300), and one question was not valid (r0.300) and reliable (Cronbach’s alpha 0.790).Conclusion: This study represent the Professor Chapron’s questionnaire for endometriosis screening into another language (Bahasa) than the original. It showed that the questionnaire was reliable, and one question was not valid (removed from the questionnaire). The questionnaire can be used in Indonesia for screening method in Indonesia.Versi Indonesia dari Kuesioner Chapron untuk Metode Skrining dalam Diagnosis Endometriosis sebagai Alat Skrining Endometriosis di IndonesiaAbstrak Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menerjemahkan, mengembangkan, dan menilai validitas dan reliabilitas versi bahasa Indonesia dari metode Skrining Professor Chapron berdasarkan kuesioner, sebagai alat untuk skrining endometriosis yang lebih baik di Indonesia.Metode: Pengembangan kuesioner menggunakan 5 langkah: penerjemahan, sintesis, penerjemahan balik, telaah komite ahli, dan pra-uji dengan melibatkan ahli bahasa dan ahli subjek. Analisis yang dilakukan yaitu uji validitas dan reliabilitas kuesioner.Hasil: Sampel penelitian sebanyak 30 orang. Kuesioner terdiri atas 3 bagian, yaitu pertanyaan karakteristik pasien, pertanyaan ya atau tidak (8 pertanyaan), dan pertanyaan skala nyeri (5 pertanyaan). Sebanyak 7 pertanyaan ya atau tidak, hasilnya valid (r>0,300) dan 1 pertanyaan tidak valid (r0,300) dan reliabel (Cronbach’s alpha 0,7900).Kesimpulan: Penelitian ini mengembangkan serta menilai validitas dan reliabilitas kuesioner Professor Chapron untuk skrining endometriosis dalam versi bahasa Indonesia. Kuesioner ini reliabel dengan 1 pertanyaan tidak valid (dihilangkan dari kuesioner). Kuesioner ini dapat digunakan di Indonesia untuk metode skrining endometriosis di Indonesia

    Urinary Complications after Radical Hysterectomy in Cervical Cancer: A Retrospective Cohort Study

    Full text link
    Objective: Radical hysterectomy and pelvic lymphadenectomy are standard treatments for cervical cancer. A common long-term complication is lower urinary tract dysfunction (LUTD), which can lead to urinary tract infections (UTIs) due to urinary stasis. Incontinence may also increase UTI risk by allowing bacteria to enter through the urethra. This study aims to determine the incidence of LUTD and UTI in cervical cancer patients after radical hysterectomy and to analyze their relationship.Methods: A retrospective cohort study was conducted on patients with stage IA2–IIA2 cervical cancer who underwent radical hysterectomy at Margono Soekarjo General Hospital. Urinary catheters were placed postoperatively, and bladder training was initiated on postoperative day three. Urine samples were collected on day fourteen or upon the return of bladder sensation to assess for urinary tract infection (UTI). The relationship between lower urinary tract dysfunction (LUTD) and UTI was analyzed using.Result: LUTD incidence was 13.8%. UTI incidence was significantly higher in patients with LUTD than in those without (7.7% vs. 1.5%, p < 0.001). The relative risk of UTI in patients with LUTD was 31.1 (95% CI: 6.396–739.029), likely due to the limited sample size.Conclusion: There is a significant association between LUTD and UTI in cervical cancer patients after radical hysterectomy. Early detection and monitoring of bladder function are essential in postoperative care.Keywords: Lower urinary tract dysfunction; radical hysterectomy; urinary tract infection.Komplikasi Urinaria Setelah Histerektomi Radikal pada Kanker Serviks: Studi Kohort RetrospektifAbstrak Tujuan: Histerektomi radikal dan limfadenektomi pelvik merupakan terapi standar untuk kanker serviks. Salah satu komplikasi jangka panjang yang umum adalah disfungsi saluran kemih bagian bawah (Lower Urinary Tract Dysfunction/LUTD), yang dapat menyebabkan infeksi saluran kemih (ISK) akibat stasis urin. Inkontinensia urin juga dapat meningkatkan risiko ISK melalui masuknya bakteri melalui uretra. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi insidensi LUTD dan ISK pada pasien kanker serviks pasca-histerektomi radikal tipe II serta hubungan antara keduanya.Metode: Sebuah studi kohort retrospektif dilakukan pada pasien kanker serviks stadium IA2–IIA2 yang menjalani histerektomi radikal di RSUD Margono Soekarjo. Setelah operasi kateter urin dipasang dan melatih kandung kemih dimulai pada hari ketiga pascaoperasi. Sampel urin dikumpulkan pada hari keempat belas atau saat sensasi kandung kemih kembali untuk menilai adanya infeksi saluran kemih (ISK). Hubungan antara disfungsi traktus urinarius bawah (LUTD) dan ISK dianalisis menggunakan uji Fisher’s exact.Hasil: Penelitian ini menunjukan insidensi LUTD adalah 13,8%. Insidensi ISK secara signifikan lebih tinggi pada pasien dengan LUTD dibandingkan yang tidak mengalami LUTD (7.7% vs. 1.5%, p < 0.001). Risiko relatif ISK pada pasien dengan LUTD adalah 31.1 (CI 95%: 6.396–739.029) karena jumlah subjek penelitian sedikit.Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara LUTD dan kejadian ISK pada pasien kanker serviks pasca-histerektomi radikal. Deteksi dini dan pemantauan fungsi kandung kemih sangat penting dalam perawatan pascaoperasi.Kata kunci: Disfungsi urin; histerektomi radikal; infeksi saluran kemi

    Overview of Menstrual Patterns in Female Patients Diagnosed with Tuberculosis with a History of Infertility at DOTS Polyclinic Hasan Sadikin Hospital and Community Health Centers in Bandung City

    Full text link
    Introduction: Female genital tuberculosis (FGTB) is one of the leading causes of infertility in countries with high cases of tuberculosis. However, there is a lack of data showing the menstrual patterns of FGTB patients in Indonesia. This study was conducted to describe the menstrual patterns of female patients diagnosed with TB and who have a history of infertility at the Directly Observed Treatment Short Course Polyclinic of Hasan Sadikin Hospital and community health centers in Bandung City.Method: This is a descriptive observational study using primary data. The subjects were outpatient TB patients with a history of infertility in the Directly Observed Treatment Short Course polyclinic of Hasan Sadikin Hospital and community health centers in Bandung City from 2018 to 2022. Data collection was conducted through questionnaire-based interviews.Results: Out of 950 TB patients of childbearing age recorded in medical records, 41 patients matched the specified criteria. The menstrual disorders experienced by patients included polymenorrhagia, oligomenorrhea, amenorrhea, prolonged menstrual cycles, irregular cycles, hypomenorrhea, heavy menstrual bleeding, and intermenstrual bleeding.Conclusion: The most common menstrual disorders in TB patients with a history of infertility were irregular cycles (36.6%), hypomenorrhea (31.7%), and oligomenorrhea (19.5%).Gambaran Pola Menstruasi pada Pasien Perempuan dengan Diagnosis Tuberkulosis dan Riwayat Infertilitas di Poli DOTS RSHS dan Puskesmas Kota BandungAbstrakPendahuluan: Female genital tuberculosis merupakan salah satu penyebab utama infertilitas pada negara dengan kasus tuberkulosis yang tinggi. Sebagai salah satu dari gejalanya, belum ada data yang menunjukkan pola menstruasi dari pasien female genital tuberculosis di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pola menstruasi pada pasien wanita dengan diagnosis tubekulosis dan memiliki riwayat infertilitas di Poliklinik Directly Observed Treatment Short Course Rumah Sakit Hasan Sadikin dan Puskesmas Kota Bandung.Metode: Penelitian deskriptif dengan menggunakan data primer. Subjek penelitian adalah pasien tuberkulosis wanita dengan riwayat infertilitas yang dirawat jalan di poliklinik Directly Observed Treatment Short Course Rumah Sakit Hasan Sadikin dan 4 Puskesmas di Kota Bandung dari tahun 2018 - 2022. Subjek diperoleh melalui wawancara berbasis kuesioner.Hasil: Dari 950 pasien tuberkulosis wanita usia subur yang terdata di rekam medis, didapatkan 41 data pasien yang sesuai dengan kriteria yang ditentukan. Gangguan menstruasi yang dialami pasien dapat berupa polimenore, oligomenore, amenore, siklus menstruasi yang memanjang, siklus yang irreguler, hipomenore, heavy menstrual bleeding, dan perdarahan intermenstrual.Kesimpulan: Gangguan menstruasi yang paling sering terjadi pada pasien TB dengan riwayat infertilitas adalah siklus yang irreguler (36.6%), hipomenore (31.7%), dan oligomenore (19.5%).Kata Kunci: Infertilitas, Kota Bandung, Pasien TB wanita, Pola Menstruasi

    Maternal Knowledge and Behavior as Prevention of Anemia in Pregnancy: A Health Facility-Based Cross-Sectional Study Design

    No full text
    Objective: The incidence of Maternal Anemia in Indonesia (48.9%), which exceeds the WHO standard of >40%, signifies a severe public health concern that requires immediate attention and intervention. Consuming iron-rich meals and supplements with regular antenatal care visits in early pregnancy reduces maternal anemia rate. Our study aims to determine the relationship between the level of knowledge and behavior during pregnancy and the incidence of anemia. Method: A descriptive-analytic cross-sectional study was conducted at Sukaindah Primary Health Care Center in September and October 2023. Pregnant women who attended Antenatal Care (ANC) underwent hemoglobin tests. Seventy-eight respondents were selected using consecutive sampling. The knowledge and behaviors of anemic pregnant women were compared to those without anemia. The validated-modified questionnaire consists of twenty questions to measure knowledge and eleven questions to assess behavior. Result: All respondents were dominated by poor knowledge (83%) and fair preventive behavior (61.5%) about anemia in pregnancy. Although the level of knowledge was not significantly associated with the incidence of anemia (p-value: 0.277), women who were found in the level of good (33%) and fair knowledge (55%) showed good behavior (p-value = 0.007) for its prevention. There was a statistically significant association between behavior during pregnancy and the incidence of anemia (p-value = 0.025). Iron supplementation emerged as a critical factor in preventing anemia in pregnancy. (mean: 1.38). Conclusion: Knowledge and behavior are the most important aspects of anemia prevention strategies. Good behavior is based on adequate knowledge, as poor knowledge triggers bad behavior. Behavioral factors play a statistical role in preventing anemia, but knowledge does not show a significant relationship in pregnant women with anemia.Pengetahuan dan Perilaku Pencegahan terhadap Kejadian Anemia Ibu Hamil di Puskesmas SukaindahAbstrak Tujuan: Tingkat kejadian anemia kehamilan di Indonesia sebesar 48.9%. Hal ini merupakan suatu severe public health problem berdasarkan WHO (> 40%). Pengaturan pola makan tinggi zat besi, teratur meminum tablet zat besi, dan rutin melakukan ANC pada kehamilan trimester awal ialah faktor penting mengurangi kejadian anemia pada ibu hamil. Perilaku atau tindakan seseorang dibentuk berdasarkan pengetahuan (knowlegde) atau kognitif. Studi ini bertujuan mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dan perilaku selama hamil terhadap kejadian anemia. Metode: Studi deskriptif analitik dengan metode cross sectional ini berpopulasi pada ibu hamil yang melakukan pemeriksaan ANC di Puskesmas Sukaindah selama bulan September dan Oktober 2023 dan melakukan pemeriksaan hemoglobin. Pemilihan sampel secara consecutive sampling didapatkan 78 responden Ibu hamil. Modifikasi kuesioner yang sudah tervalidasi terdiri dari dua puluh pertanyaan untuk pengetahuan dan sebelas pertanyaan untuk perilaku. Hasil: Seluruh responden didominasi dengan pengetahuan buruk (83%) dan perilaku yang cukup (61.5%). Studi menunjukkan terdapat hubungan antara perilaku selama hamil dan kejadian anemia (p value = 0.025), namun tingkat pengetahuan tidak berhubungan secara signifikan (p value = 0.277). Ibu dengan pengetahuan yang baik (33%) dan cukup (55%) berhubungan secara signifikan (p value= 007) menghasilkan perilaku pencegahan yang baik. Konsumsi rutin tablet tambah darah berperan sebagai pencegahan kejadian anemia ibu hamil (mean: 1.38) Kesimpulan: Perilaku yang baik didasari oleh pengetahuan yang cukup, begitu juga dengan perilaku buruk dipicu oleh kurangnya pengetahuan. Faktor perilaku berperan secara statistik mencegah kejadian anemia, namun pengetahuan tidak menunjukkan hubungan bermakna pada ibu hamil dengan anemia.Kata kunci: Anemia, Kehamilan, Pengetahuan, Perilaku

    329

    full texts

    371

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    OBGYNIA - Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇